Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri



Minggu , 05 April 2026



Telah dibaca :  91

Kata para pakar dibidangnya, sekarang ini sedang terjadi krisis energi global. Sedangkan kata teman ku yang punya mobil mewah-tapi kredit- sekarang ini sedang krisis bensin, pertralite atau petramax. Apa arti mobil mewah, bensin atau solar tidak ada?.

Saya kurang paham. Mana petralite, mana petramax. Persis seperti ibu-ibu kemaren mengadu kepada ku tentang mahal nya bensin: “Masa, satu botol bensin eceran warna hijau harganya Rp. 20.000,00. Gila !!.

Lebih parah lagi, teman ku seorang dosen. Dia sekarang bukan mikir mata kuliah, tapi mikir bagaimana ada orang yang jual bensin di pingggir jalan. Berapapun harganya akan dibeli. Yang penting ada.

Jika para suami yang sering ngantar istri-istrinya belanja di kedai sayur atau di pasar sayur, pasti lebih extrem lagi mendengar obrolan ibu-ibu.” Masa, cuma beli cabe hijau “se upil” saja seharga Rp. 7000,00”, bawa duit Rp. 100.000,00 ke pasar sudah tidak ada artinya” kata ibu-ibu yang dasternya tinggi sebelah.

Saya hanya tersenyum mendengar obrolannya. Lebih tersenyum lagi ketika ingat “cabe se upil”. Kira-kira “upile sopo sing sebesar cabe?”.

Itu adalah gambaran situasi alam semesta pada minggu-minggu sekarang ini. Psikologi masyarakat mengalami berbagai tekanan psikologi yang cukup serius dari berbagai daftar kebutuhan hidup yang terus meningkat akibat dari perang Iran Vs AS dan Israel. Semua terkena imbasnya. Kita semua seolah-olah jadi “bodoh mendadak”, tidak bisa berbuat apa-apa. Solusi hanya sebatas narasi. Sebab kita bukan pengambil kebijakan global. Dunia saat sekarang ini adalah panggung negara-negara yang kuat. Sedangkan negara-negara yang di bawah nya kadang sebatas “wait and see”.

Kenapa kita sekarang ini merasa menderita sangat mendalam menjalani hidup sehari-hari? Kenapa kita sejak dulu kok tidak juga kaya-kaya. Kenapa yang lain cepat betul menjadi kaya, menjadi pejabat. Sedangkan kita kok gini-gini terus.

Pikiran seperti ini yang sekarang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Manusia yang “ahsanitaqwiem” digeser oleh sistem menjadi “homo homini lupus”. Tidak peduli “beragama” atau “tidak beragama”, sama saja.

Sistem hidup saat sekarang ini persis seperti Metal Detector . tidak peduli, anda ustadz, pejabat atau rakyat biasa jika berada di Bandara semua akan diperiksa. Semua sama terkena sanksi Metal Detector jika ketahuan membawa barang yang mencurigakan seperti bawa Keris atau Senjata Tajam. Metal Detector sangat cerdas mana senjata tajam yang bahaya mana yang tidak.

Ibadah ritual dan kesadaran spiritual belum menyentuh pada amalan sosial dalam beragam aspek kehidupan. Keduanya masih berjalan sendiri-sendiri. Semua ini, karena imunisasi ideologi homo homini lupus telah bersarang di dalam hati.

Perasaan menderita karena kebutuhan hidup sebenarnya pemikiran yang sudah lama dihembuskan oleh Kaum Yahudi. Bangsa ini sejak dulu selalu menentang tentang pola hidup “ilahiyah” yang telah dicanangkan oleh para Nabi dan Rasul mereka dan Nabi akhir zaman yaitu Nabi Muhammad SAW. Tapi mereka selalu menentangnya. Sebab bagi mereka kehidupan yang ternikmat ketika terpenuhi fasilitas hidupnya.

