Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

415 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Menggali Bakat Mahasiswa Melalui Komentar Tulisan



Sabtu , 31 Oktober 2026



Telah dibaca :  49

Saya tersenyum sendiri ketika membaca komentar para mahasiswa. Ternyata mereka punya potensi sangat bagus juga dalam menyampaikan ide-ide melalui tulisan.

Berikut ini saya kutip beberapa mahasiswa memberi komentar tulisan ku yang berjudul “mimpi membuka tabir politik dan cinta”. Saya pilih beberapa komentar mereka sebagai berikut:

@ Khairun Nisa:

Menurut saya, pelajaran terkuat dari kisah ini bukan cinta dan politik, melainkan bahwa seseorang diuji pada hal yang paling ia cintai, baik anak maupun kekuasaan, dan tetap setia kepada Allah.

@ Acun

Setinggi apa pun cinta dan sebesar apa pun kekuasaan yang kita miliki, jangan pernah melupakan Allah. Sebab, kekuasaan bisa membuat manusia dihormati, tetapi keimanan dan akhlaklah yang membuatnya mulia. Jangan sampai kita sibuk mengejar dunia, tetapi kehilangan nilai-nilai yang seharusnya kita jaga.

Ada komentar dari mahasiswa. Kelihatannya ia mempunyai referensi cukup baik atau paling tidak mungkin dia aktivis yang telah diberi ajaran-ajaran tentang politik dan cinta.

@ Novi Anggraini

Di Indonesia, politik dan cinta itu tidak pernah terpisah. Kita lihat sejarah: - *Soekarno* menggunakan pesona cinta untuk politik. Cintanya dibungkus dengan agenda Bhineka Tunggal Ika. - *Tan Malaka* jujur bilang: "Saya pernah jatuh cinta 3 kali, tapi saya lebih mencintai negeri saya". Dia memilih cinta ke negeri di atas cinta pribadi.

Ada komentar yang sangat lembut tapi mengena berkaitan. Dilihat susunan kalimatnya mahasiswa tersebut punya kemampuan menulis yang baik dan perasaan yang dalam berkaitan dengan suatu persoalan.

@Syafrina Nuraini

Menurut saya, ini mengajarkan bahwa cinta dan kekuasaan sama-sama bisa menjadi ujian bagi manusia. Cinta menguji ketulusan, sedangkan kekuasaan menguji integritas. Dari kisah para nabi, kita belajar bahwa setinggi apa pun kedudukan seseorang, ia tetap harus memiliki prinsip, keimanan, dan moralitas. Sebab, tanpa itu semua, cinta bisa berubah menjadi kepentingan dan kekuasaan menjadi keserakahan.

Tentu saja ada komentar yang biasa-biasa saja. Asal-asalan. Ma’lum, saat kita menyampaikan materi di depan mahasiswa selalu saja punya respon yang berbeda-beda.

Apakah respon yang biasa-biasa saja menunjukan kualitas yang dibawah standar?. Belum tentu. Kadang memang ada mahasiswa yang berjalan lambat, tapi kenyataannya sampai pada tujuan. Ada juga yang cepat jalannya, tetapi berhenti saat perjalanan nya hampir mendekati finish.

Kita tidak bisa melihat mahasiswa sebatas pada kecerdasan kognitif. Kadang kita menemukan mahasiswa yang mempunyai kecerdasan sangat baik, nilai mata kuliah hampir selalu mendapatkan A+ atau A-, tapi pada sisi lain ada kelemahan pada kecerdasan spiritual, emosional dan sosial. Akibatnya ia hidup dalam dunia nya sendiri. Tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya. Baginya kesuksesan adalah ketika dirinya mencapai tujuan.

Apa yang terjadi? Kita bisa melihat di sekitar kita. Kadang kita juga dibuat tertawa sendiri. Mungkin anda pernah mengalami ada di antara mahasiswa kita yang secara akademik kacau. Membuat makalah tidak bisa. Skripsi amburadul. Pendek kata, dari segala kemampuan akademik nya benar-benar di bawah standar.

Faktanya pada sisi lain umpamanya pada kecerdasan emosional dan sosial sering lebih menonjol. Ia aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Ia selalu tampil membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan. Kehadirannya sungguh sangat dibutuhkan orang lain.

Wajar mahasiswa yang mempunyai kecerdasan emosional dan sosial cukup tinggi jauh lebih mendominasi dan menguasai sektor politik. Mereka banyak berkecimpung pada wilayah legislatif maupun eksekutif. Mereka ini yang kemudian mewarnai perjalanan bangsa dan negara mulai dari tingkat pusat hingga daerah.

Bangsa ini sebenarnya tidak berbeda jauh ketika berbicara Sumber Daya Manusia -SDM- bangsa lain. Baik berkaitan dengan kecerdasan intelektual, emosional, sosial dan spiritual. Kita bisa melihat WNI yang berdiaspora di luar negeri bisa mendapatkan kedudukan yang tidak kalah jauh dengan warga negara asli pribumi negara tersebut.

Hanya hanya melihat pada sisi yang mungkin belum bisa di atasi oleh sebagian bangsa atau Sebagian para pemimpin bangsa berkaitan dengan penyakit “hubd dunya”-cinta dunia. Semua terkena penyakit tersebut. orang berilmu, orang beragama dan orang yang pemahaman agama nya kurang.

Saya teringat dawuh kanjeng Nabi Muhammad SAW:

"Hampir saja bangsa-bangsa (di dunia) saling mengerumuni kalian, sebagaimana orang-orang yang makan mengerumuni piring makannya." Seseorang bertanya, "Apakah karena jumlah kami sedikit pada hari itu, wahai Rasulullah?" Rasulullah menjawab: "Bahkan jumlah kalian pada hari itu banyak. Akan tetapi, kalian seperti buih yang dibawa oleh air hujan. Allah akan mencabut rasa takut dari dada musuh kalian terhadap kalian, dan Allah akan melemparkan ke dalam hati kalian penyakit wahn." Ketika ditanya mengenai arti wahn, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa itu adalah cinta dunia dan takut mati”.

Sekali lagi, bangsa ini tidak kurang kaum intelektual. Bangsa ini tidak kurang orang-orang hebat. Bangsa ini masih sedikit orang-orang yang tujuan hidupnya benar-benar murni mencari ridha Allah dengan segala kecerdasan, keahlian, ilmunya dan segala perjuangannya. Sering perjuangan hidup kita mati-matian hanya sebatas ingin mendapatkan gelar atau jabatan apakah itu  menteri, pejabat negara, guru besar, lektor kepala dan sejenisnya. Ramai-ramai mengejar kemuliaan hidup di dunia dan terasa takut akan menghadap kepada-Nya.

Siapakah orang itu?. Jangan-jangan saya, anda dan sebagian dari kita yang belum jelas grand desain tujuan hidup nya. Jangan-jangan selama ini kita telah salah jalan untuk mendapatkan tujuan hidup yang sebenarnya. Wallahu a’lam.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Kebaikan Yang Berserakan
14 Oktober 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   333

Dari Staf Ahli Menteri Sampai Gadis Cantik Di Kafe
04 Oktober 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   226

Debat dengan Kasir
27 September 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   207

Menyatukan Akal dan Hati Ketika Ada Musibah
03 September 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Di Tambakberas, Aku Menangis
30 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   235

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      15400


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      7295


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      6316


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      5483