Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

409 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Syukron Makmun; Mengajarkan Cara Mencintai Pemerintah Melalui Kritik



Minggu , 18 Oktober 2026



Telah dibaca :  39

Lagi gabut, minggu sore diisi kegiatan membuat sambal tempe campur tomat. Udara terasa panas akibat asap yang masih tebal membuat selera lidah pun tidak jelas saat mencicipi nya. Apa asin apa tidak, kurang jelas. Yang penting matang.

Tiba-tiba Mas Chanif ngasih tahu bahwa Prof. K.H. Syukron Makmun ulama karismatik dari Jakarta Selatan telah meninggal dunia pada hari minggu, 18 Oktober 2026. Meninggal pada usia 84 tahun.

Sebelumnya, kyai karismatik dari Nusa Tenggara Barat (NTB) telah mendahuluinya : Tuan Guru Haji -TGH- Muhammad Turmudzi Badaruddin atau lebih dikenal sebagai Tuan Guru Bagu, meninggal pada kamis, 15 Oktober 2026.  Tutup usia pada umur 90 tahun.

Semoga Allah menempatkan kedua ulama tersebut ditempat yang mulia, diterima ibadah dan amal sholehnya, diampuni segala dosa-dosa nya dan dimasukan ke dalam surga-Nya.

Saya mulai mengenal kyai Syukron Makmun pada tahun 1990 ke atas. Saya masih Mts. Saya mendengar pidatonya. Yang hadir ribuan jamaah. Hampir pasti tidak ada yang mengantuk. Padahal seperti biasanya, pengajian di pesantren di kampungku biasanya mulai jam 23.00 hingga kadang jam 01.00 dinihari baru selesai.

Itu sudah biasa. Ma’lum kegiatan pesantren hampir 24 jam. Ngaji kitab kuning biasanya mulai shalat isya sampai jam 24.00 selesai. Ini jadwal resmi. Tidur jam 01.00-02.30. jam 03.00 sudah bangun, kegiatan sholat tahajud dan hafalan. Sudah tidak ada tidur lagi. Setelah sholat subuh ngaji lagi hingga jam 07.00. Setelah itu sekolah umum.

Isi pidato nya sangat keras. Suka nya mengkritik pemerintah orde baru. Pidatonya seperti letupan mercon di malam hari. Meskipun kecil, tapi daya gaung suara nya menggema kemana-mana. Dan Syukron Makmun bukan mercon kecil, kala itu perwujudan mercon yang sangat jumbo dan mengggentarkan dinding-dinding Istana Negara.

Dia benar-benar mengkritik segala kebijakan pemerintahnya. Padahal era tersebut sering disebut era petrus -penembak misterius. Era dimana waktu itu, banyak ulama masuk penjara atau meninggal tanpa jejak. Tidak peduli. Kyai Syukron Makmun terus menerus mengkritik kebijakan orde baru. Dia sudah tidak peduli lagi terhadap keselamatan jiwa nya. Pada dirinya sudah tertanam bahwa pelindung utama hanya Allah SWT.

Jika merujuk pada catatan, kritikan Syukron Makmun terhadap orde baru sebagai berikut: pertama, pada tahun 1970-1980 mengkritik kebijakan orde baru dengan melakukan fusi partai politik Islam ke dalam partai PPP. Ia juga mengkritik partai Golkar yang telah melakukan segala kegiatan politik menekan kegiatan-kegiatan dakwah ulama-ulama yang tidak berafiliasi dengan partai penguasa. Kedua, pada tahun 1990 hingga sampai era reformasi, Syukron Makmun juga mengkritik orde baru yang terlalu anti kritik dari partai oposisi dan rakyat. Pemerintah menggunakan segala kekuatan dan kekuasaannya untuk membungkam seluruh suara yang mencoba melakukan kritik secara terbuka kepada pemerintah orde baru.

Kyai Syukron Makmun pun tidak segan-segan mengkritik teman-teman pengurus PBNU. Ulama yang paling sering menjadi sasaran kritik yaitu KH. Abdurrahman Wahid -Gus Dur. Ia dianggap sebagai ulama yang liberal dan jauh dari kriteria ulama sejati.

Uniknya, Gus Dur tidak marah sama sekali dikritik oleh kyai Syukron. Ia tetap menghormati dan mengkritiknya secara halus dan rilek. “Kyai Syukron itu kyai tutur, jadi wajar jika mengkritiku”. Suatu kalimat halus dari Gus Dur bahwa kritik harus dilihat secara proposional dan melihat orang nya secara utuh. Tidak serta merta pengkritik adalah musuh dan selalu membuat kesalahan. Sebab memang kemampuannya masih sebatas mengkritik kulitnya, belum mengetahui secara subtansi akar persoalan yang dihadapi umat Islam dan bangsa Indonesia.

Menurut Gus Dur ulama atau kyai ada beberapa jenisnya: ada kyai tutur yang hanya mempunyai keahlian pada pidatonya. Orator ulung. Tapi ketika dipasrahi pada pekerjaan lain malah amburadul. Umpamanya disuruh mengelola partai politik Islam atau mungkin jadi pejabat. Karena bukan keahliannya, partai nya pun tetap kecil kecil -bahkan kadang malah mati- dan jadi pejabat pun tidak ada signifkan sumbangsihnya.

Ada kyai tandur yaitu ulama yang mempunyai kemampuan me-manage atau mengelola majlis ta’lim dan pondok pesantren. Mungkin bicara nya tidak faseh, tidak pandai pidato dan lebih banyak berada di depan dampar -meja untuk mengaji. Tapi ia mampu mengelola pendidikan pesantren baik forman maupun non-formal.

