
Saya sudah berapa kali -sudah tidak terhitung- menulis tentang sabar ketika menghadapi masalah, menerima ketika ada persoalan yang jawabannya tidak sesuai dengan keinginan kita. Kadang ingin rasanya berontak. Kadang seperti tidak adil hukum dunia ini. Seolah-olah Tuhan membiarkan keburukan, ketidakadilan merampas kebebasan, kebahagiaan dan ketenangan hidup kita.
Saya -mungkin juga anda- mampu menulis
tentang esensi sabar dan menerima dengan lapang dada dalam bentuk
tulisan bisa berpuluh-puluh halaman. Bahkan bisa jadi sampai jadi buku
berjilid-jilid. Tapi apakah apa yang kita tulis sudah sesuai apa yang kita
alami dan rasakan? Apakah kita juga sudah bisa mempraktekan tulisan tentang
sabar dan “nrimo ing pandum” sudah bagian dari perilaku dhohir dan batin
kita?. Jangan-jangan kita masih menjadi manusia pincang. Antara ucapan dan
kenyataan belum sinkron.
Kadang kehabisan kata untuk mreteli tentang
esensi sabar atau nrimo ing pandum. Sebab memang hakikat kesabaran tersebut
bukan pada kumpulan kata atau kalimat, tapi pada perilaku sehari-hari yang
kadang bisa terlihat dalam bentuk dhohir dan kadang tersembunyi dalam batin.
Saya punya teman yang selalu memberikan
nasehat kepada ku. Ia sangat baik sekali kepada ku. Ketika ada masalah, ia
memberikan nasehat kepadaku. Begitu juga sebaliknya saat ia ada masalah
-seperti sakit dan sejenisnya- saya pun mencoba menasehati nya. Kadang saya
sedih dan mencoba untuk menghiburnya. Tapi saya lihat justru di dalam ujian
yang menimpa nya, dia justru menunjukan ketabahan luar biasa. Kadang saya
dibuat malu melihat ketabahan dan senyum nya yang terlihat tulus sampai di
lubuk hati.
Ada suatu kisah kehidupan dari seorang
bapak. Umur sekitar 78 tahun. Badan nya masih segar dan tidak terlihat udzur.
Meskipun kulit nya sudah keriput. Tapi pancaran mata sangat tajam dan terlihat
bercahaya. Suatu tanda tentang kedalaman kepasrahan nya kepada Allah SWT.
Suatu hari ia cerita tentang sakit yang
dideritanya. Sudah sekitar 11 tahun. Setiap batuk selalu saja keluar darah
segar. Sudah periksa ke dokter. Tapi kata dokter tidak ada masalah sama sekali.
Semua organ tubuh sehat.
Akibat sakit ini, nyaris selama 11 tahun ia
tidak bisa bekerja. Selalu saja tidur di kamar, makan, minum, mandi,
ibadah dan tidur. Itu gambaran rutinan
setiap hari.
Saya melihat wajah nya. terlihat tenang.
Tidak pernah marah sama sekali. Ketika istri marah-marah dia pun tetap tenang
setenang menghadapi penyakit muntah darah setiap saat ketika batuk.
“Tidak pernah tersingguh atas omelan mbah
putri?” saya
bertanya kepada bapak tadi.
“Buat apa marah, wong mbah putri
marah-marah kepada ku karena sayang kok” katanya tersenyum.
“Apa buktinya mbah putri sayang sama
jenengan?” tanyaku
“Gampang saja, selama saya sakit hampir dua
tahun sekali mbah putri punya anak. Bukankah itu bukti dia sayang dan berkah?” jawab bapak yang sekarang berumur 78 tahun
tadi.
Saya tidak akan bercerita tentang
kisah-kisah para Nabi. Kita bukan level nya. meskipun Tuhan menyediakan
pembenaran bahwa mereka bagian dari “basyarun mislukum”, tapi saya hanya
memberikan fakta dalam kehidupan sehari-hari tentang kisah orang-orang biasa
tetapi mempunyai kesabaran luarbiasa.
Saya mempunyai teman yang diuji dengan
kondisi anak-anak nya kurang membahagiakan hati. Sejak kecil sakit-sakitan dan
menghabiskan harta untuk berobat. Hingga kemudian ia tinggal di rumah yang
sangat sederhana. Hartanya habis untuk berobat anak nya.
Saya sedih melihatnya. Tapi saya melihat
mereka baik-baik saja. Mereka terlihat bahagia. Tidak ada guratan kesedihan di
wajah nya, tidak ada penyesalan dalam menjalani hidupnya. Mereka tetap enjoy
melaksanakan sekenario hidup yang sudah digariskan Tuhan kepada keluarganya.
Saya melihatnya jadi iri. Jangan-jangan ketika saya dicoba seperti mereka, saya
gagal.
Walhasil, saya -mungkin juga anda- akan mendapatkan ujian yang
beragam. Ada ujian jabatan, pangkat, pekerjaan, anak, istri atau suami, orang
tua, mertua dan tetangga kita. Ada kehadiran mereka kadang membuat dada terasa
sesak dan ingin menangis sejadi-jadinya. Kadang kita ingin hidup di atas
awan yang terlihat tenang atau hidup di dunia dongeng yang tidak ada
persoalan.
Bukan pada persoalan apa, tapi bagaimana
menyikapi ujian tersebut. Ujian hidup pasti tidak lepas dari kehidupan kita
sehari-hari. Tapi menyikapi nya dengan menyertakan Allah dalam kehidupan kita
yang membuat ujian menjadi tidak sekadar sebuah penderitaan, tetapi sebagai
jalan kita untuk semakin mengenal Allah dalam lumpur penderitaan. Tidak peduli,
sedalam apapun lumpur penderitaan, ketika kita berstatus sebagai emas tetap
emas walaupun penuh dengan bau busuk dan kotoran. Tidak mengapa dicuci sebentar
saja, emas tersebut akan bercahaya.
Penulis : Imam Ghozali
Di Tambakberas, Aku Menangis
30 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   152
Terbakar Rindu
26 Agustus 2026   Oleh : Imam Ghozali   186
Ya habibi, Ya Rasulullah, Apakah ini Artinya Cinta?
22 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   257
Tangisan Rindu; Dari Khalifah Umar Hingga Mbah Riyan
02 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   232
Obat Susah Tidur
31 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   211
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14393
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6094
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5552
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4680
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4459