Gambaran ini sebagaimana yang tercermin dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 100 sebagai berikut:

اَوَكُلَّمَا عٰهَدُوْا عَهْدًا نَّبَذَهٗ فَرِيْقٌ مِّنْهُمْۗ بَلْ اَكْثَرُهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ ۝١٠٠

Artinya:

Mengapa setiap kali mereka mengikat janji, sekelompok mereka melanggarnya? Bahkan, sebagian besar mereka tidak beriman.

Ayat tersebut menjelaskan bahwa watak kaum yahudi selalu menolak kebenaran dari Tuhan. Termasuk pola hidup sebagaimana yang diajarkan oleh para nabi dan rasul mereka, yaitu hidup dengan penuh kesederhanaan dan lebih mengutamakan tentang kualitas ilmu, amal dan ibadah.

Salah satu bentuk kebencian mereka yaitu melakukan perubahan sebagian ayat-ayat taurat sebagai cara melegitimasi pemikiran-pemikiran liberal dan sekuler tentang pola hidup hedonisme dan berlimpah harta. Mereka dengan bebas membuat pola sistem ekonomi seperti candu, semakin minum semakin asyik dan tidak bisa melepaskan dari cengkraman ekonomi nya. sistem ekonomi dibuat sangat mengerikan dengan prinsip :”usaha sekecil-kecilnya untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya”. Dibuatlah pola perbankan seperti yang kita rasakan saat sekarang ini.

Kaum yahudi mencoba membangun narasi tentang keimanan dan kekayaan adalah satu sisi mata uang. Semakin tinggi iman, semakin hidup sejahtera. Mereka menciptakan teknologi secara besar-besaran untuk memanjakan keinginan nafsu manusia modern. Mereka tidak bicara tentang kemiskinan. Mereka berbicara persis seperti orang terkena narkoba, yang dilihat Adalah kenikmatan, kekayaan dan syahwat semata.

Narasi yang dibangun oleh mereka berhasil. Kini, setiap bangsa, negara-negara islam dan para pejabat serta masyarakatnya sudah terdoktrin tentang makna kesejahteraan identic dengan rumah yang indah, mobil yang mewah dan alat komunikasi dengan merk yang paling keren.

Kita bisa melihat dengan mata telanjang. Setiap negara Islam yang mempunyai Sumber Daya Alam melimpah sedang membuat bangunan-bangungan untuk berbangga-banggaan. Arab Saudi membangun proyek Jeddah Tower setinggi 1 KM, Rise Tower setinggi 2 KM. Dubai membangun perkantoran Burj Khalifa setinggi 828 meter. Dan masih banyak lagi. Seolah-olah berkata: “Inilah negeriku yang makmur dan Sejahtera”.

Negara-negara Timur Tengah terus menggiring opini kemewahan bergelimang harta. Para raja, para pangeran dan bangsawan dengan memamerkan koleksi ratusan mobil mewah dengan edisi terbatas. Kita dibuat iri oleh kehidupan mereka.

Para buzzer dari negara tersebut dan simpatisan dari negara kita akan terus mempublikasi tentang “ketakwaan yang baik” akan memberikan “keuntungan kehidupan dunia yang melimpah”. Mereka tidak henti-hentinya membangun presepsi sedemikian massif. Sehingga lahir generasi-generasi muda Islam yang sibuk memperbaiki ibadah yang tujuannya untuk perbaikan ekonomi. Saat ekonomi tidak membaik, maka mereka akan terkena gonjangan jiwa.

Negara Indonesia yang sering disebut negara berkembang dari dulu hingga kini -entah kapan buah nya. Sebagian masyarakatnya telah terkena virus pragmatisme kebahagiaan. Sedikit dapat harta, dapat jabatan, dapat kekuasaan langsung bermewah-mewahan. Baru mendapatkan kedudukan, langsung joget-joget karena bangga mendapatkan setetes kenikmatan.

Untuk menunjukan perubahan kelas status sosial, maka pola hidup pun dirubah sedemikian ekstrem. Penghasilan dihabiskan benar-benar untuk kebutuhan jangka pendek. Yang penting terlihat mewah, meskipun hidup terasa susah.

