
Beberapa hari ini tulisan saudari Vasesia Shania
-untuk selanjutnya saya menulis Shania- cukup trending di jagat digitial
online. Tulisan berkaitan dengan pengalaman sosial dan spiritual nya ketika bersentuhan
dengan ajaran agama Islam yang ramah dan mampu memberi pengayom terhadap
keberagaman umat beragama di bumi nusantara.
Shania menceritakan pengalaman hidupnya. Saat ia masih duduk di bangku SMA Kristen 1 PBK Penabur Bandung pada tahun 2018. Jika dihitung-hitung, mungkin sekarang berumur 26 atau 27 tahun. Umur yang sudah mulai menunjukan kedewasaan fisik, intelektual, spiritual dan emosional. Tentu saja, pada umur tersebut masih senang-senangnya juga mencari jati diri dan pilihan-pilihan pada nilai-nilai untuk menjadi pegangan hidup sebagai seorang pribadi dan bagian dari kehidupan masyarakat yang sangat beragam. Ia menemukan nilai-nilai harmonis pada karakter ajaran Islam Ahlusunnah Wal Jamaah An-Nahdiyah -NU.

Shania tentu saja tidak menemukan atau
bahkan mencari di jam’iyah tersebut bukan pada Perguruan Tinggi atau Rumah
Sakit yang modern. Ia tidak mencari hal-hal yang bersifat fisik. Hal yang sama
juga dilakukan oleh para peneliti non-muslim lainnya juga mereka melihat dari
sisi keunikan organisasi tersebut yang mengelola sangat besar anggota nya. Dan
belum dikelola secara modern. Karena saking besar nya sering terjadi silang
pendapat, gesekan dan perkelahian. Meskipun demikian, perkelahian atau
marah-marah sangat cepat, tetapi cepat juga bergurau. Ini yang kata Hujatul
Islam Imam Al-Ghozali suatu sifat yang paling baik manusia yaitu kadang
mudah marah, tetapi mudah juga memaafkan atau damai. Sedangkan istilah santri
sering dikenal dengan kalimat pendek: “Sering geger-gegeran, ujung-ujung
nya “ger-ger-an”. Artinya gampang marah-geger-gegeran- dan gampang juga
guyonan-ger-ger-an. Dua istilah lucu tersebut sudah cukup mewakili watak
asli Islam tradisional yang bisa “geger” -atau marah- dan mengobarkan jihad
fisabilillah, juga sangat mudah sekali “ger-ger-an” -atau guyonan-
sebagai simbol menerima keberagaman suku, budaya, keyakinan dan budaya.
Shania sebagai seorang penganut Kristen Katolik -dan tentunya Ia sangat cantik-memahami bahwa ia sebagai orang minoritas yang hidup di masyarakat yang mayoritas beragama Islam merasa nyaman akan kehadiran Islam tradisional seperti NU. Shania juga tahu persis-sebagaimana peneliti non-muslim lainnya-tentang dua kutub watak yang bertolak belakang pada masyarakat- jam’ah- dan organisasi -jam’iyah- yang didirikan oleh Hadratusyeikh Hasyim Asy’ari tersebut.

Justru karena sudah paham, ia semakin
tertarik. Bagaimana bisa sebuah watak yang bertolak belakang bisa hidup
berdampingan pada satu orang dan dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari. Hingga
pada akhirnya, semua orang merasa nyaman terhadap mereka, meskipun berbeda
agama, suku, budaya dan etnis sekalipun. Mereka merasa seperti satu keluarga
yang mempunyai keberagaman karakter. Berbeda karakter boleh, tapi komitmen
kebersamaan sangat perlu dijaga.
Kenapa dua karakter bisa disatukan dengan sangat baik. Karena Islam tradisional sangat menjaga ruhaniah cinta. Nilai-nilai ruhaniah cinta merupakan cara pandang ajaran Islam sufistik yang melihat bahwa pada diri manusia mempunyai potensi baik dan tidak baik. Kedua sifat yang bisa berubah kapan saja dan dimana saja. Itu sebabnya, kita tidak boleh menilai seseorang hanya dari penampilannya saja. Bisa jadi, dari ucapan berkata kasar dan terlihat sombong, bisa jadi dalam pikiran dan hati mempunyai sifat yang agung. Kesombongan dan bicara kasar merupakan jalan untuk mengingatkan orang lain untuk bisa berjalan di koredor yang benar. Tapi kadang disalah artikan oleh orang lain.

Hal yang sama kita akan melihat orang yang
sangat sempurna dalam penampilannya. Semua orang mengaguminya. Padahal pada
saat yang sama orang tersebut sangat rapuh hatinya. Ia hidup terombang ambing
dalam ketidakpastian. Ia membutuhkan sandaran yang lebih kuat. Tapi kadang
orang tidak menyadari hal tersebut. akhirnya hidup diakhiri dengan cara-cara
yang ekstrem.
Marah dan guyonan adalah refleksi cinta. Orang-orang
yang benar-benar mempunyai cinta yang mendalam maka akan menemukan emosional
dan cinta kasih pada tubuhnya. Saat anda mencintai seseorang, maka pada saat
tertentu akan marah. Bukan karena benci, tapi karena refleksi cinta dalam bentuk
yang berbeda. Hal yang sama juga, seorang yang punya rasa cinta maka akan
menemukan ungkapan kasih sayang dan cinta. Ungkapan dan perbuatan bentuk nyata
suatu kasih sayang sangat dibutuhkan agar hati dan emosional yang panas akan
kembali reda dan tenang.
Islam sungguh sangat membenci manusia
pemarah. Sebab model orang tersebut hanya melihat orang dari sisi negatifnya. Tidak
ada kebaikan hasilnya. Islam juga sangat membenci orang yang hanya hidup penuh
dengan untaian cinta atau kasih sayang. Sebab membuat akal pikiran manusia
tidak berfungsi sesuai dengan fitrah yang diciptakan oleh Allah SWT. Islam menginginkan
keseimbangan antara marah dan cinta.
Dalam kontek ideologi, Islam pemarah akan
melahirkan manusia barbar dan radikal. Wajah Islam menjadi terlihat bengis dan
kejam. Hal yang sama juga Islam terlalu cinta kasih, maka akan melahirkan
ideologi yang liberal, sekuler dan kebablasan. Semua didasari dengan cinta tanpa
batas. Ini juga menjadikan ajaran Islam menjadi kabur.
Shania melihat Islam tradisional ahlusunnal
wal jamaah an-nadhdiyah adalah Islam yang mampu tampil sebagai penyeimbang
di antara marah dan kasih sayang. Dalam kontek keberagaman manusia seperti di Indonesia
Islam model tersebut masih sangat dibutuhkan. Sebab ia mampu mempertemukan dua
kubu yang berbeda.
Tentu saja Islam tradisional banyak
kekurangannya. Saya tidak akan membicarakan kekurangannya. Sudah terlalu banyak
orang membicarakan kekurangannya sampai kekurangan diri pun tidak menyadarinya.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Rapat Non Formal
19 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   233
Krisis Energi dan Krisis Iman; Jalan Intropeksi Diri
05 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   163
Diplomasi “Pantat” ala Donald Trump
30 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   333
Masjid Al-Aqsha Semakin Jauh dari Umat Islam
23 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   287
Idul Fitri Rasa Bratawali
20 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   265
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14194
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      5440
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5201
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4529
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3998