Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Puasa Padi dan Pakis



Minggu , 15 Maret 2026



Telah dibaca :  302

Minggu pagi  -15 Maret 2026- saya berdiri di depan toko serba Rp. 35.000,00 di Desa Alahair. Menunggu anak-anak beli sandal. Sekitar jam 09.30 parkiran penuh. Sebagian besar ibu-ibu dan anak-anaknya. Mereka belanja menyambut Hari Raya Idul Fitri.

Saya pergi ke pusat Kota Selatpanjang. Sama. Toko-toko penuh. Terutama toko baju, korden jendela, toko HP dan dealer kendaraan roda dua. Ada yang lebih padat lagi, yaitu mini market -sejenis Indomart atau Alfamart. Sepuluh terakhir bulan ramadhan, umat Islam di daerah ku sangat antusias menyambut Hari Raya Idul Fitri yang sering disebut dengan hari kemenangan.

Saya tidak tahu apa arti kemenangan yang sesungguhnya. Tidak peduli, itu ustadz atau jamaahnya, pejabat atau rakyatnya, orang kaya atau biasa-biasa saja, semua rasa-rasanya sama-sama menyerbu pusat perbelanjaan. Mereka benar-benar ingin mendapatkan malam kebahagiaan di Hari Raya Idul Fitri. Sekali lagi, hari raya yang sering disebut dengan hari kemenangan.

Saya tidak tahu apa arti kemenangan sesungguhnya. Jika diartikan hari kemenangan karena telah menyiksa  Setan terkena kanker “stadium -4”, kok rasa-rasanya tidak mungkin. Saya melihat Setan masih sehat-sehat, malah joget-joget di pinggir jalan, di pinggir warung makan, di pusat perbelanjaan. Bahkan setan-setan juga “cengengesan” di pintu-pintu masuk mushola atau masjid. Melalui surat edaran resmi dari Jendral Iblis, Setan di sebar di tempat-tempat ibadah, di dekat orang-orang miskin. Sehingga umat Islam tidak serius lagi memikirkan ibadah, tidak serius lagi memikirkan saudara-saudara nya yang seiman maupun yang beda iman dalam keadaan butuh bantuan, lapar dan sakit parah.

Saya tidak tahu apa arti hari kemenangan. Apakah kemenangan sudah menahan nafsu duniawi dan sudah ladzat menikmati sujud kepada allah dan semakin ikhlas dirinya atas segala takdir dari-nya, rasa-rasanya juga belum sampai pada maqam ini. Rasa-rasanya kita masih menuruti hawa nafsu. Nafsu ingin makan dan minum, nafsu ingin membeli sesuatu yang sebenarnya tidak penting, nafsu ingin bergaya yang sebenarnya tidak pantas bergaya, nafsu ingin terlihat mewah yang sebenarnya belum pantas punya barang mewah. Dan masih banyak lagi.

Saya benar-benar tidak tahu, apakah kita ini sudah kembali kepada “fitri” yang secara filosofis -para ustadz- memilih makna “kembali seperti bayi baru lahir” atau fitri yang mempunyai arti kembali sarapan pagi?. Rasa-rasanya jika seperti bayi baru lahir kok tidak juga. Bayi baru lahir hanya butuh asi. Sedangkan kita, seluruh susu masuk, segala makanan, minuman dipesan secara berlebih-lebihan tanpa memikir kemubadziran sama sekali. Rasa-rasanya kita kembali ke habitat sebelum puasa, yaitu makna futur-kembali sarapan pagi.

Saya jadi teringat hadist nabi Muhammad saw:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إيْمَا نًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya:

Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan karena Iman dan mengharap pahala dari Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (HR Bukhari dan Muslim).

Kanjeng Nabi Muhammad SAW memberi penjelasan tentang bulan ramadhan sangat sederhana yaitu “ إيْمَا نًا “ dan “وَاحْتِسَابًا “ untuk menentukan indikator keberhasilan ibadah seorang muslim. Kita puasa semata-mata atas dasar iman, panggilan allah dan kecintaan kepada-nya. Puasa merupakan panggilan suci dari Sang Maha Pencipta kepada hamba-hamba-Nya yang dhoif untuk membuktikan sejauh mana ketaatan hamba kepada-Nya.

