Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

413 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Sumpah Pemuda dan Baru Pemuda



Selasa , 27 Oktober 2026



Telah dibaca :  113

Hari ini terasa sangat letih. Ingin istirahat. Benar-benar off dari segala aktivitas. Tapi selalu gagal. Adik-adik mahasiswa datang menemuiku. Sahabat-sahabat dosen juga ingin silaturahim dengan membawa berbagai pekerjaan yang harus diselesaikan. Rasanya tidak etis jika tidak menemui mereka dengan membuat alasan-alasan yang dibuat-buat.

Ingin rasanya satu hari tidak menyentuh laptop. Tidak usah menulis catatan harian. Lagi-lagi saya tersenyum sendiri saat mengenang kisah Daisaku Ikeda. Ia pendiri Soka Gakkai. Ia seorang buddhis, pendidik, dan penulis. karya terkenal yaitu manusia baru.

Saya ingat ketika Ikeda sakit keras. Demam tinggi. Hingga bergetar tangannya, yang menyebabkan ia tidak bisa memegang pena untuk menulis. Namun semangat menulis sangat tinggi. Saat tangan tidak bisa menulis, ia sambil terbaring memanggil istrinya untuk merekam ucapannya. Setelah selesai, ia pun memerintah istrinya agar mengantar rekaman tersebut ke kantor Media Massa terkenal di Jepang kala itu. Dalam keadaan sakit, ia masih ingat tugasnya. Saat sudah berumur 80 an tahun, ia masih disiplin menyelesaikan tugas menulis di Media Massa tepat waktu. Walaupun dalam keadaan sakit parah.

Saya ingin sekali berhenti atau tidak menulis. Kadang dalam hati muncul suatu kalimat pesimistis: “Buat apa sih menulis, toh dunia tetap berputar juga”. Kadang pikiran-pikiran negatif dan ortodok muncul membunuh semangat ku untuk terus menulis.

Jika saya menuruti, maka saya tidak akan mempunyai tulisan. Ide-ide saya pun tidak akan muncul. Sebab ide hanya muncul ketika ada keinginan, ada vitalitas yang membara untuk mencapai keinginan tersebut. Ide tidak muncul ketika hilangnya rasa mood dalam diri kita. Rasa mood hilang karena adanya ketidakseimbangan hormon dan neurotransmitter-zat kimia otak. Tumbuhlah dengan subur ada rasa malas, loyo, tidak semangat ketika mendengar hal-hal berbau tulisan.

Ketika muncul rasa malas, lagi-lagi muncul bayangan K.H. Abdurrahman Wahid -Gus Dur. Saya tatap foto nya. ada foto Gus Dur di depan mesin ketik, kacamata minus sangat tebal dan jari-jemarinya sangat asik menulis sambil mendengarkan lagu-lagu klasik dari  Komposer Ludwig van Beethoven. Lagu berbahasa Jerman. Syair lagu tentang kedamaian dan perdamaian manusia. Berikut syairnya :

• Freude, schöner Götterfunken,

(Sukacita, percikan indah para dewa,)

• Tochter aus Elysium,

(Putri dari Elysium [surga],)

• Wir betreten feuertrunken,

(Kami masuk ke dalam tempat suci-Mu,)

• Himmlische, dein Heiligtum.

(Dengan mabuk oleh api, wahai yang surgawi.)

• Deine Zauber binden wieder

(Keajaibanmu mengikat kembali)

• Was die Mode streng geteilt,

(Apa yang dipisahkan dengan kaku oleh adat/zaman,)

• Alle Menschen werden Brüder,

(Semua manusia menjadi saudara,)

• Wo dein sanfter Flügel weilt.

(Di mana sayap lembutmu bernaung.)

Saat muncul rasa malas dan terasa letih, saya teringat kisah seorang pemuda yang bernama  Nicholas James Vujicic. Seorang bayi lahir tanpa punya tangan dan kaki. Saat di sekolah SD, ia sudah ingin bunuh diri menceburkan diri di Kolam Renang. Saat masih remaja, ia selalu mengurung diri di kamar karena segala keterbatasan tubuh yang secara lahiriah memalukan dan menyedihkan. Tiap hari ia harus menerima ejekan dari teman-teman nya. Ingin sekali mengahiri hidupnya dengan bunuh diri.

Saat mulai menginjak dewasa, ia mulai menyadari diri. Dia berfikir realistis. Benar tidak punya tangan dan kaki. Apakah dengan kesedihan terus-menerus membuat tangan dan kaki ada. Apakah dengan selalu memohon kepada Tuhan, muncul suatu keajaiban  secara tiba-tiba tumbuh tangan dan kaki di tubuhnya.

Tidak. Itu tidak akan terjadi. Vujicic mulai menyadari bahwa keajaiban bisa dibuat dengan menerima tubuh apa adanya dan melatih secara terus menerus potensi yang ada pada dirinya.

Dengan keterbatasan kondisi tangan sepanjang sekitar 10 cm dan tidak ada jari-jarinya. Ia belajar menulis. Hingga akhirnya ia menjadi penulis internasional.

Dengan keterbatasan kaki yang hanya panjang sekitar 5 cm tanpa adanya jari-jari kaki, ia bisa berenang sebagaimana wajarnya manusia.

Di saat ia akan mengisi seminar, ada saudaranya atau panitia acara membopong tubuhya dan meletakan di kursi. Pada saat itu, puluhan, bahkan ratusan peserta yang semua peserta seminar punya tangan dan kaki melakukan standing applause sebagai puncak penghargaan tertinggi dalam seminar.

Membaca sekelumit tiga manusia hebat tersebut di atas, saya terhibur. Mereka yang hidup serba terbatas mampu mengisi hidup penuh dengan makna. Tulisan-tulisannya terus dibaca oleh manusia sepanjang masa. Karya-karya terus memberi manfaat saat Sebagian di antara mereka telah meninggal dunia. Tapi karya nya terus hidup sepanjang masa.

Saya kira orang-orang tersebut lahir dari masa muda yang luarbiasa. Masa muda yang sudah mempunyai tujuan jelas yaitu mendedikasikan diri untuk memberi manfaat seluas-luasnya untuk masyarakat dunia.

Pemuda dulu telah bersumpah untuk meletakan pondasi tentang konsep masyarakat, bangsa dan negara. Semua sudah ada di depan kita. Kini sudah ada bangsa dan negara Indonesia.

Pemuda sekarang -apalagi di era digitial- tentu saja seharusnya mempunyai vitalitas yang sangat tinggi dengan terus belajar, memperkaya skill, memperluas wawasan dan selalu terus memberi manfaat untuk bangsa dan negara. Bumi ini surga bagi para pejuang dan neraka bagi para pemalasa.  Dalam kondisi apapun sudah saat nya para pemuda bangun dari lamunan keindahan fatamorgana. berkarya dan tulislah tinta emas peradaban melalui tulisan-tulisan menginspirasi kehidupan lebih bermakna.

Pemuda  seperti ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia ketimbang mengisi kegiatan sebatas seremonial tanpa makna dan manfaat yang jelas.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Saripati Santri
22 Oktober 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   187

Mahasiswa dan Gua di Padang Pasir
20 Oktober 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   341

Guru, Ulama dan Santri
04 Oktober 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   190

Taman Ilmu
03 Oktober 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   188

AI dan Buku: Ketakuan Negara Maju
23 September 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   207

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      15374


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      7222


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      6290


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      5452