Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

407 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Toko Buku Gramedia, Pendidikan dan Politik



Minggu , 11 Oktober 2026



Telah dibaca :  95

Satu minggu ini saya sudah dua kali ke Gramedia: pertama tanggal 3 oktober 2026; kedua tanggal 9 Oktober 2026. Seperti biasa mencari buku diskon. Alhamdulillah, kunjungan kedua benar-benar mendapatkan diskon 100%. Kok bisa. Tentu bisa, tapi bukan dari Gramedia. Diskon 100% dari Dr. H. Bagus Santoso, Wakil Bupati Kabupaten Bengkalis. Kebetulan malam itu, dia sedang jalan-jalan di Gramedia. Kebetulan kami bertemu dan ada kesempatan sebentar ngobrol bareng di ruang baca toko buku Gramedia di Kota Pekanbaru.

Saya dapat hadiah dua buah buku: “Mahar Politik dan Konstestasi” dan “Dinamika Politik Riau” sama-sama terbitan Nusamedia Bandung. Kedua buku tersebut hasil perenungan politiknya. Anda pun bisa menebak-nebak isinya. Cukup dari judul anda sudah bisa membayangkan isinya.

Saya sebenarnya agak segan juga ngobrol dengan para pejabat di Negeri Junjungan. Apalagi ngobrol dengan orang nomor dua di Kabupaten Bengkalis. Namun sikapnya yang bersahabat, humbel dan merakyat -membuatku merasa sebagai teman atau sahabat berdiskusi malam itu.

Saya perlu mengapresiasi sikap yang merakyat. Tidak semua pemimpin bisa melakukannya. Saya kira sikap tersebut bagian dari contoh positif dalam upaya mengilangkan tradisi pemimpin yang sangat elitis, sehingga tidak ada jarak lagi- antara pemimpin dan rakyatnya- kecuali -mungkin- gaji dan tunjangan yang berbeda.

Malam itu saya ngobrol dengan wabup murni berkaitan dengan pendidikan dan masa depan Kabupaten Bengkalis. Meskipun -katanya sih- saya sebagai seorang pendidik yang mempunyai keterbatasan pada kemampuan kejernihan berfikir dan keluasan pengetahuan, tentu hanya sedikit memberikan semacam pendapat atau masukan. Lagi-lagi yang sedikit saja. Cuma lahdzotan atau sa’ kecrit saja. Sisanya, mas bagus yang menceritakan panjang lebar tentang pendidikan.

Sekali lagi hanya tentang pendidikan. Saya benar-benar mencoba menjaga jarak untuk tidak membahas persoalan politik -meskipun duduk kami hampir tidak berjarak. Kami sebenarnya sama-sama mempunya gen politik -wabup praktik, saya teoritik- mau tidak mau terkadang pembahasan pendidikan tidak lepas dari kajian politik. Nyerempet sedikit, tidak sampai nabrak. Apalagi sebagai seorang Wakil Bupati, Bagus Santoso sedikit banyak selalu bersentuhan dengan kebijakan-kebijakan yang tidak lepas dari ranah politik. Termasuk pada wilayah pendidikan. Ma’lum lah, grand desain bangsa dan negara ini -secara struktural mulai dari pemerintah hingga pemerintah daerah- lahir dari konstelasi politik. Bahkan sejak bangsa ini lahir juga produk politik. Wajar saja, jika segala kebijakan pendidikan tidak lepas dari cawe-cawe politik dan segala kepentingannya.

Dari sini sebenarnya saya bisa memahami bahwa sehebat apapun suatu teori pendidikan ketika diaplikasikan pada wilayah kebijakan, maka akan terlihat seperti mandul dan lebih ironisnya sering terbawa arus kepentingan politik. Karena itu tadi, penyangga bangsa dan negara ini bukan pendidikan, tapi politik -pol pole rembugan taktik. Apa itu. transaksional. Berarti ilmu dagang. Untung rugi. Dan anda tahu sendiri, jika berbicara untung rugi dalam dunia pendidikan, maka bukan lagi kualitas yang berbicara, tapi seberapa besar bisa diperjualbelikan dan seberapa persen keuntungannya. Begitu kira-kira ilmu bisnis.

