Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

419 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Arah Baru Politik AS



Kamis , 05 November 2026



Telah dibaca :  52

Meskipun terjadi tsunami politik beberapa hari ini di Indonesia, saya tidak tertarik membahas nya -atau lebih tepatnya kurang tertarik. Bukan apa-apa. Dulu saya pernah menulis artikel dimuat oleh media massa -dulu, saat masih kuliah- dengan judul “Politik Ken Arok”. Gara-gara tulisan ini teman ku tersinggung. Semenjak itu saya jadi kurang berminat menulis secara intens.

Saya mengurangi menulis tentang politik. Mulai jarang menulis dan membahasnya. Tapi kalau lagi kambuh, satu minggu bisa jadi satu buku.

Saya lebih suka membahas politik Timur Tengah dan Barat. Untuk artikel ini, saya ingin menulis nasib politik Donald Trump. Jika dilihat dari media online, media sosial dan kanal-kanal youtuber, nampaknya Trump lagi “kobol-kobol” menghadapi partai demokrat. Kita tahu, di AS ada dua partai : Republik dan Demokrat. Trump dari Republik.

Saya teringat ucapan mendiang presiden Iran Sayyid Ali Khamenei: “ Para penguasa yang zalim dan diktator seperti Trump telah tumbang ketika berada di puncak kesombongan mereka. Trump pun pada akhirnya akan dijatuhkan dan mengalami kejatuhan”.

Kalimat tersebut nampaknya menghipnotis kebangkitan umat Islam dan non-muslim di seluruh dunia. Ada kesadaran kolektif bahwa isu-isu klasik seperti terorisme, al-qaeda dan sejenisnya yang dilontarkan Trump kepada negara-negara Islam -khususnya negara Iran- bukan suatu fakta, tapi sebatas opini politik nya.

Trump mencoba menyakinkan kepada masyarakat AS dan dunia bahwa kebijakan menghancurkan negara Iran sebagai langkah merawat kewarasan demokrasi. Dengan hancurnya Iran, maka demokrasi bisa ditegakan di negara tersebut sesuai dengan cita-cita nya.

Ironisnya, jualan Trump mulai tidak laku di negeri sendiri. Sudah ribuan kali masyarakat AS melakukan demonstrasi terhadap kebijakannya. Ada tiga demonstrasi yang sangat besar menyangkut kebijakannya yaitu:

Pertama, aksi nasional pada Januari 2026. Ada sekitar 250 titik demonstrasi di 46 negara bagian as.

Kedua, pada bulan Maret 2026 ada Gerakan “No Kings Day 3.0”. Ini demonstrasi terbesar di AS. Ada lebih dari 3.300 titik di seluruh 50 negara bagian AS. Isu utamanya antara lain adalah penolakan terhadap eskalasi perang Iran 2026.

Ketiga, aksi menjelang pemilu paruh waktu pada bulan Oktober. Ada ribuan titik di 50 negara bagian untuk mendorong pemilih memberikan suara guna membatasi kekuasaan pemerintah Trump.

Fakta tersebut merupakan respon masyarakat atas prinsip-prinsip demokrasi yang tidak berpihak kepada mayoritas, tetapi lebih mengarah pada otoritarianisme. Mandat masyarakat yang diharapkan mampu menjunjung tinggi keinginan mereka justru diambil oleh Trump untuk ambisi pribadi dan partai politiknya. Trump bukan sebagai presiden, tapi telah berubah sebagai seorang raja yang berbicara dan berbuat atas kehendaknya sendiri, bukan pada kepentingan konstitusi dan konstituen.

Dukungan masyarakat AS pun mulai bergeser. Partai republik mulai ditinggalkan. Kini partai demokrat mulai mendapatkan presepsi positif. Ini saya kira ada wind of change arah politik baru AS dari otoritarian menuju demokrasi liberal -dalam pengertian- yaitu adanya harapan-harapan baru masyarakat AS untuk memilih kelompok-kelompok minoritas sebagai penjaga demokrasi.

Salah satu bukti nya yaitu terpilihnya Abdul Es-Sayed, muslim pertama yang terpilih sebagai senator AS. Ini fenomena politik kedua yang sebelumnya, Zohran Mamdani. Seorang muslim yang menjadi Wali Kota New York. Juga sama-sama dari partai demokrat.

Sebagai seorang politisi yang dibesarkan di negara yang menjamin kebebasan berpolitik, Abdul es-Sayed juga sangat dipengaruhi oleh ajaran agama Islam. Di saat kebebasan tanpa batas, ia pun memperkenalkan bahwa kebebasan juga harus dilandasi dengan kasih sayang yang tulus atas dasar nilai-nilai ajaran agama -dalam hal ini ajaran Islam sebagai agama yang dianutnya. Es-Sayed sangat mencintai ibu kandung dan ibu tirinya sepenuh hati. Keduanya sangat dimuliakan dan dihargai sebagai manusia yang agung.

Sebagai seorang senator baru dari kaum minoritas muslim, dia akan menjadi sorotan publik berkaitan persoalan pribadi, keluarga dan kebijakan-kebijakan populisnya di masa mendatang. Ini sangat berpengaruh -sedikit banyak- pada presepsi masyarakat AS terhadap agama yang diyakini kebenarannya.

Meskipun secara umum masyarakat tidak memperdulikan status agamanya, tapi pondasi konstitusi AS beragama Kristen dengan semangat pada nilai-nilai liberal dan terbuka.

Dan Abdul es-Sayed di masa mendatang tampil sebagai seorang senator beragama Islam. Dulu muslim dianggap sebagai agama yang tidak ramah di AS, kini presepsi tersebut mulai luntur. Tentu saja ini angin segar bagi perubahan cara pandang masyarakat AS yang plural yang perlu disambut positif oleh siapa saja, termasuk bangsa Indonesia. Harapannya angin segar tersebut terus berlanjut menjadi energi kehidupan baru masyarakat AS yang lebih demokratis, beradab dan berkeadaban.

 



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Syukron Makmun; Mengajarkan Cara Mencintai Pemerintah Melalui Kritik
18 Oktober 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   266

Toko Buku Gramedia, Pendidikan dan Politik
11 Oktober 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   266

Kacamata dan Pancasila
02 Oktober 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   121

Manusia Merdeka
17 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   154

Adakah Manusia Merdeka?
17 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   251

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      15432


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      7405


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      6343


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      5517