
Tidak disangka sama sekali akan terjadi
perang Iran head to head dengan AS dan Israel di bulan ramadhan pada
tahun ini-2026M/1447H. Rasa-rasanya seperti mimpi, tapi nyata, bahwa perang itu
ada. Fakta bahwa ada satu negara yang nantang AS dan Israel secara terbuka di
planet dunia ini, yatu Iran.
Perang Iran vs AS dan Israel persis Film
China yang lagi membanjiri dunia hiburan digital. Film yang tidak masuk akal,
tapi membuat bikin ketagihan. Alur ceritanya hampir mirip-mirip. Mulai dari
bocah kecil anak yatim ditemukan dijalan hingga seorang pemuda gembel, kurus
dan cengengesan tidak karuan. Ternyata punya kekuatan kultivasi tingkat dewa. Akhir
cerita bisa ditebak. Happy end.
Iran seperti pemuda kampung. Badan kurus,
wajah pucat, rambut acak-acakan dan baju nya lusuh. Pendek kata, penampilan
sangat udik, ndeso, dan kurang terdidik akibat embargo ekonomi oleh
bangsa barat.
AS dan Israel itu simbol kaum bangsawan,
milyader dan penentu kekuasaan dunia. Wajar jika negara-negara lainnya
mendukung kedua negara ini. Selain penampilan yang menyakinkan, kedua negara
ini sudah dianggap manusia yang sudah reinkarnasi menjadi dewa-penentu
kebahagiaan dan penderitaan suatu bangsa. Kedua nya seenaknya menentukan ekonomi
dan kondisi politik suatu negara.
Di luar dugaan, Iran yang dianggap kolot,
kampungan, konservatif ternyata pendekar yang sudah kultivasi tingkat
tinggi yang telah melampaui batas manusia biasa, mencapai keabadian dan
memperoleh kekuatan kosmik, seperti memanipulasi ruang, waktu dan elemen.
Jika manusia biasa berbicara jihad sebatas
mengutuk AS dan Israel di medsos dan berdemo berjilid-jilid atau masih pada
tataran lisan dan tulisan, Iran sudah benar-benar mewujudkan jihad dengan
kekuatan teknologi dan perang. Pada saat manusia biasa sangat brisik bicara
tentang keharusan menghancurkan dominasi AS dan Israel, justru Iran dengan
jalan sunyi memproduksi senjata tercanggih di tengah embargo ekonomi sejak
tahun 1979.
Laksana film pendek China, Iran adalah
manusia yang sudah menjadi kultivator tingkat tinggi. Embargo ekonomi dan
politik tidak menyebabkan “perut keroncongan” dan tidak berteriak-teriak di
medsos dengan mengucapkan “Dimana umat Muhammad, puasa kalian tidak ada
gunannya jika membiarkan kami dalam kelaparan sepanjang hari!!”. Masyarakat Iran
hampir tidak pernah -perasaan ku loh-membuat stiker, baleho, mencari sumbangan
dana untuk pembangunan, makan dan kebutuhan hidup. Tidak pernah. Pemerintah Iran
tidak keliling ke kampung-kampung dan tempat ibadah meminta bantuan kepada
siapapun untuk kepentingan negara nya. Bagi Masyarakat Iran
Sebagai kultivator, pemerintah Iran
“mengheningkan cipta”, menyatukan ruhaniah, batiniah dan jasmaniah serta akal
pikiran untuk mendapatkan kesempurnaan tingkat dewa. Ramuan jamu obat langka
terdiri: Teratai Salju berupa semangat jihad atas kematian Sayidina
Husein di Padang Karbala, Gingseng seribu tahun kenangan peradaban
bangsa Persia, dan buah yang tumbuh di energi Qi padat, berada di jiwa
berupa kesucian pengabdian kepada Allah SWT. Perpaduan ini melahirkan semangat
jihad dan berani mengorbankan jiwa, militansi sebagai pewaris peradaban bangsa
Persia dengan melakukan inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi secara
progresif, dan keyakinan sebagai penyelamat agama Islam dunia.
Saya tidak tahu, kapan perang akan
berakhir. Siapa yang menang, apakah AS dan Israel atau Iran? Jika AS dan Israel
menang, itu wajar. Main keroyokan. Jika keduanya kalah itu luarbiasa. Iran
benar-benar telah berkultivasi dan menjelma sebagai kekuatan baru Islam madzhab
Syi’ah.
Sebagai negara yang telah melakukan
kultivasi tingkat tinggi, biasanya sedikit bicara. Bicara yang berguna dan
bermakna, dan tidak menghaburkan ucapan-ucapan yang tidak ada manfaatnya sama
sekali, apalagi sampai mencaci maki sesama muslim.
Bangsa Iran telah terlalu sedikit
menghabiskan energi untuk ghibah, dan melaknat sesama muslim. Energi Iran
difokuskan untuk melakukan kajian-kajian ilmiah dan pengembangan teknologi
modern. Ia diam dan berkarya. Ia diam-diam mampu menjadi kekuatan Islam sebagai
pesaing utama dunia barat.
Sebagian masyarakat muslim terlalu terburu-buru
mengutamakan kebencian daripada kebenaran realita, selalu saja berfikir negatif
terhadap Iran.
Bahkan tidak hanya pada Iran, antar
kelompok sunni saja pun cakar-cakaran. saling gunjing, saling sikut, saling
bertengkar, saling bunuh-membunuh dan lebih ekstrem lagi saling paling ahli
surga, muslim lain dianggap kafir dan masuk neraka. Perang beberapa waktu lalu
antara Pakistan dan Afganistan adalah perang antar penganut sunni.
