Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Menyalakan Obor Tradisi Ulama-Sebuah Pengantar



Selasa , 10 Maret 2026



Telah dibaca :  246

Obor peradaban Islam sebenarnya terekam dengan sangat indah pada Q.S. Al-Alaq ([96]:1-5) sebagai berikut: Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan!, Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Tuhanmulah Yang Mahamulia, yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Wahyu pertama tersebut -turun pada tanggal 17 Ramadhan- berisi nilai-nilai peradaban yang mendahului zamannya. Membaca bukan tradisi masyarakat Arab kala itu. Mereka lebih menyukai menghafal sebagai simbol kecerdasan tertinggi. Melalui kemampuan tersebut, mereka bisa mendemonstrasikan syair-syair klasik, dan menghafalkan nenek moyang hingga sampai tujuh turunan lebih. Melalui kehebatan leluhurnya, mereka memprovokasi jiwa ashabiyyah kepada generasi penerusnya dan memberi motivasi membangun kebesaran suku nya.

Tradisi menghafal masyarakat Arab tetap dipertahankan. Rasulullah mulai merintis peta jalan dalam upaya  merawat peradaban yaitu melalui baca tulis. Ketika selesai Perang Badar, para tawanan -dari kaum kafirin- yang tidak mampu membayar tebusan uang, mendapatkan tugas untuk mengajar membaca dan menulis kepada sahabat nabi dan anak-anak muslim saat itu. Ini yang kemudian melahirkan para penulis ulung seperti Zaid bin Tsabit, Muawiyah dan penulis-penulis lainnya.

Tradisi menulis terus mengalami perkembangan yang sangat signifikan. Salah satu yang sangat peduli terhadap tradisi ini yaitu Umar bin Khatab. Ketika umat Islam bertempur dengan orang kafir di Yamamah, ada sekitar 70 sahabat Nabi meninggal dunia. Jumlah tersebut merupakan para penghafal al-qur’an-hufadz. Umar bin Khatab sangat sedih. Jika ini dibiarkan, maka Al-Qur’an akan menjadi fitnah dikemudian hari sebagaimana fitnah terjadi pada umat-umat sebelumnya -akibat kitab sucinya tidak dibukukan. Keprihatinan ini yang menginisiasi Umar bin Khatab menemui Khalifah Abu Bakar. Tujuannya satu yaitu perlu ada kodifikasi Al-Qur’an dalam satu mushaf.

Tradisi tulis menulis mencapai puncak peradaban dalam dunia Islam pada masa Khalifah Dinasti Abbasiyah. Bahkan bisa dikatakan pada masa tersebut, pemerintahan tersebut menjadi role model peradaban paling modern. Bahkan bisa dianggap sebagai perpindahan tongkat estafet peradaban yang sebelum berpusat di tiga negara besar: Yunani, Romawi, dan Persia. Ketika kekuasaan ketiga negara tersebut melemah, lalu muncul imperium baru pemerintah Islam, masyarakat Romawi dan Persia ramai-ramai imigrasi ke pusat-pusat peradaban Islam. Mereka sebagian besar memfokuskan pada bidang keilmuan. Wajar jika kemudian hari, para ilmuwan Islam rata-rata berasal dari daerah Persia -Iran sekarang. Melalui tangan-tangan para ilmuwan ini, tradisi menulis dan berkarya terus berkembang dan menembus ke berbagai wilayah-wilayah kekuasaan baru di seluruh penjuru dunia.

Setelah terjadi perang salib pada abad 10 hingga abad 11, tradisi tulis menulis mengalami penurunan. Kekuatan umat Islam melemah. Pada saat yang sama, kebangkitan bangsa barat sangat dinamis. Hal ini ditandai revolusi industri pada abad ke-17. Pada era ini -dan seterusnya- bangsa barat terus melakukan kajian-kajian ilmiah dan inovasi-inovasi dalam bidang teknologi. Hingga kini, hampir seluruh negara Islam berkiblat dalam ilmu pengetahuan dan teknologi ke negara-negara barat.

Dari dua contoh peradaban dalam kilasan sejarah di atas -baik Islam dan barat-merupakan bukti bahwa peradaban berangkat bermula dari tradisi tulis-menulis di tengah-tengah masyarakat. Bahkan hingga kini, tradisi membaca dan menulis menjadi ciri khas dari tingginya kualitas peradaban bangsa tersebut. Contoh negara-negara yang mempunyai tradisi membaca dan menulis sangat tinggi yaitu: AS, Inggris, China, Iran dan India. Kita bisa menyaksikan saat sekarang ini, negara-negara tersebut sangat masif kemajuan dan saint dan teknologi.

Jadi, tradisi membaca dan menulis merupakan bagian dari karakter bangsa. Ia menjadi indikator dominan dari kualitas peradaban. Sedangkan negara  lemah pada kedua tradisi tersebut, akan sangat berpengaruh pada kualitas peradaban.

