Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

327 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Agama dan Kehidupan Modern



Jumat , 24 April 2026



Telah dibaca :  82

Berbicara tentang penerapan agama dalam kehidupan modern, biasanya dihubungkan dengan konotasi modernitas yang mengalami-atau malah menderita-ekses. Ekses itu adalah akibat dominasi ilmu dan teknologi yang menurut Ashadi Siregar, hanya mampu melahirkan teknokrat-teknokrat tanpa perasaan-suatu pernyataan yang bersifat karikatural. Kepentingan serta urusan ilmu dan teknologi ialah obyektifitas. Dengan sendirinya objektivisme itu akan sering berbenturan dengan subjektivisme, sehingga sebagaimana halnya dengan mesin yang tanpa perasaan, mengingkari perseorangan (depersonalization) berarti mengurangi arti kemanusiaan (dehumanization) dan mengakibatkan ketidaksanggupan seseorang mengenal dirinya sendiri dan makan hidupnya atau mengalami apa yang dinamakan keterasingan alieanation. Ilmu dan teknologi bersangkutan dengan bidang yang sedemikian rupa sifat dan nilainya, sehingga disebut saja profane atau duniawi. Dan keprofanan berada dalam posisi yang antagonis dengan kesakralan atau rasa kesucian tersebut.

Sebuah magnet tak mungkin ada tanpa kedua unsurnya yang antagonistis-berupa kutub-kutub utara dan selatannya. Demikian pula kehidupan yang wajar, ia memerlukan keseimbangan antara aspek profan dan aspek sakral. Maka, tidak heran bahwa dalam masyarakat modern-dalam konotasi tadi-masalah mencari dan menemukan makna hidup yang ultimate, jadi berarti sakral, menjadi semakin serius dan akut. Indikasi-indikasi ke arah itu dalam disebut dua macam yang datangnya dari dua jurusan yang berlawanan: negatif dan positif. Yang negatif berupa gejala bahwa penyakit jiwa lebih banyak pada masyarakat modern daripada masyarakat yang lebih sederhana (untuk Indonesia telah banyak di kota-kota besar daripada di desa-desa).

Yang positif berupa gejala semakin tertariknya orang-orang modern kepada pemikiran-pemikiran spekulatif ( di Amerika lebih banyak orang membaca Al-Kitab sekarang ini daripada dulu, meskipun pengunjung gereja menurun).

Tetapi yang lebih relevan dengan kita, bangsa Indonesia mungkin bukan dalam konotasi tersebut. Bangsa Indonesia sekarang sedang membangun. Dalam Pembangunan itu yang diutamakan ialah peningkatan kemampuan ekonomi. Hal itu dinyatakan dalam banyak sekali ukuran atau norma, antara lain yang terpenting ialah kenaikan GNP. Sekarang ini GNP per kapita kita ialah 80 dolar Amerika. Sampai dengan tingkat GNP per kapita berpakah kita akan menganggap kehidupan ekonomi sudah cukup makmur? Sedangkan di hadapan kita terhadap contoh contoh GNP per kapita yang jauh lebih tinggi, umpamanya Amerika Serikat dengan 4.000 dolarnya. Mengejar dan mencapai tingkat kemakmuran menurut ukuran amerika adalah tidak mungkin. Pertama, karena selain jaraknya sudah terlampau jauh, juga rate of growth kita jauh di bawah rate of growth Amerika. Kedua, dan ini lebih penting, kekayaan alam yang ada tidak mungkin menunjang tingkat kehidupan ala Amerika untuk keseluruhan manusia. Jadi, dalam perspektif global, sekalipun Indonesia tidak termasuk negara maju dengan masyarakat modern, ia menghadapai persoalan modern. Dalam hubungan dengan agama ialah, apakah ia masih mampu berperan dalam memberikan alternatif cara hidup yang tidak terlampau terikat pada ukuran-ukuran materil. Alternatif itu harus mampu dikemukakan di depan (before hand), artinya tidak setelah kita terlanjur hancur karena kegagalan dalam usaha mencapai kemakmuran materil ala Amerika. Hal itu berarti, dengan perkataan lain, apakah agama sanggup menjadi sumber inspirasi dan konsep bagi suatu pola pembangunan yang dapat dijadikan alternatif bagi yang ada sekarang?.

Bahan Diskusi:

Bagaimana peran agama dalam menghadapi modernisasi yang berkembang sangat pesat.Jelaskan !

Sumber:

Nurcholish Madjid, Islam Kemodernan dan Keindonesiaaan, Bandung, Mizan Media Utama,2008.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Pencatatan Perkawinan
12 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   116

Beragam Perspektif Sosiologi Keluarga
08 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   111

Qawaidul Fiqhiyah-bagian Kedua
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   178

Pembaharuan dalam Islam
02 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   356

Modern dan Modernisme
27 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   390

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13625


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4624


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2940