
Saya tersenyum sendiri ketika membaca
komentar para mahasiswa. Ternyata mereka punya potensi sangat bagus juga dalam
menyampaikan ide-ide melalui tulisan.
Berikut ini saya kutip beberapa mahasiswa
memberi komentar tulisan ku yang berjudul “mimpi membuka tabir politik dan
cinta”. Saya pilih beberapa komentar mereka sebagai berikut:
@ Khairun Nisa:
Menurut saya, pelajaran terkuat dari kisah
ini bukan cinta dan politik, melainkan bahwa seseorang diuji pada hal yang
paling ia cintai, baik anak maupun kekuasaan, dan tetap setia kepada Allah.
@ Acun
Setinggi apa pun cinta dan sebesar apa pun
kekuasaan yang kita miliki, jangan pernah melupakan Allah. Sebab, kekuasaan
bisa membuat manusia dihormati, tetapi keimanan dan akhlaklah yang membuatnya
mulia. Jangan sampai kita sibuk mengejar dunia, tetapi kehilangan nilai-nilai
yang seharusnya kita jaga.
Ada komentar dari mahasiswa. Kelihatannya
ia mempunyai referensi cukup baik atau paling tidak mungkin dia aktivis yang
telah diberi ajaran-ajaran tentang politik dan cinta.
@ Novi Anggraini
Di Indonesia, politik dan cinta itu tidak
pernah terpisah. Kita lihat sejarah: - *Soekarno* menggunakan pesona cinta
untuk politik. Cintanya dibungkus dengan agenda Bhineka Tunggal Ika. - *Tan
Malaka* jujur bilang: "Saya pernah jatuh cinta 3 kali, tapi saya lebih
mencintai negeri saya". Dia memilih cinta ke negeri di atas cinta pribadi.
Ada komentar yang sangat lembut tapi
mengena berkaitan. Dilihat susunan kalimatnya mahasiswa tersebut punya
kemampuan menulis yang baik dan perasaan yang dalam berkaitan dengan suatu
persoalan.
@Syafrina Nuraini
Menurut saya, ini mengajarkan bahwa cinta
dan kekuasaan sama-sama bisa menjadi ujian bagi manusia. Cinta menguji
ketulusan, sedangkan kekuasaan menguji integritas. Dari kisah para nabi, kita
belajar bahwa setinggi apa pun kedudukan seseorang, ia tetap harus memiliki
prinsip, keimanan, dan moralitas. Sebab, tanpa itu semua, cinta bisa berubah
menjadi kepentingan dan kekuasaan menjadi keserakahan.
Tentu saja ada komentar yang biasa-biasa
saja. Asal-asalan. Ma’lum, saat kita menyampaikan materi di depan mahasiswa
selalu saja punya respon yang berbeda-beda.
Apakah respon yang biasa-biasa saja
menunjukan kualitas yang dibawah standar?. Belum tentu. Kadang memang ada
mahasiswa yang berjalan lambat, tapi kenyataannya sampai pada tujuan. Ada juga
yang cepat jalannya, tetapi berhenti saat perjalanan nya hampir mendekati
finish.
Kita tidak bisa melihat mahasiswa sebatas
pada kecerdasan kognitif. Kadang kita menemukan mahasiswa yang mempunyai
kecerdasan sangat baik, nilai mata kuliah hampir selalu mendapatkan A+ atau A-,
tapi pada sisi lain ada kelemahan pada kecerdasan spiritual, emosional dan
sosial. Akibatnya ia hidup dalam dunia nya sendiri. Tidak peduli dengan
lingkungan sekitarnya. Baginya kesuksesan adalah ketika dirinya mencapai
tujuan.
Apa yang terjadi? Kita bisa melihat di
sekitar kita. Kadang kita juga dibuat tertawa sendiri. Mungkin anda pernah
mengalami ada di antara mahasiswa kita yang secara akademik kacau. Membuat
makalah tidak bisa. Skripsi amburadul. Pendek kata, dari segala kemampuan
akademik nya benar-benar di bawah standar.
Faktanya pada sisi lain umpamanya pada
kecerdasan emosional dan sosial sering lebih menonjol. Ia aktif dalam berbagai
kegiatan sosial. Ia selalu tampil membantu orang-orang yang membutuhkan
bantuan. Kehadirannya sungguh sangat dibutuhkan orang lain.
Wajar mahasiswa yang mempunyai kecerdasan
emosional dan sosial cukup tinggi jauh lebih mendominasi dan menguasai sektor
politik. Mereka banyak berkecimpung pada wilayah legislatif maupun eksekutif. Mereka
ini yang kemudian mewarnai perjalanan bangsa dan negara mulai dari tingkat pusat
hingga daerah.
Bangsa ini sebenarnya tidak berbeda jauh ketika
berbicara Sumber Daya Manusia -SDM- bangsa lain. Baik berkaitan dengan
kecerdasan intelektual, emosional, sosial dan spiritual. Kita bisa melihat WNI
yang berdiaspora di luar negeri bisa mendapatkan kedudukan yang tidak kalah
jauh dengan warga negara asli pribumi negara tersebut.
Hanya hanya melihat pada sisi yang mungkin
belum bisa di atasi oleh sebagian bangsa atau Sebagian para pemimpin bangsa
berkaitan dengan penyakit “hubd dunya”-cinta dunia. Semua terkena penyakit
tersebut. orang berilmu, orang beragama dan orang yang pemahaman agama nya
kurang.
Saya teringat dawuh kanjeng Nabi Muhammad SAW:
"Hampir saja bangsa-bangsa (di dunia) saling mengerumuni
kalian, sebagaimana orang-orang yang makan mengerumuni piring makannya." Seseorang
bertanya, "Apakah karena jumlah kami sedikit pada hari itu, wahai Rasulullah?"
Rasulullah menjawab: "Bahkan jumlah kalian pada hari itu banyak. Akan
tetapi, kalian seperti buih yang dibawa oleh air hujan. Allah akan mencabut
rasa takut dari dada musuh kalian terhadap kalian, dan Allah akan melemparkan
ke dalam hati kalian penyakit wahn." Ketika ditanya mengenai arti wahn, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa
itu adalah cinta dunia dan takut mati”.
Sekali lagi, bangsa ini tidak kurang kaum intelektual. Bangsa ini
tidak kurang orang-orang hebat. Bangsa ini masih sedikit orang-orang yang
tujuan hidupnya benar-benar murni mencari ridha Allah dengan segala kecerdasan,
keahlian, ilmunya dan segala perjuangannya. Sering perjuangan hidup kita
mati-matian hanya sebatas ingin mendapatkan gelar atau jabatan apakah itu menteri, pejabat negara, guru besar, lektor kepala
dan sejenisnya. Ramai-ramai mengejar kemuliaan hidup di dunia dan terasa takut
akan menghadap kepada-Nya.
Siapakah orang itu?. Jangan-jangan saya, anda dan sebagian dari
kita yang belum jelas grand desain tujuan hidup nya. Jangan-jangan
selama ini kita telah salah jalan untuk mendapatkan tujuan hidup yang
sebenarnya. Wallahu a’lam.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Kebaikan Yang Berserakan
14 Oktober 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   333
Dari Staf Ahli Menteri Sampai Gadis Cantik Di Kafe
04 Oktober 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   226
Debat dengan Kasir
27 September 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   207
Menyatukan Akal dan Hati Ketika Ada Musibah
03 September 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Di Tambakberas, Aku Menangis
30 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   235
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      15400
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      7295
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      6316
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      5483
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      5381