Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

352 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump



Senin , 30 Maret 2026



Telah dibaca :  278

Apakah ini berkah bulan ramadhan, saya tidak tahu. Saya melihat Iran hari ini menjadi primadona. Bangsa Iran hari ini menjadi motivator terhebat bagi kebangkitan nasionalisme setiap bangsa yang mengalami kegoncangan jiwa akibat hegemoni barat -AS dan Israel- terhadap negara-negara di dunia. Tidak peduli sunni atau syi’ah, muslim atau non muslim. Semua harus tunduk terhadap kedua negara tersebut.

Anda yang sunni hari ini harus menelan ludah dalam dalam. Bagaimana seorang Donald Trump dengan enteng menghina pangeran MBS -Mohammed bin Salman Al Saud – dengan mengatakan menjilat-jilat pantat Donal Trump (tempo.co, 2026). Jelas ini tamparan para sebagian muslim sunni yang telah mendewa-dewakan kedua negara tersebut sebagai sekutu nya. Suatu ucapan yang benar-benar merendahkan marbatat seorang pangeran dan seorang muslim.

Kata “pantat” dalam budaya Bangsa Arab punya konotasi yang negatif. Sangat merendahkan statusnya. Jika anda memegang kepala seorang pangeran, berarti anda sedang memulyakan nya. Tapi jika anda memegang pantatnya, berarti anda menghinanya.

Donald Trump mengatakan nya “bukan” hanya memegang pantatnya, tapi menjilat pantatnya. Sebuah simbol bahwa MBS di hadapan nya tidak punya harga diri sama sekali. Sangat sarkas.

Watak Yahudi memang demikian. Baginya, tidak ada orang yang lebih mulia darinya. Menghina orang adalah bagian dari budaya nya. Jangankan hanya sunni-syi’ah, jangankan hanya MBS, Nabi dan Tuhan saja dihina oleh nya. Ia selalu mengingkari kebenaran-kebenaran yang datang dari Allah dan para Nabi. Allah telah berfirman dalam Al-Baqarah ayat 99 sebagai berikut:

وَلَقَدْ اَنْزَلْنَآ اِلَيْكَ اٰيٰتٍ ۢ بَيِّنٰتٍۚ وَمَا يَكْفُرُ بِهَآ اِلَّا الْفٰسِقُوْنَ ۝٩٩

Artinya:

Sungguh, Kami benar-benar telah menurunkan ayat-ayat yang jelas kepadamu (Nabi Muhammad), dan tidaklah ada yang mengingkarinya selain orang-orang fasik.

Ayat tersebut bantahan dari kebodohan Kaum Yahudi tidak menerima kebenaran. Justru malah berbicara sarkas terhadap Nabi dan kaum Muslimin. Mereka terus menghina dan merendahkan derajat Nabi Muhammad dengan selalu menyebarkan  “keraguan” di tengah-tengah masyarakat muslim dan yahudi tentang kenabian dan kerasulan nya. Provokasi-provokasi tersebut bagian dari strategi dalam upaya untuk tetap mempertahankan status mereka -yang menganggap diri sebagai anak Tuhan- dan mempertahankan kekuasaan politik dan ekonomi.

Yahudi sudah terbiasa menyanjung setinggi langit dan menjatuhkan sejatuh-jatuhnya lawan bicara. Tidak ada kalimat yang pasti. Selalu berubah-rubah. Pagi tempe, sore kedelai. Pagi mengajak diplomasi, belum selesai diplomasi sudah perang.

Ini bukan kealpan. Ini adalah watak yahudi sebagai bentuk arogansi bahwa semua hukum dunia tidak berlaku sama sekali. Hukum sejati baginya adalah ucapannya dan menganggap dirinya sebagai perwakilan Tuhan di dunia. Pandangan ini yang sekarang sedang disuntikan pada rakyat israel dan amerika.

Tapi kenyataannya berbalik 180%. Demonstrasi besar-besaran di kedua negara tersebut. Perang yang berlangsung berpuluh puluh hari telah membuat rakyat kedua negara tersebut mengalami beban hidup yang sangat berat. Hutang Amerika Serikat melonjak tajam. Utang Luar Negeri di Amerika Serikat rata-rata 17190918,99 juta USD dari 2003 hingga 2025, mencapai titik tertinggi sepanjang masa sebesar 29127909 juta USD pada kuartal ketiga 2025 (id.tradingeconomics.com, n.d.).

Utang Luar Negeri di Israel rata-rata 73458,97 juta USD dari 1980 hingga 2025, mencapai titik tertinggi sepanjang masa sebesar 164982,70 juta USD pada kuartal keempat 2025. Sedangkan  Iran mempertahankan stok utang luar negeri yang rendah karena sanksi internasional dan keterbatasan akses ke sistem pembayaran internasional (SWIFT) (https://id.tradingeconomics.com, 2025).

Jika merujuk pada pengalaman masa lalu baik Israel maupun Iran mempunyai Sejarah peradaban masa lalu yang sangat baik. Peperangan adalah tradisi kedua bangsa tersebut. Keduanya mempunyia peradaban unggul sejak dulu. Peperangan antara Yahudi -Romawi- Dan Persia -Iran- telah diabadikan dalam Al-Qur’an.

