Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

405 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Dari Staf Ahli Menteri Sampai Gadis Cantik Di Kafe



Minggu , 04 Oktober 2026



Telah dibaca :  46

Ingin rasa nya istirahat sore ini setelah pagi tadi jalan-jalan di kota Pekanbaru. Namun mas Fauzi dan teman teman memintaku untuk ikut menemui staf menteri agama. Saya pun menyanggupinya. Jam 16.00 kami meluncur ke Ruang Tunggu VIP Bandara Sulthan Syarif Kasim.

Sesampai di ruang VIP sudah cukup banyak para pejabat. Ada yang kenal, ada juga yang tidak kenal. Saya santai saja, dan langsung duduk berdekatan dengan staf ahli. Saya jabat tangan dan sambil membisikkan dekat telinga nya: "Semoga tuan senantiasa sehat,sukses selalu – di dunia dan akherat".

Selesai bisik-bisik doa kebaikan, saya duduk sebentar dan kemudian pindah tempat. Waktu terbatas. Banyak teman-teman lain ingin ngobrol baik sekedar silaturahim, unggah-ungguh atau ada hajat tertentu. Duduk seorang diri sambil menikmati kopi hitam panas dan kuaci dan buah-buahan yang disiapkan oleh pegawai bandara yang sangat ramah ramah.

Kenapa saya mendoakan kebaikan kepada nya dan tidak minta sesuatu sebagaimana teman teman yang ada di ruangan tersebut?.

Orang tua ku mengajarkan etika ketika bertemu dengan pejabat, yaitu mendoakan kebaikan atas segala tugas yang diemban pada mereka. Tidak peduli seperti apa pejabat, ayah ku selalu mendoakan kebaikan. Jika sudah baik agar bertambah baik, jika belum baik semoga di kemudian hari mendapatkan cahaya kebaikan di dada nya.

Saya sebagai anak belajar mempraktekan warisan kebaikan orang tua.  Lama kelamaan saya lebih nyaman bertemu dengan para pejabat  dan tidak canggung sama sekali ketika saya mengalirkan doa kebaikan kepada mereka.

Saya-mungkin juga anda- mempunyai banyak beban. Tapi para pejabat mempunyai beban lebih dan kadang over capacity. Mereka seperti duduk di atas tungku: atas bawah terasa panas. Mereka ingin ketenangan dan kedamaian. Saya kira ketenangan yang dibutuhkan para pejabat ketika ada rasa damai dan tenang dalam hati. Mereka mungkin punya presepsi yang berbeda tentang makna kebahagiaan yang digantungkan pada kekayaan dan mentereng jabatan. Itu wajar karena setiap manusia menginginkan hal tersebut. namun kita juga harus mempunyai jiwa empati sebagai sesama hamba Allah agar mereka juga mendapatkan kedamaian dan ketenangan hati. Itu puncak kebahagiaan sebenarnya.

Setelah dirasa cukup bertemu, kami pulang. Terdengar suara adzan tanda masuk waktu maghrib. Saya segera mengambil air wudhu,sholat dan dzikir sebentar.

Selesai sholat, saya jalan kaki lagi. Tidak mau diantar dengan kendaraan apapun. ingin jalan kaki menikmati malam hari seorang diri sambil mencari Rumah Makan. Perut sudah terasa lapar. Sejak siang hari belum kemasukan nasi. Pola makan yang sering tidak teratur yang kadang membuat perut terasa sakit.

Dari kejauhan terlihat sebuah kafe. Saya segera mencari tempat duduk. Seorang diri. Saya melihat di sekeliling ku. Anak anak muda semua. Ada yang duduk seorang diri,ada yang berhadapan hadapan dengan kekasihnya, ada juga rombongan anak-anak muda seumuran anak SLTA dan sudah kuliah sambil menikmati siaran langsung sepakbola.

Saya mengamati anak anak muda mudi di sekeliling ku. Depan ku ada gadis cantik berkulit putih berbaju putih. Rambut pendek,lurus dan berkacamata tebal. Sangat serius. Saking serius tidak henti henti nya mengisap rokok elektrik-Vape.

Di belakang ku,ada sepasang muda mudi. Dua dua nya memakai kacamata. Sama. Laki laki nya tidak merokok, cewek nya merokok. Sangat unik, pakai jilbab dan merokok Vape. Ternyata rokok tidak hanya untuk para cowok, di kota-kota menengah sudah trend kebutuhan rokok untuk semua golongan. Ada sebatas gaya, ada juga karena bagian dari kebutuhan hidup.

Sebelah kanan,juga sepasang kekasih yang sibuk dengan dunia nya. Senyum penuh kebahagiaan sambil menikmati minuman Es Jus.

Saya melihat yang datang di tempat ini adalah anak anak remaja, anak-anak muda yang sedang menikmati kebahagiaan. Teringat saat saya berada di kota Surabaya. Di depan Kantor Graha Pena, mungkin ada puluhan bahkan ratusan anak-anak remaja menikmati kehidupan malam hari. Waktu itu, jam sudah menunjukan 21.30 WIB. Mereka masih betah nongkrong di pelataran kantor dengan gaya pakaian kekinian, juga pergaulannya laksana seperti film-film di Korea.

Beberapa saat saya merasa sedih. Apakah orang tua mereka tidak mencari nya. anak-anak masih usia sekolah begitu bebas berada di tempat hiburan yang terlihat bebas. Namun saya cepat-cepat berfikir baik saja. Saya memandang mereka penuh dengan kasih sayang. Mereka sedangkan mencari kebahagiaan. Saat itu dan malam ini juga saya mengirim doa untuk mereka: “Ya Alloh, mereka sedang mencari dan menikmati kebahagiaan dengan cara mereka. Ya Alloh,berilah mereka kebahagiaan dengan kebahagiaan terindah menurut cara-Mu ya Alloh. Jadikan mereka hamba hamba-Mu yang senantiasa cinta,tunduk,taat dan menjadi manusia pilihan di sisi-Mu. Amin ya rabbal 'alamin.”



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Debat dengan Kasir
27 September 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   149

Menyatukan Akal dan Hati Ketika Ada Musibah
03 September 2026   Oleh : Imam Ghozali   154

Di Tambakberas, Aku Menangis
30 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   214

Terbakar Rindu
26 Agustus 2026   Oleh : Imam Ghozali   229

Ya habibi, Ya Rasulullah, Apakah ini Artinya Cinta?
22 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   320

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      15045


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6726


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      6082


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      5001