
Sekitar jam 05.15, saya menelusuri
jalan-jalan di salah satu kota batam. Pagi itu udara sangat segar. Hujan
beberapa hari lalu telah merubah langit terlihat membiru -meskipun masih
terlihat mendung tipis putih dan kehitam-hitaman. Pohon-pohon Sakura Batam
sangat rindang berjejer. Suasana terlihat asri dan dada semakin terasa segar.
“Kenapa banyak orang-orang tidur di Emper
Toko?” tanya istri
ku yang memang belum pernah melihat pemandangan sebanyak itu. Saya mencoba
mengitungnya. Ada 10 orang berpakain lusuh dan tubuh terlihat kotor tidur di Emper
Toko.
“Kelelahan mi” jawab ku singkat.
Istri ku kembali bertanya apa sebabnya
mereka tidur di emper toko. Apa karena tidak punya rumah, apa karena berkelahi
dengan istri nya, atau mungkin karena frustasi atau karena persoalan pribadi
lainnya.
Saya tidak bisa menjawab secara pasti.
Gambaran orang-orang yang sering disebut dengan gepeng -gelandangan dan
pengemis- merupakan ciri khas dari gemerlapnya kota sedang dan besar. Di
tengah hiruk pikuk mobilitas aktivitas manusia modern ada sisi ironi yang
justru bertentangan dengan makna modern itu sendiri yaitu marak nya orang-orang
yang sering disebut gepeng.
Salah satu dosen cantik yang duduk di dekat
ku mempunyai pengalaman ketika datang di kota tersebut. Saat ia duduk dan ada
pengamen, lalu dengan murah hati memberi selembar uang ribuan, maka selang
waktu yang tidak lama datang para pengamen selanjutnya. Jadi ia memberi duit
menjadi pentu masuk bagi pemgamen lain untuk melakukan aksi yang sama agar
mendapatkan simpati dari orang-orang yang sedang duduk-duduk di warung makan
atau tamu-tamu yang berada di depan toko-toko.
“Kasihan sekali mereka” kata istriku melihat orang-orang tidur di
emper toko. Tanpa selimut dan bantal. Udara yang sangat dingin di pagi hari
tidak menyebabkan mereka terganggu. Mereka terbangun saat pemilik toko datang.
Hanya bermodal baju lusuh dan kotor mereka bisa menikmati suasana tidur yang
sangat nyenyak. Suatu kenikmatan yang kadang tidak dimiliki oleh orang-orang
yang katanya kaum modern. Untuk tidur saja, kaum modern sering mengalami
kebingungan. Ia harus dibantu dengan obat penenang atau atau tidur untuk bisa
menikmati nikmatnya tidur.
“Mereka bisa jadi para kekasih Allah” jawab ku tersenyum. Istri ku tidak paham.
Ia pun tahu kalau saya selalu suka bergurau kalau menjawab
pertanyaan-pertanyaannya yang kadang guyonannya membuat dengkol.
“Maksud nya ?” tanya istri ku.
Saya menjelaskan bahwa mereka adalah
orang-orang yang berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup nya dengan mengamen
dan membawa satu kaleng dan meminta-minta dengan mengharap bantuan dari setiap
orang yang dijumpai.
Mereka melakukan semua ini karena terpaksa.
Dunia persaingan hidup saat ini sangat
kompetitif dan bahkan kadang -pada wilayah tertentu -malah sangat ganas. Mereka
ingin hidup bahagia sebagaimana orang-orang lain. Namun kenyataannya mereka
tersisihkan. Untuk menyambung hidup, mereka bekerja apa adanya. Bisa jadi
menjadi gepeng adalah pilihan terakhir nya.
“Dunia tidak adil” kata istriku.
Saya berfikir sejenak. Bisa jadi demikian.
Orang-orang yang tidak mempunyai kualifikasi secara intelektual, moral dan
etika terkadang malah yang menjadi pemenang. Sedangkan orang-orang yang
mempunyai persyaratan sebagai manusia yang agung malah terkadang mudah
tersyukur tanpa daya.
Anda bisa menyaksikan orang-orang yang
menguasai pundi-pundi kekayaan dan kekuasaan adalah orang-orang yang mungkin
tidak mempunyai kualifikasi secara intelektual, moral dan etika. Namun dengan
modal keberanian, ia bisa menyalip keadaan hidup nya lebih baik daripada
orang-orang yang mempunyai jiwa dan kepribadian agung.
Jika berfikir pada dimensi lain, bisa jadi
ini bagian dari makna keadilan dunia atas nasib-nasib para gepeng.
Hari ini para pemenang telah memperoleh jabatan,
kekayaan dan fasilitas hidupnya. Tapi sebagian mereka -yang katanya para
pemenang tersebut- bisa jadi tersandera oleh bayang-bayang ketakutan sepanjang
masa. Mereka menang tapi terjajah. Bahagia, tapi sebatas manipulatif dan ada
rasa ketakutan sepanjang masa. Mereka sebenarnya sedang menyikasi diri sendiri
atau bahkan membunuh diri sendiri secara diam-diam oleh jabatan dan kekayaan
yang telah diperolehnya. Mereka bisa senyum bebas di depan publik, tapi mereka
merintih tidak tenang, tidak bisa tidur di malam hari yang telah disediakan Tuhan
untuk istirahat.
Sedangkan kaum gepeng kita bisa melihat
secara kasat mata terlihat menyedihkan dan hina atas pekerjaannya. Tapi mereka
bisa menikmati malam harinya dengan tertawa, bernyanyi dan tidur. Suatu kenikmatan
yang sangat mewah sekali yang sering tidak dipunyai oleh orang-orang modern
yang katanya sebagai pemenang dalam kehidupan.