Ketika islam menguasai timur Tengah dan sebagaian daratan eropa, bangsa yahudi berdiaspora di barat dan menjadi warga kelas dua. Mereka tahan banting menghadapi tekanan politik saat itu.

Ketika kekuatan Islam sudah hilang di daratan eropa, kaum yahudi telah menguasai ekonomi, pendidikan dan politik di benua barat.

Ketika bangsa barat menguasai negara-negara Islam, kaum yahudi kembali ke wilayah Palestina dan mendirikan Negara Israel 14 Mei 1948.

Saat itu, nyaris kekuatan negara-negara Islam sangat dipengaruhi oleh AS dan Israel. Hingga kemudian mereka menancapkan kuku arogansi politiknya dengan mendirikan pangkalan militer di negara-negara Timur Tengah.

Negara-negara dengan pola kekhilafan monarchie masing-masing. Mereka bersaing untuk menjadi negara kuat, bukan dengan kemandirian sebagai negara yang berdaulat, tetapi atas dasar kedekatan mereka dengan as dan israel. Kekhilafahan benar-benar dalam bayang-bayang kekuasaan barat.

Saya kira ucapan Donald Trump tentang “menjilat pantat” sebagai bukti bahwa kemandirian negara Timur Tengah masih tergantung kekuatan kedua negara tersebut. Sebab kenyataannya, mereka masih kalah jauh -terutama peralatan perang-dibangingkan kedua negara AS dan Israel. Dari kedua negara ini, mereka belanja peralatan perang untuk menjaga kedaulatan negara -yang sebenarnya menurut saya tidak benar-benar berdaulat.

Bagi Donald Trump semua negara harus tunduk kepada nya. Jika tidak mau maka akan dibuat babak belur seperti Irak, Libya, dan Venezuela.

Donald Trump beberapa waktu lalu bisa sesumbar melawan Iran. Tapi tidak sekarang ini. Dia harus menghadapi rakyatnya sendiri akibat kebijakan tanpa tujuan yang jelas. Perang dan perang. Akhirnya, rakyat nya jadi korban.

Para pemimpin iran tampil di luar ekspetasi inteljen CIA AS. Kematian para pemimpinnya tidak membuat iran lumpuh. Dengan tenang dan tegas, pemerintah iran mengumumkan siapa-siapa saja yang meninggal dunia. Tidak ada kegoncangan politik yang berarti.

Mungkin bagi negara lain, kematian pimpinan awal kehancuran. Seperti kisah Libya dan Irak. Berbeda  dengan Iran, pemimpin tertinggi meninggal dunia justru membangkitkan nasionalisme sangat tinggi. Kematiannya harus dibayar darah. Kematiannya menjadi inspirasi para pemuda iran untuk perang dan mengharap mati syahid.

Hari ini Iran menyadarkan negara-negara di dunia, bahwa menjunjung tinggi kemerdekaan adalah hak setiap bangsa dan negara. Pemerintah Iran berikrar bahwa “lebih baik mati” di negeri sendiri daripada menyerahkan negara ke orang asing. Suatu sikap politik yang sangat cepat menular ke seluruh warga dunia seperti api menyambar daun-daun kering. Warga AS benar-benar terbakar melampiaskan kemarahan terhadap Trump atas sikap politik yang tidak menghargai kemerdekaan negara lain.

Para pemimpin sunni dengan berpegang pada khilafah hanya melihat dan kebingungan tidak jelas arah politiknya. Bingung. Pemerintah Qatar yang sebelumnya marah-marah ke Iran, kini kembali mendukung pemerintah Iran.

Saya tidak tahu apa yang akan terjadi peta politik yang akan datang. Tapi keberanian pemerintah Iran melawan AS dan Israel benar-benar telah membuka hati para pemimpin negara tentang arti penting suatu kedaulatan negara.

Bagi umat Islam, sangat sulit untuk bersatu dalam satu pemerintahan dunia dalam wujud khilafah. Setiap negara punya pengertian khilafah sendiri-sendiri.

Pemerintah Iran dengan sistem imamah telah mengajarkan kepada negara-negara Islam, bahwa jika ingin menjadi negara yang kuat dan berdaulat maka yang dibangun dulu adalah sumber daya manusia -SDM. Melalui SDM yang unggul, Pemerintah Iran telah berhasil menjadi satu-satu nya negara Islam sejajar kemampuannya dengan negara barat. Bahkan kecerdasan warga negara Iran berada di nomor dua setelah China.

Walhasil, saat ini yang terpenting bukan pada sistem politiknya, tapi pada SDM nya. Sistem bagus, SDM rendah maka stagnan. SDM baik, sistem jelek bisa diperbaiki.

Dengan SDM yang berkualitas tinggi, nampaknya Donald Trump tidak berani ngomong “memegang pantat” kepada pemimpin Mojtaba Khamenei. Ma’lum, setiap ngomong ngawur, Iran langsung mengirim COD  berupa drone dan rudal.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   119

Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   259

Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   229

Membaca Kultivasi Negara Iran
11 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   252

Islam, Yahudi, dan Iran: Perang Medsos
03 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   139

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13816


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4867


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3258