
Obor peradaban Islam sebenarnya terekam
dengan sangat indah pada Q.S. Al-Alaq ([96]:1-5) sebagai berikut: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan!, Dia menciptakan
manusia dari segumpal darah. Bacalah! Tuhanmulah Yang Mahamulia, yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”
Wahyu pertama tersebut -turun pada tanggal
17 Ramadhan- berisi nilai-nilai peradaban yang mendahului zamannya. Membaca bukan
tradisi masyarakat Arab kala itu. Mereka lebih menyukai menghafal sebagai simbol
kecerdasan tertinggi. Melalui kemampuan tersebut, mereka bisa mendemonstrasikan
syair-syair klasik, dan menghafalkan nenek moyang hingga sampai tujuh turunan
lebih. Melalui kehebatan leluhurnya, mereka memprovokasi jiwa ashabiyyah kepada generasi
penerusnya dan memberi motivasi membangun kebesaran suku nya.
Tradisi menghafal masyarakat Arab tetap
dipertahankan. Rasulullah mulai merintis peta jalan dalam upaya merawat peradaban yaitu melalui baca tulis. Ketika
selesai Perang Badar, para tawanan -dari kaum kafirin- yang tidak mampu
membayar tebusan uang, mendapatkan tugas untuk mengajar membaca dan menulis
kepada sahabat nabi dan anak-anak muslim saat itu. Ini yang kemudian melahirkan
para penulis ulung seperti Zaid bin Tsabit, Muawiyah dan penulis-penulis
lainnya.
Tradisi menulis terus mengalami
perkembangan yang sangat signifikan. Salah satu yang sangat peduli terhadap
tradisi ini yaitu Umar bin Khatab. Ketika umat Islam bertempur dengan orang
kafir di Yamamah, ada sekitar 70 sahabat Nabi meninggal dunia. Jumlah tersebut merupakan
para penghafal al-qur’an-hufadz. Umar bin Khatab sangat sedih. Jika ini
dibiarkan, maka Al-Qur’an akan menjadi fitnah dikemudian hari sebagaimana
fitnah terjadi pada umat-umat sebelumnya -akibat kitab sucinya tidak dibukukan.
Keprihatinan ini yang menginisiasi Umar bin Khatab menemui Khalifah Abu Bakar. Tujuannya
satu yaitu perlu ada kodifikasi Al-Qur’an dalam satu mushaf.
Tradisi tulis menulis mencapai puncak
peradaban dalam dunia Islam pada masa Khalifah Dinasti Abbasiyah. Bahkan bisa
dikatakan pada masa tersebut, pemerintahan tersebut menjadi role model peradaban
paling modern. Bahkan bisa dianggap sebagai perpindahan tongkat estafet
peradaban yang sebelum berpusat di tiga negara besar: Yunani, Romawi, dan Persia.
Ketika kekuasaan ketiga negara tersebut melemah, lalu muncul imperium baru
pemerintah Islam, masyarakat Romawi dan Persia ramai-ramai imigrasi ke
pusat-pusat peradaban Islam. Mereka sebagian besar memfokuskan pada bidang
keilmuan. Wajar jika kemudian hari, para ilmuwan Islam rata-rata berasal dari
daerah Persia -Iran sekarang. Melalui tangan-tangan para ilmuwan ini, tradisi
menulis dan berkarya terus berkembang dan menembus ke berbagai wilayah-wilayah
kekuasaan baru di seluruh penjuru dunia.
Setelah terjadi perang salib pada abad 10
hingga abad 11, tradisi tulis menulis mengalami penurunan. Kekuatan umat Islam
melemah. Pada saat yang sama, kebangkitan bangsa barat sangat dinamis. Hal ini
ditandai revolusi industri pada abad ke-17. Pada era ini -dan seterusnya-
bangsa barat terus melakukan kajian-kajian ilmiah dan inovasi-inovasi dalam
bidang teknologi. Hingga kini, hampir seluruh negara Islam berkiblat dalam ilmu
pengetahuan dan teknologi ke negara-negara barat.
Dari dua contoh peradaban dalam kilasan sejarah
di atas -baik Islam dan barat-merupakan bukti bahwa peradaban berangkat bermula dari tradisi tulis-menulis di tengah-tengah masyarakat. Bahkan hingga kini, tradisi membaca dan menulis menjadi ciri khas dari tingginya kualitas peradaban bangsa tersebut. Contoh negara-negara
yang mempunyai tradisi membaca dan menulis sangat tinggi yaitu: AS, Inggris, China, Iran dan
India. Kita bisa menyaksikan saat sekarang ini, negara-negara tersebut sangat masif
kemajuan dan saint dan teknologi.
Jadi, tradisi membaca dan menulis merupakan
bagian dari karakter bangsa. Ia menjadi indikator dominan dari kualitas peradaban. Sedangkan
negara lemah pada kedua tradisi tersebut, akan sangat berpengaruh pada
kualitas peradaban.
