Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

873 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Menyatukan Akal dan Hati Ketika Ada Musibah



Kamis , 03 September 2026



Telah dibaca :  44

Saya sudah berapa kali -sudah tidak terhitung- menulis tentang sabar ketika menghadapi masalah, menerima ketika ada persoalan yang jawabannya tidak sesuai dengan keinginan kita. Kadang ingin rasanya berontak. Kadang seperti tidak adil hukum dunia ini. Seolah-olah Tuhan membiarkan keburukan, ketidakadilan merampas kebebasan, kebahagiaan dan ketenangan hidup kita.

Saya -mungkin juga anda- mampu menulis tentang esensi sabar dan menerima dengan lapang dada dalam bentuk tulisan bisa berpuluh-puluh halaman. Bahkan bisa jadi sampai jadi buku berjilid-jilid. Tapi apakah apa yang kita tulis sudah sesuai apa yang kita alami dan rasakan? Apakah kita juga sudah bisa mempraktekan tulisan tentang sabar dan “nrimo ing pandum” sudah bagian dari perilaku dhohir dan batin kita?. Jangan-jangan kita masih menjadi manusia pincang. Antara ucapan dan kenyataan belum sinkron.

Kadang kehabisan kata untuk mreteli tentang esensi sabar atau nrimo ing pandum. Sebab memang hakikat kesabaran tersebut bukan pada kumpulan kata atau kalimat, tapi pada perilaku sehari-hari yang kadang bisa terlihat dalam bentuk dhohir dan kadang tersembunyi dalam batin.

Saya punya teman yang selalu memberikan nasehat kepada ku. Ia sangat baik sekali kepada ku. Ketika ada masalah, ia memberikan nasehat kepadaku. Begitu juga sebaliknya saat ia ada masalah -seperti sakit dan sejenisnya- saya pun mencoba menasehati nya. Kadang saya sedih dan mencoba untuk menghiburnya. Tapi saya lihat justru di dalam ujian yang menimpa nya, dia justru menunjukan ketabahan luar biasa. Kadang saya dibuat malu melihat ketabahan dan senyum nya yang terlihat tulus sampai di lubuk hati.

Ada suatu kisah kehidupan dari seorang bapak. Umur sekitar 78 tahun. Badan nya masih segar dan tidak terlihat udzur. Meskipun kulit nya sudah keriput. Tapi pancaran mata sangat tajam dan terlihat bercahaya. Suatu tanda tentang kedalaman kepasrahan nya kepada Allah SWT.

Suatu hari ia cerita tentang sakit yang dideritanya. Sudah sekitar 11 tahun. Setiap batuk selalu saja keluar darah segar. Sudah periksa ke dokter. Tapi kata dokter tidak ada masalah sama sekali. Semua organ tubuh sehat.

Akibat sakit ini, nyaris selama 11 tahun ia tidak bisa bekerja. Selalu saja tidur di kamar, makan, minum, mandi, ibadah  dan tidur. Itu gambaran rutinan setiap hari.

Saya melihat wajah nya. terlihat tenang. Tidak pernah marah sama sekali. Ketika istri marah-marah dia pun tetap tenang setenang menghadapi penyakit muntah darah setiap saat ketika batuk.

“Tidak pernah tersingguh atas omelan mbah putri?” saya bertanya kepada bapak tadi.

“Buat apa marah, wong mbah putri marah-marah kepada ku karena sayang kok” katanya tersenyum.

“Apa buktinya mbah putri sayang sama jenengan?” tanyaku

“Gampang saja, selama saya sakit hampir dua tahun sekali mbah putri punya anak. Bukankah itu bukti dia sayang dan berkah?” jawab bapak yang sekarang berumur 78 tahun tadi.

Saya tidak akan bercerita tentang kisah-kisah para Nabi. Kita bukan level nya. meskipun Tuhan menyediakan pembenaran bahwa mereka bagian dari “basyarun mislukum”, tapi saya hanya memberikan fakta dalam kehidupan sehari-hari tentang kisah orang-orang biasa tetapi mempunyai kesabaran luarbiasa.

Saya mempunyai teman yang diuji dengan kondisi anak-anak nya kurang membahagiakan hati. Sejak kecil sakit-sakitan dan menghabiskan harta untuk berobat. Hingga kemudian ia tinggal di rumah yang sangat sederhana. Hartanya habis untuk berobat anak nya.

Saya sedih melihatnya. Tapi saya melihat mereka baik-baik saja. Mereka terlihat bahagia. Tidak ada guratan kesedihan di wajah nya, tidak ada penyesalan dalam menjalani hidupnya. Mereka tetap enjoy melaksanakan sekenario hidup yang sudah digariskan Tuhan kepada keluarganya. Saya melihatnya jadi iri. Jangan-jangan ketika saya dicoba seperti mereka, saya gagal.

Walhasil, saya -mungkin juga anda- akan mendapatkan ujian yang beragam. Ada ujian jabatan, pangkat, pekerjaan, anak, istri atau suami, orang tua, mertua dan tetangga kita. Ada kehadiran mereka kadang membuat dada terasa sesak dan ingin menangis sejadi-jadinya. Kadang kita ingin hidup di atas awan yang terlihat tenang atau hidup di dunia dongeng yang tidak ada persoalan.

Bukan pada persoalan apa, tapi bagaimana menyikapi ujian tersebut. Ujian hidup pasti tidak lepas dari kehidupan kita sehari-hari. Tapi menyikapi nya dengan menyertakan Allah dalam kehidupan kita yang membuat ujian menjadi tidak sekadar sebuah penderitaan, tetapi sebagai jalan kita untuk semakin mengenal Allah dalam lumpur penderitaan. Tidak peduli, sedalam apapun lumpur penderitaan, ketika kita berstatus sebagai emas tetap emas walaupun penuh dengan bau busuk dan kotoran. Tidak mengapa dicuci sebentar saja, emas tersebut akan bercahaya.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Di Tambakberas, Aku Menangis
30 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   152

Terbakar Rindu
26 Agustus 2026   Oleh : Imam Ghozali   185

Ya habibi, Ya Rasulullah, Apakah ini Artinya Cinta?
22 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   253

Tangisan Rindu; Dari Khalifah Umar Hingga Mbah Riyan
02 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   231

Obat Susah Tidur
31 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   210

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14386


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6088


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5545


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4456