
Beberapa hari yang lalu ada berita mengejutkan.
Pemerintah Australia melarang anak-anak dan remaja-umur 16 tahun
kebawah-mengakses seluruh platform media sosial mulai tanggal 10 Oktober 2025
Pada tahun 2022, sebanyak 14,8% remaja China
mengalami gangguan mental, stress dan depresi. Tingkat gangguan mental sedemikian
tinggi membuat pemerintah China bergerak cepat membuat layanan psikologi.
"Saat ini 96 persen desa dan
lingkungan masyarakat, 95 persen sekolah dasar dan menengah, serta seluruh
perguruan tinggi dan universitas di wilayah-wilayah percontohan itu telah
memiliki akses terhadap layanan psikologis masyarakat” kata Li Dachuan, pejabat
Komisi Kesehatan Nasional China.
Dari data tersebut, dibalik balutan
modernisasi dan canggihnya teknologi di negara-negara maju, ada bayang-bayang
yang sangat menakutnya untuk masa depan mereka, yaitu lahir generasi-generasi
depresi. Semakin modern negara tersebut semakin tidak ramah terhadap remaja yang
tentu saja mengancam generasi muda di masa mendatang.
Jika dilihat dari kualitas pendidikan,
negara-negara modern selalu saja berada di peringkat paling baik di dunia. Semakin
baik pendidikan, semakin besar persaingan untuk masuk pada lembaga bergengsi yang
bergengsi. Lembaga pendidikan pun berlomba-lomba menerapkan kurikulum
pendidikan agar bisa bersaing dengan Lembaga pendidikan lain. Namun disisi
lain, penerapan ini justru menyebabkan peserta didik semakin terbebani mental
dan depressi. Lembaga-lembaga pendidikan di China menerapkan jam tidur siang
sekitar 30 menit- 1 jam. Tujuannya agar siswa bisa kembali fresh membantu normalisasi
psikologi dan emosional mereka. Selain karena itu bagian dari budaya, juga
karena kurikulum pendidikan yang sangat padat dan melelahkan.
Negara modern lainnya yaitu sangat perfeksionisme
dalam pekerjaan adalah jepang. Pekerjaan menjadi sangat penting, bahkan lebih
penting daripada rumah tangga. Itu sebabnya, negara ini termasuk negara yang
mengalami penurunan tajam populasi penduduknya.
Pola hidup dan pekerjaan yang sangat
perfeksionis telah melahirkan kekhawatiran tinggi terhadap persaingan dalam
dunia pekerjaan. Anak-anak, remaja dan para pemuda mengalami penderitaan
depresi sangat tinggi. Pada tahun 2024 total kasus bunuh diri sebanyak 20.320
orang. Anak-anak dan remaja 529 kasus
Kini Indonesia dalam bayang-bayang ancaman
korban media sosial. Di dunia, Indonesia nomor empat pengguna media sosial
setelah China, India, dan Amerika Serikat. Jika menggunakan data BPS, anak-anak
berumur 5-24 tahun sebanyak 67,65%, dan sebanyak 90,76% peserta didik
menggunakan internet untuk hiburan pada tahun 2024
Apakah generasi muda Indonesia akan menjadi
korban keganasan media sosial selanjutnya. Bisa jadi. Beberapa kasus yang marak
belakangan ini mulai dari seorang anak tega membunuh orang tuanya, siswa
melakukan penganiayaan terhadap gurunya dan siswa meledakan bom karena marah
terhadap teman-temanya adalah contoh kecil tentang bahaya media sosial dan
internet bagi kalangan anak-anak dan remaja. Dua jenis kelompok manusia yang
secara mental belum matang. Seperti kertas yang masih kosong, apa yang dilihat
itulah yang ia tulis dalam kehidupan sehari-hari. Jika yang dilihat sesuatu
yang tidak baik, maka yang akan ditulis dan dipraktekan hal-hal yang tidak
baik. Begitu juga sebaliknya.
Indonesia termasuk masyarakat yang
beragama. Mayoritas beragama Islam. Setiap agama telah mengajarkan pentingnya
beribadah kepada Tuhan. Setiap agama juga mengajarkan tentang pentingnya melatih
sabar atas segala ujian dan syukur atas segala kenikmatan. Pola ajaran agama
seperti ini sangat membantu menetralisir jiwa anak-anak dan remaja melakukan
hal-hal yang negatif.
Dalam ajaran islam tentu sangat menekankan
hal-hal tersebut. selain ada Lembaga-lembaga pendidikan yang mengajarkan
ilmu-ilmu umum, juga mengajarkan ilmu-ilmu agama yang tidak hanya mengajarkan
tentang aturan syariat dalam beribadah, tapi juga mengajarkan tentang teknik pengenal
kepada sang pencipta melalui pendekatan sufistik atau tasawuf.
Pola kehidupan seperti ini telah
dipraktekan oleh generasi Islam sejak dulu dan terus dipertahankan hingga saat
sekarang ini. Sebab pola ideal dalam Islam yaitu perpaduan antara kebutuhan
ruhaniah dan badaniah. Kebutuhan ruhaniah sebagai upaya membangun kesadaran
diri seseorang agar senantiasa menjalankan perintah-perintah Allah dan
meninggalkan segala yang dilarang oleh-Nya dengan setulus hati. kebutuhan
badaniah yaitu suatu usaha sungguh-sungguh untuk memperbaiki kebutuhan hidup
yang memberi kemanfaatan untuk diri sendiri dan orang lain.
Atas dasar format kehidupan seperti itu di
atas, saya kira sudah saatnya pemerintah perlu membatasi penggunaan media
sosial dan internet pada golongan anak-anak dan remaja. Langkah ini digunakan
mempunyai tujuan mulia yaitu agar akal dan jiwa mereka tidak terkena racun
berbisa yang disebarkan oleh media sosial. Menutup akses media sosial berarti
menyelamatkan akal, mental dan jiwa mereka. Membiarkan media sosial berarti
pemerintah telah menyiapkan generasi-generasi masa depan menjadi generasi cemas,depresi
dan kering terhadap ruh-ruh ketuhanan. Jika ini terjadi, maka ambruklah masa
depan bangsa dan negara Indonesia. Semoga saja tidak terjadi.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Hidup Bukan Tentang CEO Menyamar Gembel
31 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   143
Haul Mbah Subari; Ulama dan Penulis Rintisan
19 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   310
Menyalakan Obor Tradisi Ulama-Sebuah Pengantar
10 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   255
Lail Al-Qadr : Menggali Ruh Peradaban Islam
08 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   131
Mutiara Untuk Anak-Anakku
25 November 2025   Oleh : Dr.Edi Purnomo,MA   170
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13816
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4867
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3858
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      3517
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3258