Avatar

Dr.Edi Purnomo,MA

Penulis Kolom

4 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Mutiara Untuk Anak-Anakku



Selasa , 25 November 2025



Telah dibaca :  169

Ketika larut malam terjaga, sebelum melaksanakan shalat malam walaupun tidak setiap hari aku lakukan, aku sempatkan membuka kamar anak-anakku dan aku lihat mereka satu persatu dibalik nyenyak tidur mereka, sungguh terasa diri ini sudah tua dan sadar ada amanah Allah yang dititipkan. Amanah yang tidak hanya urusan makan tetapi lebih jauh lagi tentang punca keselamatan di akherat kelak, yakni ketaatan dan kepatuhan mereka kepada Allah dalam menjalankan ibadah shalat sebagai tiang agama dan penentu keselamatan di Yaumul Hisab kelak.

Seuntai doa buat mereka disetiap habis shalat “( رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ)“ Rabbi ij`alni Muqima al-Shalat wa min Dzurriyati, rabbana wa taqobbal du`a”. "Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku." (QS. Ibrahim; 40).

Shalat berasal dari kata shallā yang berarti "doa", pengertian shalat secara istilah adalah ibadah yang dilakukan oleh umat Muslim untuk memohon kepada Allah SWT, yang diawali dengan takbir dan diakhiri salam, sesuai dengan syarat dan rukun tertentu. Shalat merupakan sarana untuk terkoneksi dengan Allah SWT dalam meningkatkan ketakwaan, dan membersihkan diri dari dosa. 

Sebuah ungkapan "siapa dirimu dilihat bagaimana shalatmu" yaitu ungkapan yang memiliki makna mendalam. yakni bahwa kualitas shalat seseorang merupakan cerminan dari karakter, disiplin, dan hubungan spiritualnya dengan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. 

Beberapa hal yang berharga bak mutiara yang kita dapatkan dari Shalat adalah ;

Pertama, apabila shalat dilaksanakan dengan khusyuk dan konsisten cenderung akan membentuk pribadi yang berakhlak baik. Karena shalat berfungsi sebagai "perisai/benteng" yang mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an;

اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِۗ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ    

Bacalah (Nabi Muhammad) Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu dan tegakkanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Sungguh, mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS. Al-'Ankabut: 45)

Kedua, Shalat bukan sekadar gerakan fisik belaka, melainkan komunikasi jiwa dengan Allah SWT. Seseorang yang mampu menghadirkan hati sepenuhnya dalam shalat (khusyuk) menunjukkan tingkat kesadaran spiritual yang tinggi, yang memengaruhi ketenangan batin dan cara ia berinteraksi dengan orang lain.

Ketiga, shalat adalah sebuah cerminan keimanan. Kualitas shalat yang baik merupakan tanda keimanan yang kuat, sebaliknya apabila shalat berantakan (tidak teratur atau tidak khusyuk) pertanda dan sering dikaitkan dengan hati yang jauh dari Allah atau hidup yang berantakan.

ibadah shalat yang lakukan seseorang akan memiliki dampak transformatif yang mendalam pada kepribadian mereka dan menjadikannya indikator penting dari jati diri seorang Muslim.

Ingatlah, jika kamu sujud setiap hari, tetapi lidahmu lebih tajam dari pedang, seperti halnya Kamu memuji Allah dalam zikir, tetapi terbiasa mencela ciptaanNya dengan tanpa rasa malu bahwa kamu sendiri banyak kelemahan, bahkan dengan kesadaranmu itu semua sebuah kesombongan, itu berarti kamu melaksanakan shalat tetapi hatimu tidak. Bukankah hakekat shalat adalah penyatuan rasa mendalam bagi seorang hamba dengan pengakuan sebenarnya dalam hati bahwa sebenarnya kamu hanyalah seorang hamba yang tidak memiliki daya dan upaya.

