
Ini tulisan terlambat. Tidak apa-apa daripada
tidak sama sekali. Semoga ada manfaatnya.
Kacamata mempunyai fungsi yang sangat
penting. Keluargaku sebenarnya tidak punya riwayat sakit mata yang menyebabkan
harus pakai kacamata. Ayah ku sejak muda sampai meninggal dunia -umur sekitar
125 tahun-tidak memakai kacamata. Masih bisa baca Kitab Turos-kitab klasik
dengan kertas warna kuning. Ibuku juga sama. Sudah berumur senja, tapi mata
masih bisa membaca dan menulis. Meskipun tidak selancar pada masa masih muda
dulu.
Anak-anak dan cucu bapak banyak yang
terkena penyakit mata. Ada yang plus ada yang minus. Adiku siti badingah minus
nya tebal. Adiku Maimunah -sudah meninggal dunia-juga minus tebal. Yang lain
normal-normal saja.
Saya sebenarnya normal. Mungkin karena
sering melihat laptop dan HP, mata ku sering sakit dan harus memakai kacamata.
Semakin kesini semakin sakit. Dulu lihat layar laptop dan HP terasa pedih.
Sekarang bertambah lagi jika melihat dompet tidak ada isi warna hijau dan
merah, mata pun bertambah pedih plus dada terasa sesak nafasnya.
Istri ku pernah sakit mata. Buta total.
Tidak bisa melihat sama sekali. Ketika
dokter mata di RS SMEC Pekanbaru memeriksanya mengatakan kepadaku bahwa istriku
sangat sulit disembuhkan. Katanya 95 persen tidak bisa disembuhkan. Karena tadi
itu, buta total dan butanya sangat misterius. Dokter spesialis mata
geleng-geleng kepala sambil memegang Pundak ku: “Sabar pak, ini ujian hidup.
Saya sudah berusaha semaksimal mungkin mengobati nya”.
Kalau persoalan sabar -waktu itu- mungkin
saya sudah sabar tingkat dewa. Mendengar vonis dokter saya senyam-senyum saja.
Tidak ada sedih sama sekali. Lhaaa buat apa sedih. Toh seandainya saya sedih,
istri juga tetap buta. Tidak sedih juga tetap buta. Ngapain saya harus menambah
beban penderitaan diri sendiri. Mendingan saya tersenyum menikmati hidup yang
dianugerahkan kepada ku, sambil mendekatkan diri kepada-Nya. Semoga Allah
memberikan kesembuhan min haisu layahtasib.
Istriku dan mertua ku yang mendengar vonis
dari dokter sangat stress sekali. Apalagi istriku yang sudah divonis sangat
sulit disembuhkan penyakitnya. Kerjanya tiap hari menangis.
“Mas, kenapa mata ku buta. Anak masih kecil
kecil” kata istri
ku mengingat kejadian saat itu.
Saya tersenyum sambil menjawab untuk
menghibur nya “Sabar, nanti khan sembuh mi”.
“Tapi kata dokter sangat sulit sekali
disembuhkan. Kemungkinan buta permanen kata dokter sebesar 95%”: sanggah istri
ku seolah-olah tidak mempan doa dari suaminya.
“Tidak apa-apa mi, khan masih ada 5%
tersisa. 5% persen ini yang menentukan itu Allah SWT. Tak usah sedih, masih ada
5% kemungkinan sembuh kok” : jawab ku mencoba menerangkan makna campur tangan Tuhan dalam
menyembuhkan segala penyakit manusia. Bagi manusia tidak mungkin, tapi bagi Allah
tidak ada yang tidak mungkin.
Setelah berjalan beberapa bulan, mulai ada
perubahan. Istriku mulai bisa melihat meskipun masih bayang bayang. Ketika saya
bertanya kepadanya apakah melihat suami nya. “masih seperti bayang-bayang”,
katanya.
Saya tersenyum karena istriku sudah mulai
melihat suaminya. Dalam hati kadang khawatir juga. Tapi saya selalu yakin akan
pertolongan Allah SWT.
Happy end, akhirnya istriku sembuh total. Pertama terkena min
1,50. Kini sudah hampir sembuh total.
Anak ku viki dan Jihan juga minus. Viki
sudah sembuh, Jihan belum sembuh. Tapi sudah tidak jatuh-jatuh lagi kalau tidak
memakai kacamata.
Kacamata Pancasila
Agak tidak nyambung diskusi “Kacamata dan Pancasila”,
saya mencoba menggabungkan menjadi satu menjadi “Kacamata Pancasila”, yaitu
suatu cara pandang masyarakat kita terhadap pancasila sebagai ideologi bangsa
dan negara Indonesia.
Saya, anda dan kita semua boleh berdiskusi
tentang Pancasila sebagai ideologi bangsa dan negara. Kadang ada yang setuju
ada juga yang menolak. Sebab kacamata masyarakat bangsa Indonesia beragam.
Mereka punya pandangan tentang makna hidup dari sudut keyakinan, ideologi dan
nilai-nilai yang berbeda-beda. Sehingga mereka mempunyai kacamata yang berbeda
tentang Pancasila sebagai ideologi bangsa dan negara.
Kelompok Islam puritan yang mencoba
memahami makna hidup harus sesuai dengan al-Qur’an dan hadist mencoba memahami
Pancasila dengan pandangan dengan pendekatan ajaran agama secara tekstualis.
Mereka melihat bahwa pancasila bukan agama, dan agama bukan pancasila.
