
Satu minggu ini saya sudah dua kali ke
Gramedia: pertama tanggal 3 oktober 2026; kedua tanggal 9 Oktober 2026. Seperti
biasa mencari buku diskon. Alhamdulillah, kunjungan kedua benar-benar mendapatkan
diskon 100%. Kok bisa. Tentu bisa, tapi bukan dari Gramedia. Diskon 100% dari Dr.
H. Bagus Santoso, Wakil Bupati Kabupaten Bengkalis. Kebetulan malam itu, dia
sedang jalan-jalan di Gramedia. Kebetulan kami bertemu dan ada kesempatan
sebentar ngobrol bareng di ruang baca toko buku Gramedia di Kota Pekanbaru.
Saya dapat hadiah dua buah buku: “Mahar
Politik dan Konstestasi” dan “Dinamika Politik Riau” sama-sama
terbitan Nusamedia Bandung. Kedua buku tersebut hasil perenungan politiknya. Anda
pun bisa menebak-nebak isinya. Cukup dari judul anda sudah bisa membayangkan
isinya.
Saya sebenarnya agak segan juga ngobrol dengan para pejabat di Negeri Junjungan. Apalagi ngobrol dengan orang nomor dua di Kabupaten Bengkalis. Namun sikapnya yang bersahabat, humbel dan merakyat -membuatku merasa sebagai teman atau sahabat berdiskusi malam itu.
Saya perlu mengapresiasi sikap yang merakyat. Tidak semua pemimpin bisa melakukannya. Saya kira sikap tersebut bagian
dari contoh positif dalam upaya mengilangkan tradisi pemimpin yang sangat
elitis, sehingga tidak ada jarak lagi- antara pemimpin dan rakyatnya- kecuali -mungkin-
gaji dan tunjangan yang berbeda.
Malam itu saya ngobrol dengan wabup murni
berkaitan dengan pendidikan dan masa depan Kabupaten Bengkalis. Meskipun -katanya
sih- saya sebagai seorang pendidik yang mempunyai keterbatasan pada kemampuan kejernihan
berfikir dan keluasan pengetahuan, tentu hanya sedikit memberikan semacam pendapat
atau masukan. Lagi-lagi yang sedikit saja. Cuma lahdzotan atau sa’
kecrit saja. Sisanya, mas bagus yang menceritakan panjang lebar tentang pendidikan.
Sekali lagi hanya tentang pendidikan. Saya
benar-benar mencoba menjaga jarak untuk tidak membahas persoalan politik
-meskipun duduk kami hampir tidak berjarak. Kami sebenarnya sama-sama mempunya gen
politik -wabup praktik, saya teoritik- mau tidak mau terkadang pembahasan
pendidikan tidak lepas dari kajian politik. Nyerempet sedikit, tidak
sampai nabrak. Apalagi sebagai seorang Wakil Bupati, Bagus Santoso
sedikit banyak selalu bersentuhan dengan kebijakan-kebijakan yang tidak lepas
dari ranah politik. Termasuk pada wilayah pendidikan. Ma’lum lah, grand
desain bangsa dan negara ini -secara struktural mulai dari pemerintah
hingga pemerintah daerah- lahir dari konstelasi politik. Bahkan sejak bangsa
ini lahir juga produk politik. Wajar saja, jika segala kebijakan pendidikan tidak
lepas dari cawe-cawe politik dan segala kepentingannya.
Dari sini sebenarnya saya bisa memahami
bahwa sehebat apapun suatu teori pendidikan ketika diaplikasikan pada wilayah
kebijakan, maka akan terlihat seperti mandul dan lebih ironisnya sering terbawa
arus kepentingan politik. Karena itu tadi, penyangga bangsa dan negara ini
bukan pendidikan, tapi politik -pol pole rembugan taktik. Apa itu.
transaksional. Berarti ilmu dagang. Untung rugi. Dan anda tahu sendiri, jika
berbicara untung rugi dalam dunia pendidikan, maka bukan lagi kualitas yang
berbicara, tapi seberapa besar bisa diperjualbelikan dan seberapa persen
keuntungannya. Begitu kira-kira ilmu bisnis.
Saya melihat secara nalurinya, mas bagus
mempunyai cita-cita besar tentang fungsi pendidikan di bengkalis sebagai role
model untuk menciptakan daerah yang loh jinawi tata tentrem kerto raharjo.
Cita-cita tinggi tidak berarti apabila
tidak masuk pada wilayah kebijakan. Itu artinya harus sebagai pelaku pengambil
kebijakan. Berarti harus berkuasa. Tapi apakah ia mampu merealisasikan dalam
sebuah kebijakan. Kita bisa menilai bersama-sama plus-minusnya.
Apalagi suatu fakta siapapun yang ingin
masuk pada level pengambil kebijakan bukan sebatas kaum intelektual, ulama atau
para filsuf yang pemikiran-pemikiran jernih dan menyentuh hati. Tapi kelompok
yang menurut mas Bagus sering disebut dengan “mesin dan senjata”. Katanya,
untuk memperoleh angka kemenangan dibutuhkan finansial raksasa
Sebenarnya politik itu baik sebaik pendidikan.
Keduanya bagian dari naluri manusia yang tidak bisa dipisahkan dari dalam
dirinya. Meminjam istilah Ibnu Khaldun
Kita bisa melihat sejarah suatu bangsa
hebat menguasai bangsa lain karena adanya dua faktor yang sangat dominan yaitu
kekuatan politik dan pendidikan. Bangsa barat menguasai negara-negara di dunia
berawal dari adanya revolusi industri, lalu kemudian bergerak lagi adanya
revolusi politik. Pertemuan dua kekuatan ini yang kemudian menghantam
kekuatan-kekuatan kekuasaan di negara-negara yang pendidikan dan kekuatan
politik masih lemah. Kita bisa membaca secara mendalam fakta tersebut dalam sejarah.
Persoalan sekarang bukan lagi kita menyalahkan
politik secara totalitas. Tapi bagaimana kedepannya memformat ulang sistem
politik dan pendidikan yang bisa menemukan titik temu pada tujuan dan cita-cita
besarnya. Apakah pola lama sistem politik akan terus dipakai sementara sudah
terbukti kurang memberikan ruang dunia pendidikan untuk mewarnai segala kebijakan
politik dan kebijakan publik lainnya.
Seolah-olah sangat impossible
melakukan suatu perubahan dalam upaya melahirkan politik yang lahir dari saripati
ruh pendidikan. Tentu saja, perlu ada kesadaran moral bersama -meskipun tidak
ada kontrak sosial- untuk melakukan kesadaran kepada seluruh lini masyarakat untuk
mulai melakukan gerakan moral tentang pentingnya pendidikan sebagai penyangga
kebijakan strategis pemerintah dari
pusat hingga daerah. Semoga.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Kacamata dan Pancasila
02 Oktober 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   93
Manusia Merdeka
17 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   137
Adakah Manusia Merdeka?
17 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   221
Surat Terbuka Untuk Saudari Vanesia Shania
07 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   274
Rapat Non Formal
19 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   270
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      15149
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6876
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      6142
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      5113
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4989