
Pada pembahasan pertama penulis akan membahas tentang pentingnya
manusia bertuhan. Materi ini terlihat sangat sederhana bagi orang-orang yang
sudah mengakui adanya tuhan atau sudah beragama. Terlepas agama apa yang mereka
anut, semua kitab suci mengajarkan tentang kedudukan Tuhan dalam kehidupan
manusia; baik manusia selaku sebagai hamba-nya maupun manusia sebagai makhluk
sosial.
Bagi kelompok yang tidak mengakui adanya Tuhan, mempunyai alasan
sendiri-sendiri. sebagian beranggapan bahwa tuhan bersifat abstrak dan sangat
susah untuk dibuktikan dengan akal-pikiran dalam bayang-bayang nya tentang
eksistensi tuhan. Kelompok ini tidak bisa menerima begitu saja dalil-dalil Tuhan
dalam kitab suci. Bagi mereka sangat sulit diterima. Akhirnya mereka membatasi
bahwa kehidupan ini adalah merupakan suatu evolusi kehidupan dari setiap waktu
dan akan terus silih berganti dari setiap zaman.
Sebagian kelompok orang-orang yang tidak percaya Tuhan adalah dalam
bentuk janji-janji tuhan tentang Surga dan Neraka atau pembalasan-pembalasan
dari segala amal sholeh atau kebaikan-kebaikan. mereka menolak tentang
janji-janji yang abstrak. Bagi mereka berbuat baik harus melalui proses konkrit
dan berdampak pada keadaan yang konkrit juga. Ketika kita ingin berbuat baik,
lalu melakukan kebaikan, maka yang akan terlihat ada tiga unsur: pemberi
kebaikan, penerima kebaikan dan bentuk kebaikan. hal-hal yang seperti ini jauh
lebih bisa diterima daripada wujud dogma-dogma agama yang sangat susah diterima
oleh akal pikiran mereka.
SEJARAH PEMIKIRAN MANUSIA TENTANG TUHAN
Sejarah manusia dalam mencari eksistensi Tuhan dalam kehidupan
mengalami perkembangan setiap waktu. Perkembangan ini berdasarkan pada ilmu
pengetahuan yang mereka dapatkan dan situasi yang membentuk mereka dalam
mengekspresikan eksistensi Tuhan itu ada.
Dalam sejarah peradaban, ada beberapa aliran yang telah telah ada
dan masih ada sekarang ini di abad modern seperti:
Pertama, dinamisme. Aliran ini beranggapan bahwa di dunia
ini ada kekuatan ghaib yang mengendalikan kehidupan manusia dan alam semesta. Kekuatan
tersebut bisa memberikan kebahagiaan dan mendatangkan bencana. Kekuatan-kekuatan
yang maha dahsyat bersemanyam pada benda-benda yang dianggap keramat yang
dipresepsikan oleh mereka dalam bentuk benda-benda mati dan pohon-pohon. Hingga
kini aliran ini masih bertahan di daerah-daerah terpencil seperti di tanah
melayu ada istilah tuah, mana pada daerah Melanesia, Syakti pada daerah india,
keramat pada daerah jawa dan lain-lain.
Kedua, animisme. Aliran ini beranggapan bahwa roh-roh yang
telah meninggal dunia masih mempunyai hubungan aktif dengan manusia yang masih
hidup. hubungan aktif disini adalah hubungan timbal-balik terhadap segala
perbuatan manusia yang telah dilakukan oleh nya. roh bisa mendatangkan
kebahagiaan dan bencana. Sehingga orang-orang yang mempunyai keinginan untuk
mendapatkan kebahagiaan mereka meminta kepada para roh melalui orang-orang yang
dianggap keramat dan mempunyai keahlian untuk itu. begitu juga ketika
mendapatkan bencana atau sakit yang tidak sembuh-sembuh, mereka pun memohon
kepada para roh untuk menghilangkan kesialan tersebut dengan memberikan
berbagai sesaji dan memohon kepada orang-orang yang dianggap mempunyai
kemampuan untuk mengambulkan segala keinginannya.
Ketiga, politheisme. Aliran ini mengakui adanya keberagaman
kekuatan di dunia disebabkan karena adanya keberagaman keinginan manusia itu
sendiri. dalam kehidupan sehari-hari, manusia mempunyai berbagai keinginan dan
cita-cita. Pada sisi lain, manusia juga mempunyai berbagai persoalan yang
komplek. Ketika pada momen-moment tertentu, mereka membutuhkan kehadiran
kekuatan ghaib untuk membantu menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut secara
spesifik. Itu sebabnya, kekuatan-kekuatan tersebut mempunyai spesifikasi
kedudukan. Semakin banyak permintaan, maka semakin banyak keberagaman tersebut
sebagai wujud dari kekuatan ghaib dalam menyelesaikan kekuatan. Lalu lahir lah
berbagai istilah para dewa atau dewi, sebagai makhluk suci yang beragam nama
dan beragam tugas yang ada pada diri mereka.
Keempat, henotheisme. Aliran ini merupakan hasil dari
seleksi alamiah tentang peran dari para dewa-dewi dalam kehidupan masyarakat.
pada kelompok-kelompok tertentu ada kesadaran bahwa sangat sulit menerima
secara akal sehat adanya banyak dewa. Satu sisi bisa diterima secara akal
adanya beragam dewa untuk menyelesaikan berbagai persoalan. Namun disisi lain
kadang terjadi kontradiktif pada saat ada suatu permintaan yang melibatkan
banyak dewa yang sifatnya bertentangan. Itu sebabnya muncul adanya
penyederhanaan keberadaan tuhan yang tadinya politheisme berubah menjadi
monotheisme. Meskipun demikian, kelompok ini masih menerima tuhan-tuhan yang
disembah oleh kelompok lain.
Kelima, monotheisme. Aliran ini menyakini bahwa tuhan
merupakan satu-satunya kekuatan yang tidak ada yang bisa menandinginya. Tuhan menjadi
tempat bersandar dan meminta segala apa yang diinginkan oleh para penyembahnya.
Perkembangan kemudian konsep monotheisme kemudian melahirkan suatu agama
tertentu dan juga merupakan konsep agama-agama samawi dalam pandangan ajaran Islam.
KONSEP KETUHANAN DALAM ISLAM
Banyak ayat-ayat Al-Qur’an dan hadist-hadist nabi yang menerangkan
tentang eksistensi tuhan. Berikut ini salah satu surat yang menerangkan tentang
eksistensi Tuhan dalam Q.S. Al-Ikhlas sebagai berikut:
قل هو الله احد.
الله الصّمد. لم يلد ولم يولد. ولم يكن له كفوا احد.
Artinya:
“Katakanlah; dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan tempat
bergantung kepada-Nya. dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya.
Dalam perkembangan
ilmu teologi Islam, lahir beberapa aliran tentan konsep Tuhan. Lahir nya konsep
Tuhan disebabkan dari pemahaman para ilmuwan Islam yang beragam berkaitan
dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadist-hadist nabi. Berikut ini aliran-aliran
konsep ketuhanan dalam islam.
Pertama, Muktazilah. Muktazilah merupakan kaum rasionalis di
kalangan umat islam. Salah satu pandangannya, bahwa orang Islam yang berbuat
dosa besar, tidak kafir dan tidak mu’min. ia berada antara posisi mukmin dan
kafir (manzilah baina manzilataini).
Kedua, Qodariah. Aliran ini berpandangan bahwa manusia mempunyai
kebebasan dalam menentukan nasibnya sendiri. ia mempunyai kekuatan untuk
menentukan apakah dirinya bahagia dan selamat atau celaka di Hari Kiamat. Hal ini
manusia bertanggungjawab dengan segala perbuatan yang dia lakukan.
Ketiga, Jabariah. Aliran ini kebalikan dari qodariah. Manusia tidak
mempunyai kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri. Semua nasibnya sudah
digariskan oleh Allah tentang nasib baik dan buruknya.
Keempat, Asy’ariah. Aliran antara qadariah dan jabariah. Aliran ini
mengakui bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melakukan sesuatu yang
mempunyai potensi untuk bisa mendatangkan kebaikan dan potensi untuk
mendatangkan kemadharatan. Namun demikian, hasil akhir dari segala perbuatan
manusia diserahkan kepada penilaian tuhan atas segala amal ibadah nya. sebab
bagi aliran Asy’ariah menyakini bahwa Allah mempunyai hak preogratif untuk
menentukan segala amal ibadah diterima atau ditolak oleh-Nya.
PENTINGNYA MANUSIA BER-TUHAN
Berdasarkan uraian-uraian di atas, dalam sejarah peradaban manusia
selalu membutuhkan kekuatan ghaib (Tuhan) dalam versi yang beragam. Bahkan kaum
rasionalisme mutlak akibat adanya ajaran filsafat Yunani kemudian diadopsi secara
mutlak oleh barat pada abad XVII sampai akhir abad XVIII. Pada masa itu
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat maju di barat dengan
dibuktikan terjadi revolusi industri di Inggris. Dari sini peran keimanan dan
ilmu-ilmu ketuhanan di gereja-gereja mulai mengalami penurunan. Masyarakat barat
mengagungkan kekuatan akal. Melalui gerakan rasionalisme ini, mereka telah
terbukti mampu menguasai dunia melalui gerakan imperialisme dan penaklukan
daerah-daerah jajahan baru.
Meskipun demikian, kaum rasionalisme yang kemudian melahirkan paham
kebendaan atau materialisme dan tidak mengakui adanya agama (ateisme) tidak
bisa menyelesaikan segala persoalan. Kaum rasionalisme mencoba mencampakan
peran agama dalam kehidupan sehari-hari. Namun ketika mencapai puncak kejayaan
ilmu pengetahuan dan teknologi, mereka mengalami kebuntuan. Hati mereka
gersang. Mereka pun membutuhkan ketenangan dalam hidup dan sandaran hidup yang
kekal abadi. Maka, masyarakat kaum modernis saat ini menyadari bahwa hidup
membutuhkan sandaran untuk menjadi tolak kebenaran yang jelas. Salah satunya
melalui agama. itu sebabnya, kini masyarakat barat mulai kembali lagi hidup
dengan menganut agama sebagai jawaban kehidupan yang belum didapat oleh mereka
yaitu kedamaian abadi.
JAWABLAH PERTANYAAN-PERTANYAAN DIBAWAH INI DI LINK WEBSITE SEBAGAI
BERIKUT:
Lokal A ABI
Tulis pandangan konsep tuhan menurut mu’tazilah, jabariah, qadariah
dan asy’ariah sekaligus tokoh-tokoh mereka.!
Lokal B ABI
Tulis ayat-ayat dan hadist yang membicarakan tentang konsep ketuhanan.!
Lokal C ABI
Tulis alasan manusia membutuhkan Tuhan beserta dasar qur’an atau
hadist !
Penulis : Imam Ghozali
Nurul Afifah
Semua manusia membutuhkan Tuhan karena dengan adanya Tuhan manusia insyaallah akan hidup lebih teratur. Salah satunya surah dari dalam Q.S. Al-Ikhlas yaitu: يولد. ولم يكن له كفوا احد. Artinya: “Katakanlah; dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan tempat bergantung kepada-Nya. dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya. Dalam perkembangan ilmu teologi Islam, lahir beberapa aliran tentan konsep Tuhan. Lahir nya konsep Tuhan disebabkan dari pemahaman para ilmuwan Islam yang beragam berkaitan dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadist-hadist nabi. Berikut ini aliran-aliran konsep ketuhanan dalam islam. Pertama, Muktazilah. Muktazilah merupakan kaum rasionalis di kalangan umat islam. Salah satu pandangannya, bahwa orang Islam yang berbuat dosa besar, tidak kafir dan tidak mu’min. ia berada antara posisi mukmin dan kafir (manzilah baina manzilataini). Kedua, Qodariah. Aliran ini berpandangan bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam menentukan nasibnya sendiri. ia mempunyai kekuatan untuk menentukan apakah dirinya bahagia dan selamat atau celaka di Hari Kiamat. Hal ini manusia bertanggungjawab dengan segala perbuatan yang dia lakukan. Ketiga, Jabariah. Aliran ini kebalikan dari qodariah. Manusia tidak mempunyai kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri. Semua nasibnya sudah digariskan oleh Allah tentang nasib baik dan buruknya. Keempat, Asy’ariah. Aliran antara qadariah dan jabariah. Aliran ini mengakui bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melakukan sesuatu yang mempunyai potensi untuk bisa mendatangkan kebaikan dan potensi untuk mendatangkan kemadharatan. Namun demikian, hasil akhir dari segala perbuatan manusia diserahkan kepada penilaian tuhan atas segala amal ibadah nya. sebab bagi aliran Asy’ariah menyakini bahwa Allah mempunyai hak preogratif untuk menentukan segala amal ibadah diterima atau ditolak oleh-Nya.
UUN AGHITA PUTRI
Surah Al-Ikhlas 1. قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ Arab-Latin: qul huwallāhu aḥad Artinya: "Katakanlah (Muhammad), "Dialah Allah, Yang Maha Esa." 2. اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ Arab-Latin: allāhuṣ-ṣamad Artinya: "Allah tempat meminta segala sesuatu." 3. لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۙ Arab-Latin: lam yalid wa lam yụlad Artinya: "(Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan." 4. وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ Arab-Latin: wa lam yakul lahụ kufuwan aḥad Artinya: "Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia." Hadist Sesungguhnya barang siapa menyekutukan Allah, maka pasti Allah mengharamkan jannah baginya dan tempatnya adalah neraka, dan tidak ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun”. (QS. Al-Maidah: 72).
Tiara Anggraini
Q.S. Al-Ikhlas sebagai berikut: قل هو الله احد. الله الصّمد. لم يلد ولم يولد. ولم يكن له كفوا احد. Artinya: “Katakanlah; dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan tempat bergantung kepada-Nya. dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya. Sesungguhnya barang siapa menyekutukan Allah, maka pasti Allah mengharamkan jannah baginya dan tempatnya adalah neraka, dan tidak ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun”. (QS. Al-Maidah: 72).
NURNABILAH
Berikut ini salah satu surat yang menerangkan tentang eksistensi Tuhan dalam Q.S. Al-Ikhlas sebagai berikut: قل هو الله احد. الله الصّمد. لم يلد ولم يولد. ولم يكن له كفوا احد. Artinya: “Katakanlah; dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan tempat bergantung kepada-Nya. dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya. Dalam perkembangan ilmu teologi Islam, lahir beberapa aliran tentan konsep Tuhan. Lahir nya konsep Tuhan disebabkan dari pemahaman para ilmuwan Islam yang beragam berkaitan dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadist-hadist nabi. Berikut ini aliran-aliran konsep ketuhanan dalam islam. Pertama, Muktazilah. Muktazilah merupakan kaum rasionalis di kalangan umat islam. Salah satu pandangannya, bahwa orang Islam yang berbuat dosa besar, tidak kafir dan tidak mu’min. ia berada antara posisi mukmin dan kafir (manzilah baina manzilataini). Kedua, Qodariah. Aliran ini berpandangan bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam menentukan nasibnya sendiri. ia mempunyai kekuatan untuk menentukan apakah dirinya bahagia dan selamat atau celaka di Hari Kiamat. Hal ini manusia bertanggungjawab dengan segala perbuatan yang dia lakukan. Ketiga, Jabariah. Aliran ini kebalikan dari qodariah. Manusia tidak mempunyai kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri. Semua nasibnya sudah digariskan oleh Allah tentang nasib baik dan buruknya. Keempat, Asy’ariah. Aliran antara qadariah dan jabariah. Aliran ini mengakui bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melakukan sesuatu yang mempunyai potensi untuk bisa mendatangkan kebaikan dan potensi untuk mendatangkan kemadharatan. Namun demikian, hasil akhir dari segala perbuatan manusia diserahkan kepada penilaian tuhan atas segala amal ibadah nya. sebab bagi aliran Asy’ariah menyakini bahwa Allah mempunyai hak preogratif untuk menentukan segala amal ibadah diterima atau ditolak oleh-Nya.
Siska putri Syafira
Berikut ini salah satu surat yang menerangkan tentang eksistensi Tuhan dalam Q.S. Al-Ikhlas sebagai berikut: قل هو الله احد. الله الصّمد. لم يلد ولم يولد. ولم يكن له كفوا احد. Artinya: “Katakanlah; dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan tempat bergantung kepada-Nya. dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya.
ismawati
AYAT : لَقَدْ كَفَرَ الَّذِيْنَ قَالُوْٓا اِنَّ اللّٰهَ هُوَ الْمَسِيْحُ ابْنُ مَرْيَمَ ۗوَقَالَ الْمَسِيْحُ يٰبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اعْبُدُوا اللّٰهَ رَبِّيْ وَرَبَّكُمْ ۗاِنَّهٗ مَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّٰهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوٰىهُ النَّارُ ۗوَمَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ اَنْصَارٍ 72 72. Sungguh, telah kafir orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah itu dialah Al-Masih putra Maryam.” Padahal Al-Masih (sendiri) berkata, “Wahai Bani Israil! Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya barangsiapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu. HADIST : “Sesungguhnya barang siapa menyekutukan Allah, maka pasti Allah mengharamkan jannah baginya dan tempatnya adalah neraka, dan tidak ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun”. (QS. Al-Maidah: 72).
Rahmadani Fitria
Ayat-ayat: هو الله احد. الله الصّمد. لم يلد ولم يولد. ولم يكن له كفوا احد. Artinya: “Katakanlah; dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan tempat bergantung kepada-Nya. dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya. Hadist: Sesungguhnya barang siapa menyekutukan Allah, maka pasti Allah mengharamkan jannah baginya dan tempatnya adalah neraka, dan tidak ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun”. (QS. Al-Maidah: 72).
Fitria Lestari
Al ikhlas 1-4 قل هو الله احد. الله الصّمد. لم يلد ولم يولد. ولم يكن له كفوا احد. Artinya: “Katakanlah; dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan tempat bergantung kepada-Nya. dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya. Al maidah ayat 72 لَقَدْ كَفَرَ الَّذِيْنَ قَالُوْٓا اِنَّ اللّٰهَ هُوَ الْمَسِيْحُ ابْنُ مَرْيَمَ ۗوَقَالَ الْمَسِيْحُ يٰبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اعْبُدُوا اللّٰهَ رَبِّيْ وَرَبَّكُمْ ۗاِنَّهٗ مَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّٰهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوٰىهُ النَّارُ ۗوَمَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ اَنْصَارٍ 72. Sungguh, telah kafir orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah itu dialah Al-Masih putra Maryam.” Padahal Al-Masih (sendiri) berkata, “Wahai Bani Israil! Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya barangsiapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu. Al-anbiya' ayat 92 اِنَّ هٰذِهٖٓ اُمَّتُكُمْ اُمَّةً وَّاحِدَةًۖ وَّاَنَا۠ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوْنِ Sungguh, (agama tauhid) inilah agama kamu, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku. كَانَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ “Allah sudah ada dan tak ada apa pun selain Dia.” (HR. Bukhari اللهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ "Ya Allah, Engkau adalah yang awal maka tidak ada sebelum-Mu sesuatu apa pun. dan Engkau adalah yang akhir maka tidak ada setelah-Mu sesuatu apa pun. Dan Engkau adalah Yang Nampak maka tidak ada di atas-Mu sesuatu apa pun dan engkau adalah Yang Tak Tampak maka tidak ada di bawah-Mu sesuatu apa pun.” (HR. Muslim)
Ratyh masitah
Tuhan kami yang menciptakan segala sesuatu, kemudian memberinya petunjuk." (QS. Thaha: 50) قل هو الله احد. الله الصّمد. لم يلد ولم يولد. ولم يكن له كفوا احد. Artinya: “Katakanlah; dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan tempat bergantung kepada-Nya. dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya. Surat Al-Baqarah ayat 258 "Ibrahim berkata, Sesungguhnya Allah mendatangkan (menerbitkan) matahari dari ufuk timur, maka terbitkanlah ia dari ufuk barat ? Maka terdiamlah orang kafir." Ayat ini menceritakan perdebatan antara Nabi Ibrahim a.s. dengan Raja Namrud yang mengaku sebagai Tuhan. Surat Asy-Syura ayat 11 "Tiada sesuatupun yang menyerupai-Nya." Ayat ini ringkas, namun menjelaskan wujud dan semua sifat kesempurnaan Allah Ta'ala. Tiada satupun yang menyerupai Allah dalam segala hal, karena andaikan ada sesuatu yang menyerupai Allah, maka Dia bukan lagi Maha Esa. Dia sangat jauh dan berbeda dengan makhluk-Nya. Dengan kesendirian-Nya dalam wujud dan sifat kesempurnaan, tapi pada saat yang sama Dia sangat dekat dengan makhluk-Nya, lantaran makhluk merupakan bagian dari wujud-Nya dan dalam liputan-Nya
Nurul Hidayah
Q.S. Al-Ikhlas قل هو الله احد. الله الصّمد. لم يلد ولم يولد. ولم يكن له كفوا احد. Artinya: “Katakanlah; dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan tempat bergantung kepada-Nya. dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya Adanya Allah Azza wa Jalla dibuktikan oleh dalil syara, dalil akal, dalil fitrah, dan dalil hissi (inderawi). Dalil syara tentang adanya Allah misalnya dengan disebutkan nama-Nya berulang kali dalam semua kitab samawi seperti dalam Taurat, Zabur, Injil, dan Al Qur’an. Demikian pula tidak mungkin ada firman-Nya tanpa ada yang berfirman. Dalil akal yang menunjukkan adanya Allah adalah adanya makhluk ciptaan. Secara akal, tidak mungkin ada hasil ciptaan tanpa ada yang menciptakan. Dalil fitrah yang menunjukkan adanya Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah, bahwa manusia sudah tertanam dalam dirinya kepercayaan terhadap adanya Tuhan yang menciptakan alam semesta ini, termasuk dirinya, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalil hissiy yang menunjukkan adanya Allah Azza wa Jalla adalah kita mendengar dan menyaksikan pengabulan terhadap doa seseorang ketika ia berdoa kepada Allah, demikian pula kita telah mengetahui adanya mukjizat luar biasa yang Allah berikan kepada para nabi dan rasul-Nya sehingga mereka berhasil mengalahkan musuh-musuhnya, dimana itu semua terdapat dalil akan adanya Tuhan yang mengutus mereka, yaitu Allah Azza wa Jalla.
elsya wardani
قل هو الله احد. الله الصّمد. لم يلد ولم يولد. ولم يكن له كفوا احد.Artinya: “Katakanlah; dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan tempat bergantung kepada-Nya. dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya.(Q.S. Al-Ikhlas ),وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ مَا عَلِمْتُ لَكُم مِّنْ إِلَهٍ غَيْرِيArtinya: dan fir’aun berkata “wahai kaumku , aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku…(Q.S al-qashas ayat 38),Thaha ayat 14: ●إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي ●Artinya : Sesungguhnya Akulah Allah Tidak ada Ilah (Tuhan) melainkan Aku. oleh karena itu sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingatKu“,*hadist Ibnu Taymiyah memberikan definisi al-Illah sebagai berikut: ●Al-Illah ialah yang dipuja dengan penuh kecintaan hati, tunduk kepadaNya, merendahkan diri, takut dan mengharapkanNya, padanya tempat berpasrah ketika dalam kesulitan, berdo’a, dan bertawakkal kepadaNya untuk kemaslahatan diri, meminta perlindungan dariNya, dan menimbulkan ketenangan disaat mengingat dab terpaut cinta kepadaNya. (imaduddin, 1880:56) ,hadits qudsi. Seba- gaimana yang diriwayatkan Rasulullah Shallal- lahu ‘alaihi wa Sallam, “...Dan sungguh Aku telah ciptakan hamba- Ku seluruhnya dalam keadaan hanif (lurus dalam tauhid). Dan sungguh telah datang pada mereka syetan-syetan yang menjadikan mereka keluar dari agama mereka.”Dalam tafsir at Thabari Fitrahdiungkap dalam hadits dengan berbagai bentuk dan makn, masing-masing hadits memiliki topik dan latar belakang yang berbeda-beda. Hadits pertama“Seseorang tidak dilahirkan kecuali da- lam keadaan fitrah,maka kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)Hadits kedua :“Sepuluh macam yang termasuk dalam kategori fitrah, yaitu (1) men- cukur kumis, (2) membiarkan jengggot pan- jang dan lebat, (3) bersikat gigi/bersiwak, (4) menghirup air untuk membersihkan hidung, (5) menggunting kuku, (6) membersihkan jari- jemari, (7) mencabut bulu ketiak, (8) mencukur bulu kelamin, (9) membersihkan kencing den- gan air, dan (10) berkumur-kumur.” (H.R. Muslim dan Abu Dawud dari Aisyah)Hadits ketiga:“Zakat fitrah itu diwajibkan sebanyak segantang kurma atau segantang gandum bagi setiap orang Mus- lim merdeka maupun budak, laki-laki maupun wanita.” (H.R. Al-Bukhari dari Ibn Umar) Hadits keempat:“Shalat Idul Adha itu sebanyak dua ra- kaat, shalat Idul Fitri itu sebanyak dua rakaat, shalat orang yang berpergian itu sebanyak dua rakaat, shalat Jumat itu sebanyak dua rakaat.” (H.R. Al-Nasa’i dari Umar ibn al-Khattab) Hadits kelima :“Doa Nabi SAW: Ya Allah yang menciptakan langit dan bumi, yang mengeta- hui yang gaib dan yang tampak, Tuhan segala sesuatu dan sesuatu itu menjadi milik-Nya. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Engkau. Aku minta perlindungan-Mu dari keburukan hawa nafsudansyaitansertakroni-kroninya.”(H.R.Al- Darimiy dari Abu Hurairah)26
Lily Arnalis
Ayat serta arti tentang konsep ketuhanan: [4/9 14.18] Lily Arnalis: Surat al-maidah ayat 72 [4/9 14.18] Lily Arnalis: لَقَدْ كَفَرَ الَّذِيْنَ قَالُوْٓا اِنَّ اللّٰهَ هُوَ الْمَسِيْحُ ابْنُ مَرْيَمَ ۗوَقَالَ الْمَسِيْحُ يٰبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اعْبُدُوا اللّٰهَ رَبِّيْ وَرَبَّكُمْ ۗاِنَّهٗ مَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّٰهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوٰىهُ النَّارُ ۗوَمَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ اَنْصَارٍ 72 72. Sungguh, telah kafir orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah itu dialah Al-Masih putra Maryam.” Padahal Al-Masih (sendiri) berkata, “Wahai Bani Israil! Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya barangsiapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu. [4/9 14.21] ismawati: “Sesungguhnya barang siapa menyekutukan Allah, maka pasti Allah mengharamkan jannah baginya dan tempatnya adalah neraka, dan tidak ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun”. (QS. Al-Maidah: 72). Ayat : اِنَّ هٰذِهٖٓ اُمَّتُكُمْ اُمَّةً وَّاحِدَةًۖ وَّاَنَا۠ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوْنِ 92 92. Sungguh, (agama tauhid) inilah agama kamu, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku. Hadist: Rasulullah bersabda, "Kami para nabi seperti ibarat saudara-saudara se ayah, agama kami satu." (Riwayat al-Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Ahmad dari Abu Hurairah.)
NURMAFITA
ayat ayat tentang konsep ketuhanan 1. Surah Al Baqarah Ayat 163 وَاِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ لَآاِلٰهَ اِلَّا هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ ࣖ ١٦٣ Artinya: "Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada tuhan selain Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang." 2. Surah Al Insyirah Ayat 8 وَاِلٰى رَبِّكَ فَارْغَبْ ࣖ ٨ Artinya: "dan hanya kepada Tuhanmu berharaplah!" 3. Surah Al Qasas Ayat 88 وَلَا تَدْعُ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَۘ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۗ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ اِلَّا وَجْهَهٗ ۗ لَهُ الْحُكْمُ وَاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ ࣖ ٨٨ Artinya: "Jangan (pula) engkau sembah Tuhan yang lain (selain Allah). Tidak ada tuhan selain Dia. Segala sesuatu pasti binasa, kecuali zat-Nya. Segala putusan menjadi wewenang-Nya dan hanya kepada-Nya kamu dikembalikan." 4. Surah Al Anbiya Ayat 25 وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا نُوْحِيْٓ اِلَيْهِ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدُوْنِ ٢٥ Artinya: "Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Nabi Muhammad), melainkan Kami mewahyukan kepadanya bahwa tidak ada tuhan selain Aku. Maka, sembahlah Aku." 5. Surah Al Ikhlas Ayat 1 قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ ١ Artinya: "Katakanlah (Nabi Muhammad), "Dialah Allah Yang Maha Esa." 6. Surah At Taubah Ayat 129 فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۗ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ ࣖ ١٢٩ Artinya: "Jika mereka berpaling (dari keimanan), katakanlah (Nabi Muhammad), "Cukuplah Allah bagiku. Tidak ada tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan pemilik 'Arasy (singgasana) yang agung." 7. Surah Al Kahfi Ayat 110 قُلْ اِنَّمَآ اَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰٓى اِلَيَّ اَنَّمَآ اِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدًا ࣖ ١١٠ Artinya: "Katakanlah (Nabi Muhammad), "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu yang diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa." Siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya hendaklah melakukan amal saleh dan tidak menjadikan apa dan siapa pun sebagai sekutu dalam beribadah kepada Tuhannya." Hadist tentang konsep ketuhanan عَنْ مُعَاذٍ – رضى الله عنه – قَالَ : كُنْتُ رِدْفَ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم عَلَى حِمَارٍ يُقَالُ لَهُ عُفَيْرٌ ، فَقَالَ :« يَا مُعَاذُ ، هَلْ تَدْرِى حَقَّ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ ؟ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ ؟ » . قُلْتُ : اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ . قَالَ :« فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلاَ يُشْرِكُوا بِه شَيْئاً ، وَحَقَّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ أَنْ لاَ يُعَذِّبَ مَنْ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئاً » . فَقُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَفَلاَ أُبَشِّرُ بِهِ النَّاسَ ؟ قَالَ :« لاَ تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوا ». ✅ Dari Mu’adz radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Aku pernah dibonceng Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas sebuah keledai yang bernama ‘Ufair, lalu Beliau bersabda, “Wahai Mu’adz, tahukah kamu hak Allah yang wajib dipenuhi hamba-hamba-Nya? Dan apa hak hamba yang pasti dipenuhi Allah?” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya hak Allah yang wajib dipenuhi hamba adalah mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu, dan hak hamba yang pasti dipenuhi Allah adalah Dia tidak akan mengazab orang yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu.” Aku berkata, “Wahai Rasulullah, bolehkah aku beritahukan kabar gembira ini kepada manusia?” Beliau menjawab, “Tidak perlu kamu sampaikan, nanti mereka akan bersandar.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Putri Rahma Resa
Senin, 04 September 2023 Nama : Putri Rahma Resa Jurusan : Administrasi Niaga Prodi : Administrasi Bisnis Internasional Kelas : C16 NIM : 5404230055 1. Tulis ayat-ayat dan hadits yang membicarakan tentang konsep keTuhanan! Jawaban : Ayat Al-Quran tentang keTuhanan 1. surah Al-Ikhlas قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ 1. Katakanlah (Muhammad), "Dialah Allah, Yang Maha Esa. اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ 2. Artinya: Allah tempat meminta segala sesuatu. لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۙ 3. Artinya: (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ 4. Artinya: Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia." 2. QS. Ali 'Imran Ayat 62 اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الۡقَصَصُ الۡحَـقُّ ۚ وَمَا مِنۡ اِلٰهٍ اِلَّا اللّٰهُؕ وَاِنَّ اللّٰهَ لَهُوَ الۡعَزِيۡزُ الۡحَكِيۡمُ Sungguh, ini adalah kisah yang benar. Tidak ada tuhan selain Allah, dan sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana 3. QS Ar-Rum Ayat 30 فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ Artinya: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Sedangkan haditsnya: 1. Hadits pertama: كَانَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ “Allah sudah ada dan tak ada apa pun selain Dia.” (HR. Bukhari) 2. Hadits kedua: اللهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ "Ya Allah, Engkau adalah yang awal maka tidak ada sebelum-Mu sesuatu apa pun. dan Engkau adalah yang akhir maka tidak ada setelah-Mu sesuatu apa pun. Dan Engkau adalah Yang Nampak maka tidak ada di atas-Mu sesuatu apa pun dan engkau adalah Yang Tak Tampak maka tidak ada di bawah-Mu sesuatu apa pun.” (HR. Muslim) 3. Hadits ketiga وَفِيهِ الرَّدُّ عَلَى مَنْ زَعَمَ أَنَّهُ عَلَى الْعَرْشِ بِذَاتِهِ وَمهما تُؤُوِّلَ بِهِ هَذَا جَازَ أَنْ يُتَأَوَّلَ بِهِ ذَاكَ “Dalam hadits [yang menyebutkan Allah berada di depan orang shalat], ada gugatan bagi orang yang menyangka bahwa Allah ada di atas Arasy dengan Dzat-Nya. Ketika dalil ini [yang mengatakan Allah di depan orang shalat] boleh ditakwil dengan dalil itu [yang mengatakan Allah di atas Arasy], maka demikian juga dalil ini boleh dibuat untuk mentakwil dalil yang itu.” (Ibnu Hajar, Fath al-Bâry, juz I, halaman 508).
Avi putri nabila
Hadist. Dalil syara tentang adanya Allah misalnya dengan disebutkan nama-Nya berulang kali dalam semua kitab samawi seperti dalam Taurat, Zabur, Injil, dan Al Qur’an. Demikian pula tidak mungkin ada firman-Nya tanpa ada yang berfirman. Dalil akal yang menunjukkan adanya Allah adalah adanya makhluk ciptaan. Secara akal, tidak mungkin ada hasil ciptaan tanpa ada yang menciptakan. Dalil fitrah yang menunjukkan adanya Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah, bahwa manusia sudah tertanam dalam dirinya kepercayaan terhadap adanya Tuhan yang menciptakan alam semesta ini, termasuk dirinya, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalil hissiy yang menunjukkan adanya Allah Azza wa Jalla adalah kita mendengar dan menyaksikan pengabulan terhadap doa seseorang ketika ia berdoa kepada Allah, demikian pula kita telah mengetahui adanya mukjizat luar biasa yang Allah berikan kepada para nabi dan rasul-Nya sehingga mereka berhasil mengalahkan musuh-musuhnya, dimana itu semua terdapat dalil akan adanya Tuhan yang mengutus mereka, yaitu Allah Azza wa Jalla. Ayat ayat. 1. Surah Al Baqarah Ayat 163 وَاِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ لَآاِلٰهَ اِلَّا هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ ࣖ ١٦٣ Artinya: "Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada tuhan selain Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang." 2. Surah Al Insyirah Ayat 8 وَاِلٰى رَبِّكَ فَارْغَبْ ࣖ ٨ Artinya: "dan hanya kepada Tuhanmu berharaplah!" 3. Surah Al Qasas Ayat 88 وَلَا تَدْعُ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَۘ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۗ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ اِلَّا وَجْهَهٗ ۗ لَهُ الْحُكْمُ وَاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ ࣖ ٨٨ Artinya: "Jangan (pula) engkau sembah Tuhan yang lain (selain Allah). Tidak ada tuhan selain Dia. Segala sesuatu pasti binasa, kecuali zat-Nya. Segala putusan menjadi wewenang-Nya dan hanya kepada-Nya kamu dikembalikan."
