Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

416 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Menelusuri Kekasih Tuhan Di Emper Toko



Senin , 02 November 2026



Telah dibaca :  17

Sekitar jam 05.15, saya menelusuri jalan-jalan di salah satu kota batam. Pagi itu udara sangat segar. Hujan beberapa hari lalu telah merubah langit terlihat membiru -meskipun masih terlihat mendung tipis putih dan kehitam-hitaman. Pohon-pohon Sakura Batam sangat rindang berjejer. Suasana terlihat asri dan dada semakin terasa segar.

“Kenapa banyak orang-orang tidur di Emper Toko?” tanya istri ku yang memang belum pernah melihat pemandangan sebanyak itu. Saya mencoba mengitungnya. Ada 10 orang berpakain lusuh dan tubuh terlihat kotor tidur di Emper Toko.

“Kelelahan mi” jawab ku singkat.

Istri ku kembali bertanya apa sebabnya mereka tidur di emper toko. Apa karena tidak punya rumah, apa karena berkelahi dengan istri nya, atau mungkin karena frustasi atau karena persoalan pribadi lainnya.

Saya tidak bisa menjawab secara pasti. Gambaran orang-orang yang sering disebut dengan gepeng -gelandangan dan pengemis- merupakan ciri khas dari gemerlapnya kota sedang dan besar. Di tengah hiruk pikuk mobilitas aktivitas manusia modern ada sisi ironi yang justru bertentangan dengan makna modern itu sendiri yaitu marak nya orang-orang yang sering disebut gepeng.

Salah satu dosen cantik yang duduk di dekat ku mempunyai pengalaman ketika datang di kota tersebut. Saat ia duduk dan ada pengamen, lalu dengan murah hati memberi selembar uang ribuan, maka selang waktu yang tidak lama datang para pengamen selanjutnya. Jadi ia memberi duit menjadi pentu masuk bagi pemgamen lain untuk melakukan aksi yang sama agar mendapatkan simpati dari orang-orang yang sedang duduk-duduk di warung makan atau tamu-tamu yang berada di depan toko-toko.

“Kasihan sekali mereka” kata istriku melihat orang-orang tidur di emper toko. Tanpa selimut dan bantal. Udara yang sangat dingin di pagi hari tidak menyebabkan mereka terganggu. Mereka terbangun saat pemilik toko datang. Hanya bermodal baju lusuh dan kotor mereka bisa menikmati suasana tidur yang sangat nyenyak. Suatu kenikmatan yang kadang tidak dimiliki oleh orang-orang yang katanya kaum modern. Untuk tidur saja, kaum modern sering mengalami kebingungan. Ia harus dibantu dengan obat penenang atau atau tidur untuk bisa menikmati nikmatnya tidur.

“Mereka bisa jadi para kekasih Allah” jawab ku tersenyum. Istri ku tidak paham. Ia pun tahu kalau saya selalu suka bergurau kalau menjawab pertanyaan-pertanyaannya yang kadang guyonannya membuat dengkol.

“Maksud nya ?” tanya istri ku.

Saya menjelaskan bahwa mereka adalah orang-orang yang berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup nya dengan mengamen dan membawa satu kaleng dan meminta-minta dengan mengharap bantuan dari setiap orang yang dijumpai.

Mereka melakukan semua ini karena terpaksa. Dunia persaingan  hidup saat ini sangat kompetitif dan bahkan kadang -pada wilayah tertentu -malah sangat ganas. Mereka ingin hidup bahagia sebagaimana orang-orang lain. Namun kenyataannya mereka tersisihkan. Untuk menyambung hidup, mereka bekerja apa adanya. Bisa jadi menjadi gepeng adalah pilihan terakhir nya.

“Dunia tidak adil” kata istriku.

Saya berfikir sejenak. Bisa jadi demikian. Orang-orang yang tidak mempunyai kualifikasi secara intelektual, moral dan etika terkadang malah yang menjadi pemenang. Sedangkan orang-orang yang mempunyai persyaratan sebagai manusia yang agung malah terkadang mudah tersyukur tanpa daya.

Anda bisa menyaksikan orang-orang yang menguasai pundi-pundi kekayaan dan kekuasaan adalah orang-orang yang mungkin tidak mempunyai kualifikasi secara intelektual, moral dan etika. Namun dengan modal keberanian, ia bisa menyalip keadaan hidup nya lebih baik daripada orang-orang yang mempunyai jiwa dan kepribadian agung.

Jika berfikir pada dimensi lain, bisa jadi ini bagian dari makna keadilan dunia atas nasib-nasib para gepeng.

Hari ini para pemenang telah memperoleh jabatan, kekayaan dan fasilitas hidupnya. Tapi sebagian mereka -yang katanya para pemenang tersebut- bisa jadi tersandera oleh bayang-bayang ketakutan sepanjang masa. Mereka menang tapi terjajah. Bahagia, tapi sebatas manipulatif dan ada rasa ketakutan sepanjang masa. Mereka sebenarnya sedang menyikasi diri sendiri atau bahkan membunuh diri sendiri secara diam-diam oleh jabatan dan kekayaan yang telah diperolehnya. Mereka bisa senyum bebas di depan publik, tapi mereka merintih tidak tenang, tidak bisa tidur di malam hari yang telah disediakan Tuhan untuk istirahat.

Sedangkan kaum gepeng kita bisa melihat secara kasat mata terlihat menyedihkan dan hina atas pekerjaannya. Tapi mereka bisa menikmati malam harinya dengan tertawa, bernyanyi dan tidur. Suatu kenikmatan yang sangat mewah sekali yang sering tidak dipunyai oleh orang-orang modern yang katanya sebagai pemenang dalam kehidupan.

