Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

410 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Mahasiswa dan Gua di Padang Pasir



Selasa , 20 Oktober 2026



Telah dibaca :  96

Selesai masuk jam pertama hari ini pada jam 09.50. masuk lagi jam 10.45. Masih ada waktu untuk menulis catatan harian (Selasa,20 Oktober 2026). Catatan harian tentang kisah seorang mahasiswa -santri- yang sedang gundah kulana memikirkan persoalan dirinya yang tidak ada kemajuan dalam proses belajarnya. Ia merasa tidak bisa sama sekali, merasa sangat bodoh dan tidak berguna.

Sang santri senior tersebut sudah berumur cukup dewasa. Sekitar 30 tahun. Ia duduk seorang diri sambil melihat puluhan santri yunior yang masih unyu-unyu sedang menghapalkan juz ama’, fasholatan, dan doa-doa pendek. Anak anak yang masih berumur kisaran 7-12 tahun sudah bisa menghapalkan dan melalap seluruh materi agama dengan sangat cepat.

Sedangkan dirinya, jangankan menghafalkan seluruh Juz Ama’, menghafalkan Surat Al-Fatehah saja tidak mampu. Sungguh ini suatu penderitaan yang akut. Perasaan sedih dan serba salah. Ia tetap di lembaga pendidikan tersebut, tetap tidak ada kemajuan ilmu sama sekali. Ingin pulang malu sama orang tua. Namun ia harus memutuskan dua pilihan yang sama-sama tidak menyenangkan tersebut.

Pilihan jatuh pada pilihan kedua; pulang kampung. Pikiran sudah bulat. Ia sudah tidak peduli lagi. Malu harus ditanggung badan. Kenyataannya memang demikian, ia tidak bisa sama sekali. Lebih baik berkata jujur -dan bahkan bisa jadi akan kena caci maki dari saudara-saudaranya- dan menerima segala kenyataan jauh lebih baik daripada harus terus menderita di lembaga pendidikan tersebut dengan ketidakbisaan secara terus menerus.

Sepanjang perjalanan pikiran dan perasaan berkecamuk tidak karuan. Kemantapan ingin pulang mulai membayang-bayangi keraguan dalam hati. Ada puluhan pertanyaan mbalarah berserakan dalam pikirannya.

Hujan turun sangat deras. Pemuda tersebut segera berteduh di dekat bibir gua. Ia berdiri dan kemudian berjongkok melihat curah hujan yang ditumpahkan dari langit begitu dahsyat. Hujan terus tiada berhenti. Ini yang membuat dia berhenti memikirkan nasibnya dan fokus melihat deras nya  hujan di siang itu.

Saat pikiran kosong, tiba-tiba ia tertarik pada sebuah batu yang terkena tetesan air hujan. Tertetes secara terus menerus. Terlihat oleh nya, batu yang keras tersebut berlubang akibat oleh tetesan air dari atas bibir gua.

Sang pemuda tadi berfikir, jika batu yang keras bisa berlubang oleh tetesan air apalagi pikiranku. Seharusnya saya jauh lebih bisa berubah dari batu itu.

Saat hujan selesai, ia pun tidak jadi pulang. Tujuannya direvisi ulang. Ia kembali lagi ke lembaga pendidikan tersebut dan merubah pola pikir dan pola strategi belajar. Perubahan yang signifikan ini kemudian hari mengantarkan pemuda tersebut menjadi ahli fiqih dan hadist. Ia menjadi ulama besar bermadzhab ahlusunnah wal jama’ah as-syafi’iyah.

Sahabat-sahabat ku,

Kadang kita mengalami hal serupa sebagaimana yang dialami oleh pemuda tersebut. pada moment tersebut, kita merasa seperti orang yang tidak mempunyai kemampuan sama sekali. merasa minder karena -merasa- ada keterbatasan kecerdasan, kemampuan dan segala kekurangan lainnya. Lalu dengan ekstrem kita mengamini fakta tersebut dengan menutup kalimat penuh dengan kepasrahan. “Sudahlah, saya memang tidak bisa apa-apa sebagaimana mereka yang hebat hebat” katanya.

Kadang takut pada bayang-bayang ketidakpercayaan diri. Ada beberapa kelemahan yang terlihat pada diri sendiri sering menjadi pemicu kita mendoktrin diri dengan ketidakbisaan, kebodohan dan keterbelakangan. Saat kita duduk bersama para pejabat, kadang ada rasa minder dan dalam hati berkata: “Saya orang biasa dan bukan apa-apa”.

Saat berdiri di dekat orang asing atau turis, mata kita terbelalak melihat postur tubuhnya yang tinggi, kulit yang putih, rambut pirang dan hidung mancung. Lalu kita meraba-raba kulit yang terlihat hitam klewus, dan memegang hidung yang terasa seperti mancung ke dalam. Lalu secara pelan-pelan, alam bawah sadar pun bekerja mengamini fakta kekurangan tersebut. Jadilah manusia minder permanen.

Fakta-fakta ini yang kemudian menjadi kebiasaan. Dan kebiasaan seperti ini justru melahirkan penyakit-penyakit spiritual yang sangat membahayakan. Sebab ia akan memunculkan pola kebiasaan gampang menyerah, masa bodoh terhadap problematika dan sering lari terhadap persoalan yang sebenarnya butuh jawaban yang tepat dan tegas.

Pada sisi tertentu anda mengalami kesulitan untuk merubah kebiasaan tersebut. karena ini sudah menjadi bagian pola yang mengkarakteri diri sendiri. Karakter yang menjadi sistem kerja seluruh syaraf tubuh kita. Ketika ada persoalan datang, sistem tersebut langsung merespon secara negatif.

Anda harus belajar melihat diri kita sebagai suatu sistem yang kuli bukan secara juz’iyah. Seperti anda melihat pohon. Jika digambarkan seperti pohon masalah, maka ada daftar atau list problematika: mulai akar, pohon, cabang dan ranting. Anda harus punya strategi, bagaimana menebang pohon penderitaan tanpa diri anda menderita. Sebab jika tidak benar strategi, pohon yang tebang malah justru menghantam anda sendiri dengan sangat kuat. Tujuan nya untuk menyelesaikan masalah, justru malah tambah bermasalah.

Harus ada prioritas. Mungkin anda perlu memotong ranting, cabang dan selesai baru memotong batang pohon. Anda perlu menyelesaikan persoalan yang kecil-kecil dulu yang ada di hadapan anda. Itu harus menjadi kebiasaan. Kebiasaan baru merupakan proses memperbaiki sistem yang sudah lama berkarat. Menjadi 1% lebih baik setiap hari ikut berperan dalam kemajuan besar jangka Panjang. 1% memotong ranting-ranting kebiasaan negatif dan mengisi yang positif jauh lebih bermakna daripada mengeluh setiap hari. 



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Guru, Ulama dan Santri
04 Oktober 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   174

Taman Ilmu
03 Oktober 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   171

AI dan Buku: Ketakuan Negara Maju
23 September 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   197

Lonceng Kematian Intelektual
19 September 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   273

Jika Jodoh Mu, Selalu Saja Ada Jalan Untuk Bersatu
16 September 2026   Oleh : autobiografi   207

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      15298


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      7071


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      6229


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      5385