Penulis artikel ini melihat fenomena
kemalasan generasi muda pada dunia tulis-menulis sangat terasa. ini diperparah pada realita saat
ini, serangan budaya dari negara-negara maju telah membuat generasi
muda Islam seperti seorang bayi yang "diayun-ayun" oleh ibu nya. Saking asyik dan
nikmatnya, bayi tersebut tidur dengan pulas.
Generasi muda Islam telah terlena oleh
nikmatnya kemajuan teknologi, AI-Artificial Intelegenci,ChatGPT dan sejenisnya. Disisi lain, teknologi digital dalam bentuk alat komunikasi telah menyediakan
hiburan-hiburan yang membuat semakin malas akal pikiran untuk melakukan tindakan-tindakan
yang menguras pikiran dan energi. Dari sini munculah generasi manja yang sangat
membahayakan mereka di masa depannya. Namun lagi-lagi mereka tidak menyadarinya.
Tentu saja tidak semua generasi muda islam
seperti itu. Ada di antara mereka “gumegrah” untuk menghidupkan tradisi
tulis-menulis di tengah serbuan teknologi yang sangat massif. Salah satu nya yaitu
saudara Muhammad Taufik -yang saya tulis kata pengantar- dengan judul buku nya:
“Pelita-Pelita Dunia”. Buku yang berisi pengalaman sang penulis buku ini
pada masa-masa dulu yang penuh dengan kesan atau kenangan indah yang tentunya
menjadi bagian dari pembentukan karakter penulis buku ini.
Tentu saja, saya tidak akan masuk membaca
terlalu mendalam seluruh isi buku ini. Tujuannya agar saya menilai tulisan
saudara Muhammad Taufik secara obyektif dan tidak terbawa pengaruh pada isi tulisannya -yang bagian dari tulisan tersebut menulis tentang diriku. Dengan
cara ini, saya berusaha menilai secara obyektif atas pengamatan ku baik dalam kehidupan
sehari-hari maupun juga pada karya-karya sebelumnya. Tentu saja -menurutku- tulisannya sudah
tidak diragukan lagi. Sudah cukup banyak beberapa penghargaan yang telah ia
dapat melalui kebiasaan menulis ini.
Saudara Muhammad Taufik yang sehari-hari
sebagai seorang pendidik di MAN 2 Kabupaten Meranti -dan juga Sekretaris MUI Kabupaten
Kepulauan Meranti-merupakan sedikit dari guru yang mencintai tradisi menulis. Tentu
saja tradisi ini bukan bakat sejak kecil. Tradisi ini berangkat dari sentuhan-sentuhan
para pendidik yang mengajar dan mendidikan serta teman-teman sekitarnya mendukung dalam dunia tulis menulis. Tidak
mudah memang menumbuhkan tradisi ini. Tapi tidak menutup kemungkinan juga, bagi
siapapun bisa menjadi penulis dengan modal kemampuan dari nol. Hanya cinta dan
semangat tinggi, tulisan bisa lahir dan memberi warna dalam kehidupan.
Tentu saja siapapun bisa memberi komentar
isi buku ini -baik kelebihan maupun kekurangan- dari sudut pandang yang berbeda.
Karena memang watak tulisan seperti itu. Ia hadir memberi ruang berfikir para
pembaca untuk bisa melihat dari beragam sudut pandang. Semakin banyak
pandangan, maka semakin hidup tradisi peradaban di tengah-tengah masyarakat. Perbedaan
bisa lahir dari tradisi membaca dan menulis akan menemukan keindahan hati. Namun
perbedaan yang lahir dari miskin literasi akan menyebabkan gelapnya hati.
Sebagai penutup, semoga buku ini memberikan
konstribusi positif untuk anak didik dan generasi-generasi muda Islam tentang
pentingnya nilai-nilai kebaikan warisan dari para leluhur dan merealisasikannya
dalam karya nyata dan kemudian juga mengabadikan nya dalam karya tulis. Hanya dengan
tradisi ini, sanad keilmuan suatu bangsa dan umat beragama akan tetap hidup dan
bersinar sepanjang masa.
Bengkalis, 10 Maret 2026
IMAM GHOZALI,
Dekan Fakultas SEI IAIN Datuk Laksemana
Bengkalis/
Ketua MUI Kabupaten Kepulauan Meranti
Penulis : Imam Ghozali
Lail Al-Qadr : Menggali Ruh Peradaban Islam
08 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   115
Alarm Depresi Remaja Australia, Peringatan bagi Indonesia !
17 Desember 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   309
Mutiara Untuk Anak-Anakku
25 November 2025   Oleh : Dr.Edi Purnomo,MA   153
Bom Molotov, Sekolah dan Jiwa-Jiwa Merana
08 November 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   439
Asma Mustafa: Pendidikan Sebagai Ruh Kehidupan
11 Juni 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   604
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13550
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4544
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3560
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2940
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2870