Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

384 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Pelukan Cinta Anak Kecil



Senin , 10 Agustus 2026



Telah dibaca :  49

Pagi itu saya duduk di warung bubur ayam. Penjual nya orang Bandung. Saya kenal semua keluarganya. Baik-baik, ramah dan pandai ngaji. Dan yang jelas, laris banget. Saya duduk di bangku nunggu antri. Pagi hari, anak-anak sekolah dan pegawai yang mau cepat ke kantor menjadi solusi tepat untuk mengganjal perut dengan bubur ayam sebelum berangkat ke kantor.

Saya duduk di antara beberapa pembeli. Tiba-tiba ada anak kecil menemuiku. Umur sekitar satu tahun setelah. Sama ibu nya dibiarkan jalan. Ia pun berlari-lari. Lucunya, ia pun berlari ke arah ku sambil berkata: “ayah-ayah….”.

Saya kaget. Saya mengulurkan kedua tangan dan menyambutnya dan kucium kepala nya. Anak nya manis. Lucu, dan wajah nya sangat bersih. Dia terus tersenyum dan memegang terus kaki ku.

Tentu saja lebih kaget lagi ibu nya. Ibu muda. Ia langsung pucat dan minta maaf kepada ku. Saya pun tersenyum dan mengatakan kepadanya tidak ada persoalan. Ma’lum, Namanya juga anak-anak. Bebas saja mengaku saya ini ayah nya. Untung saja, ibu nya tidak ngaku saya ini suami nya. Bisa kacau pagi ini jika ini terjadi.

Saat saya berada di dalam Masjid Haram juga sama. Ada anak-anak yang seumuran dengan anak tadi. Selalu menatapku. Model nya anak-anak dari Pakistan atau India. Mata lebar dan hidung mancung. Saya dekati dan saya pegang dia. Anak tersebut tersenyum senang sekali. Mungkin juga ibu nya yang berada di sampingnya. Ikut tersenyum. Tapi ibu nya tidak saya pegang. Sampai-sampai teman ku heran melihat kejadian tersebut. sebab setiap ada anak-anak selalu saja mereka menatapku dan tersenyum kepada ku.

Yang lebih lucu adalah ibu-ibu dari Afganistan. Sebegitu banyak orang, tapi yang ditemui malah aku. Dengan bahasa yang susah dipahami, dia terus menawarkan kepada ku roti khas negara nya. Kami ngobrol. Kami sama-sama tidak paham. Kami hanya menggunakan bahasa cinta. Sebab di Masjid Haram hanya ada cinta. Melalui bahasa cinta, kami saling memahami maksud dan tujuan. Cinta telah mampu menyelesaikan jawaban-jawaban yang rumit menjadi mudah. Tanpa cinta, mudah pun menjadi rumit.

Saya pun menerima nya. Roti warna putih krem. Saya cicipi. Tentu tidak sesuai standar lidah ku. Tapi tetap saya makan. Saya katakatan ini roti dari surga dunia. Ciri-ciri surga dunia yaitu memberi sesuatu dengan ketulusan hati, berbuat karena panggilan jiwa dan membantu karena kecintaan kepada Allah swt.

Teman ku pun heran lagi. Kok bisa saya mendapatkan makanan dari ibu-ibu yang tidak dikenal. Sedangkan dia tidak mendapatkan sama sekali. Padahal berada di samping ku juga.

Dunia anak-anak adalah dunia yang unik. Ia sebenarnya sepotong hati suci dari orang tua yang ditampakan di luar tubuh. Ia adalah cermin diri. Saat ia sakit, maka kita akan merasakan sakit. Saat ia bahagia, kita pun bahagia. Saat ia mencintai sesuatu secara spontanitas sebenarnya adalah gambar ruh yang suci terhadap siapa yang ia dekati. Ada kontak atau hubungan batin dari setiap anak-anak kecil yang sering diperlihatkan di hadapan kita.

Ketika anak-anak semakin dewasa, maka bahasa cinta bergeser ke hal-hal yang bersifat fisik dan akal. Itu sebabnya, ketajaman anak-anak yang sudah remaja atau dewasa tidak setajam pandangan mata batin anak-anak. Sebab manusia ketika sudah dewasa telah menyimpan berbagai memori dalam pikirannya dan telah dipenuhi hati dan perasaan dengan beragam keinginan-keinginan. Ini yang menyebabkan konektivitas antara batin dan kenyataan yang dilihat kurang tajam.

Meskipun demikian, dalam kondisi tertentu anak tetap akan mempunyai kontak jiwa dengan orang tua nya. Pada moment tertentu saat anak tersebut dalam kondisi hening dan stabil, maka terjadi hubungan batin dengan orang tua nya. Apalagi bagi anak-anak yang senantiasa sudah terbiasa dekat dengan orang tua nya. Hubungan ini sangat tajam sekali.

Walhasil, belajar dari sifat anak-anak di atas bahwa dalam kontek kehidupan sosial kita harus belajar mengasah mata batin kita. Secara struktur, manusia sering disebut sebagai hayawan an-natiq-binatang yang berfikir-, sisi lain mengatakan sebagai madaniyun bitab’i-naluri bermasyarakat- dan sisi lain human religious-manusia yang tidak lepas dari agama.

Apapun namanya, hakikat manusia mempunyai tabiat sama yaitu sama-sama ingin kedamaian dan keselarasan dalam hidup. Ketika cita-cita ini ditanya pada naluri kita masing-masing, kebahagiaan yang dicita-citakan hanya bisa ketika kebahagiaan tersebut datang dari hati yang paling dalam. Sebab hal tersebut sebagai cita-cita yang tulus. Ketika format cita-cita tersebut menjadi suatu role model dalam kehidupan sosial, maka potensi-potensi konflik semakin berkurang.

Persoalan sekarang adalah banyak orang mencari kebahagiaan dengan mengabaikan naluri nya. Kebahagiaan standarnya sudah pada tataran materi: pangkat, jabatan, kejayaan, kekuasaan, kekayaan dan sejenisnya. Bahkan cita-cita hidup pun seolah-olah hanya sebatas mencapai kebahagiaan-kebahagiaan tersebut.

Hal ini berdampak pada fakta bahwa persoalan setiap hari bertambah tapi tidak juga terjadi Solusi penyelesaiannya. Belum selesai masalah muncul masalah baru. Bahkan rapat dalam rangka menyelesaikan masalah malah menimbulkan masalah lagi. Semua ini penyebab pada factor lemah nya nilai-nilai naluri kita.

Itu sebabnya, belajar dari anak-anak itu penting. Mereka adalah cahaya kebaikan. Tangkap cahaya tersebut dan praktekan dalam kehidupan sehari-hari. Insya Allah kita akan menemukan kedamaian diri.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Apapun Kondisinya, Anak Mu adalah Mutiara Hatimu
09 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   93

Kursi Kosong: Catatan Kecil Yang Mimpi jadi Doktor
26 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   184

Hidup Bukan Tentang CEO Menyamar Gembel
31 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   337

Haul Mbah Subari; Ulama dan Penulis Rintisan
19 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   355

Menyalakan Obor Tradisi Ulama-Sebuah Pengantar
10 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   286

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14202


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      5506


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5206


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4029