
Minggu pagi
-15 Maret 2026- saya berdiri di depan toko serba Rp. 35.000,00 di Desa
Alahair. Menunggu anak-anak beli sandal. Sekitar jam 09.30 parkiran penuh.
Sebagian besar ibu-ibu dan anak-anaknya. Mereka belanja menyambut Hari Raya
Idul Fitri.
Saya pergi ke pusat Kota Selatpanjang. Sama.
Toko-toko penuh. Terutama toko baju, korden jendela, toko HP dan dealer
kendaraan roda dua. Ada yang lebih padat lagi, yaitu mini market -sejenis Indomart
atau Alfamart. Sepuluh terakhir bulan ramadhan, umat Islam di daerah ku sangat
antusias menyambut Hari Raya Idul Fitri yang sering disebut dengan hari
kemenangan.
Saya tidak tahu apa arti kemenangan yang
sesungguhnya. Tidak peduli, itu ustadz atau jamaahnya, pejabat atau rakyatnya,
orang kaya atau biasa-biasa saja, semua rasa-rasanya sama-sama menyerbu pusat
perbelanjaan. Mereka benar-benar ingin mendapatkan malam kebahagiaan di Hari
Raya Idul Fitri. Sekali lagi, hari raya yang sering disebut dengan hari
kemenangan.
Saya tidak tahu apa arti kemenangan
sesungguhnya. Jika diartikan hari kemenangan karena telah menyiksa Setan terkena kanker “stadium -4”, kok
rasa-rasanya tidak mungkin. Saya melihat Setan masih sehat-sehat, malah
joget-joget di pinggir jalan, di pinggir warung makan, di pusat perbelanjaan.
Bahkan setan-setan juga “cengengesan” di pintu-pintu masuk mushola atau
masjid. Melalui surat edaran resmi dari Jendral Iblis, Setan di sebar di
tempat-tempat ibadah, di dekat orang-orang miskin. Sehingga umat Islam tidak
serius lagi memikirkan ibadah, tidak serius lagi memikirkan saudara-saudara nya
yang seiman maupun yang beda iman dalam keadaan butuh bantuan, lapar dan sakit
parah.
Saya tidak tahu apa arti hari kemenangan.
Apakah kemenangan sudah menahan nafsu duniawi dan sudah ladzat menikmati sujud
kepada allah dan semakin ikhlas dirinya atas segala takdir dari-nya,
rasa-rasanya juga belum sampai pada maqam ini. Rasa-rasanya kita masih menuruti
hawa nafsu. Nafsu ingin makan dan minum, nafsu ingin membeli sesuatu yang
sebenarnya tidak penting, nafsu ingin bergaya yang sebenarnya tidak pantas
bergaya, nafsu ingin terlihat mewah yang sebenarnya belum pantas punya barang
mewah. Dan masih banyak lagi.
Saya benar-benar tidak tahu, apakah kita
ini sudah kembali kepada “fitri” yang secara filosofis -para ustadz- memilih
makna “kembali seperti bayi baru lahir” atau fitri yang mempunyai arti kembali
sarapan pagi?. Rasa-rasanya jika seperti bayi baru lahir kok tidak juga. Bayi
baru lahir hanya butuh asi. Sedangkan kita, seluruh susu masuk, segala makanan,
minuman dipesan secara berlebih-lebihan tanpa memikir kemubadziran sama sekali.
Rasa-rasanya kita kembali ke habitat sebelum puasa, yaitu makna futur-kembali
sarapan pagi.
Saya jadi teringat hadist nabi Muhammad
saw:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إيْمَا نًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ
مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya:
Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan karena Iman dan mengharap
pahala dari Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (HR Bukhari
dan Muslim).
Kanjeng Nabi Muhammad SAW memberi penjelasan tentang bulan ramadhan
sangat sederhana yaitu “ إيْمَا نًا “ dan “وَاحْتِسَابًا “ untuk menentukan indikator keberhasilan ibadah seorang
muslim. Kita puasa semata-mata atas dasar iman, panggilan allah dan kecintaan
kepada-nya. Puasa merupakan panggilan suci dari Sang Maha Pencipta kepada
hamba-hamba-Nya yang dhoif untuk membuktikan sejauh mana ketaatan hamba kepada-Nya.
Tuhan benar-benar ingin melihat mana hamba-hamba Nya yang
melaksanakan puasa karena dasar-dasar pondasi iman yang kuat tanpa ada
embel-embel selain Allah sama sekali. Tuhan benar-benar ingin melihat
hamba-hamba-Nya mendapatkan kenikmatan spiritual. Ada tujuan yang jelas, yang
ingin diraih mendapat pengakuan atas segala amal ibadah bagian dari aktivitas
yang mendapat ridha-nya “وَاحْتِسَابًا “.
