Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

380 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Tangisan Rindu; Dari Khalifah Umar Hingga Mbah Riyan



Minggu , 02 Agustus 2026



Telah dibaca :  81

Alhamdulillah, tepat jam 20.30 (Sabtu, 1 Agustus 2026) sudah selesai tulisan kedua. Satu hari lebih maju dari target yang seharusnya yaitu minggu tanggal 2 Agustus 2026.  Minggu depan, Insya Allah fokus melakukan editing naskah buku. Semoga Allah memberi kekuatan untuk menyelesaikannya.

Jam 07.20, kami sarapan pagi di Kedai Jumbo. Duduk seorang diri. Istri dari kejauhan melirik ke arahku. Dia tersenyum dan membiarkan ku seorang diri dan hanya berteman dengan secangkir kopi. Mungkin dia berkata dalam hati: “Biarkan saja, ayah mu mungkin sedang galau tingkat dewa”.


Saya melihat video milik akun Tel Pen. Saya tidak mengenalnya. Tapi saya mengenal isi video nya. kejadian tahun 3 Juni 1989. Video yang mengisahkan sidang darurat pemilihan pengganti Ayatollah Khomaini. Sang pemimpin tertinggi di forum tersebut berpidato. Isinya ia -khomaini- di forum tersebut meminta agar dirinya jangan dipilih kembali. Ia merasa sangat tidak pantas untuk dipilih dalam periode berikutnya. Banyak kekurangan ilmu dan agama.

Ayatollah Akbar Hasyemi memimpin rapat. Ia mengatakan kepada forum tersebut, tentang siapa yang setuju memilih Ayatollah Khomaini berdiri, yang tidak setuju duduk. Sepontan semua berdiri. Saat itu Ayatollah Khomaini masih berdiri. Spontanitas Ayatollah Khomaini pun membetulkan kacamata nya. Tetasan air mata tidak tertahankan membasahi pipi. Tangisan ketulusan suara hati tentang beratnya memegang amanah sebagai seorang pemimpin. Ia menangis karena takut akan tanggungjawab di hadapan Allah. Ia ingin menjadi manusia biasa. Tapi amanah rakyat diserahkan di pundaknya. Sebagai seorang yang bersih hatinya, tulus perjuangan menerima tersebut penuh dengan tanggungjawab lahir dan batin luarbiasa. Dan anda bisa lihat, pertanggungjawabanya selesai. Ia meninggal dunia saat puncak perjuangan melawan AS dan Israel.

Saya mencoba menyusuri lorong-lorong waktu. Dalam bayang imajiner, saya melihat Umar bin Khatab duduk di bawah pohon kurma seorang diri. Seorang yahudi menghampiri dan bertanya kepada nya: “Dimana Istana Umar bin Khatab, kalifah nya umat Islam?”.

Umar bin khatab menjawab: “ Di bawah langit dan di atas bumi”.

Seorang yahudi marah-marah. Dia pun pergi meninggalkan orang tersebut yang tiada lain adalah Umar bin Khatab.

Dia pun bertanya kepada seorang jamaah masjid: “Wahai kisanak, apakah ini Istana khalifah mu, dan dimana khalifah mu sekarang ini!”.

Sang jamaah pun menjawab: “Ini bukan Istana, ini Masjid tempat sholat. Dan jika kamu tadi melihat orang yang duduk di bawah pohon kurma tersebut, itulah Umar bin Khatab, pemimpin tertinggi umat Islam”.

Kaget. Pucat seluruh muka. Tubuh Sang Yahudi itu hampir saja jatuh mendengar cerita itu. Spontanitas ia pun mengucapkan kalimat syahadat.


Melintas waktu. Saya melihat Umar bin Abdul Azis. Wajah nya sangat tampan. Kulit putih, hidung mancung dan senyum nya membuat para Wanita cantik jatuh hati kepada nya. Ketika dibaiat menjadi khalifah, semua berubah 180 derajat. Wajah sayu, badan kurus. Baju yang dulu memakai sutra berhias intan berlian kini hanya selembar kain dengan harga yang sangat murah. Malam hari selalu menangis. Siang hari selalu melayani kepentingan rakyat nya. Hidup hanya mengharap kepada Allah swt.

Apakah kisah-kisah tersebut akan datang lagi di era sekarang ini? Apakah ada pemimpin-pemimpin bangsa ini yang akan meneruskan lelaku cara memimpin seperti Umar bin Khatab, Umar bin Abdul Aziz atau Ayatollah Khomaini?. Apakah ada para pemimpin daerah yang hidup penuh dengan kesederhaan dan selalu memikirkan rakyat nya. pertanyaan yang belum menemukan jawaban yang tepat. Jawaban yang masih teka-teki dan misteri.

Tiba-tiba saya mendengar manusia yang mastur dan tiba-tiba mashur. Seorang hamba Allah yang sehari-hari kerja serabutan. Bekerja untuk menghidupi istri dan anak-anak nya dengan cara yang halal. Masyarakat di daerah nya hanya melihat nya sebagai basyarun mislukum. Ia tenggelam dalam hiruk pikuk persaingan dunia. Ia tenggelam oleh persaingan kehidupan dunia yang semakin radikal dan bar-bar.

Allah menghilangkan status mastur nya. Allah pun membuka nya sebagai manusia yang mashur. Nama hamba tersebut sangat biasa saja: Supriyanto. Namanya sangat sederhana. Genetic terlalu Jawa. Namun geneologis keilmuannya telah membuka hijab-hijab langit dan menerobos sekat-sekat nafsu dunia yang terlalu kental dan gelap. Ia hadir laksana oase di tengah-tengah padang pasir kehidupan yang sangat kering gersang di hati manusia. Baginya kenikmatan dunia sebatas satu piring dan satu gelas. Sedangkan kenikmatan intelektual tiada batas sebagai pencerah peradaban umat manusia.

Mbah Riyan lagi-lagi sedang menampar kita yang hidup terlalu sibuk mengejar mimpi dan kehidupan yang lebih bersifat pragmatis. Ia telah mampu melakukan lelaku mukasafah tentang arti kehidupan sebenarnya yaitu mengkosongkan hati dari dunia dan mengisi nya hanya untuk kekasih teragung yaitu Allah dan Rasul-Nya.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obat Susah Tidur
31 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   113

Tidur dan Mimpi
30 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   146

Di Bawah Lindungan Atap
23 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   159

Doaku, Doamu dan Doa Kita
19 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   255

Efisiensi Nafsu
15 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   241

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14136


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      5320


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5170


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3913