
Beberapa hari lalu saya silaturahim dengan teman-teman dari MUI dan Pengurus IPHI Kecamatan Tebingtinggi Barat. Kebetulan saya diberi waktu untuk ‘ngobrol’ lebih banyak bersama mereka. Selain ngobrol penuh kekeluargaan, pada waktu itu saya pun menyerahkan dua karya buku profil ulama tulisan beberapa dosen. Buku nya tipis, tapi bermakna. Ini merupakan catatan penting perjalanan sejarah para pendahulu yang telah mewarnai kehidupan beragama, bersosial dan juga berpolitik. Mereka merupakan para guru-guru agama di kampung yang kemudian saya menyebut mereka para ulama. Sebagai bentuk penghargaan dan husnudhan kami kepada mereka, maka teman-teman ku mengabadikan perjuangan mereka dalam menyebarkan, mengajar dan mendidiknya secara istiqomah.

Hari ini kami mengabadikan nama-nama mereka
sebagai bagian orang-orang baik. Tentu makna kebaikan bukan berarti tidak ada
suatu kesalahan. Manusia sebagai “basyarun” selalu saja ada sisi
kebaikkan dan keburukan, kelebihan dan kekurangan. Namun orang tua kita dan
guru-guru kita senantiasa mengajarkan konsep hidup “mikul duwur mendem jero”,
suatu filsafat hidup yang mempunyai arti menyebut kebaikan-kebaikannya dan
mengubur segala kekurangannya.
Keabadian seseorang dalam dinamika kehidupan yang sangat komplek dan dinamis memang memerlukan suatu legitimasi. Bagaimanapun kompleksitas kehidupan sangat memerlukan panduan kehidupan agar keadaan tetap terjaga dengan baik dan berjalan sesuai dengan aturan-aturan, norma dan etika. Apalagi gempuran nilai-nilai dari luar sangat liar dan progresif. semua bisa berubah begitu cepat jika komitmen nilai-nilai tidak ditanamkan secara mendalam dan terus-menerus dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu yang bisa menjaga nilai-nilai
kebaiakan bisa terus hidup yaitu melalui tulisan-tulisan. Ia mempunyai kekuatan
untuk menjaga konstitusi kehidupan bisa bertahan hidup lintas generasi. Dari tulisan
tersebut juga bisa melihat Sejarah masa lalu dan Pelajaran-pelajaran berharga
untuk kehidupan masa sekarang dan sebagai peta jalan untuk menatap masa depan
peradaban manusia.
Tulisan-tulisan dalam bentuk buku, artikel –
atau apalah namanya- hadir sebagai oksigen. Ia sumber kehidupan. Saat para
penulis tidak ada lagi, buku akan terus memberikan nilai-nilai kehidupan lintas
zaman. Sang penulis terasa tetap hidup dan selalu disebut di ruang-ruang
diskusi, di mimbar-mimbar agama, atau forum-forum penting tentang pentingnya
menatap dan menata sistem hidup yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Sang penulis
mungkin sudah puluhan bahkan bisa ratusan meninggal dunia. Tapi para pelaku sejarah
akan terus menerus menggunakan pemikiran-pemikirannya untuk menyelesaikan suatu
problematika kehidupan. Ini suatu kisah kehidupan yang sangat indah. Kehidupan yang
berkah. Kematiannya mampu menghidupkan peradaban manusia.
Tulisan tentu saja hadir bukan sebatas
untuk kepentingan akademik atau sebatas persyaratan administrasi semata. Tidak,
tidak hanya itu. Meskipun kita harus jujur mengakui bahwa itu juga penting
sebagai konsekuensi kita hidup dalam pekerjaan yang penuh administrasi.
Filsafat Jawa mengatakan, “ngono yo ngono, nangin yo ojo ngono”, artinya kita boleh melakukan hal seperti itu-kebutuhan administrasi- tapi jangan melulu sebatas kepentingan administrasi. Ada ruang sisi hidup kita untuk kemaslahatan masyarakat yang sangat komplek, yang kita bisa masuk melalui penanaman nilai-nilai kebaikan yaitu melalui tulisan-tulisan.

Tulisan berbeda dengan ceramah. Tulisan adalah
bentuk kejujuran seseorang mengungkapkan ide-ide dalam bentuk tulisan di ruang
sunyi. Para penulis selalu memilih kata-kata menjadi satu kalimat agar bisa
bermakna. Ia menulis bukan karena tuntutan honor atau sejenisnya. Ia menulis
dalam rangka menyambung silaturahim ruhaniah dengan masyarakat lintas
geografis. Penulis akan senantiasa terhubungan dengan ruhaniah akbar yang akan
terus hidup dan menghidupkan manusia atau masyarakat setiap masa.
Sayangnya orang-orang yang mengambil peran
sebagai penulis dan meninggalkan jejak-jejak tulisan terlalu sedikit di
tengah-tengah masyarakat. Sebagian dari mereka hanya sebatas pragmatis untuk
mendapatkan sepotong kueh dan ironisnya -meskipun sepotong-terlalu banyak yang
antri hanya sebatas mendapatkan sepotong.
Saya tentu saja tidak begitu mempersoalkan
semua itu. Saya juga tidak alergi. Sebab saya pun butuh sepotong kueh tersebut.
Saya hanya sedang berfikir seorang diri apakah saya hanya seharga sepotong
kueh?
Bengkalis, 15 September 2026, Jam; 12.58
WIB
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Kabut Asap dan Wedang Jahe
15 September 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   64
Tersenyum Di Hati Penuh Penderitaan
10 September 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   109
Pelukan Cinta Anak Kecil
10 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   205
Apapun Kondisinya, Anak Mu adalah Mutiara Hatimu
09 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   215
Kursi Kosong: Catatan Kecil Yang Mimpi jadi Doktor
26 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   239
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14679
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6329
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5802
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4738
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4595