
Malam ini-Sabtu,18 April 2026-saya
berkesempatan mengisi mau’idhatul hasanah pada acara haul Mbah Subari-KH.Muhammad
Hadi Subari bin Abdul Qadir- di Desa Mengkirau Kabupaten Kepulauan Meranti. Ia
lahir pada tahun 1912 M dan meninggal dunia pada tahun 1990 M.
Berhubung tidak biasa mengisi mau’idhatul
hasanah, saya mohon izin mau’idhatul hasanah diganti dengan
cerita-cerita tentang kehidupan. Tentu saja tidak ketinggalan, cerita-cerita
tentang kebaikan-kebaikan dari simbah subari yang belum banyak diketahui oleh
masyarakat umum-khususnya di kabupaten bengkalis dan kepulauan meranti.
Gus Arifin-Muhammad Fatkhul Arifin Subari-mengirim
buku PDF. Buku biografi Mbah Subari. Tidak tebal, juga tidak tipis. Sekitar 168
halaman. Gus Arifin penulisnya. Diterbitkan pada tahun 2019 dan mendapat kata
sambutan dari Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan pada masanya: Drs. Nuriman
Khair, MH.
Dari buku tersebut saya seperti membaca
diri sendiri. Mbah Subari yang lahir di tanah para ulama besar-Desa Termas Jawa
Timur-masa kecilnya dihabiskan untuk belajar di Pesantren Termas. Ini yang
kemudian Mbah Subari juga sering mendapat tambahan nama “atturmusi” atau
“attermasi”. Buku yang membahas mulai dari kelahiran, masa pendidikan, perjuang
melawan penjajah, berdakwah dari desa ke desa, dari kampung ke kampung,
mendirikan masjid, dan sekolah-sekolah.
Mbah Subari bukan mempunyai kekayaan
melimpah. Ia adalah seorang perantau dari Termas Jawa Timur. Pada masa muda
sering keluar masuk ke Singapura dan kemudian hari menetap di
Sumatera-Mengkerau-karena persoalan ekonomi. Meskipun demikian, geneologis intelektual
para ulama di pesantren termas yang menyebabkan seluruh hidupnya digunakan
untuk berdakwah dan mendirikan lembaga-lembaga pendidikan.
Sebagai seorang Ulama dan Khalifah Tarikah
Qadiriyah Wa Naqsabandiyah, Mbah Subari juga seorang penulis. Ada beberapa
tulisannya berkaitan dengan ibadah, wirid dan tuntunan jalan seorang hamba
ma’rifat kepada Allah SWT. Saya kira ini suatu tradisi langka. Ulama sekaligus
penulis. Meskipun masih sebatas rintisan dan tulisan masih berkaitan dengan
ibadah, saya kira Mbah Subari telah mempelopori tentang pentingnya tradisi
tulis menulis bagi seorang ulama di kabupaten bengkalis pada masa nya.
Sehebat apapun seorang ulama jika tidak
meninggalkan jejak karya ilmiah, maka kehebatan nya akan hilang dan yang
terjadi hanya sebatas legenda atau malah kisah-kisah bercampur dengan mitos. Ia
hanya hidup menjadi cerita rakyat. Semakin banyak cerita, semakin kabur
kebenaran aslinya.
Membaca biografi Mbah Subari mengingatanku
pada seorang ulama agung dari Termas, Pacitan : Syekh Muhammad Mahfudz at-Tarmasi (1868-1920 M). Ia
adalah seorang ulama yang mengajar shoheh bukhari di Masjid Haram dan diakui
kepakarannya di dunia Islam pada bidang ilmu hadist, fiqh dan qiraat. Beberapa
karya buku yang telah ditulis antara lain:
Al-Khuluashah al-Wafiyyah fi al-Qira’at al-’Asyri, Mauhibah
Dzi al-Fadhl, Tanwir al-Adzhan dan Al-Khali’ah al-Bahiyyah.
Pemikiran dan cita-cita Mbah Subari
diteruskan oleh putra-putranya. Melalui mereka berdiri beberapa lembaga pendidikan
mulai dari tingkat dasar sampai SLTA. Bahkan pemikirannya juga menginspirasi berdiri
beberapa lembaga perguruan tinggi agar bisa lahir di Kabupaten Kepulauan
Meranti.
