
Apakah ini berkah bulan ramadhan, saya
tidak tahu. Saya melihat Iran hari ini menjadi primadona. Bangsa Iran hari ini
menjadi motivator terhebat bagi kebangkitan nasionalisme setiap bangsa yang
mengalami kegoncangan jiwa akibat hegemoni barat -AS dan Israel- terhadap
negara-negara di dunia. Tidak peduli sunni atau syi’ah, muslim atau non muslim.
Semua harus tunduk terhadap kedua negara tersebut.
Anda yang sunni hari ini harus menelan
ludah dalam dalam. Bagaimana seorang Donald Trump dengan enteng menghina
pangeran MBS -Mohammed bin Salman Al Saud –
dengan mengatakan menjilat-jilat pantat Donal Trump
Kata “pantat” dalam budaya Bangsa Arab punya konotasi yang negatif.
Sangat merendahkan statusnya. Jika anda memegang kepala seorang pangeran,
berarti anda sedang memulyakan nya. Tapi jika anda memegang pantatnya, berarti
anda menghinanya.
Donald Trump mengatakan nya “bukan” hanya memegang pantatnya, tapi
menjilat pantatnya. Sebuah simbol bahwa MBS di hadapan nya tidak punya harga
diri sama sekali. Sangat sarkas.
Watak Yahudi memang demikian. Baginya, tidak ada orang yang lebih
mulia darinya. Menghina orang adalah bagian dari budaya nya. Jangankan hanya
sunni-syi’ah, jangankan hanya MBS, Nabi dan Tuhan saja dihina oleh nya. Ia
selalu mengingkari kebenaran-kebenaran yang datang dari Allah dan para Nabi.
Allah telah berfirman dalam Al-Baqarah ayat 99 sebagai berikut:
وَلَقَدْ اَنْزَلْنَآ اِلَيْكَ اٰيٰتٍ ۢ
بَيِّنٰتٍۚ وَمَا يَكْفُرُ بِهَآ اِلَّا الْفٰسِقُوْنَ ٩٩
Artinya:
Sungguh, Kami benar-benar telah menurunkan ayat-ayat yang jelas
kepadamu (Nabi Muhammad), dan tidaklah ada yang mengingkarinya selain
orang-orang fasik.
Ayat tersebut bantahan dari kebodohan Kaum Yahudi tidak menerima
kebenaran. Justru malah berbicara sarkas terhadap Nabi dan kaum Muslimin.
Mereka terus menghina dan merendahkan derajat Nabi Muhammad dengan selalu menyebarkan
“keraguan” di tengah-tengah masyarakat
muslim dan yahudi tentang kenabian dan kerasulan nya. Provokasi-provokasi
tersebut bagian dari strategi dalam upaya untuk tetap mempertahankan status
mereka -yang menganggap diri sebagai anak Tuhan- dan mempertahankan kekuasaan
politik dan ekonomi.
Yahudi sudah terbiasa menyanjung setinggi langit dan menjatuhkan
sejatuh-jatuhnya lawan bicara. Tidak ada kalimat yang pasti. Selalu
berubah-rubah. Pagi tempe, sore kedelai. Pagi mengajak diplomasi, belum selesai
diplomasi sudah perang.
Ini bukan kealpan. Ini adalah watak yahudi sebagai bentuk arogansi
bahwa semua hukum dunia tidak berlaku sama sekali. Hukum sejati baginya adalah
ucapannya dan menganggap dirinya sebagai perwakilan Tuhan di dunia. Pandangan
ini yang sekarang sedang disuntikan pada rakyat israel dan amerika.
Tapi kenyataannya berbalik 180%. Demonstrasi besar-besaran di kedua
negara tersebut. Perang yang berlangsung berpuluh puluh hari telah membuat
rakyat kedua negara tersebut mengalami beban hidup yang sangat berat. Hutang Amerika
Serikat melonjak tajam. Utang Luar
Negeri di Amerika Serikat rata-rata 17190918,99 juta USD dari 2003 hingga 2025,
mencapai titik tertinggi sepanjang masa sebesar 29127909 juta USD pada kuartal
ketiga 2025
Utang Luar Negeri di Israel rata-rata 73458,97 juta USD dari 1980
hingga 2025, mencapai titik tertinggi sepanjang masa sebesar 164982,70 juta USD
pada kuartal keempat 2025. Sedangkan Iran
mempertahankan stok utang luar negeri yang rendah karena sanksi internasional
dan keterbatasan akses ke sistem pembayaran internasional (SWIFT)
Jika merujuk pada pengalaman masa lalu baik Israel maupun Iran
mempunyai Sejarah peradaban masa lalu yang sangat baik. Peperangan adalah tradisi
kedua bangsa tersebut. Keduanya mempunyia peradaban unggul sejak dulu. Peperangan
antara Yahudi -Romawi- Dan Persia -Iran- telah diabadikan dalam Al-Qur’an.
Ketika islam menguasai timur Tengah dan sebagaian daratan eropa,
bangsa yahudi berdiaspora di barat dan menjadi warga kelas dua. Mereka tahan
banting menghadapi tekanan politik saat itu.
