
Kondisi geopolitik global -wabil khusus Timur Tengah- lagi tidak
baik-baik saja. Sebenarnya AS dan Israel ingin menyelesaikan lewat jalur diplomasi.
Iran nurut. Sebenarnya jika AS dan Israel patuh terhadap kesepakatan perdamaian dengan Iran di Oman, kemungkinan tidak terjadi perang seperti saat sekarang ini. Menteri
Luar Negeri Oman Sayyid Badr bin Hamad bin Hamood Albusaidi sudah mengatakan
bahwa Menteri Luar Negeri Iran-Abbas Araghchi- siap menyelesaikan kemelut
politik ini dengan damai. Duduk bareng sambil ngopi. Jika perlu siapkan rokok
kretek Gudang Garam.
Tapi AS dan Israel main politik dua kaki. Pagi tempe, sore kedelai. Grusa-grusu. Tangan nya gatal ingin perang. Dengan kekuatan penuh, AS dan Israel memborbardir
kediaman Sayid Ali Khaimeni. Dalam hal ini kedua negara tersebut -jika
dilihat secara geneologis- sangat kental berdarah Yahudi telah melanggar kesepakatan kedua belah pihak. omongannya ingin damai, tapi kenyataan malah perang. Persis seperti judul lagu “kau yang memulai kau yang mengakhiri”.
Umat Islam di media sosial memang persis
seperti “buih di lautan”. Komentar nya ngalor-ngidul tidak
karuan. Setiap kelompok menyerukan “ وَٱعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ “-bersatulah dan jangan bercerai berai. Ironisnya
persatuan yang dinginkan adalah persatuan parsial, bukan kolektif bukan
universal.
Umat Islam sudah terbiasa berbicara “persatuan”
dengan menyerang Islam lain yang tidak sepaham denganya seperti khawarij, syi’ah,
salafi dan sejenisnya.
Orang salafi ngomong persatuan tapi
lidahnya menyalahkan NU, jama’ah tabligh, muhamadiyah, perti,persis dan lain-lain. Simpatisan syi’ah
akan mengagung-agungkan imam 12 dan merasa lebih super dari umat Islam lainnya
(tapi ngomong-ngomong, apakah tokoh-tokoh Iran menjelek-jelekan tokoh sunni? Silahkan
kita cek sama-sama).
Pecinta Hizbut Tahrir menyalahkan republik,
kerajaan, syi’ah, salafi, khawarij dan bermimpi ada negara dan bangsa Islam tunggal
di dunia. Itu sebabnya, seberapa besar perjuangan Iran melawan AS dan Palestina
tidak akan dianggap oleh kelompok ini. Anggapan kelompok ini “kafir sama-sama
kafir lagi perang, biarkan saja. Kita menikmati endingnya saja”.
Jadi, umat Islam di media sosial saat
sekarang ini memang benar-benar seperti buih di lautan yang komentar-komentarnya
tidak lebih dari materi stand up comedi. Hanya karena kepentingan
politik, ideologi tertentu lagu mem-babi buta menyerang kelompok lainnya.
Dari data tersebut cukup bukti bahwa umat Islam
suka persatuan, slogannya persatuan, tapi paling suka bercerai berai dan saling
menyalahkan. Jangankan ingin menyatukan pemikiran umat Islam satu dunia dalam
satu negara, satu grub WA saja saling cakar-cakaran. Atau satu parit saja,
berkelahi dengan tetangga masalah “patok” pembatas ladang atau sawah. Laa wong kalah selisih beberapa biting
suara di pilkada saja, marah nya tidak habis-habis ila yaumil kiamat.
Ternyata “mimpi” memang terasa sangat
indah. Tapi terlalu sering mimpi justru merusak keindahan umat.
Kebebasan berpendapat itu sah-sah saja. Itu
yang diajarkan dalam Islam. Tapi persoalannya yang sering terjadi saat “mbahas
persoalan”-mbaper, sering kebawa pada perasaan jadi nya”bawa perasaan”-baper.
Perpedaan pendapat yang seharusnya menjadi jalan kebebasan berfikir menjadi “mengkered”
gara-gara kebesaran perasaan. Akhirnya, kita kerjanya setiap hari menjaga
perasaan supaya tidak baper, bukan lagi menjaga tradisi intelektual dengan
terbiasa berdebat, bertukar pikiran dengan referensi yang luas.
Kita harus akui kehebatan umat Islam sunni kalah
jauh dari agama yahudi, dan jauh lagi dari Islam Iran. Secara IQ, China
menduduki urutan pertama, dan Iran ke dua. Di bawah nya ada yahudi, dan
bangsa-bangsa barat. Silahkan cek ilmuwan Islam yang kita kenal dari masa dulu,
mereka lahir berasal dari wilayah Persia-iran. Kita tidak menyadari hal ini. Kita
juga harus terbuka bahwa bangsa arab sejak dulu sangat sedikit ilmuwannya. Islam
berasal dari arab, tapi yang meneruskan cahaya peradaban pada masa dinasti
umayyah dan abbasiyah- terutama para ilmuwan- adalah orang-orang yang secara
geneologis banyak kaitannya dengan bangsa persia-iran sekarang.
Kenapa? Karena sejak dulu bangsa persia sudah
mempunyai peradaban tinggi. Saingannya adalah romawi-yahudi. Dalam al-Qur’an
sudah jelas sekali diterangkan antara kedua negara tersebut sudah terbiasa
berperang. Kadang kalah, kadang menang.
Beberapa waktu lalu, saya mendengar
pordcast dari mantan duta besar di Iran. Ada satu pertanyaan disampaikan ke
dubes: “Kenapa Iran sejak dulu selalu hancur akibat perang, tapi kehidupan masyarakat
tenang dan sangat cepat kemajuan pendidikan, riset dan teknologi melampau
seluruh negara Islam di dunia saat sekarang ini?”. Jawabannya singkat : “Kenangan
peradaban masa lalu”.
Bangsa Iran hari ini tidak butuh sanjungan
dari Islam sunni dan segala variannya. Tidak butuh sama sekali. Bahkan saat
kelaparan sekalipun, masyarakat Iran tidak pernah terlihat membawa kaleng bekas
-dengan baju combing-samping-sambil membuat video di youtube meminta donasi
dengan mengutip dalil-dalil al-Qur’an.
Ketika masyarakat Iran lapar
dan-bahkan-mati sekalipun, mereka justru mengatakan begini: “Penderitaan ku
tidak sebanding dengan penderitaan Sayidina Husein bin Ali di Padang Karbala. Saya
malu jika saya mengeluh karena sakit atau karena lapar. Saya malu Ketika berjumpa
dengan sayid husein”. Mereka siap mati kelaparan dan siap mati dalam medan
perang demi perjuangan suci nya.
Saya kira dari sini kita bisa belajar dari
iran, bahwa jihad kita masih terlalu lemah dan belum ada “seujung kuku” bangsa Iran.
Jika muslim sunni ingin bangkit, maka tirulah jihad Islam Syi’ah Iran yaitu
jihad ruhaniah dan jihad peradaban.
Apakah anda siap?
Penulis : Imam Ghozali
Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   91
Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   212
Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   205
Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   217
Membaca Kultivasi Negara Iran
11 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   236
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13550
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4544
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3560
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2940
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2870