Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Catatan Kecil Pengukuhan Hakim MTQ


 NEWS

Senin , 04 September 2023



Telah dibaca :  416

Setelah sholat maghrib, saya langsung menuju ke lantai satu. Masih sedikit dewan hakim di ruang tunggu. Saya menemui ibu penjual bakso. Rasanya kok Ingin makan seger-seger. Mungkin akibat selera makan kurang bagus. Pengaruh badan agak sedikit “mriyang”. Jadi, melihat bakso terasa sangat nikmat. Itupun hanya pentol dan kuahnya saja.

Sekitar 10 menit menunggu bus, kami pun berangkat ke lokasi MTQ. Cukup jauh. Sekitar 1 jam perjalanan. Informasi dari teman-teman, ini adalah lokasi pelaksanaan mtq terjauh yang pernah dilaksanakan. Saya tetap menikmati perjalanan. Pak wan fariq duduk disampingku. Dosen muda ini kelihatannya lagi semangat sekali membahas jurnal. Mulai dari peningkatan kualitas tulisan, cara citasi, strategi menulis dan mengirim tulisan ke berbagai jurnal nasional dan internasional. Saya mendengarkan dengan penuh perhatian. Saya pun memberi catatan kecil atas ide-ide besarnya, bahwa membahas tentang Jurnal dan segala berkaitan dengannya, perlu ada kolaborasi dan harus ada yang “ngalah” dan “ikhlas” mengelola Jurnal. Jika ini tidak dilakukan, maka impian besar bisa menjadi “ambyar”.

Akhirnya sampai di lokasi pengukuhan dewan hakim. Semua turun dan langsung menuju tempat prasmanan. Sebelum acara dimulai, makan malam terlebih dahulu. Karena rombongan kami agak sedikit terlambat, maka kami mendapat berkahnya. Rombongan sekda dan tamu dari kabupaten juga datang. Mereka langsung menuju  ke depan dan makan di tempat yang telah disediakan. Tidak lama. Setelah itu, panitia memindah meja dan kursi yang berada di depan. Ketika benar-benar steril, acara pengukuhan dimulai.

Ada yang menarik yaitu doa dari pak KUA. Dari doa tentang pentingnya akhlak bagi para dewan hakim. Hal yang tidak lupa juga mendoakan para pemimpin agar bisa memimpin negeri dengan baik dan selamat dunia dan akherat. saya kira ini doa yang hebat, sebab untuk urusan akhlak diberikan kepada hakim, tapi tidak diberikan kepada para pemimpin. Apakah hakim memang sangat penting mereformasi akhlak? Saya tersenyum. dalam hati saya berkata, “doa yang hebat dan unik”.

Sambutan Sekda cukup bagus. Ada dua hal yang menarik; memasyarakatkan budaya belajar Al-Qur’an, pentingnya menjalin persaudaraan dan optimisme Pemda terhadap para hakim yang menurutnya adalah orang-orang yang berintegritas, professional dan hebat-hebat. Bagi diriku, Ini sanjungan yang berlebihan. Sebab saya merasa tidak sehebat itu. tapi khusnudzan pak Sekda adalah doa kebaikan untuk para dewan hakim.

Setelah selesai acara pengukuhan, kami langsung menuju ke Bus dan bergerak menuju Hotel. Saya merenungi doa-doa dan kalimat sambutan di acara tersebut. Saya tahu harapan-harapan mereka yang sangat agung. Namun saya mencoba menyederhanakan acara MTQ dengan konsep hidup model Al-Qur’an. Ada satu potong ayat bahwa hidup adalah “permainan dan sendau-gurau”. Saya kira konsep hidup yang benar ada permainan dan sendau-gurau. Tidak boleh tegang-tegang. Meminjam dai sejuta umat, hidup seperti “tukang parkir”. Punya tidak sombong, habis tidak sedih. Sikap ini juga akhlak.

Imam Al-Ghozali dan Ibn Miskaweh mengatakan akhlak adalah suatu perilaku spontanitas karena lahir dari suasana jiwa. Ia bukan aturan formal anggota tubuh yang harus diukur dengan standar operasional. Sehingga sangat sulit mengukur akhlak orang lain dengan perilaku formalnya. Sebab akhlak sebenarnya komitmen diri terhadap apa yang dipikirkan, diucapkan dan dilakukan sebagai bagian keputusan. Dari sini outputnya beragam. Jika baik akhlakul karimah, jika tidak baik akhlak mazmumah. Itu sebabnya, doa pak KUA tepat. Sebab memang yang ditekankan pada hakim yang mempunyai akhlak.

Namun dari semua itu, saya suka terhadap sambutan dari pak Sekda yang baru dilantik pada tanggal 1 Agustus 2023. Katanya MTQ ini mempunyai fungsi yang sangat baik antara lain membangun silaturahim. Ini sangat setuju. Para dewan hakim untuk meloloti nilai dan peserta dari berbagai kecamatan bukan semata-mata datang kesini untuk juara. Jika hanya itu niatnya, bisa kecewa jika tidak juara. Maka niatkan untuk silaturahim. Sebab kata Nabi, silaturahim mempunyai banyak manfaat. Diantaranya yaitu memperpanjang umur dan memperluas rezeki.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Pilih Prodi Yang Kamu Suka!, Yuk Kuliah di FSEI !
13 April 2026   Oleh : NEWS   135

Prospek prodi Hukum Keluarga Islam
06 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   228

Sosialisasi Draff Pedoman Penyusunan Tata Naskah Dinas
01 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   279

Pembagian Staff Akademik Fakultas
01 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   169

Pengumuman UM-PTKIN 2026
31 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   510

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4559


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879