
Di tengah-tengah masyarakat muslim kita sering mendengar doa yang sangat populer ketika sudah memasuki bulan rajab sebagai berikut: “اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ “-Ya Allah, berkailah kami di bulan rajab dan bulan sya’ban dan pertemukan kami dengan bulan ramadhan.
Di bulan rajab dan bulan sya’ban,
kita mengharapkan keberkahan. Di bulan ramadhan, kita berharap bertemu kembali dengan
bulan tersebut.
Artinya sebelum memasuki bulan ramadhan,
kita sudah mendapatkan titel terindah dua bulan berturut-turut yaitu bulan rajab
dan sya’ban. Tanpa ada keberkahan di dua bulan tersebut, makna religiusitas
bulan ramadhan terasa kurang bermakna. Sebab menuju kebermaknaan suatu bulan ramadhan
membutuhkan suatu persiapan yang matang pada bulan-bulan sebelumnya. Ada semacam
persiapan lahir dan batin untuk menciptakan bulan ramadhan sebagai bulan
teristimewa bagi umat Islam.
Sebagian umat Islam sering melakukan
berbagai amalan-amalan memulyakan nisfu sya’ban. Menurut Al-Hafidz
Al-Muhadist Syeikh Salim As-Sanhuri telah merinci beberapa keutaman malam nisfu
sya’ban sebagai berikut: pertama, malam penuh keberkahan. Pada malam
tersebut malaikat turun ke langit dunia. mereka mencurahkan segala keberkahan
dan mencatat segala amal dan doa-doa kebaikan umat Islam. Kedua, malam
penentuan takdir. Pada malam tersebut, Allah memberikan ketentuan-ketentuan
takdir berkaitan dengan mati, hidup, rezeki, jodoh, dan pangkat. Ketiga, malam
penghapus dosa selama satu tahun pada mulai malam tersebut. Keempat, malam
dikabulkan doa-doa hamba-nya. Kelima, orang beribadah pada malam tersebut akan tetap
diberi kehidupan mulia. Keenam, hari raya bagi para malaikat. Ketujuh, malam
syafa’at yaitu malam pertolongan bagi umat Nabi Muhammad SAW. Kedelapan, malam
kemerdekaan yaitu malam sebagian umat Nabi Muhammad diangkat dari siksa neraka.
Kesembilan, malam pembebasan umat nabi dari catatan dari neraka. Kesepuluh,
malam hadiah yaitu malam keistimewaan hanya untuk umat Nabi Muhammad SAW.
Penulis melihat betapa agung malam nisfu
sya’ban. Tentu saja semua itu bagian dari hak preogatif Allah SWT dalam memberikan
segala kewenangan-Nya kepada umat Nabi Muhammad SAW. Penulis hanya ingin menyoroti
tentang makna “berkah” yang dipanjatkan umat nabi saat masuk di bulan rajab dan
sya’ban.
Keberkahan sering diartikan sebagai “ziyadatul
khair”-bertambah kebaikan. Ini mempunyai makna sangat luas dan multi
tafsir. Bisa jadi umat Islam sebagai bertambah kebaikannya pada ritualitas
kepada Allah, bertambah baik pada sisi moral atau etikanya, bertambah kebaikan
pada sisi ilmu pengetahuannya, bertambah berkah pada sisi pengambil keputusan dalam
pemerintahan dan politik, atau bertambah kebaikan dalam pengertian secara lebih
luas lagi pada beragam sektor kehidupan.
Umat Islam merupakan umat Nabi Muhammad SAW.
Allah menjadikan mereka sebagai khalifah fi al-ardhi-sebagai pengelola
di bumi. Status khalifah berarti suatu kehidupan yang tidak lepas berupa
interaksi sosial. Suatu interaksi sosial yang tersistem secara administrasi
akan kita lihat kehidupan yang sangat komplek dan tersusun rapi mulai dari tingkat
terbesar berupa negara hingga pada tingkat RT, bahkan hingga kehidupan
keluarga. Kehidupan yang bersentuhan dengan kepentingan masyarakat saat
sekarang ini membutuhkan keberkahan-ziyadatul khair- dari seluruh sektor
agar ada perubahan yang lebih konstruktif dan berdampak kebaikan kepada
masyarakat lebih luas.
Dari sini sebenarnya ajaran nisfu sya’ban
bukan hanya memberi pemahaman tentang keuntungan yang bersifat pribadi dengan
diberi ampunan dan kemudahan segala urusan kehidupannya. Jauh dari itu, jika
menginginkan hidup semakin berkah sebenarnya kebaikan yang melimpah pada diri
sendiri bisa memberi efek positif kepada orang lain. Nisfu sya’ban sebagai
batu loncatan umat Islam untuk melakukan
perubahan-perubahan positif dalam kehidupan semakin kompetitif. Keberkahan umat
Islam tidak boleh hanya berhenti pada tataran spiritual saja, tapi harus bisa
membumi di tengah-tengah masyarakat. Umat Islam harus bisa menerapkan
keberkahan yang sangat agung sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW: “khairunnas
anfa’ahum linnas”-sebaik-baik manusia yaitu memberi kemanfaatan kepada
orang lain”.
Atas dasar keberkahan tersebut, berarti
sudah saat nya umat Islam menyambut malam nisfu sya’ban tidak sebatas
menjalankan ritual-ritual semata, tapi juga sudah mulai merancang kerangka
kerja strategis dalam upaya menciptakan tataran kehidupan yang lebih madani di
masa mendatang. semua itu akan terjadi apabila ada kesadaran kolektif umat Islam
dalam mewujudkan kehidupan yang madani.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
H.Imam Hakim
Leres banget Yi....pengamalan atas pemahaman yang membumi
ZULKIFLI
Josss pak yai ku.. terus bertambah pengetahuan membaca setiap bait demi bait tulisan panjenengan kiyaiku
Efisiensi Nafsu
15 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   110
Kejamnya Ibu Tiri Tidak Sekejam Idul Fitri ?
26 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   146
Amalan Di Ujung Ramadhan
18 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   214
Puasa Padi dan Pakis
15 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   291
Kisah Pemberi Takjil Menjadi Ahli Surga
09 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   126
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3561
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2940
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2870