Dinar Fahrunnisa
ayat tentang konsep ketuhanan 1. هو الله احد. الله الصّمد. لم يلد ولم يولد. ولم يكن له كفوا احد. Yang memiliki arti sebagai berikut: “Katakanlah; dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan tempat bergantung kepada-Nya. dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya. 2. لَقَدْ كَفَرَ الَّذِيْنَ قَا لُوْۤا اِنَّ اللّٰهَ هُوَ الْمَسِيْحُ ابْنُ مَرْيَمَ ۗ وَقَا لَ الْمَسِيْحُ يٰبَنِيْۤ اِسْرَآءِيْلَ اعْبُدُوا اللّٰهَ رَبِّيْ وَرَبَّكُمْ ۗ اِنَّهٗ مَنْ يُّشْرِكْ بِا للّٰهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّٰهُ عَلَيْهِ الْجَـنَّةَ وَمَأْوٰٮهُ النَّا رُ ۗ وَمَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ اَنْصَا رٍ yang memiliki arti sebagai berikut: "Sungguh, telah kafir orang-orang yang berkata, "Sesungguhnya Allah itu dialah Al-Masih putra Maryam." Padahal Al-Masih (sendiri) berkata, "Wahai Bani Israil! Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu." Sesungguhnya barang siapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu." (QS. Al-Ma'idah 5:72) •hadist tentang konsep ketuhanan 1. “Allah sudah ada dan tak ada apa pun selain Dia.” (HR. Bukhari) 2. Dalam hadits [yang menyebutkan Allah berada di depan orang shalat], ada gugatan bagi orang yang menyangka bahwa Allah ada di atas Arasy dengan Dzat-Nya. Ketika dalil ini [yang mengatakan Allah di depan orang shalat] boleh ditakwil dengan dalil itu [yang mengatakan Allah di atas Arasy], maka demikian juga dalil ini boleh dibuat untuk mentakwil dalil yang itu. (Ibnu Hajar)
Nurul Hidayah
Q.S. Al-Ikhlas قل هو الله احد. الله الصّمد. لم يلد ولم يولد. ولم يكن له كفوا احد. Artinya: “Katakanlah; dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan tempat bergantung kepada-Nya. dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya Surah Al Baqarah Ayat 163 وَاِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ لَآاِلٰهَ اِلَّا هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ ࣖ ١٦٣ Artinya: "Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada tuhan selain Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang." Surah Al Insyirah Ayat 8 وَاِلٰى رَبِّكَ فَارْغَبْ ࣖ ٨ Artinya: "dan hanya kepada Tuhanmu berharaplah!" Surah Al Qasas Ayat 88 وَلَا تَدْعُ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَۘ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۗ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ اِلَّا وَجْهَهٗ ۗ لَهُ الْحُكْمُ وَاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ ࣖ ٨٨ Artinya: "Jangan (pula) engkau sembah Tuhan yang lain (selain Allah). Tidak ada tuhan selain Dia. Segala sesuatu pasti binasa, kecuali zat-Nya. Segala putusan menjadi wewenang-Nya dan hanya kepada-Nya kamu dikembalikan." Surah Al Anbiya Ayat 25 وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا نُوْحِيْٓ اِلَيْهِ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدُوْنِ ٢٥ Artinya: "Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Nabi Muhammad), melainkan Kami mewahyukan kepadanya bahwa tidak ada tuhan selain Aku. Maka, sembahlah Aku." Surah At Taubah Ayat 129 فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۗ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ ࣖ ١٢٩ Artinya: "Jika mereka berpaling (dari keimanan), katakanlah (Nabi Muhammad), "Cukuplah Allah bagiku. Tidak ada tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan pemilik 'Arasy (singgasana) yang agung." Surah Al Kahfi Ayat 110 قُلْ اِنَّمَآ اَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰٓى اِلَيَّ اَنَّمَآ اِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدًا ࣖ ١١٠ Artinya: "Katakanlah (Nabi Muhammad), "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu yang diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa." Siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya hendaklah melakukan amal saleh dan tidak menjadikan apa dan siapa pun sebagai sekutu dalam beribadah kepada Tuhannya." HADIST عَنْ مُعَاذٍ – رضى الله عنه – قَالَ : كُنْتُ رِدْفَ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم عَلَى حِمَارٍ يُقَالُ لَهُ عُفَيْرٌ ، فَقَالَ :« يَا مُعَاذُ ، هَلْ تَدْرِى حَقَّ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ ؟ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ ؟ » . قُلْتُ : اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ . قَالَ :« فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلاَ يُشْرِكُوا بِه شَيْئاً ، وَحَقَّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ أَنْ لاَ يُعَذِّبَ مَنْ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئاً » . فَقُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَفَلاَ أُبَشِّرُ بِهِ النَّاسَ ؟ قَالَ :« لاَ تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوا ». ✅ Dari Mu’adz radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Aku pernah dibonceng Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas sebuah keledai yang bernama ‘Ufair, lalu Beliau bersabda, “Wahai Mu’adz, tahukah kamu hak Allah yang wajib dipenuhi hamba-hamba-Nya? Dan apa hak hamba yang pasti dipenuhi Allah?” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya hak Allah yang wajib dipenuhi hamba adalah mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu, dan hak hamba yang pasti dipenuhi Allah adalah Dia tidak akan mengazab orang yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu.” Aku berkata, “Wahai Rasulullah, bolehkah aku beritahukan kabar gembira ini kepada manusia?” Beliau menjawab, “Tidak perlu kamu sampaikan, nanti mereka akan bersandar.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Endang Astuti
1.Al-Baqarah ayat 163 وَاِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ لَآاِلٰهَ اِلَّا هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ ࣖ ١٦٣ Artinya: "Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada tuhan selain Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang." 2.Al-insyirah ayat 8 وَاِلٰى رَبِّكَ فَارْغَبْ ࣖ ٨ Artinya: "dan hanya kepada Tuhanmu berharaplah" 3.. Surah Al Qasas Ayat 88 وَلَا تَدْعُ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَۘ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۗ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ اِلَّا وَجْهَهٗ ۗ لَهُ الْحُكْمُ وَاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ ࣖ ٨٨ Artinya: "Jangan (pula) engkau sembah Tuhan yang lain (selain Allah). Tidak ada tuhan selain Dia. Segala sesuatu pasti binasa, kecuali zat-Nya. Segala putusan menjadi wewenang-Nya dan hanya kepada-Nya kamu dikembalikan." Hadis: 1.Allah sudah ada dan tak ada apa pun selain Dia.” (HR. Bukhari) 2.Ya Allah, Engkau adalah yang awal maka tidak ada sebelum-Mu sesuatu apa pun. dan Engkau adalah yang akhir maka tidak ada setelah-Mu sesuatu apa pun. Dan Engkau adalah Yang Nampak maka tidak ada di atas-Mu sesuatu apa pun dan engkau adalah Yang Tak Tampak maka tidak ada di bawah-Mu sesuatu apa pun.” (HR. Muslim)
Kharisma Eka Safridayanti
Berikut ini salah satu surat yang menerangkan tentang eksistensi Tuhan dalam Q.S. Al-Ikhlas sebagai berikut: قل هو الله احد. الله الصّمد. لم يلد ولم يولد. ولم يكن له كفوا احد. Artinya: “Katakanlah; dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan tempat bergantung kepada-Nya. dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya. QS 5 (Al-Maidah):72 لَقَدْ كَفَرَ الَّذِيْنَ قَالُوْٓا اِنَّ اللّٰهَ هُوَ الْمَسِيْحُ ابْنُ مَرْيَمَ ۗوَقَالَ الْمَسِيْحُ يٰبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اعْبُدُوا اللّٰهَ رَبِّيْ وَرَبَّكُمْ ۗاِنَّهٗ مَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّٰهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوٰىهُ النَّارُ ۗوَمَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ اَنْصَارٍ 72. Sungguh, telah kafir orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah itu dialah Al-Masih putra Maryam.” Padahal Al-Masih (sendiri) berkata, “Wahai Bani Israil! Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya barangsiapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu. اِنَّ هٰذِهٖٓ اُمَّتُكُمْ اُمَّةً وَّاحِدَةًۖ وَّاَنَا۠ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوْنِ 92 QS 21 (Al-Anbiya): 92, “Sesungguhnya agama yang diturunkan Allah adalah satu, yaitu agama Tauhid. Oleh karena itu seharusnya manusia menganut satu agama, tetapi mereka telah berpecah belah. Mereka akan kembali kepada Allah dan Allah akan menghakimi mereka. QS Ar. rum ayat30 فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ Artinya: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, Al hud ayat 61 وَاِلٰى ثَمُوْدَ اَخَاهُمْ صٰلِحًا ۘ قَالَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗ ۗهُوَ اَنْشَاَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيْهَا فَاسْتَغْفِرُوْهُ ثُمَّ تُوْبُوْٓا اِلَيْهِ ۗاِنَّ رَبِّيْ قَرِيْبٌ مُّجِيْبٌ61 61. dan kepada kaum samud (Kami utus) saudara mereka, Saleh. Dia berkata, “Wahai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada tuhan bagimu selain Dia. Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan kepada-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat (rahmat-Nya) dan memperkenankan (doa hamba-Nya).” Hadis hadis tentang ketuhanan sabda Rasulullah ﷺ: كَانَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ “Allah sudah ada dan tak ada apa pun selain Dia.” (HR. Bukhari) Ditafsirkan oleh nabi Muhammad. اللهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ "Ya Allah, Engkau adalah yang awal maka tidak ada sebelum-Mu sesuatu apa pun. dan Engkau adalah yang akhir maka tidak ada setelah-Mu sesuatu apa pun. Dan Engkau adalah Yang Nampak maka tidak ada di atas-Mu sesuatu apa pun dan engkau adalah Yang Tak Tampak maka tidak ada di bawah-Mu sesuatu apa pun.” (HR. Muslim)
Arrahmi putri
*Banyak ayat-ayat Al-Qur’an dan hadist-hadist nabi yang menerangkan tentang eksistensi tuhan. Berikut ini salah satu surat yang menerangkan tentang eksistensi Tuhan:* *1. Q.S. Al-Ikhlas* قل هو الله احد. الله الصّمد. لم يلد ولم يولد. ولم يكن له كفوا احد. Artinya: “Katakanlah; dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan tempat bergantung kepada-Nya. dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya. *2. Q.S. hud ayat 84* وَاِلٰى مَدْيَنَ اَخَاهُمْ شُعَيْبًا ۗقَالَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗ ۗوَلَا تَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيْزَانَ اِنِّيْٓ اَرٰىكُمْ بِخَيْرٍ وَّاِنِّيْٓ اَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ مُّحِي Artinya: Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara mereka, Syuaib. Dia berkata, “Wahai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan. Sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (makmur). Dan sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab pada hari yang membinasakan (Kiamat). *3. Q.S. Al-maidah ayat 72* لَقَدْ كَفَرَ الَّذِيْنَ قَالُوْٓا اِنَّ اللّٰهَ هُوَ الْمَسِيْحُ ابْنُ مَرْيَمَ ۗوَقَالَ الْمَسِيْحُ يٰبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اعْبُدُوا اللّٰهَ رَبِّيْ وَرَبَّكُمْ ۗاِنَّهٗ مَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّٰهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوٰىهُ النَّارُ ۗوَمَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ اَنْصَارٍ 72 Artinya: Sungguh, telah kafir orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah itu dialah Al-Masih putra Maryam.” Padahal Al-Masih (sendiri) berkata, “Wahai Bani Israil! Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya barangsiapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu. *Adapun hadits-hadits yang membicarakan tentang konsep ketuhanan sebagai berikut:* *1.* اللهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ "Ya Allah, Engkau adalah yang awal maka tidak ada sebelum-Mu sesuatu apa pun. dan Engkau adalah yang akhir maka tidak ada setelah-Mu sesuatu apa pun. Dan Engkau adalah Yang Nampak maka tidak ada di atas-Mu sesuatu apa pun dan engkau adalah Yang Tak Tampak maka tidak ada di bawah-Mu sesuatu apa pun.” (HR. Muslim) Hadits ini dengan amat jelas menyatakan bahwa di atas atau di bawah Allah tak ada apa pun. Berbeda dengan hadits pertama di atas yang bercerita tentang asal mula penciptaan, hadits ini adalah bagian dari doa Nabi ketika hendak tidur. Ini menunjukkan bahwa keberadaan Allah yang ada tanpa bertempat di mana pun tetap berlangsung selamanya, bukan hanya saat awal mula sebelum Allah menciptakan seluruh hal. *2.* كَانَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ “Allah sudah ada dan tak ada apa pun selain Dia.” (HR. Bukhari) Hadits shahih ini menegaskan bahwa Allah telah ada sebelum apa pun. Di manakah Allah saat itu? Ini pertanyaan tak relevan sebab semua tempat belum tercipta saat itu. Apakah tidak bisa dikatakan bahwa sebelumnya Allah memang tak bertempat lalu kemudian menciptakan tempat lalu menempati tempat itu? Tentu tidak bisa, sebab kesimpulan seperti ini tak ada dalilnya, baik secara naqli atau aqli. Karenanya, Ahlussunnah meyakini bahwa sejak awal Allah tak bertempat dan selamanya demikian.
KHAIRI
1.al-baqarah ayat 163 2.al-insyirah ayat 8 3.al-qasas ayat 88 hadits qudsi. Seba- gaimana yang diriwayatkan Rasulullah Shallal- lahu ‘alaihi wa Sallam, “...Dan sungguh Aku telah ciptakan hamba- Ku seluruhnya dalam keadaan hanif (lurus dalam tauhid). Dan sungguh telah datang pada mereka syetan-syetan yang menjadikan mereka keluar dari agama mereka.” Dalam tafsir at Thabari Fitrahdiungkap dalam hadits dengan berbagai bentuk dan makn, masing-masing hadits memiliki topik dan latar belakang yang berbeda-beda. Hadits pertama“Seseorang tidak dilahirkan kecuali da- lam keadaan fitrah,maka kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)Hadits kedua :“Sepuluh macam yang termasuk dalam kategori fitrah, yaitu (1) men- cukur kumis, (2) membiarkan jengggot pan- jang dan lebat, (3) bersikat gigi/bersiwak, (4) menghirup air untuk membersihkan hidung, (5) menggunting kuku, (6) membersihkan jari- jemari, (7) mencabut bulu ketiak, (8) mencukur bulu kelamin, (9) membersihkan kencing den- gan air, dan (10) berkumur-kumur.” (H.R. Muslim dan Abu Dawud dari Aisyah)Hadits ketiga:“Zakat fitrah itu diwajibkan sebanyak segantang kurma atau segantang gandum bagi setiap orang Mus- lim merdeka maupun budak, laki-laki maupun wanita.” (H.R. Al-Bukhari dari Ibn Umar) Hadits keempat:“Shalat Idul Adha itu sebanyak dua ra- kaat, shalat Idul Fitri itu sebanyak dua rakaat, shalat orang yang berpergian itu sebanyak dua rakaat, shalat Jumat itu sebanyak dua rakaat.” (H.R. Al-Nasa’i dari Umar ibn al-Khattab) Hadits kelima :“Doa Nabi SAW: Ya Allah yang menciptakan langit dan bumi, yang mengeta- hui yang gaib dan yang tampak, Tuhan segala sesuatu dan sesuatu itu menjadi milik-Nya. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Engkau. Aku minta perlindungan-Mu dari keburukan hawa nafsudansyaitansertakroni-kroninya.”(H.R.Al- Darimiy dari Abu Hurairah)26
Rahmah
Surah Al Baqarah Ayat 163 وَاِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ لَآاِلٰهَ اِلَّا هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ ࣖ ١٦٣ Surah Al Insyirah Ayat 8 وَاِلٰى رَبِّكَ فَارْغَبْ ࣖ ٨ Surah Al Qasas Ayat 88 وَلَا تَدْعُ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَۘ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۗ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ اِلَّا وَجْهَهٗ ۗ لَهُ الْحُكْمُ وَاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ ࣖ ٨٨ HR. Bukhari كَانَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ HR. Muslim اللهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ Ibnu Hajar وَفِيهِ الرَّدُّ عَلَى مَنْ زَعَمَ أَنَّهُ عَلَى الْعَرْشِ بِذَاتِهِ وَمهما تُؤُوِّلَ بِهِ هَذَا جَازَ أَنْ يُتَأَوَّلَ بِهِ ذَاكَ
Della Riyana Putri
ayat yang membicarakan tentang konsep ketuhanan : ➜ Q.S Al-Ikhlas ayat 1-4 قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4). Katakanlah (Muhammad): “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa (1) Allah tempat meminta segala sesuatu (2) (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan (3) Dan tidak ada sescuatu yang setara dengannya (4)”. (Al-Ikhlas :1-4) ➜ Q.S Al-Haddit ayat 4 هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ (4) “Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; Kemudian Dia bersemayam di atas `Arsy Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”. (Al-Hadid :4 ➜ Q.S Qaf ayat 16 وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ (16) “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya”. (Qaf :16) hadist yang membicarakan tentang konsep ketuhanan : [04/09, 2:47 PM] elsya wardani (ABI): hadits qudsi. Seba- gaimana yang diriwayatkan Rasulullah Shallal- lahu ‘alaihi wa Sallam, “...Dan sungguh Aku telah ciptakan hamba- Ku seluruhnya dalam keadaan hanif (lurus dalam tauhid). Dan sungguh telah datang pada mereka syetan-syetan yang menjadikan mereka keluar dari agama mereka.” [04/09, 2:47 PM] elsya wardani (ABI): Dalam tafsir at Thabari Fitrahdiungkap dalam hadits dengan berbagai bentuk dan makn, masing-masing hadits memiliki topik dan latar belakang yang berbeda-beda. Hadits pertama“Seseorang tidak dilahirkan kecuali da- lam keadaan fitrah,maka kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)Hadits kedua :“Sepuluh macam yang termasuk dalam kategori fitrah, yaitu (1) men- cukur kumis, (2) membiarkan jengggot pan- jang dan lebat, (3) bersikat gigi/bersiwak, (4) menghirup air untuk membersihkan hidung, (5) menggunting kuku, (6) membersihkan jari- jemari, (7) mencabut bulu ketiak, (8) mencukur bulu kelamin, (9) membersihkan kencing den- gan air, dan (10) berkumur-kumur.” (H.R. Muslim dan Abu Dawud dari Aisyah)Hadits ketiga:“Zakat fitrah itu diwajibkan sebanyak segantang kurma atau segantang gandum bagi setiap orang Mus- lim merdeka maupun budak, laki-laki maupun wanita.” (H.R. Al-Bukhari dari Ibn Umar) Hadits keempat:“Shalat Idul Adha itu sebanyak dua ra- kaat, shalat Idul Fitri itu sebanyak dua rakaat, shalat orang yang berpergian itu sebanyak dua rakaat, shalat Jumat itu sebanyak dua rakaat.” (H.R. Al-Nasa’i dari Umar ibn al-Khattab) Hadits kelima :“Doa Nabi SAW: Ya Allah yang menciptakan langit dan bumi, yang mengeta- hui yang gaib dan yang tampak, Tuhan segala sesuatu dan sesuatu itu menjadi milik-Nya. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Engkau. Aku minta perlindungan-Mu dari keburukan hawa nafsudansyaitansertakroni-kroninya.”(H.R.Al- Darimiy dari Abu Hurairah)26
Oktafia Dwi Kartika
Berikut ini surat yang menerangkan tentang eksistensi Tuhan dalam Q.S. Al-Ikhlas sebagai berikut: قل هو الله احد. الله الصّمد. لم يلد ولم يولد. ولم يكن له كفوا احد. Artinya: “Katakanlah; dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan tempat bergantung kepada-Nya. dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya." Q.S. Al-Maidah ayat 72 sebagai berikut : لَقَدْ كَفَرَ الَّذِيْنَ قَالُوْٓا اِنَّ اللّٰهَ هُوَ الْمَسِيْحُ ابْنُ مَرْيَمَ ۗوَقَالَ الْمَسِيْحُ يٰبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اعْبُدُوا اللّٰهَ رَبِّيْ وَرَبَّكُمْ ۗاِنَّهٗ مَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّٰهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوٰىهُ النَّارُ ۗوَمَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ اَنْصَارٍ Artinya : "Sungguh, telah kafir orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah itu dialah Al-Masih putra Maryam.” Padahal Al-Masih (sendiri) berkata, “Wahai Bani Israil! Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya barangsiapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu." Q.S. Al-Ankabut ayat 46 sebagai berikut : ۞ وَلَا تُجَادِلُوْٓا اَهْلَ الْكِتٰبِ اِلَّا بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۖ اِلَّا الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْهُمْ وَقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا بِالَّذِيْٓ اُنْزِلَ اِلَيْنَا وَاُنْزِلَ اِلَيْكُمْ وَاِلٰهُنَا وَاِلٰهُكُمْ وَاحِدٌ وَّنَحْنُ لَهٗ مُسْلِمُوْنَ Artinya : Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang baik, kecuali dengan orang-orang yang zalim di antara mereka, dan katakanlah, ”Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhan kamu satu; dan hanya kepada-Nya kami berserah diri.” Hadist pertama, sabda Rasulullah ﷺ: كَانَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ “Allah sudah ada dan tak ada apa pun selain Dia.” (HR. Bukhari) Hadist kedua, firman Allah ﷻ: هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ “Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Nampak dan Yang Samar.” (QS: Al-Hadid: 3) Ayat di atas ditafsiri oleh Nabi Muhammad ﷺ sebagai berikut: اللهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ "Ya Allah, Engkau adalah yang awal maka tidak ada sebelum-Mu sesuatu apa pun. dan Engkau adalah yang akhir maka tidak ada setelah-Mu sesuatu apa pun. Dan Engkau adalah Yang Nampak maka tidak ada di atas-Mu sesuatu apa pun dan engkau adalah Yang Tak Tampak maka tidak ada di bawah-Mu sesuatu apa pun.” (HR. Muslim)
Maya kiromi
Maya kiromi Kelas ABI B Tugas: tulis ayat-ayat dan hadis yang membicarakan tentang konsep ketuhanan! →Beberapa ayat yang sudah di jelaskan di dalam Al-Qur'an, Seperti surah Yusuf ayat 2 yang menerangkan akan Alquran tidak pernah melarang manusia dalam menggunakan akalnya. Firman Allah SWT yang berbunyi اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ قُرْاٰنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُوْنَ . "Kami turunkan Al-Qur'an dengan (berbahasa) Arab, agar kalian berpikir." (QS. Yusuf 2). Di surah Al-Araf ayat 179, Al-Qur'an menganggap orang yang tidak menggunakan akal dan perasaan mereka tidak dipergunakan untuk memahami keesaan dan kebesaran Allah. Firman Allah SWT yang berbunyi وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ "Mereka memiliki akal, tetapi mereka tidak memahami (berpikir). Mereka mempunyai mata, tapi mereka tidak melihat dan mereka mempunyai telinga, tetapi mereka tidak mendengar. Mereka bagaikan binatang, bahkan lebih rendah dari binatang. Mereka adalah orang-orang yang lengah." (QS. Al-Araf : 179 Ada beberapa surah yang menjelaskan tentang konsep ketuhanan seperti surah ke-30 yaitu ar rum ayat 7 , surah al-Ahqaf ayat 26 →Dan ada beberapa hadis yang berkaitan dengan konsep ketuhanan .Salah satunya yaitu اللهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ "Ya Allah, Engkau adalah yang awal maka tidak ada sebelum-Mu sesuatu apa pun. dan Engkau adalah yang akhir maka tidak ada setelah-Mu sesuatu apa pun. Dan Engkau adalah Yang Nampak maka tidak ada di atas-Mu sesuatu apa pun dan engkau adalah Yang Tak Tampak maka tidak ada di bawah-Mu sesuatu apa pun.” (HR. Muslim) Hadits ini dengan amat jelas menyatakan bahwa di atas atau di bawah Allah tak ada apa pun.
Riska Jumaliya Putri
Adapun ayat ayat yang membicarakan tentang konsep ketuhanan antara lain: •Surah Al Baqarah Ayat 163 وَاِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ لَآاِلٰهَ اِلَّا هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ ࣖ ١٦٣ Artinya: "Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada tuhan selain Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang." •Q.S. Al-Ikhlas: قل هو الله احد. الله الصّمد. لم يلد ولم يولد. ولم يكن له كفوا احد. Artinya:“Katakanlah; dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan tempat bergantung kepada-Nya. dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya. •Surah Al Anbiya Ayat 25 وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا نُوْحِيْٓ اِلَيْهِ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدُوْنِ ٢٥ Artinya: "Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Nabi Muhammad), melainkan Kami mewahyukan kepadanya bahwa tidak ada tuhan selain Aku. Maka, sembahlah Aku." •Surah An Nahl Ayat 51 ۞ وَقَالَ اللّٰهُ لَا تَتَّخِذُوْٓا اِلٰهَيْنِ اثْنَيْنِۚ اِنَّمَا هُوَ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ فَاِيَّايَ فَارْهَبُوْنِ ٥١ Artinya: "Allah berfirman, "Janganlah kamu menyembah dua tuhan. Sesungguhnya hanya Dialah Tuhan Yang Maha Esa. Maka, hendaklah kepada-Ku saja kamu takut." •Surah Al Qasas Ayat 88 وَلَا تَدْعُ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَۘ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۗ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ اِلَّا وَجْهَهٗ ۗ لَهُ الْحُكْمُ وَاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ ࣖ ٨٨ Artinya: "Jangan (pula) engkau sembah Tuhan yang lain (selain Allah). Tidak ada tuhan selain Dia. Segala sesuatu pasti binasa, kecuali zat-Nya. Segala putusan menjadi wewenang-Nya dan hanya kepada-Nya kamu dikembalikan." •Surah At Taubah Ayat 129 فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۗ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ ࣖ ١٢٩ Artinya: "Jika mereka berpaling (dari keimanan), katakanlah (Nabi Muhammad), "Cukuplah Allah bagiku. Tidak ada tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan pemilik 'Arasy (singgasana) yang agung." Adapun hadist yang membicarakan tentang konsep ketuhanan: 1. كَانَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ “Allah sudah ada dan tak ada apa pun selain Dia.” (HR. Bukhari) 2. اللهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ "Ya Allah, Engkau adalah yang awal maka tidak ada sebelum-Mu sesuatu apa pun. dan Engkau adalah yang akhir maka tidak ada setelah-Mu sesuatu apa pun. Dan Engkau adalah Yang Nampak maka tidak ada di atas-Mu sesuatu apa pun dan engkau adalah Yang Tak Tampak maka tidak ada di bawah-Mu sesuatu apa pun.” (HR. Muslim)
Azura Rahmadhani
Muktazilah. Muktazilah merupakan kaum rasionalis di kalangan umat islam. Salah satu pandangannya, bahwa orang Islam yang berbuat dosa besar, tidak kafir dan tidak mu’min. ia berada antara posisi mukmin dan kafir (manzilah baina manzilataini). Qodariah. Aliran ini berpandangan bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam menentukan nasibnya sendiri. ia mempunyai kekuatan untuk menentukan apakah dirinya bahagia dan selamat atau celaka di Hari Kiamat. Hal ini manusia bertanggungjawab dengan segala perbuatan yang dia lakukan. Jabariah. Aliran ini kebalikan dari qodariah. Manusia tidak mempunyai kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri. Semua nasibnya sudah digariskan oleh Allah tentang nasib baik dan buruknya. Asy’ariah. Aliran antara qadariah dan jabariah. Aliran ini mengakui bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melakukan sesuatu yang mempunyai potensi untuk bisa mendatangkan kebaikan dan potensi untuk mendatangkan kemadharatan. Namun demikian, hasil akhir dari segala perbuatan manusia diserahkan kepada penilaian tuhan atas segala amal ibadah nya. sebab bagi aliran Asy’ariah menyakini bahwa Allah mempunyai hak preogratif untuk menentukan segala amal ibadah diterima atau ditolak oleh-Nya.
SAHIDATUN UYUN KELAS ABI 1 A
1.mu’tazilah Salah satu pandangannya, bahwa orang Islam yang berbuat dosa besar, tidak kafir dan tidak mu’min. ia berada antara posisi mukmin dan kafir (manzilah baina manzilataini). 2.Qodariah. Aliran ini berpandangan bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam menentukan nasibnya sendiri. ia mempunyai kekuatan untuk menentukan apakah dirinya bahagia dan selamat atau celaka di Hari Kiamat. Hal ini manusia bertanggungjawab dengan segala perbuatan yang dia lakukan. 3.Jabariah. Aliran ini kebalikan dari qodariah. Manusia tidak mempunyai kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri. Semua nasibnya sudah digariskan oleh Allah tentang nasib baik dan buruknya. 4.Asy’ariah. Aliran antara qadariah dan jabariah. Aliran ini mengakui bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melakukan sesuatu yang mempunyai potensi untuk bisa mendatangkan kebaikan dan potensi untuk mendatangkan kemadharatan. Namun demikian, hasil akhir dari segala perbuatan manusia diserahkan kepada penilaian tuhan atas segala amal ibadah nya. sebab bagi aliran Asy’ariah menyakini bahwa Allah mempunyai hak preogratif untuk menentukan segala amal ibadah diterima atau ditolak oleh-Nya. Tokoh tokoh mereka 1.Tokoh mu’tazilah(wasil bin atha) 2.Tokoh jabariyah(ja’ad bin dirham dan jahm bin shafwan) 3.Tokoh qadariah(ma’bad al juhani dan ghayian al dimasyai) 4.Tokoh asya’riah(abu ali al-jubai)
RENDY HELSA
Muktazilah. Muktazilah merupakan kaum rasionalis di kalangan umat islam. Salah satu pandangannya, bahwa orang Islam yang berbuat dosa besar, tidak kafir dan tidak mu’min. ia berada antara posisi mukmin dan kafir (manzilah baina manzilataini).tokoh tokohnya yaitu, washil bin Atha Al Ghazzal, abu Al huzali Al aliaf, Ibrahim bin syyar an nazzam, abu Ali Muhammad Ibnu Al jubba Kedua, Qodariah. Aliran ini berpandangan bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam menentukan nasibnya sendiri. ia mempunyai kekuatan untuk menentukan apakah dirinya bahagia dan selamat atau celaka di Hari Kiamat. Hal ini manusia bertanggungjawab dengan segala perbuatan yang dia lakukan. Tokoh tokohnya yaitu, ja'ad bin dirham dan Jahm Bin Safwan Ketiga, Jabariah. Aliran ini kebalikan dari qodariah. Manusia tidak mempunyai kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri. Semua nasibnya sudah digariskan oleh Allah tentang nasib baik dan buruknya.Tokoh tokohnya yaitu, ma'bad Al juhani dan ghaylan Al dimasyai Keempat, Asy’ariah. Aliran antara qadariah dan jabariah. Aliran ini mengakui bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melakukan sesuatu yang mempunyai potensi untuk bisa mendatangkan kebaikan dan potensi untuk mendatangkan kemadharatan. Namun demikian, hasil akhir dari segala perbuatan manusia diserahkan kepada penilaian tuhan atas segala amal ibadah nya. sebab bagi aliran Asy’ariah menyakini bahwa Allah mempunyai hak preogratif untuk menentukan segala amal ibadah diterima atau ditolak oleh-Nya, Tokoh tokohnya yaitu, abu Hasan, imam Ghazali, imam fakhurrazi abu Ishaq Al isfirayini, abu bakar Al baqilimi, abu Ishaq asy syirazi
Annisa Qistina 1A ABI
1. Adapun pandangan konsep tuhan menurut Mu'tazilah bahwa orang Islam yang berbuat dosa besar, tidak kafir dan tidak mu’min. ia berada antara posisi mukmin dan kafir (manzilah baina manzilataini). Tokoh nya adalah wasil bin atha' 2. Adapun pandangan konsep tuhan menurut jabariyah ialah Aliran ini berpandangan bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam menentukan nasibnya sendiri. ia mempunyai kekuatan untuk menentukan apakah dirinya bahagia dan selamat atau celaka di Hari Kiamat. Hal ini manusia bertanggungjawab dengan segala perbuatan yang dia lakukan. Tokohnya ja'ad bin dirham dan jahm bin shafwan 3. Pandangan konsep tuhan menurut qadariah adalah Manusia tidak mempunyai kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri. Semua nasibnya sudah digariskan oleh Allah tentang nasib baik dan buruknya. tokoh nya adalah ma'ad al juhain dan ghayian al dimasyai 4. Pandangan konsep tuhan menurut asya'riah yaitu allah mempunyai hak preogratif untuk menentukan segala amal ibadah diterima atau ditolak oleh-Nya. Tokohnya yaitu Abu hasan alasy'ary dan imam ghazali
YUANDREZAL
Muktazilah bahwa orang Islam yang berbuat dosa besar, tidak kafir dan tidak mu’min. ia berada antara posisi mukmin dan kafir (manzilah baina manzilataini). Jabariah. Aliran ini kebalikan dari qodariah. Manusia tidak mempunyai kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri. Qodariah. Aliran ini berpandangan bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam menentukan nasibnya sendiri. Asy'riah bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melakukan sesuatu yang mempunyai potensi untuk bisa mendatangkan kebaikan dan potensi untuk mendatangkan kemadharatan. Namun demikian, hasil akhir dari segala perbuatan manusia diserahkan kepada penilaian tuhan atas segala amal ibadah nya. Tokoh tokoh nya Mu'tazilah Wasil bin Atha', lahir di Madinah, Abu Huzail al-Allaf (751-849 M), penyusun 5 ajaran pokoq Muktazilah. an-Nazzam, murid Abu Huzail al-Allaf. Abu ‘Ali Muhammad bin ‘Abdul Wahab/al-Jubba’i (849-915 M). Jabariah Jahm bin Shafwan Al-Ja’ad bin Dirham Husain bin Muhammad al-Najjar Dirar Ibn ‘Amr Qadariah Ma'bad Al Juhani serta Ghaylan Al Dimasyqi. Asy'ariah Abu Hasan Al Asy’ary, Imam Ghazali (450-505 H/ 1058-1111M), Imam Fakhrurrazi (544-606H/ 1150-1210), Abu Ishaq Al Isfirayini (w 418/1027), Abu Bakar Al Baqilani (328-402 H/950-1013 M), dan Abu Ishaq Asy Syirazi (293-476 H/ 1003-1083 M.
Rozzmila Ananda Muhammad daud
Muktazilah Salah satu pandangannya, bahwa orang Islam yang berbuat dosa besar, tidak kafir dan tidak mu’min Tokoh: Wasil bin atta Qadariah. Aliran ini berpandangan bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam menentukan nasibnya sendiri Tokoh: ma' bad Al juhani dan ghayian Al dimasyai Jabariah. Aliran ini kebalikan dari qodariah. Manusia tidak mempunyai kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri. Tokoh: ja,ad bin dirham dan jahm bin syafwan Asy’ariah. Aliran antara qadariah dan jabariah. Aliran ini mengakui bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melakukan sesuatu yang mempunyai potensi untuk bisa mendatangkan kebaikan dan potensi untuk mendatangkan kemadharatan. Tokoh: abu Hasan Al asy'ary dan imam ghazali Lokal A abi
Putri Rahmadani 1A (Abi)
1. Pertama, Muktazilah. Muktazilah merupakan kaum rasionalis di kalangan umat islam. Salah satu pandangannya, bahwa orang Islam yang berbuat dosa besar, tidak kafir dan tidak mu’min. ia berada antara posisi mukmin dan kafir (manzilah baina manzilataini). Tokoh Muktazilah Wasil bin Atha', lahir di Madinah, pelopor ajaran ini. Abu Huzail al-Allaf (751-849 M), penyusun 5 ajaran pokoq Muktazilah. an-Nazzam, murid Abu Huzail al-Allaf. Abu 'Ali Muhammad bin 'Abdul Wahab/al-Jubba'i (849-915 M). 2.Kedua, Qodariah. Aliran ini berpandangan bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam menentukan nasibnya sendiri. ia mempunyai kekuatan untuk menentukan apakah dirinya bahagia dan selamat atau celaka di Hari Kiamat. Hal ini manusia bertanggungjawab dengan segala perbuatan yang dia lakukan. Tokoh yang berperan sebagai pendiri aliran qadariyah ialah Ma'bad Al Juhani serta Ghaylan Al Dimasyqi. Nama pertama yaitu Ma'bad Al Juhani tercatat lebih senior dibandingkan nama kedua. Ma'bad Al Juhani lahir di Basrah dan wafat pada 80 Hijriah atau 699 M. Ia termasuk dalam generasi tabiin 3.Ketiga, Jabariah. Aliran ini kebalikan dari qodariah. Manusia tidak mempunyai kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri. Semua nasibnya sudah digariskan oleh Allah tentang nasib baik dan buruknya. Tokoh jabariah Tokoh utamanya adalah Ja'ad bin Dirham dan Jahm bin Shafwan 4.Keempat, Asy’ariah. Aliran antara qadariah dan jabariah. Aliran ini mengakui bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melakukan sesuatu yang mempunyai potensi untuk bisa mendatangkan kebaikan dan potensi untuk mendatangkan kemadharatan. Namun demikian, hasil akhir dari segala perbuatan manusia diserahkan kepada penilaian tuhan atas segala amal ibadah nya. sebab bagi aliran Asy’ariah menyakini bahwa Allah mempunyai hak preogratif untuk menentukan segala amal ibadah diterima atau ditolak oleh-Nya Diantara tokoh aliran Asy'ariyah adalah, Abu Hasan Al Asy'ary, Imam Ghazali (450-505 H/ 1058-1111M), Imam Fakhrurrazi (544-606H/ 1150-1210), Abu Ishaq Al Isfirayini (w 418/1027), Abu Bakar Al Baqilani (328-402 H/950-1013 M), dan Abu Ishaq Asy Syirazi (293-476 H/ 1003-1083 M
Amalia
Lokal A ABI Pertama, Muktazilah. Muktazilah merupakan kaum rasionalis di kalangan umat islam. Salah satu pandangannya, bahwa orang Islam yang berbuat dosa besar, tidak kafir dan tidak mu’min. ia berada antara posisi mukmin dan kafir (manzilah baina manzilataini). tokohnya adalah washil bin atha al-Ghazzal. Kedua, Qodariah. Aliran ini berpandangan bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam menentukan nasibnya sendiri. ia mempunyai kekuatan untuk menentukan apakah dirinya bahagia dan selamat atau celaka di Hari Kiamat. Hal ini manusia bertanggungjawab dengan segala perbuatan yang dia lakukan. tokohnya adalah ma'bad Al juhani serta ghaylan Al Dimasyqi. Ketiga, Jabariah. Aliran ini kebalikan dari qodariah. Manusia tidak mempunyai kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri. Semua nasibnya sudah digariskan oleh Allah tentang nasib baik dan buruknya. tokohnya adalah ja'ad bin dirham dan jahm bin shafwan. Keempat, Asy’ariah. Aliran antara qadariah dan jabariah. Aliran ini mengakui bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melakukan sesuatu yang mempunyai potensi untuk bisa mendatangkan kebaikan dan potensi untuk mendatangkan kemadharatan. Namun demikian, hasil akhir dari segala perbuatan manusia diserahkan kepada penilaian tuhan atas segala amal ibadah nya. sebab bagi aliran Asy’ariah menyakini bahwa Allah mempunyai hak preogratif untuk menentukan segala amal ibadah diterima atau ditolak oleh-Nya. tokohnya adalah abu Abu Hasan Al Asy'ari, al-baqillani, al-juwaini, al-ghazali, dan al-sanusi.
JIHAN INDIRA ABI (1A)
1. Muktazilah, berpandangan bahwa orang islam yang berbuat dosa besar tidak kafir dan tidak mu'min. Tokoh muktazilah antara lain: washil bin Atha' Al Ghazzal, ibrahim bin syyar an-nazzam, muhammad ibn Ali Al-jubba'i, Bisyir ibn bin umar. 2. Qodariah, berpandangan bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam menentukan nasibnya sendiri. Tokoh Qodariah diantaranya Ma'bad Al-juhani, Ghaylan Al-dimasyqi. 3.Jabariah, berpandangan bahwa semua nasib manusia sudah digariskan Oleh allah tentang nasib baik dan nasib buruknya. Tokoh Jabariah yaitu Ja'ad bin Dirham, Jahm bin shafwan. 4.Asy'ariah, berpandangan bahwa manusia memiliki potensi untuk bisa mendatangkan kebaikan dan kemadharatan. Tokoh Asy'Ariah yaitu Abu Hasan Al Asy'ary, Imam ghazali, Imam fakhrurrazi, abu ishaq Al-isfirayini.
