Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam



Senin , 23 Maret 2026



Telah dibaca :  204

Ketika masjid-masjid di seluruh dunia mengumandangkan suara takbir, di Masjid al-Aqsha terdengar suara tembakan gas air mata. Tentara Israel mengusir warga muslim Palestina untuk sholat Idul Fitri. Pelan tapi pasti dan tersetruktur secara sistematis. Muslim Palestina dipisahkan dari masjid al-Aqsha. Pemerintah Israel melempar mereka sejauh-jauhnya dan paling jauh. Saya tidak tahu, kenapa nama al-aqsha -yang punya arti paling jauh- kini benar-benar terbukti. Tantara Israel benar-benar melakukan sterilisasi wilayah al-Aqsha. Bisa jadi, suatu saat Masjid tersebut di hancurkan oleh Tentara Israel dan kemudian dibangun Holy Tempel baru sebagai simbol berdirinya tempat suci kaum yahudi dan simbol legitimasi kekuatan Yahudi untuk menjadi Imperium dunia.

Tahun 2026 Masjid al-Aqsha tidak bisa digunakan untuk sholat Idul Fitri. Masjid yang telah digunakan sholat Idul Fitri selama 839 tahun. Kini harus dikosongkan dari kegiatan ibadah umat Islam. Sangat menyakitkan sekali.

Saya-mungkin juga anda- sangat sakit melihat kenyataan di depan mata. Tentara Israel tentu saja tidak bodoh. Sangat licik. Dengan menggunakan jurus “lidah bercabang dua”, mereka bertaqiyah bahwa langkah ini -melarang ibadah di masjid al-Aqsha- sebagai upaya melindungi umat Islam dari serangan tantara Iran. Jurus kaum Yahudi memang demikian. Suka lempar batu sembunyi tangan.

Negara-negara Islam tidak bisa berbuat apa-apa. Saya-dan mungkin anda yang membaca tulisan ini- hanyalah butiran debu. Tidak mempunyai kekuatan apapun. Jika mengacu dawuh kanjeng Nabi Muhamamd SAW:

عَنْ أَبِيْ سَعيْدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: (مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطعْ فَبِقَلبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإيْمَانِ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Said Al Khudri ra, dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: ‘Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaknya dia ubah dengan tangannya (kekuasaannya). Kalau dia tidak mampu hendaknya dia ubah dengan lisannya dan kalau dia tidak mampu hendaknya dia ingkari dengan hatinya. Dan inilah selemah-lemahnya iman.” (HR Muslim)

Negara-negara Islam itu ada. Tapi solidaritas hanyalah mitos. Sentiment kesamaan agama sangat mudah ditepis oleh kepentingan-kepentingan politik dan ekonomi. Setiap negara islam saat ini hanya memetingkan warga negara masing-masing. Mereka tidak mau mengambil resiko menanggung akibat dari salah kebijakan dengan negara kuat. Kekayaan dan kekuasaan jauh lebih menentukan arah politik suatu negara ketimbang membawa isu-isu agama seperti persoalan pengusiran Tentara Israel terhadap Warga Palestina.

Para penguasa Islam tidak bisa atau tidak mau “فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ “-menggunakan kekuasaan- jika justru mengancam kekuasaan sendiri. Kekuasaan benar-benar seperti terbelenggu sebagaimana tangan diikat ke belakang. Dalam kondisi yang tidak menentu saat sekarang ini, setiap Kepala Negara sudah tidak atau kurang memikirkan Palestina dan nasibnya. Perang Timur Tengah benar-benar menguntungkan AS dan Israel. Saat mereka sibuk, tantara israel mengambil moment tersebut.

Bagaimana dengan konsep “فَبِلِسَانِهِ “-dengan dakwah?. Rasa-rasanya terpolarisasi oleh beberapa faktor : pertama, para pendakwah atau ilmuwan muslim yang mendukung bersekutu dengan AS dan Israel lebih justru menyalahkan warga palestina mempertahankan negara nya. Mereka bahkan mengeluarkan fatwa agar warga Palestina keluar dari negaranya dan menyelamatkan diri ke negara-negara lain; kedua, para pendakwah atau ilmuwan atau penulis yang bersebarangan dengan AS dan Israel senantiasa menyeru untuk melakukan jihad sebagai bagian dari “hifd ad-dien” -menjaga agama- dan “hifdz mal”-menjaga harta benda. Harta benda yang sangat berharga adalah kedaulatan negara. Hilangnya negara, maka hilang seluruh kekayaannya. Itu sebabnya mati mempertahankan negara adalah mati sahid; ketiga, adalah para kelompok yang tidak masuk pada kepentingan kekuasaan. Kelompok ini adalah aktivis kemanusiaan yang netral yang melihat manusia sebagai perjuangan politik tertinggi. Mereka menggunakan media-media sosial, wesbiste dan tulisan-tulisan dengan memberi pesan: mengutuk perang dan menyerukan perdamaian.

Namun seberapa signifikan kelompok ketiga mem-pressure para penguasa untuk melakukan langkah-langkah menyelematkan dunia. Kelihatannya masih jauh dari harapan. Semua penguasa Timur Tengah otak nya sedang mendidih akibat perang yang tidak berkesudahan. Mereka sedang “ngotak-ngatik” mencari format untuk menyelesaikan perang yang belum jelas kapan berakhir. Otak masih panas, emosi tinggi, pikiran pendek dan pilihan-pilihan yang tidak tetap memang bisa menimbulkan bencana yang sangat mengerikan bagi kehidupan manusia di bumi ini.

Saya -dan juga anda- lagi-lagi sebatas butiran debu. Selain menulis dan menyerukan tentang pentingnya perdamaian dan kemanusiaan, juga perlu mendekatkan diri kepada Allah SWT. Secara teoritik, perang mungkin tidak jelas kapan berakhir. Tapi Allah mempunyai rencana. Nabi telah mengajarkan kepada kita bahwa “ فَبِقَلبِهِ “ -dengan ketulusan hati berdoa, meskipun langkah ini “وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإيْمَانِ “ -selemah-lemah iman. Bisa jadi ada keajaiban-keajaiban dari doa yang kita panjatkan sebagaimana keajaiban Burung Ababil menghancurkan Pasukan Abrahah yang Super Power.

Mungkin saja, karena terlalu banyak minum-minuman kaleng, Donald Trump atau Netanyahu demam berat. Lalu bilang kepada Iran: “Saya kami lagi demam panas, perang berhenti saja ya?”.

Semoga dunia baik baik saja, dan Indonesia tetap adem, rukun dan damai- meskipun masih banyak bayar uang cicilan di bank.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   91

Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   212

Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   217

Membaca Kultivasi Negara Iran
11 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   236

Islam, Yahudi, dan Iran: Perang Medsos
03 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   120

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13547


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4544


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2870