Ketika semua berbangga-bangga dengan kemewahan dunia, Ketika negara Timur Tengah memamerkan kekayaan dan kemakmuran, Ketika masyarakat Islam ramai-ramai berbangga-bangga dengan kedudukan, kekayaan, dan barang-barang mewah pada dirinya, dan ketika semua pikiran sudah orientasinya pada kekayaan dan kememawahan, maka Allah menghadirkan suatu ujian yang dahsyat yaitu perang Iran vs AS dan Israel.

Silahkan saja anda mencaci maki ketiga negara tersebut. Tapi hikmah dibalik semua itu, ternyata virus hedomisme yang dihembuskan oleh AS dan Israel hanya sebatas “fatamorgana” atau kesenangan sesaat. Saat kita menuruti kebahagiaan mereka, maka saat itu hutang kita akan semakin meningkat. Saat sudah meningkat, maka saat itu kita akan menyerahkan kita dengan seluruh tubuhnya masuk ke dalam Lubang Biawak.

Silahkan anda berbangga-bangga melihat Istana para raja dan pangeran atau pemimpin negara-negara yang sangat indah dan gemerlap dengan cahaya yang menyilaukan mata.

Tapi anda harus ingat, Sang Nabi yang agung dan para sahabat yang luhur bukan tipe manusia yang suka membangun Istana. Kenapa kita membangun sistem hidup kaum yahudi yang hedonisme dengan melempar jauh-jauh ajaran prinsip hidup yang sederhana para kekasih-kekasih Allah. Apakah anda melihat semua itu prinsip kekolotan dan keterbelakangan? Apakah anda merasa lebih hebat dan modern dari Nabi kita? Apakah prinsip hidup Nabi sudah tidak relevan lagi dengan kehidupan saat sekarang ini. Jika anda memandang demikian, maka virus politik yahudi telah merasuk pada hati anda yang paling dalam.

Padahal ajaran nabi sangat modern. Kehidupan nya dan para sahabat serta para ilmuwan juga sangat modern. Pondasi sistem masyarakat Islam sangat jelas sebagaimana dijelaskan dalam Q.S. Al-Mujadalah ([58]:11) sebagai berikut:

Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, “Berdirilah,” (kamu) berdirilah. Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.

Pondasi peradaban Islam yang telah diletakan dalam Al-Qur’an dan Hadist sangat jelas yaitu pada “iman” dan “ilmu pengetahuan”. Jika kedua sudah tertancap dalam hati dan menjadi way of life, saya kira umat Islam menjadi penggerak peradaban. Tapi jika meninggalkan ini, maka umat Islam akan menjadi makmum peradaban. Tidak peduli, meskipun makmum nya yahudi atau kafir sekalipun akan tetap ikut.

Krisis energi global saat ini sebagai bencana dan pembawa hikmah.

Salah satu hikmah, kita harus lapang dada belajar dari musuh-musuh yang selalu kita benci. Jika anda benci Iran karena perbedaan ideologi politik atau akidahnya itu hak anda. Tapi anda harus jujur, bahwa di tengah-tengah embargo sekitar 40 tahun oleh barat, Pemerintah Iran sangat berpegang teguh dengan prinsip peradaban Islam dengan modal “iman” dan “ilmu pengetahuan”.

Mereka biasa makan ala kadarnya, mereka biasa jalan kaki tanpa kendaraan. Tapi suplai nutrisi akal dan hati benar-benar berisi saripati vitamin terbaik di dunia yaitu nutrisi keyakinan terhadap kekuasaan Allah dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hasilnya luarbiasa, kemiskinan dunia telah melahirkan kemajuan peradaban sebanding dengan barat. Subhanallah.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   212

Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   205

Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   218

Membaca Kultivasi Negara Iran
11 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   236

Islam, Yahudi, dan Iran: Perang Medsos
03 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   121

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13550


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4544


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2870