Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Islam, Yahudi, dan Iran: Perang Medsos



Selasa , 03 Maret 2026



Telah dibaca :  120

Kondisi geopolitik global  -wabil khusus Timur Tengah- lagi tidak baik-baik saja. Sebenarnya AS dan Israel ingin menyelesaikan lewat jalur diplomasi. Iran nurut. Sebenarnya jika AS dan Israel patuh terhadap kesepakatan perdamaian dengan Iran di Oman, kemungkinan tidak terjadi perang seperti saat sekarang ini. Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr bin Hamad bin Hamood Albusaidi sudah mengatakan bahwa Menteri Luar Negeri Iran-Abbas Araghchi- siap menyelesaikan kemelut politik ini dengan damai. Duduk bareng sambil ngopi. Jika perlu siapkan rokok kretek Gudang Garam.

Tapi AS dan Israel main politik dua kaki. Pagi tempe, sore kedelai. Grusa-grusu. Tangan nya gatal ingin perang. Dengan kekuatan penuh, AS dan Israel memborbardir kediaman Sayid Ali Khaimeni. Dalam hal ini kedua negara tersebut -jika dilihat secara geneologis- sangat kental berdarah Yahudi telah melanggar kesepakatan kedua belah pihak. omongannya ingin damai, tapi kenyataan malah perang. Persis seperti judul lagu “kau yang memulai kau yang mengakhiri”.

Umat Islam di media sosial memang persis seperti “buih di lautan”. Komentar nya ngalor-ngidul tidak karuan. Setiap kelompok menyerukan “ وَٱعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ “-bersatulah dan jangan bercerai berai. Ironisnya persatuan yang dinginkan adalah persatuan parsial, bukan kolektif bukan universal.

Umat Islam sudah terbiasa berbicara “persatuan” dengan menyerang Islam lain yang tidak sepaham denganya seperti khawarij, syi’ah, salafi dan sejenisnya.

Orang salafi ngomong persatuan tapi lidahnya menyalahkan NU, jama’ah tabligh, muhamadiyah,  perti,persis dan lain-lain. Simpatisan syi’ah akan mengagung-agungkan imam 12 dan merasa lebih super dari umat Islam lainnya (tapi ngomong-ngomong, apakah tokoh-tokoh Iran menjelek-jelekan tokoh sunni? Silahkan kita cek sama-sama).

Pecinta Hizbut Tahrir menyalahkan republik, kerajaan, syi’ah, salafi, khawarij dan bermimpi ada negara dan bangsa Islam tunggal di dunia. Itu sebabnya, seberapa besar perjuangan Iran melawan AS dan Palestina tidak akan dianggap oleh kelompok ini. Anggapan kelompok ini “kafir sama-sama kafir lagi perang, biarkan saja. Kita menikmati endingnya saja”.

Jadi, umat Islam di media sosial saat sekarang ini memang benar-benar seperti buih di lautan yang komentar-komentarnya tidak lebih dari materi stand up comedi. Hanya karena kepentingan politik, ideologi tertentu lagu mem-babi buta menyerang kelompok lainnya.

Dari data tersebut cukup bukti bahwa umat Islam suka persatuan, slogannya persatuan, tapi paling suka bercerai berai dan saling menyalahkan. Jangankan ingin menyatukan pemikiran umat Islam satu dunia dalam satu negara, satu grub WA saja saling cakar-cakaran. Atau satu parit saja, berkelahi dengan tetangga masalah “patok” pembatas ladang atau sawah.  Laa wong kalah selisih beberapa biting suara di pilkada saja, marah nya tidak habis-habis ila yaumil kiamat.

Ternyata “mimpi” memang terasa sangat indah. Tapi terlalu sering mimpi justru merusak keindahan umat.

Kebebasan berpendapat itu sah-sah saja. Itu yang diajarkan dalam Islam. Tapi persoalannya yang sering terjadi saat “mbahas persoalan”-mbaper, sering kebawa pada perasaan jadi nya”bawa perasaan”-baper. Perpedaan pendapat yang seharusnya menjadi jalan kebebasan berfikir menjadi “mengkered” gara-gara kebesaran perasaan. Akhirnya, kita kerjanya setiap hari menjaga perasaan supaya tidak baper, bukan lagi menjaga tradisi intelektual dengan terbiasa berdebat, bertukar pikiran dengan referensi yang luas.

Kita harus akui kehebatan umat Islam sunni kalah jauh dari agama yahudi, dan jauh lagi dari Islam Iran. Secara IQ, China menduduki urutan pertama, dan Iran ke dua. Di bawah nya ada yahudi, dan bangsa-bangsa barat. Silahkan cek ilmuwan Islam yang kita kenal dari masa dulu, mereka lahir berasal dari wilayah Persia-iran. Kita tidak menyadari hal ini. Kita juga harus terbuka bahwa bangsa arab sejak dulu sangat sedikit ilmuwannya. Islam berasal dari arab, tapi yang meneruskan cahaya peradaban pada masa dinasti umayyah dan abbasiyah- terutama para ilmuwan- adalah orang-orang yang secara geneologis banyak kaitannya dengan bangsa persia-iran sekarang.

Kenapa? Karena sejak dulu bangsa persia sudah mempunyai peradaban tinggi. Saingannya adalah romawi-yahudi. Dalam al-Qur’an sudah jelas sekali diterangkan antara kedua negara tersebut sudah terbiasa berperang. Kadang kalah, kadang menang.

Beberapa waktu lalu, saya mendengar pordcast dari mantan duta besar di Iran. Ada satu pertanyaan disampaikan ke dubes: “Kenapa Iran sejak dulu selalu hancur akibat perang, tapi kehidupan masyarakat tenang dan sangat cepat kemajuan pendidikan, riset dan teknologi melampau seluruh negara Islam di dunia saat sekarang ini?”. Jawabannya singkat : “Kenangan peradaban masa lalu”.

Bangsa Iran hari ini tidak butuh sanjungan dari Islam sunni dan segala variannya. Tidak butuh sama sekali. Bahkan saat kelaparan sekalipun, masyarakat Iran tidak pernah terlihat membawa kaleng bekas -dengan baju combing-samping-sambil membuat video di youtube meminta donasi dengan mengutip dalil-dalil al-Qur’an.

Ketika masyarakat Iran lapar dan-bahkan-mati sekalipun, mereka justru mengatakan begini: “Penderitaan ku tidak sebanding dengan penderitaan Sayidina Husein bin Ali di Padang Karbala. Saya malu jika saya mengeluh karena sakit atau karena lapar. Saya malu Ketika berjumpa dengan sayid husein”. Mereka siap mati kelaparan dan siap mati dalam medan perang demi perjuangan suci nya.

Saya kira dari sini kita bisa belajar dari iran, bahwa jihad kita masih terlalu lemah dan belum ada “seujung kuku” bangsa Iran. Jika muslim sunni ingin bangkit, maka tirulah jihad Islam Syi’ah Iran yaitu jihad ruhaniah dan jihad peradaban.

Apakah anda siap?

 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   91

Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   212

Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   205

Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   217

Membaca Kultivasi Negara Iran
11 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   236

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13550


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4544


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2870