Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

383 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Apapun Kondisinya, Anak Mu adalah Mutiara Hatimu



Minggu , 09 Agustus 2026



Telah dibaca :  89

Saya-mungkin juga anda-akan terasa sangat sedih saat melihat beberapa kekurangan pada diri anak-anak kita. Ada kekurangan secara mental, fisik, psikis dan lain-lain. Sedih rasanya. Ingin sekali menjerit. Kadang ada campur malu. Ingin rasanya menutupinya dari kehidupan sosial. Namun, apalah artinya. Bagaimanapun itu adalah anak kita. Apakah kita harus menolak. Apakah ini dosa kita. Apakah Tuhan sedang tidak baik-baik saja dengan kita, sehingga memberi anak keturunan di luar ekspetasi kita?. Banyak sekali pertanyaan dan semakin banyak daftar pertanyaan kadang semakin menyesakan hati dan perasaan kita.

Wahai ayah bunda…anda bukan sendirian disini. Ada jutaan orang seperti anda. Ada juga yang stress seperti anda. Bahkan ada yang lebih stress lagi melihat suatu fakta kehidupan yang tidak sesuai dengan keinginan kita.

Namun di antara jutaan orang yang senasib mereka, ada juga yang mampu membebaskan diri dari kesedihan dan rasa menderita. Mereka tetap enjoy dan Bahagia menerima segala kekurangan yang ada pada diri anak nya. mereka bisa melihat hikmah dari kekurangan dengan syukur dan selalu sabar akan ketentuan Allah swt.

Di antara jutaan orang tersebut, saya kira orang tua ku termasuk di antara mereka. Ayah dan ibu ku adalah sosok orang tua yang bisa melihat segala sesuatu -yang menurut orang pada umum nya tidak baik- selalu terlihat indah dan baik. Orang tua ku selalu berpedoman dengan sangat sederhana:”Semua karya Tuhan tidak ada yang tidak batil. Semua nya sempurna”.

Tentu saja itu bukan ucapan semata. Kalimat tersebut dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari.

Ayah ku sebagai guru ngaji selalu saja mendapatkan tamu dari berbagai daerah. Bukan hanya dari tetangga desa, juga dari kabupaten, antar provinsi dan kadang dari tokoh-tokoh nasional datang ke rumah kami yang sangat sederhana. Mereka datang untuk silaturahim dan kebutuhan lainnya. Ayah ku selalu menebarkan senyum. Menerima seluruh tamu dari seluruh lapisan. Dari tukang becak sampai golongan pejabat dan konglomerat. Semua mendapatkan suguhan air sama,yaitu teh manis hangat atau panas. Itu tradisi di Jawa, selalu saja ada tamu datang dibuatkan minuman teh manis. Itu sebabnya mungkin rata-rata orang Jawa manis-manis.

Orang tua ku mempunyai putra dan putri cukup banyak. sekitar kurang lebih 20 putra dari 4 ibu. Semua akur, rukun dan sangat romantis. Saya iri. Tapi apakah bisa seromantis seperti ayah ku?.

Suatu hari ada tamu bertanya tentang putra atau putri yang paling disayang sama orang tuaku. Ayah ku menjawab: “Fatim”.

Para tamu yang berjumlah sekitar 10 orang di rumah ku pun heran. Sebab Fatim adalah adiku. Ia adik perempuan ku. Sejak kecil hingga meninggal dunia -sekitar berumur 33 tahun- adalah adik yang selalu berada di kamar. Ia sakit. Pandangan mata kabur. Kondisi mental kurang. Makan disuapi. Termasuk ketika dia buang air kecil atau besar, maka ibu ku dengan telaten membersihkannya.

Padahal waktu itu banyak santri-santri yang membantu di rumah ku. Tapi ibu tidak mau merepotkan mereka. Ibu ku lebih suka merawat adiku dengan penuh kesabaran dan kebahagiaan.

