
Kata para pakar dibidangnya, sekarang ini
sedang terjadi krisis energi global. Sedangkan kata teman ku yang punya mobil
mewah-tapi kredit- sekarang ini sedang krisis bensin, pertralite atau petramax.
Apa arti mobil mewah, bensin atau solar tidak ada?.
Saya kurang paham. Mana petralite, mana
petramax. Persis seperti ibu-ibu kemaren mengadu kepada ku tentang mahal nya
bensin: “Masa, satu botol bensin eceran warna hijau harganya Rp. 20.000,00. Gila
!!.
Lebih parah lagi, teman ku seorang dosen. Dia
sekarang bukan mikir mata kuliah, tapi mikir bagaimana ada orang yang jual
bensin di pingggir jalan. Berapapun harganya akan dibeli. Yang penting ada.
Jika para suami yang sering ngantar
istri-istrinya belanja di kedai sayur atau di pasar sayur, pasti lebih extrem
lagi mendengar obrolan ibu-ibu.” Masa, cuma beli cabe hijau “se upil” saja seharga
Rp. 7000,00”, bawa duit Rp. 100.000,00 ke pasar sudah tidak ada artinya” kata
ibu-ibu yang dasternya tinggi sebelah.
Saya hanya tersenyum mendengar obrolannya. Lebih
tersenyum lagi ketika ingat “cabe se upil”. Kira-kira “upile sopo
sing sebesar cabe?”.
Itu adalah gambaran situasi alam semesta
pada minggu-minggu sekarang ini. Psikologi masyarakat mengalami berbagai
tekanan psikologi yang cukup serius dari berbagai daftar kebutuhan hidup yang
terus meningkat akibat dari perang Iran Vs AS dan Israel. Semua terkena
imbasnya. Kita semua seolah-olah jadi “bodoh mendadak”, tidak bisa
berbuat apa-apa. Solusi hanya sebatas narasi. Sebab kita bukan pengambil
kebijakan global. Dunia saat sekarang ini adalah panggung negara-negara yang
kuat. Sedangkan negara-negara yang di bawah nya kadang sebatas “wait and see”.
Kenapa kita sekarang ini merasa menderita
sangat mendalam menjalani hidup sehari-hari? Kenapa kita sejak dulu kok tidak
juga kaya-kaya. Kenapa yang lain cepat betul menjadi kaya, menjadi pejabat. Sedangkan
kita kok gini-gini terus.
Pikiran seperti ini yang sekarang
berkembang di tengah-tengah masyarakat. Manusia yang “ahsanitaqwiem”
digeser oleh sistem menjadi “homo homini lupus”. Tidak peduli “beragama”
atau “tidak beragama”, sama saja.
Sistem hidup saat sekarang ini persis
seperti Metal Detector . tidak peduli, anda ustadz, pejabat atau rakyat biasa
jika berada di Bandara semua akan diperiksa. Semua sama terkena sanksi Metal
Detector jika ketahuan membawa barang yang mencurigakan seperti bawa Keris atau
Senjata Tajam. Metal Detector sangat cerdas mana senjata tajam yang bahaya mana
yang tidak.
Ibadah ritual dan kesadaran spiritual belum
menyentuh pada amalan sosial dalam beragam aspek kehidupan. Keduanya masih
berjalan sendiri-sendiri. Semua ini, karena imunisasi ideologi homo homini
lupus telah bersarang di dalam hati.
Perasaan menderita karena kebutuhan hidup
sebenarnya pemikiran yang sudah lama dihembuskan oleh Kaum Yahudi. Bangsa ini
sejak dulu selalu menentang tentang pola hidup “ilahiyah” yang telah
dicanangkan oleh para Nabi dan Rasul mereka dan Nabi akhir zaman yaitu Nabi Muhammad
SAW. Tapi mereka selalu menentangnya. Sebab bagi mereka kehidupan yang
ternikmat ketika terpenuhi fasilitas hidupnya.