Ada kyai atau ulama sembur yaitu kemampuan spiritual nya mengobati para pasien baik sakit secara dhohir maupun batin. Bagi orang awam yang belum memahami jenis ini mungkin terasa lucu dan tidak masuk akal. Mereka berpandangan bahwa sakit obatnya ya ke dokter. Padahal tidak sedikit juga para dokter ketika dalam proses pengobatan mengalami jalan buntu juga meminta bantuan pada para ulama.

Sebab dalam kehidupan sehari-hari kadang ada penyakit yang mirip-mirip seperti penyakit fisik, tetapi dicek oleh medis tidak ada penyakitnya. Dokter bingung melakukan proses pengobatan dan penyembuhan.

Saya mempunyai pengalaman pribadi secara langsung dengan para ulama jenis ini. Termasuk Orang tua ku, Pada wilayah ini, para ulama yang dianugerahi kemampuan sebagai Tabib mempunyai tugas khusus untuk mengobati penyakit hati dan dhohir dari masyarakat.

Terakhir ada kyai atau ulama catur. Dia bukan hanya ulama, tetapi mempunyai kemampuan politik praktis secara professional. Salah satunya yaitu almarhum Gus Dur.

Jauh hari sebelum Soeharto lengser dan para ulama serta para pengamat atau intelektual atau politisi dari dalam dan luar negeri bertanya tentang suksesi kepempimpinan pasca lengser soeharto. Gus Dur dengan enteng menjawab: “Saya, saya yang akan menjadi presiden pengganti Soeharto”.

Semua ulama, ilmuwan dan politisi tertawa mendengar jawaban tersebut. tidak masuk kalkulasi pemikiran mereka. Apalagi saat itu gus dur mengalami stroke ringan. Semua dianggap sebagai ucapan halusinasi akibat sakit nya.

Terbukti. Pada tahun 1999-2001 Gus Dur menjadi Presiden Republik Indonesia. Gus Dur benar-benar ulama catur yang bisa memainkan dan mengendalikan kekuasaan dan politik pada masa nya.

Kembali lagi pada kisah kyai Syukron Makmun. Sebagai seorang ulama, sikap kritis merupakan jalan hidup nya sebagai perwujudan dari amar ma’ruf nahi munkar. Baginya, ulama harus mempunyai kekuatan jiwa, ilmu, intelektual dan ucapan di mimbar-mimbar sebagai bagian dari tugas menegakan kebenaran dan keadilan.

Tidak demikian yang dilakukan Gus Dur. Sepanjang hidupnya, Gus Dur juga melakukan kritik sebagaimana yang dilakukan oleh kyai syukron. Hanya saja Gus Dur terkesan lebih soft. Pangsa pasar dakwah nya sangat luas. Tidak hanya untuk umat Islam, tapi untuk bangsa dan negara Indonesia.

Gus Dur bergerak melalui mimbar-mimbar pesantren, kampus-kampus, media massa dan buku-buku. Melalui ceramah dari kampung satu ke kampung lain mengajarkan kepada masyarakat untuk hidup secara mandiri. Melalui pengajian dari pesantren ke pesantren dia menekankan tentang pentingnya menghidupi pesantren dengan lembaga-lembaga perekonomian pesantren. Melalui buku dan tulisan-tulisan, dia menekankan pentingnya kesamaan derajat, perlindungan terhadap kelompok minoritas, dan pentingnya politik yang bermartabat.

Kampanye intelektual yang sangat panjang sekali yang dilakukan oleh Gus Dur tersebut membuahkan hasil yaitu adanya kesadaran kolektif tentang pentingnya pendidikan, kebudayaan, agama yang yang memanusiakan manusia dan politik yang mampu melahirkan rasa keadilan. Tanaman pemikiran yang begitu menghujam di dada bangsa Indonesia ini yang kemudian mengantarkan Gus Dur terpilih menjadi presiden RI ke-4.

Terlepas dari segala kekurangan dan kontroversi semasa hidup nya, Kyai Syukron Makmun merupakan wujud dari seorang ulama besar dan kyai serta pengasuh pesantren yang konsisten terhadap perjuangannya. Ia tetap menegakan kebenaran dan menyampaikan kritik dan pesan membangun kepada para penguasa pada masa nya. Kritik nya bukan berdasarkan kebencian, namun karena dasar cinta. Kecintaan yang mendalam yang benar tidak berdasarkan nafsu belaka dengan mengikuti pola hidup “Asal Bapak Senang”-ABS. kecintaan terhadap penguasa justru dengan memberikan masukan-masukan yang konstruktif, meskipun terkadang sangat menyakitkan hati. Sebuah perwujudan cinta kepada penguasa yang mungkin pada hari ini sudah mulai luntur di tengah-tengah masyarakat.

Sebagai penutup, sekali lagi semoga almarhum KH Syukron Makmun, guru kita ini diterima segala ibadah dan amal sholeh, diampuni dosa-dosanya dan ditempatkan di surga-Nya. amin.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Toko Buku Gramedia, Pendidikan dan Politik
11 Oktober 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   218

Kacamata dan Pancasila
02 Oktober 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   102

Manusia Merdeka
17 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   139

Adakah Manusia Merdeka?
17 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   225

Surat Terbuka Untuk Saudari Vanesia Shania
07 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   275

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      15241


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      7006


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      6209


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      5357