Ia. Ibuku luarbiasa. Tidak ada goresan menyesal punya adik ku yang terlihat merepotkan. Ia dengan senyum, dan bahkan kadang guyonan merawat adiku saat minta apapun. Ketika Fatim adiku minta sesuatu, maka saat itu juga seluruh kegiatan ditinggalkan. Ia benar-benar merawatnya dengan penuh keikhlasan sebagai seorang ibu.

Kadang saya membayangkan ibu ku ingin rasa nya menangis. Terlalu dalam cinta nya kepada anak-anak nya. Termasuk kepada adiku Fatim.

Maka ketika ada tamu bertanya kepada orang tua ku, ayah dan ibuku menjawab kurang lebih begini: “Anaku fatim adalah anak yang paling saya cintai. Secara dhohir tidak normal. Namun ia telah membuat kami menjadi bisa melihat hakikat kebahagiaan sejati di dunia ini, yaitu syukur dan sabar. Benar-benar bisa memaknai syukur dan sabar bukan dari kitab, tapi dari Fatim. Sungguh kami bersyukur punya anak seperti Fatim”.

Di era digital dan persaingan dunia sangat ketat, kita mungkin menginginkan anak yang super sempurna. Sejak kecil harus bisa menghitung, bisa matematika, bisa bahasa inggris, hapal al-Qur’an, pandai ngaji, sekolah harus rangking tiga besar, juara lomba ini dan itu. Orang tua memimpikan anak-anak sedemikian sempurna sehingga anak-anaknya dijadikan pola hidup seperti robot.

Padahal kita mengetahui, robot adalah benda mati. Sehebat-hebat robot jika dipaksa untuk terus bekerja maka akan rusak. Demikian juga anak-anak. Mereka akan mengalami stresss yang sangat tinggi ketika kemampuan dirinya tidak dipahami oleh tuntutan orang tua nya yang sedemikian tinggi.

Di era digital kita semakin kalang kabut. Semakin bingung cara mendidik anak agar bisa bersaing di tingkat lokal, nasional dan global. Kita akan membayangkan betapa bahagianya saat anak mendapatkan mendali emas olimpiade fisika. Saat itu terjadi, maka kita akan terus menerus menyebutnya dimana saja. Ada kebanggaan tersendiri dan di dalam hatinya akan tersembul kalimat begini: “Siapa dulu donk ayah dan ibu nya”.

Kita tidak perlu terlalu membebani anak dengan sanjungan yang terlalu tinggi bak seperti sorang artis. Seolah-olah dia seorang artis yang sedang naik daun. Anda tidak paham, bahwa daun ada umur nya. Saat mulai menguning, daun itu pun rontok. Anda tidak bisa berbuat apa-apa saat rontok bukan?.

Kita tidak perlu terlalu terbebani dengan anak-anak kita yang secara fisik dan mental tidak sesuai harapan. Tuhan sedang menyiapkan mereka menjadi terbaik dalam keluarga anda. Mungkin tidak secara material. Bisa jadi secara immaterial. Mungkin juga anak mu tidak menjadi apa-apa sepanjang hidupnya. Tapi berkah anak-anak mu, secara pelan tapi pasti anda semakin dewasa menyikapi persoalan hidup penuh dengan kematangan. Dari sini, anak yang terbatas secara mental dan fisik telah berhasil mendidik orang tua nya mengenal Allah swt. Bukankah ini rezeki dan prestasi terbesar dari seorang anak?



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Kursi Kosong: Catatan Kecil Yang Mimpi jadi Doktor
26 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   182

Hidup Bukan Tentang CEO Menyamar Gembel
31 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   337

Haul Mbah Subari; Ulama dan Penulis Rintisan
19 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   354

Menyalakan Obor Tradisi Ulama-Sebuah Pengantar
10 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   286

Lail Al-Qadr : Menggali Ruh Peradaban Islam
08 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   156

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14202


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      5499


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5206


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4024