Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

402 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Kacamata dan Pancasila



Jumat , 02 Oktober 2026



Telah dibaca :  19

Ini tulisan terlambat. Tidak apa-apa daripada tidak sama sekali. Semoga ada manfaatnya.

Kacamata mempunyai fungsi yang sangat penting. Keluargaku sebenarnya tidak punya riwayat sakit mata yang menyebabkan harus pakai kacamata. Ayah ku sejak muda sampai meninggal dunia -umur sekitar 125 tahun-tidak memakai kacamata. Masih bisa baca Kitab Turos-kitab klasik dengan kertas warna kuning. Ibuku juga sama. Sudah berumur senja, tapi mata masih bisa membaca dan menulis. Meskipun tidak selancar pada masa masih muda dulu.

Anak-anak dan cucu bapak banyak yang terkena penyakit mata. Ada yang plus ada yang minus. Adiku siti badingah minus nya tebal. Adiku Maimunah -sudah meninggal dunia-juga minus tebal. Yang lain normal-normal saja.

Saya sebenarnya normal. Mungkin karena sering melihat laptop dan HP, mata ku sering sakit dan harus memakai kacamata. Semakin kesini semakin sakit. Dulu lihat layar laptop dan HP terasa pedih. Sekarang bertambah lagi jika melihat dompet tidak ada isi warna hijau dan merah, mata pun bertambah pedih plus dada terasa sesak nafasnya.

Istri ku pernah sakit mata. Buta total. Tidak  bisa melihat sama sekali. Ketika dokter mata di RS SMEC Pekanbaru memeriksanya mengatakan kepadaku bahwa istriku sangat sulit disembuhkan. Katanya 95 persen tidak bisa disembuhkan. Karena tadi itu, buta total dan butanya sangat misterius. Dokter spesialis mata geleng-geleng kepala sambil memegang Pundak ku: “Sabar pak, ini ujian hidup. Saya sudah berusaha semaksimal mungkin mengobati nya”.

Kalau persoalan sabar -waktu itu- mungkin saya sudah sabar tingkat dewa. Mendengar vonis dokter saya senyam-senyum saja. Tidak ada sedih sama sekali. Lhaaa buat apa sedih. Toh seandainya saya sedih, istri juga tetap buta. Tidak sedih juga tetap buta. Ngapain saya harus menambah beban penderitaan diri sendiri. Mendingan saya tersenyum menikmati hidup yang dianugerahkan kepada ku, sambil mendekatkan diri kepada-Nya. Semoga Allah memberikan kesembuhan min haisu layahtasib.

Istriku dan mertua ku yang mendengar vonis dari dokter sangat stress sekali. Apalagi istriku yang sudah divonis sangat sulit disembuhkan penyakitnya. Kerjanya tiap hari menangis.

“Mas, kenapa mata ku buta. Anak masih kecil kecil” kata istri ku mengingat kejadian saat itu.

Saya tersenyum sambil menjawab untuk menghibur nya “Sabar, nanti khan sembuh mi”.

“Tapi kata dokter sangat sulit sekali disembuhkan. Kemungkinan buta permanen kata dokter sebesar 95%”: sanggah istri ku seolah-olah tidak mempan doa dari suaminya.

“Tidak apa-apa mi, khan masih ada 5% tersisa. 5% persen ini yang menentukan itu Allah SWT. Tak usah sedih, masih ada 5% kemungkinan sembuh kok” : jawab ku mencoba menerangkan makna campur tangan Tuhan dalam menyembuhkan segala penyakit manusia. Bagi manusia tidak mungkin, tapi bagi Allah tidak ada yang tidak mungkin.

Setelah berjalan beberapa bulan, mulai ada perubahan. Istriku mulai bisa melihat meskipun masih bayang bayang. Ketika saya bertanya kepadanya apakah melihat suami nya. “masih seperti bayang-bayang”, katanya.

Saya tersenyum karena istriku sudah mulai melihat suaminya. Dalam hati kadang khawatir juga. Tapi saya selalu yakin akan pertolongan Allah SWT.

Happy end, akhirnya istriku sembuh total. Pertama terkena min 1,50. Kini sudah hampir sembuh total.

Anak ku viki dan Jihan juga minus. Viki sudah sembuh, Jihan belum sembuh. Tapi sudah tidak jatuh-jatuh lagi kalau tidak memakai kacamata.

Kacamata Pancasila

Agak tidak nyambung diskusi “Kacamata dan Pancasila”, saya mencoba menggabungkan menjadi satu menjadi “Kacamata Pancasila”, yaitu suatu cara pandang masyarakat kita terhadap pancasila sebagai ideologi bangsa dan negara Indonesia.

Saya, anda dan kita semua boleh berdiskusi tentang Pancasila sebagai ideologi bangsa dan negara. Kadang ada yang setuju ada juga yang menolak. Sebab kacamata masyarakat bangsa Indonesia beragam. Mereka punya pandangan tentang makna hidup dari sudut keyakinan, ideologi dan nilai-nilai yang berbeda-beda. Sehingga mereka mempunyai kacamata yang berbeda tentang Pancasila sebagai ideologi bangsa dan negara.

Kelompok Islam puritan yang mencoba memahami makna hidup harus sesuai dengan al-Qur’an dan hadist mencoba memahami Pancasila dengan pandangan dengan pendekatan ajaran agama secara tekstualis. Mereka melihat bahwa pancasila bukan agama, dan agama bukan pancasila.