SITI NUR ALIA (ABI 1A)
Pandangan Konsep Tuhan Menurut : 1. Mu'tazilah Mu'tazilah berpendapat bahwa Kekuasaan mutlak Tuhan telah dibatasi oleh kebebasan yang telah diberikan kepada manusia dalam menentukan kemauan dan perbuatan. Tokohnya: Wasil bin Atha', lahir di Madinah, pelopor ajaran ini. Abu Huzail al-Allaf (751-849 M), penyusun 5 ajaran pokoq Muktazilah. an-Nazzam, murid Abu Huzail al-Allaf. Abu 'Ali Muhammad bin 'Abdul Wahab/al-Jubba'i (849-915 M). 2. Asy'ariah Asy'ariah mengatakan bahwa Tuhan tidak tunduk kepada siapapun, di atas Tuhan tidak ada satu zat lain yang dapat membuat hukum dan dapat menentukan apa yang boleh dibuat dan apa yang tidak boleh dibuat Tuhan. Tuhan bersifat absolut dalam kehendak dan kekuasaan-Nya. Tokohnya: Abu Hasan Al Asy'ary, Imam Ghazali (450-505 H/ 1058-1111M), Imam Fakhrurrazi (544-606H/ 1150-1210), Abu Ishaq Al Isfirayini (w 418/1027), Abu Bakar Al Baqilani (328-402 H/950-1013 M), dan Abu Ishaq Asy Syirazi (293-476 H/ 1003-1083 M). 3. Jabariah Jabariah adalah paham yang menyebutkan bahwa segala perbuatan manusia telah ditentu- kan dari semula oleh Qadha dan Qadar Allah. Maksudnya, setiap perbuatan yang diker-jakan manusia tidak berdasarkan kehendak manusia, tapi diciptakan oleh Tuhan dan dengan kehendak-Nya, manusia tidak mempunyai kebebasan dalam berbuat, manusia mengerjakan perbuatan dalam keadaan terpaksa. Tokohnya: Ja'ad bin Dirham dan Jahm bin Shafwan. 4. Qadariah Qadariah berpendapat bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam berkehendak dan berbuat. Manusia sendiri yang menghendaki apakah iya akan kafir atau mukmin dan hal itu yang menyebabkan manusia harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Tokohnya: Ma'bad Al Juhani serta Ghaylan Al Dimasyqi.
HAURA ALYA AQILA PUTRI
PENGERTIAN : * Konsep Tuhan menurut Mu’tazilah adalah bahwa orang Islam yang berbuat dosa besar, tidak kafir dan tidak mu’min. ia berada antara posisi mukmin dan kafir (manzilah baina manzilataini). * Konsep Tuhan menurut jabariah adalah bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam menentukan nasibnya sendiri. ia mempunyai kekuatan untuk menentukan apakah dirinya bahagia dan selamat atau celaka di Hari Kiamat. Hal ini manusia bertanggungjawab dengan segala perbuatan yang dia lakukan. * Konsep Tuhan menurut qadariah adalah Manusia tidak mempunyai kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri. Semua nasibnya sudah digariskan oleh Allah tentang nasib baik dan buruknya. * Konsep Tuhan menurut asy’ariah adalah hasil akhir dari segala perbuatan manusia diserahkan kepada penilaian tuhan atas segala amal ibadah nya. sebab bagi aliran Asy’ariah menyakini bahwa Allah mempunyai hak preogratif untuk menentukan segala amal ibadah diterima atau ditolak oleh-Nya. TOKOH : * Mu’tazilah : Wasil bin Atha * Jabariyah : Ja'ad bin Dirham dan Jahm bin Shafwan. * Qadariah : Ma'bad Al Juhani serta Ghaylan Al Dimasyqi. * Asy’ariah : Abu Al-Hasan Ali bin Ismail bin Ishaq bin Salim bin Abdullah bin Musa bin Bilal bin Abu Burdah bin Abu Musa Al-Asyari.
Dhalillah febrianum 1A Abi
1.Muktazilah. Muktazilah merupakan kaum rasionalis di kalangan umat islam. Salah satu pandangannya, bahwa orang Islam yang berbuat dosa besar, tidak kafir dan tidak mu’min. ia berada antara posisi mukmin dan kafir (manzilah baina manzilataini).Tokohnya wasil bin ‘ata al ghazal. 2.Qodariah. Aliran ini berpandangan bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam menentukan nasibnya sendiri. ia mempunyai kekuatan untuk menentukan apakah dirinya bahagia dan selamat atau celaka di Hari Kiamat. Hal ini manusia bertanggungjawab dengan segala perbuatan yang dia lakukan.Tokohnya Ma'bad Al Juhani serta Ghyalan Al Dimasyqi. 3.Jabariah. Aliran ini kebalikan dari qodariah. Manusia tidak mempunyai kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri. Semua nasibnya sudah digariskan oleh Allah tentang nasib baik dan buruknya.Tokohnya Ja'ad bin Dirham dan Jahm bin Shafwan. 4.Asy’ariah. Aliran antara qadariah dan jabariah. Aliran ini mengakui bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melakukan sesuatu yang mempunyai potensi untuk bisa mendatangkan kebaikan dan potensi untuk mendatangkan kemadharatan. Namun demikian, hasil akhir dari segala perbuatan manusia diserahkan kepada penilaian tuhan atas segala amal ibadah nya. sebab bagi aliran Asy’ariah menyakini bahwa Allah mempunyai hak preogratif untuk menentukan segala amal ibadah diterima atau ditolak oleh-Nya.Tokohnya Abu Hasan Al Asy'ary,Imam Fakhrurrazi.
RAHMATUN NISAK
Mu'tazilah adalah salah satu aliran dalam teologi Islam, yang menggunakan pemikiran rasional untuk menjelaskan masalah ketuhanan.tokohnya (Wasil bin Atha). Jabariah adalah pemahaman yang mengatakan bahwa amal shalih bukanlah sebab masuknya kita ke surga dalam segala. Tokohnya (ja'ad bin dirham dan jahm bin Shafwan). Qadariyah, yang meyakini bahwa surga adalah bayaran dari amal kita secara mutlak. Tokohnya (Ma'bad Al Juhani serta Ghaylan Al Dimasyqi). Menurut Al-Asy'ari, Tuhan tidak mempunyai kewajiban apapun untuk menentukan tempat manusia di akhirat. Tokohnya (Abu Al-Hasan Ali bin Ismail bin Ishaq bin Salim bin Abdullah bin Musa bin Bilal bin Abu Burdah bin Abu Musa Al-Asyar).
SITI RAHMADANI
Mu'tazilah:Salah satu pandangannya, bahwa orang Islam yang berbuat dosa besar, tidak kafir dan tidak mu’min. ia berada antara posisi mukmin dan kafir (manzilah baina manzilataini). Jabariah:Manusia tidak mempunyai kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri. Semua nasibnya sudah digariskan oleh Allah tentang nasib baik dan buruknya. Qadariah:Aliran ini berpandangan bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam menentukan nasibnya sendiri. ia mempunyai kekuatan untuk menentukan apakah dirinya bahagia dan selamat atau celaka di Hari Kiamat. Hal ini manusia bertanggungjawab dengan segala perbuatan yang dia lakukan. Asy'ariah:Aliran ini mengakui bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melakukan sesuatu yang mempunyai potensi untuk bisa mendatangkan kebaikan dan potensi untuk mendatangkan kemadharatan. Namun demikian, hasil akhir dari segala perbuatan manusia diserahkan kepada penilaian tuhan atas segala amal ibadah nya. sebab bagi aliran Asy’ariah menyakini bahwa Allah mempunyai hak preogratif untuk menentukan segala amal ibadah diterima atau ditolak oleh-Nya. Tokoh:-mu'tazilah: wasil bin Atha - Jabariah:ja'ad bin dirham dan jahm bin Shafwan -qadariah: ma'bad Al juhani serta ghaylan Al dimasyqi -asy'ariah:abu al-hasan Ali bin Ismail bin ishaq bin Salim bin Abdullah bin Musa bin bilal bin abu burdah bin abu Musa al-asyari.
Fitri syahira
Pandangan konsep1.Muktazilah Muktazilah merupakan kaum rasionalis di kalangan umat islam. Salah satu pandangannya, bahwa orang Islam yang berbuat dosa besar, tidak kafir dan tidak mu’min. ia berada antara posisi mukmin dan kafir (manzilah baina manzilataini). -Tokoh Muktazilah Wasil bin Atha', lahir di Madinah, pelopor ajaran ini. Abu Huzail al-Allaf (751-849 M), penyusun 5 ajaran pokoq Muktazilah. an-Nazzam, murid Abu Huzail al-Allaf. Abu 'Ali Muhammad bin 'Abdul Wahab/al-Jubba'i (849-915 M). 2.Qodariah Aliran ini berpandangan bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam menentukan nasibnya sendiri. ia mempunyai kekuatan untuk menentukan apakah dirinya bahagia dan selamat atau celaka di Hari Kiamat. Hal ini manusia bertanggungjawab dengan segala perbuatan yang dia lakukan. -Tokohnya Ma'bad Al Juhani serta Ghaylan Al Dimasyqi. 3.Jabariah Aliran ini kebalikan dari qodariah. Manusia tidak mempunyai kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri. Semua nasibnya sudah digariskan oleh Allah tentang nasib baik dan buruknya. -Tokohnya Ja'ad bin Dirham dan Jahm bin Shafwan. 4.Asy’ariah Aliran antara qadariah dan jabariah. Aliran ini mengakui bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melakukan sesuatu yang mempunyai potensi untuk bisa mendatangkan kebaikan dan potensi untuk mendatangkan kemadharatan. Namun demikian, hasil akhir dari segala perbuatan manusia diserahkan kepada penilaian tuhan atas segala amal ibadah nya. sebab bagi aliran Asy’ariah menyakini bahwa Allah mempunyai hak preogratif untuk menentukan segala amal ibadah diterima atau ditolak oleh-Nya. -Tokohnya tokoh aliran Asy'ariyah adalah, Abu Hasan Al Asy'ary, Imam Ghazali (450-505 H/ 1058-1111M), Imam Fakhrurrazi (544-606H/ 1150-1210), Abu Ishaq Al Isfirayini (w 418/1027), Abu Bakar Al Baqilani (328-402 H/950-1013 M), dan Abu Ishaq Asy Syirazi (293-476 H/ 1003-1083 M.
Anggun lestari ABI (1 A)
1.Muktazilah. Salah satu pandangannya, bahwa orang Islam yang berbuat dosa besar, tidak kafir dan tidak mu’min. ia berada antara posisi mukmin dan kafir (manzilah baina manzilataini).tokoh tokoh mu'tazilah:Washil bin Atha,Abu Huzail al-allaf,an-nazzam,Abu Ali Muhammad bin Abdul Wahab/aljubba'i 2, Qodariah. Aliran ini berpandangan bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam menentukan nasibnya sendiri.tokoh tokoh nya yaitu:Ma'bad Al Juhani dan Ghaylan Al Dimasyqi. 3, Jabariah. Aliran ini kebalikan dari qodariah. Manusia tidak mempunyai kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri. Semua nasibnya sudah digariskan oleh Allah tentang nasib baik dan buruknya.tokoh tokohnya yaitu:Ja'ad bin Dirham dan jahm bin Shafwan. 4. Asy’ariah. Aliran antara qadariah dan jabariah. Aliran ini mengakui bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melakukan sesuatu yang mempunyai potensi untuk bisa mendatangkan kebaikan dan potensi untuk mendatangkan kemadharatan. Namun demikian, hasil akhir dari segala perbuatan manusia diserahkan kepada penilaian tuhan atas segala amal ibadah nya. sebab bagi aliran Asy’ariah menyakini bahwa Allah mempunyai hak preogratif untuk menentukan segala amal ibadah diterima atau ditolak oleh-Nya.tokoh tokohnya yaitu:Abu Hasan Al Asy'ari,imam Ghazali,imam Fakhrurrazi,abu Ishaq Al isfirayini,abu bakar Al baqilani dan abu Ishaq asy ayirazi.
Jihan Atikah (ABI 1A)
1. Mu'tazilah berpendapat bahwa kehendak Tuhan tidak mutlak, dan keadilan bagi mereka adalah memberi seseorang akan haknya. Tokoh-Tokoh Aliran Al-Mu’tazilah 1. Washil bin Atha (80 – 131 H) 2. Abu Huzail Al-Allaf (135 -235 H) 3. Al-Jubba’i (302 H) 4. An-Nazzam (184-221 H) 5. Al-Qadhi Abdul Jabbar (wafat 1024 H 2. Asy'ariyah berpendapat bahwa sifat-sifat Tuhan itu tidak dapat dibandingkan dengan sifat-sifat manusia. Pendapat Asy'ariyah ini berlawanan dengan paham Mu'tazilah yang menyatakan bahwa Tuhan tidak memiliki sifat. Tokoh-Tokoh Aliran Al-Asy’ariah 1. Al-Ghazali (450-505 H/1056-1111 M) 2. Al-Imam Fakhrurrazzi (544/606 H/1150-1210 M) 3. Abu Ishaq Al-Isfirayini (Wafat 418 H/1027 M) 4. Al-Qadhi Abu Bakar Al-Baqilani (328-402 H/950-1013 M) 5. Abu Ishaq Asy-Syirahi (293-476 H/1003-1083 M) 3. Menurut aliran ini, Tuhan tidak mempunyai andil dalam aktivitas manusia, tetapi manusia itu sendirilah yang menciptakan dan menentukan perbuatannya. Tokoh-tokoh Pendiri Aliran Al-Qadariyah 1. Tokoh yang berperan sebagai pendiri aliran Qadariyah ialah Ma’bad Al juhani sertaGailan Al-Dimasyqi 4. Jabariyah berpendapat, bahwa manusia tidak mempunyai daya dan kehendak apapun, semuanya karena atas kehendak Allah. Tokoh-tokoh Pendiri Aliran Al-Jabariyah Pada aliran Al-Jabariah dibagi menjadi dua kutub tokoh yang dibedakan berdasarkan corak pemikirannya. Antara lain tokoh-tokoh Jabariyah ekstrim/murni yaitu Ja’ad bin Dirham dan Jahm bin Safwan. Sedangkan dikubu moderat muncul tokoh seperti An-Najar dan Adh-Dhirar.
Siti Nur Adila (ABI 1A)
[5/9 14.25] Siti Nur Adila: Tulis pandangan konsep tuhan menurut mu’tazilah, jabariah, qadariah dan asy’ariah sekaligus tokoh-tokoh mereka [5/9 15.11] Siti Nur Adila: Inilah yang dimaksud oleh Mu'tazilah keadilan Tuhan. Mereka berpendapat : 1) Tuhan menguasai kebaikan serta tidak menghendaki keburukan. 2) Manusia bebas berbuat dan kebebasan itu karena qudrat (kekuasaan) yang dijadikan Tuhan pada diri manusia. 3) Makhluk diciptakan Tuhan atas dasar hikmah kebijaksanaan.Adapun tokoh-tokoh yang mempengaruhi dalam perkembangan aliran Mu‟tazilah yaitu, Washil bin Atha‟ al-Ghazzal (80-131 H), Abul al-Huzail al-Allaf (135-226 H/753-840 M), Ibrahim bin Syyar an-Nazzam (wafat 231 H/845 M), Abu Ali Muhammad ibn Ali al-Jubba‟i (135-267 H), e. Bisyir ibn al-Mu’tamir (wafat 226 H/840 M),Jarullah Abul Qasim Muhammad bin Umar (467-538 H/1075-1144 M),Abul Hasan Abdul Jabbar ibn Ahmad ibn Abdullah al-Hamazani al- Asadi (325-425 H). [5/9 15.13] Siti Nur Adila: Jabariyah memiliki keyakinan bahwa setiap manusia terpaksa oleh takdir tanpa memiliki pilihan dan usaha dalam perbuatannya. Tokoh utamanya adalah Ja'ad bin Dirham dan Jahm bin Shafwan. [5/9 15.17] Siti Nur Adila: Pokok pikiran kedua dari aliran qadariyah adalah, manusia diciptakan oleh Allah dengan kehendak yang bebas. Oleh karena itu, manusia memiliki kemampuan yang mandiri untuk dapat memutuskan perbuatan apa yang akan dilakukan. Pemikiran dari aliran qadariyah tersebut, didasari oleh alasan bahwa Allah, telah memberikan pilihan pada manusia untuk melakukan kebaikan serta keburukan, beriman maupun menetap pada kekafiran. Oleh karena itu, manusia akan dihakimi, diberikan pahala maupun diganjar atau dosa sesuai pilihannya sendiri. Tokoh yang berperan sebagai pendiri aliran qadariyah ialah Ma’bad Al Juhani serta Ghaylan Al Dimasyqi. [5/9 15.18] Siti Nur Adila: Mu'tazilah berpendapat bahwa kehendak Tuhan tidak mutlak, dan keadilan bagi mereka adalah memberi seseorang akan haknya. Sementara Asy'ariyah berpendapat bahwa Tuhan mempunyai kehendak mutlak semutlak - mutlaknya dan bagi mereka keadilan adalah menempatkan sesuatu pada proporsinya. Abdul Malik bin AbduHah bin Yusuf bin Muhammad bin Abdullah bin Hayyuwiyah al-Juwaini al-Nisaburi, atau yang dikenal dengan Al-Juwaini.
Futri Hidayah
Pertama, Muktazilah. Muktazilah merupakan kaum rasionalis di kalangan umat islam. Salah satu pandangannya, bahwa orang Islam yang berbuat dosa besar, tidak kafir dan tidak mu’min. ia berada antara posisi mukmin dan kafir (manzilah baina manzilataini). -Tokoh Muktazilah Wasil bin Atha', lahir di Madinah, pelopor ajaran ini. Abu Huzail al-Allaf (751-849 M), penyusun 5 ajaran pokoq Muktazilah. an-Nazzam, murid Abu Huzail al-Allaf. Abu 'Ali Muhammad bin 'Abdul Wahab/al-Jubba'i (849-915 M). Kedua, Qodariah. Aliran ini berpandangan bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam menentukan nasibnya sendiri. ia mempunyai kekuatan untuk menentukan apakah dirinya bahagia dan selamat atau celaka di Hari Kiamat. Hal ini manusia bertanggungjawab dengan segala perbuatan yang dia lakukan. -Tokohnya Ma'bad Al Juhani serta Ghaylan Al Dimasyqi. Ketiga, Jabariah. Aliran ini kebalikan dari qodariah. Manusia tidak mempunyai kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri. Semua nasibnya sudah digariskan oleh Allah tentang nasib baik dan buruknya. -Tokohnya Ja'ad bin Dirham dan Jahm bin Shafwan. Keempat, Asy’ariah. Aliran antara qadariah dan jabariah. Aliran ini mengakui bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melakukan sesuatu yang mempunyai potensi untuk bisa mendatangkan kebaikan dan potensi untuk mendatangkan kemadharatan. Namun demikian, hasil akhir dari segala perbuatan manusia diserahkan kepada penilaian tuhan atas segala amal ibadah nya. sebab bagi aliran Asy’ariah menyakini bahwa Allah mempunyai hak preogratif untuk menentukan segala amal ibadah diterima atau ditolak oleh-Nya. -Tokohnya tokoh aliran Asy'ariyah adalah, Abu Hasan Al Asy'ary, Imam Ghazali (450-505 H/ 1058-1111M), Imam Fakhrurrazi (544-606H/ 1150-1210), Abu Ishaq Al Isfirayini (w 418/1027), Abu Bakar Al Baqilani (328-402 H/950-1013 M), dan Abu Ishaq Asy Syirazi (293-476 H/ 1003-1083 M.
Septy melani (ABI 1A)
Pertama, Muktazilah. Muktazilah merupakan kaum rasionalis di kalangan umat islam. Salah satu pandangannya, bahwa orang Islam yang berbuat dosa besar, tidak kafir dan tidak mu’min. ia berada antara posisi mukmin dan kafir (manzilah baina manzilataini). Kedua, Qodariah. Aliran ini berpandangan bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam menentukan nasibnya sendiri. ia mempunyai kekuatan untuk menentukan apakah dirinya bahagia dan selamat atau celaka di Hari Kiamat. Hal ini manusia bertanggungjawab dengan segala perbuatan yang dia lakukan. Ketiga, Jabariah. Aliran ini kebalikan dari qodariah. Manusia tidak mempunyai kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri. Semua nasibnya sudah digariskan oleh Allah tentang nasib baik dan buruknya. Keempat, Asy’ariah. Aliran antara qadariah dan jabariah. Aliran ini mengakui bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melakukan sesuatu yang mempunyai potensi untuk bisa mendatangkan kebaikan dan potensi untuk mendatangkan kemadharatan. Namun demikian, hasil akhir dari segala perbuatan manusia diserahkan kepada penilaian tuhan atas segala amal ibadah nya. sebab bagi aliran Asy’ariah menyakini bahwa Allah mempunyai hak preogratif untuk menentukan segala amal ibadah diterima atau ditolak oleh-Nya.
Pediana Putri
1.Mu'tazilah, bahwa orang Islam yang berbuat dosa besar, tidak kafir dan tidak mukmin. Ia berada antara posisi mukmin dan kafir(manzilah baina manzilataini). Tokoh:wasil bin Atha', Abu Huzail al-Allaf, qn-nazzam, Abu 'Ali Muhammad bin 'Abdul Wahab/al-Jubba'i 2.qadariah, bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam menentukan nasibnya sending. Ia mempunyai kekuatan untuk menentukan apakah dirinya bahagia dan selamat atau celaka di hari kiamat. Tokoh:Ma'bad Al juhani serta Ghaylan Al Dimasyqi 3.jabariah, manusia tidak mempunyai kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri. Semua nasibnya sudah digariskan oleh Allah tentang nasib baik dan buruknya. Tokoh:Ja'ad bin Dirham dan Jahm ain syafwan 4.asy'ariah, aliran ini mengakui bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melakukan sesuatu yang mempunyai potensi untuk bisa mendatangkan kemadharatan. Tokoh:Abu Hasan Al Asy'ary, Imam Ghazali, Imam Fakhrurrazi, Abu Ishaq al isfirayini, Abu Bakar Al Baqilani, Abu Ishaq Asy syirazi
NISHA PERMATA ANDINA ABI(1A)
A.Mu'tazilah berpendapat bahwa kehendak Tuhan tidak mutlak, dan keadilan bagi mereka adalah memberi seseorang akan haknya. Tokoh mu'tazilah 1.Washil bin Atha (80-131 H) 2.Abu Huzail Al-Allaf (135-235 H) 3.Al-Jubba'i (302 H) 4.An-Nazzam (184-221 H) 5.Al-Qadhi Abdul Jabbar (wafat 1024 H) 6.Al-Khayyat (wafat 300 H) 7.Bisyir Al-Mu'tamar (wafat 236 H) 8.Az-Zamakhsyari (467-538 H) B.Menurut Asy-Syahrastani 548 H/1153 M, Jabariyah adalah paham yang menafikan perbuatan dari hamba secara hakikat dan menyerahkan perbuatan tersebut kepada Allah. Artinya, manusia tidak punya andil sama sekali dalam melakukan perbuatannya, Tuhanlah yang menentukan segala-galanya. Tokoh yang berperan sebagai pendiri aliran qadariyah ialah Ma'bad Al Juhani serta Ghaylan Al Dimasyqi. B.Pada aliran qadariyah, para penganutnya percaya bahwa Allah menciptakan manusia dengan akal. Akal menjadi hal krusial yang dimiliki oleh manusia dan membuat manusia dapat berpikir untuk melakukan sesuatu yang baik maupun buruk. Tokoh utamanya adalah Ja'ad bin Dirham dan Jahm bin Shafwan. C.Kaum Asy`ariyah, berpendapat bahwa Tuhan mempunyai sifat. Mustahil Tuhan mengetahui dengan zat-Nya, karena dengan demikian zat-Nya adalah pengetahuan dan Tuhan sendiri adalah pengetahuan. Tuhan bukan pengetahuan (`ilm) tetapi sang Mengetahui (`alim). Diantara tokoh aliran Asy’ariyah adalah, Abu Hasan Al Asy’ary, Imam Ghazali (450-505 H/ 1058-1111M), Imam Fakhrurrazi (544-606H/ 1150-1210), Abu Ishaq Al Isfirayini (w 418/1027), Abu Bakar Al Baqilani (328-402 H/950-1013 M), dan Abu Ishaq Asy Syirazi (293-476 H/ 1003-1083 M.
Pediana Putri (ABI 1A)
1.Mu'tazilah, bahwa orang Islam yang berbuat dosa besar, tidak kafir dan tidak mukmin. Ia berada antara posisi mukmin dan kafir(manzilah baina manzilataini). Tokoh:wasil bin Atha', Abu Huzail al-Allaf, qn-nazzam, Abu 'Ali Muhammad bin 'Abdul Wahab/al-Jubba'i 2.qadariah, bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam menentukan nasibnya sending. Ia mempunyai kekuatan untuk menentukan apakah dirinya bahagia dan selamat atau celaka di hari kiamat. Tokoh:Ma'bad Al juhani serta Ghaylan Al Dimasyqi 3.jabariah, manusia tidak mempunyai kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri. Semua nasibnya sudah digariskan oleh Allah tentang nasib baik dan buruknya. Tokoh:Ja'ad bin Dirham dan Jahm ain syafwan 4.asy'ariah, aliran ini mengakui bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melakukan sesuatu yang mempunyai potensi untuk bisa mendatangkan kemadharatan. Tokoh:Abu Hasan Al Asy'ary, Imam Ghazali, Imam Fakhrurrazi, Abu Ishaq al isfirayini, Abu Bakar Al Baqilani, Abu Ishaq Asy syirazi
Bella nur aljihan
-Menurut Harun Berkenaan dengan kehendak Tuhan, kaum Mu'tazilah berkeyakinan bahwa Tuhan telah memberikan kemerdekaan dan kebebasan bagi manusia dalam menentukan kehendak dan perbuatannya. Adapun tokoh-tokoh yang mempengaruhi dalam perkembangan aliran Mu‟tazilah yaitu, Washil bin Atha‟ al-Ghazzal (80-131 H), Abul al-Huzail al-Allaf (135-226 H/753-840 M), Ibrahim bin Syyar an-Nazzam (wafat 231 H/845 M), Abu Ali Muhammad ibn Ali al-Jubba‟i (135-267 H), Bisyir ibn. -Menurut Asy-Syahrastani 548 H/1153 M, Jabariyah adalah paham yang menafikan perbuatan dari hamba secara hakikat dan menyerahkan perbuatan tersebut kepada Allah. Artinya, manusia tidak punya andil sama sekali dalam melakukan perbuatannya, Tuhanlah yang menentukan segala-galanya. Tokoh utamanya adalah Ja'ad bin Dirham dan Jahm bin Shafwan. -Pada aliran qadariyah, para penganutnya percaya bahwa Allah menciptakan manusia dengan akal. Akal menjadi hal krusial yang dimiliki oleh manusia dan membuat manusia dapat berpikir untuk melakukan sesuatu yang baik maupun buruk. Tokoh yang berperan sebagai pendiri aliran qadariyah ialah Ma'bad Al Juhani serta Ghaylan Al Dimasyqi. -Sedangkan kaum Asy`ariyah, berpendapat bahwa Tuhan mempunyai sifat. Keadilan Tuhan, menurut Asy`ariyah, Tuhan berbuat sekehendak-Nya, sehingga memasukkan seluruh manusia ke dalam surga bukanlah Tuhan bersifat tidak adil dan jika memasukkan seluruh manusia ke dalam neraka tidaklah Tuhan bersifat dzalim. Diantara tokoh aliran Asy'ariyah adalah, Abu Hasan Al Asy'ary, Imam Ghazali (450-505 H/ 1058-1111M), Imam Fakhrurrazi (544-606H/ 1150-1210), Abu Ishaq Al Isfirayini (w 418/1027), Abu Bakar Al Baqilani (328-402 H/950-1013 M), dan Abu Ishaq Asy Syirazi (293-476 H/ 1003-1083 M.
Putri ulandari (ABI IC)
Aliran ini menyakini bahwa tuhan merupakan satu-satunya kekuatan yang tidak ada yang bisa menandinginya. Tuhan menjadi tempat bersandar dan meminta segala apa yang diinginkan oleh para penyembahnya. Perkembangan kemudian konsep monotheisme kemudian melahirkan suatu agama tertentu dan juga merupakan konsep agama-agama samawi dalam pandangan ajaran Islam.
Putry jumia Elma adha
: Menurut mu'tazilah :Kekuasaan mutlak Tuhan telah dibatasi oleh kebebasan yang telah diberikan kepada manusia dalam menentukan kemauan dan perbuatan. tokoh nya :Wasil bin Atha menurut jabariah : paham yang menafikan perbuatan dari hamba secara hakikat dan menyerahkan perbuatan tersebut kepada Allah. Artinya, manusia tidak punya andil sama sekali dalam melakukan perbuatannya, Tuhanlah yang menentukan segala tokoh nya :Ja'ad bin Dirham dan Jahm bin Shafwan menurut Qodariah;Allah menciptakan manusia dengan akal. Akal menjadi hal krusial yang dimiliki oleh manusia dan membuat manusia dapat berpikir untuk melakukan sesuatu yang baik maupun buruk. tokoh nya : Ma'bad Al Juhani serta Ghaylan Al Dimasyqi. menurut asyariah;Sedangkan kaum Asy`ariyah, berpendapat bahwa Tuhan mempunyai sifat. Mustahil Tuhan mengetahui dengan zat-Nya, karena dengan demikian zat-Nya adalah pengetahuan dan Tuhan sendiri adalah pengetahuan. Tuhan bukan pengetahuan (`ilm) tetapi sang Mengetahui (`alim). tokoh nya : Abdul Malik bin AbduHah bin Yusuf bin Muhammad bin Abdullah bin Hayyuwiyah al-Juwaini al-Nisaburi
Tia Rohmayani
A. Konsep mu'tazillah bahwa orang Islam yang berbuat dosa besar, tidak kafir dan tidak mu’min. Tokohnya washil bin Atha', Abu huzali Al Alkaf, B. Konsep Qodariah aliran ini berpandangan bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam menentukan nasibnya sendiri. Tokohnya Ja'ad bin Dirham dan Jahm bin Shafwan. C. Konsep Jabariah Manusia tidak mempunyai kemampuan untuk menentukan nasibnya m. Tokohnya Ma'had Al juhani serta Ghaylan Al Dimasyqi. D. KonsepAsy’ariah menyakini bahwa Allah mempunyai hak preogratif untuk menentukan segala amal ibadah diterima atau ditolak oleh-Nya. Tokohnya Abu Hasan Al Asy'ary, imam Ghazali, Imam Fakhrurrazi, Abu Ishaq Al Isfirayini, Abu Bakar Al Baqilani, dan Abu Ishaq Asy Syirazi.
Nabila liza cinta velita (ABI 1A)
1.)Mu'tazilah berpendapat bahwa kehendak Tuhan tidak mutlak, dan keadilan bagi mereka adalah memberi seseorang akan Adapun tokoh-tokoh yang mempengaruhi dalam perkembangan aliran Mu‟tazilah yaitu, Washil bin Atha‟ al-Ghazzal (80-131 H), Abul al-Huzail al-Allaf (135-226 H/753-840 M), Ibrahim bin Syyar an-Nazzam (wafat 231 H/845 M), Abu Ali Muhammad ibn Ali al-Jubba‟i (135-267 ) 2.) Jabariyah memiliki keyakinan bahwa setiap manusia terpaksa oleh takdir tanpa memiliki pilihan dan usaha dalam perbuatannya. Tokoh utamanya adalah Ja'ad bin Dirham dan Jahm bin Shafwan. 3.) Aliran Qadariyah berpendapat bahwa manusia mempunyai kebebasan berkehendak dan melakukan perbuatan, tidak ada sangkut- pautnya dengan kehendak Allah. Namun justru Jabariyah berpendapat lain, bahwa manusia tidak mempunyai daya dan kehendak apapun, semuanya karena atas kehendak Allah.Aliran qadariyah pertama kali dikenalkan dan disebarkan oleh dua tokoh pendirinya, yaitu Ma'bad Al Jauhani dan Ghailan Al Dimasyqi pada 70 H di masa pemerintahan khalifah Abdul Malik bin Marwan. 4.)Sedangkan kaum Asy`ariyah, berpendapat bahwa Tuhan mempunyai sifat. Mustahil Tuhan mengetahui dengan zat-Nya, karena dengan demikian zat-Nya adalah pengetahuan dan Tuhan sendiri adalah pengetahuan. Tuhan bukan pengetahuan (`ilm) tetapi sang Mengetahui (`alim). Diantara tokoh aliran Asy'ariyah adalah, Abu Hasan Al Asy'ary, Imam Ghazali (450-505 H/ 1058-1111M), Imam Fakhrurrazi (544-606H/ 1150-1210), Abu Ishaq Al Isfirayini (w 418/1027), Abu Bakar Al Baqilani (328-402 H/950-1013 M), dan Abu Ishaq Asy Syirazi (293-476 H/ 1003-1083 M.
Okta Fitria Romadhana
Karena manusia adalah makhluk ciptaan yg lemah dan terbatas, manusia akan mengalami yg namanya ketakutan, kesusahan, menyerah dan kematian maka dari itu ia membutuhkan sesuatu yg mampu melindunginya dan menuntunnya kembali ketika suatu saat nanti ia menyerah dan rapuh. Iatidak bisa hanya mengandalkan materi dan manusia lain karna suatu saat mereka pun akan habis dan mati. Karena itulah manusia membutuhkan Tuhan sebagai zat yang maha agung dengan segala kekuasaannya yang mampu menuntunnya kembali ketika suatu saat ia melakukan kesalahan dan menyerah. Selalu sebisa mungkin menghindarkan diri dari perbuatan maksiat selalu melakukan ibadah dan perbuatan baik, berhati-hati dalam perbuatan karna takut akan diawasi Allah dan menyakiti orang lain melakukan sifat dan perilaku terpuji seperti jujur, bertanggung jawab, saling menolong orang lain bersikap mandiri karna tidak mau menyusahkan orang lain. Manusia sehebat apapun, tetap tdak berdaya untuk menyelamatkan diri dari tekanan hidup yang menghilangkan kedamaian jiwa, selama manusia berupaya mencari yang bisa dilihat dan dibuktikan dengan mata. Karena semua yang bisa dilihat dan dibuktikan akan berkahir satu saat dengan berjalannya waktu. Secara mendasar, berikut alasan mengapa kita membutuhkan Tuhan 1. Karena manusia terbatas, tidak mampu memperpanjang nyawa, jika ajal sudah tiba. 2. Karena manusia tidak mampu mengatasi tekanan hati nurani, kedamaian jiwa dalam dirinya yang hanya bisa dirasakan dengan perasaan, namun tidak bisa dilihat dengan mata bahkan bedah perutpun tidak ditemukan 3. Karena manusia adalah mahluk social yang butuh berinteraksi satu dan lainnya. Sedangkan satu dan lainnya berbeda sifat dan karakter ( jati diri ), yang berakibat pergeseran kepentingan membias pada tekanan hidup ( jiwa ). 4. Karena manusia diciptakan, bukan sebagai pencipta. Oleh sebab itu ada yang lebih berkuasa daripada manusia. QS. Faathir/35: 15-17 يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اَنْتُمُ الْفُقَرَاۤءُ اِلَى اللّٰهِ ۚوَاللّٰهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ – ١٥ ۞ اِنْ يَّشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيْدٍۚ – ١٦ وَمَا ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ بِعَزِيْزٍ – ١٧ Hai manusia, kamulah yang berkehendak (membutuhkan) kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah.” (QS. Faathir/35: 15 – 17)
Zeti zulaika ABI 1 A
Mu'tazilah berpendapat bahwa kehendak Tuhan tidak mutlak, dan keadilan bagi mereka adalah memberi seseorang akan Adapun tokoh-tokoh yang mempengaruhi dalam perkembangan aliran Mu‟tazilah yaitu, Washil bin Atha‟ al-Ghazzal (80-131 H), Abul al-Huzail al-Allaf (135-226 H/753-840 M), Ibrahim bin Syyar an-Nazzam (wafat 231 H/845 M), Abu Ali Muhammad ibn Ali al-Jubba‟i (135-267 )2.) Jabariyah memiliki keyakinan bahwa setiap manusia terpaksa oleh takdir tanpa memiliki pilihan dan usaha dalam perbuatannya. Tokoh utamanya adalah Ja'ad bin Dirham dan Jahm bin Shafwan.3.) Aliran Qadariyah berpendapat bahwa manusia mempunyai kebebasan berkehendak dan melakukan perbuatan, tidak ada sangkut- pautnya dengan kehendak Allah. Namun justru Jabariyah berpendapat lain, bahwa manusia tidak mempunyai daya dan kehendak apapun, semuanya karena atas kehendak Allah.Aliran qadariyah pertama kali dikenalkan dan disebarkan oleh dua tokoh pendirinya, yaitu Ma'bad Al Jauhani dan Ghailan Al Dimasyqi pada 70 H di masa pemerintahan khalifah Abdul Malik bin Marwan.4.)Sedangkan kaum Asy`ariyah, berpendapat bahwa Tuhan mempunyai sifat. Mustahil Tuhan mengetahui dengan zat-Nya, karena dengan demikian zat-Nya adalah pengetahuan dan Tuhan sendiri adalah pengetahuan. Tuhan bukan pengetahuan (`ilm) tetapi sang Mengetahui (`alim). Diantara tokoh aliran Asy'ariyah adalah, Abu Hasan Al Asy'ary, Imam Ghazali (450-505 H/ 1058-1111M), Imam Fakhrurrazi (544-606H/ 1150-1210), Abu Ishaq Al Isfirayini (w 418/1027), Abu Bakar Al Baqilani (328-402 H/950-1013 M), dan Abu Ishaq Asy Syirazi (293-476 H/ 1003-1083 M.
