Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

391 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Ya habibi, Ya Rasulullah, Apakah ini Artinya Cinta?



Sabtu , 22 Agustus 2026



Telah dibaca :  38

Sebuah kisah imajiner….

Saya duduk seorang diri. Ingin rasanya duduk-duduk bareng dengan para sahabat. Rasanya bahagia sekali seperti mereka. Bisa kumpul bareng dengan kanjeng Nabi Muhammad SAW dalam satu majelis. Hati ku ingin menangis karena rindu. Tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Apalah artiku seorang manusia biasa, banyak khilaf, maksiat dan berlumur dosa. Tapi, cintaku kepada Kanjeng Rasul seperti tidak tertampung lagi dalam hati. Hanya tangisan air mata untuk meluapkan hasrat yang terpendam di hati yang paling dalam.

Saat saya menangis, ada tangan mampir di pundaku. Seorang badui berkulit hitam. Namun wajah nya sangat bersih. Ia tersenyum, lalu duduk disampingku. Namanya Abdullah.

“ Cinta tidak harus selalu bersama. Cinta tidak harus selalu memiliki. Cinta juga tidak ditentukan jarak. Sebab orang yang mencintai dan dicintai sebenarnya telah hilang esensi jarak. Keduanya menyatu dalam satu rasa di dalam jiwa” kata nya menghibur diri ku.

Air mataku masih basah. Saya mencoba tersenyum mendengar ketika Abdullah mengucapkan kalimat tersebut. saya sedikit lega. Meskipun ingin rasanya seperti para sahabat senior yang bisa berkumpul dengan Kanjeng Nabi. Saya harus belajar tahu diri. Lagi-lagi dalam hati saya berkata: “Apalah artinya diriku ini, saya bukan dari orang-orang yang berdarah biru seperti mereka. Saya juga bukan golongan orang Arab, saya hanya orang yang terbuang bagai selembar daun yang terhempas angin di tengah Gurun Padang Pasir”.

Abdullah tersenyum. Ditepuk pundaku. Seolah-olah ia mengetahui perasaan hati ku yang paling dalam. Ia pun membacakan sebuah hadist Nabi Muhammad SAW.

Umar bin Khattab berkata, "Wahai Rasulullah, sungguh engkau sangat aku cintai melebihi apa pun selain diriku." Nabi SAW bersabda, "Tidak, demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, hingga aku sangat engkau cintai melebihi dirimu." Umar berkata, "Sekarang, demi Allah, engkau sangat aku cintai melebihi diriku." Nabi SAW bersabda, "Sekarang (engkau benar), wahai Umar."

Abdullah tersenyum. Ia meraih tanganku dan memegang erat-erat dengan senyuman yang sangat indah sekali. Saya pun tersenyum dan belajar menerima penjelasan dari Abdullah. Kami berdua pun duduk persama di pelataran Rumah Nabi. Duduk di bawah pohon kurma sambil melihat para tamu yang datang silih berganti.

Saya melihat Nabi dikelingi para sahabat senior. Ada Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali dan lain-lainnya. Mereka duduk membentuk lingkaran. Makan kurma. Tidak lama kemudian ada seorang badui berkulit hitam. Tiba-tiba datang dan langsung berdiri di hadapan nya. Semua marah dan ingin sekali menghajar nya. Apalagi Umar bin Khatab. Ia sudah siap-siap mengeluarkan pedang dari sarungnya. Nabi menahan.

“Wahai Muhammad, kamu telah melakukan kesalahan besar kepada ku” kata pemuda badui dengan sangat keras.

Para sahabat bertambah emosi. Ingin rasanya membunuh nya. jika bukan karena nabi yang melarang, mungkin mereka sudah ditebas lehernya oleh umar atau ali bin abi thalib.

“Apa kesalahanku kepada mu” Jawab Kanjeng Nabi dengan senyum yang sangat indah sekali.

“Pada suatu waktu, dulu kamu memukul ku dengan sangat keras. Saya ingin membalasnya” jawab badui terlihat begitu emosi.

Umar bin Khatab menggerem. Ia berdiri. Lagi-lagi, Nabi memberi isyarat agar ia duduk kembali. Umar pun duduk dengan membawa kedengkolan yang memuncak.

“Silahkan pukulah aku” jawab kanjeng nabi dengan tetap senyum yang terlihat sangat tulus dan indah sekali.

Para sahabat menangis melihat keikhlasan nya mendapat hukuman dari pemuda baduy. Mereka ingin sekali menghukumnya, tapi nabi melarangnya. Air mata para sahabat mulai menetes tidak tega melihat jika benar-benar nabi dipukul di depan mereka.

“Wahai Muhammad, dulu saat kamu memukulku saya tidak memakai baju. Maka saya minta lepas baju mu supaya adil” kata pemuda badui.

Semakin berguruh hati dan perasaan para sahabat Nabi. Mereka tidak bisa lagi menahan tetesan air mata. Bagaimana bisa, mereka harus melihat orang yang dicintai di siksa oleh orang badui. Tapi mereka tidak bisa apa-apa. Sesakit apapun perasaan, mereka tetap patuh terhadap perintah kekasih nya.

Nabi pun membuka baju nya. Semua sahabat tegang saat pemuda tersebut mendekati nabi. Namun tiba-tiba, kayu yang berada di tangan kanannya dibuang dan dia pun mendekat nabi dan memeluk nya sambil menangis tersedu-sedua: “Ya Rasul, kami yang kotor ini ingin sekali memeluk mu. Sungguh saya mencintai mu begitu mendalam” kata pemuda badui tersebut. suara isakan tangis membuat suasana haru. Semua pun menangis haru. Mereka pun kagum dan iri kepada pemuda badui yang mempunyai rasa cinta sangat mendalam kepadanya.

Nabi tersenyum dan kemudian melepaskan pelukannya. Ia berkata: “Wahai sahabat ku, inilah pemuda yang besok kulitnya tidak tersentuh api neraka”. Perkataan Nabi ini semakin membuat pemuda badui menangis Bahagia.

Saya melihat adegan tersebut semakin menangis rindu ingin seperti pemuda tersebut. Abdullah yang tadinya mengajarkan arti cinta dengan penuh senyum pun tidak kuasa meneteskan air mata. Abdullah juga tidak bisa membohongi diri. Ia juga sangat rindu ingin seperti pemuda badui tersebut. Tapi ia tidak mampu. Kami tidak mampu. Hanya luapan cinta yang membara dalam hati. Kami hanya punya rasa cinta, hanya bermodal cinta. Mencintai manusia yang sangat agung. Sedangkan kami sebutir kotoran yang mungkin malah semakin mengotori kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Saya hanya bisa berkata dalam hati secara pelan: “Ya Habibi, Ya Rasul, engkau adalah matahariku, engkau adalah rembulan. Engkau laksana cahaya di atas cahaya. Tidak ada seorang pemimpin di dunia ini yang bisa memberikan cahaya cinta melebihi cinta mu kepada kami semua. Ya Rasul, saya rindu akan syafaat mu dan bisa berjumpa di surga-Nya, amin.”



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Tangisan Rindu; Dari Khalifah Umar Hingga Mbah Riyan
02 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   208

Obat Susah Tidur
31 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   200

Tidur dan Mimpi
30 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   194

Di Bawah Lindungan Atap
23 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   179

Doaku, Doamu dan Doa Kita
19 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   283

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14239


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      5832


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5275


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4179