Ada juga tuduhan bahwa perang ini hanya
perang-perangan seperti film Upin-Ipin. Ma’lum, Iran dan Israel itu besti. Mereka
hakikatnya satu. Two in one. Iran ya Israel, Israel Ya Iran. Kedua negara
sedang bermain perang-perangan. Lucu, ribuan orang mati, gedung-gedung rusak,
dan fasilitas umum hancur kok masih menuduh ini hanya perang-perangan. Sungguh taklid
buta telah membunuh kewarasan akal pikiran sebagaian umat Islam dalam menyikapi
persoalan yang benar-benar nyata dan bisa dianalisis dengan data dan fakta.
Memang ada kelompok manusia yang selalu
berfikir demikian. Berbicara tidak berdasarkan fakta.
Pertama, karena ada agenda politik. Seperti
ucapan Donald Trump dan Netanyahu. Kedua nya paling suka bilang kepada musuh
dengan kalimat “penjahat perang atau teroris”. Faktanya, puluhan ribu
rakyat muslim Irak -pada masa pemerinah Sadam Husain- dan rakyat Libya -pada
masa dibantai oleh AS tanpa rasa bersalah. Hanya karena negara ini mempunyai
kekuatan ekonomi, politik dan media massa, semua fakta diputarbalikan. Dan sebagian
negara muslim pun ikut mengamini ucapan presiden AS.
Perang bagi AS dan Israel bukan persoalan
agama atau aliran Islam. Tidak sama sekali. Tetapi persoalan pada keinginan
menguasai sumber daya alam yang sangat kaya di Timur Tengah. negara manapun
tidak tunduk, akan dihancurkan. Isu agama, ideologi, dan tuduhan teroris hanya
sebatas bumbu penyedap untuk melegitimasi perilakunya supaya terlihat benar.
Kedua, karena adanya kebencian ideologi dan
kenangan masa lalu. Memang hubungan sunni dan syi’ah masa lalu sangat
menyakitkan sekali. Satu agama, tapi beda aliran ideologi. Tentu saja, ideologi
lahir bukan di ruang hampa. Baik sunni maupun syi’ah punya kenangan yang sangat
pahit. Lalu dari keduanya, ada kelompok-kelompok yang memposisikan diri seperti
air dan minyak. Tidak mungkin bertemu.
Namun di antara kelompok ini, ada juga keinginan
untuk menyatukan kekuatan Islam. Keyakinan boleh berbeda, tapi demi kepentingan
umat Islam harus saling membantu. Persis seperti keinginan Ali bin Abi Thalib melakukan
abritase-genjatan senjata. Sebenarnya ingin sekali menyatukan umat Islam
dalam satu bendera ukhuwah Islamiyah dan wathaniyah. Tapi, anda
bisa melihat sendiri. Keinginan yang tulus dari kepala negara saat itu justru
menjadi problematika yang sangat parah. Umat Islam terkapling dalam kepentingan
politik, bukan persoalan agama. Mereka saling fitnah, bunuh dan perang. Dan warisan
saling curiga umat Islam saat sekarang ini adalah cermin dari realita umat Islam
pada masa lalu.
Saya kira masyarakat sunni sudah saat nya
mencontoh syi’ah dalam lelaku kultivasi peradaban. Perdebatan sunni vs
syi’ah sudah saatnya dikurangi. Sudah tidak perlu lagi kalimat kasar diucapkan
begini: “Buat membela Iran, itu syi’ah !”. Lalu apakah lawannya -AS dan Israel-
itu Sunni?. Apapun alasannya, geneologis keimanan dan agama, masyarakat syi’ah
Iran lebih dekat dengan sunni ketimbang AS dan Israel. Namun karena politik,
dekat menjadi jauh, dan jauh menjadi dekat.
Bangsa Iran tidak akan peduli atas tuduhan
kaum sunni yang menganggap mereka sesat dan sejenisnya. Tidak ada efek sama
sekali. Produktifitas intelektual sudah tersusun sangat rapi. Arah pembangunan negara
para mullah ini-blue print-sudah benar-benar jelas, matang dan terukur
dengan penghitungan yang sangat akurat. Perang dan damai sudah ada jawaban
masing-masing. Bagi Iran perang dan damai adalah dua sisi kehidupan mereka yang
tidak ada perbedaan. Seperti menghadapi siang dan malam. Kedua-duanya dianggap
biasa saja.
Mungkin kita sebagai penganut sunni belum
bisa bersikap seperti masyarakat Iran. Kita masih bisa tersenyum saat
mendapatkan kemerdekaan, tapi akan stress saat negara ini dalam keadaan kacau. Dari
sini, saya sendiri merasa bahwa kultivasi penganut sunni masih pada level dasar
sehingga belum mampu menunjukan aura ilahi sebagai bangsa yang tangguh dan
kuat. Hanya besar di medsos, tapi hanya brisik saja tidak bisa berbuat apa-apa,
apalagi sampai perang melawan AS dan Israel.
Jadi, jika China sudah berkultivasi menjadi
negara yang dicintai oleh para dewa, Iran sudah berkultivasi menjadi negara imam
dua belas, kapan sunni berkultivasi sebagai negara yang ya’ulu wala yu’la ‘alaih.
Saya tidak tahu, mungkin menunggu keajaiban itu datang.
Penulis : Imam Ghozali
Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   118
Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   277
Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   259
Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   229
Islam, Yahudi, dan Iran: Perang Medsos
03 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   138
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13816
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4867
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3858
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      3517
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3258