Seorang hamba yang sedang melakukan ibadah puasa dengan berlandas
pada “وَاحْتِسَابًا
“ terletak pada perwujudan aktivitas nya. Jika iman sebagai motor penggerak,
maka ikhtisaban menjadi “SIM” sejauh mana seorang hamba bisa menjalankan ritual
puasa sesuai dengan pesan-pesan agama. Puasa bukan sebatas ibadah ritual dengan
menunjukan kesholehan pribadi, tapi juga berimplikasi pada kebaikan-kebaikan
pada hubungan sesama manusia.
شَهْرُ رَمَضَانَ مُعَلَّقٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَا يُرْفَعُ
إِلَّا بِزَكَاةِ الْفِطْرِ (رَوَاهُ ابْنُ شَاهِينٍ وَالضَّيَاءُ، الْحَسَنُ
الْغَريبُ
Artinya:
"(Puasa) bulan Ramadan itu tergantung
di antara langit dan bumi, yang tidak akan diangkat kecuali dengan zakat
fitrah." (HR Ibn Syahin dan adh-Dhiya).
Puasa mengajarkan kepada manusia tengan makna
cinta yang sesungguhnya kepada Allah SWT. Cinta bukan sebatas kemampuan menahan
lapar dan dahaga serta hal-hal yang membatalkan puasa. Tapi cinta diperluas
lagi pada kemampuan menahan “keinginan-keinginan” yang jatuh pada riya atau
malah menyakiti perasaan tetangga. Sebab tidak selalu tetangga kita bisa
menerima dengan segala fasilitas baru yang dipersiapkan dalam menyambut Hari
Raya Idul Fitri. Salah satu yang bisa mengobati rasa sakit orang-orang
disekitar kita yaitu dengan mengulurkan beberapa bantuan yang membuat mereka
bisa tersenyum menyambut hari kemenangan. Mereka juga saudara kita yang
membutuhkan suasana bahagia di hari penuh keberkahan.
Dari sini penulis memahami bahwa belanja
untuk keperluan menyambut Idul Fitri tidak ada persoalan. Semua ini sebagai
bagian dari ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT. Kita menyiapkan makan dan
minum sebagai bagian dari bentuk penghormatan kepada tamu, sehingga mereka bisa
merasakan makanan yang mungkin belum pernah mereka rasakan selama ini. Jadi,
puasa telah melahirkan empati yang mendalam terhadap nasib saudara kita. Ketika
ini tumbuh dalam diri, maka munculah persaudaraan yang dibangun atas dasar
cinta kepada Allah SWT. Puasa yang demikian laksana puasa padi, semakin
memahami hakikat puasa semakin berisi dan berbobot ibadah dan amal sholeh nya.
Tentu saja tidak semua mampu mempraktekan
puasa tersebut di atas. Ada diantara saudara kita masih berhenti pada tataran “ujub”
atau “pamer” terhadap status diri dengan menonjolkan segala asesoris
rumah, perabotan, makanan dan kendaraan. Puasa selama satu bulan diruntuhkan
oleh ucapan dan perilaku yang tidak terpuji. Ucapannya dan perilakunya tidak
mendatangkan keberkahan, bahkan lebih mengarah kepada kemaksiatan. Puasa hanya
dapat lapar dan dahaga, sedangkan ucapan dan perbuatannya tidak mencerminkan
ahli puasa. Malah sebaliknya mencerminkan ahli maksiat. Sampai-sampai di bulan ramadhan
pun tidak mampu mengendalikannya. Laksana puasa pakis, puasa satu bulan, namun
seluruh amalan dan pahala terkikis. Sungguh rugi, amalan tidak diterima dan
pada saat yang sama umur berlalu tanpa makna.
Semoga Allah memberikan kekuatan untuk bisa
menyelesaikan ibadah bulan ramadhan dengan status ibadah yang mendapat ridha dari-Nya.
Penulis : Imam Ghozali
Efisiensi Nafsu
15 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   208
Kejamnya Ibu Tiri Tidak Sekejam Idul Fitri ?
26 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Amalan Di Ujung Ramadhan
18 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   226
Kisah Pemberi Takjil Menjadi Ahli Surga
09 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   148
Nisfu Sya’ban, Dari Spiritual Hingga Pesan Moral
02 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   364
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13816
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4867
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3858
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      3517
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3258