Penulis artikel ini melihat fenomena kemalasan generasi muda pada dunia tulis-menulis sangat terasa. ini diperparah pada realita  saat ini, serangan budaya dari negara-negara maju telah membuat generasi muda Islam seperti seorang bayi yang "diayun-ayun" oleh ibu nya. Saking asyik dan nikmatnya, bayi tersebut tidur dengan pulas.

Generasi muda Islam telah terlena oleh nikmatnya kemajuan teknologi, AI-Artificial Intelegenci,ChatGPT dan sejenisnya. Disisi lain, teknologi digital dalam bentuk alat komunikasi telah menyediakan hiburan-hiburan yang membuat semakin malas akal pikiran untuk melakukan tindakan-tindakan yang menguras pikiran dan energi. Dari sini munculah generasi manja yang sangat membahayakan mereka di masa depannya. Namun lagi-lagi mereka tidak menyadarinya.

Tentu saja tidak semua generasi muda islam seperti itu. Ada di antara mereka “gumegrah” untuk menghidupkan tradisi tulis-menulis di tengah serbuan teknologi yang sangat massif. Salah satu nya yaitu saudara Muhammad Taufik -yang saya tulis kata pengantar- dengan judul buku nya: “Pelita-Pelita Dunia”. Buku yang berisi pengalaman sang penulis buku ini pada masa-masa dulu yang penuh dengan kesan atau kenangan indah yang tentunya menjadi bagian dari pembentukan karakter penulis buku ini.

Tentu saja, saya tidak akan masuk membaca terlalu mendalam seluruh isi buku ini. Tujuannya agar saya menilai tulisan saudara Muhammad Taufik secara obyektif dan tidak terbawa pengaruh pada isi tulisannya -yang bagian dari tulisan tersebut menulis tentang diriku. Dengan cara ini, saya berusaha menilai secara obyektif atas pengamatan ku baik dalam kehidupan sehari-hari maupun juga pada karya-karya sebelumnya. Tentu saja -menurutku- tulisannya sudah tidak diragukan lagi. Sudah cukup banyak beberapa penghargaan yang telah ia dapat melalui kebiasaan menulis ini.

Saudara Muhammad Taufik yang sehari-hari sebagai seorang pendidik di MAN 2 Kabupaten Meranti -dan juga Sekretaris MUI Kabupaten Kepulauan Meranti-merupakan sedikit dari guru yang mencintai tradisi menulis. Tentu saja tradisi ini bukan bakat sejak kecil. Tradisi ini berangkat dari sentuhan-sentuhan  para pendidik yang mengajar dan mendidikan serta teman-teman sekitarnya mendukung dalam dunia tulis menulis. Tidak mudah memang menumbuhkan tradisi ini. Tapi tidak menutup kemungkinan juga, bagi siapapun bisa menjadi penulis dengan modal kemampuan dari nol. Hanya cinta dan semangat tinggi, tulisan bisa lahir dan memberi warna dalam kehidupan.

Tentu saja siapapun bisa memberi komentar isi buku ini -baik kelebihan maupun kekurangan- dari sudut pandang yang berbeda. Karena memang watak tulisan seperti itu. Ia hadir memberi ruang berfikir para pembaca untuk bisa melihat dari beragam sudut pandang. Semakin banyak pandangan, maka semakin hidup tradisi peradaban di tengah-tengah masyarakat. Perbedaan bisa lahir dari tradisi membaca dan menulis akan menemukan keindahan hati. Namun perbedaan yang lahir dari miskin literasi akan menyebabkan gelapnya hati.

Sebagai penutup, semoga buku ini memberikan konstribusi positif untuk anak didik dan generasi-generasi muda Islam tentang pentingnya nilai-nilai kebaikan warisan dari para leluhur dan merealisasikannya dalam karya nyata dan kemudian juga mengabadikan nya dalam karya tulis. Hanya dengan tradisi ini, sanad keilmuan suatu bangsa dan umat beragama akan tetap hidup dan bersinar sepanjang masa.

Bengkalis, 10 Maret 2026

IMAM GHOZALI,

Dekan Fakultas SEI IAIN Datuk Laksemana Bengkalis/

Ketua MUI Kabupaten Kepulauan Meranti 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Lail Al-Qadr : Menggali Ruh Peradaban Islam
08 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   115

Alarm Depresi Remaja Australia, Peringatan bagi Indonesia !
17 Desember 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   309

Mutiara Untuk Anak-Anakku
25 November 2025   Oleh : Dr.Edi Purnomo,MA   153

Bom Molotov, Sekolah dan Jiwa-Jiwa Merana
08 November 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   439

Asma Mustafa: Pendidikan Sebagai Ruh Kehidupan
11 Juni 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   604

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13550


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4544


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2870