Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

352 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Hidup Bukan Tentang CEO Menyamar Gembel



Minggu , 31 Mei 2026



Telah dibaca :  142

Sore di pinggir laut, saya duduk seorang diri. Menikmati kelapa muda. Kelihatannya sesuai rasa lidah ku. Masih fresh, airnya masih segar dan kelapa nya masih ingusan-lembek, tipis dan seperti lendir.

Saya melihat di sekitar ku. Ada pasangan muda yang masih punya anak kecil. Bermain dan bersendau gurau. Terlihat sangat senang mereka bertiga. Senyumnya “merekah”. Entah, apakah senyum merekah seperti itu akan tetap bertahan Ketika sudah mempunyai anak lebih dari empat?.

Dulu saya ingin seperti mereka, saat masih punya anak kecil. Punya anak satu. Tapi keadaan yang tidak memungkinkan waktu itu. Tidak bisa bersenang-senang, jalan-jalan. Isinya pontang-panting pinjam duit untuk bayar kost. Sudah dapat, cari pinjaman lagi untuk biaya kuliah. Hidup isinya hanya pinjam dan pinjam. Terlalu sering gali lubang daripada menutupnya.

Di depan ku ada pasangan remaja. Wanitanya sangat cantik. Mungkin karena hidungnya mancung dan kulitnya putih. Tubuh nya langsing. Mungkin ini juga yang menyebabkan cowok di sampingnya jatuh cinta kepada nya. Senyum, dan saling memadu kasih dan terlihat sangat bahagia.

Lagi-lagi ingat masa dulu. Ingin seperti mereka. Tidak juga keinginan tersebut terwujud. Masa remaja ku tidak seindah mereka. Kendaraan ronda dua masih milik kaum darah biru dan separo darah biru. Keluarga ku pun tidak punya sepeda. Jika pinjam pun harus mengajukan proposal peminjaman beberapa hari sebelumnya dan melalui proses kesabaran luar biasa. Kadang sampai hari H nya, hanya bisa “ngelus dada”. Kata tuan rumah berkata tanpa rasa kecewa kepada ku: “Maaf, sepeda nya mau dipakai bapak ke Kantor!”.

Anda bisa membayangkan, remaja dari keluarga seperti ini sangat sulit untuk bisa hidup beradaptasi dengan remaji idaman. Kadang kita sudah minder duluan. Tidak punya celana panjang. Yang ada hanya Sarung. Itupun milik orang tua atau abang atau kakang-di Jawa laki-laki dipanggil “kakang”, perempuan “mba”. Apakah mungkin pergi “apel” ke wanita idaman hanya memakai Sarung nglinting dan kaos oblong?.

Namun kadang pada sisi-sisi tertentu ada keberanian untuk melakukan di luar nalar. Out the box. Kenapa tidak dicoba pergi ke rumah cewek dengan hanya memakai sarung dan kaos oblong. Bukan, itu bukan kesalahan, dan juga tidak melanggar etika. Apakah ada aturan baku bahwa apel harus memakai baju yang mewah dan kendaraan yang mahal serta dompet yang tebal. Tidak juga. Tidak ada syarat khusus. Persoalan ditolak atau dianggap cowok tradisional kenapa harus takut. Bukankah kita telah menunjukan diri apa adanya. Kita benar-benar melarat dan bukan juga seorang CEO yang sedang menyamar jadi Gembel.

Hari ini kita harus bisa berkata bahwa Sarung dan Kaos oblong adalah milik kita yang sangat berharga. Anda yang hidup di era modern seperti saat sekarang ini kadang ini memaksakan diri tampil penuh dengan imitasi. Para remaja, para gadis hingga ibu-ibu sudah berpenampilan tidak lagi alami. Wajah sudah kehilangan keindonesiaan, yang berkulit sawo matang atau kulit warna alami. Anak gadis yang masih imut-imut sudah berpenampilan amit-amit. Wajah bercahaya, bukan karena air wudhu tapi karena skincare.

Tuhan menciptakan kulit seperti ini bukan karena penghinaan, tapi kasih sayang yang sangat agung dari-Nya. Bangsa Barat datang ke Indonesia karena iri dengan warna kulit kita yang terlihat “melankolis”, dan dianggap kulit penuh kemawahan, keaslian dan kemandirian. Namun, kini kita justru minder menjadi bangsa Indonesia. Menjadi bangsa penakut, menjadi bangsa yang putus asa. Sedikit ada masalah langsung mutung. Sedikit ada konflik, langsung mundur.

Saya-dan mungkin anda- pernah melakukan kebaikan dan kesalahan masih pada level terbatas. Itupun kadang kita terlalu bangga saat melakukan kebaikan, dan terlalu emosional sedih saat dianggap melakukan kesalahan. Bagi ku ini Adalah kewajaran dalam kehidupan sosial. Ada kedewasaan melalui berbagai dinamika. Tidak selama orang menyambut kita dengan karpet merah, bisa jadi suatu hari ada sambutan dengan muka merah dan marah-marah. Itu wajar.

Seorang jenius yang pernah kita milik dan bagian dari kebanggaan bangsa kita yaitu B.J.Habibie. Dia adalah presiden yang sangat hebat. Mampu melakukan stabilitas rupiah atas dolar. Dari Rp. 17.000/dolar, bisa menjadi Rp.6500.

Apakah keberhasilan nya mendapat pujian. Iya, ada pujian, tapi hanya sebentar. Ketika ia melakukan suatu kebijakan -dianggap salah oleh legislatif-maka laporan pertanggungjawaban nya ditolak oleh legislatif. Kemarau satu tahun hilang oleh hujan satu hari.

Tapi BJ Habibie tetap professional. Ia tetap mempersembahkan seluruh hidupnya untuk kepentingan bangsa dan negara hingga akhir hayatnya. Baginya persoalan politik harus dipisahkan dari persoalan kemanusiaan. Persoalan politik, ia dimatikan karirnya oleh lembaga legislatif, tapi persoalan kemanusiaan ia bisa lebih leluasa untuk mengabdi kepada masyarakat lebih luas.

Walhasil kita bukan seorang CEO yang mempunyai kekuatan supranatural yang sangat mengerikan dan menguasai seluruh sumber daya alam. Kita mungkin hanya sebatas setetes air di tengah lautan yang maha luas. Mungkin kita tidak berguna di hadapan lautan, bahkan di bibir lautan pun tidak kelihatan efeknya. Namun kita bisa memberi manfaat ketika “setetes air” yang kita punya ditempatkan pada tempat yang tepat. Dan tempat tersebut sekarang ini adalah profesi kita. Mari hidup penuh dengan cinta dan karya. 



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Haul Mbah Subari; Ulama dan Penulis Rintisan
19 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   310

Menyalakan Obor Tradisi Ulama-Sebuah Pengantar
10 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   254

Lail Al-Qadr : Menggali Ruh Peradaban Islam
08 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   130

Alarm Depresi Remaja Australia, Peringatan bagi Indonesia !
17 Desember 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   322

Mutiara Untuk Anak-Anakku
25 November 2025   Oleh : Dr.Edi Purnomo,MA   169

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13816


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4867


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3256