Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

396 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Memperpanjang Umur; Kueh dan Buku



Selasa , 15 September 2026



Telah dibaca :  77

Beberapa hari lalu saya silaturahim dengan teman-teman dari MUI dan Pengurus IPHI Kecamatan Tebingtinggi Barat. Kebetulan saya diberi waktu untuk ‘ngobrol’ lebih banyak bersama mereka. Selain ngobrol penuh kekeluargaan, pada waktu itu saya pun menyerahkan dua karya buku profil ulama tulisan beberapa dosen. Buku nya tipis, tapi bermakna. Ini merupakan catatan penting perjalanan sejarah para pendahulu yang telah mewarnai kehidupan beragama, bersosial dan juga berpolitik. Mereka merupakan para guru-guru agama di kampung yang kemudian saya menyebut mereka para ulama. Sebagai bentuk penghargaan dan husnudhan kami kepada mereka, maka teman-teman ku mengabadikan perjuangan mereka dalam menyebarkan, mengajar dan mendidiknya secara istiqomah.


Hari ini kami mengabadikan nama-nama mereka sebagai bagian orang-orang baik. Tentu makna kebaikan bukan berarti tidak ada suatu kesalahan. Manusia sebagai “basyarun” selalu saja ada sisi kebaikkan dan keburukan, kelebihan dan kekurangan. Namun orang tua kita dan guru-guru kita senantiasa mengajarkan konsep hidup “mikul duwur mendem jero”, suatu filsafat hidup yang mempunyai arti menyebut kebaikan-kebaikannya dan mengubur segala kekurangannya.

Keabadian seseorang dalam dinamika kehidupan yang sangat komplek dan dinamis memang memerlukan suatu legitimasi. Bagaimanapun kompleksitas kehidupan sangat memerlukan panduan kehidupan agar keadaan tetap terjaga dengan baik dan berjalan sesuai dengan aturan-aturan, norma dan etika. Apalagi gempuran nilai-nilai dari luar sangat liar dan progresif. semua bisa berubah begitu cepat jika komitmen nilai-nilai tidak ditanamkan secara mendalam dan terus-menerus dalam kehidupan sehari-hari.


Salah satu yang bisa menjaga nilai-nilai kebaiakan bisa terus hidup yaitu melalui tulisan-tulisan. Ia mempunyai kekuatan untuk menjaga konstitusi kehidupan bisa bertahan hidup lintas generasi. Dari tulisan tersebut juga bisa melihat Sejarah masa lalu dan Pelajaran-pelajaran berharga untuk kehidupan masa sekarang dan sebagai peta jalan untuk menatap masa depan peradaban manusia.

Tulisan-tulisan dalam bentuk buku, artikel – atau apalah namanya- hadir sebagai oksigen. Ia sumber kehidupan. Saat para penulis tidak ada lagi, buku akan terus memberikan nilai-nilai kehidupan lintas zaman. Sang penulis terasa tetap hidup dan selalu disebut di ruang-ruang diskusi, di mimbar-mimbar agama, atau forum-forum penting tentang pentingnya menatap dan menata sistem hidup yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Sang penulis mungkin sudah puluhan bahkan bisa ratusan meninggal dunia. Tapi para pelaku sejarah akan terus menerus menggunakan pemikiran-pemikirannya untuk menyelesaikan suatu problematika kehidupan. Ini suatu kisah kehidupan yang sangat indah. Kehidupan yang berkah. Kematiannya mampu menghidupkan peradaban manusia.

Tulisan tentu saja hadir bukan sebatas untuk kepentingan akademik atau sebatas persyaratan administrasi semata. Tidak, tidak hanya itu. Meskipun kita harus jujur mengakui bahwa itu juga penting sebagai konsekuensi kita hidup dalam pekerjaan yang penuh administrasi.

Filsafat Jawa mengatakan, “ngono yo ngono, nangin yo ojo ngono”, artinya kita boleh melakukan hal seperti itu-kebutuhan administrasi- tapi jangan melulu sebatas kepentingan administrasi. Ada ruang sisi hidup kita untuk kemaslahatan masyarakat yang sangat komplek, yang kita bisa masuk melalui penanaman nilai-nilai kebaikan yaitu melalui tulisan-tulisan.


Tulisan berbeda dengan ceramah. Tulisan adalah bentuk kejujuran seseorang mengungkapkan ide-ide dalam bentuk tulisan di ruang sunyi. Para penulis selalu memilih kata-kata menjadi satu kalimat agar bisa bermakna. Ia menulis bukan karena tuntutan honor atau sejenisnya. Ia menulis dalam rangka menyambung silaturahim ruhaniah dengan masyarakat lintas geografis. Penulis akan senantiasa terhubungan dengan ruhaniah akbar yang akan terus hidup dan menghidupkan manusia atau masyarakat setiap masa.

Sayangnya orang-orang yang mengambil peran sebagai penulis dan meninggalkan jejak-jejak tulisan terlalu sedikit di tengah-tengah masyarakat. Sebagian dari mereka hanya sebatas pragmatis untuk mendapatkan sepotong kueh dan ironisnya -meskipun sepotong-terlalu banyak yang antri hanya sebatas mendapatkan sepotong.

Saya tentu saja tidak begitu mempersoalkan semua itu. Saya juga tidak alergi. Sebab saya pun butuh sepotong kueh tersebut. Saya hanya sedang berfikir seorang diri apakah saya hanya seharga sepotong kueh?

Bengkalis, 15 September 2026, Jam; 12.58 WIB



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Kabut Asap dan Wedang Jahe
15 September 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   64

Tersenyum Di Hati Penuh Penderitaan
10 September 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   109

Pelukan Cinta Anak Kecil
10 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   205

Apapun Kondisinya, Anak Mu adalah Mutiara Hatimu
09 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   215

Kursi Kosong: Catatan Kecil Yang Mimpi jadi Doktor
26 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   239

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14679


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6329


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5802


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4595