
Saya hampir lupa menulis catatan kecil yang
sudah saya simpan dalam file pikiran ku. Untung masih ingat dan segera saya
tulisan di artikel ini agar jangan sampai hilang pesan-pesan kebaikan yang
sangat berharga ini. Yaitu pesan dari Prof. Dr. Hj. Evi Muafiah, M.Ag, rektor UIN
Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo.
Saat saya mengantar ke Pekanbaru, ada
kesempatan mengobrol dengannya. Obrolan ringan. Bermula dari pertanyaan tempat
kelahiranku. Saya menjawab daerah kemranjen banyumas. Dia tertawa mendengar
tempat tersebut. apalagi ketika saya menyebut Desa Sirau.”Dunia ini ternyata
sangat sempit Mas Imam, kita dipertemukan di Pekanbaru” katanya.
Saya mengobrol dengan Prof Evi yang masih
muda dan enerjik. Dia menceritakan kepadaku bahwa kenapa dia sangat tertarik
dengan desaku yang sangat terpencil. Dengan tersenyum sambil bergurau
mengatakan ada kenangan yang sangat indah dan sulit dilupakan oleh nya. Saya
tersenyum. Kisah saat masih kuliah S1. Kenangan klasik yang hampir terjadi pada
setiap mahasiswa saat kuliah.
Obrolan kecil yang kemudian kami bersahabat
dan berbagi kebaikan. Prof Evi sangat semangat sekali mengajak ku ke Ponorogo. Kalau
tidak sempat pun, tulisan ku bisa sampai ke Ponorogo. Guyonan kebaikan yang
menular. Kebaikan akan mendapat balasan kebaikan. Kata kanjeng Nabi Muhammad SAW:
“Barangsiapa yang berbuat baik kepada kalian maka balaslah. Jika kalian tidak
mendapati (apa yang bisa kalian pakai untuk membalas kebaikan tersebut), maka
doakanlah dia.”
Tentu saja saya bukan orang baik. Itu perasaan
ku. Hanya prasangka dari orang lain bahwa saya baik dan juga Allah masih sayang
menutup segala aib ku.
Mungkin saya ada secuil kebaikan -walaupun
sebesar zarah- yang mungkin dalam pandangan Allah bagian dari ketulusan
ku. Setiap menemukan seseorang selalu saja menjadi sahabat.
Saat saya berada di Jakarta, saya bertemu
dengan Prof Muhlisin. Itu pertemuan pertama. Saya jabat tangan dan
memperkenalkan diri. Hari itu juga kami langsung menjadi sahabat karib hingga
kini. Hubungan kebaikan tanpa pamrih. Saking kangennya, Prof Muhlisin kadang
menyapa diriku dengan gaya santri yang intelektual.
“Kyai Imam, jenengan kapan nulis artikel ke
sini. Jangan nulis tulisan bebas di website saja. Sudah saatnya jenengan nulis
di jurnal baik sinta atau scopus. Agar tulisan jenengan bisa memberi manfaat
lebih luas” kata Prof Muhlisin.
Saya tersenyum.”Insya Allah Kapan-Kapan
Prof” jawab ku singkat.
Saya juga pernah bertemu dengan Prof
Katimin dari UIN Sumatera utara. Sekali ketemu pun langsung memanggil “kyai”.
Padahal saya tidak menggunakan atribut ustadz atau ulama. Saya ingat betul
memamakai kaos oblong dan celana jean. Tentu saja, saya heran dan membuat
terasa canggung juga mendengarkannya. Mungkin itulah cara nya menghormati ku
dan saya pun menghormatinya dengan panggilan prof.
Ketika dia bertemu, langsung memelukku dan
bertanya tentang kabar ku dan keluarga. Dan kalau sudah ngobrol dengan
professor selalu saja menyuruh saya menulis artikel di jurnal-jurnal nya. Saya
selalu tersenyum dengan menjawab pendek: “Insya Allah Prof”.
Saya -mungkin juga anda- selalu saja
menemukan kisah kehidupan tentang pertolongan Allah begitu nyata terhadap
kebaikan-kebaikan yang telah kita lakukan. Pada saat pertolongan itu datang,
kita akan ingat masa-masa lalu saat kita menanam kebaikan-kebaikan. Saat itu
kita tidak pernah berfikir, bahwa kebaikan yang telah kita lakukan pada masa
dulu akan membuahkan kebaikan di masa mendatang. Kita benar-benar tidak
berfikir sejauh itu. Kita melakukan karena panggilan jiwa dan karena perintah
Tuhan.
Memang dalam kehidupan sehari-hari saya
mendengar ada ungkapan begini :”Air susu di balas dengan air tuba”.
Kebaikan dibalas dengan keburukan. Kalimat yang sangat familier terdengar di
telinga kita. Dan kenyataannya dalam kehidupan sering terjadi demikian. Ada
orang-orang yang sudah kita bantu, dikemudian hari justru terkadang orang
tersebut yang pertama menjadi orang yang tidak mau membantu sama sekali.
Apakah firman Tuhan salah. Apakah janji Tuhan
bahwa kebaikan dibalas kebaikan perlu direvisi ulang.
Tentu saja tidak. Janji Tuhan tetap berlaku
sepanjang masa. Ketika saya-mungkin juga anda- diperlakukan tidak baik padahal
sudah berbuat kebaikan, sebenarnya Tuhan sedang menjaga kita dari kebiasaan
berharap kepada manusia. Tuhan cemburu kepada kepada kita yang terlalu berharap
terlalu besar kepada manusia.
Terasa sangat sakit kalau berharap kepada
manusia. Semakin berharap kepada manusia, semakin merasa sakit dibuatnya.
Tuhan sedang mengajarkan kepada kita untuk
selalu menanam kebaikan kepada siapapun. Tidak peduli apa balasan manusia. Sebab
Tuhan menghadirkan orang-orang yang beragam agar pikiran kita semakin luas
cakrawala berfikirnya. Sehingga kita bisa menyikapi keberagaman secara arif dan
bijaksana.
Saat kita berbuat baik dan kemudian
membalas kebaikan kepada kita, berarti tuhan sedang menunjukan bahwa balasan kebaikan
merupakan sesuatu yang nyata. Ketika kebaikan kita belum dibalas dengan hal-hal
yang tidak baik, tuhan sedang menghadirkan kasih sayang-Nya atau cinta-Nya agar
hidup senantiasa selalu mengharap ridha dan pertolongan-Nya.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Dari Staf Ahli Menteri Sampai Gadis Cantik Di Kafe
04 Oktober 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   180
Debat dengan Kasir
27 September 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   179
Menyatukan Akal dan Hati Ketika Ada Musibah
03 September 2026   Oleh : Imam Ghozali   159
Di Tambakberas, Aku Menangis
30 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   219
Terbakar Rindu
26 Agustus 2026   Oleh : Imam Ghozali   239
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      15192
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6938
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      6170
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      5197
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      5003