
Saya-mungkin juga anda-akan terasa sangat
sedih saat melihat beberapa kekurangan pada diri anak-anak kita. Ada kekurangan
secara mental, fisik, psikis dan lain-lain. Sedih rasanya. Ingin sekali
menjerit. Kadang ada campur malu. Ingin rasanya menutupinya dari kehidupan
sosial. Namun, apalah artinya. Bagaimanapun itu adalah anak kita. Apakah kita
harus menolak. Apakah ini dosa kita. Apakah Tuhan sedang tidak baik-baik saja
dengan kita, sehingga memberi anak keturunan di luar ekspetasi kita?. Banyak sekali
pertanyaan dan semakin banyak daftar pertanyaan kadang semakin menyesakan hati
dan perasaan kita.
Wahai ayah bunda…anda bukan sendirian
disini. Ada jutaan orang seperti anda. Ada juga yang stress seperti anda. Bahkan
ada yang lebih stress lagi melihat suatu fakta kehidupan yang tidak sesuai
dengan keinginan kita.
Namun di antara jutaan orang yang senasib
mereka, ada juga yang mampu membebaskan diri dari kesedihan dan rasa menderita.
Mereka tetap enjoy dan Bahagia menerima segala kekurangan yang ada pada diri
anak nya. mereka bisa melihat hikmah dari kekurangan dengan syukur dan selalu
sabar akan ketentuan Allah swt.
Di antara jutaan orang tersebut, saya kira
orang tua ku termasuk di antara mereka. Ayah dan ibu ku adalah sosok orang tua
yang bisa melihat segala sesuatu -yang menurut orang pada umum nya tidak baik-
selalu terlihat indah dan baik. Orang tua ku selalu berpedoman dengan sangat
sederhana:”Semua karya Tuhan tidak ada yang tidak batil. Semua nya sempurna”.
Tentu saja itu bukan ucapan semata. Kalimat
tersebut dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari.
Ayah ku sebagai guru ngaji selalu saja
mendapatkan tamu dari berbagai daerah. Bukan hanya dari tetangga desa, juga
dari kabupaten, antar provinsi dan kadang dari tokoh-tokoh nasional datang ke rumah
kami yang sangat sederhana. Mereka datang untuk silaturahim dan kebutuhan
lainnya. Ayah ku selalu menebarkan senyum. Menerima seluruh tamu dari seluruh
lapisan. Dari tukang becak sampai golongan pejabat dan konglomerat. Semua mendapatkan
suguhan air sama,yaitu teh manis hangat atau panas. Itu tradisi di Jawa, selalu
saja ada tamu datang dibuatkan minuman teh manis. Itu sebabnya mungkin
rata-rata orang Jawa manis-manis.
Orang tua ku mempunyai putra dan putri cukup
banyak. sekitar kurang lebih 20 putra dari 4 ibu. Semua akur, rukun dan sangat romantis.
Saya iri. Tapi apakah bisa seromantis seperti ayah ku?.
Suatu hari ada tamu bertanya tentang putra atau
putri yang paling disayang sama orang tuaku. Ayah ku menjawab: “Fatim”.
Para tamu yang berjumlah sekitar 10 orang
di rumah ku pun heran. Sebab Fatim adalah adiku. Ia adik perempuan ku. Sejak kecil
hingga meninggal dunia -sekitar berumur 33 tahun- adalah adik yang selalu
berada di kamar. Ia sakit. Pandangan mata kabur. Kondisi mental kurang. Makan disuapi.
Termasuk ketika dia buang air kecil atau besar, maka ibu ku dengan telaten
membersihkannya.
Padahal waktu itu banyak santri-santri yang
membantu di rumah ku. Tapi ibu tidak mau merepotkan mereka. Ibu ku lebih suka
merawat adiku dengan penuh kesabaran dan kebahagiaan.