Ketika kekuatan Islam sudah hilang di daratan eropa, kaum yahudi
telah menguasai ekonomi, pendidikan dan politik di benua barat.
Ketika bangsa barat menguasai negara-negara Islam, kaum yahudi
kembali ke wilayah Palestina dan mendirikan Negara Israel 14 Mei 1948.
Saat itu, nyaris kekuatan negara-negara Islam sangat dipengaruhi
oleh AS dan Israel. Hingga kemudian mereka menancapkan kuku arogansi politiknya
dengan mendirikan pangkalan militer di negara-negara Timur Tengah.
Negara-negara dengan pola kekhilafan monarchie masing-masing. Mereka
bersaing untuk menjadi negara kuat, bukan dengan kemandirian sebagai negara
yang berdaulat, tetapi atas dasar kedekatan mereka dengan as dan israel. Kekhilafahan
benar-benar dalam bayang-bayang kekuasaan barat.
Saya kira ucapan Donald Trump tentang “menjilat pantat” sebagai
bukti bahwa kemandirian negara Timur Tengah masih tergantung kekuatan kedua
negara tersebut. Sebab kenyataannya, mereka masih kalah jauh -terutama peralatan
perang-dibangingkan kedua negara AS dan Israel. Dari kedua negara ini, mereka
belanja peralatan perang untuk menjaga kedaulatan negara -yang sebenarnya
menurut saya tidak benar-benar berdaulat.
Bagi Donald Trump semua negara harus tunduk kepada nya. Jika tidak
mau maka akan dibuat babak belur seperti Irak, Libya, dan Venezuela.
Donald Trump beberapa waktu lalu bisa sesumbar melawan Iran. Tapi tidak
sekarang ini. Dia harus menghadapi rakyatnya sendiri akibat kebijakan tanpa
tujuan yang jelas. Perang dan perang. Akhirnya, rakyat nya jadi korban.
Para pemimpin iran tampil di luar ekspetasi inteljen CIA AS. Kematian
para pemimpinnya tidak membuat iran lumpuh. Dengan tenang dan tegas, pemerintah
iran mengumumkan siapa-siapa saja yang meninggal dunia. Tidak ada kegoncangan
politik yang berarti.
Mungkin bagi negara lain, kematian pimpinan awal kehancuran. Seperti
kisah Libya dan Irak. Berbeda dengan Iran,
pemimpin tertinggi meninggal dunia justru membangkitkan nasionalisme sangat
tinggi. Kematiannya harus dibayar darah. Kematiannya menjadi inspirasi para pemuda
iran untuk perang dan mengharap mati syahid.
Hari ini Iran menyadarkan negara-negara di dunia, bahwa menjunjung
tinggi kemerdekaan adalah hak setiap bangsa dan negara. Pemerintah Iran berikrar
bahwa “lebih baik mati” di negeri sendiri daripada menyerahkan negara ke orang
asing. Suatu sikap politik yang sangat cepat menular ke seluruh warga dunia
seperti api menyambar daun-daun kering. Warga AS benar-benar terbakar melampiaskan
kemarahan terhadap Trump atas sikap politik yang tidak menghargai kemerdekaan negara
lain.
Para pemimpin sunni dengan berpegang pada khilafah hanya melihat dan
kebingungan tidak jelas arah politiknya. Bingung. Pemerintah Qatar yang
sebelumnya marah-marah ke Iran, kini kembali mendukung pemerintah Iran.
Saya tidak tahu apa yang akan terjadi peta politik yang akan
datang. Tapi keberanian pemerintah Iran melawan AS dan Israel benar-benar telah
membuka hati para pemimpin negara tentang arti penting suatu kedaulatan negara.
Bagi umat Islam, sangat sulit untuk bersatu dalam satu pemerintahan
dunia dalam wujud khilafah. Setiap negara punya pengertian khilafah
sendiri-sendiri.
Pemerintah Iran dengan sistem imamah telah mengajarkan kepada
negara-negara Islam, bahwa jika ingin menjadi negara yang kuat dan berdaulat
maka yang dibangun dulu adalah sumber daya manusia -SDM. Melalui SDM yang
unggul, Pemerintah Iran telah berhasil menjadi satu-satu nya negara Islam sejajar
kemampuannya dengan negara barat. Bahkan kecerdasan warga negara Iran berada di
nomor dua setelah China.
Walhasil, saat ini yang terpenting bukan pada sistem politiknya,
tapi pada SDM nya. Sistem bagus, SDM rendah maka stagnan. SDM baik, sistem
jelek bisa diperbaiki.
Dengan SDM yang berkualitas tinggi, nampaknya Donald Trump tidak
berani ngomong “memegang pantat” kepada pemimpin Mojtaba Khamenei. Ma’lum,
setiap ngomong ngawur, Iran langsung mengirim COD berupa drone dan rudal.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   119
Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   259
Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   229
Membaca Kultivasi Negara Iran
11 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   252
Islam, Yahudi, dan Iran: Perang Medsos
03 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   139
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13816
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4867
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3860
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      3518
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3258