
Seharian saya dan mas Chanif jalan kaki di
sekitar lokasi Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas. Berhenti sebentar di tempat
registrasi, saya membaca Koran Kompas edisi khusus Muktamar NU ke-35. Lembarannya
cukup tebal. Isinya lengkap tentang sejarah perjalanan NU. Saya mengambil dua
eksemplar untuk arsip.
Setelah nyruput kopi hitam, kami
melanjutkan jalan lagi. Tidak ada tujuan. Mengikuti kata hati saja. Di tengah
ribuan manusia yang terdiri dari para ulama dan santri, saya terasa menelusuri
kehidupan 30 tahun lalu. Saat masih nyantri di pesantren. Saat sarung hanya
punya satu dan memakai sandal jepit yang sering lepas talinya. Karena sering
lepas, akhir di buang di pinggir jalan.
Terasa sangat letih. Santri lagi berdiri di
pinggir jalan. Saya bertanya kepada nya letak maqam Mbah Wahab Hasbullah.
Dia menunjukan ke arah depan. Lurus sekitar 300 meter, lalu belok kiri. Saya
pun mengikuti petunjuknya.
Akhirnya sampai juga di Teras Makam Mbah
Kyai Wahab Hasbullah. Salah seorang muasis jam’iyah Nahdlatul Ulama.
Saya melihat foto-foto masa lalu. Mas Chanif yang tidak memperdulikan ribuan
peziarah terus mengabadikan saat saya melihat satu persatu foto lawas
para ulama. Banyak sekali. Foto sejarah perjuangan para ulama dalam menegakan
dan menyiarkan agama Islam dengan tulus ikhlas. Entah kenapa saya hati ku rindu
kepada para ulama terdahulu itu. Menetap wajah nya benar-benar menyadarkan
kepada ku tentang arti ikhlas dalam memperjuangkan kebaikan dan kemaslahatan
terhadap umat.
Setelah selesai melihat foto-foto tersebut,
saya masuk ke dalam Tempat Ziarah yang sangat luas. Saya duduk di antara
ratusan orang-orang yang sedang membaca tahlil, ayat-ayat al-Qur’an dan doa-doa
khas. Saya tidak membaca apa-apa. saya hanya diam menatap maqam Mbah
Wahab Hasbullah.
Entah kenapa, air mata ku menetes. Tidak
terasa membasahi kedua pipiku. Semakin lama semakin deras hingga membasaih
celana. Menangis kesengguken. Saya tidak tahu, entah kenapa tiba-tiba
seperti anak kecil yang sedang kebingungan mencari ibunya. Saya benar-benar
tidak kuat menahan tangisan ku sendiri di tengah ratusan jamaah yang sedang
membaca tahlil, ayat-ayat al-qur’an dan doa.
Sekali lagi, saya tidak tahu penyebab
tangisan ku. Bukan karena persoalan muktamar NU yang penuh dinamika, bukan
karena persoalan saya teringat dosa. Saya benar-benar bingung. Suasana yang
tiba-tiba begitu cepat mempengaruhi suasana hati ku saat itu.
Apakah karena terpengaruh suasana beberapa
hari yang lalu saat aku bermimpi melihat seorang ulama yang duduk di depan
ribuan jamaah. Ironisnya ulama tersebut menangis. Ada kesedihan yang mendalam
terhadap jama’ah dan jam’iyah. Bisa jadi demikian. Saya memang
memimpikan seorang ulama menangis di hadapan para jama’ah dan jam’iyah di masjid
yang jamaah nya meluber sampai di teras-teras dan pelataran masjid.
Mimpi yang membuatku terjaga dari tidur. Sekitar jam 03.00 dinihari. Hingga
akhirnya saya tidak bisa tidur hingga subuh menghampiri diriku.
Setelah mimpi ini memang saya terbawa dalam
pikiran. Ada apa ini. Apa ada persoalan yang serius tentang kondisi jama’ah dan
jam’iyah di mata batin para ulama. Apakah ada pergeseran ghirah mereka yang
tidak lagi memahami esensi dari sebuah perjuangan agama dan kemanusiaan. Apakah
perkumpulan ini sudah lari dari pesan-pesan hadratusyeikh Hasyim Asy’ari
dan para mua’sis lainnya.
Saya tidak tahu. Saya terlalu nakal jika
mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Saya hanya hamba yang penuh
dengan debu-debu dosa dan selalu mengharapkan syafa’at rasul, keberkahan para
muasis, ulama dan guru-guru.
Saya hanya berharap, semoga mimpi ku hanya
sebatas kembang tidur. Semoga itu menjadi pengingat ku tentang makna kasih
sayang para ulama tanpa batas terhadap umatnya, jama’ah nya dan jam’iyahnya.
“Ya Allah, berkahi hidup kami, keluarga
kami, orang-orang yang kami cintai. Ya Allah, kuatkan segala persoalan yang
menimpa kami untuk bisa menyelesaikannya dengan baik. Berikan kami kesuksesan
dalam hidup dan diampuni dosa-dosa kami. Amin”.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Terbakar Rindu
26 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   166
Ya habibi, Ya Rasulullah, Apakah ini Artinya Cinta?
22 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   217
Tangisan Rindu; Dari Khalifah Umar Hingga Mbah Riyan
02 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   227
Obat Susah Tidur
31 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   209
Tidur dan Mimpi
30 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   200
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14279
Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      5990
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5391
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      4651
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4338