Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

393 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Di Tambakberas, Aku Menangis



Minggu , 30 Agustus 2026



Telah dibaca :  65

Seharian saya dan mas Chanif jalan kaki di sekitar lokasi Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas. Berhenti sebentar di tempat registrasi, saya membaca Koran Kompas edisi khusus Muktamar NU ke-35. Lembarannya cukup tebal. Isinya lengkap tentang sejarah perjalanan NU. Saya mengambil dua eksemplar untuk arsip.

Setelah nyruput kopi hitam, kami melanjutkan jalan lagi. Tidak ada tujuan. Mengikuti kata hati saja. Di tengah ribuan manusia yang terdiri dari para ulama dan santri, saya terasa menelusuri kehidupan 30 tahun lalu. Saat masih nyantri di pesantren. Saat sarung hanya punya satu dan memakai sandal jepit yang sering lepas talinya. Karena sering lepas, akhir di buang di pinggir jalan.

Terasa sangat letih. Santri lagi berdiri di pinggir jalan. Saya bertanya kepada nya letak maqam Mbah Wahab Hasbullah. Dia menunjukan ke arah depan. Lurus sekitar 300 meter, lalu belok kiri. Saya pun mengikuti petunjuknya.

Akhirnya sampai juga di Teras Makam Mbah Kyai Wahab Hasbullah. Salah seorang muasis jam’iyah Nahdlatul Ulama. Saya melihat foto-foto masa lalu. Mas Chanif yang tidak memperdulikan ribuan peziarah terus mengabadikan saat saya melihat satu persatu foto lawas para ulama. Banyak sekali. Foto sejarah perjuangan para ulama dalam menegakan dan menyiarkan agama Islam dengan tulus ikhlas. Entah kenapa saya hati ku rindu kepada para ulama terdahulu itu. Menetap wajah nya benar-benar menyadarkan kepada ku tentang arti ikhlas dalam memperjuangkan kebaikan dan kemaslahatan terhadap umat.

Setelah selesai melihat foto-foto tersebut, saya masuk ke dalam Tempat Ziarah yang sangat luas. Saya duduk di antara ratusan orang-orang yang sedang membaca tahlil, ayat-ayat al-Qur’an dan doa-doa khas. Saya tidak membaca apa-apa. saya hanya diam menatap maqam Mbah Wahab Hasbullah.

Entah kenapa, air mata ku menetes. Tidak terasa membasahi kedua pipiku. Semakin lama semakin deras hingga membasaih celana. Menangis kesengguken. Saya tidak tahu, entah kenapa tiba-tiba seperti anak kecil yang sedang kebingungan mencari ibunya. Saya benar-benar tidak kuat menahan tangisan ku sendiri di tengah ratusan jamaah yang sedang membaca tahlil, ayat-ayat al-qur’an dan doa.

Sekali lagi, saya tidak tahu penyebab tangisan ku. Bukan karena persoalan muktamar NU yang penuh dinamika, bukan karena persoalan saya teringat dosa. Saya benar-benar bingung. Suasana yang tiba-tiba begitu cepat mempengaruhi suasana hati ku saat itu.

Apakah karena terpengaruh suasana beberapa hari yang lalu saat aku bermimpi melihat seorang ulama yang duduk di depan ribuan jamaah. Ironisnya ulama tersebut menangis. Ada kesedihan yang mendalam terhadap jama’ah dan jam’iyah. Bisa jadi demikian. Saya memang memimpikan seorang ulama menangis di hadapan para jama’ah dan jam’iyah di masjid yang jamaah nya meluber sampai di teras-teras dan pelataran masjid. Mimpi yang membuatku terjaga dari tidur. Sekitar jam 03.00 dinihari. Hingga akhirnya saya tidak bisa tidur hingga subuh menghampiri diriku.

Setelah mimpi ini memang saya terbawa dalam pikiran. Ada apa ini. Apa ada persoalan yang serius tentang kondisi jama’ah dan jam’iyah di mata batin para ulama. Apakah ada pergeseran ghirah mereka yang tidak lagi memahami esensi dari sebuah perjuangan agama dan kemanusiaan. Apakah perkumpulan ini sudah lari dari pesan-pesan hadratusyeikh Hasyim Asy’ari dan para mua’sis lainnya.

Saya tidak tahu. Saya terlalu nakal jika mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Saya hanya hamba yang penuh dengan debu-debu dosa dan selalu mengharapkan syafa’at rasul, keberkahan para muasis, ulama dan guru-guru.

Saya hanya berharap, semoga mimpi ku hanya sebatas kembang tidur. Semoga itu menjadi pengingat ku tentang makna kasih sayang para ulama tanpa batas terhadap umatnya, jama’ah nya dan jam’iyahnya.

“Ya Allah, berkahi hidup kami, keluarga kami, orang-orang yang kami cintai. Ya Allah, kuatkan segala persoalan yang menimpa kami untuk bisa menyelesaikannya dengan baik. Berikan kami kesuksesan dalam hidup dan diampuni dosa-dosa kami. Amin”.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Terbakar Rindu
26 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   166

Ya habibi, Ya Rasulullah, Apakah ini Artinya Cinta?
22 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   217

Tangisan Rindu; Dari Khalifah Umar Hingga Mbah Riyan
02 Agustus 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   227

Obat Susah Tidur
31 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   209

Tidur dan Mimpi
30 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   200

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14279


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      5990


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5391


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      4338