Zulfa Alyssa Sholehah
Pandangan Konsep TuhanMenurut : 1. Mu'tazilahMu'tazilah berpendapat bahwa Kekuasaan mutlak Tuhan telah dibatasi oleh kebebasan yang telah diberikan kepada manusia dalam menentukan kemauan dan perbuatan.Tokohnya:Wasil bin Atha', lahir di Madinah, pelopor ajaran ini.Abu Huzail al-Allaf (751-849 M), penyusun 5 ajaran pokoq Muktazilah.an-Nazzam, murid Abu Huzail al-Allaf.Abu 'Ali Muhammad bin 'Abdul Wahab/al-Jubba'i (849-915 M).2. Asy'ariahAsy'ariah mengatakan bahwa Tuhan tidak tunduk kepada siapapun, di atas Tuhan tidak ada satu zat lain yang dapat membuat hukum dan dapat menentukan apa yang boleh dibuat dan apa yang tidak boleh dibuat Tuhan. Tuhan bersifat absolut dalam kehendak dan kekuasaan-Nya.Tokohnya: Abu Hasan Al Asy'ary, Imam Ghazali (450-505 H/ 1058-1111M), Imam Fakhrurrazi (544-606H/ 1150-1210), Abu Ishaq Al Isfirayini (w 418/1027), Abu Bakar Al Baqilani (328-402 H/950-1013 M), dan Abu Ishaq Asy Syirazi (293-476 H/ 1003-1083 M).3. JabariahJabariah adalah paham yang menyebutkan bahwa segala perbuatan manusia telah ditentu- kan dari semula oleh Qadha dan Qadar Allah. Maksudnya, setiap perbuatan yang diker-jakan manusia tidak berdasarkan kehendak manusia, tapi diciptakan oleh Tuhan dan dengan kehendak-Nya, manusia tidak mempunyai kebebasan dalam berbuat, manusia mengerjakan perbuatan dalam keadaan terpaksa. Tokohnya: Ja'ad bin Dirham dan Jahm bin Shafwan. 4. QadariahQadariah berpendapat bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam berkehendak dan berbuat. Manusia sendiri yang menghendaki apakah iya akan kafir atau mukmin dan hal itu yang menyebabkan manusia harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Tokohnya: Ma'bad Al Juhani serta Ghaylan Al Dimasyqi.
cindy sriwulan safutri
*menurut kaum mu'tazilah. -orang islam yang berbuat dosa besar tidak kafir dan tidak mukmin.ia berada diantara posisi mukmin dan kafir.tokoh dari kaum mu'tazilah adalah washil bin atha dan al ghazzal (80-131 H) *menurut kaum qadariah. -manusia mempunyai kebebasan dalam menentukan nasibnya sendiri.ia mempunyai kekuatan untuk menentukan apakah dirinya bahagia dan selamat atau celaka di hari kiamat.tokoh dari kaum qadariah adalah ma'bad al jauhani dan ghailan al dimasyqi (70 H). *menurut kaum jabariah. -manusia tidak mempunyai kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri.semua nasibnya sudah digariskan oleh allah tentang nasib baik dan buruknya.tokoh dari kaum jabariah adalah ja'ad bin dirham dan jahm bin shafwan. *menurut kaum asy'ariah. -manusia mempunyai kemampuan untuk melakukan sesuatu yang mempunyai potensi untuk bisa mendatangkan kebaikan dan potensi untuk mendatangkan kemudharatan.namun akhirnya, hasil akhir dari segala perbuatan manusia diserahkan kepada penilaian tuhan atas segala amal ibadah nya.sebab bagi aliran asy'ariah meyakini bahwa allah mempunyai hak prerogatif untuk menentukan segala amal ibadah diterima atau tidak olehnya.tokoh dari kaum asy'ariah adalah abu hasan al asy'ary dan imam al ghazali (450-505 H/1058-1111 M).
Intan ziadatus salamah (ABI 1 A)
Muktazilah merupakan kaum rasionalis di kalangan umat islam. Salah satu pandangannya, bahwa orang Islam yang berbuat dosa besar, tidak kafir dan tidak mu’min. ia berada antara posisi mukmin dan kafir (manzilah baina manzilataini). Tokoh Muktazilah ialah wasil bin ato (salah seorang murid hasan al-basri). Qodariah merupakan aliran yang berpandangan bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam menentukan nasibnya sendiri. Apakah dirinya bahagia dan selamat atau celaka di hari kiamat ,manusia bertanggung jawab dengan segala perbuatan yang dia lakukan. Tokoh qodariah ialah ma'bad al juhani serta Ghaylan al Dimasyqi. Jabariah merupakan aliran kebalikan dari qodariah yaitu manusia tidak mempunyai kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri. Semua nasibnya sudah di gariskan oleh allah tentang nasib baik dan buruknya. Tokoh jabariah ialah ja'ad bin Dirham dan jahm bin shafwan. Asy'ariah merupakan aliran antara qodariah dan jabariah,manusia mempunyai kemampuan untuk melakukan sesuatu yang mempunyai potensi untuk bisa mendatangkan kebaikan dan potensi untuk mendatangkan kemadhratan. Meyakini bahwa allah mempunyai hak preogratif untuk menentukan segala amal ibadah di terima atau di tolaknya. Tokoh asy'ariah abu al hasan ali bin isma'il al asy'ariah
Rahmah niyatunnisa
Manusia membutuhkan agama di dalam kehidupannya, yaitu sebagai pegangan hidup baik untuk kehidupan di dunia maupun di akherat kelak. Sudah barang tentu agar semuanya itu dapat dicapai maka ia harus dapat menjaga keseimbangan antara dua kebutuhan, yaitu kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani. Agama berperan sangat penting dalam mengatur sendi-sendi kehidupan manusia dan mengarahkannya kepada kebaikan bersama.
Zarina ramadani
sebagai pegangan hidup baik untuk kehidupan di dunia maupun di akherat kelak. Banyak ayat-ayat Al-Qur’an dan hadist-hadist nabi yang menerangkan tentang eksistensi tuhan. Berikut ini salah satu surat yang menerangkan tentang eksistensi Tuhan dalam Q.S. Al-Ikhlas sebagai berikut: قل هو الله احد. الله الصّمد. لم يلد ولم يولد. ولم يكن له كفوا احد. Artinya: “Katakanlah; dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan tempat bergantung kepada-Nya. dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya. Dalam perkembangan ilmu teologi Islam, lahir beberapa aliran tentan konsep Tuhan. Lahir nya konsep Tuhan disebabkan dari pemahaman para ilmuwan Islam yang beragam berkaitan dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadist-hadist nabi.
Safarila Balqis 1C
Karena Agama berperan sangat penting dalam mengatur sendi-sendi kehidupan manusia dan mengarahkannya kepada kebaikan bersama. Banyak ayat-ayat Al-Qur’an dan hadist-hadist nabi yang menerangkan tentang eksistensi tuhan salah satunya dalam surat Al-ikhlas قل هو الله احد. الله الصّمد. لم يلد ولم يولد. ولم يكن له كفوا احد "Katakanlah; dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan tempat bergantung kepada-Nya. dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya" Lahir nya konsep Tuhan disebabkan dari pemahaman para ilmuwan Islam yang beragam berkaitan dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadist-hadist nabi.
Zarina ramadani (1C ABI)
sebagai pegangan hidup baik untuk kehidupan di dunia maupun di akherat kelak. Banyak ayat-ayat Al-Qur’an dan hadist-hadist nabi yang menerangkan tentang eksistensi tuhan. Berikut ini salah satu surat yang menerangkan tentang eksistensi Tuhan dalam Q.S. Al-Ikhlas sebagai berikut: قل هو الله احد. الله الصّمد. لم يلد ولم يولد. ولم يكن له كفوا احد. Artinya: “Katakanlah; dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan tempat bergantung kepada-Nya. dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya. Dalam perkembangan ilmu teologi Islam, lahir beberapa aliran tentan konsep Tuhan. Lahir nya konsep Tuhan disebabkan dari pemahaman para ilmuwan Islam yang beragam berkaitan dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadist-hadist nabi.
Andhini Syabella Taszkya ABI 1C
"Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Mahatinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (Yang mempunyai) 'Arsy yang mulia" Jadi tujuan penciptaan manusia adalah untuk menyembah Tuhan Yang Maha-Esa, yang dikenal sebagai agama, dan kebutuhan manusia akan agama lebih besar daripada kebutuhannya akan kebutuhan hidup lainnya. Karena seseorang harus mengetahui keridhaan Tuhan Yang Maha-Esa dan tempat amarahnya.” Seseorang harus mengerjakan hal yang mendapat ridha dan menjauhi hal yang tidak dikehendaki Allah. Orang tidak dapat hidup tanpa syariah yang dengannya mereka dapat membedakan antara apa yang mereka harus lakukan dan apa yang mereka tinggalkan. Dan Tuhan, telah menanamkan orang-orang sejak zaman kuno untuk menyembah kepada-Nya. Namun dalam perjalanan waktu, mereka melakukan penyimpangan dengan menyembah selain Tuhan. Hal ini terbukti dalam surat Al-Araf ayat 172: وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).”
RIZNA NATA ARNELITA
dhilahh5632 05.12.2019 Ujian Nasional Sekolah Menengah Pertama Alasan manusia membutuhkan agama adalah karena agama merupakan sumber pedoman hidup yang sudah menjadi fitrah bagi umat manusia. Bagi umat islam agama sudah menjadi suatu hal yang diakui sejak kandungan. Salah satu dalil naqli yang mendukung bahwa umat islam membutuhkan agama islam adalah firman Allah dalam surah Al A'raf ayat 172: وَاِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْۢ بَنِيْٓ اٰدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَاَشْهَدَهُمْ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْۚ اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْۗ قَالُوْا بَلٰىۛ شَهِدْنَا ۛاَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اِنَّا كُنَّا عَنْ هٰذَا غٰفِلِيْنَۙ
Elsa kurniasari
Karena jika manusia tidak membutuhkan tuhan maka manusia tidak akan bisa berbuat apa-apa dan manusia membutuhkan dasar qur'an atau hadist karena Al-Qur'an dan Hadist adalah pedoman hidup bagi manusia
Indriani Salsa Billa (ABI 1 C)
QS. Faathir/35: 15-17 يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اَنْتُمُ الْفُقَرَاۤءُ اِلَى اللّٰهِ ۚوَاللّٰهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ – ١٥ ۞ اِنْ يَّشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيْدٍۚ – ١٦ وَمَا ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ بِعَزِيْزٍ – ١٧ Hai manusia, kamulah yang berkehendak (membutuhkan) kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah.” (QS. Faathir/35: 15 – 17)
RIZNA NATA ARNELITA 1 C
Alasan manusia membutuhkan agama adalah karena agama merupakan sumber pedoman hidup yang sudah menjadi fitrah bagi umat manusia. Bagi umat islam agama sudah menjadi suatu hal yang diakui sejak kandungan. Salah satu dalil naqli yang mendukung bahwa umat islam membutuhkan agama islam adalah firman Allah dalam surah Al A'raf ayat 172: وَاِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْۢ بَنِيْٓ اٰدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَاَشْهَدَهُمْ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْۚ اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْۗ قَالُوْا بَلٰىۛ شَهِدْنَا ۛاَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اِنَّا كُنَّا عَنْ هٰذَا غٰفِلِيْنَۙ
Andhini Syabella Taszkya ABI 1C
Jadi tujuan penciptaan manusia adalah untuk menyembah Tuhan Yang Maha-Esa, yang dikenal sebagai agama, dan kebutuhan manusia akan agama lebih besar daripada kebutuhannya akan kebutuhan hidup lainnya. Karena seseorang harus mengetahui keridhaan Tuhan Yang Maha-Esa dan tempat amarahnya.” Seseorang harus mengerjakan hal yang mendapat ridha dan menjauhi hal yang tidak dikehendaki Allah. Orang tidak dapat hidup tanpa syariah yang dengannya mereka dapat membedakan antara apa yang mereka harus lakukan dan apa yang mereka tinggalkan. Dan Tuhan, telah menanamkan orang-orang sejak zaman kuno untuk menyembah kepada-Nya. Namun dalam perjalanan waktu, mereka melakukan penyimpangan dengan menyembah selain Tuhan. Hal ini terbukti dalam surat Al-Araf ayat 172: وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).”
Rahmayani Wulandari (ABI C)
Alasan manusia membutuhkan tuhan: Berdasarkan sejarah peradaban, Monotheisme, Yaitu Aliran ini menyakini bahwa tuhan merupakan satu-satunya kekuatan yang tidak ada yang bisa menandinginya. Tuhan menjadi tempat bersandar dan meminta segala apa yang diinginkan oleh para penyembahnya. Dan salah satu surat yang menerangkan tentang eksistensi Tuhan yaitu dalam Q.S. Al-Ikhlas. Berdasarkan aliran Jabariah. Aliran ini kebalikan dari qodariah. Manusia tidak mempunyai kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri. Semua nasibnya sudah digariskan oleh Allah tentang nasib baik dan buruknya. Maka dari itu Manusia sangat membutuhkan tuhan.
Nama: Santika( ABI C)
Allah adalah sesuatu yg di puja di sembah, di agung agungkan sehingga selalu berusaha untuk memenuhi segala yg di perintahkannya. يٰٓأَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَآءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِىُّ الْحَمِيدُ “Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu), Maha Terpuji.” (QS. Fatir 35: Ayat 15)
Dafaalfikri
Karena manusia adalah mahluk yg tidak terbatas.manusia akan mengalami kesedihan,kesusahan,ketakutan,kematian.maka dari itu manusia membutuhkan tempat berlindung dan menuntun ke arah yang benar
Mohd.viky aprilialdi
Manusia membutuhkan agama di dalam kehidupannya, yaitu sebagai pegangan hidup baik untuk kehidupan di dunia maupun di akherat kelak. Sudah barang tentu agar semuanya itu dapat dicapai maka ia harus dapat menjaga keseimbangan antara dua kebutuhan, yaitu kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani.
ZALINA RAHMADANI
Manusia membutuhkam agama agar mereka memiliki tempat sandaran untuk menjadi tolak kebenaran yang jelas. Agama juga mengajarkan kebaikan yang bisa menuntun manusia serta sebagai pegangan hidup baik diakhirat maupun didunia.
Aria Okta yudansyah
Manusia membutuhkan tuhan karna kepercayaan nya masing masing Agama berperan sangat penting dalam mengatur sendi-sendi kehidupan manusia dan mengarahkannya kepada kebaikan bersama. Agama dan beragama adalah satu kesatuan namun memiliki makna yang berbeda. Agama merupakan sebuah ajaran kebaikan yang menuntun manusia kembali kepada hakekat kemanusiaannya.
Rhaudatul Janah ABI 1 C
Karena manusia makhluk bernyawa.Kemampuan manusia yang terbatas membutuhkan petunjuk. dengan adanya kitab-kitab manusia bisa mengetahui mana yang baik dan benar.dimana dijelaskan didalam Al-Qur'an surat Al Ikhlas "katakanlah dialah allah, yang maha Esa.Allah adalah tempat bergantung kepadanya.dan tidak ada seorang pun setara dengannya. " jadi manusia hanyalah makhluk fana yang membutuhkan seorang Pembimbing yaitu Tuhan.
M.khairul
Manusia membutuhkan agama di dalam kehidupannya, yaitu sebagai pegangan hidup baik untuk kehidupan di dunia maupun di akherat kelak. Sudah barang tentu agar semuanya itu dapat dicapai maka ia harus dapat menjaga keseimbangan antara dua kebutuhan, yaitu kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اَنْتُمُ الْفُقَرَاۤءُ اِلَى اللّٰهِ ۚوَاللّٰهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ – ١٥ ۞ اِنْ يَّشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيْدٍۚ – ١٦ وَمَا ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ بِعَزِيْزٍ – ١٧ Hai manusia, kamulah yang berkehendak (membutuhkan) kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah.” (QS. Faathir/35: 15 – 17)
Fitri nur indah ( Abi C)
QS. Faathir/35: 15-17 يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اَنْتُمُ الْفُقَرَاۤءُ اِلَى اللّٰهِ ۚوَاللّٰهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ – ١٥ ۞ اِنْ يَّشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيْدٍۚ – ١٦ وَمَا ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ بِعَزِيْزٍ – ١٧ Hai manusia, kamulah yang berkehendak (membutuhkan) kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah.” (QS. Faathir/35: 15 – 17) Perintah Alloh kepada manusia untuk beribadah kepadaNya bukan karena Alloh membutuhkan manusia, tetapi untuk kebaikan manusia sendiri di dunia dan di akhirat. Bagaimanapun juga, keberadaan manusia di dunia, kelengkapan dan berjalannya fungsi anggota badannya, kebutuhan makan dan minumnya, keselamatan kehidupannya sampai ajalnya, dan keselamatannya di dunia dan di akhirat, semuanya membutuhkan pertolongan Alloh Ta’ala.
Rahmayani Wulandari (ABI 1C)
Alasan manusia membutuhkan tuhan:Berdasarkan sejarah peradaban, Monotheisme, Yaitu Aliran ini menyakini bahwa tuhan merupakan satu-satunya kekuatan yang tidak ada yang bisa menandinginya. Tuhan menjadi tempat bersandar dan meminta segala apa yang diinginkan oleh para penyembahnya.Dan salah satu surat yang menerangkan tentang eksistensi Tuhan yaitu dalam Q.S. Al-Ikhlas.Berdasarkan aliran Jabariah. Aliran ini kebalikan dari qodariah. Manusia tidak mempunyai kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri. Semua nasibnya sudah digariskan oleh Allah tentang nasib baik dan buruknya. Maka dari itu Manusia sangat membutuhkan tuhan.
Ardila ABI 1 C
1.Karena manusia terbatas, tidak mampu memperpanjang nyawa, jika ajal sudah tiba. 2.Karena manusia tidak mampu mengatasi tekanan hati nurani, kedamaian jiwa dalam dirinya yang hanya bisa dirasakan dengan perasaan, namun tidak bisa dilihat dengan mata bahkan bedah perutpun tidak ditemukan 3.Karena manusia adalah mahluk sosial yang butuh berinteraksi satu dan lainnya. Sedangkan satu dan lainnya berbeda sifat dan karakter ( jati diri ), yang berakibat pergeseran kepentingan membias pada tekanan hidup ( jiwa ). 4..Karena manusia diciptakan, bukan sebagai pencipta. Oleh sebab itu ada yang lebih berkuasa daripada manusia. QS. Faathir/35: 15-17 يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اَنْتُمُ الْفُقَرَاۤءُ اِلَى اللّٰهِ ۚوَاللّٰهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ – ١٥ ۞ اِنْ يَّشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيْدٍۚ – ١٦ وَمَا ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ بِعَزِيْزٍ – ١٧ Hai manusia, kamulah yang berkehendak (membutuhkan) kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah.” (QS. Faathir/35: 15 – 17) Q.S. Al-Ikhlas sebagai berikut: قل هو الله احد. الله الصّمد. لم يلد ولم يولد. ولم يكن له كفوا احد. Artinya: “Katakanlah; dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan tempat bergantung kepada-Nya. dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya.
Sartika dewi kelas Abi 1c
Alasan manusia membutuhkan tuhan karena manusia
Norasima
Menurut saya kenapa setiap manusia membutuhkan tuhan karena setiap manusia butuh arah,pegangan,atau tujuan hidup baik di dunia mau pun di akhirat,juga sebagai reminder bahwa sebenarnya hidup tidak hanya semata mata tentang hidup saja,tetapi juga memiliki pedoman dan arah agar kita tau apa yang layak kita lakukan,dengan yang tidak layak kita lakukan,juga bisa membatasi diri kita untuk berbuat sesuatu,agar ketika kita melakukan suatu perbuatan tidak setengah setengah dan juga tidak berlebihan,ini juga adalah hal yang membantu menemukan jati diri sebagai manusia,kalau menurut dasar Qur'an dan hadits itu adalah keharusan,kewajiban yang patut kita lakukan dan kita patuhi agar supaya kita tidak menjadi manusia yang semena mena akan sesuatu,contoh nya kita punya kuasa tapi kalau kita tidak memiliki aturan itu akan memicu kita semena mena menggunakan kuasa tersebut,begitulah sebaik nya dasar Qur'an dan hadits,yang tujuan nya menjadikan kita manusia yang bisa menjalan kan apa yang wajib dan menjauhi apa yang di larang.
Yuliana Resky
Kebutuhan manusia akan Tuhan dan agama melebihi semua kebutuhan hidupnya. Mungkin salah satu indikasi bahwa religiusitas merupakan kebutuhan manusia adalah apa yang dirasakan seseorang dalam dirinya sendiri dari kelemahan di hadapan beberapa manifestasi kekuasaan Yang Mahakuasa, seperti angin kencang, laut yang bergolak, gempa bumi, dan gunung berapi. Dan kebesaran kecerdasannya, dia tetap lemah di depan fenomena yang dengannya Tuhan menyengsarakan hamba-hambanya, sehingga manusia tahu dari dirinya sendiri bahwa dia tidak memiliki kemampuan untuk mendorong atau menjaga mereka, dan dari di sini kebutuhan manusia yang lebih besar akan dewa untuk menggunakan dan percaya padanya.
RATNA SARI
Karena manusia adalah makhluk ciptaan yg lemah dan terbatas,manusia akan mengalami yg namanya ketakutan,kesusahan,menyerah&kematian maka dari itu ia membutuhkan sesuatu yg mampu melindunginya dan menuntunnya kembali ketika suatu saat nanti ia menyerah dan rapuh.ia tidak bisa hanya mengandalkan materi dan manusia lain karna suatu saat mereka pun akan habis dan mati.karna itulah manusia membutuhkan Tuhan sebagai zat yg maha agung dengan segala kekuasaannya yg mampu menuntunnya kembali ketika suatu saat ia melakukan kesalahan dan menyerah agama merupakan sumber pedoman hidup yang sudah menjadi fitrah bagi umat manusia. Bagi umat islam agama sudah menjadi suatu hal yang diakui sejak kandungan. Salah satu dalil naqli yang mendukung bahwa umat islam membutuhkan agama islam adalah firman Allah dalam surah Al A'raf ayat 172: وَاِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْۢ بَنِيْٓ اٰدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَاَشْهَدَهُمْ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْۚ اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْۗ قَالُوْا بَلٰىۛ شَهِدْنَا ۛاَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اِنَّا كُنَّا عَنْ هٰذَا غٰفِلِيْنَۙ Terjemahan ayat: Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.” Pembahasan Dalam agama islam dalil terbagi menjadi 2 yaitu: Dalil naqli merupakan salah satu dalil dalam islam yang berasal dari Al Qur'an dan hadis. Dalil aqli merupakan salah satu dalil dalam islam yang berasal dari pemikiran umat manusia.
Aria Okta yudansyah(ABI 1C)
Manusia membutuhkan tuhan karna kepercayaan nya masing masing Agama berperan sangat penting dalam mengatur sendi-sendi kehidupan manusia dan mengarahkannya kepada kebaikan bersama. Agama dan beragama adalah satu kesatuan namun memiliki makna yang berbeda. Agama merupakan sebuah ajaran kebaikan yang menuntun manusia kembali kepada hakekat kemanusiaannya.
Sartika dewi kelas Abi 1c
Alasan mengapa manusia membutuhkan tuhan,karena manusia adalah makhluk ciptaan terbatas yang memiliki kebebasan untuk memilih Manusia sebagai makhluk allah memiliki banyak kelebihan di banding makhluk yang lainnya,tetapi di balik kelebihan yang banyak itu juga manusia juga tidak luput dari banyak kekurangan,kelemahan, dan kemampuan yang terbatas. يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اَنْتُمُ الْفُقَرَاۤءُ اِلَى اللّٰهِ ۚوَاللّٰهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ – ١٥ ۞ اِنْ يَّشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيْدٍۚ – ١٦ وَمَا ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ بِعَزِيْزٍ – ١٧ Hai manusia, kamulah yang berkehendak (membutuhkan) kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah.” (QS. Faathir/35: 15 – 17)
Manisha
Berdasarkan ayat Al Qur'an yang menjelaskan alasan manusia membutuhkan tuhan QS. Fatir 35: ayat 15 yang berbunyi يٰۤاَ يُّهَا النَّا سُ اَنْتُمُ الْفُقَرَآءُ اِلَى اللّٰهِ ۚ وَا للّٰهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ yaaa ayyuhan-naasu angtumul-fuqorooo-u ilalloh, wallohu huwal-ghoniyyul-hamiid "Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu), Maha Terpuji." Nah, berdasarkan dari ayat Al Qur'an diatas sudah jelas alasan manusia membutuhkan tuhan. Perintah Allah kepada manusia untuk beribadah kepadaNya bukan karena Allah membutuhkan manusia, tetapi untuk kebaikan manusia sendiri di dunia dan di akhirat.
Wilda sari
ALASAN SAYA ; Manusia membutuhkan tuhan, karena manusia membutuhkan keselamatan , keselamatan tersebut bisa di dapatkan dari mana saja ,tetapi keselamatan yang paling sempurna hanyalah dari Tuhan.Kita sebagai manusia memerlukan tuntutan tuhan untuk menjaga kita setiap waktu,tuhan juga menyadarkan kita ketika kita dalam bahaya dan memberi tahu kita apa yang seharusnya kita lakukan. Jadi alasan manusia membu tuhan karena manusia adalah makhluk sosial yang butuh berinteraksi satu dan lainnya.sedangkan satu dan lainnya berbeda sifat dan karakter (jati diri) yang berakibat pergeseran kepentingan membias pada tekanan hidup(jiwa),tak hanya itu manusia juga di ciptakan bukan sebagai pencipta oleh sebab itu ada yang lebih berkuasa dari pada manusia QS. Faathir/35: 15-17 يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اَنْتُمُ الْفُقَرَاۤءُ اِلَى اللّٰهِ ۚوَاللّٰهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ – ١٥ ۞ اِنْ يَّشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيْدٍۚ – ١٦ وَمَا ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ بِعَزِيْزٍ – ١٧ Hai manusia, kamulah yang berkehendak (membutuhkan) kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah.” (QS. Faathir/35: 15 – 17)
Wilda sari
ALASAN SAYA ; Manusia membutuhkan tuhan, karena manusia membutuhkan keselamatan , keselamatan tersebut bisa di dapatkan dari mana saja ,tetapi keselamatan yang paling sempurna hanyalah dari Tuhan.Kita sebagai manusia memerlukan tuntutan tuhan untuk menjaga kita setiap waktu,tuhan juga menyadarkan kita ketika kita dalam bahaya dan memberi tahu kita apa yang seharusnya kita lakukan. Jadi alasan manusia membu tuhan karena manusia adalah makhluk sosial yang butuh berinteraksi satu dan lainnya.sedangkan satu dan lainnya berbeda sifat dan karakter (jati diri) yang berakibat pergeseran kepentingan membias pada tekanan hidup(jiwa),tak hanya itu manusia juga di ciptakan bukan sebagai pencipta oleh sebab itu ada yang lebih berkuasa dari pada manusia QS. Faathir/35: 15-17 يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اَنْتُمُ الْفُقَرَاۤءُ اِلَى اللّٰهِ ۚوَاللّٰهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ – ١٥ ۞ اِنْ يَّشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيْدٍۚ – ١٦ وَمَا ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ بِعَزِيْزٍ – ١٧ Hai manusia, kamulah yang berkehendak (membutuhkan) kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah.” (QS. Faathir/35: 15 – 17)
NOVA
Mengatur Sendi- sendi kehidupan manusia dan mengarahkannya Kepada Kebaikan bersama.
Nazwa nayla difani
karena manusia adalah ciptaan allah
Diana
Karena manusia terbatas, tidak mampu memperpanjang nyawa, jika ajal sudah tiba. Dan manusia tidak mampu mengatasi tekanan hati nurani, kedamaian jiwa dalam dirinya yang hanya bisa dirasakan dengan perasaan, namun tidak bisa dilihat dengan mata bahkan bedah perutpun tidak ditemukan Al-Quran dan Hadits adalah sumber utama untuk umat islam di seluruh dunia untuk menjalani kehidupan. Al-Quran adalah mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW yang diturunkan kepadanya secara berangsur-angsur melalui perantara malaikat Jibril. Tidak hanya Al-Quran, Allah juga menurunkan firman-firman nya kepada Nabi Muhammad yang disebut dengan hadits.
yonelawana masrur
Jadi tujuan penciptaan manusia adalah untuk menyembah Tuhan Yang Maha-Esa, yang dikenal sebagai agama, dan kebutuhan manusia akan agama lebih besar daripada kebutuhannya akan kebutuhan hidup lainnya. Karena seseorang harus mengetahui keridhaan Tuhan Yang Maha-Esa dan tempat amarahnya.”
???? Message; SENDING 1.000000 BTC. Continue => ht
qjb4me
Putri savika
Tulis pandangan konsep tuhan menurut mu’tazilah, jabariah, qadari 1. Mu’tazilah Pandangan tentang Tuhan: Mu’tazilah dikenal dengan konsep tanzih (penyucian Tuhan dari segala sifat-sifat yang menyerupai makhluk). Mereka meyakini bahwa Tuhan itu Maha Suci dan tidak memiliki sifat-sifat yang dapat menyerupai makhluk. Mereka juga menekankan keadilan Tuhan dan kebebasan kehendak manusia. Menurut Mu’tazilah, manusia memiliki kebebasan penuh untuk bertindak, dan setiap orang bertanggung jawab atas perbuatannya. Tuhan tidak bisa berbuat zalim karena kehendak manusia adalah otonom. Tokoh: Wasil bin Atha (pendiri aliran Mu’tazilah) Abu al-Huzail al-Allaf Al-Jahiz 2. Jabariyah Pandangan tentang Tuhan: Jabariyah berpendapat bahwa semua tindakan manusia sudah ditentukan oleh Tuhan dan manusia tidak memiliki kebebasan atau kehendak bebas. Tuhan adalah penguasa mutlak yang menetapkan segala sesuatu, dan manusia hanya menjalankan kehendak Tuhan seperti alat atau wayang. Mereka berpegang pada prinsip bahwa tidak ada daya upaya manusia dalam menentukan nasibnya. Tokoh: Jahm bin Safwan (pendiri aliran Jabariyah) Al-Dahhak bin Muzahim Al-Ja'd bin Dirham 3. Qadariyah Pandangan tentang Tuhan: Qadariyah menekankan kebebasan manusia sepenuhnya dalam menentukan tindakan mereka. Mereka percaya bahwa manusia memiliki kemampuan penuh untuk menentukan perbuatannya tanpa campur tangan Tuhan dalam pilihan-pilihan tersebut. Bagi Qadariyah, jika manusia tidak memiliki kebebasan memilih, maka konsep keadilan Tuhan akan dipertanyakan, sebab manusia akan dihukum atau diberi pahala atas sesuatu yang bukan pilihannya. Tokoh: Ma'bad al-Juhani (tokoh utama Qadariyah) Ghaylan al-Dimashqi 4. Asy’ariah Pandangan tentang Tuhan: Asy’ariah adalah aliran yang mencoba menggabungkan antara pandangan kebebasan manusia dengan kehendak mutlak Tuhan. Menurut Asy'ariah, Tuhan memang menetapkan segala sesuatu, namun manusia juga memiliki kemampuan untuk "mengusahakan" perbuatannya (dikenal dengan konsep kasb). Tuhan tetap menentukan segala sesuatu, tetapi manusia mempunyai peran kecil dalam melakukan usaha, sehingga ada ruang bagi tanggung jawab moral. Tokoh: Abu al-Hasan al-Asy’ari (pendiri aliran Asy’ariah) Al-Baqillani Al-Ghazali
Angel Syafriana
Berikut adalah pandangan tentang konsep Tuhan menurut empat aliran pemikiran Islam: Mu’tazilah, Jabariah, Qadariah, dan Asy’ariah beserta tokoh-tokoh utama mereka: 1. **Mu’tazilah:** - **Pandangan:** Mu’tazilah adalah aliran yang menekankan pada rasionalitas dan kebebasan manusia dalam menentukan tindakan mereka. Mereka percaya bahwa Tuhan adalah zat yang adil dan memiliki sifat-sifat yang harus dijelaskan secara rasional. Mereka menolak konsep takdir mutlak dan lebih menekankan pada tanggung jawab moral individu. - **Tokoh-Tokoh:** Tokoh utama Mu’tazilah termasuk Wasil ibn Ata, Amr ibn Ubaid, dan Al-Nazzam. Mereka memperjuangkan konsep "al-Adl" (keadilan) dan "al-Tawhid" (keesaan Tuhan). 2. **Jabariah:** - **Pandangan:** Jabariah (atau Jabariyyah) percaya bahwa segala sesuatu, termasuk tindakan manusia, adalah hasil dari kehendak Tuhan yang mutlak. Dalam pandangan ini, manusia tidak memiliki kebebasan atau tanggung jawab moral karena segala sesuatu sudah ditentukan oleh Tuhan. - **Tokoh-Tokoh:** Aliran ini tidak memiliki tokoh tertentu yang terkenal seperti dalam aliran lainnya, tetapi pemikiran ini banyak terkait dengan ajaran-ajaran pada masa awal Islam yang menganggap Tuhan memiliki kontrol penuh atas segala sesuatu. 3. **Qadariah:** - **Pandangan:** Qadariah adalah aliran yang menekankan pada kebebasan manusia dalam menentukan tindakan mereka. Mereka percaya bahwa Tuhan memberikan kebebasan kepada manusia untuk memilih, dan manusia bertanggung jawab penuh atas perbuatannya. Ini berlawanan dengan pandangan Jabariah yang menolak kebebasan tersebut. - **Tokoh-Tokoh:** Salah satu tokoh penting dari aliran ini adalah Ma'bad al-Juhani, yang dikenal karena penekanannya pada kebebasan manusia. 4. **Asy’ariah:** - **Pandangan:** Asy’ariah adalah aliran teologi yang mengadopsi pendekatan lebih moderat. Mereka menekankan pentingnya iman dan keyakinan akan sifat-sifat Tuhan seperti yang disebutkan dalam Al-Qur'an, sambil tetap memberikan ruang bagi penggunaan akal. Mereka berpendapat bahwa meskipun Tuhan memiliki sifat-sifat tertentu, manusia harus menerima banyak hal yang tidak dapat dipahami sepenuhnya oleh akal. - **Tokoh-Tokoh:** Abu al-Hasan al-Asy’ari adalah tokoh utama dalam aliran ini. Dia dikenal karena usahanya dalam menyusun dan membela ajaran-ajaran Asy’ariah yang menjadi salah satu aliran teologi utama dalam Islam Sunni. Setiap aliran memiliki pendekatan dan pandangan unik dalam memahami konsep Tuhan dan hubungan antara kehendak Tuhan dan kebebasan manusia.
Angel Syafriana
Berikut adalah pandangan tentang konsep Tuhan menurut empat aliran pemikiran Islam: Mu’tazilah, Jabariah, Qadariah, dan Asy’ariah beserta tokoh-tokoh utama mereka: 1. **Mu’tazilah:** - **Pandangan:** Mu’tazilah adalah aliran yang menekankan pada rasionalitas dan kebebasan manusia dalam menentukan tindakan mereka. Mereka percaya bahwa Tuhan adalah zat yang adil dan memiliki sifat-sifat yang harus dijelaskan secara rasional. Mereka menolak konsep takdir mutlak dan lebih menekankan pada tanggung jawab moral individu. - **Tokoh-Tokoh:** Tokoh utama Mu’tazilah termasuk Wasil ibn Ata, Amr ibn Ubaid, dan Al-Nazzam. Mereka memperjuangkan konsep "al-Adl" (keadilan) dan "al-Tawhid" (keesaan Tuhan). 2. **Jabariah:** - **Pandangan:** Jabariah (atau Jabariyyah) percaya bahwa segala sesuatu, termasuk tindakan manusia, adalah hasil dari kehendak Tuhan yang mutlak. Dalam pandangan ini, manusia tidak memiliki kebebasan atau tanggung jawab moral karena segala sesuatu sudah ditentukan oleh Tuhan. - **Tokoh-Tokoh:** Aliran ini tidak memiliki tokoh tertentu yang terkenal seperti dalam aliran lainnya, tetapi pemikiran ini banyak terkait dengan ajaran-ajaran pada masa awal Islam yang menganggap Tuhan memiliki kontrol penuh atas segala sesuatu. 3. **Qadariah:** - **Pandangan:** Qadariah adalah aliran yang menekankan pada kebebasan manusia dalam menentukan tindakan mereka. Mereka percaya bahwa Tuhan memberikan kebebasan kepada manusia untuk memilih, dan manusia bertanggung jawab penuh atas perbuatannya. Ini berlawanan dengan pandangan Jabariah yang menolak kebebasan tersebut. - **Tokoh-Tokoh:** Salah satu tokoh penting dari aliran ini adalah Ma'bad al-Juhani, yang dikenal karena penekanannya pada kebebasan manusia. 4. **Asy’ariah:** - **Pandangan:** Asy’ariah adalah aliran teologi yang mengadopsi pendekatan lebih moderat. Mereka menekankan pentingnya iman dan keyakinan akan sifat-sifat Tuhan seperti yang disebutkan dalam Al-Qur'an, sambil tetap memberikan ruang bagi penggunaan akal. Mereka berpendapat bahwa meskipun Tuhan memiliki sifat-sifat tertentu, manusia harus menerima banyak hal yang tidak dapat dipahami sepenuhnya oleh akal. - **Tokoh-Tokoh:** Abu al-Hasan al-Asy’ari adalah tokoh utama dalam aliran ini. Dia dikenal karena usahanya dalam menyusun dan membela ajaran-ajaran Asy’ariah yang menjadi salah satu aliran teologi utama dalam Islam Sunni. Setiap aliran memiliki pendekatan dan pandangan unik dalam memahami konsep Tuhan dan Berikut adalah pandangan tentang konsep Tuhan menurut empat aliran pemikiran Islam: Mu’tazilah, Jabariah, Qadariah, dan Asy’ariah beserta tokoh-tokoh utama mereka: 1. **Mu’tazilah:** - **Pandangan:** Mu’tazilah adalah aliran yang menekankan pada rasionalitas dan kebebasan manusia dalam menentukan tindakan mereka. Mereka percaya bahwa Tuhan adalah zat yang adil dan memiliki sifat-sifat yang harus dijelaskan secara rasional. Mereka menolak konsep takdir mutlak dan lebih menekankan pada tanggung jawab moral individu. - **Tokoh-Tokoh:** Tokoh utama Mu’tazilah termasuk Wasil ibn Ata, Amr ibn Ubaid, dan Al-Nazzam. Mereka memperjuangkan konsep "al-Adl" (keadilan) dan "al-Tawhid" (keesaan Tuhan). 2. **Jabariah:** - **Pandangan:** Jabariah (atau Jabariyyah) percaya bahwa segala sesuatu, termasuk tindakan manusia, adalah hasil dari kehendak Tuhan yang mutlak. Dalam pandangan ini, manusia tidak memiliki kebebasan atau tanggung jawab moral karena segala sesuatu sudah ditentukan oleh Tuhan. - **Tokoh-Tokoh:** Aliran ini tidak memiliki tokoh tertentu yang terkenal seperti dalam aliran lainnya, tetapi pemikiran ini banyak terkait dengan ajaran-ajaran pada masa awal Islam yang menganggap Tuhan memiliki kontrol penuh atas segala sesuatu. 3. **Qadariah:** - **Pandangan:** Qadariah adalah aliran yang menekankan pada kebebasan manusia dalam menentukan tindakan mereka. Mereka percaya bahwa Tuhan memberikan kebebasan kepada manusia untuk memilih, dan manusia bertanggung jawab penuh atas perbuatannya. Ini berlawanan dengan pandangan Jabariah yang menolak kebebasan tersebut. - **Tokoh-Tokoh:** Salah satu tokoh penting dari aliran ini adalah Ma'bad al-Juhani, yang dikenal karena penekanannya pada kebebasan manusia. 4. **Asy’ariah:** - **Pandangan:** Asy’ariah adalah aliran teologi yang mengadopsi pendekatan lebih moderat. Mereka menekankan pentingnya iman dan keyakinan akan sifat-sifat Tuhan seperti yang disebutkan dalam Al-Qur'an, sambil tetap memberikan ruang bagi penggunaan akal. Mereka berpendapat bahwa meskipun Tuhan memiliki sifat-sifat tertentu, manusia harus menerima banyak hal yang tidak dapat dipahami sepenuhnya oleh akal. - **Tokoh-Tokoh:** Abu al-Hasan al-Asy’ari adalah tokoh utama dalam aliran ini. Dia dikenal karena usahanya dalam menyusun dan membela ajaran-ajaran Asy’ariah yang menjadi salah satu aliran teologi utama dalam Islam Sunni. Setiap aliran memiliki pendekatan dan pandangan unik dalam memahami konsep Tuhan dan hubungan antara kehendak Tuhan dan kebebasan manusia. antara kehendak Tuhan dan kebebasan manusia.