Di daldam ruang diskusi, mereka mengajukan
pertanyaan: Jika pancasila bukan agama, dan agama bukan pancasila, kenapa kami
harus tunduk kepada sesuatu yang bukan agama. Pertanyaan dan pemaparan dari
berbagai sudut pandang pancasila akan semakin liar ketika mereka mengaitkan
dengan aspek-aspek fundamental pada pendekatan tauhid. Mereka mempertanyakan lambing
pancasila dengan simbol burung garuda sebagai sesuatu yang sangat dilarang
dalam agama dalam kontek ajaran-ajaran islam secara tekstualis. Sebab memang
kenyataannya dalam hadist, Nabi tidak suka melihat gambar atau patung karena di
hari kiamat akan disuruh untuk menghidupkan kembali.
Wajar jika di tengah-tengah masyarakat muncul
kelompok Islam tekstualis menentang secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan
atas keberadaan ideologi pancasila dan lambang garuda secara totalitas. Mereka mencoba
membangun narasi tentang kehidupan berbanga dan bernegara dengan pendekatan
syariah Islam yang murni. Cara itu yang menurut mereka sebagai solving problem
menyelesaikan segala persoalan carut marut bangsa dan negara Indonesia saat
sekarang ini.
Namun benarkah demikian. Ketika saya
mengajukan pertanyaan, sistem negara dan bangsa yang ideal seperti apa? Apakah pernah
terjadi dalam sejarah politik Islam tidak ada konflik antara sesama muslim, tidak
ada kemiskinan, tidak ada kemaksiatan dan tidak ada bencana?. Sangat sulit
menemukan jawaban. Setiap sistem selalu saja terjadi kelemahan-kelemahan.
Islam pasca Nabi Muhammad sering disebut
sebagai masa keindahan pemerintahan negara Islam. Benarkah demikian. Benarkah tidak
ada konflik politik. Benarkah mereka -para sahabat-dalam menjalankan suksesi
kepemimpinan tanpa ada beban politik?.
Ketika Abu Bakar di akhir-akhir
kekuasaannya, dia memilih Umar bin Khatab menjadi penggantinya. Alasanya sederhana.
Katanya: “saya tidak mau lagi melihat konflik politik yang hampir terjadi perpecahan
saat saya terpilih menjadi khalifah, itu sebabnya saya menunjuk umar menjadi
penggatiku untuk memperminim konflik.
Setelah Umar terpilih menjadi khalifah,
apakah tidak ada konflik. Sejarah telah berada di depan kita, bahwa Umar bin
Khatab meninggal dunia karena dibunuh, penggantinya Utsman bin Affan meninggal
dibunuh dengan sangat sadis, Ali bin Abi Thalib meninggal dunia karena dibunuh,
Saydina Hasan dibunuh oleh istrinya sendiri: Ja’dah binti Al-Asy’ats.
Setelah masa khulafaaurasyidin, konflik
bertambah parah lagi. Bukan hanya antara dinasti keluarga Umayyah, Abassiyah, dan
Ali bin Abi Thalib, tetapi juga di internal mereka masing-masing. Perebutan kekuasaan
telah menjadi catatan sejarah politik Islam yang mempunyai sisi plus-minusnya.
Fakta sejarah tersebut kemudian melahirkan
pemikiran-pemikiran para intelektual muslim atau ulama muslim melihat Islam
dari sudut subtantif. Sebab bagaimanapun juga ajaran Islam -al-Qur’an-sering
lahir sebagai wahyu Tuhan yang setiap firman-Nya selalu mengandung nilai-nilai
majazi -metafora. Al-qur’an sebagai firman yang berlaku sepanjang zaman telah
memberikan ruang untuk terbuka ditafsiri dalam kontek segala aspek kehidupan. Itu
sebabnya denyut nadi ruh intelektual semakin dikaji semakin terbuka kemanafaatan
nya. baik dalam kajian ilmu pengetahuan dan teknologi saat sekarang ini. Jika seandainya
al-qur’an hanya sebatas tekstualis, maka kajian ilmu pengetahuan kekinian
seperti AI dan sejenisnya tidak akan ditemukan di dalam nya.
Dari sini kemudian, mayoritas ulama Islam
melihat ajaran Islam sebagai jalan penyelesai masalah yang sangat fleksibel dan
tidak kaku. Nilai-nilai universal seperti ketuhanan, kemanusiaan, keadilan,
persatuan dan kerakyatan menjadi penyangga kuat bentuk konstitusi kehidupan berbangsa
dan bernegara. Tidak peduli apa namanya. Sepanjang pemerintahan mamu menerapkan
nilai-nilai tersebut maka ajaran islam bisa terealisasi dalam kehidupan
sehari-hari.
Dan para ulama Indonesia yang sangat arif,
bijaksana dan mendalam pemahaman pada ‘ulumu dien wa daulah merumuskan
nilai-nilai tersebut dikristalisasikan dengan nama pancasila. Dan hari
kesaktian pancasila jika dijalankan, sebenarnya perwujudan dari internalisasi
nilai-nilai ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Hanya saja, kita belum
mencapai pada fase tersebut. Sehingga kesaktian Pancasila masih terasa hampa.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Manusia Merdeka
17 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   133
Adakah Manusia Merdeka?
17 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   218
Surat Terbuka Untuk Saudari Vanesia Shania
07 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   269
Rapat Non Formal
19 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   266
Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   192
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      15017
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6692
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      6059
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4971
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4924