Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

352 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Alarm Depresi Remaja Australia, Peringatan bagi Indonesia !



Rabu , 17 Desember 2025



Telah dibaca :  322

Beberapa hari yang lalu ada berita mengejutkan. Pemerintah Australia melarang anak-anak dan remaja-umur 16 tahun kebawah-mengakses seluruh platform media sosial mulai tanggal 10 Oktober 2025 (https://ameera.republika.co.id, 2025). Hal sama juga negara-negara Seperti Inggris, China, Denmark, Prancis, Jerman, Italia, Norwegia, Amerika Serikat, dan Uni Eropa. Negara-negara tersebut telah melarang anak-anak dan remaja mengakses media sosia. Alasan pemerintah negara tersebut rata-rata berkaitan upaya melindungi kesehatan mental mereka dari perundungan siber, konten berbahaya, kecanduan, serta risiko eksploitasi dan penyalahgunaan data.

Pada tahun 2022, sebanyak 14,8% remaja China mengalami gangguan mental, stress dan depresi. Tingkat gangguan mental sedemikian tinggi membuat pemerintah China bergerak cepat membuat layanan psikologi.

"Saat ini 96 persen desa dan lingkungan masyarakat, 95 persen sekolah dasar dan menengah, serta seluruh perguruan tinggi dan universitas di wilayah-wilayah percontohan itu telah memiliki akses terhadap layanan psikologis masyarakat” kata Li Dachuan, pejabat Komisi Kesehatan Nasional China.

Dari data tersebut, dibalik balutan modernisasi dan canggihnya teknologi di negara-negara maju, ada bayang-bayang yang sangat menakutnya untuk masa depan mereka, yaitu lahir generasi-generasi depresi. Semakin modern negara tersebut semakin tidak ramah terhadap remaja yang tentu saja mengancam generasi muda di masa mendatang.

Jika dilihat dari kualitas pendidikan, negara-negara modern selalu saja berada di peringkat paling baik di dunia. Semakin baik pendidikan, semakin besar persaingan untuk masuk pada lembaga bergengsi yang bergengsi. Lembaga pendidikan pun berlomba-lomba menerapkan kurikulum pendidikan agar bisa bersaing dengan Lembaga pendidikan lain. Namun disisi lain, penerapan ini justru menyebabkan peserta didik semakin terbebani mental dan depressi. Lembaga-lembaga pendidikan di China menerapkan jam tidur siang sekitar 30 menit- 1 jam. Tujuannya agar siswa bisa kembali fresh membantu normalisasi psikologi dan emosional mereka. Selain karena itu bagian dari budaya, juga karena kurikulum pendidikan yang sangat padat dan melelahkan.

Negara modern lainnya yaitu sangat perfeksionisme dalam pekerjaan adalah jepang. Pekerjaan menjadi sangat penting, bahkan lebih penting daripada rumah tangga. Itu sebabnya, negara ini termasuk negara yang mengalami penurunan tajam populasi penduduknya.

Pola hidup dan pekerjaan yang sangat perfeksionis telah melahirkan kekhawatiran tinggi terhadap persaingan dalam dunia pekerjaan. Anak-anak, remaja dan para pemuda mengalami penderitaan depresi sangat tinggi. Pada tahun 2024 total kasus bunuh diri sebanyak 20.320 orang. Anak-anak dan remaja 529 kasus (https://timesindonesia.co.id, 2025). Persaingan pendidikan dan lapangan pekerjaan serta maraknya platform media sosial telah melahirkan generasi-generasi cemas di negara-negara maju.

Kini Indonesia dalam bayang-bayang ancaman korban media sosial. Di dunia, Indonesia nomor empat pengguna media sosial setelah China, India, dan Amerika Serikat. Jika menggunakan data BPS, anak-anak berumur 5-24 tahun sebanyak 67,65%, dan sebanyak 90,76% peserta didik menggunakan internet untuk hiburan pada tahun 2024 (https://www.antaranews.com, 2025). Data tersebut menunjukan bahwa kehadiran media sosial-bahkan internet bagi usia remaja lebih besar dampak negatifnya daripada positifnya.

Apakah generasi muda Indonesia akan menjadi korban keganasan media sosial selanjutnya. Bisa jadi. Beberapa kasus yang marak belakangan ini mulai dari seorang anak tega membunuh orang tuanya, siswa melakukan penganiayaan terhadap gurunya dan siswa meledakan bom karena marah terhadap teman-temanya adalah contoh kecil tentang bahaya media sosial dan internet bagi kalangan anak-anak dan remaja. Dua jenis kelompok manusia yang secara mental belum matang. Seperti kertas yang masih kosong, apa yang dilihat itulah yang ia tulis dalam kehidupan sehari-hari. Jika yang dilihat sesuatu yang tidak baik, maka yang akan ditulis dan dipraktekan hal-hal yang tidak baik. Begitu juga sebaliknya.

Indonesia termasuk masyarakat yang beragama. Mayoritas beragama Islam. Setiap agama telah mengajarkan pentingnya beribadah kepada Tuhan. Setiap agama juga mengajarkan tentang pentingnya melatih sabar atas segala ujian dan syukur atas segala kenikmatan. Pola ajaran agama seperti ini sangat membantu menetralisir jiwa anak-anak dan remaja melakukan hal-hal yang negatif.

Dalam ajaran islam tentu sangat menekankan hal-hal tersebut. selain ada Lembaga-lembaga pendidikan yang mengajarkan ilmu-ilmu umum, juga mengajarkan ilmu-ilmu agama yang tidak hanya mengajarkan tentang aturan syariat dalam beribadah, tapi juga mengajarkan tentang teknik pengenal kepada sang pencipta melalui pendekatan sufistik atau tasawuf.

Pola kehidupan seperti ini telah dipraktekan oleh generasi Islam sejak dulu dan terus dipertahankan hingga saat sekarang ini. Sebab pola ideal dalam Islam yaitu perpaduan antara kebutuhan ruhaniah dan badaniah. Kebutuhan ruhaniah sebagai upaya membangun kesadaran diri seseorang agar senantiasa menjalankan perintah-perintah Allah dan meninggalkan segala yang dilarang oleh-Nya dengan setulus hati. kebutuhan badaniah yaitu suatu usaha sungguh-sungguh untuk memperbaiki kebutuhan hidup yang memberi kemanfaatan untuk diri sendiri dan orang lain.

Atas dasar format kehidupan seperti itu di atas, saya kira sudah saatnya pemerintah perlu membatasi penggunaan media sosial dan internet pada golongan anak-anak dan remaja. Langkah ini digunakan mempunyai tujuan mulia yaitu agar akal dan jiwa mereka tidak terkena racun berbisa yang disebarkan oleh media sosial. Menutup akses media sosial berarti menyelamatkan akal, mental dan jiwa mereka. Membiarkan media sosial berarti pemerintah telah menyiapkan generasi-generasi masa depan menjadi generasi cemas,depresi dan kering terhadap ruh-ruh ketuhanan. Jika ini terjadi, maka ambruklah masa depan bangsa dan negara Indonesia. Semoga saja tidak terjadi. 



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Hidup Bukan Tentang CEO Menyamar Gembel
31 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   143

Haul Mbah Subari; Ulama dan Penulis Rintisan
19 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   310

Menyalakan Obor Tradisi Ulama-Sebuah Pengantar
10 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   255

Lail Al-Qadr : Menggali Ruh Peradaban Islam
08 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   131

Mutiara Untuk Anak-Anakku
25 November 2025   Oleh : Dr.Edi Purnomo,MA   170

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13816


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4867


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3258