
Alhamdulillah, tepat jam 20.30 (Sabtu, 1
Agustus 2026) sudah selesai tulisan kedua. Satu hari lebih maju dari target
yang seharusnya yaitu minggu tanggal 2 Agustus 2026. Minggu depan, Insya Allah fokus melakukan
editing naskah buku. Semoga Allah memberi kekuatan untuk menyelesaikannya.
Jam 07.20, kami sarapan pagi di Kedai Jumbo. Duduk seorang diri. Istri dari kejauhan melirik ke arahku. Dia tersenyum dan membiarkan ku seorang diri dan hanya berteman dengan secangkir kopi. Mungkin dia berkata dalam hati: “Biarkan saja, ayah mu mungkin sedang galau tingkat dewa”.

Saya melihat video milik akun Tel Pen. Saya
tidak mengenalnya. Tapi saya mengenal isi video nya. kejadian tahun 3 Juni
1989. Video yang mengisahkan sidang darurat pemilihan pengganti Ayatollah
Khomaini. Sang pemimpin tertinggi di forum tersebut berpidato. Isinya ia -khomaini-
di forum tersebut meminta agar dirinya jangan dipilih kembali. Ia merasa sangat
tidak pantas untuk dipilih dalam periode berikutnya. Banyak kekurangan ilmu dan
agama.
Ayatollah Akbar Hasyemi memimpin rapat. Ia mengatakan
kepada forum tersebut, tentang siapa yang setuju memilih Ayatollah Khomaini berdiri,
yang tidak setuju duduk. Sepontan semua berdiri. Saat itu Ayatollah Khomaini masih
berdiri. Spontanitas Ayatollah Khomaini pun membetulkan kacamata nya. Tetasan
air mata tidak tertahankan membasahi pipi. Tangisan ketulusan suara hati
tentang beratnya memegang amanah sebagai seorang pemimpin. Ia menangis karena
takut akan tanggungjawab di hadapan Allah. Ia ingin menjadi manusia biasa. Tapi
amanah rakyat diserahkan di pundaknya. Sebagai seorang yang bersih hatinya,
tulus perjuangan menerima tersebut penuh dengan tanggungjawab lahir dan batin
luarbiasa. Dan anda bisa lihat, pertanggungjawabanya selesai. Ia meninggal
dunia saat puncak perjuangan melawan AS dan Israel.
Saya mencoba menyusuri lorong-lorong waktu.
Dalam bayang imajiner, saya melihat Umar bin Khatab duduk di bawah pohon
kurma seorang diri. Seorang yahudi menghampiri dan bertanya kepada nya: “Dimana
Istana Umar bin Khatab, kalifah nya umat Islam?”.
Umar bin khatab menjawab: “ Di bawah langit
dan di atas bumi”.
Seorang yahudi marah-marah. Dia pun pergi
meninggalkan orang tersebut yang tiada lain adalah Umar bin Khatab.
Dia pun bertanya kepada seorang jamaah
masjid: “Wahai kisanak, apakah ini Istana khalifah mu, dan dimana khalifah mu
sekarang ini!”.
Sang jamaah pun menjawab: “Ini bukan Istana,
ini Masjid tempat sholat. Dan jika kamu tadi melihat orang yang duduk di bawah
pohon kurma tersebut, itulah Umar bin Khatab, pemimpin tertinggi umat Islam”.
Kaget. Pucat seluruh muka. Tubuh Sang Yahudi itu hampir saja jatuh mendengar cerita itu. Spontanitas ia pun mengucapkan kalimat syahadat.

Melintas waktu. Saya melihat Umar bin Abdul
Azis. Wajah nya sangat tampan. Kulit putih, hidung mancung dan senyum nya
membuat para Wanita cantik jatuh hati kepada nya. Ketika dibaiat menjadi
khalifah, semua berubah 180 derajat. Wajah sayu, badan kurus. Baju yang dulu memakai
sutra berhias intan berlian kini hanya selembar kain dengan harga yang sangat
murah. Malam hari selalu menangis. Siang hari selalu melayani kepentingan
rakyat nya. Hidup hanya mengharap kepada Allah swt.
Apakah kisah-kisah tersebut akan datang
lagi di era sekarang ini? Apakah ada pemimpin-pemimpin bangsa ini yang akan
meneruskan lelaku cara memimpin seperti Umar bin Khatab, Umar bin Abdul
Aziz atau Ayatollah Khomaini?. Apakah ada para pemimpin daerah yang hidup penuh
dengan kesederhaan dan selalu memikirkan rakyat nya. pertanyaan yang belum
menemukan jawaban yang tepat. Jawaban yang masih teka-teki dan misteri.
Tiba-tiba saya mendengar manusia yang mastur
dan tiba-tiba mashur. Seorang hamba Allah yang sehari-hari kerja serabutan.
Bekerja untuk menghidupi istri dan anak-anak nya dengan cara yang halal. Masyarakat
di daerah nya hanya melihat nya sebagai basyarun mislukum. Ia tenggelam
dalam hiruk pikuk persaingan dunia. Ia tenggelam oleh persaingan kehidupan
dunia yang semakin radikal dan bar-bar.
Allah menghilangkan status mastur
nya. Allah pun membuka nya sebagai manusia yang mashur. Nama hamba
tersebut sangat biasa saja: Supriyanto. Namanya sangat sederhana. Genetic terlalu
Jawa. Namun geneologis keilmuannya telah membuka hijab-hijab langit dan
menerobos sekat-sekat nafsu dunia yang terlalu kental dan gelap. Ia hadir laksana
oase di tengah-tengah padang pasir kehidupan yang sangat kering gersang
di hati manusia. Baginya kenikmatan dunia sebatas satu piring dan satu gelas. Sedangkan
kenikmatan intelektual tiada batas sebagai pencerah peradaban umat manusia.
Mbah Riyan lagi-lagi sedang menampar kita
yang hidup terlalu sibuk mengejar mimpi dan kehidupan yang lebih bersifat
pragmatis. Ia telah mampu melakukan lelaku mukasafah tentang arti
kehidupan sebenarnya yaitu mengkosongkan hati dari dunia dan mengisi nya hanya
untuk kekasih teragung yaitu Allah dan Rasul-Nya.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Obat Susah Tidur
31 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   113
Tidur dan Mimpi
30 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   146
Di Bawah Lindungan Atap
23 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   159
Doaku, Doamu dan Doa Kita
19 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   255
Efisiensi Nafsu
15 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   241
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14136
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      5320
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5170
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4458
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3913