Delly Kurniati
Berikut adalah pandangan tentang konsep Tuhan menurut empat aliran pemikiran Islam: Mu’tazilah, Jabariah, Qadariah, dan Asy’ariah beserta tokoh-tokoh utama mereka: 1. **Mu’tazilah:** - **Pandangan:** Mu’tazilah adalah aliran yang menekankan pada rasionalitas dan kebebasan manusia dalam menentukan tindakan mereka. Mereka percaya bahwa Tuhan adalah zat yang adil dan memiliki sifat-sifat yang harus dijelaskan secara rasional. Mereka menolak konsep takdir mutlak dan lebih menekankan pada tanggung jawab moral individu. - **Tokoh-Tokoh:** Tokoh utama Mu’tazilah termasuk Wasil ibn Ata, Amr ibn Ubaid, dan Al-Nazzam. Mereka memperjuangkan konsep "al-Adl" (keadilan) dan "al-Tawhid" (keesaan Tuhan). 2. **Jabariah:** - **Pandangan:** Jabariah (atau Jabariyyah) percaya bahwa segala sesuatu, termasuk tindakan manusia, adalah hasil dari kehendak Tuhan yang mutlak. Dalam pandangan ini, manusia tidak memiliki kebebasan atau tanggung jawab moral karena segala sesuatu sudah ditentukan oleh Tuhan. - **Tokoh-Tokoh:** Aliran ini tidak memiliki tokoh tertentu yang terkenal seperti dalam aliran lainnya, tetapi pemikiran ini banyak terkait dengan ajaran-ajaran pada masa awal Islam yang menganggap Tuhan memiliki kontrol penuh atas segala sesuatu. 3. **Qadariah:** - **Pandangan:** Qadariah adalah aliran yang menekankan pada kebebasan manusia dalam menentukan tindakan mereka. Mereka percaya bahwa Tuhan memberikan kebebasan kepada manusia untuk memilih, dan manusia bertanggung jawab penuh atas perbuatannya. Ini berlawanan dengan pandangan Jabariah yang menolak kebebasan tersebut. - **Tokoh-Tokoh:** Salah satu tokoh penting dari aliran ini adalah Ma'bad al-Juhani, yang dikenal karena penekanannya pada kebebasan manusia. 4. **Asy’ariah:** - **Pandangan:** Asy’ariah adalah aliran teologi yang mengadopsi pendekatan lebih moderat. Mereka menekankan pentingnya iman dan keyakinan akan sifat-sifat Tuhan seperti yang disebutkan dalam Al-Qur'an, sambil tetap memberikan ruang bagi penggunaan akal. Mereka berpendapat bahwa meskipun Tuhan memiliki sifat-sifat tertentu, manusia harus menerima banyak hal yang tidak dapat dipahami sepenuhnya oleh akal. - **Tokoh-Tokoh:** Abu al-Hasan al-Asy’ari adalah tokoh utama dalam aliran ini. Dia dikenal karena usahanya dalam menyusun dan membela ajaran-ajaran Asy’ariah yang menjadi salah satu aliran teologi utama dalam Islam Sunni. Setiap aliran memiliki pendekatan dan pandangan unik dalam memahami konsep Tuhan dan hubungan antara kehendak Tuhan dan kebebasan manusia.
Suci Rahmawati
1. Pandangan konsep tuhan menurut Mu'tazilah adalah Salah satu pandangannya, bahwa orang Islam yang berbuat dosa besar, tidak kafir dan tidak mu’min. ia berada antara posisi mukmin dan kafir (manzilah baina manzilataini). Tokoh Muktazilah Wasil bin Atha', lahir di Madinah, pelopor ajaran ini. Abu Huzail al-Allaf (751-849 M), penyusun 5 ajaran pokoq Muktazilah. an-Nazzam, murid Abu Huzail al-Allaf. Abu 'Ali Muhammad bin 'Abdul Wahab/al-Jubba'i (849-915 M). 2. Pandangan konsep tuhan menurut Jabariyah adalah Aliran ini kebalikan dari qodariah. Manusia tidak mempunyai kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri. Semua nasibnya sudah digariskan oleh Allah tentang nasib baik dan buruknya. Tokohnya Ma'bad Al Juhani serta Ghaylan Al Dimasyqi. 3. Pandangan Konsep Tuhan menurut Qadariah adalah Aliran ini berpandangan bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam menentukan nasibnya sendiri. Tokohnya Ja'ad bin Dirham dan Jahm bin Shafwan. 4. Pandangan Konsep Tuhan Menurut Asy'ariah adalah Aliran antara qadariah dan jabariah. Aliran ini mengakui bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melakukan sesuatu yang mempunyai potensi untuk bisa mendatangkan kebaikan dan potensi untuk mendatangkan kemadharatan. Namun demikian, hasil akhir dari segala perbuatan manusia diserahkan kepada penilaian tuhan atas segala amal ibadah nya. sebab bagi aliran Asy’ariah menyakini bahwa Allah mempunyai hak preogratif untuk menentukan segala amal ibadah diterima atau ditolak oleh-Nya. Tokohnya tokoh aliran Asy'ariyah adalah, Abu Hasan Al Asy'ary, Imam Ghazali (450-505 H/ 1058-1111M), Imam Fakhrurrazi (544-606H/ 1150-1210), Abu Ishaq Al Isfirayini (w 418/1027), Abu Bakar Al Baqilani (328-402 H/950-1013 M), dan Abu Ishaq Asy Syirazi (293-476 H/ 1003-1083 M.
Azwa Mayuni 1A ABI
Konsep Tuhan menurut Mu'tazilah adalah sebagai berikut: Tuhan tidak memiliki sifat yang berdiri sendiri. Mu'tazilah berpendapat bahwa sifat-sifat yang berdiri sendiri akan membuat keesaan Tuhan hilang. Tuhan tidak mutlak dalam kehendak-Nya. Mu'tazilah berpendapat bahwa Tuhan memberikan kebebasan kepada manusia untuk menentukan kehendak dan perbuatannya. Beberapa tokoh dalam aliran Mu'tazilah adalah: 1. Wasil bin Atha': Pelopor aliran Mu'tazilah yang lahir di Madinah 2. Abu Huzail al-Allaf: Penyusun lima ajaran pokok Muktazilah 3. an-Nazzam: Murid Abu Huzail al-Allaf 4. Abu 'Ali Muhammad bin 'Abdul Wahab/ 5. al-Jubba'i: Tokoh Mu'tazilah 6. bu Musa al-Mudrar: Pemimpin Mu'tazilah yang dianggap ekstrim karena mudah mengafirkan orang lain Konsep tuhan dalam aliran Jabariyah adalah bahwa Tuhanlah yang menentukan segala-galanya, termasuk perbuatan manusia. Tokoh utama dari aliran Jabariyah adalah Ja'ad bin Dirham dan Jahm bin Shafwan. konsep tuhan dalam pandangan Qadariyah Aliran ini meyakini bahwa manusia memiliki kebebasan mutlak untuk menentukan dan melakukan perbuatannya sendiri. Perbuatan manusia adalah ciptaan dan pilihan manusia sendiri, bukan ciptaan atau pilihan Tuhan. Qadariyah juga meyakini bahwa surga adalah bayaran dari amal secara mutlak. Tokoh-tokoh aliran Qadariyah Ma'bad Al Juhani: Salah satu pendiri aliran Qadariyah. Ma'bad Al Juhani lahir di Basrah dan wafat pada 80 Hijriah atau 699 M. Ghaylan Al Dimasyqi: Salah satu pendiri aliran Qadariyah konsep tuhan dalam pandangan Asy'ariyah Aliran ini berpendapat bahwa Tuhan memiliki sifat-sifat, seperti al-'ilm, al-qudrat, al-sama' al-basar, al-hayah, dan iradah. Namun, semua sifat tersebut dikatakan la yukayyaf wa la yuhadd (tanpa diketahui bagaimana cara dan batasnya). Asy'ariyah juga berpendapat bahwa Tuhan berkusa mutlak dan berbuat sekehendak-Nya. Tokoh-tokoh aliran Asy'ariyah Al-Baqillani: Salah satu tokoh aliran Asy'ariyah. Al-Juwaini: Salah satu tokoh aliran Asy'ariyah. Al-Ghazali: Salah satu pengikut aliran Asy'ariyah yang membuat banyak karya tulis. Karya-karyanya antara lain Iljam al-Awam 'An Ilm al-Kalam, Al-Munqidz Minaddalal, dan Ihya' Ulum al-Din
Yoni Ramadani
Pertama, Muktazilah. Muktazilah merupakan kaum rasionalis di kalangan umat islam. Salah satu pandangannya, bahwa orang Islam yang berbuat dosa besar, tidak kafir dan tidak mu’min. ia berada antara posisi mukmin dan kafir (manzilah baina manzilataini). tokohnya wasilin bin atha' Kedua, Qodariah. Aliran ini berpandangan bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam menentukan nasibnya sendiri. ia mempunyai kekuatan untuk menentukan apakah dirinya bahagia dan selamat atau celaka di Hari Kiamat. Hal ini manusia bertanggungjawab dengan segala perbuatan yang dia lakukan.tokohnya ma'bad al juhani dan gailan Ketiga, Jabariah. Aliran ini kebalikan dari qodariah. Manusia tidak mempunyai kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri. Semua nasibnya sudah digariskan oleh Allah tentang nasib baik dan buruknya. tokohnya jabriyah ja'ad bin dirham dan jahm bin Shafwan Keempat, Asy’ariah. Aliran antara qadariah dan jabariah. Aliran ini mengakui bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melakukan sesuatu yang mempunyai potensi untuk bisa mendatangkan kebaikan dan potensi untuk mendatangkan kemadharatan. Namun demikian, hasil akhir dari segala perbuatan manusia diserahkan kepada penilaian tuhan atas segala amal ibadah nya. sebab bagi aliran Asy’ariah menyakini bahwa Allah mempunyai hak preogratif untuk menentukan segala amal ibadah diterima atau ditolak oleh-Nya. Tokohnya tokoh aliran Asy'ariyah adalah, Abu Hasan Al Asy'ary, Imam Ghazali (450-505 H/ 1058-1111M), Imam Fakhrurrazi (544-606H/ 1150-1210), Abu Ishaq Al Isfirayini (w 418/1027), Abu Bakar Al Baqilani (328-402 H/950-1013 M), dan Abu Ishaq Asy Syirazi (293-476 H/ 1003-1083 M.
MUHAMMAD AZIZI ILHAM
Pertama, Muktazilah. Muktazilah merupakan kaum rasionalis di kalangan umat islam. Salah satu pandangannya, bahwa orang Islam yang berbuat dosa besar, tidak kafir dan tidak mu’min. ia berada antara posisi mukmin dan kafir (manzilah baina manzilataini). Kedua, Qodariah. Aliran ini berpandangan bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam menentukan nasibnya sendiri. ia mempunyai kekuatan untuk menentukan apakah dirinya bahagia dan selamat atau celaka di Hari Kiamat. Hal ini manusia bertanggungjawab dengan segala perbuatan yang dia lakukan. Ketiga, Jabariah. Aliran ini kebalikan dari qodariah. Manusia tidak mempunyai kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri. Semua nasibnya sudah digariskan oleh Allah tentang nasib baik dan buruknya. Keempat, Asy’ariah. Aliran antara qadariah dan jabariah. Aliran ini mengakui bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melakukan sesuatu yang mempunyai potensi untuk bisa mendatangkan kebaikan dan potensi untuk mendatangkan kemadharatan. Namun demikian, hasil akhir dari segala perbuatan manusia diserahkan kepada penilaian tuhan atas segala amal ibadah nya. sebab bagi aliran Asy’ariah menyakini bahwa Allah mempunyai hak preogratif untuk menentukan segala amal ibadah diterima atau ditolak oleh-Nya. (mu'tazilah)Wasil bin Atha (jabariah)Ja'd bin Dirham (Qadariah)An-Najjar dan Ja'd bin Dirham. (asy'ariah)Al-Ghazali
SITI MASITAH
Berikut adalah pandangan tentang konsep Tuhan menurut empat aliran pemikiran Islam: Mu’tazilah, Jabariah, Qadariah, dan Asy’ariah beserta tokoh-tokoh utama mereka: 1. **Mu’tazilah:** - **Pandangan:** Mu’tazilah adalah aliran yang menekankan pada rasionalitas dan kebebasan manusia dalam menentukan tindakan mereka. Mereka percaya bahwa Tuhan adalah zat yang adil dan memiliki sifat-sifat yang harus dijelaskan secara rasional. Mereka menolak konsep takdir mutlak dan lebih menekankan pada tanggung jawab moral individu. - **Tokoh-Tokoh:** Tokoh utama Mu’tazilah termasuk Wasil ibn Ata, Amr ibn Ubaid, dan Al-Nazzam. Mereka memperjuangkan konsep "al-Adl" (keadilan) dan "al-Tawhid" (keesaan Tuhan). 2. **Jabariah:** - **Pandangan:** Jabariah (atau Jabariyyah) percaya bahwa segala sesuatu, termasuk tindakan manusia, adalah hasil dari kehendak Tuhan yang mutlak. Dalam pandangan ini, manusia tidak memiliki kebebasan atau tanggung jawab moral karena segala sesuatu sudah ditentukan oleh Tuhan. - **Tokoh-Tokoh:** Aliran ini tidak memiliki tokoh tertentu yang terkenal seperti dalam aliran lainnya, tetapi pemikiran ini banyak terkait dengan ajaran-ajaran pada masa awal Islam yang menganggap Tuhan memiliki kontrol penuh atas segala sesuatu. 3. **Qadariah:** - **Pandangan:** Qadariah adalah aliran yang menekankan pada kebebasan manusia dalam menentukan tindakan mereka. Mereka percaya bahwa Tuhan memberikan kebebasan kepada manusia untuk memilih, dan manusia bertanggung jawab penuh atas perbuatannya. Ini berlawanan dengan pandangan Jabariah yang menolak kebebasan tersebut. - **Tokoh-Tokoh:** Salah satu tokoh penting dari aliran ini adalah Ma'bad al-Juhani, yang dikenal karena penekanannya pada kebebasan manusia. 4. **Asy’ariah:** - **Pandangan:** Asy’ariah adalah aliran teologi yang mengadopsi pendekatan lebih moderat. Mereka menekankan pentingnya iman dan keyakinan akan sifat-sifat Tuhan seperti yang disebutkan dalam Al-Qur'an, sambil tetap memberikan ruang bagi penggunaan akal. Mereka berpendapat bahwa meskipun Tuhan memiliki sifat-sifat tertentu, manusia harus menerima banyak hal yang tidak dapat dipahami sepenuhnya oleh akal. - **Tokoh-Tokoh:** Abu al-Hasan al-Asy’ari adalah tokoh utama dalam aliran ini. Dia dikenal karena usahanya dalam menyusun dan membela ajaran-ajaran Asy’ariah yang menjadi salah satu aliran teologi utama dalam Islam Sunni. Setiap aliran memiliki pendekatan dan pandangan unik dalam memahami konsep Tuhan dan hubungan antara kehendak Tuhan dan kebebasan manusia.
Feby Amara
Tuhan menurut aliran Mu'tazilah sebagai aliran kalam yang bercorak rasional, berpendapat bahwa perbuatan Tuhan hanya terbatas pada hal hal yang dikatakan baik. Namun bukan berarti Tuhan tidak mampu melakukan perbuatan buruk. Pandangan Jabariyah tentang konsep Tuhan adalah manusia tidak memiliki andil dalam melakukan perbuatannya, melainkan Tuhan yang menentukan segala-galanya, sedangkan menurut Tuhan memiliki sifat adil dan menghukum orang yang bersalah serta memberi pahala kepada orang yang berbuat baik. Selanjutnya konsep Tuhan aliran Qodiriyah Pada aliran qadariyah, para penganutnya percaya bahwa Allah menciptakan manusia dengan akal. Akal menjadi hal krusial yang dimiliki oleh manusia dan membuat manusia dapat berpikir untuk melakukan sesuatu yang baik maupun buruk. Dan yang terakhir kaum Asy`ariyah, berpendapat bahwa Tuhan mempunyai sifat. Mustahil Tuhan mengetahui dengan zat-Nya, karena dengan demikian zat-Nya adalah pengetahuan. Tuhan bukan pengetahuan (`ilm) tetapi sang Mengetahui (`alim). 1.Washil bin Atha' al-Ghazal tokoh besar dari Mu'tazilah 2.Ja'd bin Dirham.tokoh yang memperkenalkan paham jabariyah. 3.Ma'bad Al-Juhani dan Ghailan Al Dimasyqi tokoh yang mencentuskan konsep Tuhan pada aliran QodiriyaQodiriya 4.Abu Abdullah Muhammad bin Yusuf as-Sanusi imam besar Asy' ariyah
Zahrotul sofi
konsep tuhan menurut mu'tazilah adalah pandangan bahwa Tuhan telah memberikan kemerdekaan dan kebebasan bagi manusia dalam menentukan kehendak dan perbuatannya,dan menurut jabariyah adalah keyakinan bahwa setiap manusia terpaksa oleh takdir tanpa memiliki pilihan dan usaha dalam perbuatannya.dan menurut qadariyah yaitu aliran yang percaya bahwa segala tindakan atau perbuatan manusia tidak diintervensi oleh Tuhan.dan Menurut Asy'ariyah bahwa Allah itu mempunyai sifat di antaranya, al-'ilm, al- qudrat, al-sama' al-bas,ar, al-hayah, iradah.tokoh tokoh pada mu'tazilah adalah Washil bin Atha‟ al-Ghazzal (80-131 H), Abul al-Huzail al-Allaf (135-226 H/753-840 M), Ibrahim bin Syyar an-Nazzam (wafat 231 H/845 M).tokoh tokoh pada jabariyah yaitu Ja'ad bin Dirham dan Jahm bin Shafwan.tokoh tokoh pada qadariyah ialah Ma'bad Al juhani sertaGailan Al Dimasyqi.tokoh tokoh asy'ariyah tersebut ialah al-Baqillani, al-Juwaini, dan al-Ghazali.
Zahrotul sofi
konsep tuhan menurut mu'tazilah adalah pandangan bahwa Tuhan telah memberikan kemerdekaan dan kebebasan bagi manusia dalam menentukan kehendak dan perbuatannya,dan menurut jabariyah adalah keyakinan bahwa setiap manusia terpaksa oleh takdir tanpa memiliki pilihan dan usaha dalam perbuatannya.dan menurut qadariyah yaitu aliran yang percaya bahwa segala tindakan atau perbuatan manusia tidak diintervensi oleh Tuhan.dan Menurut Asy'ariyah bahwa Allah itu mempunyai sifat di antaranya, al-'ilm, al- qudrat, al-sama' al-bas,ar, al-hayah, iradah.tokoh tokoh pada mu'tazilah adalah Washil bin Atha‟ al-Ghazzal (80-131 H), Abul al-Huzail al-Allaf (135-226 H/753-840 M), Ibrahim bin Syyar an-Nazzam (wafat 231 H/845 M).tokoh tokoh pada jabariyah yaitu Ja'ad bin Dirham dan Jahm bin Shafwan.tokoh tokoh pada qadariyah ialah Ma'bad Al juhani sertaGailan Al Dimasyqi.tokoh tokoh asy'ariyah tersebut ialah al-Baqillani, al-Juwaini, dan al-Ghazali.
Reni Putri Ripal
Pandangan konsep mu ta’zilah menurut saya ada Lima ajaran ini adalah : 1) “at-tauhid” keesaan Tuhan, 2) “al-adl” keadilan Tuhan, 3) “al-wa‟du wal wa‟id” janji dan ancaman 4) “almanzilah bainal manzilatain” posisi antara dua posisi dan 5) “amar makruf nahi mungkar” (menyuruh berbuat kebaikan dan melarang segala kemungkaran). Dan menurut saya jabariah itu adalah pemahaman yang mengatakan bahwa amal shalih bukanlah sebab masuknya kita ke surga dalam segala hal, dan sebaliknya adalah Qadariyah, yang meyakini bahwa surga adalah bayaran dari amal kita secara mutlak. Sedangkan qadariah kosepnya yaitu aliran yang percaya bahwa segala tindakan atau perbuatan manusia tidak diintervensi oleh Tuhan. Dan terakhir asy’ariah suatu reaksi terhadap aliran muktazilah dan ajaran pokok dalam aliran ini terdiri dari zat dan sifat-sifat Tuhan, kebebesan dalam berkehendak, akal dan wahyu, kebaikan dan keburukan serta qadimnya kalam Allah SWT, Wujud Allah, keadilan, dan kebaruan alam dan kedudukan orang yang berbuat dosa. 1.Tokoh mu’tazilah yaitu Wasil bin Atha' 2.tokoh jabariah yaitu Ja'ad bin Dirham dan Jahm bin Shafwan. 3.tokoh qadariyah yaitu Ma'bad Al-Juhani dan Ghailan Al-Dimasyqi. 4. Tokoh asy’ariah yaitu al-Baqillani, al-Juwaini, dan al-Ghazali.
putri agusneti
Mu'tazilah sebagai aliran kalam yang bercorak rasional, berpendapat bahwa perbuatan Tuhan hanya terbatas pada hal hal yang dikatakan baik. Namun bukan berarti Tuhan tidak mampu melakukan perbuatan buruk. berapa tokoh dalam aliran mu'tazilah salah satunya yaitu wasil bin atha ' Al ghazali ia adalah pendiri dan pemimpin pertama aliran mu'tazilah.Jabariyah adalah paham yang menafikan perbuatan dari hamba secara hakikat dan menyerahkan perbuatan tersebut kepada Allah.Tokoh-tokoh aliran Jabariyah di antaranya: Ja'ad bin Dirham: Tokoh yang pertama kali memperkenalkan paham Jabariyah qadariah memiliki pandangan, bahwa manusia memiliki tanggung jawab untuk menegakan kebenaran serta melawan kezaliman dengan tangannya masing masing,Tokoh-tokoh aliran Qadariyah di antaranya: Ma'bad Al-Juhani: Pendiri aliran Qadariyah yang lahir di Basrah dan meninggal pada 80 Hijriah atau 699 M. Ghaylan Al-Dimasyqi: Pendiri aliran Qadariyah yang juga dikenal dengan Abu Marwan. dan Asy'ari konsepsi ketuhanan dengan sifat-sifat yang cenderung antropomorfis, harus diabstraksi dan tidak boleh dipahami secara literal (harfiyah) dan Beberapa tokoh Asy'ariyah di antaranya: Abu Hasan al-Asy'ari: Tokoh yang menonjol bersamaan dengan Abu Manshur di Samarkan. Abu Hasan al-Asy'ari lahir di Basrah pada tahun 260 H dan wafat pada tahun 330 H. Ia merupakan peletak dasar ideologi Asy'ariyah.
Nur hidayah
Berikut adalah pandangan tentang konsep Tuhan menurut empat aliran pemikiran Islam: Mu’tazilah, Jabariah, Qadariah, dan Asy’ariah beserta tokoh-tokoh utama mereka: 1. **Mu’tazilah:** - **Pandangan:** Mu’tazilah adalah aliran yang menekankan pada rasionalitas dan kebebasan manusia dalam menentukan tindakan mereka. Mereka percaya bahwa Tuhan adalah zat yang adil dan memiliki sifat-sifat yang harus dijelaskan secara rasional. Mereka menolak konsep takdir mutlak dan lebih menekankan pada tanggung jawab moral individu. - **Tokoh-Tokoh:** Tokoh utama Mu’tazilah termasuk Wasil ibn Ata, Amr ibn Ubaid, dan Al-Nazzam. Mereka memperjuangkan konsep "al-Adl" (keadilan) dan "al-Tawhid" (keesaan Tuhan). 2. **Jabariah:** - **Pandangan:** Jabariah (atau Jabariyyah) percaya bahwa segala sesuatu, termasuk tindakan manusia, adalah hasil dari kehendak Tuhan yang mutlak. Dalam pandangan ini, manusia tidak memiliki kebebasan atau tanggung jawab moral karena segala sesuatu sudah ditentukan oleh Tuhan. - **Tokoh-Tokoh:** Aliran ini tidak memiliki tokoh tertentu yang terkenal seperti dalam aliran lainnya, tetapi pemikiran ini banyak terkait dengan ajaran-ajaran pada masa awal Islam yang menganggap Tuhan memiliki kontrol penuh atas segala sesuatu. 3. **Qadariah:** - **Pandangan:** Qadariah adalah aliran yang menekankan pada kebebasan manusia dalam menentukan tindakan mereka. Mereka percaya bahwa Tuhan memberikan kebebasan kepada manusia untuk memilih, dan manusia bertanggung jawab penuh atas perbuatannya. Ini berlawanan dengan pandangan Jabariah yang menolak kebebasan tersebut. - **Tokoh-Tokoh:** Salah satu tokoh penting dari aliran ini adalah Ma'bad al-Juhani, yang dikenal karena penekanannya pada kebebasan manusia. 4. **Asy’ariah:** - **Pandangan:** Asy’ariah adalah aliran teologi yang mengadopsi pendekatan lebih moderat. Mereka menekankan pentingnya iman dan keyakinan akan sifat-sifat Tuhan seperti yang disebutkan dalam Al-Qur'an, sambil tetap memberikan ruang bagi penggunaan akal. Mereka berpendapat bahwa meskipun Tuhan memiliki sifat-sifat tertentu, manusia harus menerima banyak hal yang tidak dapat dipahami sepenuhnya oleh akal. - **Tokoh-Tokoh:** Abu al-Hasan al-Asy’ari adalah tokoh utama dalam aliran ini. Dia dikenal karena usahanya dalam menyusun dan membela ajaran-ajaran Asy’ariah yang menjadi salah satu aliran teologi utama dalam Islam Sunni. Setiap aliran memiliki pendekatan dan pandangan unik dalam memahami konsep Tuhan dan hubungan antara kehendak Tuhan dan kebebasan manusia.
Ria Ariani
Pertama, Muktazilah. Muktazilah merupakan kaum rasionalis di kalangan umat islam. Salah satu pandangannya, bahwa orang Islam yang berbuat dosa besar, tidak kafir dan tidak mu’min. ia berada antara posisi mukmin dan kafir (manzilah baina manzilataini). Tokoh aliran Mu'tazilah diantaranya adalah Wasil bin Atha': Pelopor ajaran Mu'tazilah yang lahir di Madinah . Abu Huzail al-Allaf: Penyusun 5 ajaran pokok Mu'tazilah yang hidup pada tahun 751-849 M . An-Nazzam:Murid dari Abu Huzail al-Allaf. Abu 'Ali Muhammad bin 'Abdul Wahab/al-Jubba'i: Hidup pada tahun 849-915 M. Mu'ammar bin Abbad: Pendiri Mu'tazilah aliran Baghdad. Bisyir ibn al-Mu'tamir: Pendiri Mu'tazilah di Bagdad yang wafat pada tahun 226 H/840 M . Kedua, Qodariah. Aliran ini berpandangan bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam menentukan nasibnya sendiri. ia mempunyai kekuatan untuk menentukan apakah dirinya bahagia dan selamat atau celaka di Hari Kiamat. Hal ini manusia bertanggungjawab dengan segala perbuatan yang dia lakukan. Tokoh-tokoh Qadariyah yang pertama adalah: Ma'bad Al-Juhani, Ghailan Al-Dimasyqi, Ja'ad Ibn Dirham. Ketiga, Jabariah. Aliran ini kebalikan dari qodariah. Manusia tidak mempunyai kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri. Semua nasibnya sudah digariskan oleh Allah tentang nasib baik dan buruknya. Tokoh-tokoh utama dalam aliran Jabariyah adalah Ja'ad bin Dirham, sebagai tokoh yang pertama kali memperkenalkan paham Jabariyah Jahm bin Shafwan, sebagai tokoh yang mengembangkan paham Jabariyah. Keempat, Asy’ariah. Aliran antara qadariah dan jabariah. Aliran ini mengakui bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melakukan sesuatu yang mempunyai potensi untuk bisa mendatangkan kebaikan dan potensi untuk mendatangkan kemadharatan. Namun demikian, hasil akhir dari segala perbuatan manusia diserahkan kepada penilaian tuhan atas segala amal ibadah nya. sebab bagi aliran Asy’ariah menyakini bahwa Allah mempunyai hak preogratif untuk menentukan segala amal ibadah diterima atau ditolak oleh-Nya. Beberapa tokoh aliran Asy'ariyah di antaranya Al-Baqillani, Al-Juwaini, Al-Ghazali, Al-Sanusi, Asy'ariyah Ali bin Ismai bin Ishak bin Salim bin Ismail bin Abdullah bin Musa bin Abi Bardah bin Musa al Asy'ari.
KURNIA MUTIARA SUCI
1.Mu'tazilah salah satu aliran dalam teologi Islam, yang menggunakan pemikiran rasional untuk menjelaskan masalah ketuhanan. Secara ilmu pengetahuan pemikiran rasional Mu'tazilah terpengaruh oleh pemikiran filsafat. Mu'tazilah menggunakan metode berfikir filsafat untuk menjelaskan dan menetapkan persoalan Ketuhanan. Mu'tazilah berpandangan bahwa Tuhan telah memberikan kemerdekaan dan kebebasan bagi manusia dalam menentukan kehendak dan perbuatannya, karena Tuhan tidak mutlak dalam kehendaknya dan Tuhan mempunyai kewajiban berlaku adil, berkewajiban menempati janji, berkewajiban memberi rizki. Tokoh Utama: Abu al-Hudhayl al-Allaf, al-Nazzam, dan al-Jahiz merupakan tokoh penting di aliran mu'tazilah 2.Jabariah Aliran Jabariah berpendapat bahwa manusia tidak memiliki kebebasan dalam bertindak dan segala sesuatu yang terjadi adalah hasil dari kehendak Tuhan semata. Mereka percaya bahwa Tuhan mengendalikan segala sesuatu, dan manusia tidak memiliki peran dalam menentukan nasibnya. Konsep ini mendukung pandangan fatalisme di mana segala kejadian di dunia adalah bagian dari takdir yang ditetapkan oleh Tuhan. Tokoh Utama: Ja'ad bin Dirham dan Jahm bin Shafwan. 3.Qadariah Pandangan Berbeda dengan Jabariah, aliran Qadariah menekankan kebebasan manusia dalam memilih tindakan dan bertanggung jawab atas perbuatannya. Mereka percaya bahwa Tuhan memberikan kebebasan kepada manusia untuk memilih dan bahwa manusia memiliki kendali penuh atas tindakan mereka. Oleh karena itu, manusia harus memikul tanggung jawab atas perbuatan baik atau buruk yang mereka lakukan, dan Tuhan tidak bertanggung jawab atas perbuatan manusia. Tokoh Utama: Al-Qadi Abdul Jabbar adalah salah satu tokoh yang dikenal dalam aliran Qadariah 4.Asy'ariah Aliran Asy'ariah, yang dikenal dengan pendekatan teologis tradisional, menekankan bahwa Tuhan adalah zat yang Maha Kuasa dan segala sesuatu di dunia ini berada di bawah kekuasaannya. Mereka menerima adanya kehendak Tuhan yang mutlak dan tidak dapat dipahami sepenuhnya oleh akal manusia. Asy'ariah menekankan bahwa meskipun Tuhan memiliki kehendak mutlak, manusia tetap diberikan akal untuk memahami ajaran agama dan bertanggung jawab atas tindakan mereka dalam batas-batas yang ditentukan oleh Tuhan. Tokoh Utama: Imam Abu al-Hasan al-Ash'ari
KURNIA MUTIARA SUCI ABI 1A
1.Mu'tazilah salah satu aliran dalam teologi Islam, yang menggunakan pemikiran rasional untuk menjelaskan masalah ketuhanan. Secara ilmu pengetahuan pemikiran rasional Mu'tazilah terpengaruh oleh pemikiran filsafat. Mu'tazilah menggunakan metode berfikir filsafat untuk menjelaskan dan menetapkan persoalan Ketuhanan. Mu'tazilah berpandangan bahwa Tuhan telah memberikan kemerdekaan dan kebebasan bagi manusia dalam menentukan kehendak dan perbuatannya, karena Tuhan tidak mutlak dalam kehendaknya dan Tuhan mempunyai kewajiban berlaku adil, berkewajiban menempati janji, berkewajiban memberi rizki. Tokoh Utama: Abu al-Hudhayl al-Allaf, al-Nazzam, dan al-Jahiz merupakan tokoh penting di aliran mu'tazilah 2.Jabariah Aliran Jabariah berpendapat bahwa manusia tidak memiliki kebebasan dalam bertindak dan segala sesuatu yang terjadi adalah hasil dari kehendak Tuhan semata. Mereka percaya bahwa Tuhan mengendalikan segala sesuatu, dan manusia tidak memiliki peran dalam menentukan nasibnya. Konsep ini mendukung pandangan fatalisme di mana segala kejadian di dunia adalah bagian dari takdir yang ditetapkan oleh Tuhan. Tokoh Utama: Ja'ad bin Dirham dan Jahm bin Shafwan. 3.Qadariah Pandangan Berbeda dengan Jabariah, aliran Qadariah menekankan kebebasan manusia dalam memilih tindakan dan bertanggung jawab atas perbuatannya. Mereka percaya bahwa Tuhan memberikan kebebasan kepada manusia untuk memilih dan bahwa manusia memiliki kendali penuh atas tindakan mereka. Oleh karena itu, manusia harus memikul tanggung jawab atas perbuatan baik atau buruk yang mereka lakukan, dan Tuhan tidak bertanggung jawab atas perbuatan manusia. Tokoh Utama: Al-Qadi Abdul Jabbar adalah salah satu tokoh yang dikenal dalam aliran Qadariah 4.Asy'ariah Aliran Asy'ariah, yang dikenal dengan pendekatan teologis tradisional, menekankan bahwa Tuhan adalah zat yang Maha Kuasa dan segala sesuatu di dunia ini berada di bawah kekuasaannya. Mereka menerima adanya kehendak Tuhan yang mutlak dan tidak dapat dipahami sepenuhnya oleh akal manusia. Asy'ariah menekankan bahwa meskipun Tuhan memiliki kehendak mutlak, manusia tetap diberikan akal untuk memahami ajaran agama dan bertanggung jawab atas tindakan mereka dalam batas-batas yang ditentukan oleh Tuhan. Tokoh Utama: Imam Abu al-Hasan al-Ash'ari
KURNIA MUTIARA SUCI ABI 1A
1.Mu'tazilah salah satu aliran dalam teologi Islam, yang menggunakan pemikiran rasional untuk menjelaskan masalah ketuhanan. Secara ilmu pengetahuan pemikiran rasional Mu'tazilah terpengaruh oleh pemikiran filsafat. Mu'tazilah menggunakan metode berfikir filsafat untuk menjelaskan dan menetapkan persoalan Ketuhanan. Mu'tazilah berpandangan bahwa Tuhan telah memberikan kemerdekaan dan kebebasan bagi manusia dalam menentukan kehendak dan perbuatannya, karena Tuhan tidak mutlak dalam kehendaknya dan Tuhan mempunyai kewajiban berlaku adil, berkewajiban menempati janji, berkewajiban memberi rizki. Tokoh Utama: Abu al-Hudhayl al-Allaf, al-Nazzam, dan al-Jahiz merupakan tokoh penting di aliran mu'tazilah 2.Jabariah Aliran Jabariah berpendapat bahwa manusia tidak memiliki kebebasan dalam bertindak dan segala sesuatu yang terjadi adalah hasil dari kehendak Tuhan semata. Mereka percaya bahwa Tuhan mengendalikan segala sesuatu, dan manusia tidak memiliki peran dalam menentukan nasibnya. Konsep ini mendukung pandangan fatalisme di mana segala kejadian di dunia adalah bagian dari takdir yang ditetapkan oleh Tuhan. Tokoh Utama: Ja'ad bin Dirham dan Jahm bin Shafwan. 3.Qadariah Pandangan Berbeda dengan Jabariah, aliran Qadariah menekankan kebebasan manusia dalam memilih tindakan dan bertanggung jawab atas perbuatannya. Mereka percaya bahwa Tuhan memberikan kebebasan kepada manusia untuk memilih dan bahwa manusia memiliki kendali penuh atas tindakan mereka. Oleh karena itu, manusia harus memikul tanggung jawab atas perbuatan baik atau buruk yang mereka lakukan, dan Tuhan tidak bertanggung jawab atas perbuatan manusia. Tokoh Utama: Al-Qadi Abdul Jabbar adalah salah satu tokoh yang dikenal dalam aliran Qadariah 4.Asy'ariah Aliran Asy'ariah, yang dikenal dengan pendekatan teologis tradisional, menekankan bahwa Tuhan adalah zat yang Maha Kuasa dan segala sesuatu di dunia ini berada di bawah kekuasaannya. Mereka menerima adanya kehendak Tuhan yang mutlak dan tidak dapat dipahami sepenuhnya oleh akal manusia. Asy'ariah menekankan bahwa meskipun Tuhan memiliki kehendak mutlak, manusia tetap diberikan akal untuk memahami ajaran agama dan bertanggung jawab atas tindakan mereka dalam batas-batas yang ditentukan oleh Tuhan. Tokoh Utama: Imam Abu al-Hasan al-Ash'ari
Muhammad Ramdhan Khadafi
Mu'tazilah berpandangan bahwa Tuhan telah memberikan kemerdekaan dan kebebasan bagi manusia dalam menentukan kehendak dan perbuatannya, karena Tuhan tidak absolute dalam kehendak-Nya, dan Tuhan mempunyai kewajiban berlaku adil, berkewajiban menempati janji, berkewajiban memberi rizki. Beberapa tokoh dalam aliran Mu'tazilah adalah: Wasil bin Atha': Pelopor aliran Mu'tazilah yang lahir di Madinah Abu Huzail al-Allaf: Penyusun lima ajaran pokok Muktazilah an-Nazzam: Murid Abu Huzail al-Allaf Abu 'Ali Muhammad bin 'Abdul Wahab/al-Jubba'i: Tokoh Mu'tazilah Abu Musa al-Mudrar: Pemimpin Mu'tazilah yang dianggap ekstrim karena mudah mengafirkan orang lain Menurut Asy-Syahrastani 548 H/1153 M, Jabariyah adalah paham yang menafikan perbuatan dari hamba secara hakikat dan menyerahkan perbuatan tersebut kepada Allah. Artinya, manusia tidak punya andil sama sekali dalam melakukan perbuatannya, Tuhanlah yang menentukan segala-galanya Jabariyah memiliki keyakinan bahwa setiap manusia terpaksa oleh takdir tanpa memiliki pilihan dan usaha dalam perbuatannya. Tokoh utamanya adalah Ja'ad bin Dirham dan Jahm bin Shafwan Qadariah secara leksikal berasal dari bahasa Arab yaitu qadara artinya kemampuan dan kekuatan, sedangkan secara gramatikal Qadariah diartikan sebagai aliran yang percaya bahwa segala tindakan atau perbuatan manusia tidak diintervensi oleh Tuhan Tokoh yang berperan sebagai pendiri aliran Qadariyah ialah Ma'bad Al juhani sertaGailan Al Dimasyqi. Konsep Tuhan dalam aliran Asy'ariyah, antara lain: Keadilan Tuhan Tuhan berkusa mutlak dan berbuat sekehendak-Nya. Keadilan Tuhan tidak terikat pada konsep reward dan punishment manusia. Sifat Tuhan Tuhan memiliki sifat-sifat, seperti al-'ilm, al-qudrat, al-sama' al-basar, al-hayah, dan iradah. Namun, semua ini dikatakan la yukayyaf wa la yuhadd (tanpa diketahui bagaimana cara dan batasnya). Tauhid Konsep tauhid menurut Asy'ariyah dapat dibagi ke dalam tiga aspek, yaitu dzat, shifat, dan af'al. Dalam aspek dzat, Allah sebagai satu-satunya entitas yang tidak bermula dan tidak berakhir (qadim dan baqa). Memahami Al-Qur'an dan hadis Asy'ariyah menyeimbangkan akal (rasional) dengan tekstual ayat (nash) dalam memahami Al-Qur'an dan hadis. Beberapa tokoh aliran Asy'ariyah adalah: Al-Baqillani, Al-Juwaini, Al-Ghazali, Al-Sanusi
FEBIOLA
Pertama, Muktazilah. Muktazilah merupakan kaum rasionalis di kalangan umat islam. Salah satu pandangannya, bahwa orang Islam yang berbuat dosa besar, tidak kafir dan tidak mu’min. ia berada antara posisi mukmin dan kafir (manzilah baina manzilataini). Kedua, Qodariah. Aliran ini berpandangan bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam menentukan nasibnya sendiri. ia mempunyai kekuatan untuk menentukan apakah dirinya bahagia dan selamat atau celaka di Hari Kiamat. Hal ini manusia bertanggungjawab dengan segala perbuatan yang dia lakukan. Ketiga, Jabariah. Aliran ini kebalikan dari qodariah. Manusia tidak mempunyai kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri. Semua nasibnya sudah digariskan oleh Allah tentang nasib baik dan buruknya. Keempat, Asy’ariah. Aliran antara qadariah dan jabariah. Aliran ini mengakui bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melakukan sesuatu yang mempunyai potensi untuk bisa mendatangkan kebaikan dan potensi untuk mendatangkan kemadharatan. Namun demikian, hasil akhir dari segala perbuatan manusia diserahkan kepada penilaian tuhan atas segala amal ibadah nya. sebab bagi aliran Asy’ariah menyakini bahwa Allah mempunyai hak preogratif untuk menentukan segala amal ibadah diterima atau ditolak oleh-Nya. Beberapa Tokoh Mu’tazilah diantaranya: 1. Washil bin Atha (80 – 131 H) 2. Abu Huzail Al-Allaf (135 -235 H) 3. Al-Jubba’i (302 H) 4. An-Nazzam (184-221 H) 5. Al-Qadhi Abdul Jabbar (wafat 1024 H) 6. Al-Khayyat (wafat 300 H) 7. Bisyir Al-Mu’tamar (wafat 226 H) 8. Az-Zamakhsyari (467-538 H) Beberapa Tokoh Jabariah diantaranya: 1.Ja’ad bin Dirham 2.Jahm bin Safwan. Beberapa Tokoh Qadariah diantaranya: 1. Ma’bad Al juhani 2.Gailan Al Dimasyqi Beberapa Tokoh Asy'ariah diantaranya: 1. Al-Ghazali (450-505 H/1056-1111 M) 2. Al-Imam Fakhrurrazzi (544/606 H/1150-1210 M) 3. Abu Ishaq Al-Isfirayini (Wafat 418 H/1027 M) 4. Al-Qadhi Abu Bakar Al-Baqilani (328-402 H/950-1013 M) 5. Abu Ishaq Asy-Syirahi (293-476 H/1003-1083 M)
Lia Mirza
Berikut ini aliran-aliran konsep ketuhanan dalam islam. Pertama, Muktazilah. Muktazilah merupakan kaum rasionalis di kalangan umat islam. Salah satu pandangannya, bahwa orang Islam yang berbuat dosa besar, tidak kafir dan tidak mu’min. ia berada antara posisi mukmin dan kafir (manzilah baina manzilataini).Tokoh terkemuka Mu'tazilah termasuk Al-Jahiz, Al-Nazzam, dan Abu al-Hudhayl al-‘Allaf. Kedua, Qodariah. Aliran ini berpandangan bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam menentukan nasibnya sendiri. ia mempunyai kekuatan untuk menentukan apakah dirinya bahagia dan selamat atau celaka di Hari Kiamat. Hal ini manusia bertanggungjawab dengan segala perbuatan yang dia lakukan.Tokoh utama mereka termasuk Ma'bad al-Juhani dan Ghaylan al-Dimashqi. Ketiga, Jabariah. Aliran ini kebalikan dari qodariah. Manusia tidak mempunyai kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri. Semua nasibnya sudah digariskan oleh Allah tentang nasib baik dan buruknya. Keempat, Asy’ariah. Aliran antara qadariah dan jabariah. Aliran ini mengakui bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melakukan sesuatu yang mempunyai potensi untuk bisa mendatangkan kebaikan dan potensi untuk mendatangkan kemadharatan. Namun demikian, hasil akhir dari segala perbuatan manusia diserahkan kepada penilaian tuhan atas segala amal ibadah nya. sebab bagi aliran Asy’ariah menyakini bahwa Allah mempunyai hak preogratif untuk menentukan segala amal ibadah diterima atau ditolak oleh-Nya.
