
Hari ini terasa sangat letih. Ingin istirahat.
Benar-benar off dari segala aktivitas. Tapi selalu gagal. Adik-adik mahasiswa datang
menemuiku. Sahabat-sahabat dosen juga ingin silaturahim dengan membawa berbagai
pekerjaan yang harus diselesaikan. Rasanya tidak etis jika tidak menemui mereka
dengan membuat alasan-alasan yang dibuat-buat.
Ingin rasanya satu hari tidak menyentuh
laptop. Tidak usah menulis catatan harian. Lagi-lagi saya tersenyum sendiri
saat mengenang kisah Daisaku Ikeda. Ia pendiri Soka Gakkai. Ia seorang buddhis,
pendidik, dan penulis. karya terkenal yaitu manusia baru.
Saya ingat ketika Ikeda sakit keras. Demam tinggi.
Hingga bergetar tangannya, yang menyebabkan ia tidak bisa memegang pena untuk
menulis. Namun semangat menulis sangat tinggi. Saat tangan tidak bisa menulis,
ia sambil terbaring memanggil istrinya untuk merekam ucapannya. Setelah selesai,
ia pun memerintah istrinya agar mengantar rekaman tersebut ke kantor Media
Massa terkenal di Jepang kala itu. dalam keadaan sakit, ia sangat masih ingat
tugasnya. Saat sudah berumur 80 an tahun, ia masih disiplin menyelesaikan tugas
di Media Massa walaupun dalam keadaan sakit parah.
Saya ingin sekali berhenti atau tidak
menulis. Kadang dalam hati muncul suatu kalimat pesimistis: “Buat apa sih
menulis, toh dunia tetap berputar juga”. Kadang pikiran-pikiran negatif dan
ortodok muncul membunuh semangat ku untuk terus menulis.
Jika saya menuruti, maka saya tidak akan
mempunyai tulisan. Ide-ide saya pun tidak akan muncul. Sebab ide hanya muncul
ketika ada keinginan. Ide tidak muncul karena hilangnya rasa mood dalam
diri kita. Rasa mood hilang karena adanya ketidakseimbangan hormon dan neurotransmitter-zat
kimia otak. Akibatnya ada rasa malas, loyo, tidak semangat ketika mendengar
hal-hal berbau tulisan.
Ketika muncul rasa malas, lagi-lagi muncul
bayangan K.H. Abdurrahman Wahid -Gus Dur. Saya tatap foto nya. ada foto Gus Dur
di depan mesin ketik, kacamata minus sangat tebal dan jari-jemarinya sangat
asik menulis sambil mendengarkan lagu-lagu klasik dari Komposer Ludwig van Beethoven. Ia berbahasa Jerman.
Syair lagu kedamaian dan perdamaian manusia. Berikut syairnya :
• Freude, schöner Götterfunken,
(Sukacita, percikan indah para dewa,)
• Tochter aus Elysium,
(Putri dari Elysium [surga],)
• Wir betreten feuertrunken,
(Kami masuk ke dalam tempat suci-Mu,)
• Himmlische, dein Heiligtum.
(Dengan mabuk oleh api, wahai yang surgawi.)
• Deine Zauber binden wieder
(Keajaibanmu mengikat kembali)
• Was die Mode streng geteilt,
(Apa yang dipisahkan dengan kaku oleh adat/zaman,)
• Alle Menschen werden Brüder,
(Semua manusia menjadi saudara,)
• Wo dein sanfter Flügel weilt.
(Di mana sayap lembutmu bernaung.)
Saat muncul rasa malas dan terasa letih,
saya teringat kisah seorang pemuda yang bernama Nicholas James Vujicic. Seorang bayi lahir
tanpa punya tangan dan kaki. Saat di sekolah SD, ia sudah ingin bunuh diri
menceburkan diri di Kolam Renang. Saat masih remaja, ia selalu mengurung diri di
kamar karena segala keterbatasan tubuh yang secara lahiriah memalukan dan
menyedihkan. Tiap hari ia harus menerima ejekan dari teman-teman nya. Ingin
sekali mengahiri hidupnya dengan bunuh diri.
Saat mulai menginjak dewasa, ia mulai
menyadari diri. Dia berfikir realistis. Benar tidak punya tangan dan kaki. Apakah
dengan kesedihan terus-menerus membuat tangan dan kaki ada. Apakah dengan
selalu memohon kepada Tuhan, muncul suatu keajaiban secara tiba-tiba tumbuh tangan dan kaki di
tubuhnya.
Tidak. Itu tidak akan terjadi. Vujicic mulai
menyadari bahwa keajaiban bisa dibuat dengan menerima tubuh apa adanya dan
melatih secara terus menerus potensi yang ada pada dirinya.
Dengan keterbatasan kondisi tangan sepanjang
sekitar 10 cm dan tidak ada jari-jarinya. Ia belajar menulis. Hingga akhirnya
ia menjadi penulis internasional.
Dengan keterbatasan kaki yang hanya panjang
sekitar 5 cm tanpa adanya jari-jari kaki, ia bisa berenang sebagaimana wajarnya
manusia.
Di saat ia akan mengisi seminar, ada saudaranya
atau panitia acara membopong tubuhya dan meletakan di kursi. Pada saat itu,
puluhan, bahkan ratusan peserta yang semua peserta seminar punya tangan dan
kaki melakukan standing applause sebagai puncak penghargaan tertinggi
dalam seminar.
Membaca sekelumit tiga manusia hebat
tersebut di atas, saya terhibur. Mereka yang hidup serba terbatas mampu mengisi
hidup penuh dengan makna. Tulisan-tulisannya terus dibaca oleh manusia
sepanjang masa. Karya-karya terus memberi manfaat saat Sebagian di antara
mereka telah meninggal dunia. Tapi karya nya terus hidup sepanjang masa.
Saya kira orang-orang tersebut lahir dari
masa muda yang luarbiasa. Masa muda yang sudah mempunyai tujuan jelas yaitu
mendedikasikan diri untuk memberi manfaat seluas-luasnya untuk masyarakat dunia.
Pemuda dulu telah bersumpah untuk meletakan
pondasi tentang konsep masyarakat, bangsa dan negara. Semua sudah ada di depan
kita. Kini sudah ada bangsa dan negara Indonesia.
Pemuda sekarang tentu saja mengisi dengan
vitalitas yang tinggi dengan terus belajar, memperkaya skill, memperluas wawasan
dan selalu terus memberi manfaat untuk bangsa dan negara. Jenis pemuda yang
seperti ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia ketimbang sebatas
seremonial tanpa makna yang jelas realisasinya.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Saripati Santri
22 Oktober 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   175
Mahasiswa dan Gua di Padang Pasir
20 Oktober 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   332
Guru, Ulama dan Santri
04 Oktober 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   188
Taman Ilmu
03 Oktober 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   186
AI dan Buku: Ketakuan Negara Maju
23 September 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   204
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      15371
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      7213
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      6285
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      5447
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      5277