Saya melihat secara nalurinya, mas bagus mempunyai cita-cita besar tentang fungsi pendidikan di bengkalis sebagai role model untuk menciptakan daerah yang loh jinawi tata tentrem kerto raharjo.

Cita-cita tinggi tidak berarti apabila tidak masuk pada wilayah kebijakan. Itu artinya harus sebagai pelaku pengambil kebijakan. Berarti harus berkuasa. Tapi apakah ia mampu merealisasikan dalam sebuah kebijakan. Kita bisa menilai bersama-sama plus-minusnya.

Apalagi suatu fakta siapapun yang ingin masuk pada level pengambil kebijakan bukan sebatas kaum intelektual, ulama atau para filsuf yang pemikiran-pemikiran jernih dan menyentuh hati. Tapi kelompok yang menurut mas Bagus sering disebut dengan “mesin dan senjata”. Katanya, untuk memperoleh angka kemenangan dibutuhkan finansial raksasa (Santoso, 2018). Artinya, prinsip demokrasi sebagai keinginan denyut nadi masyarakat malah bergeser pada kepentingan pemodal. Demokrasi sekarang membuat sebagian besar pelaku politik melakukan cara yang sebenarnya disadari bukan yang terbaik untuk diterapkan (Santoso, Dinamika Politik Riau , 2018). Bagaimana mungkin pola sistem politik dan produk politiknya tersebut bisa secara normal berpihak kepada kepentingan pendidikan?.

Sebenarnya politik itu baik sebaik pendidikan. Keduanya bagian dari naluri manusia yang tidak bisa dipisahkan dari dalam dirinya. Meminjam istilah Ibnu Khaldun (Khaldun, 1951) manusia merupakan madaniyun bi tab’i, suatu makna secara naluri manusia mengemban visi besar yaitu menciptakan peradaban. Dalam sejarah peradaban manusia selalu saja terjadi pertemuan dua kekuatan tersebut.

Kita bisa melihat sejarah suatu bangsa hebat menguasai bangsa lain karena adanya dua faktor yang sangat dominan yaitu kekuatan politik dan pendidikan. Bangsa barat menguasai negara-negara di dunia berawal dari adanya revolusi industri, lalu kemudian bergerak lagi adanya revolusi politik. Pertemuan dua kekuatan ini yang kemudian menghantam kekuatan-kekuatan kekuasaan di negara-negara yang pendidikan dan kekuatan politik masih lemah. Kita bisa membaca secara mendalam fakta tersebut dalam sejarah.

Persoalan sekarang bukan lagi kita menyalahkan politik secara totalitas. Tapi bagaimana kedepannya memformat ulang sistem politik dan pendidikan yang bisa menemukan titik temu pada tujuan dan cita-cita besarnya. Apakah pola lama sistem politik akan terus dipakai sementara sudah terbukti kurang memberikan ruang dunia pendidikan untuk mewarnai segala kebijakan politik dan kebijakan publik lainnya.

Seolah-olah sangat impossible melakukan suatu perubahan dalam upaya melahirkan politik yang lahir dari saripati ruh pendidikan. Tentu saja, perlu ada kesadaran moral bersama -meskipun tidak ada kontrak sosial- untuk melakukan kesadaran kepada seluruh lini masyarakat untuk mulai melakukan gerakan moral tentang pentingnya pendidikan sebagai penyangga kebijakan strategis  pemerintah dari pusat hingga daerah. Semoga.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Kacamata dan Pancasila
02 Oktober 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   95

Manusia Merdeka
17 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   137

Adakah Manusia Merdeka?
17 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   221

Surat Terbuka Untuk Saudari Vanesia Shania
07 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   274

Rapat Non Formal
19 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   271

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      15161


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6896


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      6143


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      5120