Aidatul Khosanah
Semua manusia percaya akan adanya tuhan yang telah menciptakan langit, bumi dan seisinya. Ada dari beberapa orang yang tidak percaya akan adanya tuhan bahkan dia ragu atas apa yg telah diciptakan oleh tuhan dan mereka lebih memilih tidak bertuhan dan tidak memeluk agama. Muktazilah adalah kaum rasional dikalangan umat islam. Dia berada di posisi mukmin dan kafir tokohnya yaitu:Wasil bin Atha' al-Ghazzal. Qodiriah adalah aliran pandangan bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam menentukan nasib tokohnya:Ma'bad Al-Juhani. Jabariah adalah kebalikan dari qodariah yaitu tidak mempunyai kemampuan untuk menentukan nasib sendiri:Jahm bin Shafwan. Asy'ariah adalah mengakui bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melakukan sesuatu yang berpotensi menimbulkan kebaikan tokohnya:Abu Hasan al-Asy'ar
Lia Mirza
Berikut ini aliran-aliran konsep ketuhanan dalam islam. Pertama, Muktazilah. Muktazilah merupakan kaum rasionalis di kalangan umat islam. Salah satu pandangannya, bahwa orang Islam yang berbuat dosa besar, tidak kafir dan tidak mu’min. ia berada antara posisi mukmin dan kafir (manzilah baina manzilataini).Tokoh terkemuka Mu'tazilah termasuk Al-Jahiz, Al-Nazzam, dan Abu al-Hudhayl al-‘Allaf. Kedua, Qodariah. Aliran ini berpandangan bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam menentukan nasibnya sendiri. ia mempunyai kekuatan untuk menentukan apakah dirinya bahagia dan selamat atau celaka di Hari Kiamat. Hal ini manusia bertanggungjawab dengan segala perbuatan yang dia lakukan.Tokoh utama mereka termasuk Ma'bad al-Juhani dan Ghaylan al-Dimashqi. Ketiga, Jabariah. Aliran ini kebalikan dari qodariah. Manusia tidak mempunyai kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri. Semua nasibnya sudah digariskan oleh Allah tentang nasib baik dan buruknya. Keempat, Asy’ariah. Aliran antara qadariah dan jabariah. Aliran ini mengakui bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melakukan sesuatu yang mempunyai potensi untuk bisa mendatangkan kebaikan dan potensi untuk mendatangkan kemadharatan. Namun demikian, hasil akhir dari segala perbuatan manusia diserahkan kepada penilaian tuhan atas segala amal ibadah nya. sebab bagi aliran Asy’ariah menyakini bahwa Allah mempunyai hak preogratif untuk menentukan segala amal ibadah diterima atau ditolak oleh-Nya.
Lia Mirza
Berikut ini aliran-aliran konsep ketuhanan dalam islam. Pertama, Muktazilah. Muktazilah merupakan kaum rasionalis di kalangan umat islam. Salah satu pandangannya, bahwa orang Islam yang berbuat dosa besar, tidak kafir dan tidak mu’min. ia berada antara posisi mukmin dan kafir (manzilah baina manzilataini).Tokoh terkemuka Mu'tazilah termasuk Al-Jahiz, Al-Nazzam, dan Abu al-Hudhayl al-‘Allaf. Kedua, Qodariah. Aliran ini berpandangan bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam menentukan nasibnya sendiri. ia mempunyai kekuatan untuk menentukan apakah dirinya bahagia dan selamat atau celaka di Hari Kiamat. Hal ini manusia bertanggungjawab dengan segala perbuatan yang dia lakukan.Tokoh utama mereka termasuk Ma'bad al-Juhani dan Ghaylan al-Dimashqi. Ketiga, Jabariah. Aliran ini kebalikan dari qodariah. Manusia tidak mempunyai kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri. Semua nasibnya sudah digariskan oleh Allah tentang nasib baik dan buruknya. Keempat, Asy’ariah. Aliran antara qadariah dan jabariah. Aliran ini mengakui bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melakukan sesuatu yang mempunyai potensi untuk bisa mendatangkan kebaikan dan potensi untuk mendatangkan kemadharatan. Namun demikian, hasil akhir dari segala perbuatan manusia diserahkan kepada penilaian tuhan atas segala amal ibadah nya. sebab bagi aliran Asy’ariah menyakini bahwa Allah mempunyai hak preogratif untuk menentukan segala amal ibadah diterima atau ditolak oleh-Nya.
Lia Mirza
Berikut ini aliran-aliran konsep ketuhanan dalam islam. Pertama, Muktazilah. Muktazilah merupakan kaum rasionalis di kalangan umat islam. Salah satu pandangannya, bahwa orang Islam yang berbuat dosa besar, tidak kafir dan tidak mu’min. ia berada antara posisi mukmin dan kafir (manzilah baina manzilataini).Tokoh terkemuka Mu'tazilah termasuk Al-Jahiz, Al-Nazzam, dan Abu al-Hudhayl al-‘Allaf. Kedua, Qodariah. Aliran ini berpandangan bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam menentukan nasibnya sendiri. ia mempunyai kekuatan untuk menentukan apakah dirinya bahagia dan selamat atau celaka di Hari Kiamat. Hal ini manusia bertanggungjawab dengan segala perbuatan yang dia lakukan.Tokoh utama mereka termasuk Ma'bad al-Juhani dan Ghaylan al-Dimashqi. Ketiga, Jabariah. Aliran ini kebalikan dari qodariah. Manusia tidak mempunyai kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri. Semua nasibnya sudah digariskan oleh Allah tentang nasib baik dan buruknya. Keempat, Asy’ariah. Aliran antara qadariah dan jabariah. Aliran ini mengakui bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melakukan sesuatu yang mempunyai potensi untuk bisa mendatangkan kebaikan dan potensi untuk mendatangkan kemadharatan. Namun demikian, hasil akhir dari segala perbuatan manusia diserahkan kepada penilaian tuhan atas segala amal ibadah nya. sebab bagi aliran Asy’ariah menyakini bahwa Allah mempunyai hak preogratif untuk menentukan segala amal ibadah diterima atau ditolak oleh-Nya.
Lia Mirza
Berikut ini aliran-aliran konsep ketuhanan dalam islam. Pertama, Muktazilah. Muktazilah merupakan kaum rasionalis di kalangan umat islam. Salah satu pandangannya, bahwa orang Islam yang berbuat dosa besar, tidak kafir dan tidak mu’min. ia berada antara posisi mukmin dan kafir (manzilah baina manzilataini).Tokoh terkemuka Mu'tazilah termasuk Al-Jahiz, Al-Nazzam, dan Abu al-Hudhayl al-‘Allaf. Kedua, Qodariah. Aliran ini berpandangan bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam menentukan nasibnya sendiri. ia mempunyai kekuatan untuk menentukan apakah dirinya bahagia dan selamat atau celaka di Hari Kiamat. Hal ini manusia bertanggungjawab dengan segala perbuatan yang dia lakukan.Tokoh utama mereka termasuk Ma'bad al-Juhani dan Ghaylan al-Dimashqi. Ketiga, Jabariah. Aliran ini kebalikan dari qodariah. Manusia tidak mempunyai kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri. Semua nasibnya sudah digariskan oleh Allah tentang nasib baik dan buruknya. Keempat, Asy’ariah. Aliran antara qadariah dan jabariah. Aliran ini mengakui bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melakukan sesuatu yang mempunyai potensi untuk bisa mendatangkan kebaikan dan potensi untuk mendatangkan kemadharatan. Namun demikian, hasil akhir dari segala perbuatan manusia diserahkan kepada penilaian tuhan atas segala amal ibadah nya. sebab bagi aliran Asy’ariah menyakini bahwa Allah mempunyai hak preogratif untuk menentukan segala amal ibadah diterima atau ditolak oleh-Nya.
Putri savika
Mu'tazilah berpandangan bahwa Tuhan telah memberikan kemerdekaan dan kebebasan bagi manusia dalam menentukan kehendak dan perbuatannya, karena Tuhan tidak absolute dalam kehendak-Nya, dan Tuhan mempunyai kewajiban berlaku adil, berkewajiban menempati janji, berkewajiban memberi rizki. Beberapa tokoh dalam aliran Mu'tazilah adalah: Wasil bin Atha': Pelopor aliran Mu'tazilah yang lahir di Madinah Abu Huzail al-Allaf: Penyusun lima ajaran pokok Muktazilah an-Nazzam: Murid Abu Huzail al-Allaf Abu 'Ali Muhammad bin 'Abdul Wahab/al-Jubba'i: Tokoh Mu'tazilah Abu Musa al-Mudrar: Pemimpin Mu'tazilah yang dianggap ekstrim karena mudah mengafirkan orang lain Menurut Asy-Syahrastani 548 H/1153 M, Jabariyah adalah paham yang menafikan perbuatan dari hamba secara hakikat dan menyerahkan perbuatan tersebut kepada Allah. Artinya, manusia tidak punya andil sama sekali dalam melakukan perbuatannya, Tuhanlah yang menentukan segala-galanya Jabariyah memiliki keyakinan bahwa setiap manusia terpaksa oleh takdir tanpa memiliki pilihan dan usaha dalam perbuatannya. Tokoh utamanya adalah Ja'ad bin Dirham dan Jahm bin Shafwan Qadariah secara leksikal berasal dari bahasa Arab yaitu qadara artinya kemampuan dan kekuatan, sedangkan secara gramatikal Qadariah diartikan sebagai aliran yang percaya bahwa segala tindakan atau perbuatan manusia tidak diintervensi oleh Tuhan Tokoh yang berperan sebagai pendiri aliran Qadariyah ialah Ma'bad Al juhani sertaGailan Al Dimasyqi. Konsep Tuhan dalam aliran Asy'ariyah, antara lain: Keadilan Tuhan Tuhan berkusa mutlak dan berbuat sekehendak-Nya. Keadilan Tuhan tidak terikat pada konsep reward dan punishment manusia. Sifat Tuhan Tuhan memiliki sifat-sifat, seperti al-'ilm, al-qudrat, al-sama' al-basar, al-hayah, dan iradah. Namun, semua ini dikatakan la yukayyaf wa la yuhadd (tanpa diketahui bagaimana cara dan batasnya). Tauhid Konsep tauhid menurut Asy'ariyah dapat dibagi ke dalam tiga aspek, yaitu dzat, shifat, dan af'al. Dalam aspek dzat, Allah sebagai satu-satunya entitas yang tidak bermula dan tidak berakhir (qadim dan baqa). Memahami Al-Qur'an dan hadis Asy'ariyah menyeimbangkan akal (rasional) dengan tekstual ayat (nash) dalam memahami Al-Qur'an dan hadis. Beberapa tokoh aliran Asy'ariyah adalah: Al-Baqillani, Al-Juwaini, Al-Ghazali, Al-Sanusi
Qirna Balqis
Muktazilah merupakan kaum rasionalis di kalangan umat islam. Salah satu pandangannya, bahwa orang Islam yang berbuat dosa besar, tidak kafir dan tidak mu’min. ia berada antara posisi mukmin dan kafir (manzilah baina manzilataini). tokoh : an-nazam,Abu Huzail al-allaf,Abu 'Ali Muhammad bin 'Abdul Wahab/al-jubba'i Jabariah. Aliran ini kebalikan dari qodariah. Manusia tidak mempunyai kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri. Semua nasibnya sudah digariskan oleh Allah tentang nasib baik dan buruknya. Tokohnya Ja'ad bin Dirham dan Jahm bin Shafwan. Qodariah. Aliran ini berpandangan bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam menentukan nasibnya sendiri. ia mempunyai kekuatan untuk menentukan apakah dirinya bahagia dan selamat atau celaka di Hari Kiamat. Hal ini manusia bertanggungjawab dengan segala perbuatan yang dia lakukan. Tokohnya Ma'bad Al Juhani serta Ghaylan Al Dimasyqi. Asy’ariah. Aliran antara qadariah dan jabariah. Aliran ini mengakui bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melakukan sesuatu yang mempunyai potensi untuk bisa mendatangkan kebaikan dan potensi untuk mendatangkan kemadharatan. Namun demikian, hasil akhir dari segala perbuatan manusia diserahkan kepada penilaian tuhan atas segala amal ibadah nya. sebab bagi aliran Asy’ariah menyakini bahwa Allah mempunyai hak preogratif untuk menentukan segala amal ibadah diterima atau ditolak oleh-Nya. Tokohnya tokoh aliran Asy'ariyah adalah, Abu Hasan Al Asy'ary, Imam Ghazali (450-505 H/ 1058-1111M), Imam Fakhrurrazi (544-606H/ 1150-1210), Abu Ishaq Al Isfirayini (w 418/1027), Abu Bakar Al Baqilani (328-402 H/950-1013 M), dan Abu Ishaq Asy Syirazi (293-476 H/ 1003-1083 M.
Rifqi Agustiawan
Pertama, Muktazilah. Muktazilah merupakan kaum rasionalis di kalangan umat islam. Salah satu pandangannya, bahwa orang Islam yang berbuat dosa besar, tidak kafir dan tidak mu’min. ia berada antara posisi mukmin dan kafir (manzilah baina manzilataini). Kedua, Qodariah. Aliran ini berpandangan bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam menentukan nasibnya sendiri. ia mempunyai kekuatan untuk menentukan apakah dirinya bahagia dan selamat atau celaka di Hari Kiamat. Hal ini manusia bertanggungjawab dengan segala perbuatan yang dia lakukan. Ketiga, Jabariah. Aliran ini kebalikan dari qodariah. Manusia tidak mempunyai kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri. Semua nasibnya sudah digariskan oleh Allah tentang nasib baik dan buruknya. Keempat, Asy’ariah. Aliran antara qadariah dan jabariah. Aliran ini mengakui bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melakukan sesuatu yang mempunyai potensi untuk bisa mendatangkan kebaikan dan potensi untuk mendatangkan kemadharatan. Namun demikian, hasil akhir dari segala perbuatan manusia diserahkan kepada penilaian tuhan atas segala amal ibadah nya. sebab bagi aliran Asy’ariah menyakini bahwa Allah mempunyai hak preogratif untuk menentukan segala amal ibadah diterima atau ditolak oleh-Nya. Tokoh mu'tazilah: 1.wasil bin atha 2.abu huzail al allaf 3.an nazzam 4.abu ali muhammad bin abdul wahab Tokoh tokoh jabariah 1.ja'ad bin dirham 2.an najjar Tokoh tokoh jabariyah 1.ma'bad al juhanii Tokoh tokoh asy'ariyah 1.al baqilani 2.al juaini 3.al ghazali 4.al sanusi
Nurul Asyikin
Muktazilah merupakan kaum rasionalis di kalangan umat islam. Salah satu pandangannya, bahwa orang Islam yang berbuat dosa besar, tidak kafir dan tidak mu’min. ia berada antara posisi mukmin dan kafir (manzilah baina manzilataini).Pertama, Muktazilah. Muktazilah merupakan kaum rasionalis di kalangan umat islam. Salah satu pandangannya, bahwa orang Islam yang berbuat dosa besar, tidak kafir dan tidak mu’min. ia berada antara posisi mukmin dan kafir (manzilah baina manzilataini). Kedua, Qodariah. Aliran ini berpandangan bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam menentukan nasibnya sendiri. ia mempunyai kekuatan untuk menentukan apakah dirinya bahagia dan selamat atau celaka di Hari Kiamat. Hal ini manusia bertanggungjawab dengan segala perbuatan yang dia lakukan. Ketiga, Jabariah. Aliran ini kebalikan dari qodariah. Manusia tidak mempunyai kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri. Semua nasibnya sudah digariskan oleh Allah tentang nasib baik dan buruknya.Keempat, Asy’ariah. Aliran antara qadariah dan jabariah. Aliran ini mengakui bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melakukan sesuatu yang mempunyai potensi untuk bisa mendatangkan kebaikan dan potensi untuk mendatangkan kemadharatan . Tokoh Mu'tazilah yaitu: 1.Washil bin Atha Al-Ghazal 2.Mu'ammar bin Abbad Tokoh Jabariah yaitu: 1.Ja'ad bin Dirham. 2.Jahm bin Shafwan. 3.Al-Husain bin Muhammad 4An-Najjar Tokoh Qadariah yaitu: 1.Ja'ad bin Dirham 2.Jahm bin Shafwan. Tokoh Asy'ariyah yaitu: Abu Hasan Al Asy'ary, Imam Ghazali (450-505 H/ 1058-1111M), Imam Fakhrurrazi (544-606H/ 1150-1210), Abu Ishaq Al Isfirayini (w 418/1027), Abu Bakar Al Baqilani (328-402 H/950-1013 M), dan Abu Ishaq Asy Syirazi (293-476 H/ 1003-1083 M.
Dhea Novita Sari
1. Muktazilah. Muktazilah merupakan kaum rasionalis di kalangan umat islam. Salah satu pandangannya, bahwa orang Islam yang berbuat dosa besar, tidak kafir dan tidak mu’min. ia berada antara posisi mukmin dan kafir (manzilah baina manzilataini). tokoh tokoh mu'tazilah: Washil bin Atha, Abu Huzail al-allaf, an-nazzam, Abu Ali Muhammad bin Abdul Wahab/aljubba'i 2. Qodariah. Aliran ini berpandangan bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam menentukan nasibnya sendiri. ia mempunyai kekuatan untuk menentukan apakah dirinya bahagia dan selamat atau celaka di Hari Kiamat. Hal ini manusia bertanggungjawab dengan segala perbuatan yang dia lakukan. tokoh tokoh Qodariah: Ma'had Al Juhani dan Ghaylan Al DimasyqiJabariah. 3. Aliran ini kebalikan dari qodariah. Manusia tidak mempunyai kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri. Semua nasibnya sudah digariskan oleh Allah tentang nasib baik dan buruknya. tokoh tokoh Jabarian: Ja'ad bin Dirham dan jahm bin Shafwan 4. Asy’ariah. Aliran antara qadariah dan jabariah. Aliran ini mengakui bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melakukan sesuatu yang mempunyai potensi untuk bisa mendatangkan kebaikan dan potensi untuk mendatangkan kemadharatan. Namun demikian, hasil akhir dari segala perbuatan manusia diserahkan kepada penilaian tuhan atas segala amal ibadah nya. sebab bagi aliran Asy’ariah menyakini bahwa Allah mempunyai hak preogratif untuk menentukan segala amal ibadah diterima atau ditolak oleh-Nya. tokoh tokoh Asy'ariah: Abu Hasan Al Asy'ari, imam Ghazali, imam fakhrurrazi, abu Ishaq Al isfirayini, Abu Bakar Al baqilani dan abu Ishaq asy ayirazi.
NURSYAHIRA ANANDA ABI 1A
Pertama, Muktazilah. Muktazilah merupakan kaum rasionalis di kalangan umat islam. Salah satu pandangannya, bahwa orang Islam yang berbuat dosa besar, tidak kafir dan tidak mu’min. ia berada antara posisi mukmin dan kafir (manzilah baina manzilataini). Kedua, Qodariah. Aliran ini berpandangan bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam menentukan nasibnya sendiri. ia mempunyai kekuatan untuk menentukan apakah dirinya bahagia dan selamat atau celaka di Hari Kiamat. Hal ini manusia bertanggungjawab dengan segala perbuatan yang dia lakukan. Ketiga, Jabariah. Aliran ini kebalikan dari qodariah. Manusia tidak mempunyai kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri. Semua nasibnya sudah digariskan oleh Allah tentang nasib baik dan buruknya. Keempat, Asy’ariah. Aliran antara qadariah dan jabariah. Aliran ini mengakui bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melakukan sesuatu yang mempunyai potensi untuk bisa mendatangkan kebaikan dan potensi untuk mendatangkan kemadharatan. Namun demikian, hasil akhir dari segala perbuatan manusia diserahkan kepada penilaian tuhan atas segala amal ibadah nya. sebab bagi aliran Asy’ariah menyakini bahwa Allah mempunyai hak preogratif untuk menentukan segala amal ibadah diterima atau ditolak oleh-Nya. Tokoh-tokoh Pendiri Aliran Al-Jabariyah Pada aliran Al-Jabariah dibagi menjadi dua kutub tokoh yang dibedakan berdasarkan corak pemikirannya. Antara lain tokoh-tokoh Jabariyah ekstrim/murni yaitu Ja’ad bin Dirham dan Jahm bin Safwan. Sedangkan dikubu moderat muncul tokoh seperti An-Najar dan Adh-Dhirar. Tokoh-tokoh Pendiri Aliran Al-Qadariyah Tokoh yang berperan sebagai pendiri aliran Qadariyah ialah Ma’bad Al juhani sertaGailan Al Dimasyqi. Ma’bad Al Juhani lahir di Basrah dan wafat pada 80 Hijriah atau 699 M. Ia termasuk dalam generasi tabiin. Ma’bad dikenal pun sebagai ahli hadis. Sedangkan Ghailan lahir di Damaskus dan dikenal sebagai seorang orator sekaligus ahli debat, Ghailan wafat pada tahun 105 H atau 722 M. Aliran Qadariyah, dipelopori oleh kedua tokoh tersebut mulai muncul usia adanya pergantian kekhalifahan Rasyidin di Dinasti Umayyah. Tepatnya pada era usai terjadi perpecahan umat Islam,karena Khalifah Ali bin Abi Thalib terbunuh lalu Muawiyah bin Abu Sufyan naik tahta dan menjadi khalifah pertama di diasti Umayyah. Tokoh-Tokoh Aliran Al-Asy’ariah Tokoh Pendiri Aliran Teologi Asy’ariyah adalah Abu Hasan Ali bin Ismail bin Abi Basyar Ishaq bin Salim bin Abi Burdah Amir bin Abi Musa Al-Asy’ari. Tokoh lain yang meneruskan Pemikiran Asy’ariyah adalah: 1. Al-Ghazali (450-505 H/1056-1111 M) 2. Al-Imam Fakhrurrazzi (544/606 H/1150-1210 M) 3. Abu Ishaq Al-Isfirayini (Wafat 418 H/1027 M) 4. Al-Qadhi Abu Bakar Al-Baqilani (328-402 H/950-1013 M) 5. Abu Ishaq Asy-Syirahi (293-476 H/1003-1083 M) Tokoh-Tokoh Aliran Al-Mu’tazilah Beberapa Tokoh Mu’tazilah diantaranya: 1. Washil bin Atha (80 – 131 H) 2. Abu Huzail Al-Allaf (135 -235 H) 3. Al-Jubba’i (302 H) 4. An-Nazzam (184-221 H) 5. Al-Qadhi Abdul Jabbar (wafat 1024 H) 6. Al-Khayyat (wafat 300 H) 7. Bisyir Al-Mu’tamar (wafat 226 H) 8. Az-Zamakhsyari (467-538 H)
Lia Mirza
Mu'tazilah berpandangan bahwa Tuhan telah memberikan kemerdekaan dan kebebasan bagi manusia dalam menentukan kehendak dan perbuatannya, karena Tuhan tidak absolute dalam kehendak-Nya, dan Tuhan mempunyai kewajiban berlaku adil, berkewajiban menempati janji, berkewajiban memberi rizki. Beberapa tokoh dalam aliran Mu'tazilah adalah: Wasil bin Atha': Pelopor aliran Mu'tazilah yang lahir di Madinah Abu Huzail al-Allaf: Penyusun lima ajaran pokok Muktazilah an-Nazzam: Murid Abu Huzail al-Allaf Abu 'Ali Muhammad bin 'Abdul Wahab/al-Jubba'i: Tokoh Mu'tazilah Abu Musa al-Mudrar: Pemimpin Mu'tazilah yang dianggap ekstrim karena mudah mengafirkan orang lain Menurut Asy-Syahrastani 548 H/1153 M, Jabariyah adalah paham yang menafikan perbuatan dari hamba secara hakikat dan menyerahkan perbuatan tersebut kepada Allah. Artinya, manusia tidak punya andil sama sekali dalam melakukan perbuatannya, Tuhanlah yang menentukan segala-galanya Jabariyah memiliki keyakinan bahwa setiap manusia terpaksa oleh takdir tanpa memiliki pilihan dan usaha dalam perbuatannya. Tokoh utamanya adalah Ja'ad bin Dirham dan Jahm bin Shafwan Qadariah secara leksikal berasal dari bahasa Arab yaitu qadara artinya kemampuan dan kekuatan, sedangkan secara gramatikal Qadariah diartikan sebagai aliran yang percaya bahwa segala tindakan atau perbuatan manusia tidak diintervensi oleh Tuhan Tokoh yang berperan sebagai pendiri aliran Qadariyah ialah Ma'bad Al juhani sertaGailan Al Dimasyqi. Konsep Tuhan dalam aliran Asy'ariyah, antara lain: Keadilan Tuhan Tuhan berkusa mutlak dan berbuat sekehendak-Nya. Keadilan Tuhan tidak terikat pada konsep reward dan punishment manusia. Sifat Tuhan Tuhan memiliki sifat-sifat, seperti al-'ilm, al-qudrat, al-sama' al-basar, al-hayah, dan iradah. Namun, semua ini dikatakan la yukayyaf wa la yuhadd (tanpa diketahui bagaimana cara dan batasnya). Tauhid Konsep tauhid menurut Asy'ariyah dapat dibagi ke dalam tiga aspek, yaitu dzat, shifat, dan af'al. Dalam aspek dzat, Allah sebagai satu-satunya entitas yang tidak bermula dan tidak berakhir (qadim dan baqa). Memahami Al-Qur'an dan hadis Asy'ariyah menyeimbangkan akal (rasional) dengan tekstual ayat (nash) dalam memahami Al-Qur'an dan hadis. Beberapa tokoh aliran Asy'ariyah adalah: Al-Baqillani, Al-Juwaini, Al-Ghazali, Al-Sanusi
IRMAWATI
Mu'tazilah berpandangan bahwa Tuhan telah memberikan kemerdekaan dan kebebasan bagi manusia dalam menentukan kehendak dan perbuatannya, karena Tuhan tidak absolute dalam kehendak-Nya, dan Tuhan mempunyai kewajiban berlaku adil, berkewajiban menempati janji, berkewajiban memberi rizki. tokoh tokoh nya adalah: Washil bin Atha‟ al-Ghazzal (80-131 H), Abul al-Huzail al-Allaf (135-226 H/753-840 M), Ibrahim bin Syyar an-Nazzam (wafat 231 H/845 M), Abu Ali Muhammad ibn Ali al-Jubba‟i (135-267 H) Jabariyah adalah sebuah ideologi dan sekte bidah di dalam akidah yang muncul pada abad ke-2 hijriah di Khurasan. Jabariyah memiliki keyakinan bahwa setiap manusia terpaksa oleh takdir tanpa memiliki pilihan dan usaha dalam perbuatannya. Tokoh utamanya adalah Ja'ad bin Dirham dan Jahm bin Shafwan. Tokoh yang berperan sebagai pendiri aliran qadariyah ialah Ma'bad Al Juhani serta Ghaylan Al Dimasyqi. Nama pertama yaitu Ma'bad Al Juhani tercatat lebih senior dibandingkan nama kedua. Ma'bad Al Juhani lahir di Basrah dan wafat pada 80 Hijriah atau 699 M. Ia termasuk dalam generasi tabiin. Keadilan Tuhan, menurut Asy`ariyah, Tuhan berkusa mutlak dan tak ada satupun yang wajib bagi-Nya. Tuhan berbuat sekehendak-Nya, sehingga memasukkan seluruh manusia ke dalam surga bukanlah Tuhan bersifat tidak adil dan jika memasukkan seluruh manusia ke dalam neraka tidaklah Tuhan bersifat dzalim Tokoh tersebut ialah al-Baqillani, al-Juwaini, dan al-Ghazali.
LIS MARDELINA
- Muktazilah merupakan kaum rasionalis di kalangan umat islam. Salah satu pandangannya, bahwa orang Islam yang berbuat dosa besar, tidak kafir dan tidak mu’min. ia berada antara posisi mukmin dan kafir (manzilah baina manzilataini). - Tokoh-tokoh -Wasil bin Atha', lahir di Madinah, pelopor ajaran ini. -Abu Huzail al-Allaf (751-849 M), penyusun 5 ajaran pokok Muktazilah. -an-Nazzam, murid Abu Huzail al-Allaf. -Abu 'Ali Muhammad bin 'Abdul Wahab/al-Jubba'i (849-915 M). Harun Ar-Rasyid, khalifah Abbasiyah. -Al-Ma'mun. - Qodariah. Aliran ini berpandangan bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam menentukan nasibnya sendiri. ia mempunyai kekuatan untuk menentukan apakah dirinya bahagia dan selamat atau celaka di Hari Kiamat. Hal ini manusia bertanggungjawab dengan segala perbuatan yang dia lakukan. - Tokoh-tokoh -Ma'bad Al-Juhani: Pendiri aliran Qadariyah yang lahir di Basrah dan meninggal pada 80 Hijriah atau 699 M. -Ghaylan Al-Dimasyqi: Pendiri aliran Qadariyah yang juga dikenal dengan Abu Marwan. - Jabariah. Aliran ini kebalikan dari qodariah. Manusia tidak mempunyai kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri. Semua nasibnya sudah digariskan oleh Allah tentang nasib baik dan buruknya. - Tokoh-tokoh -Jahm bin Shafwan -Al-Ja’ad bin Dirham -Husain bin Muhammad al-Najjar -Dirar Ibn ‘Amr - Asy’ariah. Aliran antara qadariah dan jabariah. Aliran ini mengakui bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melakukan sesuatu yang mempunyai potensi untuk bisa mendatangkan kebaikan dan potensi untuk mendatangkan kemadharatan. Namun demikian, hasil akhir dari segala perbuatan manusia diserahkan kepada penilaian tuhan atas segala amal ibadah nya. sebab bagi aliran Asy’ariah menyakini bahwa Allah mempunyai hak preogratif untuk menentukan segala amal ibadah diterima atau ditolak oleh-Nya. - Tokoh-tokoh -Al-Ghazali (450-505 H/1056-1111 M) -Al-Imam Fakhrurrazzi (544/606 H/1150-1210 M) -Abu Ishaq Al-Isfirayini (Wafat 418 H/1027 M) -Al-Qadhi Abu Bakar Al-Baqilani (328-402 H/950-1013 M) -Abu Ishaq Asy-Syirahi (293-476 H/1003-1083 M)
Nur Alizawadi
Mu'tazilah berpandangan bahwa Tuhan telah memberikan kemerdekaan dan kebebasan bagi manusia dalam menentukan kehendak dan perbuatannya, karena Tuhan tidak absolute dalam kehendak-Nya, dan Tuhan mempunyai kewajiban berlaku adil, berkewajiban menempati janji, berkewajiban memberi rizki. Beberapa tokoh dalam aliran Mu'tazilah adalah: Wasil bin Atha': Pelopor aliran Mu'tazilah yang lahir di Madinah Abu Huzail al-Allaf: Penyusun lima ajaran pokok Muktazilah an-Nazzam: Murid Abu Huzail al-Allaf Abu 'Ali Muhammad bin 'Abdul Wahab/al-Jubba'i: Tokoh Mu'tazilah Abu Musa al-Mudrar: Pemimpin Mu'tazilah yang dianggap ekstrim karena mudah mengafirkan orang lain Menurut Asy-Syahrastani 548 H/1153 M, Jabariyah adalah paham yang menafikan perbuatan dari hamba secara hakikat dan menyerahkan perbuatan tersebut kepada Allah. Artinya, manusia tidak punya andil sama sekali dalam melakukan perbuatannya, Tuhanlah yang menentukan segala-galanya Jabariyah memiliki keyakinan bahwa setiap manusia terpaksa oleh takdir tanpa memiliki pilihan dan usaha dalam perbuatannya. Tokoh utamanya adalah Ja'ad bin Dirham dan Jahm bin Shafwan Mu'tazilah berpandangan bahwa Tuhan telah memberikan kemerdekaan dan kebebasan bagi manusia dalam menentukan kehendak dan perbuatannya, karena Tuhan tidak absolute dalam kehendak-Nya, dan Tuhan mempunyai kewajiban berlaku adil, berkewajiban menempati janji, berkewajiban memberi rizki. Beberapa tokoh dalam aliran Mu'tazilah adalah: Wasil bin Atha': Pelopor aliran Mu'tazilah yang lahir di Madinah Abu Huzail al-Allaf: Penyusun lima ajaran pokok Muktazilah an-Nazzam: Murid Abu Huzail al-Allaf Abu 'Ali Muhammad bin 'Abdul Wahab/al-Jubba'i: Tokoh Mu'tazilah Abu Musa al-Mudrar: Pemimpin Mu'tazilah yang dianggap ekstrim karena mudah mengafirkan orang lain Menurut Asy-Syahrastani 548 H/1153 M, Jabariyah adalah paham yang menafikan perbuatan dari hamba secara hakikat dan menyerahkan perbuatan tersebut kepada Allah. Artinya, manusia tidak punya andil sama sekali dalam melakukan perbuatannya, Tuhanlah yang menentukan segala-galanya Jabariyah memiliki keyakinan bahwa setiap manusia terpaksa oleh takdir tanpa memiliki pilihan dan usaha dalam perbuatannya. Tokoh utamanya adalah Ja'ad bin Dirham dan Jahm bin Shafwan Qadariah secara leksikal berasal dari bahasa Arab yaitu qadara artinya kemampuan dan kekuatan, sedangkan secara gramatikal Qadariah diartikan sebagai aliran yang percaya bahwa segala tindakan atau perbuatan manusia tidak diintervensi oleh Tuhan Tokoh yang berperan sebagai pendiri aliran Qadariyah ialah Ma'bad Al juhani sertaGailan Al Dimasyqi.
