Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

408 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Kebaikan Yang Berserakan



Rabu , 14 Oktober 2026



Telah dibaca :  30

Saya hampir lupa menulis catatan kecil yang sudah saya simpan dalam file pikiran ku. Untung masih ingat dan segera saya tulisan di artikel ini agar jangan sampai hilang pesan-pesan kebaikan yang sangat berharga ini. Yaitu pesan dari Prof. Dr. Hj. Evi Muafiah, M.Ag, rektor UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo.

Saat saya mengantar ke Pekanbaru, ada kesempatan mengobrol dengannya. Obrolan ringan. Bermula dari pertanyaan tempat kelahiranku. Saya menjawab daerah kemranjen banyumas. Dia tertawa mendengar tempat tersebut. apalagi ketika saya menyebut Desa Sirau.”Dunia ini ternyata sangat sempit Mas Imam, kita dipertemukan di Pekanbaru” katanya.

Saya mengobrol dengan Prof Evi yang masih muda dan enerjik. Dia menceritakan kepadaku bahwa kenapa dia sangat tertarik dengan desaku yang sangat terpencil. Dengan tersenyum sambil bergurau mengatakan ada kenangan yang sangat indah dan sulit dilupakan oleh nya. Saya tersenyum. Kisah saat masih kuliah S1. Kenangan klasik yang hampir terjadi pada setiap mahasiswa saat kuliah.

Obrolan kecil yang kemudian kami bersahabat dan berbagi kebaikan. Prof Evi sangat semangat sekali mengajak ku ke Ponorogo. Kalau tidak sempat pun, tulisan ku bisa sampai ke Ponorogo. Guyonan kebaikan yang menular. Kebaikan akan mendapat balasan kebaikan. Kata kanjeng Nabi Muhammad SAW: “Barangsiapa yang berbuat baik kepada kalian maka balaslah. Jika kalian tidak mendapati (apa yang bisa kalian pakai untuk membalas kebaikan tersebut), maka doakanlah dia.”

Tentu saja saya bukan orang baik. Itu perasaan ku. Hanya prasangka dari orang lain bahwa saya baik dan juga Allah masih sayang menutup segala aib ku.

Mungkin saya ada secuil kebaikan -walaupun sebesar zarah- yang mungkin dalam pandangan Allah bagian dari ketulusan ku. Setiap menemukan seseorang selalu saja menjadi sahabat.

Saat saya berada di Jakarta, saya bertemu dengan Prof Muhlisin. Itu pertemuan pertama. Saya jabat tangan dan memperkenalkan diri. Hari itu juga kami langsung menjadi sahabat karib hingga kini. Hubungan kebaikan tanpa pamrih. Saking kangennya, Prof Muhlisin kadang menyapa diriku dengan gaya santri yang intelektual.

“Kyai Imam, jenengan kapan nulis artikel ke sini. Jangan nulis tulisan bebas di website saja. Sudah saatnya jenengan nulis di jurnal baik sinta atau scopus. Agar tulisan jenengan bisa memberi manfaat lebih luas” kata Prof Muhlisin.

Saya tersenyum.”Insya Allah Kapan-Kapan Prof” jawab ku singkat.

Saya juga pernah bertemu dengan Prof Katimin dari UIN Sumatera utara. Sekali ketemu pun langsung memanggil “kyai”. Padahal saya tidak menggunakan atribut ustadz atau ulama. Saya ingat betul memamakai kaos oblong dan celana jean. Tentu saja, saya heran dan membuat terasa canggung juga mendengarkannya. Mungkin itulah cara nya menghormati ku dan saya pun menghormatinya dengan panggilan prof.

Ketika dia bertemu, langsung memelukku dan bertanya tentang kabar ku dan keluarga. Dan kalau sudah ngobrol dengan professor selalu saja menyuruh saya menulis artikel di jurnal-jurnal nya. Saya selalu tersenyum dengan menjawab pendek: “Insya Allah Prof”.

Saya -mungkin juga anda- selalu saja menemukan kisah kehidupan tentang pertolongan Allah begitu nyata terhadap kebaikan-kebaikan yang telah kita lakukan. Pada saat pertolongan itu datang, kita akan ingat masa-masa lalu saat kita menanam kebaikan-kebaikan. Saat itu kita tidak pernah berfikir, bahwa kebaikan yang telah kita lakukan pada masa dulu akan membuahkan kebaikan di masa mendatang. Kita benar-benar tidak berfikir sejauh itu. Kita melakukan karena panggilan jiwa dan karena perintah Tuhan.

Memang dalam kehidupan sehari-hari saya mendengar ada ungkapan begini :”Air susu di balas dengan air tuba”. Kebaikan dibalas dengan keburukan. Kalimat yang sangat familier terdengar di telinga kita. Dan kenyataannya dalam kehidupan sering terjadi demikian. Ada orang-orang yang sudah kita bantu, dikemudian hari justru terkadang orang tersebut yang pertama menjadi orang yang tidak mau membantu sama sekali.

Apakah firman Tuhan salah. Apakah janji Tuhan bahwa kebaikan dibalas kebaikan perlu direvisi ulang.

Tentu saja tidak. Janji Tuhan tetap berlaku sepanjang masa. Ketika saya-mungkin juga anda- diperlakukan tidak baik padahal sudah berbuat kebaikan, sebenarnya Tuhan sedang menjaga kita dari kebiasaan berharap kepada manusia. Tuhan cemburu kepada kepada kita yang terlalu berharap terlalu besar kepada manusia.

Terasa sangat sakit kalau berharap kepada manusia. Semakin berharap kepada manusia, semakin merasa sakit dibuatnya.

Tuhan sedang mengajarkan kepada kita untuk selalu menanam kebaikan kepada siapapun. Tidak peduli apa balasan manusia. Sebab Tuhan menghadirkan orang-orang yang beragam agar pikiran kita semakin luas cakrawala berfikirnya. Sehingga kita bisa menyikapi keberagaman secara arif dan bijaksana.

Saat kita berbuat baik dan kemudian membalas kebaikan kepada kita, berarti tuhan sedang menunjukan bahwa balasan kebaikan merupakan sesuatu yang nyata. Ketika kebaikan kita belum dibalas dengan hal-hal yang tidak baik, tuhan sedang menghadirkan kasih sayang-Nya atau cinta-Nya agar hidup senantiasa selalu mengharap ridha dan pertolongan-Nya.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Dari Staf Ahli Menteri Sampai Gadis Cantik Di Kafe
04 Oktober 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   179

Debat dengan Kasir
27 September 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   178

Menyatukan Akal dan Hati Ketika Ada Musibah
03 September 2026   Oleh : Imam Ghozali   159

Di Tambakberas, Aku Menangis
30 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   218

Terbakar Rindu
26 Agustus 2026   Oleh : Imam Ghozali   239

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      15189


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6934


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      6168


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      5192