
Ketika larut malam terjaga, sebelum melaksanakan shalat malam
walaupun tidak setiap hari aku lakukan, aku sempatkan membuka kamar anak-anakku
dan aku lihat mereka satu persatu dibalik nyenyak tidur mereka, sungguh terasa
diri ini sudah tua dan sadar ada amanah Allah yang dititipkan. Amanah yang
tidak hanya urusan makan tetapi lebih jauh lagi tentang punca keselamatan di
akherat kelak, yakni ketaatan dan kepatuhan mereka kepada Allah dalam
menjalankan ibadah shalat sebagai tiang agama dan penentu keselamatan di Yaumul
Hisab kelak.
Seuntai doa buat mereka disetiap habis shalat “( رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي
ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ)“ Rabbi ij`alni Muqima al-Shalat wa min Dzurriyati, rabbana
wa taqobbal du`a”. "Ya Tuhanku, jadikanlah
aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami,
perkenankanlah doaku." (QS. Ibrahim; 40).
Shalat berasal dari kata shallā yang
berarti "doa", pengertian shalat secara istilah adalah ibadah yang
dilakukan oleh umat Muslim untuk memohon kepada Allah SWT, yang diawali dengan
takbir dan diakhiri salam, sesuai dengan syarat dan rukun tertentu. Shalat
merupakan sarana untuk terkoneksi dengan Allah SWT dalam meningkatkan ketakwaan,
dan membersihkan diri dari dosa.
Sebuah ungkapan "siapa dirimu dilihat bagaimana shalatmu" yaitu ungkapan
yang memiliki makna mendalam. yakni bahwa kualitas
shalat seseorang merupakan cerminan dari karakter, disiplin, dan hubungan
spiritualnya dengan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
Beberapa hal yang berharga bak
mutiara yang kita dapatkan dari Shalat adalah ;
Pertama, apabila shalat dilaksanakan
dengan khusyuk dan konsisten cenderung akan membentuk pribadi yang berakhlak
baik. Karena shalat berfungsi sebagai "perisai/benteng" yang mencegah
pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar, sebagaimana disebutkan dalam
Al-Qur'an;
اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ
الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ
وَالْمُنْكَرِۗ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ
Bacalah (Nabi Muhammad) Kitab
(Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu dan tegakkanlah salat. Sesungguhnya
salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Sungguh, mengingat Allah
(salat) itu lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain). Allah
mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS. Al-'Ankabut: 45)
Kedua, Shalat bukan
sekadar gerakan fisik belaka, melainkan komunikasi jiwa dengan Allah SWT.
Seseorang yang mampu menghadirkan hati sepenuhnya dalam shalat (khusyuk)
menunjukkan tingkat kesadaran spiritual yang tinggi, yang memengaruhi
ketenangan batin dan cara ia berinteraksi dengan orang lain.
Ketiga, shalat adalah sebuah cerminan keimanan. Kualitas shalat
yang baik merupakan tanda keimanan yang kuat, sebaliknya apabila shalat
berantakan (tidak teratur atau tidak khusyuk) pertanda dan sering dikaitkan
dengan hati yang jauh dari Allah atau hidup yang berantakan.
ibadah shalat
yang lakukan seseorang akan memiliki dampak transformatif yang mendalam pada
kepribadian mereka dan menjadikannya indikator penting dari jati diri seorang
Muslim.
Ingatlah, jika kamu sujud setiap hari, tetapi lidahmu lebih tajam
dari pedang, seperti halnya Kamu memuji Allah dalam zikir, tetapi terbiasa
mencela ciptaanNya dengan tanpa rasa malu bahwa kamu sendiri banyak kelemahan,
bahkan dengan kesadaranmu itu semua sebuah kesombongan, itu berarti kamu
melaksanakan shalat tetapi hatimu tidak. Bukankah hakekat shalat adalah
penyatuan rasa mendalam bagi seorang hamba dengan pengakuan sebenarnya dalam
hati bahwa sebenarnya kamu hanyalah seorang hamba yang tidak memiliki daya dan
upaya.
Wahai anak adam, siapa sebenarnya hakekat Zad yang kamu sembah ?