Rahmah Fitriyani
Pertama, Muktazilah. Muktazilah merupakan kaum rasionalis di kalangan umat islam. Salah satu pandangannya, bahwa orang Islam yang berbuat dosa besar, tidak kafir dan tidak mu’min. ia berada antara posisi mukmin dan kafir (manzilah baina manzilataini) . tokoh" nya yaitu -Wasil bin Atha', lahir di Madinah, pelopor ajaran ini. -Abu Huzail al-Allaf (751-849 M), penyusun 5 ajaran pokok Muktazilah. -an-Nazzam, murid Abu Huzail al-Allaf. -Abu 'Ali Muhammad bin 'Abdul -Wahab/al-Jubba'i (849-915 M). -Harun Ar-Rasyid, khalifah Abbasiyah. -Al-Ma'mun. Kedua, Qodariah. Aliran ini berpandangan bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam menentukan nasibnya sendiri. ia mempunyai kekuatan untuk menentukan apakah dirinya bahagia dan selamat atau celaka di Hari Kiamat. Hal ini manusia bertanggungjawab dengan segala perbuatan yang dia lakukan.Tokohnya Ja'ad bin Dirham dan Jahm bin Shafwan. Ketiga, Jabariah. Aliran ini kebalikan dari qodariah. Manusia tidak mempunyai kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri. Semua nasibnya sudah digariskan oleh Allah tentang nasib baik dan buruknya.Tokohnya Ma'bad Al Juhani serta Ghaylan Al Dimasyqi. Keempat, Asy’ariah. Aliran antara qadariah dan jabariah. Aliran ini mengakui bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melakukan sesuatu yang mempunyai potensi untuk bisa mendatangkan kebaikan dan potensi untuk mendatangkan kemadharatan. Namun demikian, hasil akhir dari segala perbuatan manusia diserahkan kepada penilaian tuhan atas segala amal ibadah nya. sebab bagi aliran Asy’ariah menyakini bahwa Allah mempunyai hak preogratif untuk menentukan segala amal ibadah diterima atau ditolak oleh-Nya.tokoh"nya yaitu al-Baqillani, al-Juwaini, al-Ghazali, dan al- Sanusi. Tahun 1028 M lahir seorang tokoh Asy'ariyah bernama Abdul Malik bin AbduHah bin Yusuf bin Muhammad bin Abdullah bin Hayyuwiyah al-Juwaini al-Nisaburi, atau yang dikenal dengan Al-Juwaini.
Tania sukriani
Pandangan konsep tuhan menurut mu'tazilah menurut saya adalah satu-satunya yang disembah, dan mereka menolak sifat-sifat yang berdiri sendiri di luar zat-Nya. karena sifat-sifat tersebut akan membuat keesaan Tuhan hilang. tokoh tokoh nya Wasil bin Atha Abu Huzail al-Allaf An-Nazzam Mu'ammar bin Abbad qodariah berpandangan suatu aliran yg percaya bahwa segala tindakan manusia tidak diintervensi oleh tuhan. Tokoh - tokohnya Ma'bad Al Juhani, Ghailan Al Dimasyqi, Ghailani Ibnu Jabariah. Pandangan konsep tuhan menurutku ,,Perbuatan-perbuatan manusia telah ditentukan oleh Qada dan Qadar Tuhan. Tokohnya yaitu : Ja'ad bin Dirham pandangan konsep tuhan Asy'ariah Menurut saya Tuhan berkusa mutlak dan tak ada satupun yang wajib bagi-Nya. Tokoh tokoh nya: Al-Baqillani Al-Juwaini Al-Ghazal Al-Sanusi
Suvinna
1. Muktazilah Muktazilah merupakan kaum rasionalis di kalangan umat islam. Salah satu pandangannya, bahwa orang Islam yang berbuat dosa besar, tidak kafir dan tidak mu’min. ia berada antara posisi mukmin dan kafir (manzilah baina manzilataini). Tokoh-tokoh yang mempengaruhi perkembangan aliran Mu'tazilah, di antaranya: Washil bin Atha' al-Ghazzal, Abul al-Huzail al-Allaf, Ibrahim bin Syyar an-Nazzam, Abu Ali Muhammad ibn Ali al-Jubba'i. 2. Pandangan Jabariyah dalam Islam adalah bahwa manusia tidak memiliki kebebasan dan kehendak dalam perbuatannya, dan segala gerak geriknya ditentukan oleh Tuhan. Tokoh utama aliran Jabariyah adalah Ja'ad bin Dirham dan Jahm bin Shafwan. 3. Paham Qadariyah adalah aliran dalam Islam yang percaya bahwa manusia memiliki kekuatan dan kebebasan mutlak untuk menentukan dan melakukan perbuatannya sendiri. Berikut beberapa tokoh-tokoh Qadariyah: Tokoh Pendiri aliran Qadariyah adalah Ma'bad Al-Juhani dan Gailan Al Dimasyqi. Ma'bad Al-Juhani adalah seorang alim Al-Qur'an dan Hadis. 4. Berikut adalah beberapa pandangan aliran Asy'ariyah tentang Islam: • Sifat Allah Aliran Asy'ariyah berpendapat bahwa Allah memiliki sifat-sifat, seperti al-qudrat, al-ilm, al-sama', al-basar, al-hayah, dan iradah. Sifat-sifat tersebut berdiri di atas dzat Allah, bukan merupakan dzat Allah sendiri. • Iman Menurut Al-Asy'ari, iman adalah mengikrarkan dengan lisan dan membenarkan dengan hati. Persyaratan minimal untuk adanya iman adalah tashdiq. • Al-Qur'an Al-Asy'ari mengecam pendapat yang mengatakan bahwa Al-Qur'an diciptakan Allah. Al-Asy'ari berpendapat bahwa orang yang meyakini Al-Qur'an sebagai mahluq adalah kafir. • Dosa besar Orang mukmin yang berdosa besar tetap dianggap mukmin selama ia masih beriman kepada Allah SWT dan Rasulnya. Aliran Asy'ariyah merupakan reaksi terhadap aliran Muktazilah. Beberapa tokoh dalam aliran Asy'ariyah, di antaranya al-Baqillani, al-Juwaini, dan al-Ghazali.
Suvinna
1. Muktazilah Muktazilah merupakan kaum rasionalis di kalangan umat islam. Salah satu pandangannya, bahwa orang Islam yang berbuat dosa besar, tidak kafir dan tidak mu’min. ia berada antara posisi mukmin dan kafir (manzilah baina manzilataini). Tokoh-tokoh yang mempengaruhi perkembangan aliran Mu'tazilah, di antaranya: Washil bin Atha' al-Ghazzal, Abul al-Huzail al-Allaf, Ibrahim bin Syyar an-Nazzam, Abu Ali Muhammad ibn Ali al-Jubba'i. 2. Pandangan Jabariyah dalam Islam adalah bahwa manusia tidak memiliki kebebasan dan kehendak dalam perbuatannya, dan segala gerak geriknya ditentukan oleh Tuhan. Tokoh utama aliran Jabariyah adalah Ja'ad bin Dirham dan Jahm bin Shafwan. 3. Paham Qadariyah adalah aliran dalam Islam yang percaya bahwa manusia memiliki kekuatan dan kebebasan mutlak untuk menentukan dan melakukan perbuatannya sendiri. Berikut beberapa tokoh-tokoh Qadariyah: Tokoh Pendiri aliran Qadariyah adalah Ma'bad Al-Juhani dan Gailan Al Dimasyqi. Ma'bad Al-Juhani adalah seorang alim Al-Qur'an dan Hadis. 4. Berikut adalah beberapa pandangan aliran Asy'ariyah tentang Islam: • Sifat Allah Aliran Asy'ariyah berpendapat bahwa Allah memiliki sifat-sifat, seperti al-qudrat, al-ilm, al-sama', al-basar, al-hayah, dan iradah. Sifat-sifat tersebut berdiri di atas dzat Allah, bukan merupakan dzat Allah sendiri. • Iman Menurut Al-Asy'ari, iman adalah mengikrarkan dengan lisan dan membenarkan dengan hati. Persyaratan minimal untuk adanya iman adalah tashdiq. • Al-Qur'an Al-Asy'ari mengecam pendapat yang mengatakan bahwa Al-Qur'an diciptakan Allah. Al-Asy'ari berpendapat bahwa orang yang meyakini Al-Qur'an sebagai mahluq adalah kafir. • Dosa besar Orang mukmin yang berdosa besar tetap dianggap mukmin selama ia masih beriman kepada Allah SWT dan Rasulnya. Aliran Asy'ariyah merupakan reaksi terhadap aliran Muktazilah. Beberapa tokoh dalam aliran Asy'ariyah, di antaranya al-Baqillani, al-Juwaini, dan al-Ghazali.
Miftakhur Roifah
Pandangan tentang konsep Tuhan menurut empat aliran pemikiran Islam: Mu’tazilah, Jabariah, Qadariah, dan Asy’ariah beserta tokoh-tokoh utama, berikut dibawah ini : 1. Mu’tazilah adalah aliran yang menekankan pada rasionalitas dan kebebasan manusia dalam menentukan tindakan mereka. Mereka percaya bahwa Tuhan adalah zat yang adil dan memiliki sifat-sifat yang harus dijelaskan secara rasional. Mereka menolak konsep takdir mutlak dan lebih menekankan pada tanggung jawab moral individu.Tokoh utama Mu’tazilah termasuk Wasil ibn Ata, Amr ibn Ubaid, dan Al-Nazzam. Mereka memperjuangkan konsep "al-Adl" (keadilan) dan "al-Tawhid" (keesaan Tuhan). 2. Jabariah (atau Jabariyyah) percaya bahwa segala sesuatu, termasuk tindakan manusia, adalah hasil dari kehendak Tuhan yang mutlak. Dalam pandangan ini, manusia tidak memiliki kebebasan atau tanggung jawab moral karena segala sesuatu sudah ditentukan oleh Tuhan. Aliran ini tidak memiliki tokoh tertentu yang terkenal seperti dalam aliran lainnya, tetapi pemikiran ini banyak terkait dengan ajaran-ajaran pada masa awal Islam yang menganggap Tuhan memiliki kontrol penuh atas segala sesuatu. 3. Qadariah adalah aliran yang menekankan pada kebebasan manusia dalam menentukan tindakan mereka. Mereka percaya bahwa Tuhan memberikan kebebasan kepada manusia untuk memilih, dan manusia bertanggung jawab penuh atas perbuatannya. Ini berlawanan dengan pandangan Jabariah yang menolak kebebasan tersebut.Salah satu tokoh penting dari aliran ini adalah Ma'bad al-Juhani, yang dikenal karena penekanannya pada kebebasan manusia. 4. Asy’ariah adalah aliran teologi yang mengadopsi pendekatan lebih moderat. Mereka menekankan pentingnya iman dan keyakinan akan sifat-sifat Tuhan seperti yang disebutkan dalam Al-Qur'an, sambil tetap memberikan ruang bagi penggunaan akal. Mereka berpendapat bahwa meskipun Tuhan memiliki sifat-sifat tertentu, manusia harus menerima banyak hal yang tidak dapat dipahami sepenuhnya oleh akal.Abu al-Hasan al-Asy’ari adalah tokoh utama dalam aliran ini. Dia dikenal karena usahanya dalam menyusun dan membela ajaran-ajaran Asy’ariah yang menjadi salah satu aliran teologi utama dalam Islam Sunni.
Rahma Zahwa Salsabila
Karena semua nikmat yang ada didunia ini adalah pemberian dari tuhan, yang senantiasa diberikan kepada kita untuk disyukuri. Salah satu surah dalam al-Qur’an yaitu Q.S. Al-Ikhlas yang berisi sebagai berikut: قل هو الله احد. الله الصّمد. لم يلد ولم يولد. ولم يكن له كفوا احد. Artinya: “Katakanlah; dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan tempat bergantung kepada-Nya. dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya. Dan juga pada Q.S faathir/35:15-17 yang artinya “Hai manusia, kamulah yang berkehendak (membutuhkan) kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah.”
Devi Firza Nur Aini
Alasan manusia membutuhkan Tuhan karna memiliki dengan adanya Tuhan, hidup menjadi lebih teratur dan damai. Banyak kaum rasionalisme mencoba mencampakan peran agama dalam kehidupan sehari-hari. Namun ketika mencapai puncak kejayaan ilmu pengetahuan dan teknologi, mereka mengalami kebuntuan. Hati mereka gersang. Mereka pun membutuhkan ketenangan dalam hidup dan sandaran hidup yang kekal abadi.oleh sebab itu masyarakat kaum modernis saat ini menyadari bahwa hidup harus memiliki sandaran untuk menjadi tolak kebenaran yang jelas melalui agama dan mempercayai eksistensi Tuhan. Seperti yang di jelaskan dalam Q.S. Al-Ikhlas sebagai berikut: قل هو الله احد. الله الصّمد. لم يلد ولم يولد. ولم يكن له كفوا احد. Artinya: “Katakanlah; dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan tempat bergantung kepada-Nya. dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya. Firman Allah dalam surah Al A'raf ayat 172: وَاِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْۢ بَنِيْٓ اٰدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَاَشْهَدَهُمْ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْۚ اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْۗ قَالُوْا بَلٰىۛ شَهِدْنَا ۛاَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اِنَّا كُنَّا عَنْ هٰذَا غٰفِلِيْنَۙ Terjemahan ayat: Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.” Kebutuhan manusia akan Tuhan dan agama melebihi semua kebutuhan hidupnya. Mungkin salah satu indikasi bahwa religiusitas merupakan kebutuhan manusia adalah apa yang dirasakan seseorang dalam dirinya sendiri dari kelemahan di hadapan beberapa manifestasi kekuasaan Yang Mahakuasa, seperti angin kencang, laut yang bergolak, gempa bumi, dan gunung berapi.
Devi Firza Nur Aini (ABI 1C)
Devi Firza Nur Aini Alasan manusia membutuhkan Tuhan karna memiliki dengan adanya Tuhan, hidup menjadi lebih teratur dan damai. Banyak kaum rasionalisme mencoba mencampakan peran agama dalam kehidupan sehari-hari. Namun ketika mencapai puncak kejayaan ilmu pengetahuan dan teknologi, mereka mengalami kebuntuan. Hati mereka gersang. Mereka pun membutuhkan ketenangan dalam hidup dan sandaran hidup yang kekal abadi.oleh sebab itu masyarakat kaum modernis saat ini menyadari bahwa hidup harus memiliki sandaran untuk menjadi tolak kebenaran yang jelas melalui agama dan mempercayai eksistensi Tuhan. Seperti yang di jelaskan dalam Q.S. Al-Ikhlas sebagai berikut: قل هو الله احد. الله الصّمد. لم يلد ولم يولد. ولم يكن له كفوا احد. Artinya: “Katakanlah; dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan tempat bergantung kepada-Nya. dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya. Firman Allah dalam surah Al A'raf ayat 172: وَاِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْۢ بَنِيْٓ اٰدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَاَشْهَدَهُمْ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْۚ اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْۗ قَالُوْا بَلٰىۛ شَهِدْنَا ۛاَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اِنَّا كُنَّا عَنْ هٰذَا غٰفِلِيْنَۙ Terjemahan ayat: Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.” Kebutuhan manusia akan Tuhan dan agama melebihi semua kebutuhan hidupnya. Mungkin salah satu indikasi bahwa religiusitas merupakan kebutuhan manusia adalah apa yang dirasakan seseorang dalam dirinya sendiri dari kelemahan di hadapan beberapa manifestasi kekuasaan Yang Mahakuasa, seperti angin kencang, laut yang bergolak, gempa bumi, dan gunung berapi.
sindi triani (ABI 1C)
Semua manusia membutuhkan Tuhan karena dengan adanya Tuhan manusia insyaallah akan hidup lebih teratur. Salah satunya surah dari dalam Q.S. Al-Ikhlas yaitu: يولد. ولم يكن له كفوا احد. Artinya: “Katakanlah; dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan tempat bergantung kepada-Nya. dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya. Dalam perkembangan ilmu teologi Islam, lahir beberapa aliran tentan konsep Tuhan. Lahir nya konsep Tuhan disebabkan dari pemahaman para ilmuwan Islam yang beragam berkaitan dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadist-hadist nabi. Berikut ini aliran-aliran konsep ketuhanan dalam islam. Pertama, Muktazilah. Muktazilah merupakan kaum rasionalis di kalangan umat islam. Salah satu pandangannya, bahwa orang Islam yang berbuat dosa besar, tidak kafir dan tidak mu’min. ia berada antara posisi mukmin dan kafir (manzilah baina manzilataini). Kedua, Qodariah. Aliran ini berpandangan bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam menentukan nasibnya sendiri. ia mempunyai kekuatan untuk menentukan apakah dirinya bahagia dan selamat atau celaka di Hari Kiamat. Hal ini manusia bertanggungjawab dengan segala perbuatan yang dia lakukan. Ketiga, Jabariah. Aliran ini kebalikan dari qodariah. Manusia tidak mempunyai kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri. Semua nasibnya sudah digariskan oleh Allah tentang nasib baik dan buruknya. Keempat, Asy’ariah. Aliran antara qadariah dan jabariah. Aliran ini mengakui bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melakukan sesuatu yang mempunyai potensi untuk bisa mendatangkan kebaikan dan potensi untuk mendatangkan kemadharatan. Namun demikian, hasil akhir dari segala perbuatan manusia diserahkan kepada penilaian tuhan atas segala amal ibadah nya. sebab bagi aliran Asy’ariah menyakini bahwa Allah mempunyai hak preogratif untuk menentukan segala amal ibadah diterima atau ditolak oleh-Nya.
Mutia mawarni - ABI 1C
Dimanapun dan bagaimanapun keberadaan manusia di dunia, kelengkapan dan berjalannya fungsi anggota badannya, kebutuhan makan dan minumnya, keselamatan kehidupannya sampai ajalnya, dan keselamatannya di dunia dan di akhirat, semuanya membutuhkan pertolongan Alloh Ta’ala. Itu salah satu alasan manusia membutuhkan tuhan, sebagaimana dalam firman allah sebagai berikut : QS. Faathir/35: 15-17 يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اَنْتُمُ الْفُقَرَاۤءُ اِلَى اللّٰهِ ۚوَاللّٰهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ – ١٥ ۞ اِنْ يَّشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيْدٍۚ – ١٦ وَمَا ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ بِعَزِيْزٍ – ١٧ Hai manusia, kamulah yang berkehendak (membutuhkan) kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah.” (QS. Faathir/35: 15 – 17)
Andiny Nabila Daffa
Manusia membutuhkan agama tidak sekedar untuk kebaikan diri nya di hadapan Tuhan saja, melainkan juga untuk membantu dirinya dalam menghadapi bermacam-macam permasalahan yang kadang-kadang tidak dapat dipahami nya.mengakui bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melakukan sesuatu yang mempunyai potensi untuk bisa mendatangkan kebaikan dan potensi untuk mendatangkan kemadharatan. Namun demikian, hasil akhir dari segala perbuatan manusia diserahkan kepada penilaian tuhan atas segala amal ibadah nya. sebab bagi aliran Asy’ariah menyakini bahwa Allah mempunyai hak preogratif untuk menentukan segala amal ibadah diterima atau ditolak oleh-Nya. dalam sejarah peradaban manusia selalu membutuhkan kekuatan ghaib (Tuhan) dalam versi yang beragam. Bahkan kaum rasionalisme mutlak akibat adanya ajaran filsafat Yunani kemudian diadopsi secara mutlak oleh barat pada abad XVII sampai akhir abad XVIII. Pada masa itu perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat maju di barat dengan dibuktikan terjadi revolusi industri di Inggris. Dari sini peran keimanan dan ilmu-ilmu ketuhanan di gereja-gereja mulai mengalami penurunan. Masyarakat barat mengagungkan kekuatan akal. Melalui gerakan rasionalisme ini, mereka telah terbukti mampu menguasai dunia melalui gerakan imperialisme dan penaklukan daerah-daerah jajahan baru. Banyak ayat-ayat Al-Qur’an dan hadist-hadist nabi yang menerangkan tentang eksistensi tuhan. Berikut ini salah satu surat yang menerangkan tentang eksistensi Tuhan dalam Q.S. Al-Ikhlas sebagai berikut: قل هو الله احد. الله الصّمد. لم يلد ولم يولد. ولم يكن له كفوا احد. Artinya: “Katakanlah; dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan tempat bergantung kepada-Nya. dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya.
Rahma Zahwa Salsabila ABI 1C
Karena semua nikmat yang ada dunia ini adalah pemberian dari tuhan, yang senantiasa harus disyukuri dan tuhan maha segalanya apapun yang sudah dikehendaki tidak akan bisa berubah. Salah satu surat dalam Al-Qur’an yaitu Q.S. Al-Ikhlas sebagai berikut: قل هو الله احد. الله الصّمد. لم يلد ولم يولد. ولم يكن له كفوا احد. Artinya: “Katakanlah; dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan tempat bergantung kepada-Nya. dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya dan juga dalam Q.S faathir/35:15-17 yang artinya “Hai manusia, kamulah yang berkehendak (membutuhkan) kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah.”
Afdal Asyawaldi
Manusia membutuhkan Tuhan karena manusia membutuhkan : 1.'petunjuk moral' yang dimana ajaran agama dan keyakinan pada Tuhan memberikan pedoman moral bagi manusia, membimbing perilaku dan tindakan yang benar. 2.'makna kehidupan' yang dimana dapat membantu mereka memahami tujuan dan keberadaan mereka di hidup di dunia 3.'Ketentraman batin' Keimanan pada Tuhan memberikan ketenangan jiwa, ketabahan dalam menghadapi cobaan hidup, dan keyakinan bahwa ada kekuatan yang lebih besar yang selalu mendampingi. DASAR AL QUR' AN Qur'an (Surah Adh-Dhariyat, 51:56): "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku." Ayat ini menegaskan bahwa manusia diciptakan untuk menyembah Tuhan, menunjukkan keharusan ketergantungan dan pengabdian pada-Nya.
Afdal Asyawaldi
Manusia membutuhkan Tuhan karena manusia membutuhkan : 1.'petunjuk moral' yang dimana ajaran agama dan keyakinan pada Tuhan memberikan pedoman moral bagi manusia, membimbing perilaku dan tindakan yang benar. 2.'makna kehidupan' yang dimana dapat membantu mereka memahami tujuan dan keberadaan mereka di hidup di dunia 3.'Ketentraman batin' Keimanan pada Tuhan memberikan ketenangan jiwa, ketabahan dalam menghadapi cobaan hidup, dan keyakinan bahwa ada kekuatan yang lebih besar yang selalu mendampingi. DASAR AL QUR' AN Qur'an (Surah Adh-Dhariyat, 51:56): "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku." Ayat ini menegaskan bahwa manusia diciptakan untuk menyembah Tuhan, menunjukkan keharusan ketergantungan dan pengabdian pada-Nya.
Afdal Asyawaldi
Manusia membutuhkan Tuhan karena manusia membutuhkan : 1.'petunjuk moral' yang dimana ajaran agama dan keyakinan pada Tuhan memberikan pedoman moral bagi manusia, membimbing perilaku dan tindakan yang benar. 2.'makna kehidupan' yang dimana dapat membantu mereka memahami tujuan dan keberadaan mereka di hidup di dunia 3.'Ketentraman batin' Keimanan pada Tuhan memberikan ketenangan jiwa, ketabahan dalam menghadapi cobaan hidup, dan keyakinan bahwa ada kekuatan yang lebih besar yang selalu mendampingi. DASAR AL QUR' AN Qur'an (Surah Adh-Dhariyat, 51:56): "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku." Ayat ini menegaskan bahwa manusia diciptakan untuk menyembah Tuhan, menunjukkan keharusan ketergantungan dan pengabdian pada-Nya.
siti salmah(ABI 1C)
Adalah hal yang bersifat naluriah, alami atau sebagai sunnatullah, tatkala manusia selalu menanyakan tentang eksistensi dirinya, apa yang seharusnya diperbuat, dan siapa sebenarnya pencipta semua yang ada ini. Pertanyaan semacam itu selalu muncul dan tentu menuntut jawaban hingga memuaskan. Namun hal yang diinginkan itu tidak akan mudah diperoleh, atau juga bahkan tidak tahu seharusnya diberikan oleh siapa. Seseorang yang lahir ke dunia, kecuali melalui kitab suci, tidak akan mengetahui tentang keberadaan dirinya maupun juga tentang lingkungannya. Pertanyaan tentang asal muasal manusia tersebut juga menjadi kajian antropologis. Disebutkan bahwa manusia selalu merasakan adanya sesuatu yang menguasai dirinya, dan kemudian sesuatu itu disebut sebagai tuhannya. Apa yang dipandang atau dipercayai sebagai tuhan adalah beraneka ragam konsepnya. Sementara orang, menyebut tuhan adalah sesuatu yang dianggap besar dan serba menentukan, hingga akhirnya digambarkan bahwa pencipta itu adalah hal-hal yang berukuran besar, misalnya berupa bulan, bintang, dan atau matahari. Sementara lainya menganggap tuhan adalah apa saja yang dirasakan memiliki kekuatan luar biasa, sehingga akhirnya menganggap batu, gunung, pepohonan, dan sejenisnya adalah sebagai tuhan. Sebagai contoh sederhana tentang adanya naluri keberagamaan itu tampak dari apa yang dilakukan oleh orang desa. Mereka misalnya membuat sesajian berupa bunga jenis tertentu, kemenyan, dan lain-lain yang kemudian diletakkan di atas batu atau di bawah pohon besar yang dipercayai bahwa di temat itu terdapat kekuatan ghaib. Selain itu, pada saat tertentu, misalnya ketika terjadi gerhana matahari atau gerhana bulan, orang desa memukul kentongan atau apa saja yang ada agar bulan dan matahari itu selamat dari gangguan makhluk lainnya. Melalui peristiwa yang tidak selalu dipahami itu maka tampak bahwa adanya kesadaran terhadap keberadaan tuhan. Kepercayaan dan juga apa yang dilakukan oleh orang desa sebagaimana contoh tersebut adalah terkait dengan konsep ketuhanan dan ternyata juga bersifat universal. Ada saja dalam sejarah kemanusiaan dan bahkan hal itu juga dijelaskan oleh al Qur'an tentang kepercayaan yang terkait dengan konsep ketuhanan itu. Oleh karena tidak mendapatkan penjelasan dari kitab suci, orang atau sekelompok orang, menganggap bahwa tuhan bisa diciptakan. Sebagai caranya menemukan tuhan itu, maka manusia menciptakan apa saja, gambar manusia misalnya, yang dibuatnya sendiri dan kemudian disebut sebagai tuhannya. Bahkan, ada juga yang mengklaim bahwsa dirinya sebagai tuhan. Al Qur'an diturunkan untuk memberikan jawaban tentang pertanyaan mendasar menyangkut ketuhanan dimaksud. Dijelaskan oleh Al Qur'an bahwa Tuhan itu adalah Maha Esa, tempat meminta, tidak beranak dan juga tidak diperanakkan, dan tidak ada sesuatupun yang menyamai-Nya. Melalui al Qur'an, diperkenalkan bahwa Tuhan memiliki nama-nama atau sebutan dan sifat-sifat yang Mulia. Oleh karena ilmu yang diberikan kepada manusia amat terbatas, maka manusia tidak akan mampu memahami Tuhan secara sempurna. Bahkan manusia dilarang terlalu jauh memikirkan dan merenungkan tentang Tuhan, dan hanya dianjurkan untuk memikirkan dan merenungkan tentang ciptaan-Nya. Membuktikan terhadap adanya Tuhan tidak akan berhasil jika hanya dilakukan melalui kekuatan nalar atau pikirannya. Keberadaan dan semua hal tentang Tuhan adalah berada di luar jangkauan pikiran manusia. Oleh karena itu, sekuat apapun pikiran seseorang maka tidak akan mampu menjangkau tentang Dzat Tuhan. Segala upaya untuk mengetahui tentang Tuhan tidak akan berhasil, dan hanya dalam batas-batas tertentu, hal dimaksud bisa diperoleh melalui pemahaman terhadap ciptaan-Nya. Baik melalui al Qur'an maupun hadits nabi, manusia disebutkan tidak akan mampu mengetahui hakekat yang sebenarnya tentang Tuhan. Namun manusia, sebagaimana nalurinya, selalu berusaha untuk memperoleh pengetahuan itu dan bahkan juga kasih sayang-Nya. Melalui petunjuk al Qur'an pula, manusia diberi penjelasan tentang cara mendekatkan diri pada-Nya, dan bagaimana memperoleh kesih sayang, ridha, dan kebahagiaan yang ingin diraih. Penjelasan dari al Qur'an itu dipahami oleh sementara orang yang pada dirinya menyandang keimanan, dan tidak demikian bagi mereka yang tidak dibuka hatinya. Al Qur'an menjadikan hati seseorang meraih ketenangan oleh karena pertanyaan mendasar tentang Tuhan telah terjawab olehnya. Wallahu a'lam
NUR ISMIRA PUTRI ABI 1C
-Tuhan sebagai sumber kebenaran dan kebajikan Tuhan memberikan spirit kepada manusia untuk membingkai kehidupannya dengan etika Tuhan. -Tuhan sebagai tempat meminta Al-Qur'an menjelaskan bahwa Tuhan itu adalah Maha Esa, tempat meminta, tidak beranak dan juga tidak diperanakkan, dan tidak ada sesuatupun yang menyamai-Nya. -Tuhan sebagai pencipta manusia Manusia diciptakan oleh Allah untuk menjadi khalifah (pemimpin). -Tuhan sebagai sumber pertolongan Manusia membutuhkan pertolongan Tuhan untuk kelengkapan dan berjalannya fungsi anggota badannya, kebutuhan makan dan minumnya, keselamatan kehidupannya sampai ajalnya, dan keselamatannya di dunia dan di akhirat. يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اَنْتُمُ الْفُقَرَاۤءُ اِلَى اللّٰهِ ۚوَاللّٰهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ – ١٥ ۞ اِنْ يَّشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيْدٍۚ – ١٦ وَمَا ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ بِعَزِيْزٍ – ١٧ Hai manusia, kamulah yang berkehendak (membutuhkan) kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah.” (QS. Faathir/35: 15 – 17)
Suci Anggraini
Tuhan menjadi tempat bersandar dan meminta segala apa yang diinginkan oleh para penyembahnya. Ini salah satu surah yang menerangkan tentang eksistensi Tuhan dalam Q. S. Al-Ikhlas yaitu: قل
Putri Yani Zebua_5404240092_ABI 1C
Kita membutuhkan Tuhan karena tanpa Dia, kita tidak akan pernah merasa puas. Kita tidak lengkap tanpa persatuan dengan Tuhan. Seolah-olah ada kekosongan yang dibentuk Tuhan dalam diri kita masing-masing, yang hanya akan diisi oleh kehidupan Tuhan di dalam diri kita! Semua manusia membutuhkan Tuhan karena dengan adanya Tuhan manusia insyaallah akan hidup lebih teratur. Salah satunya surah dari dalam Q.S. Al-Ikhlas yaitu: يولد. ولم يكن له كفوا احد. Artinya: “Katakanlah; dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan tempat bergantung kepada-Nya. dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya.
TITIN SAFARINA
Manusia membutuhkan Tuhan karena Tuhan adalah pencipta, pemberi rezeki, dan tempat bergantung. Kebutuhan ini muncul dari fitrah manusia yang menyadari keterbatasannya. Ketika menghadapi kesulitan atau saat merasa lemah, manusia akan mencari pertolongan dan makna hidup, yang hanya bisa ditemukan dalam keyakinan kepada Tuhan. Berikut beberapa alasan mengapa manusia membutuhkan Tuhan: 1. Pencipta dan Pengatur Kehidupan Tuhan menciptakan dan mengatur alam semesta serta kehidupan manusia. Semua yang terjadi di dunia ini ada dalam kehendak-Nya. Manusia membutuhkan Tuhan untuk memahami asal-usulnya dan tujuan hidupnya. Dalam Al-Quran disebutkan: اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ ثُمَّ رَزَقَكُمْ ثُمَّ يُمِيْتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيْكُمْۗ هَلْ مِنْ شُرَكَاۤىِٕكُمْ مَّنْ يَّفْعَلُ مِنْ ذٰلِكُمْ مِّنْ شَيْءٍۗ سُبْحٰنَهٗ وَتَعٰلٰى عَمَّا يُشْرِكُوْنَࣖ "Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberi kamu rezeki, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara sekutumu yang berbuat sesuatu yang demikian itu?" (QS. Ar-Rum: 40) 2. Tempat Bergantung dan Memohon Pertolongan Manusia memiliki kelemahan dan keterbatasan, sehingga butuh tempat bergantung, terutama ketika menghadapi masalah yang berada di luar kendali. Dalam Islam, hanya kepada Allah-lah sebaik-baiknya tempat meminta pertolongan. Dalam Al-Quran, Allah berfirman: اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ "Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan." (QS. Al-Fatihah: 5) 3. Sumber Ketenangan dan Kedamaian Tuhan adalah sumber ketenangan jiwa. Ketika manusia merasa cemas, resah, atau sedih, mengingat Allah dapat memberi ketenangan hati. Firman Allah dalam Al-Quran: الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ "(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram. "(QS. Ar-Ra'd: 28) 4. Pedoman Hidup Tuhan memberikan pedoman hidup kepada manusia melalui kitab-Nya dan ajaran Nabi. Dengan mengikuti ajaran ini, manusia dapat menjalani hidup yang bermakna dan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Rasulullah SAW bersabda: تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ "Aku tinggalkan kepadamu dua perkara, kamu tidak akan tersesat selama berpegang kepada keduanya: Kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya." (HR. Malik) Manusia yang menyadari keberadaannya di dunia ini hanya sementara akan lebih mudah memahami pentingnya Tuhan dalam hidup mereka. Tuhan memberikan arah, makna, dan tujuan yang hakiki.
Dwi Wulan (ABI 1C)
Semua orang (manusia) tau bahwa kita semua membutuhkan tuhan (Allah SWT). Tanpa perlu alasan pun kita pasti membutuhkannya, karena apa? Itu karena tanpa tuhan (Allah) belum tentu kita semua bisa hidup di dunia ini. Alasan lain kita membutuhkan tuhan dan dasar Alquran, hadist yang membuktikan bahwa kita sebenarnya membutuhkan tuhan adalah sebagai berikut: 1.Kebutuhan Spiritual Manusia memiliki kebutuhan spiritual yang mendalam, yang sering kali tidak dapat dipenuhi hanya dengan aspek material atau fisik. Dalam pandangan Islam, manusia terdiri dari dua unsur: jasad dan ruh. Ruh adalah substansi immateri yang lebih esensial, dan perpisahan antara jasad dan ruh saat kematian menunjukkan bahwa ruh akan melanjutkan eksistensinya di alam barzah. Kebutuhan akan Tuhan muncul dari kesadaran akan adanya kekuatan yang lebih tinggi yang mengatur kehidupan dan alam semesta. Manusia juga mencari makna dan tujuan dalam hidupnya. Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman bahwa Dia menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya. Ibadah ini bukan hanya sekadar ritual, tetapi juga mencakup pengembangan diri dan pengetahuan. Dengan memahami dan mendekatkan diri kepada Tuhan, manusia dapat menemukan tujuan hidup yang lebih dalam. Keterhubungan dengan Sesama Kehadiran Tuhan dalam kehidupan manusia juga menciptakan rasa keterhubungan dengan sesama. Dalam Islam, ajaran tentang kasih sayang dan saling menghormati antar sesama manusia sangat ditekankan. Hadits Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa setiap amal baik yang dilakukan akan terus mengalir pahalanya, seperti ilmu yang bermanfaat dan doa dari anak yang shalih. Ini menunjukkan bahwa hubungan dengan Tuhan juga berimplikasi pada hubungan sosial. Di dalam Al-Qur'an Salah satu ayat yang menegaskan pentingnya hubungan manusia dengan Tuhan adalah dalam Surah Al-Dzariyat (51:56), di mana Allah berfirman, "Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." Ini menunjukkan tujuan allah menciptakan manusia adalah untuk beribadah dan mengakui keberadaan Tuhan. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda, "Jika seorang manusia mati, maka terputuslah darinya semua amalnya kecuali dari tiga hal; dari sedekah jariyah atau ilmu yang diambil manfaatnya atau anak shalih yang mendoakannya" (HR Muslim). Hadits ini menunjukkan bahwa hubungan dengan Tuhan dan amal baik yang dilakukan selama hidup akan terus memberikan manfaat bahkan setelah kematian. Kebutuhan manusia dengan Tuhan (Allah) tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga berkaitan dengan hubungan sosial yang lebih baik.