“Apakah ini juga termasuk Tuhan tidak adil?” tanya istriku.

Saya tersenyum mendengar pertanyaan tersebut. Berbicara tentang wilayah Tuhan, sebenarnya manusia hanya sebatas melihat dari sisi positif nya. Sebab Tuhan dan manusia punya dimensi yang berbeda dan tidak bisa ditarik secara general bahwa persoalan manusia pada saat yang sama juga menjadi persoalan Tuhan.

Perbuatan Tuhan di luar dari jangkauan perbuatan manusia. Ia mempunyai segala rencana yang hanya dia yang tahu dan manusia sebatas meraba-raba dan menafsiri setiap kejadian. Itu sebabnya, manusia hanya sebatas mempunyai otoritas untuk menduga-duga, menafsiri dan kemudian menyakini dalam sudut pandang kebaikan-kebaikan atas segala fenomena alam semesta ini.

Termasuk pada gepeng. Kita bisa saja menyalahkan kepada para penguasa yang telah gagal menciptakan lapangan kerja sehingga lahir para gepeng. Kita bisa saja menyalahkan para pengambil kebijakan yang tidak empati terhadap nasib kaum terpinggirkan. Semakin kita mengkritik dari sudut pandang kekurangan pada kebijakan pemerintah, semakin membuka peluang daftar panjang kesalahan dan dosa-dosa para penguasa dan pengambil kebijakan.

Mungkin hari ini kita bangga dengan pemerintah negara lain yang telah menciptakan kesejahteraan bagi warga nya. Kita dengan penuh asumsi dari sudut pandang yang sangat jauh selalu mengatakan bahwa negara A telah berhasil mengentaskan kemiskininan, negara B telah berhasil menciptakan kualitas pendidikan. Sedangkan negara kita sejak dulu begini-begini saja. Bahkan terasa semakin kesini semakin kesana.

Tuhan sebagai Sang Kreator Tercerdas dan terindah tidak pernah salah mendesain manusia dengan segala nasib nya. Hari ini kita tidak salah hidup di negara Indonesia. Tuhan selalu saja menempatkan setiap manusia pada tempat yang tepat. Hanya saja manusia sering tidak memahami nya dengan kecerdasan yang tinggi dan intelektual yang matang serta kecerdasan mata batin yang mendalam. Akibatnya, yang sering muncul hanya mengeluh dan terus mengeluh atas nasib.

Jika menuruti kondisi, seharusnya orang yang paling mengeluh adalah orang Jepang. Sebab geografis selalu mengalami gempa bumi setiap waktu. Tapi mereka bisa tampil menjadi manusia tangguh. Mereka memaksakan diri harus tangguh dengan meningkatkan kualitas diri: ilmu, skill dan keyakinan mata hati yang sangat kuat. Akhirnya mereka menjadi pemenang.

Jika ingin menangis sebenarnya yang pantas adalah orang-orang daratan China yang tanah bagian selatan sangat tandus, berbukit-bukit, padat penduduk, potensi konflik dan selalu terjadi kekacauan. Ini yang membuat mereka harus mandiri dan hijrah dari tempat yang tidak menguntungkan. Keberanian memutuskan segala nya dengan bijak dan penuh perhitungan matang dan keyakinan kuat, mereka menjadi pemenang.

Bagaimana dengan negara kita. Mungkin Allah terlalu sayang menciptakan Indonesia seperti “potongan surga” yang jatuh ke bumi. Laksana tongkat ditanam jadi pohom. Begitu subur dan makmur nya tanah Indonesia.

Kenikmatan yang sangat besar ini nampaknya membuat sebagian masyarakat Indonesia terlena dari zona nyaman. Saat bangsa lain sudah bangkit dan maju, sebagian bangsa ini baru terbangun dari mimpi yang panjang. Semua kaget dan stress. Semua ingin memperbaikinya. Tapi karena kondisi nya tidak stabil dan penuh tekanan, yang ada adalah pertarungan ide saling memperbaiki tapi tidak ada titik temu.

Hari ini Tuhan sedang mengajarkan tentang arti kesadaran kolektif untuk mengakui diri atas segala kekurangan pada diri masing-masing. Bukan hanya sebatas main lembar batu sembunyi tangan. Saling mengkritik tapi miskin ide-ide yang solutif. Lupa melihat diri,tapi sibuk mengoreksi orang lain.

Jika saja bangsa mampu memahami makna makna perubahan kolektif berangkat dari perubahan diri sendiri yang tuhan ajarkan kepada kita, Insya Allah kegaduhan, perang narasi dan saling menyalahkan satu kelompok kepada kelompok lain tidak ada -minimal semakin sedikit folumenya.

Sayangnya hal tersebut belum ada pada diri masyarakat Indonesia. Jadi, nampaknya bangsa Indonesia bukan hanya diuji dengan kekayaan alam saja, tapi saat ini ujian yang paling besar bangsa ini -termasuk saya, anda dan kita-adalah belum mampu menemukan diri kita sendiri.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Menggali Bakat Mahasiswa Melalui Komentar Tulisan
31 Oktober 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   120

Kebaikan Yang Berserakan
14 Oktober 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   343

Dari Staf Ahli Menteri Sampai Gadis Cantik Di Kafe
04 Oktober 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   228

Debat dengan Kasir
27 September 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   220

Menyatukan Akal dan Hati Ketika Ada Musibah
03 September 2026   Oleh : Imam Ghozali   178

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      15412


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      7312


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      6323


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      5498