Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

400 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Debat dengan Kasir



Minggu , 27 September 2026



Telah dibaca :  37

Benar kata nasehat dari para senior. Katanya: “Jangan berdebat dengan perempuan, jangankan menang, seri saja sudah untung”. Benarkah demikian. Begini ceritanya:

Jam 07.50 hujan turun masih sangat lebat. Afrin Anisah -Anis- tentu nya harus menunggu cukup lama di MDA Nurul Iman. Karena hujan, saya lambat menjemputnya. Seharusnya jam 07.30 sudah dijemput. Ini baru di jemput jam 07.50.

Kami langsung berangkat menuju Kedai Kopi. Anis dan Faiz langsung mencari tempat duduk paling ujung dekat laut sambil menikmati suasana laut di pagi hari.

Anis dan Faiz pesan Roti Canai dan Es Milo. Pesan satu lagi di bungkus untuk umi di rumah. Saya tidak pesan sarapan. Hanya pesan kopi manis. Meskipun demikian, biasanya mereka berdua tidak habis. Saya bagian menghabiskan sarapannya.

Selesai sarapan, saya pergi ke kasir. Setelah dihitung, sarapan pagi ini habis rp. 53.000. Saya -perasaan ku-memberikan selembar duit 50.000 dan 5000. Saya menunggu lebihan Rp.2000.

“Ini pak lebih nya, Rp.47.000” kata kasir perempuan sambil memberikan duit tersebut kepadaku.

Saya tidak menerima nya.

“Bu, tadi saya ngasih duit Rp. 55.000. jadi lebih nya Rp. 2000” jawab ku.

Namun Kasir tersebut ngotot bahwa saya ngasih duit Rp. 100.000. Saya pun menerima kembalian sebanyak Rp. 47.000. tidak mau debat lagi.

Karena terlihat mau turun hujan lagi, saya pun bergegas pulang. Khawatir anak-anak kehujanan.

Sampai di rumah hujan turun deras. Saya membuka dompet. Ternyata duit ku yang warna merah masih utuh. Belum saya pakai. Artinya tadi saya benar-benar mengeluarkan satu lembar 50.000, bukan 100.000.

Saya kembali lagi ke kedai kopi di tengah guyuran hujan yang sangat deras. Sampai di Kedai Kopi, saya langsung menemui kasir perempuan tadi.

“Bu, ibu yang salah ngitung. Duit ku bukan 100.000, tapi 50.000. Ini lebihan duit yang tadi saya kembalikan lagi” kata ku sambil mengembalikan duit berjumlah Rp. 74.000.

Kasir tersebut terdiam. Bingung tidak bisa berkata apa-apa. Lalu dengan suara lembut diapun mengucapkan terima kasih.

Alhamdulillah, saya telah berhasil meruntuhkan teori para senior. Hari ini saya telah berhasil mengalahkan perdebatan dengan perempuan.

Amma ba’du,

Saya-mungkin juga anda- pada moment tertentu mempunyai kesadaran untuk melakukan sesuatu yang terbaik sesuai dengan nilai-nilai moral yang diakui kebenarannya. Tentu saja saya dan anda atau kita bukan orang yang punya kualitas moral tinggi. Apalagi saya yang sering bergelut dengan kegiatan administrasi yang sering tidak sesuai antara teori dan praktik. Bahkan mungkin sistem administrasi di seluruh instansi selalu saja tidak selaras dengan apa yang kita kerjakan.

Saat anda sedang bertugas harus membutuhkan semua bukti pengeluaran, bagaimana mungkin saat anda harus pergi di suatu tempat naik ojek yang nun jauh di sana. Secara administrasi anda membutuhkan bukti berupa Kwitansi dari Tukang Ojek. Tapi realita tidak demikian. Tukang Ojek tidak mengenal Kwitansi. Dia hanya mengenal akad di permulaan tentang berapa harga yang harus disepakati antara Tukang Ojek dan Penumpang. Setelah sepakat, langsung dibayar. Selesai. Pada proses ini, kita tidak mempunyai bukti administrasi untuk laporan keuangan.

Anda sebagai peneliti dengan mendapatkan uang penelitian sebesar sekian juta. Apakah semua benar-benar sesuai dengan prosedur. Suatu pertanyaan yang sudah tahu jawabannya. Bahwa tidak sesederhana makna idealis yang kita bangga-banggakan dalam kehidupan sehari-hari. Lagi-lagi pada moment tertentu prinsip “sama-sama tahu” menjadi pembenar terhadap sistem administrasi yang berlaku selama ini.

Tentu saja tidak semua harus hidup dengan pola administrasi di atas. Kita membutuhkan nilai-nilai kemanusiaan, moralitas, dan kebaikan-kebaikan dalam kehidupan muamalah-sosial. Kita terikat pola hidup dengan orang lain. Ketika kita menghargai orang lain, maka orang lain pun akan menghargai kita. Pada saat kita berbuat baik tanpa pamrih, maka suatu saat kebaikan pun akan menghampiri kita pada waktu yang tepat.

Siapapun kita-tidak peduli status yang kita sandang-ketika hidup dihiasi dengan nilai-nilai kebaikan, Allah senantiasa melihat kita dan akan memberikan balasan kebaikan kepada kita pada saat yang tepat.

Mungkin kita hari ini menjadi orang yang selalu menanam kebaikan. Mungkin juga hari ini kita juga belum mendapatkan balasan kebaikan atas amal kebaikan yang kita lakukan. Bisa jadi, kita tidak mendapatkan kebaikan. Bisa jadi anak-anak kita yang akan mendapatkan limpahan kebaikan atau cucu-cucu kita.

Adanya balasan-balasan kebaikan yang kita dapatkan dalam hidup yang sering kita kenal dengan hidup penuh keberkahan. Artinya kita dalam sisi “ketidakbaikan”, saat kita berbuat baik kepada orang lain, maka kita pun akan tetap mendapatkan kebaikan dari amal-amal kebaikan yang kita lakukan.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Menyatukan Akal dan Hati Ketika Ada Musibah
03 September 2026   Oleh : Imam Ghozali   146

Di Tambakberas, Aku Menangis
30 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   208

Terbakar Rindu
26 Agustus 2026   Oleh : Imam Ghozali   228

Ya habibi, Ya Rasulullah, Apakah ini Artinya Cinta?
22 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   315

Tangisan Rindu; Dari Khalifah Umar Hingga Mbah Riyan
02 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   247

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14910


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      6595


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      6000


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4835