Gambaran ini sebagaimana yang tercermin
dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 100 sebagai berikut:
اَوَكُلَّمَا عٰهَدُوْا عَهْدًا نَّبَذَهٗ فَرِيْقٌ مِّنْهُمْۗ بَلْ
اَكْثَرُهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ ١٠٠
Artinya:
Mengapa setiap kali mereka mengikat janji, sekelompok mereka
melanggarnya? Bahkan, sebagian besar mereka tidak beriman.
Ayat tersebut menjelaskan bahwa watak kaum yahudi selalu menolak
kebenaran dari Tuhan. Termasuk pola hidup sebagaimana yang diajarkan oleh para
nabi dan rasul mereka, yaitu hidup dengan penuh kesederhanaan dan lebih
mengutamakan tentang kualitas ilmu, amal dan ibadah.
Salah satu bentuk kebencian mereka yaitu melakukan perubahan sebagian
ayat-ayat taurat sebagai cara melegitimasi pemikiran-pemikiran liberal dan
sekuler tentang pola hidup hedonisme dan berlimpah harta. Mereka dengan bebas
membuat pola sistem ekonomi seperti candu, semakin minum semakin asyik dan
tidak bisa melepaskan dari cengkraman ekonomi nya. sistem ekonomi dibuat sangat
mengerikan dengan prinsip :”usaha sekecil-kecilnya untuk mendapatkan keuntungan
sebesar-besarnya”. Dibuatlah pola perbankan seperti yang kita rasakan saat
sekarang ini.
Kaum yahudi mencoba membangun narasi tentang keimanan dan kekayaan adalah
satu sisi mata uang. Semakin tinggi iman, semakin hidup sejahtera. Mereka menciptakan
teknologi secara besar-besaran untuk memanjakan keinginan nafsu manusia modern.
Mereka tidak bicara tentang kemiskinan. Mereka berbicara persis seperti orang
terkena narkoba, yang dilihat Adalah kenikmatan, kekayaan dan syahwat semata.
Narasi yang dibangun oleh mereka berhasil. Kini, setiap bangsa,
negara-negara islam dan para pejabat serta masyarakatnya sudah terdoktrin
tentang makna kesejahteraan identic dengan rumah yang indah, mobil yang mewah
dan alat komunikasi dengan merk yang paling keren.
Kita bisa melihat dengan mata telanjang. Setiap negara Islam yang
mempunyai Sumber Daya Alam melimpah sedang membuat bangunan-bangungan untuk
berbangga-banggaan. Arab Saudi membangun proyek Jeddah Tower setinggi 1 KM, Rise
Tower setinggi 2 KM. Dubai membangun perkantoran Burj Khalifa setinggi 828
meter. Dan masih banyak lagi. Seolah-olah berkata: “Inilah negeriku yang makmur
dan Sejahtera”.
Negara-negara Timur Tengah terus menggiring opini kemewahan
bergelimang harta. Para raja, para pangeran dan bangsawan dengan memamerkan
koleksi ratusan mobil mewah dengan edisi terbatas. Kita dibuat iri oleh
kehidupan mereka.
Para buzzer dari negara tersebut dan simpatisan dari negara kita
akan terus mempublikasi tentang “ketakwaan yang baik” akan memberikan “keuntungan
kehidupan dunia yang melimpah”. Mereka tidak henti-hentinya membangun presepsi
sedemikian massif. Sehingga lahir generasi-generasi muda Islam yang sibuk
memperbaiki ibadah yang tujuannya untuk perbaikan ekonomi. Saat ekonomi tidak
membaik, maka mereka akan terkena gonjangan jiwa.
Negara Indonesia yang sering disebut negara berkembang dari dulu
hingga kini -entah kapan buah nya. Sebagian masyarakatnya telah terkena virus pragmatisme
kebahagiaan. Sedikit dapat harta, dapat jabatan, dapat kekuasaan langsung
bermewah-mewahan. Baru mendapatkan kedudukan, langsung joget-joget karena bangga
mendapatkan setetes kenikmatan.
Untuk menunjukan perubahan kelas status sosial, maka pola hidup pun
dirubah sedemikian ekstrem. Penghasilan dihabiskan benar-benar untuk kebutuhan jangka
pendek. Yang penting terlihat mewah, meskipun hidup terasa susah.
