
Perang Badar menjadi sangat legendaris
dalam sejarah Islam. Para mubaligh selalu saja mengutip kisah ini sebagai contoh
jihad yang murni, perang yang tulus dalam upaya memperjuangkan suatu kebenaran
dan cita-cita besar. Ia benar-benar seperti suatu yang mission imposible.
300 tentara melawan 1000 tentara. Satu melawan tiga. Wajar jika para sahabat
sangat bangga akan keberhasilan tersebut.
Nabi duduk dikelilingi para sahabat. Mereka
masih terus membicarakan kesuksesan Perang Badar. Nabi tersenyum lembut. Mata nya
yang teduh memandang kepada para sahabat. Mereka pun seperti tersipu malu saat
tatapan nya mengarah kepada mereka. Pandangan tulus yang menyebabkan mereka
terdiam dan ingin mendengar untaian kata dari kekasih yang teragung mereka. Nabi
dengan tenang dan lembut berkata: “ Kalian telah pulang dari sebuah
pertempuran kecil menuju pertempuran akbar, yaitu pertempuran memerangi hawa
nafsu”.
Ada sebuah berita yang sangat menginspirasi
dikutip oleh Koran Harian Kompas(18 juni 2026). Kisah tentang perjalanan hidup
seorang Bintang film sangat berprestasi Jet Li. Sejak kecil sudah mempunyai cita-cita
besar. Beragam penderitaan hidup dilaluinya. Hingga kemudian hari ia menjadi
seorang ahli Kungfu berpretasai, aktor film laga yang sangat sukses di Hollywood.
Ketika ia berlibur bersama keluarga di Maladewa yang memicu gelombang raksasa tsunami,
Ia dan keluarganya hampir mati. Peristiwa yang mengerikan tersebut telah
mengubah hidupnya. Ia kemudian memilih bertransformasi total dengan cara
membebaskan diri dari segala bentuk duniawi. Ia berubah menjadi seorang resi. Mencari
kedamaian abadi.
Dua kisah tersebut dari dua ajaran agama
yang berbeda. Peristiwa Perang Badar bersumber dari ajaran Islam. Sedangkan kisah
Jet Li berasal dari ajaran agama budha. Dua-dua nya melihat sisi hidup bukan
pada persoalan kesuksesan fisik, tapi lebih mengarah kepada kesuksesan ruhaniah
manusia. Ketika manusia mampu menundukan ruhaniah menjadi tatmainal qulub
-hati yang tenang- maka manusia telah mencapai puncak jati dirinya yaitu
manusia yang Merdeka.
Manusia merdeka tentu saja tidak seperti
versi Jet Li. Ia memang berhasil mengeluarkan dunia dari hatinya. Namun pola
yang ia lakukan sebatas membebaskan diri nya saja dari persoalan dunia sebagai
upaya untuk mendapatkan kedamaian yang abadi.
Islam mengajarkan kepada umat nya agar
dunia tidak sampai bersarang dalam hati. Ketika hal tersebut sampai berada
dalam hati, maka manusia akan mengalami perbudakan sepanjang hidupnya. Ia akan
terus menderita mengejar seluruh keinginannya. Hingga kemudian hari ia akan
mengalami kelelahan luarbiasa.
Nabi mengingatkan dengan bahasa sederhana :
jihad melawan hawa nafsu. Suatu peperangan yang sangat super sulit, dan
sering manusia gagal menghadapi nya. Sebab nafsu yang kita perangi ada pada
diri sendiri, menyatu seperti aliran darah dan tubuh. Sangat sulit dipisahkan.
Kelelahan kita bukan karena pekerjaan,
bukan juga karena kita miskin, bukan juga karena cita-cita kita belum pada
titik yang kita inginkan. Kelelahan kita, karena tujuan hati kita bukan lagi
untuk berjihad menjinakan nafsu yang sangat genit yang menginginkan seluruh
dunia masuk ke dalam hati nya. Nafsu kita masih sangat liar. Saat kemampuan
dunia hanya sebesar kepala tangan diri sendiri, ingin mengharapkan gunung emas.
Islam memberikan karpet merah bagi orang
yang ingin kaya atau menjadi pejabat dan pemimpin apapun bentuk namanya. Namun bukan
tujuan. Seperti digambarkan dalam Perang badar. Persoalan terpenting bukan ghonimah
sebagai blue print nya, tapi mencari ridha Allah. Ketika ini menjadi
tujuannya, maka seluruh kekuatan pikiran, energi, tenaga, hati dan jiwa
totalitas memasrahkan diri kepada Allah SWT. Ini kekuatan yang sesungguhnya. Ridho
yang sangat progresif. Mencari tujuan semaksimal mungkin hanya mencari kemulyaan
di hadapan-Nya. Akhirnya menang total. Ghonimah pun didapatkan.
Namun hati manusia selalu saja berubah-rubah.
Ketika dalam Perang Uhud, ada sebagian sahabat yang mempunyai kesalahan strategi
politik yaitu sebatas untuk mendapatkan ghonimah. Apa yang terjadi. Bencana
pun datang. Sebagian pasukan yang hatinya sudah terpaut dunia, tersandera oleh
emas dan intan berlian. Mereka lupa terhadap barisan perang. Mereka lupa
tentang pentingnya merapikan shaf perjuangan. Mereka lupa terhadap komando tertinggi
dalam perang yaitu Nabi Muhammad SAW. Hampir-hampir saja, nabi pun hampir
terbunuh.
Umat Islam dan bangsa Indonesia bisa-bisa
akan seperti kisah Perang Uhud. Mereka sibuk perang melawan kemiskinan. Tapi kemiskinan
hati dibiarkan merana. Tuhan jauh dari diri mereka. Tiap hari menangisi
nasibnya, menangisi gaji dan tunjangan, menangisi segala hal-hal yang bersifat
fana.
Kita sering rebut-ribut persoalan tersebut.
Akhirnya berkelahi antar saudara satu agama, satu suku atau antar suku, satu
bangsa dan negara. Kita tidak rebutan memperbaiki kualitas diri tentang
hubungan dengan dengan Allah dan kurang memperbaiki diri tentang kualitas pendidikan
dan keahlian. Ketika Allah berada di dalam hatinya sangat kuat, maka keinginan
untuk memperbaiki diri pada pendidikan, skill dan ekonomi tentu sangat cepat. Sebab
orang-orang yang benar-benar hati nya merdeka dan hanya mencari ridha-Nya dalam
hidupnya akan terlihat progresif dalam berkarya dan berjuang untuk menjadikan
diri manusia terhormat dalam kehidupan sosial.
Dari sini saya bisa memahami betapa berat
menjadi manusia Merdeka. Sebab manusia merdeka adalah manusia yang pikiran,
hati, dan segala aktivitas nya sudah tergantung kepada Sang Pencipta yaitu Allah
SWT. Ia terus memperbaiki kualitas diri setiap hari. Tidak ada kata menyerah,
menyesal dan mengeluh. Yang ada pada dirinya yaitu optimisme tinggi untuk
menciptakan diri sebagai manusia yang unggul dalam kehidupan sosial dan
kehidupan di akherat nanti.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Adakah Manusia Merdeka?
17 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   62
Surat Terbuka Untuk Saudari Vanesia Shania
07 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   216
Rapat Non Formal
19 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   245
Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   170
Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   337
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14226
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      5693
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5233
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4586
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4120