Wahai anak adam, siapa sebenarnya hakekat Zad yang kamu sembah ? Allah Sang Pencipta yang Maha pengasih atau egomu sendiri yang sejatinya haus pujian dan sering merasa suci. Perasaan sukses dapat membuai, dan keegoisan akan mengarah kepada pemusatan terhadap kepentingan diri sendiri tanpa mempedulikan orang lain. Orang yang egois selalu merasa dirinya adalah paling penting dan benar, dan kesuksesan yang berlebihan akan membuatnya semakin mengabaikan kebutuhan atau pandangan orang lain. Selalunya orang yang egois menganggap bahwa kesuksesan orang lain merupakan sebuah ancaman dan menjadikannya sulit untuk menjalin hubungan yang sehat atau berkolaborasi dengan orang lain. kesuksesan sejati adalah tidak harus dibarengi dengan kesombongan atau keegoisan, melainkan dengan kerendahan hati dan kepedulian terhadap sesama yakni mengedepankan rasa.

Ketahuilah bahwa ibadah shalat itu bukan hanya rukuk dan sujud, tetapi sejatinya ibadah adalah ketika hatimu lembut dan selalu menghindar dari lisan dan hati yang merendahkan orang lain sehingga kau sadari atau tidak itu menjadikanmu seolah di atas orang lain. Jika sembahyangmu membuatmu merendahkan orang lain, janganlah sombong terlebih dahulu  karena mungkin kamu tidak sedang menyembah Allah tetapi mungkin kamu menyembah dirimu sendiri.

Jadilah kamu orang kuat tetapi tetap rendah hati dan tidak sombong, karena manusia sebenarnya yang dekat dengan Allah adalah bukan siapa yang paling lantang menghakimi manusia lain tetapi siapa yang paling pandai menjaga hati dari pikiran hasut. Pikiran hasut (iri hati atau dengki) akan merusak kedamaian batin dan kesehatan mental secara signifikan, diibaratkan seperti "membunuh hati" secara perlahan-lahan.

Menjaga hati dalam Islam memang indah karenanya akan mendatangkan ketenangan batin, meningkatkan kualitas ibadah, dan membawa kebaikan dalam perilaku. Hal ini diwujudkan dengan berbagai amalan seperti dzikir, bersyukur, menjauhi dosa, bersedekah, dan berdoa agar hati selalu teguh dalam kebaikan. Menjaga hati amatlah penting agar tidak rusak oleh penyakit hati atau hal-hal buruk lainya.

Memiliki "Qolbun salim" berarti memiliki hati yang bersih, suci, dan sehat, yang bebas dari penyakit hati seperti syirik, iri, dan dengki. Apabila seseorang telah memiliki Qolbun salim sepenuhnya ia telah tunduk dan ikhlas kepada Allah SWT, serta memiliki akidah yang benar dan lurus.

Dalam perspektif tasawuf,  hati selalu disebut menjadi kunci dalam perilaku seseorang. dan perilaku yang tampak pada diri seseorang selalu dikatakan cerminan dari hatinya (qolbun). Indikator qolbun salim memiliki kualitas spritualitas, yakni memiliki niat yang kuat yang menggerakkan hatinya dengan kesengajaan dan penuh kesadaran untuk mengembangkan dan mempertahankan hidup, melakukan hal-hal yang dianjurkan Allah dalam perilaku sehingga mampu memberi kontribusi positif untuk dirinya, keluarga dan masyarakat.

Jangan sampai hatimu gelap karena ingin menang sendiri, orang yang pandai mengatur keadaan belum pasti pandai mengatur hatinya, itu adalah gambaran bagi orang yang memiliki rasa dengki dan selalu was-was penuh keraguan dikarenakan tidak bisa melihat terangnya hati orang lain.

Shalat ibarat cahaya dan mutiara selain menerangi juga sangat berharga dalam kehidupan. Keikhlasan menjalankannya menjadikan hati agar tetap tunduk dan bersih, menjaga kemurnian diri dengan tetap menyadari benar-benar seorang hamba-Nya.



Penulis : Dr.Edi Purnomo,MA


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Hidup Bukan Tentang CEO Menyamar Gembel
31 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   143

Haul Mbah Subari; Ulama dan Penulis Rintisan
19 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   310

Menyalakan Obor Tradisi Ulama-Sebuah Pengantar
10 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   254

Lail Al-Qadr : Menggali Ruh Peradaban Islam
08 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   130

Alarm Depresi Remaja Australia, Peringatan bagi Indonesia !
17 Desember 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   322

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13816


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4867


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3258