Avatar

Muhammad Faiz Artanabil

Penulis Kolom

9 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Tawasul Dengan Amal Sholeh



Senin , 05 Mei 2025



Telah dibaca :  535

Suatu hari ada seseorang dosen sakit belum sembuh-sembuh. Ia putus asa. Sudah berobat ke berbagai tempat juga belum sembuh. Sebagai seorang dosen yang sangat yakin akan pertolongan Allah, juga sudah berdoa kepada-nya. Belum juga sembuh. Ia juga berobat rumah sakit terkenal di Singapura dan Malaysia. Belum juga sembuh. Ia mencoba mencari jalan pengobatan alternatif. Ia datang ke seorang ustadz. Lalu oleh ustadz tersebut diberi air putih. Dia bawa air putih ke rumah. Lalu ia rajin meminum nya, dan akhirnya sembuh.

Itu kisah seorang dosen yang doktornya lulus di Timur Tengah. Saat ia sakit dan pergi ke rumah sakit di Singapura dan Malaysia sebenarnya sedang bertawasul atau mencari perantara melalui tangan-tangan dokter yang dianggap hebat-hebat. Tapi belum jodoh. Tuhan sedang mengajarkan kepada orang tersebut untuk mencari wasilah lagi. Ia menemukan seorang ustadz yang memberi sebotol air putih. Melalui bacaan ayat-ayat dan doa-doa dari ustadz tersebut, dosen yang bergelar doktor itupun sembuh.

Sebenarnya Tuhan itu sangat dekat sekali. Surat Qaf ayat 16 mengatakan begini: “Allah sangat dekat dengan manusia, bahkan lebih dekat daripada urat lehernya sendiri”. bahkan Tuhan sudah memberi garansi yang sangat indah sekali dalam Surat Al-Mu’min sebagai berikut:”Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu”. Idealnya kita langsung saja memohon kepada Allah sudah selesai. Apapun masalahnya, mintalah kepada-Nya maka akan dikabulkan doa-Nya. fakta nya kita membutuhkan wasilah-wasilah dalam wujud yang beragam. Setelah berdoa kita terkadang membutuhkan donatur untuk berobat atau membangun kantor, setelah berdoa kita membutuhkan para dokter dan orang-orang hebat. ternyata urusan kita tidak segera selesai saat kita berdoa langsung kepada Allah, kita masih membutuhkan tangan-tangan atau makhluk-makhluk Allah lainnya agar hajat kita segera terkabul.

Palestina hancur. Anak-anak kecil tidak bisa sekolah, tidak bisa makan dan mati dalam kelaparan. Apakah mereka tidak berdoa. Mereka berdoa. Umat Islam di dunia berdoa. Namun Tuhan juga me-munasabah-kan doa kita dengan ayat-ayat lain dan hadist-hadist lain agar manusia saling membutuhkan manusia lain sebagai makhluk sosial. Proses membutuhkan orang lain ini yang dalam bahasa kaum sufi menggunakan metode tawasul. Melalui wasilah banyak tangan, kini dan seterusnya kita bisa menyaksikan bantuan-bantuan datang untuk Palestina.

Tentu tawasul bukan meniadakan Tuhan. Justru melalui tawasul kita yakin bahwa tuhan telah menyediakan seperangkat sistem yang efektif melalui ciptaan-ciptaan-Nya untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Anda sakit berdoa dan berobat, maka anda harus berfikir yang menyembuhkan hakikatnya adalah Allah swt.

Jika anda berobat ke Singapura dan sembuh lalu anda mengatakan:”Dokter Singapura hebat”, sebenarnya telah menghilangkan kehebatan Allah sebagai Sang Pencipta.

Sama seperti saat anda merukyat dengan media ayat-ayat Tuhan. Jika anda berkeyakinan ayat-ayat tersebut bisa menyembuhkan, maka ayat tersebut sebagai Tuhan nya. Tapi jika sebatas wasilah, dan Tuhan yang menyembuhkan, maka ayat tersebut sebagai wasilah atau perantara, dan Tuhan sebagai penyembuhnya.

