Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

390 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Manusia Merdeka



Senin , 17 Agustus 2026



Telah dibaca :  60

Perang Badar menjadi sangat legendaris dalam sejarah Islam. Para mubaligh selalu saja mengutip kisah ini sebagai contoh jihad yang murni, perang yang tulus dalam upaya memperjuangkan suatu kebenaran dan cita-cita besar. Ia benar-benar seperti suatu yang mission imposible. 300 tentara melawan 1000 tentara. Satu melawan tiga. Wajar jika para sahabat sangat bangga akan keberhasilan tersebut.

Nabi duduk dikelilingi para sahabat. Mereka masih terus membicarakan kesuksesan Perang Badar. Nabi tersenyum lembut. Mata nya yang teduh memandang kepada para sahabat. Mereka pun seperti tersipu malu saat tatapan nya mengarah kepada mereka. Pandangan tulus yang menyebabkan mereka terdiam dan ingin mendengar untaian kata dari kekasih yang teragung mereka. Nabi dengan tenang dan lembut berkata: “ Kalian telah pulang dari sebuah pertempuran kecil menuju pertempuran akbar, yaitu pertempuran memerangi hawa nafsu”.

Ada sebuah berita yang sangat menginspirasi dikutip oleh Koran Harian Kompas(18 juni 2026). Kisah tentang perjalanan hidup seorang Bintang film sangat berprestasi Jet Li. Sejak kecil sudah mempunyai cita-cita besar. Beragam penderitaan hidup dilaluinya. Hingga kemudian hari ia menjadi seorang ahli Kungfu berpretasai, aktor film laga yang sangat sukses di Hollywood. Ketika ia berlibur bersama keluarga di Maladewa yang memicu gelombang raksasa tsunami, Ia dan keluarganya hampir mati. Peristiwa yang mengerikan tersebut telah mengubah hidupnya. Ia kemudian memilih bertransformasi total dengan cara membebaskan diri dari segala bentuk duniawi. Ia berubah menjadi seorang resi. Mencari kedamaian abadi.

Dua kisah tersebut dari dua ajaran agama yang berbeda. Peristiwa Perang Badar bersumber dari ajaran Islam. Sedangkan kisah Jet Li berasal dari ajaran agama budha. Dua-dua nya melihat sisi hidup bukan pada persoalan kesuksesan fisik, tapi lebih mengarah kepada kesuksesan ruhaniah manusia. Ketika manusia mampu menundukan ruhaniah menjadi tatmainal qulub -hati yang tenang- maka manusia telah mencapai puncak jati dirinya yaitu manusia yang Merdeka.

Manusia merdeka tentu saja tidak seperti versi Jet Li. Ia memang berhasil mengeluarkan dunia dari hatinya. Namun pola yang ia lakukan sebatas membebaskan diri nya saja dari persoalan dunia sebagai upaya untuk mendapatkan kedamaian yang abadi.

Islam mengajarkan kepada umat nya agar dunia tidak sampai bersarang dalam hati. Ketika hal tersebut sampai berada dalam hati, maka manusia akan mengalami perbudakan sepanjang hidupnya. Ia akan terus menderita mengejar seluruh keinginannya. Hingga kemudian hari ia akan mengalami kelelahan luarbiasa.

Nabi mengingatkan dengan bahasa sederhana : jihad melawan hawa nafsu. Suatu peperangan yang sangat super sulit, dan sering manusia gagal menghadapi nya. Sebab nafsu yang kita perangi ada pada diri sendiri, menyatu seperti aliran darah dan tubuh. Sangat sulit dipisahkan.

Kelelahan kita bukan karena pekerjaan, bukan juga karena kita miskin, bukan juga karena cita-cita kita belum pada titik yang kita inginkan. Kelelahan kita, karena tujuan hati kita bukan lagi untuk berjihad menjinakan nafsu yang sangat genit yang menginginkan seluruh dunia masuk ke dalam hati nya. Nafsu kita masih sangat liar. Saat kemampuan dunia hanya sebesar kepala tangan diri sendiri, ingin mengharapkan gunung emas.

Islam memberikan karpet merah bagi orang yang ingin kaya atau menjadi pejabat dan pemimpin apapun bentuk namanya. Namun bukan tujuan. Seperti digambarkan dalam Perang badar. Persoalan terpenting bukan ghonimah sebagai blue print nya, tapi mencari ridha Allah. Ketika ini menjadi tujuannya, maka seluruh kekuatan pikiran, energi, tenaga, hati dan jiwa totalitas memasrahkan diri kepada Allah SWT. Ini kekuatan yang sesungguhnya. Ridho yang sangat progresif. Mencari tujuan semaksimal mungkin hanya mencari kemulyaan di hadapan-Nya. Akhirnya menang total. Ghonimah pun didapatkan.

Namun hati manusia selalu saja berubah-rubah. Ketika dalam Perang Uhud, ada sebagian sahabat yang mempunyai kesalahan strategi politik yaitu sebatas untuk mendapatkan ghonimah. Apa yang terjadi. Bencana pun datang. Sebagian pasukan yang hatinya sudah terpaut dunia, tersandera oleh emas dan intan berlian. Mereka lupa terhadap barisan perang. Mereka lupa tentang pentingnya merapikan shaf perjuangan. Mereka lupa terhadap komando tertinggi dalam perang yaitu Nabi Muhammad SAW. Hampir-hampir saja, nabi pun hampir terbunuh.

Umat Islam dan bangsa Indonesia bisa-bisa akan seperti kisah Perang Uhud. Mereka sibuk perang melawan kemiskinan. Tapi kemiskinan hati dibiarkan merana. Tuhan jauh dari diri mereka. Tiap hari menangisi nasibnya, menangisi gaji dan tunjangan, menangisi segala hal-hal yang bersifat fana.

Kita sering rebut-ribut persoalan tersebut. Akhirnya berkelahi antar saudara satu agama, satu suku atau antar suku, satu bangsa dan negara. Kita tidak rebutan memperbaiki kualitas diri tentang hubungan dengan dengan Allah dan kurang memperbaiki diri tentang kualitas pendidikan dan keahlian. Ketika Allah berada di dalam hatinya sangat kuat, maka keinginan untuk memperbaiki diri pada pendidikan, skill dan ekonomi tentu sangat cepat. Sebab orang-orang yang benar-benar hati nya merdeka dan hanya mencari ridha-Nya dalam hidupnya akan terlihat progresif dalam berkarya dan berjuang untuk menjadikan diri manusia terhormat dalam kehidupan sosial.

Dari sini saya bisa memahami betapa berat menjadi manusia Merdeka. Sebab manusia merdeka adalah manusia yang pikiran, hati, dan segala aktivitas nya sudah tergantung kepada Sang Pencipta yaitu Allah SWT. Ia terus memperbaiki kualitas diri setiap hari. Tidak ada kata menyerah, menyesal dan mengeluh. Yang ada pada dirinya yaitu optimisme tinggi untuk menciptakan diri sebagai manusia yang unggul dalam kehidupan sosial dan kehidupan di akherat nanti.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Adakah Manusia Merdeka?
17 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   62

Surat Terbuka Untuk Saudari Vanesia Shania
07 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   216

Rapat Non Formal
19 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   245

Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   170

Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   337

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14226


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      5693


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5233


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4120