Allah Sang Pencipta yang Maha pengasih atau egomu sendiri yang sejatinya haus
pujian dan sering merasa suci. Perasaan sukses dapat membuai, dan keegoisan akan mengarah
kepada pemusatan terhadap kepentingan diri sendiri tanpa mempedulikan orang
lain. Orang yang egois selalu merasa dirinya adalah paling penting
dan benar, dan kesuksesan yang berlebihan akan membuatnya semakin mengabaikan
kebutuhan atau pandangan orang lain. Selalunya orang yang egois menganggap
bahwa kesuksesan orang lain merupakan sebuah ancaman dan menjadikannya sulit
untuk menjalin hubungan yang sehat atau berkolaborasi dengan orang lain.
kesuksesan sejati adalah tidak harus dibarengi dengan kesombongan atau
keegoisan, melainkan dengan kerendahan hati dan kepedulian terhadap sesama
yakni mengedepankan rasa.
Ketahuilah bahwa ibadah shalat itu bukan hanya rukuk dan sujud,
tetapi sejatinya ibadah adalah ketika hatimu lembut dan selalu menghindar dari
lisan dan hati yang merendahkan orang lain sehingga kau sadari atau tidak itu
menjadikanmu seolah di atas orang lain. Jika sembahyangmu membuatmu merendahkan
orang lain, janganlah sombong terlebih dahulu
karena mungkin kamu tidak sedang menyembah Allah tetapi mungkin kamu
menyembah dirimu sendiri.
Jadilah kamu orang kuat tetapi tetap rendah hati dan tidak sombong,
karena manusia sebenarnya yang dekat dengan Allah adalah bukan siapa yang
paling lantang menghakimi manusia lain tetapi siapa yang paling pandai menjaga
hati dari pikiran hasut. Pikiran hasut (iri hati atau dengki) akan merusak kedamaian batin dan
kesehatan mental secara signifikan, diibaratkan seperti "membunuh hati" secara
perlahan-lahan.
Menjaga hati dalam Islam memang indah karenanya
akan mendatangkan ketenangan batin, meningkatkan kualitas ibadah, dan
membawa kebaikan dalam perilaku.
Hal ini diwujudkan dengan berbagai amalan seperti dzikir, bersyukur, menjauhi
dosa, bersedekah, dan berdoa agar hati selalu teguh dalam kebaikan. Menjaga
hati amatlah penting agar tidak rusak oleh penyakit hati atau hal-hal buruk
lainya.
Memiliki "Qolbun salim" berarti memiliki hati yang
bersih, suci, dan sehat, yang bebas dari penyakit hati seperti syirik, iri, dan
dengki. Apabila
seseorang telah memiliki Qolbun salim sepenuhnya ia telah tunduk dan
ikhlas kepada Allah SWT, serta memiliki akidah yang benar dan lurus.
Dalam
perspektif tasawuf, hati selalu disebut
menjadi kunci dalam perilaku seseorang. dan perilaku yang tampak pada diri
seseorang selalu dikatakan cerminan dari hatinya (qolbun). Indikator qolbun
salim memiliki kualitas spritualitas, yakni memiliki niat yang
kuat yang menggerakkan hatinya dengan kesengajaan dan penuh kesadaran untuk
mengembangkan dan mempertahankan hidup, melakukan hal-hal yang dianjurkan Allah
dalam perilaku sehingga mampu memberi kontribusi positif untuk dirinya,
keluarga dan masyarakat.
Jangan sampai hatimu gelap karena ingin menang sendiri, orang yang
pandai mengatur keadaan belum pasti pandai mengatur hatinya, itu adalah
gambaran bagi orang yang memiliki rasa dengki dan selalu was-was penuh keraguan
dikarenakan tidak bisa melihat terangnya hati orang lain.
Shalat ibarat cahaya dan mutiara selain menerangi juga sangat
berharga dalam kehidupan. Keikhlasan menjalankannya menjadikan hati agar tetap
tunduk dan bersih, menjaga kemurnian diri dengan tetap menyadari benar-benar
seorang hamba-Nya.
Penulis : Dr.Edi Purnomo,MA
Hidup Bukan Tentang CEO Menyamar Gembel
31 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   143
Haul Mbah Subari; Ulama dan Penulis Rintisan
19 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   310
Menyalakan Obor Tradisi Ulama-Sebuah Pengantar
10 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   254
Lail Al-Qadr : Menggali Ruh Peradaban Islam
08 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   130
Alarm Depresi Remaja Australia, Peringatan bagi Indonesia !
17 Desember 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   322
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13816
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4867
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3858
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      3517
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3258