
Jum’at pagi ( 13 Januari 2023 ) atas nama Ketua MUI, saya
mendapat undangan peresmian Masjid Baburrahmah di Desa Sungai Tohor Barat.
Tepatnya di Pesantren nya Kiai Saifullah. Di WA grup ‘guyonan keramat’, Kiai
Shodiq membuat list tambahan; ada Kiai Dalhar, Ketua Baznas, dan LPTQ. Sebenarnya,
undangan resmi dari Kesra hanya MUI, tapi saya atas nama MUI sebenarnya tidak
ingin berangkat. Ada jadwal Khotib di Masjid Muhtadin. Namun, satu sisi tidak
enak juga apabila melihat dari daftar undangan; mulai dari bupati, asisten,
kepala OPD, pimpinan forkompinda, kecamatan dan kepala desa di seluruh
kabupaten. Mungkin ini adalah peresmian masjid paling sepektakuler. Sebab dari
Bupati sampai Kepala Desa hadir. Atas pertimbangan ini, saya pun ikut, dan
jadwal Khotib di Masjid Muhtadin diisi Ustadz Saihudin, Ketua MWC NU Tebing
Tinggi.
Jam 8.00 WIB saya sudah sampai di Pelabuhan Nursya’adah. Jika melihat jadwal, undangan jam 8.30 wib. Namun saya memang membiasakan diri agar setiap undangan jangan sampai terlambat. Ingin saya, cepat berangkat cepat selesai, dan bisa mengerjakan pekerjaan lainya. Makanya ketika saya memimpin rapat, biasanya undangan umpanya saya buat jam 8.00, mulai rapat jam 8.15. pelaksanaan ini sebenarnya bukan lagi tradisi. Biasanya, undangan jam 8.00, pelaksanaan jam 8.45, bahkan kadang sampai jam 9.00 lebih. Saya mencoba memangkas ‘jam karet’. Buktinya, jam 8.15 baru tiga orang yang datang, dari 27 orang yang diundang. Saya pun tidak peduli, jam 8.15 pun mulai rapat. Jam 8.40 sudah selesai, dan saat selesai rapat orang-orang pun baru datang. Saya pun mengatakan bahwa rapat telah selesai.
Pagi ini memang bupati agak lambat, biasanya tepat
waktu. Memang orang sekelas bupati, gubernur dan para pejabat memang tidak
seperti pada umum nya orang. Mereka mempunyai agenda cukup padat. Permasalah
satu wilayah kekuasaanya berada di meja tugas, di Rumah, dan di perjalanan.
Belum lagi, ketika kedatangan tamu penting, sehingga bisa menggeser kegiatan
lain. Akibatnya, agenda lain pun kadang bergeser waktu, bahkan kadang bisa
sampai batal lalu di wakilkan ke pejabat yang ditunjuk atasanya. Orang-orang
biasa seperti saya kadang tidak memahaminya. Kita hanya bisa memahami sederhana
saja, undangan jam 8.00, datang nya seharusnya jam 8.00. jika terlambat, kita ‘grundel’.
Padahal jika kita yang menjadi pejabat, bisa jadi sama juga.
Ternyata benar, bupati ada tamu dari Pengurus
PBNU. Gus Hilmi, Putra almarhum Mbah Kyai Muzadi. Saya tidak tahu. Setelah
duduk di Speedboat berdampingan dengan bupati, dia mengatakan kepada ku bahwa
kiai yang duduk di belakang saya adalah putra dari Ketua Tanfidziyah PBNU
2000-2010. Saya ingin duduk belakang, tapi oleh bupati tidak boleh.
Jam 10.15 wib sudah sampai di Pelabuhan Sungai Tohor. Perjalanan
menuju Masjid Baburrahmah cukup jauh. Untung jalan menuju ke Pesantren sudah
cukup baik jika dibandingkan dari tahun-tahun sebelumnya. Jadi tidak terlalu
lama, sekitar 10 menit sudah sampai lokasi acara. Setelah melakukan serangkaian
acara peresmian, kami pun melaksanakan Sholat Jum’at perdana. Protokoler pun
membacakan petugas sholat jum’at. Namun saya agak marah juga kepada Protokoler
Bupati. Tanpa ada pemberitahuan, saya mendapat bagian jadi Khotib. Walaupun sudah
bergelar Kiai dan sekolah sudah sampai puncak tertinggi, untuk urusan soal
khatib, ceramah, dan ngaji harus ‘lalaran’ dulu. Itu memang etika para
ulama dan kiai masa lalu. Namun, lagi-lagi saya harus berfikir positif juga.
