Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Terjebak Macet 14 Jam di Pelabuhan


 NEWS

Minggu , 03 September 2023



Telah dibaca :  583

Jam 06.20 saya dapat SMS pak Imam Hakim. Isinya kurang lebih begini:"Mas, saya tunggu di Pelabuhan. Saya sudah di sini sekitar jam 04.30. Bawa Motor saja dari Rumah. Nanti Parkir di dekat Pelabuhan saja. Mohon maaf,saya tidak bisa jemput. Mobil sudah tak bisa bergerak".

Saya masih duduk-duduk di Rumah sambil menikmat secangkir Teh Hangat dan Kueh pemberian Mas Chanif. Setelah sarapan, mandi sebentar. Memakai baju.Koper baju sudah ready. Saya pun duduk lagi menghabiskan Teh yang masih tersisa.

Suara klakson Honda terdengar di depan Rumah. Mas Tadin siap mengantar ke Pelabuhan. Jam sudah menunjukan waktu 07.00 WIB. Jaraknya tidak jauh. Sekitar 15 menit naik Honda dengan kecepatan 30. Kelihatan nya dia takut kalau saya terlambat masuk kapal. Maka nya sedikit ngebut.

Ternyata diluar dugaan, antrian Mobil sudah sangat panjang. Seperti di jalan Tol. Bedanya jalan Pelabuhan berbaris satu-satu seperti antri ngisi bensin.  Sedang sebelah kanan untuk kendaraan yang keluar dari Kapal. Jalan di Kabupaten tidak sama di kota besar yang lebar lebar. Tapi jika macet,rasanya sama juga: membosankan.

Macet di Pelabuhan bisa dikatakan semua orang sudah mema'lumi. Contoh di Pelabuhan Merak-Bakauheni. Baik Supir atau penumpang bisa santai. Keluar dari mobil,ngobrol,bergurau. Bagi yang biasa merokok,ini malah jadi berkah. Bisa merokok sambil ngopi. Walaupun kadang "satu gelas" untuk "semua warga negara". Perokok sangat merakyat dan demokratis sekali. Tidak ada kasta. Sampai-sampai bahasa yang keluar pun sangat merakyat,humoris. Bahkan kata "bajingan" dan "Diancuuk" pun menjadi pengikat keakraban mereka.

Bahkan bisa jadi, situasi macet di Pelabuhan menjadi menjadi berkah sebagian orang. ada gara-gara macet bisa kenalan dengan seorang wanita. Ngobrol bareng. Minta nomor HP, dan berlanjut menjadi perjodohan. Padahal, bisa jadi kedua nya sudah punya calon yang dibina sudah cukup lama. Belum juga menikah. Hanya karena ngobrol sebentar. Ada kecocokan. Satu bulan kemudian melangsungkan perkawinan. Sungguh jodoh salah satu rahasia Allah.

Macet juga membawa berkah bagi para pedagang kecil dan rumah-rumah makan di sekitar pelabuhan. Mereka di serbu oleh para sopir dan penumpang. Ada juga pedagang kreatif. Dia berjalan menyusuri barisan mobil dan menawarkan minuman dan barang dagagangan lain berupa makanan ringan. Saya lihat, sangat laris. Rumah-rumah makan pun banyak yang habis. itulah cara Allah membagi rizki nya dengan tidak disangka-sangka. Kemacetan di pelabuhan selalu saja ada sisi positif yang bisa diambil pelajaran. Bukankah alam semesta termasuk salah satu media pembelajaran yang agung?

Beberapa waktu lalu,saya naik bus Jawa-Sumatera.  Pelabuhannya sudah baik. Jalan sudah diperbaiki,kapal nya pun tersedia cukup banyak dan fasilitas nya lumayan baik. Lebih menyenangkan,kondisinya bersih.

Di Pelabuhan Bengkalis pada moment tertentu kadang macet. Saya tidak tahu, apa karena ada acara MTQ tingkat Kabupaten di Duri menjadi salah satu faktor macet. Bisa jadi demikian. Bengkalis daerah kepulauan. Transportasi laut menjadi penentu lancar nya mobilitas masyarakat untuk bepergian. Jika terlambat,maka harus menunggu satu jam lagi. Sebab jarak tempuh nya sekitar satu jam di laut.

