
Suatu hari ada seseorang dosen sakit belum
sembuh-sembuh. Ia putus asa. Sudah berobat ke berbagai tempat juga belum sembuh.
Sebagai seorang dosen yang sangat yakin akan pertolongan Allah, juga sudah
berdoa kepada-nya. Belum juga sembuh. Ia juga berobat rumah sakit terkenal di Singapura
dan Malaysia. Belum juga sembuh. Ia mencoba mencari jalan pengobatan
alternatif. Ia datang ke seorang ustadz. Lalu oleh ustadz tersebut diberi air
putih. Dia bawa air putih ke rumah. Lalu ia rajin meminum nya, dan akhirnya
sembuh.
Itu kisah seorang dosen yang doktornya
lulus di Timur Tengah. Saat ia sakit dan pergi ke rumah sakit di Singapura dan Malaysia
sebenarnya sedang bertawasul atau mencari perantara melalui tangan-tangan
dokter yang dianggap hebat-hebat. Tapi belum jodoh. Tuhan sedang mengajarkan
kepada orang tersebut untuk mencari wasilah lagi. Ia menemukan seorang ustadz
yang memberi sebotol air putih. Melalui bacaan ayat-ayat dan doa-doa dari
ustadz tersebut, dosen yang bergelar doktor itupun sembuh.
Sebenarnya Tuhan itu sangat dekat sekali. Surat
Qaf ayat 16 mengatakan begini: “Allah sangat dekat dengan manusia, bahkan
lebih dekat daripada urat lehernya sendiri”. bahkan Tuhan sudah memberi
garansi yang sangat indah sekali dalam Surat Al-Mu’min sebagai berikut:”Berdo’alah
kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu”. Idealnya kita langsung saja
memohon kepada Allah sudah selesai. Apapun masalahnya, mintalah kepada-Nya maka
akan dikabulkan doa-Nya. fakta nya kita membutuhkan wasilah-wasilah dalam wujud
yang beragam. Setelah berdoa kita terkadang membutuhkan donatur untuk berobat
atau membangun kantor, setelah berdoa kita membutuhkan para dokter dan
orang-orang hebat. ternyata urusan kita tidak segera selesai saat kita berdoa
langsung kepada Allah, kita masih membutuhkan tangan-tangan atau makhluk-makhluk
Allah lainnya agar hajat kita segera terkabul.
Palestina hancur. Anak-anak kecil tidak
bisa sekolah, tidak bisa makan dan mati dalam kelaparan. Apakah mereka tidak
berdoa. Mereka berdoa. Umat Islam di dunia berdoa. Namun Tuhan juga me-munasabah-kan
doa kita dengan ayat-ayat lain dan hadist-hadist lain agar manusia saling
membutuhkan manusia lain sebagai makhluk sosial. Proses membutuhkan orang lain
ini yang dalam bahasa kaum sufi menggunakan metode tawasul. Melalui wasilah
banyak tangan, kini dan seterusnya kita bisa menyaksikan bantuan-bantuan datang
untuk Palestina.
Tentu tawasul bukan meniadakan Tuhan. Justru
melalui tawasul kita yakin bahwa tuhan telah menyediakan seperangkat sistem yang
efektif melalui ciptaan-ciptaan-Nya untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Anda
sakit berdoa dan berobat, maka anda harus berfikir yang menyembuhkan hakikatnya
adalah Allah swt.
Jika anda berobat ke Singapura dan sembuh
lalu anda mengatakan:”Dokter Singapura hebat”, sebenarnya telah menghilangkan
kehebatan Allah sebagai Sang Pencipta.
Sama seperti saat anda merukyat dengan
media ayat-ayat Tuhan. Jika anda berkeyakinan ayat-ayat tersebut bisa
menyembuhkan, maka ayat tersebut sebagai Tuhan nya. Tapi jika sebatas wasilah, dan
Tuhan yang menyembuhkan, maka ayat tersebut sebagai wasilah atau perantara, dan
Tuhan sebagai penyembuhnya.
