Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Amalan Di Ujung Ramadhan



Rabu , 18 Maret 2026



Telah dibaca :  213

Diantara amalan Nabi Muhammad SAW memasuki akhir bulan Ramadhan memperbanyak amal ibadah dan amal sholeh. Aisyah mengatakan, “Rasulullah selalu i’tikaf di sepuluh akhir malam Ramadhan sampai beliau wafat”. (HR. Bukhari). Hadist lain, “Rasulullah orang yang paling dermawan dan Rasulullah semakin dermawan saat di bulan Ramadhan” (HR. Bukhari).

Dua hadist tersebut menggambarkan pola hidup yang seimbang antara kesholehan individual dan sosial. Nabi Muhammad adalah gambaran nyata. Waktu di malam hari sering dihabiskan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Pada berbagai kesempatan, baik di malam hari maupun di siang hari, ia pun memberikan sebagian rezekinya. Bahkan semakin mendekati akhir bulan Ramadhan, semakin memperbanyak memberi bantuan kepada orang-orang yang sedang membutuhkan bantuan. Terutama golongan fakir dan miskin.

Sore hari ini -18 Maret 2026- saya menemani para kyai dan ustadz menyalurkan beberapa bantuan dari sebagian warga nahdiyin. Kami hanya menyaksikan saja saudara Muhammad Arif, M.Kom -Ketua LAZISNU  atau NU Care Kabupaten Kepulauan Meranti- menyerahkan bantuan kepada salah satu warga yang terkena musibah- rumah terbakar. Ini bentuk bantuan secara sukarela dan spontanitas. Waktu sangat singkat. Alhamdulillah, dalam waktu relatif singkat terkumpul sebanyak Rp. 6000,000,00.

Jumlah tersebut punya ukuran relatif. Bagi orang yang berlebih harta mungkin terlihat kecil. Bagi orang yang sedang membutuhkan, tentu saja jumlah tersebut sangat bermanfaat untuk membeli keperluan hidup menjelang hari raya idul fitri.

Nabi Muhammad saw bersabda: “Cukupkanlah mereka (orang miskin) dari meminta-minta pada hari ini.” (HR. Ad-Daruquthni).

Bulan Ramadhan merupakan bulan kecerdasan kolektif. Bulan Ramadhan bukan hanya cerdas secara intelektual memahami ayat-ayat Allah dan hadist- hadist nabi, tapi juga harus dibarengi dengan kecerdasan spiritual yaitu menjadikan bertambah yakin akan rahmat, karunia, dan ampunan Allah. Kedua kecerdasan tersebut akan mandul jika tidak dibareng kecerdasan sosial. Bahwa kedekatan kita kepada Allah tidak berfungsi dengan baik jika tidak diimbangi dengan kepedulian kita kepada saudara-saudara kita yang sedang membutuhkan uluran tangan.

Mereka membutuhkan uluran tangan. Besar kecil adalah relatif. Tapi ketulusan membantu mereka merasakan hidup mendapatkan penghargaan dan pengakuan dari orang lain. perhatian kita telah membuat mereka bisa hidup lebih semangat dalam berbagai macam ujian dan lebih merasakan kehadiran saudara-saudara atau tetangga laksana seperti saudaranya sendiri.

Islam mengajarkan filosofis puasa bahwa kita tidak mempunyai apa-apa. Kita tidak bisa apa-apa saat kita berpuasa. Kita tidak bisa makan dan minum meskipun itu halal. Kita bisa melihat di depan mata kita-bahkan kita sendiri-tidak bisa berbuat apa-apa Ketika Allah memerintah berpuasa. Siapapun kita, kaya atau miskin, pejabat maupun rakyat biasa semua harus menjalankan ibadah puasa dengan segala aturan yang melekatnya.

Ternyata kita hakikatnya tidak punya apa-apa. Saat puasa, yang kaya dan miskin merasakan lapar dan minum yang super dahsyat. Semua sama-sama menunggu bunyi sirine sebagai pertanda telah masuk waktu berbuka puasa. Dan saat berbuka puasa, satu gelas air putih sangat berharga sekali bagi orang-orang yang berpuasa. Baik orang kaya dan miskin, sama-sama membutuhkan satu jenis minuman yang menyehatkan badan yaitu air putih atau air jernih.

Filosofis puasa yang demikian demokratis ini sebenarnya wujud dari kesetaraan manusia dalam pandangan Tuhan. Mereka berbeda dalam takwa nya. orang yang bertakwa dalam bulan puasa ditandai pada dua hal “iman” dan “ikhtisaban”. Dua kata kunci ini menjadi persyaratan tentang amal ibadah dan amal sholeh diterima oleh Allah SWT.

Sebagai penutup, kita berharap semoga kegiatan amal sosial yang sederhana ini bagian dari ibadah dan amal sholeh yang memenuhi dua kata kunci tersebut. Semoga kita senantisa bisa membahagiakan orang lain atau memberi manfaat kebaikan bagi orang lain.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Efisiensi Nafsu
15 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   110

Kejamnya Ibu Tiri Tidak Sekejam Idul Fitri ?
26 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   146

Puasa Padi dan Pakis
15 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   291

Kisah Pemberi Takjil Menjadi Ahli Surga
09 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   126

Nisfu Sya’ban, Dari Spiritual Hingga Pesan Moral
02 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   349

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13550


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4544


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2870