Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

306 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Nisfu Sya’ban, Dari Spiritual Hingga Pesan Moral



Senin , 02 Februari 2026



Telah dibaca :  314

Di tengah-tengah masyarakat muslim kita sering mendengar doa yang sangat populer ketika sudah memasuki bulan rajab sebagai berikut: “اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ “-Ya Allah, berkailah kami di bulan rajab dan bulan sya’ban dan pertemukan kami dengan bulan ramadhan.

Di bulan rajab dan bulan sya’ban, kita mengharapkan keberkahan. Di bulan ramadhan, kita berharap bertemu kembali dengan bulan tersebut.

Artinya sebelum memasuki bulan ramadhan, kita sudah mendapatkan titel terindah dua bulan berturut-turut yaitu bulan rajab dan sya’ban. Tanpa ada keberkahan di dua bulan tersebut, makna religiusitas bulan ramadhan terasa kurang bermakna. Sebab menuju kebermaknaan suatu bulan ramadhan membutuhkan suatu persiapan yang matang pada bulan-bulan sebelumnya. Ada semacam persiapan lahir dan batin untuk menciptakan bulan ramadhan sebagai bulan teristimewa bagi umat Islam.

Sebagian umat Islam sering melakukan berbagai amalan-amalan memulyakan nisfu sya’ban. Menurut Al-Hafidz Al-Muhadist Syeikh Salim As-Sanhuri telah merinci beberapa keutaman malam nisfu sya’ban sebagai berikut: pertama, malam penuh keberkahan. Pada malam tersebut malaikat turun ke langit dunia. mereka mencurahkan segala keberkahan dan mencatat segala amal dan doa-doa kebaikan umat Islam. Kedua, malam penentuan takdir. Pada malam tersebut, Allah memberikan ketentuan-ketentuan takdir berkaitan dengan mati, hidup, rezeki, jodoh, dan pangkat. Ketiga, malam penghapus dosa selama satu tahun pada mulai malam tersebut. Keempat, malam dikabulkan doa-doa hamba-nya. Kelima, orang beribadah pada malam tersebut akan tetap diberi kehidupan mulia. Keenam, hari raya bagi para malaikat. Ketujuh, malam syafa’at yaitu malam pertolongan bagi umat Nabi Muhammad SAW. Kedelapan, malam kemerdekaan yaitu malam sebagian umat Nabi Muhammad diangkat dari siksa neraka. Kesembilan, malam pembebasan umat nabi dari catatan dari neraka. Kesepuluh, malam hadiah yaitu malam keistimewaan hanya untuk umat Nabi Muhammad SAW.

Penulis melihat betapa agung malam nisfu sya’ban. Tentu saja semua itu bagian dari hak preogatif Allah SWT dalam memberikan segala kewenangan-Nya kepada umat Nabi Muhammad SAW. Penulis hanya ingin menyoroti tentang makna “berkah” yang dipanjatkan umat nabi saat masuk di bulan rajab dan sya’ban.

Keberkahan sering diartikan sebagai “ziyadatul khair”-bertambah kebaikan. Ini mempunyai makna sangat luas dan multi tafsir. Bisa jadi umat Islam sebagai bertambah kebaikannya pada ritualitas kepada Allah, bertambah baik pada sisi moral atau etikanya, bertambah kebaikan pada sisi ilmu pengetahuannya, bertambah berkah pada sisi pengambil keputusan dalam pemerintahan dan politik, atau bertambah kebaikan dalam pengertian secara lebih luas lagi pada beragam sektor kehidupan.

Umat Islam merupakan umat Nabi Muhammad SAW. Allah menjadikan mereka sebagai khalifah fi al-ardhi-sebagai pengelola di bumi. Status khalifah berarti suatu kehidupan yang tidak lepas berupa interaksi sosial. Suatu interaksi sosial yang tersistem secara administrasi akan kita lihat kehidupan yang sangat komplek dan tersusun rapi mulai dari tingkat terbesar berupa negara hingga pada tingkat RT, bahkan hingga kehidupan keluarga. Kehidupan yang bersentuhan dengan kepentingan masyarakat saat sekarang ini membutuhkan keberkahan-ziyadatul khair- dari seluruh sektor agar ada perubahan yang lebih konstruktif dan berdampak kebaikan kepada masyarakat lebih luas.

Dari sini sebenarnya ajaran nisfu sya’ban bukan hanya memberi pemahaman tentang keuntungan yang bersifat pribadi dengan diberi ampunan dan kemudahan segala urusan kehidupannya. Jauh dari itu, jika menginginkan hidup semakin berkah sebenarnya kebaikan yang melimpah pada diri sendiri bisa memberi efek positif kepada orang lain. Nisfu sya’ban sebagai batu loncatan  umat Islam untuk melakukan perubahan-perubahan positif dalam kehidupan semakin kompetitif. Keberkahan umat Islam tidak boleh hanya berhenti pada tataran spiritual saja, tapi harus bisa membumi di tengah-tengah masyarakat. Umat Islam harus bisa menerapkan keberkahan yang sangat agung sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW: “khairunnas anfa’ahum linnas”-sebaik-baik manusia yaitu memberi kemanfaatan kepada orang lain”.

Atas dasar keberkahan tersebut, berarti sudah saat nya umat Islam menyambut malam nisfu sya’ban tidak sebatas menjalankan ritual-ritual semata, tapi juga sudah mulai merancang kerangka kerja strategis dalam upaya menciptakan tataran kehidupan yang lebih madani di masa mendatang. semua itu akan terjadi apabila ada kesadaran kolektif umat Islam dalam mewujudkan kehidupan yang madani.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

H.Imam Hakim

Leres banget Yi....pengamalan atas pemahaman yang membumi

Avatar

ZULKIFLI

Josss pak yai ku.. terus bertambah pengetahuan membaca setiap bait demi bait tulisan panjenengan kiyaiku

   Berita Terkait

Ketika Dunia Kehilangan Esensi Cinta
18 Januari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   223

Pertarungan Pikiran Positif dan Negatif
14 Januari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   300

Menentukan Arah Mata Angin Kebahagiaan
08 Januari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   290

Zuhud; Kekuatan Manusia Yang Tersembunyi
17 Desember 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   271

Banjir dan Modernisasi Sufistik
15 Desember 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   409

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      12930


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4046


Puasa dan Ilmu Padi
Rabu , 03 April 2024      2424


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2355