Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

397 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Lonceng Kematian Intelektual



Sabtu , 19 September 2026



Telah dibaca :  41

Malam itu para dosen kumpul-kumpul di Rumah Makan. Mereka duduk saling berhadap-hadapan. Ada sebuah diskusi yang cukup menarik. Diskusi berjalan penuh dengan riang gembira, kekeluargaan dan kehangatan. Semua memberikan pertanyaan dan jawaban diskusi cukup menarik.

Saat salah seorang dosen berperawakan kurus dan rambut sedikit gondrong memberi kesempatan berbicara, tidak segera bicara. Bahkan tidak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya. Diam dan menarik nafas dalam-dalam. Seperti ada kegelisahan yang sedang terjadi.

Semua yang berada di halaqah diskusi sepertinya terhipnotis. Semua sabar menunggu apa yang hendak dibicarakan.

“Saya merasakan ada bau lonceng kematian intelektual” katanya dengan nada sedih dengan raut muka yang tidak seperti biasanya yang selalu terlihat periang.

“Maksud nya apa, bagaimana kok bisa begitu, tolong jelaskan donk, jangan bikin kami penasaran” jawab salah satu peserta halaqah yang sejak tadi memang sudah penasaran Tingkat Dewa.

Dosen berperawakan kurus memberikan selembar kertas. Ada tulisan yang diterbitkan oleh salah satu media online. Isi nya tentang proyek besar-besaran pengembangan Artificial Intellegence -AI- dengan berita sebagai berikut:

“Bayangkan sebuah gudang besar dipenuhi jutaan buku fisik yang dibeli bukan untuk dijual kembali, melainkan untuk diproses sebagai bahan pelatihan kecerdasan buatan. Dalam Project Panama, Anthropic disebut mengumpulkan buku dalam jumlah sangat besar, kemudian memindai isinya agar dapat digunakan untuk melatih model Claude. Setelah proses digitalisasi selesai, sebagian buku fisik tersebut dilaporkan dihancurkan.

Tujuannya adalah memperoleh kumpulan teks berkualitas tinggi dari berbagai bidang, gaya penulisan, dan pengetahuan manusia. Proyek ini menunjukkan betapa besarnya kebutuhan data dalam pengembangan AI modern, sekaligus memunculkan perdebatan soal hak cipta, kepemilikan karya, dan etika penggunaan buku untuk melatih sistem kecerdasan buatan berskala sangat besar tersebut.”

Ruang diskusi pun tiba-tiba jadi sunyi senyam. Seperti sedang mengheningkan cipta dengan iringan lagu…namun kesunyian malam itu benar-benar membuat mereka berfikir dan membayangkan tentang masa depan yang terlihat modern, gemerlap dan terkesan sangat canggih dengan dimanjakan oleh AI, tapi bayang-bayang kegelapan seperti terlihat membayangi alam bawah sadar peserta diskusi.

“Saya tidak bisa membayangkan jika ini benar-benar terjadi. Al-qur’an, hadist dan buku-buku turost lainnya yang ada sekarang ada beralih pada sistem digital. Semua pada satu data raksasa-big data-pada milik orang tertentu. Lalu tiba-tiba data itu hancur atau rusak, sedangkan semua data fisik telah dihancurkan” komentar salah satu dosen muda yang baru saja mendapatkan Penelitian Litapdimas.

“Wah, bisa-bisa kita akan kehilangan sanad peradaban. Bisa jadi akan datang suatu masa orang sudah tidak mengenal asal usul orang tua nya, suku, bahasa dan budaya nya apa. Semua batas perbedaan akan semakin kabur”, komentar dosen lainnya.

Saya kira komentar beberapa teman dosen dalam diskusi non-formal di Kedai Kopi tersebut sudah mulai terasa. Apalagi orang-orang yang hidup di kota-kota besar atau hidup di suatu daerah yang multi suku dan etnis. Yang mulai terlihat hilang adalah identitas suku, adat istiadat, bahasa daerah dan etika atau sopan santun yang sering diajarkan dan dicontohkan oleh orang tua secara turun-temurun.

Di daerah yang sudah multi etnis maka kefanatikan suku atau etnis mulai luntur. Semakin ada keterbukaan menerima perbedaan menjadi bagian dari kehidupan baik dalam kehidupan yang sakral seperti perkawinan atau kehidupan sosial baik dalam pergaulan maupun dalam sistem kehidupan yang bersifat administrasi dan berjenjang seperti RT,RW dan seterusnya. Masyarakat sudah tidak lagi melihat suku, etnis atau bahasa. Mereka mulai melihat pada sosok yang bisa menjadi contoh atau mampu memimpin suatu daerah tertentu.

Pola kehidupan tersebut sebenarnya manusia sudah mulai kehilangan identitas peradabannya. Bahkan bisa jadi kehilangan jati diri peradaban. Semua ini dampak dari perkembangan saint dan teknologi yang sangat pesat hingga saat sekarang ini. Semakin maju perkembangan saint dan teknologi semakin orang sudah tidak lagi memperdulikan hal-hal yang dianggap menghabiskan waktu begitu banyak. Ia mulai memilih cara hidup instan. Pola hidup instan ini yang kemudian merambah pada aspek kehidupan. Termasuk buku-buku semakin hilang secara fisik dan beralih pada data non-fisik. Sudah online. Begitu juga media massa sudah berganti menjadi media online.

Kini program AI semakin masif dikampanyekan dalam semua aspek kehidupan. Kursus-kursus mulai digalakan. Semua ramai-ramai ingin bisa menguasai AI sebagai solving problem dalam setiap aktivitas atau pekerjaan.

Dibalik sambutan yang luarbiasa terhadap AI, kadang memang ada kekhawatiran yang mendalam seperti apa yang dikhawatirkan oleh teman-teman di atas tadi. Bahkan bisa jadi, AI akan menjadi “musuh dalam selimut “kita di kemudian hari.

Jika dulu buku sebagai penunjuk sejarah, bisa jadi akan datang akan muncul buku sebagai kenangan sejarah.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Jika Jodoh Mu, Selalu Saja Ada Jalan Untuk Bersatu
16 September 2026   Oleh : autobiografi   113

Memperpanjang Umur; Kueh dan Buku
15 September 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   136

Kabut Asap dan Wedang Jahe
15 September 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   103

Tersenyum Di Hati Penuh Penderitaan
10 September 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   135

Pelukan Cinta Anak Kecil
10 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   207

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14794


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6409


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5865


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4654