 

Ada hadist yang dari Abdullah Ibn Umar yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari membahas tentang tawasul sebagai berikut:

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga orang dari umat sebelum kalian melakukan perjalanan, lalu mereka masuk ke dalam goa untuk berteduh di sana. Tiba-tiba ada batu besar yang runtuh dari atas gunung dan menutup pintu gua. Mereka berkata, “Kalian tidak dapat selamat dari batu ini kecuali kalian berdoa dengan perantara amal-amal salih kalian.”

Lalu salah seorang dari mereka berdoa, “Ya Allah, dahulu saya memiliki kedua orang tua yang sudah renta. Saya tidak memberi minuman di  malam hari untuk keluarga saya atau hewan ternak saya, sebelum saya memberi  minuman untuk keduanya. Suatu saat saya ada keperluan hingga pulang larut dan belum sempat saya beri minum. Maka saya buatkan minuman untuk mereka, namun ternyata saya dapatkan mereka telah tertidur. Saya tidak ingin memberikan minum kepada keluarga dan hewan ternak saya sebelum saya memberikan minum untuk keduanya, maka saya tunggu mereka bangun dari tidur sambil memegangi wadah minuman tersebut. Saya pun tidak ingin membangunkan keduanya, sementara anak-anak saya menangis-nangis kelaparan dan memegangi kaki saya. Begitu seterusnya hingga terbit fajar. Kemudian terbit fajar, lalu aku membangunkan keduanya dan memberinya minum.  “Ya Allah, jika aku melakukan hal itu karena mengharap wajah-Mu, lepaskanlah kami dari batu ini.” Lalu batu itu bergeser sedikit, namun mereka belum dapat keluar darinya.

Lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Yang lain berkata, ya Allah, dahulu ada puteri pamanku yang sangat aku cintai, lalu aku ingin berbuat zina dengannya, namun dia menolaknya. Hingga suatu saat terjadi musim paceklik. Maka dia datang (untuk meminta bantuan), maka aku memberikannya 120 dinar dengan syarat dia menyerahkan dirinya kepadaku. Maka dia bersedia. Hingga ketika aku dapat melakukan apa yang aku inginkan terhadapnya, dia berkata, ‘bertakwalah kepada Allah, cincin tidak boleh dilepas kecuali oleh orang yang berhak.”Maka akupun takut melakukan perbuatan itu, lalu aku tinggalkan dia padahal dia adalah orang yang paling aku cintai. Aku tinggalkan pula emas yang telah aku berikan kepadanya. “Ya Allah, jika aku melakukan hal tersebut semata untuk mengharap wajah-Mu, maka bebaskan aku dari apa yang aku alami ini.” Lalu batu itu bergeser dua pertiganya, namun mereka masih telah belum dapat keluar.

Lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Yang ketiga berkata, ‘Ya Allah, dahulu aku menyewa beberapa orang pekerja, lalu aku berikan upah mereka masing-masing kecuali satu orang yang meninggalkannya begitu saja. Maka upahnya tersebut aku investasikan hingga berkembang. Lalu (sekian lama kemudian) orang itu datang kepadaku dan berkata, ‘Wahai fulan, berikan upahku.’ Maka aku katakan kepadanya, ‘Semua yang engkau lihat berupa onta, sapi, kambing dan budak adalah upahmu.” Maka orang itu berkata, ‘Wahai Abdullah, jangan meledek aku,’ Aku berkata, ‘Sungguh aku tidak meledekmu.” Lalu orang itu mengambil semua haknya tanpa menyisakan sedikitpun. “Ya Allah, jika aku lakukan semua itu karena berharap wajah-Mu, maka bebaskanlah aku dari apa yang aku alami ini.” Lalu batu itu bergerak sehingga akhirnya mereka dapat keluar meninggalkan tempat tersebut.



Penulis : Muhammad Faiz Artanabil


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Tangisan Rindu; Dari Khalifah Umar Hingga Mbah Riyan
02 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   182

Obat Susah Tidur
31 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   192

Tidur dan Mimpi
30 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   187

Di Bawah Lindungan Atap
23 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   172

Doaku, Doamu dan Doa Kita
19 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   277

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14208


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      5548


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5209


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4046