Andiny Nabila Daffa (ABI 1C)
Manusia membutuhkan agama tidak sekedar untuk kebaikan diri nya di hadapan Tuhan saja, melainkan juga untuk membantu dirinya dalam menghadapi bermacam-macam permasalahan yang kadang-kadang tidak dapat dipahami nya.mengakui bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melakukan sesuatu yang mempunyai potensi untuk bisa mendatangkan kebaikan dan potensi untuk mendatangkan kemadharatan. Namun demikian, hasil akhir dari segala perbuatan manusia diserahkan kepada penilaian tuhan atas segala amal ibadah nya. sebab bagi aliran Asy’ariah menyakini bahwa Allah mempunyai hak preogratif untuk menentukan segala amal ibadah diterima atau ditolak oleh-Nya. dalam sejarah peradaban manusia selalu membutuhkan kekuatan ghaib (Tuhan) dalam versi yang beragam. Bahkan kaum rasionalisme mutlak akibat adanya ajaran filsafat Yunani kemudian diadopsi secara mutlak oleh barat pada abad XVII sampai akhir abad XVIII. Pada masa itu perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat maju di barat dengan dibuktikan terjadi revolusi industri di Inggris. Dari sini peran keimanan dan ilmu-ilmu ketuhanan di gereja-gereja mulai mengalami penurunan. Masyarakat barat mengagungkan kekuatan akal. Melalui gerakan rasionalisme ini, mereka telah terbukti mampu menguasai dunia melalui gerakan imperialisme dan penaklukan daerah-daerah jajahan baru. Banyak ayat-ayat Al-Qur’an dan hadist-hadist nabi yang menerangkan tentang eksistensi tuhan. Berikut ini salah satu surat yang menerangkan tentang eksistensi Tuhan dalam Q.S. Al-Ikhlas sebagai berikut: قل هو الله احد. الله الصّمد. لم يلد ولم يولد. ولم يكن له كفوا احد. Artinya: “Katakanlah; dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan tempat bergantung kepada-Nya. dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya.
Riska Fitri Oktaviani (ABI 1C)
Allah SWT menciptakan umat manusia tidak sekadar untuk menikmati kehidupan dan kesenangan di dunia. Lebih daripada itu manusia diciptakan untuk menyembah Allah SWT. Dalam Alquran Surat Al Mu'minun ayat 115-116 disebutkan: أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ “Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Mahatinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (Yang mempunyai) 'Arsy yang mulia.” Tafsir tersebut menjalaskan bahwa manusia tidak diciptakan sia-sia atau untuk bermain saja. Manusia memiliki tanggung jawab dalam hidupnya, seperti yang dijelaskan dalam firman Allah surat Al-Qiyamah ayat 36: أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى “Apakah manusia mengira, dia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)? "Allah Yang Mahakuasa, tidak menciptakan manusia dengan sia-sia, tetapi menciptakannya untuk kebijaksanaan dan tujuan. Syekh Al-Saadi mengatakan dalam tafsirnya, “Ini adalah tujuan, dimana Tuhan menciptakan jin dan umat manusia, dan mengirim semua utusan adalah untuk ibadahnya, termasuk mencari ilmu pengetahuan. Semakin besar pengetahuan hamba tentang Tuhannya,semakin lengkap ibadahnya, karena inilah Tuhan menciptakan orang-orang yang bertanggung jawab dan bukan membutuhkan mereka. Jadi, tujuan penciptaan manusia adalah untuk menyembah Tuhan Yang Maha-Esa, yang dikenal sebagai agama, dan kebutuhan manusia akan agama lebih besar daripada kebutuhannya akan kebutuhan hidup lainnya. Karena seseorang harus mengetahui keridhaan Tuhan Yang Maha-Esa dan tempat amarahnya.” Seseorang harus mengerjakan hal yang mendapat ridha dan menjauhi hal yang tidak dikehendaki Allah. Orang tidak dapat hidup tanpa syariah yang dengannya mereka dapat membedakan antara apa yang mereka harus lakukan dan apa yang mereka tinggalkan. Dan Tuhan, telah menanamkan orang-orang sejak zaman kuno untuk menyembah kepada-Nya. Namun dalam perjalanan waktu, mereka melakukan penyimpangan dengan menyembah selain Tuhan. Hal ini terbukti dalam surat Al-Araf ayat 172: وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).” Kebutuhan manusia akan Tuhan dan agama melebihi semua kebutuhan hidupnya. Mungkin salah satu indikasi bahwa religiusitas merupakan kebutuhan manusia adalah apa yang dirasakan seseorang dalam dirinya sendiri dari kelemahan di hadapan beberapa manifestasi kekuasaan Yang Mahakuasa, seperti angin kencang, laut yang bergolak, gempa bumi, dan gunung berapi. Dalam hadist Nabi: "Menghadirkan bahwa Allah subhanahu wata'alaa, kita sangat membutuhkan Allah, Allah tempat bergantung atas segala sesuatu." Diantara keajaiban2 Al-Quran nul Karim : "Allah menjadikan surat yang paling dihafal manusia setelah "Al-Fatihah" ialah surat "Al-Ikhlas."
ASRUL ARDIYANSYAH
Alasan manusia membutuhkan Tuhan beserta dasar qur'an dan hadist adalah sebagai berikut Karena Agama berperan sangat penting dalam mengatur sendi-sendi kehidupan manusia dan mengarahkannya kepada kebaikan bersama. Banyak ayat-ayat Al-Qur’an dan hadist-hadist nabi yang menerangkan tentang eksistensi tuhan salah satunya dalam surat Al-ikhlas قل هو الله احد. الله الصّمد. لم يلد ولم يولد. ولم يكن له كفوا احد "Katakanlah; dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan tempat bergantung kepada-Nya. dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya" Lahir nya konsep Tuhan disebabkan dari pemahaman para ilmuwan Islam yang beragam berkaitan dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadist-hadist nabi
Nila Fauza
Alasan manusia membutuhkan Tuhan berserta dasar alquran dan hadis adalah 1. Manusia adalah makhluk lemah dan terbatas Sebagai makhluk yang lemah dan terbatas tentunya kita membutuhkan kekuatan dan bimbingan yang lebih besar dari kita sendiri. Di dalam alquran menegaskan bahwa manusia tidak akan mampu menghadapi hidup tanpa adanya pertolongan dari allah. Sebagai mana yang terdapat dalam alquran Surat Al isra: 7 "وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ" Artinya: "dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya dia mengetahui orang-orang yang dusta (al-isra:7) 2. Untuk mendapatkan ketenangan jiwa Iman kepada Tuhan memberikan ketenangan dan kedamaian hati. Hadist Rasulullah SAW bersabda yang artinya: " Barang siapa yang hatinya tenang karena mengingat Allah, niscaya allah akan mencukupi nya. " (H.R. At-Tirmidzi) 3. Sebagai petunjuk hidup Alquran adalah petunjuk bagi seluruh hidup manusia. Di dalamnya terdapat aturan hidup yang lengkap, mulai dari masalah ibadah hingga muamalah. Allah berfirman dalam surat (Al-Baqarah:2) ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ Artinya: "Itulah kitab (Al-Qur'an) yang di dalamnya tidak ada keraguan, menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa (Al-Baqarah:2) 4. Untuk mencapai kebahagiaan sejati Kebahagiaan sejati hanya bisa diraih dengan mendekatkan diri kepada allah. Hadits Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya dalam diri manusia itu ada sekepal daging. Jika daging itu baik, maka baiklah seluruh tubuhnya. Dan jika daging itu rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah daging itu adalah hati".(HR.Bukhari) 5. sebagai bentuk pengakuan atas kebesaran allah. Kita diciptakan oleh allah dan segala nikmat yang kita nikmati berasal dari-nya.
ORYZA SATYVA
Sebagai manusia, kita pasti sadar bahwa kita sangat terbatas. seringkali kita hanya bisa melakukan hal-hal yang berada dalam kendali kita sedangkan ada banyak hal di luar kendali yang juga memengaruhi terjadinya ketidakidealan tersebut. Dari gap antara keterbatasan dan ketidakidealan inilah akan muncul harapan. Manusia secara alamiah akan melakukan pengharapan terhadap sesuatu, meski ekspektasi itu bisa dikendalikan. Akan menjadi masalah jika kita tidak bisa menemukan jalan tengah antara keterbatasan dan harapan. Kita bingung harus menggantungkan harapan dan bersandar ke siapa. Sejatinya, kita membutuhkan sandaran dan tempat berharap yang kekal dan tidak terbatas. Untuk bisa memenuhi hal tersebut, kita butuh meyakini sesuatu yang kita anggap gak terbatas. Adalah Tuhan, yang kita yakini sebagai zat tak terbatas itu. Salah satu bentuk untuk membahasakan pengharapan dengan cara yang benar adalah melalui doa dan ibadah. Melalui doa dan ibadah, kita bisa “terkoneksi” dengan Tuhan sehingga kebutuhan kita untuk berharap dan bersandar bisa terpenuhi.karena sejatinya manusia itu banyak keterbatasan dan hanya bisa mengendalikan ekspektasinya namun keadaan kita tidak bisa menjaminkan itu,logika yang kita punya, pemahaman kita, bahkan jangkauan pandangan kita terhadap sesuatu itu penuh keterbatasan. Jika kita sadar terhadap keterbatasan itu, seharusnya kita juga sadar bahwa kita butuh untuk bersandar dan meminta pada sesuatu yang tidak punya batas. Result dari terpenuhinya kebutuhan akan berharap adalah ketenangan. Dengan catatan, kita menyandarkan harapan pada sesuatu yang tak berbatas. Akan beda rasanya, ketika kita berharap sama hal yang terbatas dengan berharap sama hal yang tak berbatas. Ada perasaan tenang yang muncul ketika kita berhasil yakin bahwa kita sudah bersandar pada sesuatu yang kekal. Ada kekuatan tersendiri yang muncul ketika kita sadar bahwa sudah berharap pada sesuatu yang memang kita yakini itu tak terbatas dan pantas dijadikan tempat berharap. Itulah kenapa, sebagian orang yang beribadah akan menemukan ketenangan jika mereka benar-benar tahu dan yakin atas apa yang mereka lakukan. Ibadah bisa memberikan ketenangan karena kita yakin bahwa kita terkoneksi dengan zat yang kekal, tempat kita memenuhi kebutuhan untuk berharap. Ringkasan dari semua ini, intinya, manusia sejatinya memiliki kebutuhan akan sebuah pengharapan. Harapan itu, harus disandarkan pada sesuatu yang kekal. Tuhan adalah sebaik-baik sandaran yang kekal dan tak terbatas, ibadah serta doa adalah cara untuk terkoneksi dengan-Nya. Terpenuhinya kebutuhan tersebut akan memberikan rasa aman dan tenang bagi manusia. Bukankah ketenangan itu pula yang kita cari? Jadi, menurut saya, meyakini Tuhan dan beribadah memang merupakan salah satu kebutuhan manusia.Kenapa itu, sejak zaman prasejarah hingga saat ini, kita masih mengenal konsep ketuhanan dan agama. QS. Faathir/35: 15-17 يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اَنْتُمُ الْفُقَرَاۤءُ اِلَى اللّٰهِ ۚوَاللّٰهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ – ١٥ ۞ اِنْ يَّشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيْدٍۚ – ١٦ وَمَا ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ بِعَزِيْزٍ – ١٧ Hai manusia, kamulah yang berkehendak (membutuhkan) kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah.” (QS. Faathir/35: 15 – 17)
NUR ENISA
Menurut Q.S.Al-Ikhlas ayat ke -4 yang artinya ; Katakanlah dialah Allah, yang Maha Esa.menerangkan bahwa Tuhan adalah salah satu tempat bergantungnya setiap manusia tiada satu pun manusia yang setara dengan nya dialah Tuhan yang maha esa dialah segalanya tidak ada yang bisa menciptakan alam semesta ini kecuali dirinya.
Gita Ayani Sitanggang
Menurut pendapat saya, manusia memerlukan Tuhan sebagai dasar kehidupan didunia. Kehidupan yang tidak berlandaskan dari agama akan tidak terarah dan lebih cenderung liar, keberadaan Tuhan begitu penting untuk umat manusia beragama. Tuhan juga akan menjadi tempat meminta bagi hambanya, menjadi tempat memohon pertolongan dan menjadi landasan atas kehidupan manusia itu sendiri. Keberadaan Tuhan akan membuat manusia lebih menahan diri dan dapat mengendalikan emosi yang ada, sebagai mana dalam Al-Qur'an sendiri, pentingnya keberadaan Tuhan telah dijelaskan dalam QS. Al-Ikhlas, 1–4. قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَد(١) اللهُ الصَّمَدُ(٢) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ(٣) وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ(٤) Artinya: 1. Katakanlah (Muhammad), "Dialah Allah, Yang Maha Esa. 2. Allah tempat meminta segala sesuatu. 3. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. 4. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia." Sebagaimana yang telah dijelaskan diatas, keberadaan Tuhan bagi manusia itu penting, karena Dia-lah yang maha esa dan maha satu, dan Dia tidak beranak ataupun diperanakkan. Begitulah keesan-Nya, maka penting bagi manusia untuk mengenal siapa Tuhan-nya, siapa penciptanya agar tak menyimpang dari apa yang telah ditetapkan.
WAN ADITYA SULTANI (ABI 1C)
sangat penting untuk kita melibatkan Tuhan dalam kehidupan kita sehari hari. karena sesungguhnya manusia itu tidak bisa hidup hanya dengan mengandalkan diri nya sendiri dan manusia lain karena mereka juga akan mati. setiap manusia butuh arah, pegangan, dan sesuatu yang mampu melindunginya dan menuntun nya kenbali ketika suatu saat manusia itu rapuh. Karena itulah manusia membutuhkan Tuhan sebagai zat yang maha agung dengan segala kekuasaan nya yang mampu menuntun kembali ketika suatu saat manusia itu melakukan kesalahan. Berdasarkan ayat Al Qur'an yang menjelaskan alasan manusia membutuhkan tuhan QS. Fatir 35: ayat 15 yang berbunyi يٰۤاَ يُّهَا النَّا سُ اَنْتُمُ الْفُقَرَآءُ اِلَى اللّٰهِ ۚ وَا للّٰهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ "Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan Allah ; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu), lagi Maha Terpuji"
Muhammad Iqhwan Haquul Yaqin
Alasan manusia membutuhkan Tuhan adalah karena manusia tidak pernah merasa puas dan selalu mencari makna dan tujuan hidup yang lebih tinggi dari sekadar keberadaan materi. Kehadiran Tuhan memberikan manusia arah dan bimbingan dalam menjalani hidup, baik sebagai individu maupun sebagai makhluk sosial. Berikut ini beberapa alasan mengapa manusia membutuhkan Tuhan beserta dasar Al-Qur'an dan hadis: 1. Kebutuhan Dukungan dan Tujuan Hidup Manusia membutuhkan dukungan dan tujuan hidup yang jelas. Ketika manusia mengalami kesulitan atau kebingungan, Tuhan menjadi tempat untuk mencari pertolongan dan bimbingan. Dasar Al-Qur'an: Surah Al-Ikhlas (Q.S. 112: 1-4) "Katakanlah: "Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang kepada-Nya segala sesuatu bergantung. Dia tidak memiliki anak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya." 2. Sumber Nilai Moral dan Etika Tuhan memberikan pedoman hidup yang mencakup nilai-nilai moral dan etika yang berlaku secara universal. Agama mengajarkan manusia untuk bersikap baik, jujur, adil, dan menjauhi perbuatan dosa. Dasar Hadits: Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR. Ahmad) 3. Menjadi Sumber Kedamaian dan Ketenangan Jiwa Ketika menghadapi cobaan dan kesulitan hidup, manusia membutuhkan kedamaian batin dan kedamaian sejati. Dengan beriman kepada Allah, manusia dapat meraih ketenangan tersebut melalui keimanan dan ibadah kepada-Nya. Dasar Al-Qur'an: Surah Ar-Ra'd (QS. 13:28) "(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram karena mengingat Allah. Sesungguhnya hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram."
Diva Safwa Fitri
Alasan manusia membutuhkan agama adalah karena agama merupakan sumber pedoman hidup yang sudah menjadi fitrah bagi umat manusia. Bagi umat islam agama sudah menjadi suatu hal yang diakui sejak kandungan. Salah satu dalil naqli yang mendukung bahwa umat islam membutuhkan agama islam adalah firman Allah dalam surah Al A'raf ayat 172: وَاِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْۢ بَنِيْٓ اٰدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَاَشْهَدَهُمْ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْۚ اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْۗ قَالُوْا بَلٰىۛ شَهِدْنَا ۛاَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اِنَّا كُنَّا عَنْ هٰذَا غٰفِلِيْنَۙ Terjemahan ayat: Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.”
Muhammad Iqhwan Haquul Yaqin
Alasan manusia membutuhkan Tuhan adalah karena manusia tidak pernah merasa puas dan selalu mencari makna dan tujuan hidup yang lebih tinggi dari sekadar keberadaan materi. Kehadiran Tuhan memberikan manusia arah dan bimbingan dalam menjalani hidup, baik sebagai individu maupun sebagai makhluk sosial. Berikut ini beberapa alasan mengapa manusia membutuhkan Tuhan beserta dasar Al-Qur'an dan hadis: 1. Kebutuhan Dukungan dan Tujuan Hidup Manusia membutuhkan dukungan dan tujuan hidup yang jelas. Ketika manusia mengalami kesulitan atau kebingungan, Tuhan menjadi tempat untuk mencari pertolongan dan bimbingan. Dasar Al-Qur'an: Surah Al-Ikhlas (Q.S. 112: 1-4) "Katakanlah: "Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang kepada-Nya segala sesuatu bergantung. Dia tidak memiliki anak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya." 2. Sumber Nilai Moral dan Etika Tuhan memberikan pedoman hidup yang mencakup nilai-nilai moral dan etika yang berlaku secara universal. Agama mengajarkan manusia untuk bersikap baik, jujur, adil, dan menjauhi perbuatan dosa. Dasar Hadits: Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR. Ahmad) 3. Menjadi Sumber Kedamaian dan Ketenangan Jiwa Ketika menghadapi cobaan dan kesulitan hidup, manusia membutuhkan kedamaian batin dan kedamaian sejati. Dengan beriman kepada Allah, manusia dapat meraih ketenangan tersebut melalui keimanan dan ibadah kepada-Nya. Dasar Al-Qur'an: Surah Ar-Ra'd (QS. 13:28) "(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram karena mengingat Allah. Sesungguhnya hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram."
Suci Anggraini
Tuhan menjadi tempat bersandar dan meminta segala apa yang diinginkan oleh para penyembahnya. Ini salah satu surah yang menerangkan tentang eksistensi Tuhan dalam Q.S. Al-Ikhlas yaitu:قل هوالله احد. ا لله ا اصمد . لم يلد و و لم يولد. و لم يكن له كفوا احد. Artinya:" katakanlah; dialah Allah yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan tempat bergantung kepada-nya. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya. Dalam perkembangan ilmu teologi islam, lahir beberapa aliran tentang konsep Tuhan. Lahir nya konsep Tuhan disebabkan dari pemahaman para ilmuwan islam yang beragam berkaitan dengan ayat-ayat Al-Qur'an dan hadist-hadist nabi. Berikut ini aliran-aliran konsep ketuhanan dalam islam. Pertama, Muktazilah. Muktazilah merupakan kaum rasionalis di kalangan umat islam. Salah satu pandangannya. bahwa orang islam yang berbuat dosa besar, tidak kafir dan tidak mu'min. ia berada antara posisi mukmin dan kafir (manzilah baina manzilataini). Kedua, Qodariah. Aliran ini berpandangan bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam menentukan nasibnya sendiri. ia mempunyai kekuatan untuk menentukan apakah dirinya bahagia dan selamat atau celaka di Hari kiamat. Hal ini manusia bertanggungjawab dengan segala perbuatan yang dia lakukan. Ketiga, jabariah. Aliran ini kebalikan dari qodariah. Manusia tidak mempunyai kemampuan untuk menentukan nasib nya sendiri. Semua nasibnya sudah digariskan oleh Allah tentang nasib baik dan buruknya. Keempat, Asy'ariah. Aliran antara qadariah dan jabariah. Aliran ini mengakui bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melakukan suatu yang mempunyai potensi untuk bisa mendatangkan kemadharatan. Namun demikian, hasil akhir dari segala perbuatan manusia diserahkan kepada penilaian atas segala amal ibadahnya. Sebab bagi aliran Asy'ariah menyakini bahwa Allah mempunyai Hak preogratif untuk menentukan segala amal ibadah diterima atau ditolak oleh nya.
Siti Salwa
dalam sejarah peradaban manusia selalu membutuhkan kekuatan ghaib (Tuhan) dalam versi yang beragam. Manusia membutuhkan Tuhan karena untuk petunjuk hidup Tuhan memberikan pedoman untuk menjalani kehidupan dengan benar, lalu untuk ketenangan batin, perlindungan dan pengampunan serta tuntunan dalam kesulitan Tuhan berperan dalam memberikan keadilan, rasa syukur, dan dukungan dalam situasi sulit. Tuhan memberikan tujuan hidup yang lebih tinggi dan arah yang jelas, membantu manusia membuat keputusan yang berarti dan bertanggung jawab. (Hadist, riwayat Ahmad tentang tujuan hidup sebagai ibadah kepada Allah).
siti nur fadhilah
Beragama atau berTuhan adalah pilihan yang sangat pribadi dan bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor,dan karna tanpa dia kita tidak akan oernah merasa puas . Berikut beberapa alasan mengapa banyak orang merasa penting untuk berTuhan: Makna dan Tujuan: Bagi banyak orang, keyakinan agama memberikan makna dan tujuan dalam hidup mereka. Ini membantu mereka menjelaskan keberadaan dan menghadapi tantangan hidup dengan lebih baik. Moral dan Etika: Agama sering kali menyediakan panduan moral dan etika, membantu individu dalam menentukan apa yang benar dan salah serta membentuk perilaku sosial yang sangat positif. Komunitas dan Dukungan Sosial: Keberadaan dalam komunitas keagamaan bisa memberikan rasa kebersamaan dan dukungan sosial, yang penting untuk kesehatan mental dan emosional. Ritual dan Tradisi: Agama menawarkan ritual dan tradisi yang dapat memberikan struktur dan rasa stabilitas dalam kehidupan sehari-hari. Kehidupan Setelah Kematian: Banyak agama memberikan keyakinan tentang kehidupan setelah kematian, yang dapat memberikan ketenangan pikiran dan mengurangi kecemasan tentang kematian. Meskipun demikian, penting untuk diingat bahwa ada juga banyak orang yang menemukan makna dan tujuan hidup mereka melalui cara lain, seperti filosofi sekuler, humanisme, atau pencarian pribadi. Keputusan untuk berTuhan atau tidak, pada akhirnya, adalah hak masing-masing individu. Anda bilang: alasan manusia membutuhkan tuhan beserta dasar quran dan hadist ChatGPT bilang: ChatGPT Dalam konteks Islam, kebutuhan manusia untuk berTuhan atau beriman kepada Allah didasarkan pada keyakinan bahwa Allah adalah pencipta, pemelihara, dan pengatur segala sesuatu di alam semesta. Berikut adalah beberapa alasan mengapa umat Islam merasa perlu untuk berTuhan, beserta dasar dari Al-Qur'an dan Hadis: Keyakinan pada Penciptaan dan Pemeliharaan: Al-Qur'an menyatakan bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan yang mengatur kehidupan. Dalam Surah Al-Baqarah (2:164), Allah berfirman, "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal." Tujuan Hidup dan Ketaatan: Dalam Islam, beriman kepada Allah memberikan tujuan hidup yang jelas, yaitu untuk menyembah-Nya dan mengikuti petunjuk-Nya. Dalam Surah Adh-Dhariyat (51:56), Allah berfirman, "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku." Panduan Moral dan Etika: Allah memberikan pedoman moral dan etika melalui Al-Qur'an dan Hadis. Dalam Surah An-Nisa (4:80), Allah berfirman, "Barang siapa yang taat kepada Rasul, maka sesungguhnya dia telah taat kepada Allah."
siti nur fadhilah
Beragama atau berTuhan adalah pilihan yang sangat pribadi dan bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor,dan karna tanpa dia kita tidak akan oernah merasa puas . Berikut beberapa alasan mengapa banyak orang merasa penting untuk berTuhan: Makna dan Tujuan: Bagi banyak orang, keyakinan agama memberikan makna dan tujuan dalam hidup mereka. Ini membantu mereka menjelaskan keberadaan dan menghadapi tantangan hidup dengan lebih baik. Moral dan Etika: Agama sering kali menyediakan panduan moral dan etika, membantu individu dalam menentukan apa yang benar dan salah serta membentuk perilaku sosial yang sangat positif. Komunitas dan Dukungan Sosial: Keberadaan dalam komunitas keagamaan bisa memberikan rasa kebersamaan dan dukungan sosial, yang penting untuk kesehatan mental dan emosional. Ritual dan Tradisi: Agama menawarkan ritual dan tradisi yang dapat memberikan struktur dan rasa stabilitas dalam kehidupan sehari-hari. Kehidupan Setelah Kematian: Banyak agama memberikan keyakinan tentang kehidupan setelah kematian, yang dapat memberikan ketenangan pikiran dan mengurangi kecemasan tentang kematian. Meskipun demikian, penting untuk diingat bahwa ada juga banyak orang yang menemukan makna dan tujuan hidup mereka melalui cara lain, seperti filosofi sekuler, humanisme, atau pencarian pribadi. Keputusan untuk berTuhan atau tidak, pada akhirnya, adalah hak masing-masing individu. Anda bilang: alasan manusia membutuhkan tuhan beserta dasar quran dan hadist ChatGPT bilang: ChatGPT Dalam konteks Islam, kebutuhan manusia untuk berTuhan atau beriman kepada Allah didasarkan pada keyakinan bahwa Allah adalah pencipta, pemelihara, dan pengatur segala sesuatu di alam semesta. Berikut adalah beberapa alasan mengapa umat Islam merasa perlu untuk berTuhan, beserta dasar dari Al-Qur'an dan Hadis: Keyakinan pada Penciptaan dan Pemeliharaan: Al-Qur'an menyatakan bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan yang mengatur kehidupan. Dalam Surah Al-Baqarah (2:164), Allah berfirman, "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal." Tujuan Hidup dan Ketaatan: Dalam Islam, beriman kepada Allah memberikan tujuan hidup yang jelas, yaitu untuk menyembah-Nya dan mengikuti petunjuk-Nya. Dalam Surah Adh-Dhariyat (51:56), Allah berfirman, "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku." Panduan Moral dan Etika: Allah memberikan pedoman moral dan etika melalui Al-Qur'an dan Hadis. Dalam Surah An-Nisa (4:80), Allah berfirman, "Barang siapa yang taat kepada Rasul, maka sesungguhnya dia telah taat kepada Allah."
YUDA KURNIAWAN
Manusia membutuhkan Tuhan karena beberapa alasan, di antaranya: Tuhan sebagai sumber kebenaran dan kebajikan Tuhan memberikan spirit kepada manusia untuk membingkai kehidupannya dengan etika Tuhan. Tuhan sebagai tempat meminta Al-Qur'an menjelaskan bahwa Tuhan itu adalah Maha Esa, tempat meminta, tidak beranak dan juga tidak diperanakkan, dan tidak ada sesuatupun yang menyamai-Nya. Tuhan sebagai pencipta manusia Manusia diciptakan oleh Allah untuk menjadi khalifah (pemimpin). Tuhan sebagai sumber pertolongan Manusia membutuhkan pertolongan Tuhan untuk kelengkapan dan berjalannya fungsi anggota badannya, kebutuhan makan dan minumnya, keselamatan kehidupannya sampai ajalnya, dan keselamatannya di dunia dan di akhirat. Al-Qur'an dan hadits juga menjadi sumber nasihat bagi umat Islam. Al-Qur'an berisi banyak nasihat dari Allah swt kepada umat Islam untuk bekal hidup di dunia dan di akhirat. Sedangkan hadits merupakan perkataan, perbuatan, ketetapan, dan sifat Nabi Muhammad saw yang semuanya menjadi suri tauladan bagi para umat Islam. Banyak ayat-ayat Al-Qur’an dan hadist-hadist nabi yang menerangkan tentang eksistensi tuhan. Berikut ini salah satu surat yang menerangkan tentang eksistensi Tuhan dalam Q.S. Al-Ikhlas sebagai berikut: قل هو الله احد. الله الصّمد. لم يلد ولم يولد. ولم يكن له كفوا احد. Artinya: “Katakanlah; dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan tempat bergantung kepada-Nya. dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya. Dalam perkembangan ilmu teologi Islam, lahir beberapa aliran tentan konsep Tuhan. Lahir nya konsep Tuhan disebabkan dari pemahaman para ilmuwan Islam yang beragam berkaitan dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadist-hadist nabi. Berikut ini aliran-aliran konsep ketuhanan dalam islam.
Ahmad Zikri ABI 1C
Karena manusia adalah makhluk ciptaan yang lemah dan terbatas, manusia akan mengalami yang namanya ketakutan, kesusahan, menyerah dan kematian maka dari itu ia membutuhkan sesuatu yang mampu melindunginya dan menuntunnya kembali ketika suatu saat nanti ia menyerah dan rapuh. Karena itulah manusia membutuhkan Tuhan sebagai zat yang maha agung dengan segala kekuasaannya yang mampu menuntunnya kembali ketika suatu saat ia melakukan kesalahan dan menyerah. Banyak ayat-ayat Al-Qur’an dan hadist-hadist nabi yang menerangkan tentang eksistensi tuhan. Berikut ini salah satu surat yang menerangkan tentang eksistensi Tuhan dalam Q.S. Al-Ikhlas sebagai berikut: قل هو الله احد. الله الصّمد. لم يلد ولم يولد. ولم يكن له كفوا احد. Artinya: “Katakanlah; dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan tempat bergantung kepada-Nya. dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya.
YUDA KURNIAWAN
Manusia membutuhkan Tuhan karena beberapa alasan, di antaranya: Tuhan sebagai sumber kebenaran dan kebajikan Tuhan memberikan spirit kepada manusia untuk membingkai kehidupannya dengan etika Tuhan. Tuhan sebagai tempat meminta Al-Qur'an menjelaskan bahwa Tuhan itu adalah Maha Esa, tempat meminta, tidak beranak dan juga tidak diperanakkan, dan tidak ada sesuatupun yang menyamai-Nya. Tuhan sebagai pencipta manusia Manusia diciptakan oleh Allah untuk menjadi khalifah (pemimpin). Tuhan sebagai sumber pertolongan Manusia membutuhkan pertolongan Tuhan untuk kelengkapan dan berjalannya fungsi anggota badannya, kebutuhan makan dan minumnya, keselamatan kehidupannya sampai ajalnya, dan keselamatannya di dunia dan di akhirat. Al-Qur'an dan hadits juga menjadi sumber nasihat bagi umat Islam. Al-Qur'an berisi banyak nasihat dari Allah swt kepada umat Islam untuk bekal hidup di dunia dan di akhirat. Sedangkan hadits merupakan perkataan, perbuatan, ketetapan, dan sifat Nabi Muhammad saw yang semuanya menjadi suri tauladan bagi para umat Islam. Banyak ayat-ayat Al-Qur’an dan hadist-hadist nabi yang menerangkan tentang eksistensi tuhan. Berikut ini salah satu surat yang menerangkan tentang eksistensi Tuhan dalam Q.S. Al-Ikhlas sebagai berikut: قل هو الله احد. الله الصّمد. لم يلد ولم يولد. ولم يكن له كفوا احد. Artinya: “Katakanlah; dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan tempat bergantung kepada-Nya. dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya. Dalam perkembangan ilmu teologi Islam, lahir beberapa aliran tentan konsep Tuhan. Lahir nya konsep Tuhan disebabkan dari pemahaman para ilmuwan Islam yang beragam berkaitan dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadist-hadist nabi. Berikut ini aliran-aliran konsep ketuhanan dalam islam.
NUR FAZILA
Alasan manusia membutuhkan tuhan yaitu karena manusia tidak bisa meraih kedamaian abadi dengan akal yang dimiliki tanpa meyakini adanya tuhan. Karena manusia membutuhkan sandaran untuk menjadi tolak kebenaran yang jelas. Itu sebabnya manusia harus menganut agama sebagai titik keyakinan untuk mendapatkan kedamaian abadi di dalam diri masing-masing. Dasar Al-qur'an yang menyatakan manusia membutuhkan tuhan yaitu terdapat pada Q.s. Faathir ayat 15-18 salah satu artinya yaitu "Hai manusia, kamulah yang berkehendak (membutuhkan) kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji" (Q.S. Fathir: 15).
NUR FAZILA
Alasan manusia membutuhkan tuhan yaitu karena manusia tidak bisa meraih kedamaian abadi dengan akal yang dimiliki tanpa meyakini adanya tuhan. Karena manusia membutuhkan sandaran untuk menjadi tolak kebenaran yang jelas. Itu sebabnya manusia harus menganut agama sebagai titik keyakinan untuk mendapatkan kedamaian abadi di dalam diri masing-masing. Dasar Al-qur'an yang menyatakan manusia membutuhkan tuhan yaitu terdapat pada Q.s. Faathir ayat 15-18 salah satu artinya yaitu "Hai manusia, kamulah yang berkehendak (membutuhkan) kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji" (Q.S. Fathir: 15).
Khansa Salsabilla Az-Zahra (ABI 1C)
alasan manusia membutuhkan tuhan karena sebagai pedoman dan pegangan hidup manusia untuk kehidupan di dunia akhirat dan membantu manusia untuk menghadapi berbagai masalah yang tidak dapat di pahami.didalam Al-Qur'an memerintahkan manusia untuk beribadah kepada Allah, firman Allah dalam surah az-zariyat ayat 56 menyatakan " tidak aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah kepada ku ". dan Al-Qur'an juga berisi nasihat-nasihat dari Allah untuk umat Islam sebagai bekal hidup di dunia dan akhirat. Salah satu dalil naqli yang mendukung bahwa umat islam membutuhkan agama islam adalah firman Allah dalam surah Al A'raf ayat 172: وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غُفِلِينَ Terjemahan ayat: Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab, "Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, "Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini."
Nadhira Eria Zahara
Karena manusia adalah makhluk ciptaan yg lemah dan manusia akan mengalami yg namanya ketakutan, kesusahan, menyerah dan kematian. maka dari itu manusia membutuhkan sesuatu yg mampu melindunginya dan menuntunnya kembali ketika ia menyerah dan rapuh, karna itulah manusia membutuhkan Tuhan sebagai zat yg maha agung dengan segala kekuasaannya yang mampu menuntunnya kembali. يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اَنْتُمُ الْفُقَرَاۤءُ اِلَى اللّٰهِ ۚوَاللّٰهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ – ١٥ ۞ اِنْ يَّشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيْدٍۚ – ١٦ وَمَا ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ بِعَزِيْزٍ – ١٧ “Hai manusia, kamulah yang berkehendak (membutuhkan) kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah.” (QS. Faathir/35: 15 – 17) Hidayah, pertolongan Allah, ridha Allah pada bagian ayat ini menanamkan keyakinan, bahwa kita makhluk yang diciptakan Allah, dipersiapkan untuk menerima amanat Allah, untuk selalu membaktikan kehidupan kita kepada Allah. Tanpa ada rasa butuh kepada Allah kita akan lepas ikatan dengan Allah. Dan kalau ini terjadi, maka keluarlah kita dari golongan makhluk Allah yang dapat mendudukkan diri secara proporsional dalam hidup ini.
Wilia Oktaviani (ABI 1C)
Manusia membutuhkan Tuhan untuk beberapa alasan, yang juga didukung oleh ajaran dalam Al-Qur'an dan Hadis. Berikut adalah beberapa alasan beserta dasar-dasarnya: Kebutuhan Spiritual dan Tujuan Hidup: Manusia memerlukan Tuhan untuk memberikan makna dan tujuan dalam hidupnya. Tanpa keyakinan terhadap Tuhan, hidup bisa terasa kosong dan tidak berarti. Dalam Al-Qur'an, Allah menyatakan bahwa tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada-Nya: Al-Qur'an: "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah-Ku." (QS. Adh-Dhariyat: 56) Panduan Moral dan Etika: Tuhan memberikan petunjuk tentang apa yang benar dan salah, serta bagaimana manusia seharusnya berperilaku. Petunjuk ini membantu manusia dalam membuat keputusan yang sesuai dengan norma dan nilai-nilai etika. Rasulullah SAW bersabda: Hadis: "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR. Al-Bukhari dan Muslim) Kesejahteraan Emosional dan Psikologis: Keyakinan kepada Tuhan dapat memberikan rasa tenang dan ketenangan batin, terutama dalam menghadapi tantangan hidup. Al-Qur'an mengajarkan bahwa ingat kepada Allah dapat memberikan ketenangan: Al-Qur'an: "Ketahuilah, dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28) Perasaan Ketergantungan dan Kebutuhan: Manusia merasa ketergantungan terhadap Tuhan sebagai Pencipta dan Pengatur segala sesuatu. Pengakuan akan ketergantungan ini merupakan bagian dari penghambaan dan rasa syukur kepada Tuhan. Dalam Al-Qur'an, Allah menyatakan: Al-Qur'an: "Hai manusia, kamulah yang perlu kepada Allah, dan Allah Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji." (QS. Fatir: 15) Harapan dan Keadilan Akhirat: Keyakinan kepada Tuhan memberikan harapan akan adanya kehidupan setelah mati dan keadilan akhirat, di mana segala amal baik dan buruk akan diberi balasan yang sesuai. Hal ini memberikan dorongan untuk hidup dengan baik dan benar: Hadis: "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Al-Bukhari dan Muslim) Al-Qur'an dan Hadis memberikan berbagai panduan dan penjelasan mengenai pentingnya keberadaan Tuhan dalam kehidupan manusia. Keyakinan ini mendasari berbagai aspek spiritual, moral, emosional, dan eksistensial dalam kehidupan umat Islam.
???? You have 1 email # 743. Read > https://telegr
pmogm5
???? Message- You got a transfer №CH58. CONTINUE =
98x848
Fahtullah
Manusia membutuhkan Tuhan karena Allah yang menciptakan, memberi kehidupan, rezeki, serta memelihara alam semesta. Tanpa Allah, manusia tidak mungkin ada.Manusia membutuhkan Tuhan (Allah) karena Dia-lah Pencipta, Pemelihara, Tempat bergantung, Pemberi petunjuk, dan Tempat kembali. Tanpa Allah, manusia tidak punya arah, tujuan, maupun kekuatan dalam menjalani hidup.
Kaidah Pertama Qawaidul Fiqhiyah
01 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   85
Sejarah Perkembangan Sosiologi Hukum Keluarga Islam
25 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   22
Sosiologi Hukum Islam
22 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   82
Syarat-syarat Perkawinan
20 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   63
Materi Qawaid al-fiqiyah -1
20 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   253
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      12929
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4046
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3111
Puasa dan Ilmu Padi
Rabu , 03 April 2024      2424
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2351