Ia. Ibuku luarbiasa. Tidak ada goresan
menyesal punya adik ku yang terlihat merepotkan. Ia dengan senyum, dan bahkan kadang
guyonan merawat adiku saat minta apapun. Ketika Fatim adiku minta sesuatu, maka
saat itu juga seluruh kegiatan ditinggalkan. Ia benar-benar merawatnya dengan
penuh keikhlasan sebagai seorang ibu.
Kadang saya membayangkan ibu ku ingin rasa
nya menangis. Terlalu dalam cinta nya kepada anak-anak nya. Termasuk kepada
adiku Fatim.
Maka ketika ada tamu bertanya kepada orang
tua ku, ayah dan ibuku menjawab kurang lebih begini: “Anaku fatim adalah anak
yang paling saya cintai. Secara dhohir tidak normal. Namun ia telah membuat kami
menjadi bisa melihat hakikat kebahagiaan sejati di dunia ini, yaitu syukur dan
sabar. Benar-benar bisa memaknai syukur dan sabar bukan dari kitab, tapi dari Fatim.
Sungguh kami bersyukur punya anak seperti Fatim”.
Di era digital dan persaingan dunia sangat
ketat, kita mungkin menginginkan anak yang super sempurna. Sejak kecil harus
bisa menghitung, bisa matematika, bisa bahasa inggris, hapal al-Qur’an, pandai
ngaji, sekolah harus rangking tiga besar, juara lomba ini dan itu. Orang tua
memimpikan anak-anak sedemikian sempurna sehingga anak-anaknya dijadikan pola
hidup seperti robot.
Padahal kita mengetahui, robot adalah benda
mati. Sehebat-hebat robot jika dipaksa untuk terus bekerja maka akan rusak. Demikian
juga anak-anak. Mereka akan mengalami stresss yang sangat tinggi ketika kemampuan
dirinya tidak dipahami oleh tuntutan orang tua nya yang sedemikian tinggi.
Di era digital kita semakin kalang kabut. Semakin
bingung cara mendidik anak agar bisa bersaing di tingkat lokal, nasional dan
global. Kita akan membayangkan betapa bahagianya saat anak mendapatkan mendali
emas olimpiade fisika. Saat itu terjadi, maka kita akan terus menerus
menyebutnya dimana saja. Ada kebanggaan tersendiri dan di dalam hatinya akan
tersembul kalimat begini: “Siapa dulu donk ayah dan ibu nya”.
Kita tidak perlu terlalu membebani anak
dengan sanjungan yang terlalu tinggi bak seperti sorang artis. Seolah-olah dia
seorang artis yang sedang naik daun. Anda tidak paham, bahwa daun ada umur nya.
Saat mulai menguning, daun itu pun rontok. Anda tidak bisa berbuat apa-apa saat
rontok bukan?.
Kita tidak perlu terlalu terbebani dengan
anak-anak kita yang secara fisik dan mental tidak sesuai harapan. Tuhan sedang
menyiapkan mereka menjadi terbaik dalam keluarga anda. Mungkin tidak secara
material. Bisa jadi secara immaterial. Mungkin juga anak mu tidak menjadi
apa-apa sepanjang hidupnya. Tapi berkah anak-anak mu, secara pelan tapi pasti
anda semakin dewasa menyikapi persoalan hidup penuh dengan kematangan. Dari sini,
anak yang terbatas secara mental dan fisik telah berhasil mendidik orang tua
nya mengenal Allah swt. Bukankah ini rezeki dan prestasi terbesar dari seorang anak?
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Kursi Kosong: Catatan Kecil Yang Mimpi jadi Doktor
26 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   182
Hidup Bukan Tentang CEO Menyamar Gembel
31 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   337
Haul Mbah Subari; Ulama dan Penulis Rintisan
19 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   354
Menyalakan Obor Tradisi Ulama-Sebuah Pengantar
10 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   286
Lail Al-Qadr : Menggali Ruh Peradaban Islam
08 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   156
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14202
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      5499
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5206
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4537
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4024