Pada kesempatan tersebut, saya juga
menyampaikan kepada keluarga besar Mbah Subari bahwa acara haul ini merupakan
wujud bakti anak-anak, cucu-cucu, cicit dan keluarga besar mbah subari terhadap
leluhurnya. Melalui acara haul, keluarga besar Mbah Subari bisa napak tilas
tentang warisan nilai-nilai kebaikan dan transmisi nilai-nilai tersebut kepada
generasi-generasi Islam berikutnya.
Haul merupakan upaya mengenang sejarah dan
pelajaran dari sejarah tersebut. Islam telah mengajarkan hal tersebut. Allah
telah berfirman dalam Q.S. Yusuf ([12]:3) sebagai berikut:
نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ اَحْسَنَ الْقَصَصِ
بِمَآ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ هٰذَا الْقُرْاٰنَۖ وَاِنْ كُنْتَ مِنْ قَبْلِهٖ
لَمِنَ الْغٰفِلِيْنَ ٣
Artinya:
Kami menceritakan kepadamu (Nabi Muhammad)
kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Qur’an ini kepadamu. Sesungguhnya
engkau sebelum itu termasuk orang-orang yang tidak mengetahui.
Melalui sejarah, generasi Mbah Subari bisa
refleksi dan membangkitkan kembali semangat intelektual Mbah Subari kepada
generasi-generasi selanjutnya. Terutama adalah keluarga besar dan umum nya
masyarakat Islam di daerah tersebut.
Mengenang Sejarah nenek moyang sangat
penting. Negara-negara yang hebat lahir dari bangsa yang bermartabat. Ini
dicontohkan oleh negara Iran.
Jauh sebelum ada negara Amerika
Serikat-berdiri pada tahun 1775 masehi, bangsa Iran sudah mencapai puncak
kejayaan intelektual. Jauh sebelum itu para ilmuwan telah melahirkan
temuan-temuan yang sangat cangggih. Seperti Muhammad bin Musa al-Khawarizmi
pakar matematika menemukan al-jabar (sekitar 780-850 M), Ibnu Sina pakar
kedokteran (980M).
Semua fakta peradaban tentu saja bisa
diakses dari karya ilmiah berupa tulisan atau buku-buku karya para ilmuwan.
Tanpa karya tersebut, kebesaran nama-nama ilmuwan tersebut bisa dipastikan akan
ditelan oleh perjalanan sejarah.
Haul juga sebagai transmisi perjuangan
kepada generasi penerusnya. Sebagaimana Mbah Subari -tentu para ulama
lainnya-tidak sedikit mendapatkan ujian dalam perjuangan. Berbagai ujian dan
fitnah kehidupan tidak bisa dihindari. Ujian hidup tidak terbilang jumlahnya.
Namun, generasi dari keluarga besar Mbah Subari telah mendapatkan pelajaran
berharga dari nenek moyangnya bahwa seorang ulama, ilmuwan dan para penegak
kebenaran tidak boleh menyerah atas berbagai ujian hidup. Perjuangan merupakan
garis kehidupan sejati. Kesenangan hidup hanya sebatas hiburan dan kebahagiaan
sejati saat berjumpa dengan Allah SWT.
Transmisi perjuangan ini yang diharapkan
bagi keturunan keluarga besar Mbah Subari tiada lain sebenarnya agar mereka
tetap berkomitmen dan teguh hatinya meneruskan perjuangan nya melalui jalur
ilmu,Pendidikan, dakwah dan amal Sholeh. Jalur perjuangan tersebut yang
menyebabkan nama mbah subari kekal sepanjang masa. Ia akan selalu dikenang
kebaikannya.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Menyalakan Obor Tradisi Ulama-Sebuah Pengantar
10 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   247
Lail Al-Qadr : Menggali Ruh Peradaban Islam
08 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   115
Alarm Depresi Remaja Australia, Peringatan bagi Indonesia !
17 Desember 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   309
Mutiara Untuk Anak-Anakku
25 November 2025   Oleh : Dr.Edi Purnomo,MA   153
Bom Molotov, Sekolah dan Jiwa-Jiwa Merana
08 November 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   440
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13563
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3571
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876