Ada hadist yang dari Abdullah Ibn Umar yang
diriwayatkan oleh Imam Bukhari membahas tentang tawasul sebagai berikut:
Dari Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma,
dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
“Ada tiga orang dari umat sebelum kalian melakukan perjalanan, lalu mereka
masuk ke dalam goa untuk berteduh di sana. Tiba-tiba ada batu besar yang runtuh
dari atas gunung dan menutup pintu gua. Mereka berkata, “Kalian tidak dapat
selamat dari batu ini kecuali kalian berdoa dengan perantara amal-amal salih
kalian.”
Lalu salah seorang dari mereka berdoa, “Ya
Allah, dahulu saya memiliki kedua orang tua yang sudah renta. Saya tidak
memberi minuman di malam hari untuk
keluarga saya atau hewan ternak saya, sebelum saya memberi minuman untuk keduanya. Suatu saat saya ada
keperluan hingga pulang larut dan belum sempat saya beri minum. Maka saya
buatkan minuman untuk mereka, namun ternyata saya dapatkan mereka telah
tertidur. Saya tidak ingin memberikan minum kepada keluarga dan hewan ternak
saya sebelum saya memberikan minum untuk keduanya, maka saya tunggu mereka
bangun dari tidur sambil memegangi wadah minuman tersebut. Saya pun tidak ingin
membangunkan keduanya, sementara anak-anak saya menangis-nangis kelaparan dan
memegangi kaki saya. Begitu seterusnya hingga terbit fajar. Kemudian terbit
fajar, lalu aku membangunkan keduanya dan memberinya minum. “Ya Allah, jika aku melakukan hal itu karena
mengharap wajah-Mu, lepaskanlah kami dari batu ini.” Lalu batu itu bergeser
sedikit, namun mereka belum dapat keluar darinya.
Lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam
bersabda, “Yang lain berkata, ya Allah, dahulu ada puteri pamanku yang sangat
aku cintai, lalu aku ingin berbuat zina dengannya, namun dia menolaknya. Hingga
suatu saat terjadi musim paceklik. Maka dia datang (untuk meminta bantuan),
maka aku memberikannya 120 dinar dengan syarat dia menyerahkan dirinya
kepadaku. Maka dia bersedia. Hingga ketika aku dapat melakukan apa yang aku
inginkan terhadapnya, dia berkata, ‘bertakwalah kepada Allah, cincin tidak
boleh dilepas kecuali oleh orang yang berhak.”Maka akupun takut melakukan
perbuatan itu, lalu aku tinggalkan dia padahal dia adalah orang yang paling aku
cintai. Aku tinggalkan pula emas yang telah aku berikan kepadanya. “Ya Allah,
jika aku melakukan hal tersebut semata untuk mengharap wajah-Mu, maka bebaskan
aku dari apa yang aku alami ini.” Lalu batu itu bergeser dua pertiganya, namun
mereka masih telah belum dapat keluar.
Lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam
bersabda, “Yang ketiga berkata, ‘Ya Allah, dahulu aku menyewa beberapa orang
pekerja, lalu aku berikan upah mereka masing-masing kecuali satu orang yang
meninggalkannya begitu saja. Maka upahnya tersebut aku investasikan hingga
berkembang. Lalu (sekian lama kemudian) orang itu datang kepadaku dan berkata,
‘Wahai fulan, berikan upahku.’ Maka aku katakan kepadanya, ‘Semua yang engkau
lihat berupa onta, sapi, kambing dan budak adalah upahmu.” Maka orang itu
berkata, ‘Wahai Abdullah, jangan meledek aku,’ Aku berkata, ‘Sungguh aku tidak
meledekmu.” Lalu orang itu mengambil semua haknya tanpa menyisakan sedikitpun.
“Ya Allah, jika aku lakukan semua itu karena berharap wajah-Mu, maka
bebaskanlah aku dari apa yang aku alami ini.” Lalu batu itu bergerak sehingga
akhirnya mereka dapat keluar meninggalkan tempat tersebut.
Penulis : Muhammad Faiz Artanabil
Tangisan Rindu; Dari Khalifah Umar Hingga Mbah Riyan
02 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   182
Obat Susah Tidur
31 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   192
Tidur dan Mimpi
30 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   187
Di Bawah Lindungan Atap
23 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   172
Doaku, Doamu dan Doa Kita
19 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   277
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14208
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      5548
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5209
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4542
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4046