Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

375 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Kursi Kosong: Catatan Kecil Yang Mimpi jadi Doktor



Minggu , 26 Juli 2026



Telah dibaca :  55

Alinea pertama, saya mengucapkan selamat kepada teman-teman dosen yang telah mencapai puncak tertinggi di jenjang pendidikan. Tentu sebuah kebanggaan tersendiri bagi dirinya, keluarganya, teman dan institusinya.

Alinea kedua, ketika saya melihat bertaburan ucapan selamat di berbagai media -apalagi sekarang ada aplikasi AI-, saya tersenyum dan berkata dalam hati: “Betapa bahagia mereka -para wisudawan- mendapatkan ucapan kelulusan dan dilihat oleh seluruh penduduk di muka bumi”. Mashurun fi al-ardh. Semua menjadi saksi atas kesuksesan tersebut. Semua mengucapkan ucapan selamat dan sukses. Dan ada kata-kata yang sering tidak ketinggalan yaitu : “Semoga semakin berkah”. Sebuah ungkapan bentuk doa dan sekaligus pengingat diri bahwa gelar doktor mempunyai tanggung jawab yang sangat tinggi yaitu -sekali lagi- bisa menyumbangkan “berkah” dan bukan semata-mata “berkat”.

Alinea ketiga, saya mencoba mencari-cari kenangan saat kuliah program doktor.  Ingin ikut-ikutan viral. Saya cari foto ku saat wisuda. Tidak ketemu. Ternyata sudah hilang. Dulu disimpan di Hardisk. Sayangnya hardisknya tentah kemana. Satu-satunya yang tersisa dan bersliweran di FB ku yaitu foto seorang diri saat persiapan Ujian Terbuka. Datang dan duduk seorang diri di pagi hari. Senang sedih campur jadi satu. Rasa nano-nano. Tidak ada penyemangat hidup, kecuali diri sendiri.

Tidak ada keluarga di sampingku. Benar-benar seorang diri. Bukan karena tidak sayang keluarga. Tapi memang tidak ada biaya untuk beli Tiket kapal laut. Kondisi sulit, tapi bergaya elit. Beli satu, itupun pinjam duit sama teman dekatnya. Dan momen foto tersebut, saya abadikan dalam tulisan ini. Ma'lum satu-satu nya foto yang mengingat perjuangan ku menjelang kemerdekaan pada program doktor.

Panitia memberiku dua undangan. Saya bingung. Hingga akhir ujian terbuka surat undangan saya pegang. Ingin saya berikan kepada mahasiswa yang selalu antar jemput aku dari kos-kosan. Kebetulan mahasiswa tersebut yang punya kos-kosan. Saya numpang di kos-kosan mahasiswa tersebut. Saya kasih undangan kepadanya agar hari ini bisa makan nasi kotak gratis. Sayangnya, sampai ujian terbuka selesai, mahasiswa tersebut tidak datang. Ia minta maaf karena harus kerja ikut bos tenda. Ia harus masang tenda di acara nikahan.

Alinea keempat, saat saya lulus program doktor, mahasiswa tersebut menelpon ku. Ia minta doa karena akan menikah. Saya pun dengan senang hati mendoakan. Hari berikutnya, dia pun memberi kabar bahwa kuliah sudah selesai dan sudah menikah. Dia video call. Saya lihat dia bersama istri nya naik mobil Pajero. Alhamdulillah, muridku sudah punya Pajero -dapat mertua tajir- dan saya cukup BMW-Bebek Merah warna nya- atau kendaraan honda yang ada warna merah dan putih. Honda jadul.

Alinea kelima, saat saya kuliah satu lokal berjumlah sekitar 21 orang program doktor. Saat itu sekitar 45 persen S2 nya lulusan dari Timur Tengah. Lebih nya dari uin suska dan lain-lain. Saya satu-satunya lulusan Timur Tengah agak sedikit berbeda. Meskipun saya tidak kuliah di Sudan atau Al-Azhar, tapi saya juga lulusan dari Timur Tengah. Dulu saya belajar di Jawa TIMUR dan lahir di Jawa TENGAH. digabung menjadi Timur Tengah.

Alinea keenam, dari 21 mahasiswa program doktor saya adalah lulusan pertama. Bukan karena hebat, hanya teman-teman ku tidak mau cepat lulus. Betul. Saya sudah selesai disertasi pada semester 5, tapi kata bagian administrasi harus tiga tahun. Dan juga karena kendala bayar SPP, saya pun mengambil masa lampau 2 semester. Semester 7 baru wisuda.

Saya cepat lulus bukan karena cerdas. Tidak sama sekali. Ada dua faktor yang menyebabkan saya cepat lulus. Pertama, karena saya ditertawakan di forum kelas S3. Gara-gara ada seorang dosen mempertanyakan latarbelakang S2. Saat saya menjawab Magister Pendidikan, semua pun tertawa. Magister Pendidikan, ngambil doktor Hukum Islam. Ora yambung. Kedua, karena saya selalu mendawamkan diri membaca al-fatehah kepada setiap dosen yang mengajar ku. Itu perintah guru-guruku dulu. Itu juga perintah orang tua ku. Saya selalu diminta oleh orang tua ku agar senantiasa mengirim doa kebaikan kepada setiap guru-guru ku.

Itu sebabnya, hingga kini saya selalu mendoakan kebaikan kepada setiap orang yang pernah memberi pemahaman kepada ku tentang makna hakikat kehidupan. Berbeda dalam pandangan boleh, diskusi sangat keras itu biasa. Tapi benci kepada seseorang tidak dibenarkan dalam Islam.

Alinea ketujuh, guru-guru ku dan orang tua ku selalu memberi pesan kepada ku agar gelar mu jangan sampai membuat stress orang yang melihat dan membaca gelar nya. Gelar mu jangan sampai ucapan mu malah membingungkan orang. Gelar mu jangan sampai membuat orang kagum dan kemudian malah mentertawakan dirimu karena tidak sesuai antara “badan dan baju” yang dipakai. Gelar mu harus menjadikan semakin tawadhu dan menjadikan semakin mencintai Allah dan orang tua mu.

Alinea kedelapan, gelar mu harus selalu memberi manfaat. Meskipun disampingmu hanya kursi-kursi kosong, tetaplah menjadi pendidik. Jika toh tidak ada muridnya, paling tidak mendidik diri sendiri. Bukankah, mendidik diri sendiri jauh lebih sulit daripada mendidik orang lain?.

Alinea kesembilan, saya merenung seorang diri. Kenapa saya bisa selesai kuliah. Saya sadar, begitu banyak doa dari orang-orang yang menyayangiku. Tuhan pun mengabulkan doa ku dan mereka. Saya sungguh sangat beruntung banyak sahabat dan orang-orang Istimewa yang selalu menyayangiku melalui doa-doa kebaikan.

Alinea kesepuluh, kuliah adalah ibadah dan jihad. Kekuatan anda bukan kecerdasan, tapi sandaran kuat hanya kepada Allah SWT. 



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Hidup Bukan Tentang CEO Menyamar Gembel
31 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   323

Haul Mbah Subari; Ulama dan Penulis Rintisan
19 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   347

Menyalakan Obor Tradisi Ulama-Sebuah Pengantar
10 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   281

Lail Al-Qadr : Menggali Ruh Peradaban Islam
08 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   149

Alarm Depresi Remaja Australia, Peringatan bagi Indonesia !
17 Desember 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   341

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14084


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5139


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      5124


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3819