
Benar kata nasehat dari para senior.
Katanya: “Jangan berdebat dengan perempuan, jangankan menang, seri saja
sudah untung”. Benarkah demikian. Begini ceritanya:
Jam 07.50 hujan turun masih sangat lebat.
Afrin Anisah -Anis- tentu nya harus menunggu cukup lama di MDA Nurul Iman. Karena
hujan, saya lambat menjemputnya. Seharusnya jam 07.30 sudah dijemput. Ini baru
di jemput jam 07.50.
Kami langsung berangkat menuju Kedai Kopi. Anis
dan Faiz langsung mencari tempat duduk paling ujung dekat laut sambil menikmati
suasana laut di pagi hari.
Anis dan Faiz pesan Roti Canai dan Es Milo.
Pesan satu lagi di bungkus untuk umi di rumah. Saya tidak pesan sarapan. Hanya
pesan kopi manis. Meskipun demikian, biasanya mereka berdua tidak habis. Saya
bagian menghabiskan sarapannya.
Selesai sarapan, saya pergi ke kasir.
Setelah dihitung, sarapan pagi ini habis rp. 53.000. Saya -perasaan
ku-memberikan selembar duit 50.000 dan 5000. Saya menunggu lebihan Rp.2000.
“Ini pak lebih nya, Rp.47.000” kata kasir perempuan sambil memberikan
duit tersebut kepadaku.
Saya tidak menerima nya.
“Bu, tadi saya ngasih duit Rp. 55.000. jadi
lebih nya Rp. 2000” jawab ku.
Namun Kasir tersebut ngotot bahwa saya
ngasih duit Rp. 100.000. Saya pun menerima kembalian sebanyak Rp. 47.000. tidak
mau debat lagi.
Karena terlihat mau turun hujan lagi, saya
pun bergegas pulang. Khawatir anak-anak kehujanan.
Sampai di rumah hujan turun deras. Saya
membuka dompet. Ternyata duit ku yang warna merah masih utuh. Belum saya pakai.
Artinya tadi saya benar-benar mengeluarkan satu lembar 50.000, bukan 100.000.
Saya kembali lagi ke kedai kopi di tengah
guyuran hujan yang sangat deras. Sampai di Kedai Kopi, saya langsung menemui
kasir perempuan tadi.
“Bu, ibu yang salah ngitung. Duit ku bukan
100.000, tapi 50.000. Ini lebihan duit yang tadi saya kembalikan lagi” kata ku sambil mengembalikan duit
berjumlah Rp. 74.000.
Kasir tersebut terdiam. Bingung tidak bisa
berkata apa-apa. Lalu dengan suara lembut diapun mengucapkan terima kasih.
Alhamdulillah, saya telah berhasil
meruntuhkan teori para senior. Hari ini saya telah berhasil mengalahkan
perdebatan dengan perempuan.
Amma ba’du,
Saya-mungkin juga anda- pada moment
tertentu mempunyai kesadaran untuk melakukan sesuatu yang terbaik sesuai dengan
nilai-nilai moral yang diakui kebenarannya. Tentu saja saya dan anda atau kita
bukan orang yang punya kualitas moral tinggi. Apalagi saya yang sering bergelut
dengan kegiatan administrasi yang sering tidak sesuai antara teori dan praktik.
Bahkan mungkin sistem administrasi di seluruh instansi selalu saja tidak
selaras dengan apa yang kita kerjakan.
Saat anda sedang bertugas harus membutuhkan
semua bukti pengeluaran, bagaimana mungkin saat anda harus pergi di suatu
tempat naik ojek yang nun jauh di sana. Secara administrasi anda membutuhkan
bukti berupa Kwitansi dari Tukang Ojek. Tapi realita tidak demikian.
Tukang Ojek tidak mengenal Kwitansi. Dia hanya mengenal akad di permulaan
tentang berapa harga yang harus disepakati antara Tukang Ojek dan Penumpang.
Setelah sepakat, langsung dibayar. Selesai. Pada proses ini, kita tidak
mempunyai bukti administrasi untuk laporan keuangan.
Anda sebagai peneliti dengan mendapatkan
uang penelitian sebesar sekian juta. Apakah semua benar-benar sesuai dengan
prosedur. Suatu pertanyaan yang sudah tahu jawabannya. Bahwa tidak sesederhana
makna idealis yang kita bangga-banggakan dalam kehidupan sehari-hari. Lagi-lagi
pada moment tertentu prinsip “sama-sama tahu” menjadi pembenar terhadap
sistem administrasi yang berlaku selama ini.
Tentu saja tidak semua harus hidup dengan
pola administrasi di atas. Kita membutuhkan nilai-nilai kemanusiaan, moralitas,
dan kebaikan-kebaikan dalam kehidupan muamalah-sosial. Kita terikat pola hidup
dengan orang lain. Ketika kita menghargai orang lain, maka orang lain pun akan
menghargai kita. Pada saat kita berbuat baik tanpa pamrih, maka suatu saat
kebaikan pun akan menghampiri kita pada waktu yang tepat.
Siapapun kita-tidak peduli status yang kita
sandang-ketika hidup dihiasi dengan nilai-nilai kebaikan, Allah senantiasa
melihat kita dan akan memberikan balasan kebaikan kepada kita pada saat yang
tepat.
Mungkin kita hari ini menjadi orang yang
selalu menanam kebaikan. Mungkin juga hari ini kita juga belum mendapatkan
balasan kebaikan atas amal kebaikan yang kita lakukan. Bisa jadi, kita tidak
mendapatkan kebaikan. Bisa jadi anak-anak kita yang akan mendapatkan limpahan
kebaikan atau cucu-cucu kita.
Adanya balasan-balasan kebaikan yang kita
dapatkan dalam hidup yang sering kita kenal dengan hidup penuh keberkahan.
Artinya kita dalam sisi “ketidakbaikan”, saat kita berbuat baik kepada orang
lain, maka kita pun akan tetap mendapatkan kebaikan dari amal-amal kebaikan
yang kita lakukan.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Menyatukan Akal dan Hati Ketika Ada Musibah
03 September 2026   Oleh : Imam Ghozali   146
Di Tambakberas, Aku Menangis
30 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   208
Terbakar Rindu
26 Agustus 2026   Oleh : Imam Ghozali   228
Ya habibi, Ya Rasulullah, Apakah ini Artinya Cinta?
22 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   315
Tangisan Rindu; Dari Khalifah Umar Hingga Mbah Riyan
02 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   247
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14910
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6595
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      6000
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4853
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4835