Dekat nya kabupaten Bengkalis,ada Kabupaten Kepulauan Meranti. Keduanya di batasi oleh laut. Perjalanan laut 2 jam. Bengkalis-Siak 1 jam. Tapi jika macet bisa sampai 14 jam antri di Pelabuhan.

Kabupaten-kabupaten di Provinsi Riau mempunya banyak pulau. Ada pulau kecil dan besar.  Transportasinya kapal sungai. Jarak nya fariasi.  Kapalnya sering disebut Pompong dan Kempang. Kapal jenis ini terbuat dari Kayu khas daerah kepulauan.

Jika ada momen-moment tertentu, kabupaten-kabupaten di daerah kepulauan sering mengalami kemacetan. Apalagi sampai kapal tidak bisa berangkat atau kurang armadanya. Pemandangan pelabuhan menjadi terlihat sangat ramai dan padat.

Bagaimana Solusi nya? Jawaban sementara cuma satu; menambah armada laut. Tapi saya tidak tahu,apakah armada laut tersebut milik Pemda Bengkalis atau kerjasama pihak ketiga. Jika milik Pemda, serta merta bisa langsung ditambah. Jika milik pihak ketiga,berarti harus memperbaiki isi kontrak nya.

Namun semua itu tidak terlepas dari anggaran. Untuk masalah kekuatan anggaran, Pemda yang lebih tahu. Masyarakat hanya bisa melihat realita saja.

Sambil menunggu Mobil mendapat antrian masuk Kapal, saya duduk-duduk di serambi Mushola.

Saya teringat cerita Pak Asip tentang kisah masa lalu. Betapa susah nya ingin pergi ke Kota Pekanbaru. Berangkat subuh,sampai kota malam hari. Namun kini setelah ada perbaikan pelabuhan dan Jembatan Penghubung antar pulau dan Kabupaten, perjalan relatif cepat. Berangkat pagi, sore sudah bisa pulang lagi. Dia mencontohkan Kabupaten Siak pada masa pemerintahan pak Arwin ketika menjadi Bupati.

"Ide besar membangun Jembatan seperti kabupaten Siak adalah bupati Arwin. Dulu Dia dianggap bupati gila. Banyak Pejabat yang mengejek atas ide-ide nya yang dianggap nlyeneh. Tapi,kini masyarakat sangat bersyukur atas pembangunan Jembatan dan Pelabuhan. Sehingga mobilitas masyarakat lebih ramai dan lebih efektif menghemat waktu” kata nya

Saya tersenyum sendiri ketika ingat kisah dari pak Asip. Itulah pemimpin. Kadang dicaci maki oleh oleh orang-orang yang tidak suka terhadap kebijakannya. Apalagi nafsu politik kekuasaan sudah tertanam dalam hati. Sering tidak berfikir jernih manfaat untuk jangka panjang. Dilihat hanya satu sisi, yaitu pada besarnya biaya pembangunan. Padahal manfaat darinya jauh lebih besar bagi masyarakat; biaya transportasi lebih murah,waktu lebih cepat dan urusan semakin mudah.

Ironisnya, kita sering lebih suka mencaci daripada memuji. Mengabaikan budaya kritik yang membangun. Lebih tragis lagi mudah melupakan jasa orang lain. Bukankah kita sukses atas tali-temali konektif atas karya orang lain?

Alhamdulillah sekitar jam 18.15 WIB Masuk Kapal Roro. Kami naik ke atas di Deck bagian depan. Penantian 14 jam masuk ke Kapal,sengaja diabadikan lewat foto bersama dengan pak Imam Hakim. Kami tersenyum,seperti tersenyum nya orang berbuka puasa. Rencana tuhan selalu terbaik bagi orang-orang yang mampu memahaminya.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

Imam Hakim

Saluttt....lunak namun landep (baca: tajam); kenikmatan itu tergantung rasa yg menikmatinya

   Berita Terkait

Pilih Prodi Yang Kamu Suka!, Yuk Kuliah di FSEI !
13 April 2026   Oleh : NEWS   135

Prospek prodi Hukum Keluarga Islam
06 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   228

Sosialisasi Draff Pedoman Penyusunan Tata Naskah Dinas
01 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   279

Pembagian Staff Akademik Fakultas
01 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   169

Pengumuman UM-PTKIN 2026
31 Maret 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   510

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4559


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879