
Selesai masuk jam pertama hari ini pada jam
09.50. masuk lagi jam 10.45. Masih ada waktu untuk menulis catatan harian (Selasa,20
Oktober 2026). Catatan harian tentang kisah seorang mahasiswa -santri- yang
sedang gundah kulana memikirkan persoalan dirinya yang tidak ada
kemajuan dalam proses belajarnya. Ia merasa tidak bisa sama sekali, merasa
sangat bodoh dan tidak berguna.
Sang santri senior tersebut sudah berumur
cukup dewasa. Sekitar 30 tahun. Ia duduk seorang diri sambil melihat puluhan
santri yunior yang masih unyu-unyu sedang menghapalkan juz ama’,
fasholatan, dan doa-doa pendek. Anak anak yang masih berumur kisaran 7-12
tahun sudah bisa menghapalkan dan melalap seluruh materi agama dengan sangat
cepat.
Sedangkan dirinya, jangankan menghafalkan
seluruh Juz Ama’, menghafalkan Surat Al-Fatehah saja tidak mampu. Sungguh
ini suatu penderitaan yang akut. Perasaan sedih dan serba salah. Ia tetap di lembaga
pendidikan tersebut, tetap tidak ada kemajuan ilmu sama sekali. Ingin pulang malu
sama orang tua. Namun ia harus memutuskan dua pilihan yang sama-sama tidak menyenangkan
tersebut.
Pilihan jatuh pada pilihan kedua; pulang
kampung. Pikiran sudah bulat. Ia sudah tidak peduli lagi. Malu harus ditanggung
badan. Kenyataannya memang demikian, ia tidak bisa sama sekali. Lebih baik
berkata jujur -dan bahkan bisa jadi akan kena caci maki dari saudara-saudaranya-
dan menerima segala kenyataan jauh lebih baik daripada harus terus menderita di
lembaga pendidikan tersebut dengan ketidakbisaan secara terus menerus.
Sepanjang perjalanan pikiran dan perasaan berkecamuk
tidak karuan. Kemantapan ingin pulang mulai membayang-bayangi keraguan dalam
hati. Ada puluhan pertanyaan mbalarah berserakan dalam pikirannya.
Hujan turun sangat deras. Pemuda tersebut
segera berteduh di dekat bibir gua. Ia berdiri dan kemudian berjongkok melihat
curah hujan yang ditumpahkan dari langit begitu dahsyat. Hujan terus tiada
berhenti. Ini yang membuat dia berhenti memikirkan nasibnya dan fokus melihat
deras nya hujan di siang itu.
Saat pikiran kosong, tiba-tiba ia tertarik
pada sebuah batu yang terkena tetesan air hujan. Tertetes secara terus menerus.
Terlihat oleh nya, batu yang keras tersebut berlubang akibat oleh tetesan air
dari atas bibir gua.
Sang pemuda tadi berfikir, jika batu yang
keras bisa berlubang oleh tetesan air apalagi pikiranku. Seharusnya saya jauh
lebih bisa berubah dari batu itu.
Saat hujan selesai, ia pun tidak jadi pulang.
Tujuannya direvisi ulang. Ia kembali lagi ke lembaga pendidikan tersebut dan
merubah pola pikir dan pola strategi belajar. Perubahan yang signifikan ini kemudian
hari mengantarkan pemuda tersebut menjadi ahli fiqih dan hadist. Ia menjadi
ulama besar bermadzhab ahlusunnah wal jama’ah as-syafi’iyah.
Sahabat-sahabat ku,
Kadang kita mengalami hal serupa
sebagaimana yang dialami oleh pemuda tersebut. pada moment tersebut, kita
merasa seperti orang yang tidak mempunyai kemampuan sama sekali. merasa minder
karena -merasa- ada keterbatasan kecerdasan, kemampuan dan segala kekurangan
lainnya. Lalu dengan ekstrem kita mengamini fakta tersebut dengan menutup
kalimat penuh dengan kepasrahan. “Sudahlah, saya memang tidak bisa apa-apa
sebagaimana mereka yang hebat hebat” katanya.
Kadang takut pada bayang-bayang
ketidakpercayaan diri. Ada beberapa kelemahan yang terlihat pada diri sendiri
sering menjadi pemicu kita mendoktrin diri dengan ketidakbisaan, kebodohan dan
keterbelakangan. Saat kita duduk bersama para pejabat, kadang ada rasa minder
dan dalam hati berkata: “Saya orang biasa dan bukan apa-apa”.
Saat berdiri di dekat orang asing atau
turis, mata kita terbelalak melihat postur tubuhnya yang tinggi, kulit yang
putih, rambut pirang dan hidung mancung. Lalu kita meraba-raba kulit yang
terlihat hitam klewus, dan memegang hidung yang terasa seperti mancung
ke dalam. Lalu secara pelan-pelan, alam bawah sadar pun bekerja mengamini fakta
kekurangan tersebut. Jadilah manusia minder permanen.
Fakta-fakta ini yang kemudian menjadi
kebiasaan. Dan kebiasaan seperti ini justru melahirkan penyakit-penyakit
spiritual yang sangat membahayakan. Sebab ia akan memunculkan pola kebiasaan
gampang menyerah, masa bodoh terhadap problematika dan sering lari terhadap
persoalan yang sebenarnya butuh jawaban yang tepat dan tegas.
Pada sisi tertentu anda mengalami kesulitan
untuk merubah kebiasaan tersebut. karena ini sudah menjadi bagian pola yang
mengkarakteri diri sendiri. Karakter yang menjadi sistem kerja seluruh syaraf
tubuh kita. Ketika ada persoalan datang, sistem tersebut langsung merespon
secara negatif.
Anda harus belajar melihat diri kita
sebagai suatu sistem yang kuli bukan secara juz’iyah. Seperti anda
melihat pohon. Jika digambarkan seperti pohon masalah, maka ada daftar atau list
problematika: mulai akar, pohon, cabang dan ranting. Anda harus punya
strategi, bagaimana menebang pohon penderitaan tanpa diri anda menderita. Sebab
jika tidak benar strategi, pohon yang tebang malah justru menghantam anda
sendiri dengan sangat kuat. Tujuan nya untuk menyelesaikan masalah, justru
malah tambah bermasalah.
Harus ada prioritas. Mungkin anda perlu memotong
ranting, cabang dan selesai baru memotong batang pohon. Anda perlu
menyelesaikan persoalan yang kecil-kecil dulu yang ada di hadapan anda. Itu harus
menjadi kebiasaan. Kebiasaan baru merupakan proses memperbaiki sistem yang
sudah lama berkarat. Menjadi 1% lebih baik setiap hari ikut berperan dalam
kemajuan besar jangka Panjang. 1% memotong ranting-ranting kebiasaan negatif
dan mengisi yang positif jauh lebih bermakna daripada mengeluh setiap hari.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Guru, Ulama dan Santri
04 Oktober 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   174
Taman Ilmu
03 Oktober 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   171
AI dan Buku: Ketakuan Negara Maju
23 September 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   197
Lonceng Kematian Intelektual
19 September 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   273
Jika Jodoh Mu, Selalu Saja Ada Jalan Untuk Bersatu
16 September 2026   Oleh : autobiografi   207
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      15298
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      7071
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      6229
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      5385
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      5041