Mungkin protokoler tahu kalau saya ini kader NU yang dulu dari Ansor-Banser yang
dituntut apapun harus ‘bisa dan siap’ ditempatkan dan ditugaskan dimanapun.
Jangankan hanya sebatas disuruh menjadi khotib atau ngaji, disuruh nikah lagi
pun mau 100% ( kalau diizinkan oleh orang rumah, kikiki).
Selesai acara, kami pun makan-makan. Dari awal saya
sudah memasang strategi, makan harus satu grup bupati. Bukan apa-apa. Saya hanya
ingin makan Daging Kambing. Sebab para pejabat sudah tahu kalau daging kambing
menjadi kesukaan bupati. Itu sebabnya, hampir setiap acara ada Gulai Kepala
Kambing. Jadi kalau dekat dengan nya, bisa makan Daging Kambing. Niat nya untuk
obat darah rendah dan sakit perut (karena lapar).
Prosesi makan hampir
selesai, hujan turun deras luarbiasa. Petir bersahut-sahutan. Listrik pun
kadang hidup, kadang mati. Dilihat dari wajah nya banyak yang gelisah. Banyak
agenda sore ini. Jam 15.00, para pejabat Pemda dan Ormas ada acara rapat
persiapan hari raya imlek. Komandan Kemenag, Drs. Sulman harus menghadiri acara
pernikahan anak bosnya, Kepala Kanwil Riau. Mungkin yang paling santai hanya
saya. Soalnya, acara rapat sudah saya wakilnya kepada Kyai Dalhar sebagai Ketua
Komisi Fatwa MUI.
“Bagaimana Ndan, Bisa Lanjut” Tanya bupati kepada Pak
Isnanu, Danramil Kecamatan Tebing Tinggi.
“Siap !!” Jawab Pak Isnanu.
Semua kaget. Sebab hujan masih sangat deras harus juga
pulang. Padahal kendaran untuk mengantar Pelabuhan hanya roda dua. Ada mobil cuma
satu, itu untuk Bupati. Tapi mau tidak mau, karena Bupati pulang, semua Kepala
Dinas, Forkompinda, Camat, Kepada Desa pun ikut pulang dan hujan-hujanan. Tentu
semua basah kuyup, crindil. Untung saya bisa pulang dengan Kepada Dinas
Kesehatan. Bawa Honda Nimex, ada Helm plus Jas Hujan. Karena badan saya kecil,
saya duduk ditengah. Yang jadi supir pak saridi, kepala dinas bagian belakang.
Jadi saya aman tidak basah.
Sampai di Pelabuhan semua ‘gojlogi’ dan dengan
nada gurau menyalahkan pak Isnanu. Karena gara-gara dia, semua jadi basah
kuyup. Mereka mungkin lupa, bahwa pak Isnanu itu seperti Banser, atau bisa juga
mencontoh Banser, bahwa dalam etika prajurit hanya ada satu kata “siap!!”,
walaupun demam tetap berangkat. Persis seperti Banser, siap mati membela Agama,
Bangsa dan Negara, tapi tidak siap lapar. Sebab ‘nek luweh’ ora iso perang.
Penulis : Imam Ghozali
Pilih Prodi Yang Kamu Suka!, Yuk Kuliah di FSEI !
13 April 2026   Oleh : NEWS   141
Prospek prodi Hukum Keluarga Islam
06 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   232
Sosialisasi Draff Pedoman Penyusunan Tata Naskah Dinas
01 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   279
Pembagian Staff Akademik Fakultas
01 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   169
Pengumuman UM-PTKIN 2026
31 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   511
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13570
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4567
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3582
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2990
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884