Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

378 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Tidur dan Mimpi



Kamis , 30 Juli 2026



Telah dibaca :  104

Tepat jam 12.23 Wib (Kamis, 30 Juli 2026) selesai satu tulisan. Masih ada satu tulisan lagi. Semoga hari minggu tulisan kedua juga selesai. Mungkin terlalu radikal memasang target dalam menulis. Tapi memang harus begitu. Kita telah banyak pelajaran masa lalu akibat dari sering menunda-nunda pekerjaan. Pada akhirnya penderitaan kembali pada diri sendiri. Dari sini saya memahami lebih baik jatuh atau salah karena melakukan inovasi konstruktif dari pada tidak sama sekali. Dalam Islam salah dalam ijtihad dapat pahala satu, benar dapat dua. Pijakan yang sangat baik untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. 

Sambil menunggu waktu jadwal rapat (13.30 Wib), saya mengisi waktu untuk menulis corat-coret ini dengan judul “tidur dan mimpi”. Dua hal yang sering tidak bisa dipisahkan. Meskipun pada sisi lain, ada orang yang senang tidur tapi tidak pernah bermimpi. Ada sisi lain, ada orang yang sebentar tidur, mimpi nya sudah sampai kemana-mana.

Kondisi psikologis manusia berbeda-beda dalam merespon aktivitas sehari-hari. Pun berbeda bawaan badan. Perbedaan-perbedaan ini tentu saja bagian dari respon manusia dalam menyikapi masalah dan juga-tidak boleh lupa-juga bagian dari anugerah Allah Swt. Ada kenikmatan tersendiri saat kita bermimpi. Sebab memang mimpi bagian dari jenis-jenis kenikmatan yang diberikan kepada manusia.

Sekali lagi ada orang suka tidur atau terbiasa tidur, tapi tidak mimpi. Ini tidak perlu saya bahas. Meskipun demikian, ia tetap punya mimpi. Bukankah demikian?

Mimpi bukan sebatas persoalan kondisi psikologis semata, tapi juga anugerah dari Tuhan. Bahkan Allah menitipkan wahyu kepada Nabi pilihan juga melalui mimpi seperti kepada Nabi Ibrahim dan kepada Nabi Yusuf.

Mimpi berkaitan dengan kondisi psikologis atau petunjuk dari Allah juga sering terjadi pada manusia biasa. Saya dan anda mungkin pernah mengalami hal demikian. Pernah mimpi dengan orang yang dirindukan, mimpi tentang simbol, tentang tenggelam di kolam. Ehh, bangun-bangun celana basah karena ngompol.

Mimpi merupakan kondisi tubuh kita baik dhohir maupun batin. Kita akan menemukan respon yang berbeda-beda saat bermimpi. Kadang kita tersenyum mengembang karena bermimpi dengan orang yang kita rindukan. Bahagia rasanya.

Kadang kita menangis tersedu-sedu karena mimpi bertemu orang tua kita yang telah meninggal dunia. Rindu pun muncul. Kenangan masa lalu pun kembali menyapa dalam pikiran. Tak terasa air mata pun tidak bisa ditahan menetes membasaih wajah.

Hanya saja orang yang tidak paham terhadap dunia mimpi terkadang menderita sendiri. Ia mimpi melihat Ka’bah. Pikirannya mungkin akan berangkat umrah atau haji dengan pola min khaisu la yahtasib. Setelah ditunggu beberapa waktu tidak juga kunjung datang. Mimpi tinggal mimpi. Umrah dan Haji pun tak pernah kunjung datang.

Lalu kenapa bisa mimpi melihat Ka’bah. Para ahli mimpi pun menafsiri bahwa orang yang melihat Ka’bah, Neraka dan Surga adalah orang-orang yang sedang mendapatkan nasehat dari Tuhan agar senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya.

Ada juga bingung karena bermimpi mendapatkan burung. Padahal selama-lamanya belum pernah pegang burung (supaya tidak multi tafsir saya contohkan burung perkutut, burung prenjak dan sejenisnya). Akhirnya, dia baru sadar saat sore hari tetangga mengantar makanan. Ada undangan kenduri di tetangga sebelah. Burung berarti simbol rezeki.

Tentu saja tulisan ini tidak perlu terlalu panjang membahas mimpi. Belajar dari Al-Qur’an bawah mimpi yang kita alami bisa saja nanti bermadzhab model Nabi Ibrahim. Apa yang diimpikan dan itu yang terjadi. Begitu juga Nabi Ibrahim, mimpi menyembelih anak nya. Realita nya begitu perintah dari Allah untuk menyembelih anak nya, Ismail.

Ada model mimpi Nabi Yusuf. Mimpi melalui simbol-simbol. Nabi Yusuf mimpi Matahari, Bulan dan Bintang sujud kepada Nya. Ini simbol bahwa ayah, ibu, dan saudara-saudaranya sujud dan memulyakan nya.

Meskipun ada kemiripan pola mimpi kita dengan Nabi Ibrahim dan Nabi Yusuf pada moment tertentu, yang perlu diingat adalah kita bukan nabi, bukan ulama dan bukan intelektual. Kita adalah manusia-manusia yang penuh dosa, yang kadang Allah terlalu banyak memberi kita kasih sayang tanpa batas. Antara lain mendapatkan petunjuk melalui mimpi.

Walhasil, mimpi dalam tidur adalah hal yang biasa. Namun hidup tidak boleh tergantung dalam mimpi di malam hari. Mari kita bermimpi dalam realita hidup. Ada pekerjaan yang menjadi tanggungjawab. Ada tugas yang menjadi kewajiban. Mari kita bermimpi memperbaiki kualitas pekerjaan dan aktivitas kita lebih baik dan memberi manfaat kepada orang banyak.

Saya kira inilah mimpi yang memberikan keberkahan untuk sesame dan bisa jadi ini juga yang menjadi penolong amal-amal kita diterima disisi Allah swt, amin.

 



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Di Bawah Lindungan Atap
23 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   155

Doaku, Doamu dan Doa Kita
19 Juli 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   249

Efisiensi Nafsu
15 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   239

Kejamnya Ibu Tiri Tidak Sekejam Idul Fitri ?
26 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   210

Amalan Di Ujung Ramadhan
18 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   257

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      14115


Dalil Berdoa Untuk Mayit
Minggu , 11 Mei 2025      5223


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      5161


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3895