Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Membaca Kultivasi Negara Iran



Rabu , 11 Maret 2026



Telah dibaca :  251

Tidak disangka sama sekali akan terjadi perang Iran head to head dengan AS dan Israel di bulan ramadhan pada tahun ini-2026M/1447H. Rasa-rasanya seperti mimpi, tapi nyata, bahwa perang itu ada. Fakta bahwa ada satu negara yang nantang AS dan Israel secara terbuka di planet dunia ini, yatu Iran.

Perang Iran vs AS dan Israel persis Film China yang lagi membanjiri dunia hiburan digital. Film yang tidak masuk akal, tapi membuat bikin ketagihan. Alur ceritanya hampir mirip-mirip. Mulai dari bocah kecil anak yatim ditemukan dijalan hingga seorang pemuda gembel, kurus dan cengengesan tidak karuan. Ternyata punya kekuatan kultivasi tingkat dewa. Akhir cerita bisa ditebak. Happy end.

Iran seperti pemuda kampung. Badan kurus, wajah pucat, rambut acak-acakan dan baju nya lusuh. Pendek kata, penampilan sangat udik, ndeso, dan kurang terdidik akibat embargo ekonomi oleh bangsa barat.

AS dan Israel itu simbol kaum bangsawan, milyader dan penentu kekuasaan dunia. Wajar jika negara-negara lainnya mendukung kedua negara ini. Selain penampilan yang menyakinkan, kedua negara ini sudah dianggap manusia yang sudah reinkarnasi menjadi dewa-penentu kebahagiaan dan penderitaan suatu bangsa. Kedua nya seenaknya menentukan ekonomi dan kondisi politik suatu negara.

Di luar dugaan, Iran yang dianggap kolot, kampungan, konservatif ternyata pendekar yang sudah kultivasi tingkat tinggi yang telah melampaui batas manusia biasa, mencapai keabadian dan memperoleh kekuatan kosmik, seperti memanipulasi ruang, waktu dan elemen.

Jika manusia biasa berbicara jihad sebatas mengutuk AS dan Israel di medsos dan berdemo berjilid-jilid atau masih pada tataran lisan dan tulisan, Iran sudah benar-benar mewujudkan jihad dengan kekuatan teknologi dan perang. Pada saat manusia biasa sangat brisik bicara tentang keharusan menghancurkan dominasi AS dan Israel, justru Iran dengan jalan sunyi memproduksi senjata tercanggih di tengah embargo ekonomi sejak tahun 1979.

Laksana film pendek China, Iran adalah manusia yang sudah menjadi kultivator tingkat tinggi. Embargo ekonomi dan politik tidak menyebabkan “perut keroncongan” dan tidak berteriak-teriak di medsos dengan mengucapkan “Dimana umat Muhammad, puasa kalian tidak ada gunannya jika membiarkan kami dalam kelaparan sepanjang hari!!”. Masyarakat Iran hampir tidak pernah -perasaan ku loh-membuat stiker, baleho, mencari sumbangan dana untuk pembangunan, makan dan kebutuhan hidup. Tidak pernah. Pemerintah Iran tidak keliling ke kampung-kampung dan tempat ibadah meminta bantuan kepada siapapun untuk kepentingan negara nya. Bagi Masyarakat Iran

Sebagai kultivator, pemerintah Iran “mengheningkan cipta”, menyatukan ruhaniah, batiniah dan jasmaniah serta akal pikiran untuk mendapatkan kesempurnaan tingkat dewa. Ramuan jamu obat langka terdiri: Teratai Salju berupa semangat jihad atas kematian Sayidina Husein di Padang Karbala, Gingseng seribu tahun kenangan peradaban bangsa Persia, dan buah yang tumbuh di energi Qi padat, berada di jiwa berupa kesucian pengabdian kepada Allah SWT. Perpaduan ini melahirkan semangat jihad dan berani mengorbankan jiwa, militansi sebagai pewaris peradaban bangsa Persia dengan melakukan inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi secara progresif, dan keyakinan sebagai penyelamat agama Islam dunia.

Saya tidak tahu, kapan perang akan berakhir. Siapa yang menang, apakah AS dan Israel atau Iran? Jika AS dan Israel menang, itu wajar. Main keroyokan. Jika keduanya kalah itu luarbiasa. Iran benar-benar telah berkultivasi dan menjelma sebagai kekuatan baru Islam madzhab Syi’ah.

Sebagai negara yang telah melakukan kultivasi tingkat tinggi, biasanya sedikit bicara. Bicara yang berguna dan bermakna, dan tidak menghaburkan ucapan-ucapan yang tidak ada manfaatnya sama sekali, apalagi sampai mencaci maki sesama muslim.

Bangsa Iran telah terlalu sedikit menghabiskan energi untuk ghibah, dan melaknat sesama muslim. Energi Iran difokuskan untuk melakukan kajian-kajian ilmiah dan pengembangan teknologi modern. Ia diam dan berkarya. Ia diam-diam mampu menjadi kekuatan Islam sebagai pesaing utama dunia barat.

Sebagian masyarakat muslim terlalu terburu-buru mengutamakan kebencian daripada kebenaran realita, selalu saja berfikir negatif terhadap Iran.

Bahkan tidak hanya pada Iran, antar kelompok sunni saja pun cakar-cakaran. saling gunjing, saling sikut, saling bertengkar, saling bunuh-membunuh dan lebih ekstrem lagi saling paling ahli surga, muslim lain dianggap kafir dan masuk neraka. Perang beberapa waktu lalu antara Pakistan dan Afganistan adalah perang antar penganut sunni.

