Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

322 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Haul Mbah Subari; Ulama dan Penulis Rintisan



Minggu , 19 April 2026



Telah dibaca :  132

Malam ini-Sabtu,18 April 2026-saya berkesempatan mengisi mau’idhatul hasanah pada acara haul Mbah Subari-KH.Muhammad Hadi Subari bin Abdul Qadir- di Desa Mengkirau Kabupaten Kepulauan Meranti. Ia lahir pada tahun 1912 M dan meninggal dunia pada tahun 1990 M.

Berhubung tidak biasa mengisi mau’idhatul hasanah, saya mohon izin mau’idhatul hasanah diganti dengan cerita-cerita tentang kehidupan. Tentu saja tidak ketinggalan, cerita-cerita tentang kebaikan-kebaikan dari simbah subari yang belum banyak diketahui oleh masyarakat umum-khususnya di kabupaten bengkalis dan kepulauan meranti.

Gus Arifin-Muhammad Fatkhul Arifin Subari-mengirim buku PDF. Buku biografi Mbah Subari. Tidak tebal, juga tidak tipis. Sekitar 168 halaman. Gus Arifin penulisnya. Diterbitkan pada tahun 2019 dan mendapat kata sambutan dari Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan pada masanya: Drs. Nuriman Khair, MH.

Dari buku tersebut saya seperti membaca diri sendiri. Mbah Subari yang lahir di tanah para ulama besar-Desa Termas Jawa Timur-masa kecilnya dihabiskan untuk belajar di Pesantren Termas. Ini yang kemudian Mbah Subari juga sering mendapat tambahan nama “atturmusi” atau “attermasi”. Buku yang membahas mulai dari kelahiran, masa pendidikan, perjuang melawan penjajah, berdakwah dari desa ke desa, dari kampung ke kampung, mendirikan masjid, dan sekolah-sekolah.

Mbah Subari bukan mempunyai kekayaan melimpah. Ia adalah seorang perantau dari Termas Jawa Timur. Pada masa muda sering keluar masuk ke Singapura dan kemudian hari menetap di Sumatera-Mengkerau-karena persoalan ekonomi. Meskipun demikian, geneologis intelektual para ulama di pesantren termas yang menyebabkan seluruh hidupnya digunakan untuk berdakwah dan mendirikan lembaga-lembaga pendidikan.

Sebagai seorang Ulama dan Khalifah Tarikah Qadiriyah Wa Naqsabandiyah, Mbah Subari juga seorang penulis. Ada beberapa tulisannya berkaitan dengan ibadah, wirid dan tuntunan jalan seorang hamba ma’rifat kepada Allah SWT. Saya kira ini suatu tradisi langka. Ulama sekaligus penulis. Meskipun masih sebatas rintisan dan tulisan masih berkaitan dengan ibadah, saya kira Mbah Subari telah mempelopori tentang pentingnya tradisi tulis menulis bagi seorang ulama di kabupaten bengkalis pada masa nya.

Sehebat apapun seorang ulama jika tidak meninggalkan jejak karya ilmiah, maka kehebatan nya akan hilang dan yang terjadi hanya sebatas legenda atau malah kisah-kisah bercampur dengan mitos. Ia hanya hidup menjadi cerita rakyat. Semakin banyak cerita, semakin kabur kebenaran aslinya.

Membaca biografi Mbah Subari mengingatanku pada seorang ulama agung dari Termas, Pacitan : Syekh Muhammad Mahfudz at-Tarmasi (1868-1920 M). Ia adalah seorang ulama yang mengajar shoheh bukhari di Masjid Haram dan diakui kepakarannya di dunia Islam pada bidang ilmu hadist, fiqh dan qiraat. Beberapa karya buku yang telah ditulis antara lain:  Al-Khuluashah al-Wafiyyah fi al-Qira’at al-’Asyri, Mauhibah Dzi al-Fadhl, Tanwir al-Adzhan dan Al-Khali’ah al-Bahiyyah.

Pemikiran dan cita-cita Mbah Subari diteruskan oleh putra-putranya. Melalui mereka berdiri beberapa lembaga pendidikan mulai dari tingkat dasar sampai SLTA. Bahkan pemikirannya juga menginspirasi berdiri beberapa lembaga perguruan tinggi agar bisa lahir di Kabupaten Kepulauan Meranti.