“Apakah ini juga termasuk Tuhan tidak
adil?” tanya istriku.
Saya tersenyum mendengar pertanyaan
tersebut. Berbicara tentang wilayah Tuhan, sebenarnya manusia hanya sebatas
melihat dari sisi positif nya. Sebab Tuhan dan manusia punya dimensi yang
berbeda dan tidak bisa ditarik secara general bahwa persoalan manusia pada saat
yang sama juga menjadi persoalan Tuhan.
Perbuatan Tuhan di luar dari jangkauan
perbuatan manusia. Ia mempunyai segala rencana yang hanya dia yang tahu dan
manusia sebatas meraba-raba dan menafsiri setiap kejadian. Itu sebabnya,
manusia hanya sebatas mempunyai otoritas untuk menduga-duga, menafsiri dan
kemudian menyakini dalam sudut pandang kebaikan-kebaikan atas segala fenomena
alam semesta ini.
Termasuk pada gepeng. Kita bisa saja
menyalahkan kepada para penguasa yang telah gagal menciptakan lapangan kerja
sehingga lahir para gepeng. Kita bisa saja menyalahkan para pengambil kebijakan
yang tidak empati terhadap nasib kaum terpinggirkan. Semakin kita mengkritik
dari sudut pandang kekurangan pada kebijakan pemerintah, semakin membuka
peluang daftar panjang kesalahan dan dosa-dosa para penguasa dan pengambil
kebijakan.
Mungkin hari ini kita bangga dengan
pemerintah negara lain yang telah menciptakan kesejahteraan bagi warga nya. Kita
dengan penuh asumsi dari sudut pandang yang sangat jauh selalu mengatakan bahwa
negara A telah berhasil mengentaskan kemiskininan, negara B telah berhasil
menciptakan kualitas pendidikan. Sedangkan negara kita sejak dulu begini-begini
saja. Bahkan terasa semakin kesini semakin kesana.
Tuhan sebagai Sang Kreator Tercerdas dan
terindah tidak pernah salah mendesain manusia dengan segala nasib nya. Hari ini
kita tidak salah hidup di negara Indonesia. Tuhan selalu saja menempatkan
setiap manusia pada tempat yang tepat. Hanya saja manusia sering tidak memahami
nya dengan kecerdasan yang tinggi dan intelektual yang matang serta kecerdasan
mata batin yang mendalam. Akibatnya, yang sering muncul hanya mengeluh dan
terus mengeluh atas nasib.
Jika menuruti kondisi, seharusnya orang
yang paling mengeluh adalah orang Jepang. Sebab geografis selalu mengalami
gempa bumi setiap waktu. Tapi mereka bisa tampil menjadi manusia tangguh. Mereka
memaksakan diri harus tangguh dengan meningkatkan kualitas diri: ilmu, skill
dan keyakinan mata hati yang sangat kuat. Akhirnya mereka menjadi pemenang.
Jika ingin menangis sebenarnya yang pantas adalah
orang-orang daratan China yang tanah bagian selatan sangat tandus,
berbukit-bukit, padat penduduk, potensi konflik dan selalu terjadi kekacauan. Ini
yang membuat mereka harus mandiri dan hijrah dari tempat yang tidak
menguntungkan. Keberanian memutuskan segala nya dengan bijak dan penuh
perhitungan matang dan keyakinan kuat, mereka menjadi pemenang.
Bagaimana dengan negara kita. Mungkin Allah
terlalu sayang menciptakan Indonesia seperti “potongan surga” yang jatuh ke
bumi. Laksana tongkat ditanam jadi pohom. Begitu subur dan makmur nya
tanah Indonesia.
Kenikmatan yang sangat besar ini nampaknya
membuat sebagian masyarakat Indonesia terlena dari zona nyaman. Saat bangsa
lain sudah bangkit dan maju, sebagian bangsa ini baru terbangun dari mimpi yang
panjang. Semua kaget dan stress. Semua ingin memperbaikinya. Tapi karena
kondisi nya tidak stabil dan penuh tekanan, yang ada adalah pertarungan ide
saling memperbaiki tapi tidak ada titik temu.
Hari ini Tuhan sedang mengajarkan tentang
arti kesadaran kolektif untuk mengakui diri atas segala kekurangan pada diri
masing-masing. Bukan hanya sebatas main lembar batu sembunyi tangan. Saling mengkritik
tapi miskin ide-ide yang solutif. Lupa melihat diri,tapi sibuk mengoreksi orang
lain.
Jika saja bangsa mampu memahami makna makna
perubahan kolektif berangkat dari perubahan diri sendiri yang tuhan ajarkan
kepada kita, Insya Allah kegaduhan, perang narasi dan saling menyalahkan satu
kelompok kepada kelompok lain tidak ada -minimal semakin sedikit folumenya.
Sayangnya hal tersebut belum ada pada diri masyarakat
Indonesia. Jadi, nampaknya bangsa Indonesia bukan hanya diuji dengan kekayaan
alam saja, tapi saat ini ujian yang paling besar bangsa ini -termasuk saya,
anda dan kita-adalah belum mampu menemukan diri kita sendiri.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Menggali Bakat Mahasiswa Melalui Komentar Tulisan
31 Oktober 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   120
Kebaikan Yang Berserakan
14 Oktober 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   343
Dari Staf Ahli Menteri Sampai Gadis Cantik Di Kafe
04 Oktober 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   228
Debat dengan Kasir
27 September 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   220
Menyatukan Akal dan Hati Ketika Ada Musibah
03 September 2026   Oleh : Imam Ghozali   178
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      15412
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      7312
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      6323
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      5498
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      5423