Ketika semua berbangga-bangga dengan kemewahan dunia, Ketika negara
Timur Tengah memamerkan kekayaan dan kemakmuran, Ketika masyarakat Islam
ramai-ramai berbangga-bangga dengan kedudukan, kekayaan, dan barang-barang
mewah pada dirinya, dan ketika semua pikiran sudah orientasinya pada kekayaan
dan kememawahan, maka Allah menghadirkan suatu ujian yang dahsyat yaitu perang Iran
vs AS dan Israel.
Silahkan saja anda mencaci maki ketiga negara tersebut. Tapi hikmah
dibalik semua itu, ternyata virus hedomisme yang dihembuskan oleh AS dan
Israel hanya sebatas “fatamorgana” atau kesenangan sesaat. Saat kita
menuruti kebahagiaan mereka, maka saat itu hutang kita akan semakin meningkat. Saat
sudah meningkat, maka saat itu kita akan menyerahkan kita dengan seluruh
tubuhnya masuk ke dalam Lubang Biawak.
Silahkan anda berbangga-bangga melihat Istana para raja dan pangeran
atau pemimpin negara-negara yang sangat indah dan gemerlap dengan cahaya yang
menyilaukan mata.
Tapi anda harus ingat, Sang Nabi yang agung dan para sahabat yang
luhur bukan tipe manusia yang suka membangun Istana. Kenapa kita membangun sistem
hidup kaum yahudi yang hedonisme dengan melempar jauh-jauh ajaran prinsip hidup
yang sederhana para kekasih-kekasih Allah. Apakah anda melihat semua itu
prinsip kekolotan dan keterbelakangan? Apakah anda merasa lebih hebat dan
modern dari Nabi kita? Apakah prinsip hidup Nabi sudah tidak relevan lagi
dengan kehidupan saat sekarang ini. Jika anda memandang demikian, maka virus
politik yahudi telah merasuk pada hati anda yang paling dalam.
Padahal ajaran nabi sangat modern. Kehidupan nya dan para sahabat
serta para ilmuwan juga sangat modern. Pondasi sistem masyarakat Islam sangat
jelas sebagaimana dijelaskan dalam Q.S. Al-Mujadalah ([58]:11) sebagai berikut:
Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu “Berilah
kelapangan di dalam majelis-majelis,” lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi
kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, “Berdirilah,” (kamu) berdirilah. Allah
niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang
yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu
kerjakan.
Pondasi peradaban Islam yang telah diletakan dalam Al-Qur’an dan
Hadist sangat jelas yaitu pada “iman” dan “ilmu pengetahuan”. Jika kedua sudah
tertancap dalam hati dan menjadi way of life, saya kira umat Islam
menjadi penggerak peradaban. Tapi jika meninggalkan ini, maka umat Islam akan
menjadi makmum peradaban. Tidak peduli, meskipun makmum nya yahudi atau kafir
sekalipun akan tetap ikut.
Krisis energi global saat ini sebagai bencana dan pembawa hikmah.
Salah satu hikmah, kita harus lapang dada belajar dari musuh-musuh
yang selalu kita benci. Jika anda benci Iran karena perbedaan ideologi politik
atau akidahnya itu hak anda. Tapi anda harus jujur, bahwa di tengah-tengah
embargo sekitar 40 tahun oleh barat, Pemerintah Iran sangat berpegang teguh
dengan prinsip peradaban Islam dengan modal “iman” dan “ilmu pengetahuan”.
Mereka biasa makan ala kadarnya, mereka biasa jalan kaki tanpa
kendaraan. Tapi suplai nutrisi akal dan hati benar-benar berisi saripati
vitamin terbaik di dunia yaitu nutrisi keyakinan terhadap kekuasaan Allah dan kemajuan
ilmu pengetahuan dan teknologi. Hasilnya luarbiasa, kemiskinan dunia telah
melahirkan kemajuan peradaban sebanding dengan barat. Subhanallah.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   212
Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   205
Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   218
Membaca Kultivasi Negara Iran
11 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   236
Islam, Yahudi, dan Iran: Perang Medsos
03 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   121
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13550
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4544
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3560
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2940
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2870