Pada kesempatan tersebut, saya juga menyampaikan kepada keluarga besar Mbah Subari bahwa acara haul ini merupakan wujud bakti anak-anak, cucu-cucu, cicit dan keluarga besar mbah subari terhadap leluhurnya. Melalui acara haul, keluarga besar Mbah Subari bisa napak tilas tentang warisan nilai-nilai kebaikan dan transmisi nilai-nilai tersebut kepada generasi-generasi Islam berikutnya.

Haul merupakan upaya mengenang sejarah dan pelajaran dari sejarah tersebut. Islam telah mengajarkan hal tersebut. Allah telah berfirman dalam Q.S. Yusuf ([12]:3) sebagai berikut:

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ اَحْسَنَ الْقَصَصِ بِمَآ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ هٰذَا الْقُرْاٰنَۖ وَاِنْ كُنْتَ مِنْ قَبْلِهٖ لَمِنَ الْغٰفِلِيْنَ ۝٣

Artinya:

Kami menceritakan kepadamu (Nabi Muhammad) kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Qur’an ini kepadamu. Sesungguhnya engkau sebelum itu termasuk orang-orang yang tidak mengetahui.

Melalui sejarah, generasi Mbah Subari bisa refleksi dan membangkitkan kembali semangat intelektual Mbah Subari kepada generasi-generasi selanjutnya. Terutama adalah keluarga besar dan umum nya masyarakat Islam di daerah tersebut.

Mengenang Sejarah nenek moyang sangat penting. Negara-negara yang hebat lahir dari bangsa yang bermartabat. Ini dicontohkan oleh negara Iran.

Jauh sebelum ada negara Amerika Serikat-berdiri pada tahun 1775 masehi, bangsa Iran sudah mencapai puncak kejayaan intelektual. Jauh sebelum itu para ilmuwan telah melahirkan temuan-temuan yang sangat cangggih. Seperti Muhammad bin Musa al-Khawarizmi pakar matematika menemukan al-jabar (sekitar 780-850 M), Ibnu Sina pakar kedokteran (980M).

Semua fakta peradaban tentu saja bisa diakses dari karya ilmiah berupa tulisan atau buku-buku karya para ilmuwan. Tanpa karya tersebut, kebesaran nama-nama ilmuwan tersebut bisa dipastikan akan ditelan oleh perjalanan sejarah.

Haul juga sebagai transmisi perjuangan kepada generasi penerusnya. Sebagaimana Mbah Subari -tentu para ulama lainnya-tidak sedikit mendapatkan ujian dalam perjuangan. Berbagai ujian dan fitnah kehidupan tidak bisa dihindari. Ujian hidup tidak terbilang jumlahnya. Namun, generasi dari keluarga besar Mbah Subari telah mendapatkan pelajaran berharga dari nenek moyangnya bahwa seorang ulama, ilmuwan dan para penegak kebenaran tidak boleh menyerah atas berbagai ujian hidup. Perjuangan merupakan garis kehidupan sejati. Kesenangan hidup hanya sebatas hiburan dan kebahagiaan sejati saat berjumpa dengan Allah SWT.

Transmisi perjuangan ini yang diharapkan bagi keturunan keluarga besar Mbah Subari tiada lain sebenarnya agar mereka tetap berkomitmen dan teguh hatinya meneruskan perjuangan nya melalui jalur ilmu,Pendidikan, dakwah dan amal Sholeh. Jalur perjuangan tersebut yang menyebabkan nama mbah subari kekal sepanjang masa. Ia akan selalu dikenang kebaikannya.

Sebagai penutup acara mau’idhatul hasanah, saya memohon kepada Allah agar kami semua mendapatkan pasangan hidup, putra dan putri sholeh atau sholehah, bermanfaat bagi dirinya, keluarganya, masyarakat, bangsa dan agama.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Menyalakan Obor Tradisi Ulama-Sebuah Pengantar
10 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   247

Lail Al-Qadr : Menggali Ruh Peradaban Islam
08 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   115

Alarm Depresi Remaja Australia, Peringatan bagi Indonesia !
17 Desember 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   309

Mutiara Untuk Anak-Anakku
25 November 2025   Oleh : Dr.Edi Purnomo,MA   153

Bom Molotov, Sekolah dan Jiwa-Jiwa Merana
08 November 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   440

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13563


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876