Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

411 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Saripati Santri



Kamis , 22 Oktober 2026



Telah dibaca :  60

Memperingati hari santri sebenarnya sama seperti memperingati hari-hari nasional lainnya. Tidak ada perbedaan. Yang membedakan hanya pada asesoris pakaian dan isi dari sambutannya. Tidak mungkin acara hari santri sambutannya tentang mbg atau sppg. Tidak mungkin juga hari koperasi sambutannya tentang masalah karhutla atau haji. Tentunya persoalan kopdes.

Seperti tidak mungkin seseorang menjadi khatib dengan memakai celana jin dan pakai topi cowboy. Tentu saja idealnya, formalitasnya, dan realitas di Masyarakat menggunakan baju takwa dan peci hitam atau putih. Semua ada pakem nya. kaidah ushul fiqh al’adatu muhakamah-adat kebiasaan menjadi hukum.

Memperingati hari santri adalah peringatan formalitas dan ada legalitas. Ia sudah disahkan oleh pemerintah secara resmi yaitu tanggal 22 Oktober 2026. Namanya juga memperingati hari santri, seperti memperingati ulang tahun anda atau pasangan anda. Terserah mau model apa, sah-sah saja. Apakah mau potong kueh, tiup lilin atau makan-makan di kafe bersama keluarga. Sah-sah saja. Sebab peringatan pada hakikatnya mengenang kembali tentang apa yang diperingatinya.

Kenapa diperingati?. Apa subtansi memperingati hari santri?. Semua punya pandangan berbeda. Semua juga mempunyai hak berpandangan.

Persis seperti seminar parenting. Ada dua orang narasumber dengan berbeda latar belakang. Satu narasumber sudah menikah dan satu nya lagi belum menikah. Dua-duanya menyampaikan materi sama dan solusi penyelesaian sama-sama tidak kalah hebatnya. Tentu saja, apa yang disampaikan oleh narasumber yang sudah menikah jauh lebih memahami problematika dalam mengasuh anak daripada narasumber kedua yang secara teori menguasai tapi belum mempunyai SIM -Surat Izin Menikah. Hebat, tapi narasumber kedua masih dalam tataran teori. Sehebat apapun tetap terlihat “ampang” dan hambar.

Kata orang bijak memang begitu. Orang yang mengerti manisnya gula tentu orang yang pernah makan gula. Orang yang mengerti indah nya cinta hanya orang yang pernah jatuh cinta. Dan orang yang mengerti hakikatnya santri adalah yang pernah menjadi santri, bukan orang yang mempunyai mempunyai banyak referensi tentang santri, tapi tidak pernah menjadi santri. Ia mungkin dapat gambaran santri secara komprehensif, tapi saripati nya tentu tidak akan mendapatkannya.

Secara etimologi, santri berasal dari kata sastri atau shastri yang artinya orang yang membaca atau mempelajari kitab-kitab suci. Ini pendapat dari C.C. Berg. Dalam literatur kitab turost seperti dalam kitab ta’lim muta’alim ada istilah : muta’alim artinya pelajar, mu’alim artinya guru, dan thalibul ‘ilmi artinya para pencari ilmu sama dengan muta’alim.

Ada dua kata yang cukup menarik. Dalam tradisi pesantren seluruh literatur kitab turost menggunakan bahasa arab. Tapi dalam penyebutan sehari-hari justru menggunakan bahasa sansekerta “santri” bukan muta’alim, thalib atau tilmidzun. Padahal para ulama sudah memahami betul referensi dan penguasan bahasa arab secara mutabaher -luas ilmu nya bagaikan laut.

Saya jadi teringat pada dua jenis bangunan masjid. Satu di kudus ada masjid Menara Kudus. Satu lagi di semarang ada masjid Laksemana Cheng Ho di Surabaya, Pasuruan dan Palembang. Masjid Menara Kudus bentuk ornamennya mirip sekali dengan Pura, tempat sesembahan atau tempat ibadah orang Hindu. Di Kudus sendiri juga ada kebiasaan yang unik yaitu dilarang menyembelih sapi untuk ibadah kurban. Ini simbol menjaga perasaan dan menghormati penganut agama hindu yang sangat menghormati binatang sapi.

Hal sama juga Masjid Laksemana Cheng Ho yang sangat kental sekali dengan warna merah dan bangunannya mirip Klenteng. Kadang orang susah membedakan, kecuali pada arah bangunan dan ornamen yang dinding nya dihiasai dengan kaligrafi bahasa Arab.

Keunikan dua masjid ini sebenarnya pesan yang sangat mendalam jauh sebelum islam datang ke Nusantara. Pada permulaan Islam datang, nabi telah mengikat diri untuk hidup bersama dalam ikatan politik yang kuat bersama kaum Yahudi, Nasrani dan umat-umat lain di tanah Yasrib. Ikatan yang sangat kuat tertulis dalam suatu konstitusi Piagam Madinah. Pada konstitusi tersebut dengan sangat jelas tentang pentingnya persaudaraan dalam keberagaman. Perbedaan keyakinan, agama dan budaya serta suku tidak menjadi penghalan untuk bermuamalah membangun tatanan kehidupan yang bertamadun. Untuk mengenang semangat tersebut, yasrib kemudian hari berganti menjadi madinah yang artinya peradaban.

Penulis bisa memahami apa sebabnya para ulama memberi nama para pelajar Islam tidak menggunakan bahasa arab, tapi justru menggunakan bahasa sansekerta -kata santri- yang menjadi bahasa pengantar saat itu tiada lain karena ada kesemangatan para ulama membangun peradaban keindonesiaan dengan tidak hilang identitas dirinya sebagai seorang muslim yang sangat taat kepada Allah SWT.

Jadi semangat Islam pada masa nabi dan pada masa ulama pesantren masa dulu ada kesamaan yang sangat kuat yaitu sama-sama membangun bangsa dan negara tanpa adanya diskriminasi dan perilaku eklusifitas baik dalam kehidupan politik maupun sosial. Sebab kehadiran ajaran agama yang sesungguhnya datang sebagai cahaya yang memberi sinar kepada seluruh alam, bukan sebagai api yang keinginannya selalu memprovokasi, menyulut masalah dan membakar kemarahan umat manusia.

Tentu saja sangat lucu sekali saat lidahnya melantunkan ayat suci al-Qur’an, saat keningnya penuh dengan tanda sujud kepada Allah, tapi kadang hadir di tengah-tengah masyarakat tampil laksana seperti Allah dengan mudah mengkafirkan dan memasukan neraka kepada umat Islam yang tidak sependapat dengan kelompok mereka.

Sebagai penutup, selamat hari santri. Semoga keberagaman semakin kuat dan pemerintahan semakin berjalan dengan baik dalam merealisasikan kepentingan dan kesejahteraan rakyatnya.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Mahasiswa dan Gua di Padang Pasir
20 Oktober 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   228

Guru, Ulama dan Santri
04 Oktober 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   181

Taman Ilmu
03 Oktober 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   178

AI dan Buku: Ketakuan Negara Maju
23 September 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   197

Lonceng Kematian Intelektual
19 September 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   275

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      15306


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      7098


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      6244


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      5393