Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

382 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Surat Terbuka Untuk Saudari Vanesia Shania



Jumat , 07 Agustus 2026



Telah dibaca :  134

Beberapa hari ini tulisan saudari Vasesia Shania -untuk selanjutnya saya menulis Shania- cukup trending di jagat digitial online. Tulisan berkaitan dengan pengalaman sosial dan spiritual nya ketika bersentuhan dengan ajaran agama Islam yang ramah dan mampu memberi pengayom terhadap keberagaman umat beragama di bumi nusantara.

Shania menceritakan pengalaman hidupnya. Saat ia masih duduk di bangku SMA Kristen 1 PBK Penabur Bandung pada tahun 2018. Jika dihitung-hitung, mungkin sekarang berumur 26 atau 27 tahun. Umur yang sudah mulai menunjukan kedewasaan fisik, intelektual, spiritual dan emosional. Tentu saja, pada umur tersebut masih senang-senangnya juga mencari jati diri dan pilihan-pilihan pada nilai-nilai untuk menjadi pegangan hidup sebagai seorang pribadi dan bagian dari kehidupan masyarakat yang sangat beragam. Ia menemukan nilai-nilai harmonis pada karakter ajaran Islam Ahlusunnah Wal Jamaah An-Nahdiyah -NU.


Shania tentu saja tidak menemukan atau bahkan mencari di jam’iyah tersebut bukan pada Perguruan Tinggi atau Rumah Sakit yang modern. Ia tidak mencari hal-hal yang bersifat fisik. Hal yang sama juga dilakukan oleh para peneliti non-muslim lainnya juga mereka melihat dari sisi keunikan organisasi tersebut yang mengelola sangat besar anggota nya. Dan belum dikelola secara modern. Karena saking besar nya sering terjadi silang pendapat, gesekan dan perkelahian. Meskipun demikian, perkelahian atau marah-marah sangat cepat, tetapi cepat juga bergurau. Ini yang kata Hujatul Islam Imam Al-Ghozali suatu sifat yang paling baik manusia yaitu kadang mudah marah, tetapi mudah juga memaafkan atau damai. Sedangkan istilah santri sering dikenal dengan kalimat pendek: “Sering geger-gegeran, ujung-ujung nya “ger-ger-an”. Artinya gampang marah-geger-gegeran- dan gampang juga guyonan-ger-ger-an. Dua istilah lucu tersebut sudah cukup mewakili watak asli Islam tradisional yang bisa “geger” -atau marah- dan mengobarkan jihad fisabilillah, juga sangat mudah sekali “ger-ger-an” -atau guyonan- sebagai simbol menerima keberagaman suku, budaya, keyakinan dan budaya.

Shania sebagai seorang penganut Kristen Katolik -dan tentunya Ia sangat cantik-memahami bahwa ia sebagai orang minoritas yang hidup di masyarakat yang mayoritas beragama Islam merasa nyaman akan kehadiran Islam tradisional seperti NU. Shania juga tahu persis-sebagaimana peneliti non-muslim lainnya-tentang dua kutub watak yang bertolak belakang pada masyarakat- jam’ah- dan organisasi -jam’iyah- yang didirikan oleh Hadratusyeikh Hasyim Asy’ari tersebut.


Justru karena sudah paham, ia semakin tertarik. Bagaimana bisa sebuah watak yang bertolak belakang bisa hidup berdampingan pada satu orang dan dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari. Hingga pada akhirnya, semua orang merasa nyaman terhadap mereka, meskipun berbeda agama, suku, budaya dan etnis sekalipun. Mereka merasa seperti satu keluarga yang mempunyai keberagaman karakter. Berbeda karakter boleh, tapi komitmen kebersamaan sangat perlu dijaga.

Kenapa dua karakter bisa disatukan dengan sangat baik. Karena Islam tradisional sangat menjaga ruhaniah cinta. Nilai-nilai ruhaniah cinta merupakan cara pandang ajaran Islam sufistik yang melihat bahwa pada diri manusia mempunyai potensi baik dan tidak baik. Kedua sifat yang bisa berubah kapan saja dan dimana saja. Itu sebabnya, kita tidak boleh menilai seseorang hanya dari penampilannya saja. Bisa jadi, dari ucapan berkata kasar dan terlihat sombong, bisa jadi dalam pikiran dan hati mempunyai sifat yang agung. Kesombongan dan bicara kasar merupakan jalan untuk mengingatkan orang lain untuk bisa berjalan di koredor yang benar. Tapi kadang disalah artikan oleh orang lain.


Hal yang sama kita akan melihat orang yang sangat sempurna dalam penampilannya. Semua orang mengaguminya. Padahal pada saat yang sama orang tersebut sangat rapuh hatinya. Ia hidup terombang ambing dalam ketidakpastian. Ia membutuhkan sandaran yang lebih kuat. Tapi kadang orang tidak menyadari hal tersebut. akhirnya hidup diakhiri dengan cara-cara yang ekstrem.

Marah dan guyonan adalah refleksi cinta. Orang-orang yang benar-benar mempunyai cinta yang mendalam maka akan menemukan emosional dan cinta kasih pada tubuhnya. Saat anda mencintai seseorang, maka pada saat tertentu akan marah. Bukan karena benci, tapi karena refleksi cinta dalam bentuk yang berbeda. Hal yang sama juga, seorang yang punya rasa cinta maka akan menemukan ungkapan kasih sayang dan cinta. Ungkapan dan perbuatan bentuk nyata suatu kasih sayang sangat dibutuhkan agar hati dan emosional yang panas akan kembali reda dan tenang.

Islam sungguh sangat membenci manusia pemarah. Sebab model orang tersebut hanya melihat orang dari sisi negatifnya. Tidak ada kebaikan hasilnya. Islam juga sangat membenci orang yang hanya hidup penuh dengan untaian cinta atau kasih sayang. Sebab membuat akal pikiran manusia tidak berfungsi sesuai dengan fitrah yang diciptakan oleh Allah SWT. Islam menginginkan keseimbangan antara marah dan cinta.

Dalam kontek ideologi, Islam pemarah akan melahirkan manusia barbar dan radikal. Wajah Islam menjadi terlihat bengis dan kejam. Hal yang sama juga Islam terlalu cinta kasih, maka akan melahirkan ideologi yang liberal, sekuler dan kebablasan. Semua didasari dengan cinta tanpa batas. Ini juga menjadikan ajaran Islam menjadi kabur.

Shania melihat Islam tradisional ahlusunnal wal jamaah an-nadhdiyah adalah Islam yang mampu tampil sebagai penyeimbang di antara marah dan kasih sayang. Dalam kontek keberagaman manusia seperti di Indonesia Islam model tersebut masih sangat dibutuhkan. Sebab ia mampu mempertemukan dua kubu yang berbeda.

Tentu saja Islam tradisional banyak kekurangannya. Saya tidak akan membicarakan kekurangannya. Sudah terlalu banyak orang membicarakan kekurangannya sampai kekurangan diri pun tidak menyadarinya. 



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Rapat Non Formal
19 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   233

Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   163

Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   333

Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   287

Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   265

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14194


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      5440


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5201


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3998