
Malam itu para dosen kumpul-kumpul di Rumah
Makan. Mereka duduk saling berhadap-hadapan. Ada sebuah diskusi yang cukup
menarik. Diskusi berjalan penuh dengan riang gembira, kekeluargaan dan
kehangatan. Semua memberikan pertanyaan dan jawaban diskusi cukup menarik.
Saat salah seorang dosen berperawakan kurus
dan rambut sedikit gondrong memberi kesempatan berbicara, tidak segera bicara.
Bahkan tidak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya. Diam dan menarik nafas
dalam-dalam. Seperti ada kegelisahan yang sedang terjadi.
Semua yang berada di halaqah diskusi
sepertinya terhipnotis. Semua sabar menunggu apa yang hendak dibicarakan.
“Saya merasakan ada bau lonceng kematian
intelektual” katanya
dengan nada sedih dengan raut muka yang tidak seperti biasanya yang selalu
terlihat periang.
“Maksud nya apa, bagaimana kok bisa begitu,
tolong jelaskan donk, jangan bikin kami penasaran” jawab salah satu peserta halaqah yang
sejak tadi memang sudah penasaran Tingkat Dewa.
Dosen berperawakan kurus memberikan
selembar kertas. Ada tulisan yang diterbitkan oleh salah satu media online. Isi
nya tentang proyek besar-besaran pengembangan Artificial Intellegence -AI-
dengan berita sebagai berikut:
“Bayangkan sebuah gudang besar dipenuhi
jutaan buku fisik yang dibeli bukan untuk dijual kembali, melainkan untuk
diproses sebagai bahan pelatihan kecerdasan buatan. Dalam Project Panama,
Anthropic disebut mengumpulkan buku dalam jumlah sangat besar, kemudian
memindai isinya agar dapat digunakan untuk melatih model Claude. Setelah proses
digitalisasi selesai, sebagian buku fisik tersebut dilaporkan dihancurkan.
Tujuannya adalah memperoleh kumpulan teks
berkualitas tinggi dari berbagai bidang, gaya penulisan, dan pengetahuan
manusia. Proyek ini menunjukkan betapa besarnya kebutuhan data dalam
pengembangan AI modern, sekaligus memunculkan perdebatan soal hak cipta,
kepemilikan karya, dan etika penggunaan buku untuk melatih sistem kecerdasan
buatan berskala sangat besar tersebut.”
Ruang diskusi pun tiba-tiba jadi sunyi
senyam. Seperti sedang mengheningkan cipta dengan iringan lagu…namun kesunyian
malam itu benar-benar membuat mereka berfikir dan membayangkan tentang masa
depan yang terlihat modern, gemerlap dan terkesan sangat canggih dengan
dimanjakan oleh AI, tapi bayang-bayang kegelapan seperti terlihat membayangi
alam bawah sadar peserta diskusi.
“Saya tidak bisa membayangkan jika ini
benar-benar terjadi. Al-qur’an, hadist dan buku-buku turost lainnya yang ada
sekarang ada beralih pada sistem digital. Semua pada satu data raksasa-big
data-pada milik orang tertentu. Lalu tiba-tiba data itu hancur atau rusak,
sedangkan semua data fisik telah dihancurkan” komentar salah satu dosen muda yang baru saja
mendapatkan Penelitian Litapdimas.
“Wah, bisa-bisa kita akan kehilangan sanad
peradaban. Bisa jadi akan datang suatu masa orang sudah tidak mengenal asal
usul orang tua nya, suku, bahasa dan budaya nya apa. Semua batas perbedaan akan
semakin kabur”, komentar
dosen lainnya.
Saya kira komentar beberapa teman dosen
dalam diskusi non-formal di Kedai Kopi tersebut sudah mulai terasa. Apalagi orang-orang
yang hidup di kota-kota besar atau hidup di suatu daerah yang multi suku dan
etnis. Yang mulai terlihat hilang adalah identitas suku, adat istiadat, bahasa daerah
dan etika atau sopan santun yang sering diajarkan dan dicontohkan oleh orang
tua secara turun-temurun.
Di daerah yang sudah multi etnis maka kefanatikan
suku atau etnis mulai luntur. Semakin ada keterbukaan menerima perbedaan
menjadi bagian dari kehidupan baik dalam kehidupan yang sakral seperti
perkawinan atau kehidupan sosial baik dalam pergaulan maupun dalam sistem
kehidupan yang bersifat administrasi dan berjenjang seperti RT,RW dan
seterusnya. Masyarakat sudah tidak lagi melihat suku, etnis atau bahasa. Mereka
mulai melihat pada sosok yang bisa menjadi contoh atau mampu memimpin suatu
daerah tertentu.
Pola kehidupan tersebut sebenarnya manusia
sudah mulai kehilangan identitas peradabannya. Bahkan bisa jadi kehilangan jati
diri peradaban. Semua ini dampak dari perkembangan saint dan teknologi yang
sangat pesat hingga saat sekarang ini. Semakin maju perkembangan saint dan
teknologi semakin orang sudah tidak lagi memperdulikan hal-hal yang dianggap
menghabiskan waktu begitu banyak. Ia mulai memilih cara hidup instan. Pola
hidup instan ini yang kemudian merambah pada aspek kehidupan. Termasuk buku-buku
semakin hilang secara fisik dan beralih pada data non-fisik. Sudah online. Begitu
juga media massa sudah berganti menjadi media online.
Kini program AI semakin masif dikampanyekan
dalam semua aspek kehidupan. Kursus-kursus mulai digalakan. Semua ramai-ramai ingin
bisa menguasai AI sebagai solving problem dalam setiap aktivitas atau
pekerjaan.
Dibalik sambutan yang luarbiasa terhadap AI,
kadang memang ada kekhawatiran yang mendalam seperti apa yang dikhawatirkan
oleh teman-teman di atas tadi. Bahkan bisa jadi, AI akan menjadi “musuh
dalam selimut “kita di kemudian hari.
Jika dulu buku sebagai penunjuk sejarah, bisa
jadi akan datang akan muncul buku sebagai kenangan sejarah.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Jika Jodoh Mu, Selalu Saja Ada Jalan Untuk Bersatu
16 September 2026   Oleh : autobiografi   113
Memperpanjang Umur; Kueh dan Buku
15 September 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   136
Kabut Asap dan Wedang Jahe
15 September 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   103
Tersenyum Di Hati Penuh Penderitaan
10 September 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   135
Pelukan Cinta Anak Kecil
10 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   207
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14794
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6409
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5865
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4777
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4654