
Tulisan ini terlambat. Seharus nya kemaren
menulisnya (Senin, 2 November 2026). Karena padatnya aktivitas, pagi ini baru
bisa menulis.
Senin pagi, saya dan teman-teman dosen
menuju Universitas Internasional Batam -UIB. Keluar dari mobil, saya -mungkin
juga teman-teman- melihat bangunan gedung perkuliahan yang terus digesa. Ada bangunan
baru. Saya ngobrol sebentar dengan salah satu pengelola. Ibu Lestari -kalau
tidak salah nama- seorang dosen cantik berjilbab. Ayah nya berasal dari Purworejo
Jawa Tengah, dan ibu nya etnis Tionghoa. Ngobrol cukup lama, tapi saya lupa
tanya nama. Penyakit ku selalu gitu. Sudah akrab, tapi identitas lawan bicara
pun belum tahu. Lucu khan.
Ibu dosen muda menceritakan sekilas perjalanan UIB. Perkembangan dan pertumbuhan sangat cepat. 5 tahun lebih cepat dari renstra yang disusun oleh TIM. Usia masih anak-anak, tapi pemikirannya sangat dewasa. Usia muda, tapi badan bongsor. Berdiri tahun 2000 tahun yang harus keliling dari satu sekolah ke sekolah lain mencari mahasiswa dengan status gedung sewa, pada tahun 2026 sudah punya gedung sudah terlihat mewah sekali.

“Belum ada satu tahun, kami baru saja
membuat Gedung fakultas kedokteran, habis sekitar 22 milyar” kata dosen muda yang sangat enerjik.
Ia dosen masih muda- rata rata struktural kurang
dari umur 30 tahun-, bicaranya des, des, des, tak tek tak tek. sistematis
dan menukik pada intinya. Suatu ciri khas orang yang ucapannya sesuai dengan sistem kerja yang sudah jelas
arah yang ingin dicapai. Tidak perlu banyak perdebatan. Sebab apa yang
diomongkan sudah ada dalam renstra Perguruan Tinggi. Bukan sedang ngelantur,
bukan sedang mendem, bukan juga sedang mimpi di Istana Putri Salju, dan
juga bukan sedang ngelus-ngelus Lampu Aladin.
“Muda Tapi Inspiratif” kata salah satu
dosen di dekat ku.
Saya tersenyum sambil meliriknya. Dia terlihat malu. Mungkin merasa dirinya sudah tidak muda lagi belum juga bisa memberi inspirasi kepada dunia pendidikan. Yang ada hanya menambah beban kerja dan miskin solusi. Bagaimana bisa membangun dunia pendidikan yang ideal?.

Tapi saya selalu menghiburnya. Ini adalah studi
banding. Ini bukan untuk membanding-bandingkan orang bengkalis dengan orang
batam. Kulit putih dan kulit hitam. Tidak perlu dibanding-bandingkan. Toh semua
nya ada sisi positif dan negatifnya. Kata Abu Nawas, kulit putih dan kulit
hitam sama saja. Cuma beda warna.
Apakah kita harus seperti orang batam. Terserah.
Ingin boleh, tidak pun tidak apa-apa.
Ada teman-teman dosen bisik-bisik bahwa
kalau ngajar di sini-UIB-sangat kondusif dan menyenangkan. Sambil bergurau
rasa-rasa nya ingin sekali menjadi dosen di perguruan tersebut.
Saya kira wajar. Karena ini pandangan pertama. Hal wajar pandangan
pertama begitu menggoda. Tapi watak manusia selalu saja ada rasa bosan. Tapi karena
mereka mampu menutupi rasa bosan, seolah-olah semua nya terlihat indah.
Jika orang Batam ingin tidur harus dapat duit dulu, baru bisa tidur. Kita mungkin belum punya duit, malah sudah tidur pulas. Bukan kah ini suatu kenikmatan. Mahal loooo bisa tidur. Kalau tidak percaya, tanya saja kepada mereka yang tidak bisa tidur.

“Pak Rino, Jam Berapa Visiting Lecture?” tanya
ku melalui WA.
“Jam 10.00 pak dekan” jawab nya singkat.
Saya melihat jam sudah menunjukan pukul 10.05
menit. Saya memberi kode pada pak Khairul Azan yang sangat senang sekali
bertanya menggali ilmu-illmu baru di UIB.
Setelah sesi foto bersama. Sebagian teman-teman
dosen melakukan kuliah visiting lecturer dan yang lain tinggal di
ruangan untuk melanjutkan diskusi.
Saya menunggu mereka sambil diskusi di meeting
room yang sangat representatif. Saking representatifnya, ada teman-teman ku
fokus melihat kursi yang didudukinya. Rasa-rasanya ingin membawa pulang. Untuk jimat.
“Bagaimana rasanya menjadi dosen di uib?”
tanya ku kepada mereka.
“Puas pak, mahasiswa nya sopan, aktif bertanya
dan mudah memahami materi” kata sebagian dosen memberi tanggapan.
Mereka mungkin membayangkan
mahasiswa-mahasiswa mereka yang mungkin belum sampai pada taraf tersebut.
kesopanannya mungkin 11-12, tapi dari segi aktif dan pemahaman pada materi ada perbedaan
yang mereka bisa menjelaskan sendiri.
“Bagaimana pandangan kamu?” saya tanya lagi
kepada dosen.
“ Fasilitas ruangan lux pak, semua ada”
jawab dosen.
Saya tersenyum. Lalu saya berkata kepada teman-teman
dosen bahwa perguruan tinggi negeri dan swasta berbeda. Negeri harus sesuai
dengan prosedur, swasta mereka yang membuat prosedur. Jadi semakin fleksibel
mengaturnya. Termasuk membangun sistem pendidikan yang berkualitas.
Apalagi donator UIB yang rata-rata crazy
rich-orang sangat kaya raya. Yang konon sudah tidak butuh duit. Laaa kita
saja pergi ke Indomaret disuruh membayar pakai QRIS saja masih bingung.
Tapi pertemuan ini sedikit membuka mata,
bahwa dalam segala keterbatasan kita menjadi orang hebat atau sukses dalam
dunia Pendidikan. UIB sebagai contoh. Dari yang tidak punya apa-apa kini sudah
punya apa-apa: kualitas pendidikan terus menanjak, dan pemasukan kantong pun
terus bertambah.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Menyewa Tukang Baca
03 November 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   59
Sumpah Pemuda dan Baru Pemuda
27 Oktober 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   211
Saripati Santri
22 Oktober 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   227
Mahasiswa dan Gua di Padang Pasir
20 Oktober 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   383
Guru, Ulama dan Santri
04 Oktober 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   209
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      15422
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      7364
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      6331
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      5509
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      5437