
Sore di pinggir laut, saya duduk seorang
diri. Menikmati kelapa muda. Kelihatannya sesuai rasa lidah ku. Masih fresh,
airnya masih segar dan kelapa nya masih ingusan-lembek, tipis dan
seperti lendir.
Saya melihat di sekitar ku. Ada pasangan
muda yang masih punya anak kecil. Bermain dan bersendau gurau. Terlihat sangat
senang mereka bertiga. Senyumnya “merekah”. Entah, apakah senyum merekah
seperti itu akan tetap bertahan Ketika sudah mempunyai anak lebih dari empat?.
Dulu saya ingin seperti mereka, saat masih
punya anak kecil. Punya anak satu. Tapi keadaan yang tidak memungkinkan waktu
itu. Tidak bisa bersenang-senang, jalan-jalan. Isinya pontang-panting
pinjam duit untuk bayar kost. Sudah dapat, cari pinjaman lagi untuk biaya
kuliah. Hidup isinya hanya pinjam dan pinjam. Terlalu sering gali lubang
daripada menutupnya.
Di depan ku ada pasangan remaja. Wanitanya sangat
cantik. Mungkin karena hidungnya mancung dan kulitnya putih. Tubuh nya
langsing. Mungkin ini juga yang menyebabkan cowok di sampingnya jatuh cinta
kepada nya. Senyum, dan saling memadu kasih dan terlihat sangat bahagia.
Lagi-lagi ingat masa dulu. Ingin seperti
mereka. Tidak juga keinginan tersebut terwujud. Masa remaja ku tidak seindah
mereka. Kendaraan ronda dua masih milik kaum darah biru dan separo darah biru. Keluarga
ku pun tidak punya sepeda. Jika pinjam pun harus mengajukan proposal peminjaman
beberapa hari sebelumnya dan melalui proses kesabaran luar biasa. Kadang sampai
hari H nya, hanya bisa “ngelus dada”. Kata tuan rumah berkata tanpa rasa
kecewa kepada ku: “Maaf, sepeda nya mau dipakai bapak ke Kantor!”.
Anda bisa membayangkan, remaja dari
keluarga seperti ini sangat sulit untuk bisa hidup beradaptasi dengan remaji idaman.
Kadang kita sudah minder duluan. Tidak punya celana panjang. Yang ada
hanya Sarung. Itupun milik orang tua atau abang atau kakang-di Jawa laki-laki
dipanggil “kakang”, perempuan “mba”. Apakah mungkin pergi “apel” ke wanita
idaman hanya memakai Sarung nglinting dan kaos oblong?.
Namun kadang pada sisi-sisi tertentu ada
keberanian untuk melakukan di luar nalar. Out the box. Kenapa tidak
dicoba pergi ke rumah cewek dengan hanya memakai sarung dan kaos oblong. Bukan,
itu bukan kesalahan, dan juga tidak melanggar etika. Apakah ada aturan baku
bahwa apel harus memakai baju yang mewah dan kendaraan yang mahal serta
dompet yang tebal. Tidak juga. Tidak ada syarat khusus. Persoalan ditolak atau
dianggap cowok tradisional kenapa harus takut. Bukankah kita telah menunjukan
diri apa adanya. Kita benar-benar melarat dan bukan juga seorang CEO
yang sedang menyamar jadi Gembel.
Hari ini kita harus bisa berkata bahwa
Sarung dan Kaos oblong adalah milik kita yang sangat berharga. Anda yang hidup
di era modern seperti saat sekarang ini kadang ini memaksakan diri tampil penuh
dengan imitasi. Para remaja, para gadis hingga ibu-ibu sudah berpenampilan
tidak lagi alami. Wajah sudah kehilangan keindonesiaan, yang berkulit sawo
matang atau kulit warna alami. Anak gadis yang masih imut-imut sudah
berpenampilan amit-amit. Wajah bercahaya, bukan karena air wudhu tapi
karena skincare.
Tuhan menciptakan kulit seperti ini bukan
karena penghinaan, tapi kasih sayang yang sangat agung dari-Nya. Bangsa Barat datang
ke Indonesia karena iri dengan warna kulit kita yang terlihat “melankolis”,
dan dianggap kulit penuh kemawahan, keaslian dan kemandirian. Namun, kini kita
justru minder menjadi bangsa Indonesia. Menjadi bangsa penakut, menjadi bangsa
yang putus asa. Sedikit ada masalah langsung mutung. Sedikit ada konflik,
langsung mundur.
Saya-dan mungkin anda- pernah melakukan
kebaikan dan kesalahan masih pada level terbatas. Itupun kadang kita terlalu
bangga saat melakukan kebaikan, dan terlalu emosional sedih saat dianggap
melakukan kesalahan. Bagi ku ini Adalah kewajaran dalam kehidupan sosial. Ada kedewasaan
melalui berbagai dinamika. Tidak selama orang menyambut kita dengan karpet
merah, bisa jadi suatu hari ada sambutan dengan muka merah dan marah-marah. Itu
wajar.
Seorang jenius yang pernah kita milik dan
bagian dari kebanggaan bangsa kita yaitu B.J.Habibie. Dia adalah presiden yang
sangat hebat. Mampu melakukan stabilitas rupiah atas dolar. Dari Rp. 17.000/dolar,
bisa menjadi Rp.6500.
Apakah keberhasilan nya mendapat pujian. Iya,
ada pujian, tapi hanya sebentar. Ketika ia melakukan suatu kebijakan -dianggap
salah oleh legislatif-maka laporan pertanggungjawaban nya ditolak oleh legislatif.
Kemarau satu tahun hilang oleh hujan satu hari.
Tapi BJ Habibie tetap professional. Ia tetap
mempersembahkan seluruh hidupnya untuk kepentingan bangsa dan negara hingga
akhir hayatnya. Baginya persoalan politik harus dipisahkan dari persoalan kemanusiaan.
Persoalan politik, ia dimatikan karirnya oleh lembaga legislatif, tapi
persoalan kemanusiaan ia bisa lebih leluasa untuk mengabdi kepada masyarakat lebih
luas.
Walhasil kita bukan seorang CEO yang
mempunyai kekuatan supranatural yang sangat mengerikan dan menguasai seluruh
sumber daya alam. Kita mungkin hanya sebatas setetes air di tengah lautan yang
maha luas. Mungkin kita tidak berguna di hadapan lautan, bahkan di bibir lautan
pun tidak kelihatan efeknya. Namun kita bisa memberi manfaat ketika “setetes
air” yang kita punya ditempatkan pada tempat yang tepat. Dan tempat
tersebut sekarang ini adalah profesi kita. Mari hidup penuh dengan cinta dan
karya.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Haul Mbah Subari; Ulama dan Penulis Rintisan
19 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   310
Menyalakan Obor Tradisi Ulama-Sebuah Pengantar
10 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   254
Lail Al-Qadr : Menggali Ruh Peradaban Islam
08 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   130
Alarm Depresi Remaja Australia, Peringatan bagi Indonesia !
17 Desember 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   322
Mutiara Untuk Anak-Anakku
25 November 2025   Oleh : Dr.Edi Purnomo,MA   169
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13816
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4867
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3858
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      3517
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3256