
Meskipun terjadi tsunami politik beberapa
hari ini di Indonesia, saya tidak tertarik membahas nya -atau lebih tepatnya
kurang tertarik. Bukan apa-apa. Dulu saya pernah menulis artikel dimuat oleh
media massa -dulu, saat masih kuliah- dengan judul “Politik Ken Arok”.
Gara-gara tulisan ini teman ku tersinggung. Semenjak itu saya jadi kurang
berminat menulis secara intens.
Saya mengurangi menulis tentang politik.
Mulai jarang menulis dan membahasnya. Tapi kalau lagi kambuh, satu minggu bisa
jadi satu buku.
Saya lebih suka membahas politik Timur
Tengah dan Barat. Untuk artikel ini, saya ingin menulis nasib politik Donald Trump.
Jika dilihat dari media online, media sosial dan kanal-kanal youtuber,
nampaknya Trump lagi “kobol-kobol” menghadapi partai demokrat. Kita
tahu, di AS ada dua partai : Republik dan Demokrat. Trump dari Republik.
Saya teringat ucapan mendiang presiden Iran
Sayyid Ali Khamenei: “ Para penguasa yang zalim dan diktator seperti Trump
telah tumbang ketika berada di puncak kesombongan mereka. Trump pun pada
akhirnya akan dijatuhkan dan mengalami kejatuhan”.
Kalimat tersebut nampaknya menghipnotis
kebangkitan umat Islam dan non-muslim di seluruh dunia. Ada kesadaran kolektif
bahwa isu-isu klasik seperti terorisme, al-qaeda dan sejenisnya yang
dilontarkan Trump kepada negara-negara Islam -khususnya negara Iran- bukan
suatu fakta, tapi sebatas opini politik nya.
Trump mencoba menyakinkan kepada masyarakat
AS dan dunia bahwa kebijakan menghancurkan negara Iran sebagai langkah merawat
kewarasan demokrasi. Dengan hancurnya Iran, maka demokrasi bisa ditegakan di
negara tersebut sesuai dengan cita-cita nya.
Ironisnya, jualan Trump mulai tidak laku di
negeri sendiri. Sudah ribuan kali masyarakat AS melakukan demonstrasi terhadap
kebijakannya. Ada tiga demonstrasi yang sangat besar menyangkut kebijakannya
yaitu:
Pertama, aksi nasional pada Januari 2026.
Ada sekitar 250 titik demonstrasi di 46 negara bagian as.
Kedua, pada bulan Maret 2026 ada Gerakan “No
Kings Day 3.0”. Ini demonstrasi terbesar di AS. Ada lebih dari 3.300 titik di
seluruh 50 negara bagian AS. Isu utamanya antara lain adalah penolakan terhadap
eskalasi perang Iran 2026.
Ketiga, aksi menjelang pemilu paruh waktu
pada bulan Oktober. Ada ribuan titik di 50 negara bagian untuk mendorong
pemilih memberikan suara guna membatasi kekuasaan pemerintah Trump.
Fakta tersebut merupakan respon masyarakat
atas prinsip-prinsip demokrasi yang tidak berpihak kepada mayoritas, tetapi
lebih mengarah pada otoritarianisme. Mandat masyarakat yang diharapkan mampu
menjunjung tinggi keinginan mereka justru diambil oleh Trump untuk ambisi
pribadi dan partai politiknya. Trump bukan sebagai presiden, tapi telah berubah
sebagai seorang raja yang berbicara dan berbuat atas kehendaknya sendiri, bukan
pada kepentingan konstitusi dan konstituen.
Dukungan masyarakat AS pun mulai bergeser.
Partai republik mulai ditinggalkan. Kini partai demokrat mulai mendapatkan
presepsi positif. Ini saya kira ada wind of change arah politik baru AS
dari otoritarian menuju demokrasi liberal -dalam pengertian- yaitu adanya
harapan-harapan baru masyarakat AS untuk memilih kelompok-kelompok minoritas
sebagai penjaga demokrasi.
Salah satu bukti nya yaitu terpilihnya
Abdul Es-Sayed, muslim pertama yang terpilih sebagai senator AS. Ini fenomena
politik kedua yang sebelumnya, Zohran Mamdani. Seorang muslim yang menjadi Wali
Kota New York. Juga sama-sama dari partai demokrat.
Sebagai seorang politisi yang dibesarkan di
negara yang menjamin kebebasan berpolitik, Abdul es-Sayed juga sangat
dipengaruhi oleh ajaran agama Islam. Di saat kebebasan tanpa batas, ia pun
memperkenalkan bahwa kebebasan juga harus dilandasi dengan kasih sayang yang
tulus atas dasar nilai-nilai ajaran agama -dalam hal ini ajaran Islam sebagai
agama yang dianutnya. Es-Sayed sangat mencintai ibu kandung dan ibu tirinya
sepenuh hati. Keduanya sangat dimuliakan dan dihargai sebagai manusia yang
agung.
Sebagai seorang senator baru dari kaum
minoritas muslim, dia akan menjadi sorotan publik berkaitan persoalan pribadi,
keluarga dan kebijakan-kebijakan populisnya di masa mendatang. Ini sangat
berpengaruh -sedikit banyak- pada presepsi masyarakat AS terhadap agama yang
diyakini kebenarannya.
Meskipun secara umum masyarakat tidak memperdulikan
status agamanya, tapi pondasi konstitusi AS beragama Kristen dengan semangat
pada nilai-nilai liberal dan terbuka.
Dan Abdul es-Sayed di masa mendatang tampil
sebagai seorang senator beragama Islam. Dulu muslim dianggap sebagai agama yang
tidak ramah di AS, kini presepsi tersebut mulai luntur. Tentu saja ini angin
segar bagi perubahan cara pandang masyarakat AS yang plural yang perlu disambut
positif oleh siapa saja, termasuk bangsa Indonesia. Harapannya angin segar
tersebut terus berlanjut menjadi energi kehidupan baru masyarakat AS yang lebih
demokratis, beradab dan berkeadaban.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Syukron Makmun; Mengajarkan Cara Mencintai Pemerintah Melalui Kritik
18 Oktober 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   266
Toko Buku Gramedia, Pendidikan dan Politik
11 Oktober 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   266
Kacamata dan Pancasila
02 Oktober 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   121
Manusia Merdeka
17 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   154
Adakah Manusia Merdeka?
17 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   251
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      15433
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      7406
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      6343
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      5517
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      5470