
Sebuah kisah imajiner….
Saya duduk seorang diri. Ingin rasanya
duduk-duduk bareng dengan para sahabat. Rasanya bahagia sekali seperti mereka. Bisa
kumpul bareng dengan kanjeng Nabi Muhammad SAW dalam satu majelis. Hati ku ingin
menangis karena rindu. Tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Apalah artiku seorang
manusia biasa, banyak khilaf, maksiat dan berlumur dosa. Tapi, cintaku kepada Kanjeng
Rasul seperti tidak tertampung lagi dalam hati. Hanya tangisan air mata untuk
meluapkan hasrat yang terpendam di hati yang paling dalam.
Saat saya menangis, ada tangan mampir di
pundaku. Seorang badui berkulit hitam. Namun wajah nya sangat bersih. Ia tersenyum,
lalu duduk disampingku. Namanya Abdullah.
“ Cinta tidak harus selalu bersama. Cinta tidak
harus selalu memiliki. Cinta juga tidak ditentukan jarak. Sebab orang yang mencintai
dan dicintai sebenarnya telah hilang esensi jarak. Keduanya menyatu dalam satu
rasa di dalam jiwa” kata nya
menghibur diri ku.
Air mataku masih basah. Saya mencoba
tersenyum mendengar ketika Abdullah mengucapkan kalimat tersebut. saya sedikit
lega. Meskipun ingin rasanya seperti para sahabat senior yang bisa berkumpul
dengan Kanjeng Nabi. Saya harus belajar tahu diri. Lagi-lagi dalam hati saya
berkata: “Apalah artinya diriku ini, saya bukan dari orang-orang yang
berdarah biru seperti mereka. Saya juga bukan golongan orang Arab, saya hanya
orang yang terbuang bagai selembar daun yang terhempas angin di tengah Gurun
Padang Pasir”.
Abdullah tersenyum. Ditepuk pundaku. Seolah-olah
ia mengetahui perasaan hati ku yang paling dalam. Ia pun membacakan sebuah hadist
Nabi Muhammad SAW.
Umar bin Khattab berkata, "Wahai Rasulullah, sungguh engkau
sangat aku cintai melebihi apa pun selain diriku." Nabi SAW bersabda,
"Tidak, demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, hingga aku sangat engkau
cintai melebihi dirimu." Umar berkata, "Sekarang, demi Allah, engkau
sangat aku cintai melebihi diriku." Nabi SAW bersabda, "Sekarang
(engkau benar), wahai Umar."
Abdullah tersenyum. Ia meraih tanganku dan memegang erat-erat dengan
senyuman yang sangat indah sekali. Saya pun tersenyum dan belajar menerima penjelasan
dari Abdullah. Kami berdua pun duduk persama di pelataran Rumah Nabi. Duduk di
bawah pohon kurma sambil melihat para tamu yang datang silih berganti.
Saya melihat Nabi dikelingi para sahabat senior. Ada Abu Bakar,
Umar, Utsman dan Ali dan lain-lainnya. Mereka duduk membentuk lingkaran. Makan kurma.
Tidak lama kemudian ada seorang badui berkulit hitam. Tiba-tiba datang dan
langsung berdiri di hadapan nya. Semua marah dan ingin sekali menghajar nya. Apalagi
Umar bin Khatab. Ia sudah siap-siap mengeluarkan pedang dari sarungnya. Nabi menahan.
“Wahai Muhammad, kamu telah melakukan kesalahan besar kepada ku” kata
pemuda badui dengan sangat keras.
Para sahabat bertambah emosi. Ingin rasanya membunuh nya. jika
bukan karena nabi yang melarang, mungkin mereka sudah ditebas lehernya oleh umar
atau ali bin abi thalib.
“Apa kesalahanku kepada mu” Jawab Kanjeng Nabi dengan senyum yang sangat indah sekali.
“Pada suatu waktu, dulu kamu memukul ku dengan sangat keras. Saya ingin
membalasnya” jawab badui
terlihat begitu emosi.
Umar bin Khatab menggerem. Ia berdiri. Lagi-lagi, Nabi
memberi isyarat agar ia duduk kembali. Umar pun duduk dengan membawa
kedengkolan yang memuncak.
“Silahkan pukulah aku”
jawab kanjeng nabi dengan tetap senyum yang terlihat sangat tulus dan indah
sekali.
Para sahabat menangis melihat keikhlasan nya mendapat hukuman dari pemuda
baduy. Mereka ingin sekali menghukumnya, tapi nabi melarangnya. Air mata para
sahabat mulai menetes tidak tega melihat jika benar-benar nabi dipukul di depan
mereka.
“Wahai Muhammad, dulu saat kamu memukulku saya tidak memakai baju. Maka
saya minta lepas baju mu supaya adil” kata pemuda badui.
Semakin berguruh hati dan perasaan para sahabat Nabi. Mereka tidak
bisa lagi menahan tetesan air mata. Bagaimana bisa, mereka harus melihat orang
yang dicintai di siksa oleh orang badui. Tapi mereka tidak bisa apa-apa. Sesakit
apapun perasaan, mereka tetap patuh terhadap perintah kekasih nya.
Nabi pun membuka baju nya. Semua sahabat tegang saat pemuda
tersebut mendekati nabi. Namun tiba-tiba, kayu yang berada di tangan kanannya
dibuang dan dia pun mendekat nabi dan memeluk nya sambil menangis tersedu-sedua:
“Ya Rasul, kami yang kotor ini ingin sekali memeluk mu. Sungguh saya mencintai
mu begitu mendalam” kata pemuda badui tersebut. suara isakan tangis membuat
suasana haru. Semua pun menangis haru. Mereka pun kagum dan iri kepada pemuda
badui yang mempunyai rasa cinta sangat mendalam kepadanya.
Nabi tersenyum dan kemudian melepaskan pelukannya. Ia berkata: “Wahai
sahabat ku, inilah pemuda yang besok kulitnya tidak tersentuh api neraka”. Perkataan
Nabi ini semakin membuat pemuda badui menangis Bahagia.
Saya melihat adegan tersebut semakin menangis rindu ingin seperti
pemuda tersebut. Abdullah yang tadinya mengajarkan arti cinta dengan penuh
senyum pun tidak kuasa meneteskan air mata. Abdullah juga tidak bisa membohongi
diri. Ia juga sangat rindu ingin seperti pemuda badui tersebut. Tapi ia tidak
mampu. Kami tidak mampu. Hanya luapan cinta yang membara dalam hati. Kami hanya
punya rasa cinta, hanya bermodal cinta. Mencintai manusia yang sangat agung. Sedangkan
kami sebutir kotoran yang mungkin malah semakin mengotori kanjeng Nabi Muhammad
SAW.
Saya hanya bisa berkata dalam hati secara pelan: “Ya Habibi, Ya
Rasul, engkau adalah matahariku, engkau adalah rembulan. Engkau laksana cahaya di
atas cahaya. Tidak ada seorang pemimpin di dunia ini yang bisa memberikan cahaya
cinta melebihi cinta mu kepada kami semua. Ya Rasul, saya rindu akan syafaat mu
dan bisa berjumpa di surga-Nya, amin.”
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Tangisan Rindu; Dari Khalifah Umar Hingga Mbah Riyan
02 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   208
Obat Susah Tidur
31 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   200
Tidur dan Mimpi
30 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   194
Di Bawah Lindungan Atap
23 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   179
Doaku, Doamu dan Doa Kita
19 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   283
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14239
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      5832
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5275
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4605
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4179