Ada juga tuduhan bahwa perang ini hanya perang-perangan seperti film Upin-Ipin. Ma’lum, Iran dan Israel itu besti. Mereka hakikatnya satu. Two in one. Iran ya Israel, Israel Ya Iran. Kedua negara sedang bermain perang-perangan. Lucu, ribuan orang mati, gedung-gedung rusak, dan fasilitas umum hancur kok masih menuduh ini hanya perang-perangan. Sungguh taklid buta telah membunuh kewarasan akal pikiran sebagaian umat Islam dalam menyikapi persoalan yang benar-benar nyata dan bisa dianalisis dengan data dan fakta.

Memang ada kelompok manusia yang selalu berfikir demikian. Berbicara tidak berdasarkan fakta.

Pertama, karena ada agenda politik. Seperti ucapan Donald Trump dan Netanyahu. Kedua nya paling suka bilang kepada musuh dengan kalimat “penjahat perang atau teroris”. Faktanya, puluhan ribu rakyat muslim Irak -pada masa pemerinah Sadam Husain- dan rakyat Libya -pada masa dibantai oleh AS tanpa rasa bersalah. Hanya karena negara ini mempunyai kekuatan ekonomi, politik dan media massa, semua fakta diputarbalikan. Dan sebagian negara muslim pun ikut mengamini ucapan presiden AS.

Perang bagi AS dan Israel bukan persoalan agama atau aliran Islam. Tidak sama sekali. Tetapi persoalan pada keinginan menguasai sumber daya alam yang sangat kaya di Timur Tengah. negara manapun tidak tunduk, akan dihancurkan. Isu agama, ideologi, dan tuduhan teroris hanya sebatas bumbu penyedap untuk melegitimasi perilakunya supaya terlihat benar.

Kedua, karena adanya kebencian ideologi dan kenangan masa lalu. Memang hubungan sunni dan syi’ah masa lalu sangat menyakitkan sekali. Satu agama, tapi beda aliran ideologi. Tentu saja, ideologi lahir bukan di ruang hampa. Baik sunni maupun syi’ah punya kenangan yang sangat pahit. Lalu dari keduanya, ada kelompok-kelompok yang memposisikan diri seperti air dan minyak. Tidak mungkin bertemu.

Namun di antara kelompok ini, ada juga keinginan untuk menyatukan kekuatan Islam. Keyakinan boleh berbeda, tapi demi kepentingan umat Islam harus saling membantu. Persis seperti keinginan Ali bin Abi Thalib melakukan abritase-genjatan senjata. Sebenarnya ingin sekali menyatukan umat Islam dalam satu bendera ukhuwah Islamiyah dan wathaniyah. Tapi, anda bisa melihat sendiri. Keinginan yang tulus dari kepala negara saat itu justru menjadi problematika yang sangat parah. Umat Islam terkapling dalam kepentingan politik, bukan persoalan agama. Mereka saling fitnah, bunuh dan perang. Dan warisan saling curiga umat Islam saat sekarang ini adalah cermin dari realita umat Islam pada masa lalu.

Saya kira masyarakat sunni sudah saat nya mencontoh syi’ah dalam lelaku kultivasi peradaban. Perdebatan sunni vs syi’ah sudah saatnya dikurangi. Sudah tidak perlu lagi kalimat kasar diucapkan begini: “Buat membela Iran, itu syi’ah !”. Lalu apakah lawannya -AS dan Israel- itu Sunni?. Apapun alasannya, geneologis keimanan dan agama, masyarakat syi’ah Iran lebih dekat dengan sunni ketimbang AS dan Israel. Namun karena politik, dekat menjadi jauh, dan jauh menjadi dekat.

Bangsa Iran tidak akan peduli atas tuduhan kaum sunni yang menganggap mereka sesat dan sejenisnya. Tidak ada efek sama sekali. Produktifitas intelektual sudah tersusun sangat rapi. Arah pembangunan negara para mullah ini-blue print-sudah benar-benar jelas, matang dan terukur dengan penghitungan yang sangat akurat. Perang dan damai sudah ada jawaban masing-masing. Bagi Iran perang dan damai adalah dua sisi kehidupan mereka yang tidak ada perbedaan. Seperti menghadapi siang dan malam. Kedua-duanya dianggap biasa saja.

Mungkin kita sebagai penganut sunni belum bisa bersikap seperti masyarakat Iran. Kita masih bisa tersenyum saat mendapatkan kemerdekaan, tapi akan stress saat negara ini dalam keadaan kacau. Dari sini, saya sendiri merasa bahwa kultivasi penganut sunni masih pada level dasar sehingga belum mampu menunjukan aura ilahi sebagai bangsa yang tangguh dan kuat. Hanya besar di medsos, tapi hanya brisik saja tidak bisa berbuat apa-apa, apalagi sampai perang melawan AS dan Israel.

Jadi, jika China sudah berkultivasi menjadi negara yang dicintai oleh para dewa, Iran sudah berkultivasi menjadi negara imam dua belas, kapan sunni berkultivasi sebagai negara yang ya’ulu wala yu’la ‘alaih. Saya tidak tahu, mungkin menunggu keajaiban itu datang. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   118

Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   277

Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   259

Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   229

Islam, Yahudi, dan Iran: Perang Medsos
03 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   138

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13816


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4867


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3258