
Ingin rasa nya istirahat sore ini setelah pagi
tadi jalan-jalan di kota Pekanbaru. Namun mas Fauzi dan teman teman memintaku
untuk ikut menemui staf menteri agama. Saya pun menyanggupinya. Jam 16.00 kami
meluncur ke Ruang Tunggu VIP Bandara Sulthan Syarif Kasim.
Sesampai di ruang VIP sudah cukup banyak
para pejabat. Ada yang kenal, ada juga yang tidak kenal. Saya santai saja, dan
langsung duduk berdekatan dengan staf ahli. Saya jabat tangan dan sambil
membisikkan dekat telinga nya: "Semoga tuan senantiasa sehat,sukses selalu
– di dunia dan akherat".
Selesai bisik-bisik doa kebaikan, saya
duduk sebentar dan kemudian pindah tempat. Waktu terbatas. Banyak teman-teman
lain ingin ngobrol baik sekedar silaturahim, unggah-ungguh atau ada hajat
tertentu. Duduk seorang diri sambil menikmati kopi hitam panas dan kuaci dan
buah-buahan yang disiapkan oleh pegawai bandara yang sangat ramah ramah.
Kenapa saya mendoakan kebaikan kepada nya
dan tidak minta sesuatu sebagaimana teman teman yang ada di ruangan tersebut?.
Orang tua ku mengajarkan etika ketika
bertemu dengan pejabat, yaitu mendoakan kebaikan atas segala tugas yang diemban
pada mereka. Tidak peduli seperti apa pejabat, ayah ku selalu mendoakan
kebaikan. Jika sudah baik agar bertambah baik, jika belum baik semoga di
kemudian hari mendapatkan cahaya kebaikan di dada nya.
Saya sebagai anak belajar mempraktekan
warisan kebaikan orang tua. Lama
kelamaan saya lebih nyaman bertemu dengan para pejabat dan tidak canggung sama sekali ketika saya
mengalirkan doa kebaikan kepada mereka.
Saya-mungkin juga anda- mempunyai banyak
beban. Tapi para pejabat mempunyai beban lebih dan kadang over capacity.
Mereka seperti duduk di atas tungku: atas bawah terasa panas. Mereka ingin
ketenangan dan kedamaian. Saya kira ketenangan yang dibutuhkan para pejabat
ketika ada rasa damai dan tenang dalam hati. Mereka mungkin punya presepsi yang
berbeda tentang makna kebahagiaan yang digantungkan pada kekayaan dan mentereng
jabatan. Itu wajar karena setiap manusia menginginkan hal tersebut. namun kita
juga harus mempunyai jiwa empati sebagai sesama hamba Allah agar mereka juga
mendapatkan kedamaian dan ketenangan hati. Itu puncak kebahagiaan sebenarnya.
Setelah dirasa cukup bertemu, kami pulang.
Terdengar suara adzan tanda masuk waktu maghrib. Saya segera mengambil air
wudhu,sholat dan dzikir sebentar.
Selesai sholat, saya jalan kaki lagi. Tidak
mau diantar dengan kendaraan apapun. ingin jalan kaki menikmati malam hari
seorang diri sambil mencari Rumah Makan. Perut sudah terasa lapar. Sejak siang
hari belum kemasukan nasi. Pola makan yang sering tidak teratur yang kadang
membuat perut terasa sakit.
Dari kejauhan terlihat sebuah kafe. Saya
segera mencari tempat duduk. Seorang diri. Saya melihat di sekeliling ku. Anak
anak muda semua. Ada yang duduk seorang diri,ada yang berhadapan hadapan dengan
kekasihnya, ada juga rombongan anak-anak muda seumuran anak SLTA dan sudah
kuliah sambil menikmati siaran langsung sepakbola.
Saya mengamati anak anak muda mudi di
sekeliling ku. Depan ku ada gadis cantik berkulit putih berbaju putih. Rambut
pendek,lurus dan berkacamata tebal. Sangat serius. Saking serius tidak henti
henti nya mengisap rokok elektrik-Vape.
Di belakang ku,ada sepasang muda mudi. Dua
dua nya memakai kacamata. Sama. Laki laki nya tidak merokok, cewek nya merokok.
Sangat unik, pakai jilbab dan merokok Vape. Ternyata rokok tidak hanya
untuk para cowok, di kota-kota menengah sudah trend kebutuhan rokok untuk semua
golongan. Ada sebatas gaya, ada juga karena bagian dari kebutuhan hidup.
Sebelah kanan,juga sepasang kekasih yang
sibuk dengan dunia nya. Senyum penuh kebahagiaan sambil menikmati minuman Es
Jus.
Saya melihat yang datang di tempat ini
adalah anak anak remaja, anak-anak muda yang sedang menikmati kebahagiaan. Teringat
saat saya berada di kota Surabaya. Di depan Kantor Graha Pena, mungkin ada
puluhan bahkan ratusan anak-anak remaja menikmati kehidupan malam hari. Waktu itu,
jam sudah menunjukan 21.30 WIB. Mereka masih betah nongkrong di pelataran
kantor dengan gaya pakaian kekinian, juga pergaulannya laksana seperti film-film
di Korea.
Beberapa saat saya merasa sedih. Apakah orang
tua mereka tidak mencari nya. anak-anak masih usia sekolah begitu bebas berada
di tempat hiburan yang terlihat bebas. Namun saya cepat-cepat berfikir baik
saja. Saya memandang mereka penuh dengan kasih sayang. Mereka sedangkan mencari
kebahagiaan. Saat itu dan malam ini juga saya mengirim doa untuk mereka: “Ya
Alloh, mereka sedang mencari dan menikmati kebahagiaan dengan cara mereka. Ya
Alloh,berilah mereka kebahagiaan dengan kebahagiaan terindah menurut cara-Mu ya
Alloh. Jadikan mereka hamba hamba-Mu yang senantiasa cinta,tunduk,taat dan
menjadi manusia pilihan di sisi-Mu. Amin ya rabbal 'alamin.”
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Debat dengan Kasir
27 September 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   149
Menyatukan Akal dan Hati Ketika Ada Musibah
03 September 2026   Oleh : Imam Ghozali   154
Di Tambakberas, Aku Menangis
30 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   214
Terbakar Rindu
26 Agustus 2026   Oleh : Imam Ghozali   229
Ya habibi, Ya Rasulullah, Apakah ini Artinya Cinta?
22 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   320
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      15045
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6726
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      6082
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      5001
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4941