
Pagi itu saya duduk di warung bubur ayam. Penjual
nya orang Bandung. Saya kenal semua keluarganya. Baik-baik, ramah dan pandai
ngaji. Dan yang jelas, laris banget. Saya duduk di bangku nunggu antri. Pagi hari,
anak-anak sekolah dan pegawai yang mau cepat ke kantor menjadi solusi tepat
untuk mengganjal perut dengan bubur ayam sebelum berangkat ke kantor.
Saya duduk di antara beberapa pembeli. Tiba-tiba
ada anak kecil menemuiku. Umur sekitar satu tahun setelah. Sama ibu nya dibiarkan
jalan. Ia pun berlari-lari. Lucunya, ia pun berlari ke arah ku sambil berkata: “ayah-ayah….”.
Saya kaget. Saya mengulurkan kedua tangan
dan menyambutnya dan kucium kepala nya. Anak nya manis. Lucu, dan wajah nya
sangat bersih. Dia terus tersenyum dan memegang terus kaki ku.
Tentu saja lebih kaget lagi ibu nya. Ibu
muda. Ia langsung pucat dan minta maaf kepada ku. Saya pun tersenyum dan
mengatakan kepadanya tidak ada persoalan. Ma’lum, Namanya juga anak-anak. Bebas
saja mengaku saya ini ayah nya. Untung saja, ibu nya tidak ngaku saya ini suami
nya. Bisa kacau pagi ini jika ini terjadi.
Saat saya berada di dalam Masjid Haram juga
sama. Ada anak-anak yang seumuran dengan anak tadi. Selalu menatapku. Model nya
anak-anak dari Pakistan atau India. Mata lebar dan hidung mancung. Saya dekati
dan saya pegang dia. Anak tersebut tersenyum senang sekali. Mungkin juga ibu
nya yang berada di sampingnya. Ikut tersenyum. Tapi ibu nya tidak saya pegang. Sampai-sampai
teman ku heran melihat kejadian tersebut. sebab setiap ada anak-anak selalu
saja mereka menatapku dan tersenyum kepada ku.
Yang lebih lucu adalah ibu-ibu dari Afganistan.
Sebegitu banyak orang, tapi yang ditemui malah aku. Dengan bahasa yang susah
dipahami, dia terus menawarkan kepada ku roti khas negara nya. Kami ngobrol. Kami
sama-sama tidak paham. Kami hanya menggunakan bahasa cinta. Sebab di Masjid Haram
hanya ada cinta. Melalui bahasa cinta, kami saling memahami maksud dan tujuan. Cinta
telah mampu menyelesaikan jawaban-jawaban yang rumit menjadi mudah. Tanpa cinta,
mudah pun menjadi rumit.
Saya pun menerima nya. Roti warna putih
krem. Saya cicipi. Tentu tidak sesuai standar lidah ku. Tapi tetap saya makan. Saya
katakatan ini roti dari surga dunia. Ciri-ciri surga dunia yaitu memberi
sesuatu dengan ketulusan hati, berbuat karena panggilan jiwa dan membantu
karena kecintaan kepada Allah swt.
Teman ku pun heran lagi. Kok bisa saya
mendapatkan makanan dari ibu-ibu yang tidak dikenal. Sedangkan dia tidak mendapatkan
sama sekali. Padahal berada di samping ku juga.
Dunia anak-anak adalah dunia yang unik. Ia sebenarnya
sepotong hati suci dari orang tua yang ditampakan di luar tubuh. Ia adalah cermin
diri. Saat ia sakit, maka kita akan merasakan sakit. Saat ia bahagia, kita pun bahagia.
Saat ia mencintai sesuatu secara spontanitas sebenarnya adalah gambar ruh yang
suci terhadap siapa yang ia dekati. Ada kontak atau hubungan batin dari setiap anak-anak
kecil yang sering diperlihatkan di hadapan kita.
Ketika anak-anak semakin dewasa, maka bahasa
cinta bergeser ke hal-hal yang bersifat fisik dan akal. Itu sebabnya, ketajaman
anak-anak yang sudah remaja atau dewasa tidak setajam pandangan mata batin
anak-anak. Sebab manusia ketika sudah dewasa telah menyimpan berbagai memori
dalam pikirannya dan telah dipenuhi hati dan perasaan dengan beragam
keinginan-keinginan. Ini yang menyebabkan konektivitas antara batin dan
kenyataan yang dilihat kurang tajam.
Meskipun demikian, dalam kondisi tertentu
anak tetap akan mempunyai kontak jiwa dengan orang tua nya. Pada moment
tertentu saat anak tersebut dalam kondisi hening dan stabil, maka terjadi
hubungan batin dengan orang tua nya. Apalagi bagi anak-anak yang senantiasa
sudah terbiasa dekat dengan orang tua nya. Hubungan ini sangat tajam sekali.
Walhasil, belajar dari sifat anak-anak di
atas bahwa dalam kontek kehidupan sosial kita harus belajar mengasah mata batin
kita. Secara struktur, manusia sering disebut sebagai hayawan an-natiq-binatang
yang berfikir-, sisi lain mengatakan sebagai madaniyun bitab’i-naluri
bermasyarakat- dan sisi lain human religious-manusia yang tidak lepas
dari agama.
Apapun namanya, hakikat manusia mempunyai
tabiat sama yaitu sama-sama ingin kedamaian dan keselarasan dalam hidup. Ketika
cita-cita ini ditanya pada naluri kita masing-masing, kebahagiaan yang
dicita-citakan hanya bisa ketika kebahagiaan tersebut datang dari hati yang
paling dalam. Sebab hal tersebut sebagai cita-cita yang tulus. Ketika format
cita-cita tersebut menjadi suatu role model dalam kehidupan sosial, maka
potensi-potensi konflik semakin berkurang.
Persoalan sekarang adalah banyak orang
mencari kebahagiaan dengan mengabaikan naluri nya. Kebahagiaan standarnya sudah
pada tataran materi: pangkat, jabatan, kejayaan, kekuasaan, kekayaan dan
sejenisnya. Bahkan cita-cita hidup pun seolah-olah hanya sebatas mencapai
kebahagiaan-kebahagiaan tersebut.
Hal ini berdampak pada fakta bahwa persoalan
setiap hari bertambah tapi tidak juga terjadi Solusi penyelesaiannya. Belum selesai
masalah muncul masalah baru. Bahkan rapat dalam rangka menyelesaikan masalah
malah menimbulkan masalah lagi. Semua ini penyebab pada factor lemah nya
nilai-nilai naluri kita.
Itu sebabnya, belajar dari anak-anak itu
penting. Mereka adalah cahaya kebaikan. Tangkap cahaya tersebut dan praktekan
dalam kehidupan sehari-hari. Insya Allah kita akan menemukan kedamaian diri.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Apapun Kondisinya, Anak Mu adalah Mutiara Hatimu
09 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   93
Kursi Kosong: Catatan Kecil Yang Mimpi jadi Doktor
26 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   184
Hidup Bukan Tentang CEO Menyamar Gembel
31 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   337
Haul Mbah Subari; Ulama dan Penulis Rintisan
19 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   355
Menyalakan Obor Tradisi Ulama-Sebuah Pengantar
10 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   286
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14202
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      5506
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5206
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4538
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4029