Tuhan benar-benar ingin melihat mana hamba-hamba Nya yang melaksanakan puasa karena dasar-dasar pondasi iman yang kuat tanpa ada embel-embel selain Allah sama sekali. Tuhan benar-benar ingin melihat hamba-hamba-Nya mendapatkan kenikmatan spiritual. Ada tujuan yang jelas, yang ingin diraih mendapat pengakuan atas segala amal ibadah bagian dari aktivitas yang mendapat ridha-nya “وَاحْتِسَابًا “.

Seorang hamba yang sedang melakukan ibadah puasa dengan berlandas pada “وَاحْتِسَابًا “ terletak pada perwujudan aktivitas nya. Jika iman sebagai motor penggerak, maka ikhtisaban menjadi “SIM” sejauh mana seorang hamba bisa menjalankan ritual puasa sesuai dengan pesan-pesan agama. Puasa bukan sebatas ibadah ritual dengan menunjukan kesholehan pribadi, tapi juga berimplikasi pada kebaikan-kebaikan pada hubungan sesama manusia.

شَهْرُ رَمَضَانَ مُعَلَّقٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَا يُرْفَعُ إِلَّا بِزَكَاةِ الْفِطْرِ (رَوَاهُ ابْنُ شَاهِينٍ وَالضَّيَاءُ، الْحَسَنُ الْغَريبُ

Artinya:

"(Puasa) bulan Ramadan itu tergantung di antara langit dan bumi, yang tidak akan diangkat kecuali dengan zakat fitrah." (HR Ibn Syahin dan adh-Dhiya).

Puasa mengajarkan kepada manusia tengan makna cinta yang sesungguhnya kepada Allah SWT. Cinta bukan sebatas kemampuan menahan lapar dan dahaga serta hal-hal yang membatalkan puasa. Tapi cinta diperluas lagi pada kemampuan menahan “keinginan-keinginan” yang jatuh pada riya atau malah menyakiti perasaan tetangga. Sebab tidak selalu tetangga kita bisa menerima dengan segala fasilitas baru yang dipersiapkan dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri. Salah satu yang bisa mengobati rasa sakit orang-orang disekitar kita yaitu dengan mengulurkan beberapa bantuan yang membuat mereka bisa tersenyum menyambut hari kemenangan. Mereka juga saudara kita yang membutuhkan suasana bahagia di hari penuh keberkahan.

Dari sini penulis memahami bahwa belanja untuk keperluan menyambut Idul Fitri tidak ada persoalan. Semua ini sebagai bagian dari ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT. Kita menyiapkan makan dan minum sebagai bagian dari bentuk penghormatan kepada tamu, sehingga mereka bisa merasakan makanan yang mungkin belum pernah mereka rasakan selama ini. Jadi, puasa telah melahirkan empati yang mendalam terhadap nasib saudara kita. Ketika ini tumbuh dalam diri, maka munculah persaudaraan yang dibangun atas dasar cinta kepada Allah SWT. Puasa yang demikian laksana puasa padi, semakin memahami hakikat puasa semakin berisi dan berbobot ibadah dan amal sholeh nya.

Tentu saja tidak semua mampu mempraktekan puasa tersebut di atas. Ada diantara saudara kita masih berhenti pada tataran “ujub” atau “pamer” terhadap status diri dengan menonjolkan segala asesoris rumah, perabotan, makanan dan kendaraan. Puasa selama satu bulan diruntuhkan oleh ucapan dan perilaku yang tidak terpuji. Ucapannya dan perilakunya tidak mendatangkan keberkahan, bahkan lebih mengarah kepada kemaksiatan. Puasa hanya dapat lapar dan dahaga, sedangkan ucapan dan perbuatannya tidak mencerminkan ahli puasa. Malah sebaliknya mencerminkan ahli maksiat. Sampai-sampai di bulan ramadhan pun tidak mampu mengendalikannya. Laksana puasa pakis, puasa satu bulan, namun seluruh amalan dan pahala terkikis. Sungguh rugi, amalan tidak diterima dan pada saat yang sama umur berlalu tanpa makna.

Semoga Allah memberikan kekuatan untuk bisa menyelesaikan ibadah bulan ramadhan dengan status ibadah yang mendapat ridha dari-Nya. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Efisiensi Nafsu
15 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   208

Kejamnya Ibu Tiri Tidak Sekejam Idul Fitri ?
26 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Amalan Di Ujung Ramadhan
18 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   226

Kisah Pemberi Takjil Menjadi Ahli Surga
09 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   148

Nisfu Sya’ban, Dari Spiritual Hingga Pesan Moral
02 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   364

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13816


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4867


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3258