Di daldam ruang diskusi, mereka mengajukan pertanyaan: Jika pancasila bukan agama, dan agama bukan pancasila, kenapa kami harus tunduk kepada sesuatu yang bukan agama. Pertanyaan dan pemaparan dari berbagai sudut pandang pancasila akan semakin liar ketika mereka mengaitkan dengan aspek-aspek fundamental pada pendekatan tauhid. Mereka mempertanyakan lambing pancasila dengan simbol burung garuda sebagai sesuatu yang sangat dilarang dalam agama dalam kontek ajaran-ajaran islam secara tekstualis. Sebab memang kenyataannya dalam hadist, Nabi tidak suka melihat gambar atau patung karena di hari kiamat akan disuruh untuk menghidupkan kembali.

Wajar jika di tengah-tengah masyarakat muncul kelompok Islam tekstualis menentang secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan atas keberadaan ideologi pancasila dan lambang garuda secara totalitas. Mereka mencoba membangun narasi tentang kehidupan berbanga dan bernegara dengan pendekatan syariah Islam yang murni. Cara itu yang menurut mereka sebagai solving problem menyelesaikan segala persoalan carut marut bangsa dan negara Indonesia saat sekarang ini.

Namun benarkah demikian. Ketika saya mengajukan pertanyaan, sistem negara dan bangsa yang ideal seperti apa? Apakah pernah terjadi dalam sejarah politik Islam tidak ada konflik antara sesama muslim, tidak ada kemiskinan, tidak ada kemaksiatan dan tidak ada bencana?. Sangat sulit menemukan jawaban. Setiap sistem selalu saja terjadi kelemahan-kelemahan.

Islam pasca Nabi Muhammad sering disebut sebagai masa keindahan pemerintahan negara Islam. Benarkah demikian. Benarkah tidak ada konflik politik. Benarkah mereka -para sahabat-dalam menjalankan suksesi kepemimpinan tanpa ada beban politik?.

Ketika Abu Bakar di akhir-akhir kekuasaannya, dia memilih Umar bin Khatab menjadi penggantinya. Alasanya sederhana. Katanya: “saya tidak mau lagi melihat konflik politik yang hampir terjadi perpecahan saat saya terpilih menjadi khalifah, itu sebabnya saya menunjuk umar menjadi penggatiku untuk memperminim konflik.

Setelah Umar terpilih menjadi khalifah, apakah tidak ada konflik. Sejarah telah berada di depan kita, bahwa Umar bin Khatab meninggal dunia karena dibunuh, penggantinya Utsman bin Affan meninggal dibunuh dengan sangat sadis, Ali bin Abi Thalib meninggal dunia karena dibunuh, Saydina Hasan dibunuh oleh istrinya sendiri: Ja’dah binti Al-Asy’ats.

Setelah masa khulafaaurasyidin, konflik bertambah parah lagi. Bukan hanya antara dinasti keluarga Umayyah, Abassiyah, dan Ali bin Abi Thalib, tetapi juga di internal mereka masing-masing. Perebutan kekuasaan telah menjadi catatan sejarah politik Islam yang mempunyai sisi plus-minusnya.

Fakta sejarah tersebut kemudian melahirkan pemikiran-pemikiran para intelektual muslim atau ulama muslim melihat Islam dari sudut subtantif. Sebab bagaimanapun juga ajaran Islam -al-Qur’an-sering lahir sebagai wahyu Tuhan yang setiap firman-Nya selalu mengandung nilai-nilai majazi -metafora. Al-qur’an sebagai firman yang berlaku sepanjang zaman telah memberikan ruang untuk terbuka ditafsiri dalam kontek segala aspek kehidupan. Itu sebabnya denyut nadi ruh intelektual semakin dikaji semakin terbuka kemanafaatan nya. baik dalam kajian ilmu pengetahuan dan teknologi saat sekarang ini. Jika seandainya al-qur’an hanya sebatas tekstualis, maka kajian ilmu pengetahuan kekinian seperti AI dan sejenisnya tidak akan ditemukan di dalam nya.

Dari sini kemudian, mayoritas ulama Islam melihat ajaran Islam sebagai jalan penyelesai masalah yang sangat fleksibel dan tidak kaku. Nilai-nilai universal seperti ketuhanan, kemanusiaan, keadilan, persatuan dan kerakyatan menjadi penyangga kuat bentuk konstitusi kehidupan berbangsa dan bernegara. Tidak peduli apa namanya. Sepanjang pemerintahan mamu menerapkan nilai-nilai tersebut maka ajaran islam bisa terealisasi dalam kehidupan sehari-hari.

Dan para ulama Indonesia yang sangat arif, bijaksana dan mendalam pemahaman pada ‘ulumu dien wa daulah merumuskan nilai-nilai tersebut dikristalisasikan dengan nama pancasila. Dan hari kesaktian pancasila jika dijalankan, sebenarnya perwujudan dari internalisasi nilai-nilai ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Hanya saja, kita belum mencapai pada fase tersebut. Sehingga kesaktian Pancasila masih terasa hampa.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Manusia Merdeka
17 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   133

Adakah Manusia Merdeka?
17 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   218

Surat Terbuka Untuk Saudari Vanesia Shania
07 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   269

Rapat Non Formal
19 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   266

Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   192

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      15017


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6692


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      6059


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4971